• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

pejuang dua garis

Belum Berhasil Hamil Tapi Hasil Tes Normal Semua? Mungkin Ini Jawabannya

April 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu adakah diantara kalian yang sedang berjuang dua garis, dan sudah mencoba periksa tapi tetap saja belum ditemukan penyebabnya apa? hal ini pasti membuat kalian berpikir lebih kompleks dan juga bertanya-tanya, kira-kira apa penyebabnya. Yuk bahas lebih lanjut.

Kok Bisa Infertilitas Tapi Gak Ketahuan Penyebabnya?

Buat sebagian pasangan, usaha punya anak bisa jadi perjuangan yang panjang. Yang bikin bingung, kadang semua hasil tes menunjukkan kondisi normal, mulai dari ovulasi, sperma juga bagus, tuba tidak tersumbat. Tapi tetap saja, kehamilan belum terjadi. Nah, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah infertilitas yang tidak dapat dijelaskan (unexplained infertility).

Faktanya, sekitar 15–30% pasangan dengan infertilitas masuk dalam kategori ini. Artinya, nggak ada kelainan yang ditemukan dari pemeriksaan awal, padahal mereka sudah mencoba lebih dari 12 bulan. Tapi apakah benar tidak ada penyebab yang tersembunyi?

Endometriosis Diam-diam Sering Terjadi

Sebuah tinjauan sistematis terbaru mencoba menjawab pertanyaan ini dengan melihat data dari ribuan pasangan yang didiagnosis UI. Fokus utamanya? Pemeriksaan yang dilakukan melalui laparoskopi yaitu sebuah prosedur untuk melihat kondisi panggul secara langsung dan mendeteksi hal-hal yang tidak terlihat lewat USG atau pemeriksaan biasa.

Hasilnya cukup mencengangkan: dari 1.707 wanita yang menjalani laparoskopi, 44% ternyata memiliki endometriosis, meskipun sebelumnya tidak terdeteksi. Dan sebagian besar kasusnya tergolong ringan (minimal hingga stadium 2). Selain itu, ditemukan juga faktor tuba (20%) dan perlengketan (16%) yang sebelumnya tidak teridentifikasi melalui pencitraan.

Bahkan, tingkat deteksi masalah panggul ini lebih tinggi pada wanita yang pernah menjalani perawatan kesuburan sebelumnya (75%), dibandingkan yang belum (53%). Ini nunjukin bahwa teknologi saat ini belum tentu bisa mendeteksi semua hal secara akurat. Wah lalu bagaimana metode yang dapat dipilih? haruskah invasif apa tidak?

Jadi, Perlu Laparoskopi Nggak?

Pertanyaannya sekarang, apakah semua pasien dengan UI harus langsung menjalani laparoskopi?

Well, nggak selalu. Tapi mempertimbangkan laparoskopi jadi penting terutama bagi pasien yang juga mengalami gejala nyeri panggul atau menstruasi yang menyakitkan, karena bisa jadi itu tanda-tanda endometriosis tersembunyi. Karena dengan laparoskopi bisa membantu mendeteksi kondisi yang selama ini tersembunyi, dan membantu menentukan pengobatan yang lebih tepat.

Meskipun teknologi pencitraan dan program bayi tabung semakin canggih, laparoskopi tetap punya peran yang penting untuk mengungkap penyebab tersembunyi dari infertilitas. Jadi, buat sister dan paksu yang sedang mengalami UI dan punya gejala khas endometriosis, mungkin sudah waktunya ngobrol lebih lanjut sama dokter tentang opsi ini. Informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa buat follow Instagram kami di @menujuduagaris.id

Referensi

Van Gestel, H., Bafort, C., Meuleman, C., Tomassetti, C., & Vanhie, A. (2024). The prevalence of endometriosis in unexplained infertility: A systematic review. Reproductive biomedicine online, 49(3), 103848.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hamil, infertility, pejuang dua garis

Fertility Bootcamp MDG & Morula: Dua Hati, Satu Mimpi Menuju Dua Garis Sesi Akhir Berjalan Meriah dan Menyentuh

February 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Surabaya, 16 Februari 2025 – Sesi terakhir Fertility Bootcamp MDG & Morula sukses digelar di Mileu Space Surabaya dengan penuh kemeriahan dan momen mengharukan. Acara ini menjadi penutup dari rangkaian program edukasi dan dukungan bagi pasangan yang tengah berjuang mendapatkan keturunan. Dengan konsep unik dan interaktif, acara ini menggabungkan fertility talk show, healthy cooking class, scrapbook making, serta free konsultasi bersama para dokter ahli.

Acara ini menghadirkan dua dokter spesialis dari Morula, yaitu Dr. Jimmy Yanuar Annas, Sp. O.G, Subsp. F.E.R dan Dr. Benediktus Arifin, MPH, SpOG (K), FICS, serta Chef Ken, yang berbagi wawasan dan keterampilan seputar gaya hidup sehat untuk mendukung program kehamilan.

Antusiasme Tinggi dari Peserta Online dan Offline

Acara dibuka oleh dua Bumin dari MDG dan dilanjutkan oleh Mizz Rosie, Founder MDG. Tidak hanya dihadiri secara langsung, acara ini juga menarik perhatian peserta dari berbagai penjuru Indonesia melalui siaran online. Tercatat sekitar 263 peserta bergabung secara virtual, menunjukkan antusiasme tinggi dengan aktif berdiskusi di kolom chat dan mengikuti sesi memasak bersama pasangan.

Dalam sesi healthy cooking class, Chef Ken dengan penuh semangat membimbing peserta dalam memasak menu sehat, baik secara langsung maupun daring. Sementara itu, dalam sesi talk show dan konsultasi, para peserta berkesempatan bertanya langsung kepada dokter mengenai berbagai permasalahan kesuburan. Beberapa pertanyaan yang diajukan antara lain “Dok, apakah jika hasil HSG dinyatakan paten setelah laparoskopi sekitar 6 tahun lalu, perlu dilakukan HSG ulang?”, “Jika mengalami hidrosalping bilateral, apakah harus menggunakan program IVF long protocol? Berapa persen tingkat keberhasilannya jika rahim, sel telur, dan sperma dalam kondisi baik?” dan “Dok, mengapa setelah sperma diperiksa untuk inseminasi, hasilnya menunjukkan asthenozoospermia padahal morfologinya 4% dengan total sperma 136.5×10/ejakulat? Apakah ini normal?”

Momen Haru dan Inspiratif

Acara ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga menjadi ruang berbagi bagi para peserta. Banyak peserta yang terharu hingga meneteskan air mata karena merasa mendapatkan dukungan moral yang kuat. Misi MDG untuk menghadirkan komunitas yang saling mendukung dan berbagi kasih pun tersampaikan dengan baik.
Sebagai sesi penutup Fertility Bootcamp MDG & Morula, acara ini menjadi bukti bahwa edukasi dan komunitas yang solid dapat membantu para pasangan dalam perjalanan mereka menuju kehamilan. MDG berharap dapat terus menghadirkan acara inspiratif lainnya di masa depan. Untuk informasi lebih lanjut dan acara selanjutnya, follow Instagram @menujuduagaris.id. Sampai jumpa di event berikutnya!

Tentang MDG (Menuju Dua Garis) adalah komunitas yang berfokus pada edukasi dan dukungan bagi pasangan yang sedang berjuang untuk mendapatkan keturunan. Dengan berbagai program, MDG berkomitmen untuk memberikan informasi yang terpercaya dan menjadi ruang berbagi bagi para pejuang dua garis.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: MDG, menuju dua garis, pejuang dua garis, press release

Sesi Kedua Fertility Bootcamp 2025: Kedekatan yang Terjalin dan Penutupan Penuh Haru

February 8, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Surabaya, 7 Februari 2025 – Fertility Bootcamp 2025 telah sukses menyelenggarakan sesi kedua pada tanggal 7 Februari 2025 pukul 19.00 WIB. Acara ini kembali menghadirkan suasana yang interaktif dan penuh kehangatan, tak kalah seru dari sesi pertama. Sesi ini dibuka oleh MC, Bu Min dari Menuju Dua Garis (MDG), dan dilanjutkan dengan sambutan dari Mizz Rosie selaku Founder MDG.

Selama 85 menit, peserta terbagi dalam breakout room berdasarkan cabang Morula IVF, yang meliputi Bandung, Ciputat, Denpasar, Jakarta, Margonda Depok, Padang, Pontianak, Surabaya, Tangerang, dan Yogyakarta. Setiap breakout room dipandu oleh dokter ahli dari masing-masing cabang Morula IVF, yang dengan antusias memberikan edukasi dan menjawab pertanyaan dari para peserta.

Antusiasme peserta sangat tinggi, terlihat dari banyaknya peserta yang berebut untuk mengangkat tangan dan bertanya langsung kepada dokter. Para pejuang dua garis (PDG) berbagi kisah perjalanan mereka, dari durasi perjuangan menghadapi infertilitas hingga berbagai program kehamilan yang telah dicoba. Para dokter menjelaskan setiap kasus dengan detail dan menggunakan pendekatan unik masing-masing. Salah satu dokter bahkan menciptakan momen penuh tawa dengan menyatakan, “Ya nggak apa-apa kalau stres saat promil, itu wajar! Kami yang dokter aja stres.” Ucapan ini disambut gelak tawa dari peserta, menciptakan suasana yang lebih rileks dan penuh semangat.

Menjadi pejuang dua garis bukanlah perjalanan yang mudah, tetapi merupakan bagian dari takdir terbaik yang mempertemukan para sister dan paksu dalam komunitas yang saling mendukung. Sesi kedua ini pun ditutup dengan penuh haru, terlebih saat diputarnya lagu “Batas Senja – Nanti Kita Seperti Ini” yang menyentuh hati para peserta. Beberapa peserta bahkan meneteskan air mata, merasakan kedekatan yang semakin erat dalam komunitas ini.

Sayangnya, waktu yang terbatas membuat beberapa peserta belum sempat mengajukan pertanyaan mereka. Namun, Fertility Bootcamp 2025 masih akan berlanjut ke sesi ketiga, yang diharapkan dapat kembali memberikan ruang diskusi yang lebih luas bagi para pejuang dua garis.

Nantikan informasi lebih lanjut tentang sesi selanjutnya dengan mengikuti Instagram resmi kami di @menujuduagaris.id. Sampai jumpa di sesi berikutnya!

Tentang Menuju Dua Garis (MDG)
Menuju Dua Garis (MDG) adalah komunitas yang berkomitmen untuk memberikan edukasi, dukungan, dan ruang berbagi bagi para pejuang dua garis dalam perjalanan mereka menuju kehamilan. Melalui berbagai kegiatan seperti Fertility Bootcamp, MDG terus berupaya menghadirkan informasi yang terpercaya dan membangun solidaritas antar anggota komunitas.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: fertility bootcamp, menuju dua garis, pejuang dua garis

Tau nggak sih ternyata Fakta Bersepeda terlalu banyak menyebabkan ketidaknormalan morfologi sperma

January 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Latihan olahraga menjadi salah satu yang solusi hidup sehat bagi sebagian orang, ia kemudian menjadi gaya hidup untuk meningkatkan kesehatan secara umum dan bahkan dalam konteks fertilitas. Akan tetapi, sister dan paksu perlu tahu olahraga yang dilakukan secara tidak tepat atau berlebihan, dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. MDG pada kesempatan ini akan membahas lebih spesifik olahraga bersepeda. Baca sampai habis ya!

Bagaimana Morfologi Sperma dianggap Normal?

Morfologi sperma mengacu pada ukuran dan bentuk sperma. Idealnya, sperma akan memiliki bentuk normal yang memungkinkannya bergerak melalui saluran reproduksi dan menembus sel telur secara efektif.

Bentuk normal berarti, Kepala sperma harus berbentuk oval dengan panjang 5 hingga 6 μm dan lebar 2,5 hingga 3,5 μm. Bagian tengah atau leher harus berukuran panjang 4 hingga 5 μm. Flagel atau ekor harus berukuran panjang sekitar 50 μm. Sperma harus memiliki akrosom normal, struktur seperti tutup di atas kepala sperma. Akrosom mengandung enzim yang membantu sperma menembus sel telur. Sperma yang memiliki masalah morfologi mungkin memiliki kepala yang cacat, kepala yang terlalu besar, dua ekor, atau cacat lainnya.

Olahraga berlebih dan Dampak pada Infertilitas 

Faktanya, secara umum diterima bahwa, pada atlet elit, latihan olahraga mungkin lebih merugikan daripada menguntungkan, yang memicu kerusakan multisistemik seperti otot, osteoartikular, jantung, dll. 2-6. Fungsi reproduksi telah dinilai pada atlet terkait dengan kemungkinan efek negatifnya. Karena gejala yang jelas (menarche tertunda, amenore, oligomenore), para peneliti menduga adanya hubungan antara latihan dan fungsi reproduksi pada atlet. Lebih spesifik salah satunya adalah olahraga bersepeda. 

Sebuah penelitian bahkan mengaitkan olahraga yang berlebih dengan kualitas sperma, sebuah temuan dari Vaamonde dengan judul “Sperm morphology normalcy is inversely correlated to cycling kilometers in elite triathletes” menemukan bahwa volume bersepeda yang tinggi, terutama di atas 300 km/minggu, merugikan morfologi sperma, dan bahkan dapat menyebabkan gangguan serius pada kesuburan pria.

Meski demikian paksu tetap dapat melakukan aktivitas bersepeda setidaknya dengan menerapkan hal-hal berikut, pertama pilihlah sadel yang tepat dan nyaman. Sadel yang dianjurkan adalah sadel yang cukup lebar sehingga memungkinkan terjadinya kontak antara bagian belakang sadel dengan ujung tulang duduk. Gunakan celana bersepeda yang memiliki bantalan (padded) sehingga dapat mengurangi benturan ke daerah testis. Ubah sedikit posisi duduk di sepeda setiap 10 menit bersepeda atau condongkan ujung sadel sedikit ke bawah sehingga penekanan pada testis berkurang. Apabila terdapat opsi dalam memilih rute, sebisa mungkin hindari rute yang melibatkan jalanan yang berbatu atau yang berpotensi menimbulkan goncangan dan hentakan antara sadel dan badan. Apabila terjadi hentakan atau goncangan di sepeda, paksu juga dapat sedikit mengangkat badan atau mengurangi tekanan badan pada sadel sehingga gaya benturan tidak sepenuhnya diteruskan. 

Meskipun bersepeda bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat, tentu paksu dan sister harus menjaga keseimbangan melalui efektivitas dengan tidak berlebih melakukan olahraga terutama bersepeda. Berolahraga dengan bijak dan tidak berlebihan sangat penting untuk menjaga kualitas sperma dan kesuburan secara keseluruhan. 

Referensi

  • Vaamonde, D., Da Silva-Grigoletto, M. E., García-Manso, J. M., Cunha-Filho, J. S., & Vaamonde-Lemos, R. (2009). Sperm morphology normalcy is inversely correlated to cycling kilometers in elite triathletes. Revista Andaluza de Medicina del Deporte, 2(2), 43-46.
  • https://www-givelegacy-com.translate.goog/resources/what-is-normal-sperm-morphology/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge#:~:text=Morfologi%20sperma%20mengacu%20pada%20ukuran,membantu%20sperma%20menembus%20sel%20telur.
  • https://www.klikdokter.com/gaya-hidup/perawatan-pria/apakah-bersepeda-menurunkan-kesuburan-pria

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: bersepeda, IVF, morfologi, olahraga, pejuang dua garis, sperma

Apakah Pemahaman tentang Fertilitas hanya Untuk Pejuang Dua Garis?

December 26, 2024 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Fertilitas, atau kesuburan, adalah kemampuan alami untuk mengandung dan melahirkan anak. Hal yang berhubungan dengan biologis ini akhirnya menjadi penting salah satunya melalui kesadaran akan fertilitas sangat penting bagi individu dan pasangan yang merencanakan untuk memiliki anak, karena berbagai faktor dapat mempengaruhi kemampuan ini. Dalam artikel ini, MDG akan membahas mengapa pengetahuan tentang fertilitas sangat penting, juga mengungkap faktor yang paling berpengaruh pada fertilitas. Baca sampai habis ya!

Pentingnya Memahami Infertilitas

Mengapa pembahasan ini jarang dibicarakan di ruang publik? bagaimana sebuah pemahaman tentang reproduksi, kesuburan, kemampuan untuk hamil, dan faktor risiko individu terkait (misalnya usia lanjut, faktor kesehatan seksual seperti infeksi menular seksual, dan faktor gaya hidup seperti merokok, obesitas) dan faktor risiko non-individu (misalnya faktor lingkungan dan tempat kerja); termasuk kesadaran tentang faktor sosial dan budaya yang mempengaruhi pilihan untuk memenuhi perencanaan keluarga reproduktif, serta kebutuhan membangun keluarga. 

Ternyata ruang fertilitas sangatlah kompleks dan menyangkut banyak hal dan ruang, tidak hanya biologis tapi juga budaya dan kontruksi yang beredar di masyarakat. Padahal Mengetahui dan sadar terkait fertilitas adalah hal yang sangat penting bagi individu dan pasangan. Dengan edukasi yang tepat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesuburan, serta pemahaman tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, seseorang dapat meningkatkan peluang untuk memiliki anak dan mengurangi risiko infertilitas. Kesadaran ini juga akan membantu mengurangi stigma sosial terhadap infertilitas dan mendukung pasangan dalam perjalanan mereka menuju parenthood.

Sedangkan fakta di lapangan ditemukan bahwa banyak diantara kita yang juga mengalami infertilitas, baik yang dapat dijelaskan ataupun tidak. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Brandt dengan judul “Advanced paternal age, infertility, and reproductive risks: A review of the literature” menemukan usia lanjut wanita dan usia lanjut pria dikaitkan dengan fertilitas yang lebih rendah dan risiko yang lebih tinggi terhadap hasil kelahiran yang buruk. Hal ini dapat dikaitkan dengan studi tinjauan global baru-baru ini dari WHO yang menunjukkan prevalensi infertilitas seumur hidup rata-rata sebesar 17,5%, dengan perbedaan regional. 

 

Siapa saja yang Harus paham Tentang Fertilitas

 Tentu jawabannya adalah bagi semua orang baik pejuang dua garis, ataupun tidak karena jika semua orang paham dengan proses biologis seseorang, ini akan menjadikan diri mereka lebih melatih kepekaan dan rasa hormat. Tentu juga akan mengurangi stigma sosial yang beragam. Meski demikian menurut penelitian Sylvest, R dengan judul “How to talk to young adults about fertility” ditemukan bahwa untuk menyampaikan tentang fertilitas tidak bisa di disamaratakan dan perlu pendekatan yang ekstra dan personal sesuai dengan budaya dan norma yang berlaku di masyarakat. Informasi harus disesuaikan untuk audiens dan disampaikan pada tahap yang tepat dalam rentang hidup mereka, dimulai dengan memperkenalkan konsep-konsep utama saat mereka masih muda. Wah melihat keadaan tersebut ternyata tugas kita masih panjang ya sister, tapi jangan patah semangat ya karena semua usaha itu akan membuahkan hasil nantinya. Setidaknya sekitar kita akan bisa memahami apa yang PDG rasakan. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Brandt, JS, Cruz Ithier, MA, Rosen, T, Ashkinadze, E, 2019. Advanced paternal age, infertility, and reproductive risks: A review of the literature. Prenatal Diagnosis 39, 81–87. https:// doi.org/10.1002/pd.5402.
  • Sylvest, R., Koert, E., Balslev, J., Steenberg, M., Schmidt, L., & Ziebe, S. (2024). How to talk to young adults about fertility. Reproductive BioMedicine Online, 49(1), 103937.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: awareness, infertilitas, pejuang dua garis

Mengungkap Rumor Yang beredar tentang Perawatan Infertilitas

December 25, 2024 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pejuang dua garis dihadapkan banyak tantangan, dan semua itu tentu membutuhkan usaha dan tenaga, baik fisik, pikiran hingga dari segi ekonomi yang tidak sedikit jumlahnya untuk dikeluarkan. Untuk itu baik sister dan paksu membutuhkan pengetahuan yang valid untuk keberhasilan yang diinginkan, MDG disini ingin menceritakan bagaimana kita sama-sama dapat bersikap untuk proses yang dihadapi saat menghadapi infertilitas. Baca sampai akhir ya!

Seperti kata Pepatah ada lebih dari satu Cara untuk Menuju Roma

Ada banyak hal dalam dunia perawatan kesuburan yang harus tepat. Seperti dalam perihal waktu sebelum pengambilan sel telur, hari implantasi untuk transfer embrio, dll. Namun, ada juga yang tidak harus tepat. Misalnya, ‘hubungan seksual terjadwal’.

Berikut penjelasan menurut dr. Natasha Alexander bila ada sel telur yang berhasil dibuahi oleh sperma maka saat itu juga sel telur langsung membuat lapisan dimana membuat sel sperma yang lain tidak dapat menembus sel telur yang sudah dibuahi tersebut. Jadi, hubungan suami istri dimana sperma masuk kedalam rahim tidak berpengaruh/tidak akan mengganggu proses pembuahan yang sudah terjadi itu.

IVF Hadir sebagai Jalan Keluar Terbaik, Bukan Jalan Keluar Terakhir

Banyak dari pasangan yang sudah mengalami ketakutan ketika diagnosa atau saran dokter adalah IVF, hal ini banyak disebabkan oleh keyakinan yang dimunculkan bahwa mereka telah mencapai titik terendah dalam hal pilihan perawatan. Namun, di dunia yang dipenuhi kecanggihan teknologi, solusi untuk memulai dengan IVF dalam banyak kasus lebih banyak mengatasi bagian dari infertilitas ‘yang tidak dapat dijelaskan’. Selain itu juga harus melihat sisi lain terutama pada klinik dan usia pasien, transfer embrio dari IVF dapat menghasilkan peluang kelahiran hidup sebesar 40-70%, yang jauh lebih tinggi daripada yang dicapai melalui IUI.

IVF pada pasangan dengan infertilitas yang tidak dapat dijelaskan adalah alat terbaik yang dimiliki dalam perangkat kedokteran reproduksi karena berbagai alasan. Sebagai cerminan dari tingkat penyidikan yang telah kita lakukan. Dr. Stankiewicz menjelaskan bahwa IVF seringkali penting sebagai diagnostik sekaligus terapi, baik untuk menunjukkan maupun mengatasi hambatan terhadap konsepsi alami. Dr. Stankiewicz dalam forum debat meyakinkan  bahwa IVF efisien, aman, dan hemat biaya.

Dalam IVF, yang Terpenting adalah Lab

Setelah sister dan paksu memutuskan untuk melakukan IVF, pasti akan dihadapi pada dokter yang bagus di bidangnya. Namun, pada akhirnya, jika melakukan IVF, perlu diingat jika komponen terpenting untuk keberhasilan adalah kualitas lab IVF, dan semuanya jelas tidak sama. Sementara lab IVF yang baik dapat menjaga integritas embrio yang baik dan mendukung pertumbuhannya yang berkelanjutan, lab yang kurang optimal dapat membahayakan embrio yang baik hingga tidak dapat bertahan hidup.

Meski demikian seberapa bagusnya sebuah lab, ia tidak dapat menghasilkan embrio yang baik dari sperma dan sel telur berkualitas buruk. Karena hal tersebut tidak ada dalam kapasitas teknologi. Sehingga yang perlu dipertimbangkan tentu saja adalah kasus infertilitas berupa kualitas sperma dan sel telur. Untuk informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • https://www.atlantainfertility.com/about-us/blogs/2023/december/10-things-i-would-tell-my-sister-if-she-was-star/
  • https://www.alodokter.com/komunitas/topic/proses-kehamilan-6
  • https://www.asrm.org/news-and-events/podcasts/fertility-and-sterility-on-air/fsoa-anzsrei2024/

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: #IVF #sel telur, apakah IVF itu, IVF, pejuang dua garis

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.