• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

keguguran berulang

Hamil Bisa, Bertahan Tidak: Talkshow Kupas Tuntas Akar Keguguran Berulang Bersama Dr Uma Mariappen

February 8, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Surabaya, 7 Februari 2026 — Keguguran berulang masih menjadi pengalaman yang menyisakan luka fisik dan emosional bagi banyak pasangan. Tidak sedikit perempuan yang bisa hamil, namun kehamilan tersebut sulit bertahan. Isu inilah yang menjadi fokus utama talkshow “Hamil Bisa, Bertahan Tidak: Memahami Keguguran Berulang dari Akar Masalahnya” yang digelar oleh Menuju Dua Garis bersama Thomson Fertility.

Acara dibuka oleh Mizz Rosie, Founder Menuju Dua Garis, yang menegaskan pentingnya menggeser cara pandang terhadap keguguran berulang. Menurutnya, banyak pasien masih terjebak pada rasa bersalah dan asumsi keliru, padahal keguguran berulang adalah kondisi medis kompleks yang membutuhkan pemahaman berbasis sains, bukan sekadar mitos atau dugaan personal.

Sebagai pembicara utama, Dr Uma Mariappen, Consultant Obstetrician & Gynaecologist, IVF Specialist, sekaligus Gynaecology Laparoscopic Surgeon dari Thomson Fertility Puchong, Malaysia, memaparkan bahwa keguguran berulang tidak selalu disebabkan oleh faktor yang selama ini paling sering dicurigai.

“Fibroid dan polip memang sering ditemukan, tetapi bukan penyebab utama keguguran berulang pada sebagian besar kasus,” jelas Dr Uma.
“Yang jauh lebih penting adalah melihat faktor hormonal, metabolik, genetik, hingga kondisi lingkungan rahim secara menyeluruh.”

Dr Uma juga memperkenalkan pendekatan diagnostik dan teknologi terbaru untuk evaluasi rahim yang saat ini sudah digunakan di pusat fertilitas internasional. Beberapa di antaranya masih tergolong sangat advanced dan bahkan belum tersedia secara luas di Indonesia. Teknologi ini memungkinkan dokter menilai lingkungan rahim secara lebih detail dan presisi, sehingga penyebab keguguran berulang tidak lagi hanya ditebak, tetapi benar-benar ditelusuri dari akarnya.

Antusiasme peserta terlihat jelas saat sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Berbagai pertanyaan praktis yang sering menjadi kegelisahan pasien dibahas secara terbuka, di antaranya terkait peran progesteron dalam program kehamilan, penggunaan metformin pada PCOS, serta keamanan terapi jangka panjang.

Dr Uma menjelaskan bahwa progesteron memiliki peran penting dalam mendukung kehamilan, baik pada program IUI maupun IVF, namun penggunaannya tidak bisa disamaratakan. Pada IUI, progesteron umumnya diberikan dengan durasi tertentu (cut-off), sementara pada IVF penggunaannya memang lebih intensif dan terkontrol.

Terkait PCOS, metformin masih menjadi salah satu terapi yang digunakan untuk memperbaiki resistensi insulin dan lingkungan hormonal, termasuk pada trimester awal kehamilan. Namun, konsumsi jangka panjang tetap perlu pengawasan medis untuk memastikan keamanan, termasuk terhadap fungsi ginjal dalam penggunaan bertahun-tahun.

Selain itu, ditegaskan pula bahwa pada IUI, proses pembuahan tetap terjadi secara alami di dalam tubuh, sehingga pendekatannya berbeda dengan IVF yang lebih terkontrol secara laboratorium.

Talkshow ini menekankan satu pesan penting: keguguran berulang bukan kegagalan pribadi, melainkan kondisi medis yang perlu ditangani secara sistematis, individual, dan berbasis bukti ilmiah. Dengan edukasi yang tepat dan teknologi yang terus berkembang, harapan untuk kehamilan yang bertahan tetap terbuka bagi banyak pasangan.

Acara berlangsung hangat, interaktif, dan sarat wawasan, meninggalkan kesan kuat bahwa memahami tubuh sendiri adalah langkah awal menuju keputusan reproduksi yang lebih tepat dan berdaya.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hamil, keguguran berulang, menuju dua garis, program hamil

Hereditary Thrombophilia dan Recurrent Pregnancy Loss

November 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Keguguran berulang (recurrent pregnancy loss atau RPL) adalah pengalaman emosional yang berat bagi banyak perempuan. Secara medis, salah satu penyebab yang sering ditemukan dalam berbagai penelitian adalah trombofilia herediter, yaitu kondisi genetik yang membuat darah lebih mudah membeku dari normalnya.

Masalahnya, ketika pembekuan darah mikro terjadi di area rahim atau plasenta, aliran darah ke embrio bisa terhambat. Akibatnya, proses implantasi embrio (menempelnya embrio di dinding rahim) bisa gagal, atau kehamilan terhenti pada usia sangat dini.

Beberapa jenis trombofilia herediter telah dikaitkan dengan risiko keguguran berulang. Dalam sebuah meta-analisis besar oleh Liu dan rekan-rekannya (2021), yang meninjau 89 studi dengan total sekitar 30 ribu perempuan, ditemukan bahwa:

  • Mutasi Factor V Leiden (G1691A) meningkatkan risiko RPL sekitar 2,4 kali lipat.
  • Mutasi Prothrombin G20210A meningkatkan risiko sekitar dua kali lipat.
  • Defisiensi Protein S bahkan memiliki risiko paling tinggi, sekitar 3,4 kali lipat.
    Sementara itu, kelainan pada Antitrombin (AT) dan Protein C (PC) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dalam keseluruhan analisis.

Hasil tersebut menegaskan bahwa ada hubungan yang cukup kuat antara beberapa varian genetik pembekuan darah dengan risiko keguguran berulang, meski hasil antar-studi masih beragam.

Mekanisme patofisiologis

  • Mikrotrombi: pembekuan kecil di pembuluh uterina mengurangi aliran darah ke jaringan plasenta/decidua.
  • Disfungsi vasodilatasi & inflamasi: trombosis lokal memicu respon inflamasi yang merusak lingkungan implantasi.
  • Interaksi gen-lingkungan: faktor tambahan (obesitas, merokok, infeksi, diabetes) bisa memperbesar risiko trombosis.

Dari sisi klinis, temuan mengenai trombofilia herediter memiliki implikasi penting, terutama bagi perempuan yang sedang merencanakan kehamilan secara alami (promil alami).

Tes trombofilia biasanya dipertimbangkan pada kondisi tertentu, seperti jika seorang perempuan pernah mengalami dua kali atau lebih keguguran berulang terutama di trimester pertama, memiliki riwayat pembekuan darah di pembuluh vena (trombosis), atau ada riwayat keluarga dengan trombosis atau keguguran berulang.

Pemeriksaan yang dilakukan umumnya meliputi:

  • Tes genetik untuk mendeteksi mutasi Factor V Leiden dan Prothrombin G20210A.
  • Pemeriksaan kadar atau aktivitas Protein S, Protein C, dan Antitrombin (AT), yang berperan dalam menjaga keseimbangan pembekuan darah.
  • Panel antiphospholipid, untuk menilai adanya trombofilia akuisita (bukan genetik) yang juga bisa mengganggu implantasi dan kehamilan.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya trombofilia, langkah selanjutnya biasanya dilakukan secara kolaboratif antara dokter kandungan dan dokter spesialis hematologi. Dalam beberapa kasus, dokter dapat memberikan terapi antikoagulan dosis rendah, seperti heparin dan aspirin, untuk membantu memperlancar aliran darah ke rahim dan mencegah pembekuan mikro yang bisa mengganggu proses implantasi.

Namun, penggunaan obat ini tidak diberikan secara rutin kepada semua perempuan, karena keputusan terapi harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kondisi individu masing-masing pasien.

Langkah alami/pendukung:

  1. Optimalkan berat badan dan aktivitas fisik.
  2. Hindari rokok & konsumsi alkohol berlebih.
  3. Kontrol kondisi kronis (diabetes, hipertensi).
  4. Nutrisi: cukup vitamin D, B12, folat; diskusikan suplemen dengan dokter.
  5. Manajemen stres, tidur cukup (karena stres mempengaruhi koagulasi indirek).

Trombofilia herediter adalah kandidat penting saat mengevaluasi RPL dan unexplained infertility. Deteksi dan penatalaksanaan yang tepat medis dan dukungan gaya hidup dapat memperbesar peluang kehamilan yang bertahan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi utama

Liu X., dkk. (2021). Hereditary thrombophilia and recurrent pregnancy loss: a systematic review and meta-analysis. Human Reproduction.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, keguguran berulang

Peran Ayah dalam Keguguran Berulang: Saat Faktor Paternal Tak Bisa Lagi Diabaikan

October 15, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Keguguran berulang (recurrent pregnancy loss/RPL) adalah pengalaman yang sangat menyedihkan bagi banyak pasangan. Umumnya, fokus pemeriksaan dan terapi lebih diarahkan pada pihak perempuan mulai dari hormon, anatomi rahim, sampai sistem imun. Padahal, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa kondisi kesehatan dan kualitas sperma dari pihak laki-laki juga berperan besar dalam keberlangsungan kehamilan.

Selama ini, pemeriksaan untuk laki-laki sering terbatas pada analisis sperma dasar atau uji kromosom, sementara faktor-faktor lain seperti stres oksidatif, gaya hidup, hingga kondisi genetik jarang dievaluasi. Padahal, penelitian terbaru menegaskan bahwa paternal factors (faktor ayah) bisa menentukan apakah embrio mampu berkembang dengan sehat atau justru berhenti tumbuh di awal kehamilan.

Ketika Sperma Ikut Menentukan Viabilitas Embrio

Peneliti dari berbagai universitas di Eropa menemukan bahwa banyak kasus keguguran berulang berakar pada kerusakan DNA sperma, perubahan epigenetik, dan gangguan kualitas sel sperma akibat gaya hidup tidak sehat atau paparan lingkungan.

Kondisi seperti stres oksidatif ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh menjadi salah satu penyebab utama. Polusi, rokok, alkohol, pola makan tidak seimbang, sehingga penyakit metabolik seperti diabetes dapat memicu stres oksidatif yang merusak struktur DNA sperma. Akibatnya, sperma membawa informasi genetik yang tidak stabil, sehingga setelah pembuahan, embrio sulit berkembang secara normal dan lebih berisiko mengalami keguguran dini.

Genetika dan Epigenetika: Jejak yang Diturunkan dari Ayah

Selain kerusakan DNA, faktor genetik juga memainkan peran penting. Salah satu contohnya adalah translokasi kromosom, di mana dua kromosom bertukar segmen secara tidak seimbang. Meskipun pria dengan kondisi ini tampak sehat, sperma yang dihasilkan bisa membawa kelainan genetik yang menyebabkan keguguran berulang.

Lebih halus lagi, ada perubahan epigenetik yakni perubahan pada cara gen diatur tanpa mengubah urutan DNA itu sendiri. Perubahan epigenetik akibat stres oksidatif atau pola hidup buruk dapat memengaruhi ekspresi gen penting pada tahap awal pembentukan embrio. Artinya, bahkan sperma yang “terlihat normal” secara bentuk dan jumlah bisa saja membawa informasi yang mengganggu perkembangan janin.

Usia, Gaya Hidup, dan Lingkungan: Kombinasi yang Tak Bisa Diabaikan

Semakin bertambah usia, pria mengalami penurunan kualitas sperma, baik dari sisi jumlah, motilitas, maupun integritas DNA. Bersamaan dengan itu, kondisi kesehatan seperti obesitas, hipertensi, dan sindrom metabolik juga memperburuk stres oksidatif dalam tubuh.

Faktor lingkungan seperti paparan bahan kimia industri, pestisida, logam berat, dan radiasi turut memperburuk kualitas sperma. Semua hal ini jika tidak dikontrol berpotensi meningkatkan risiko keguguran meski proses pembuahan berhasil terjadi.

Setelah mengetahui fakta di atas sister jadi paham mengapa keguguran berulang bukan semata masalah dari sisi perempuan. Peran paternal terbukti krusial dalam menentukan keberhasilan kehamilan, terutama melalui kualitas DNA sperma, kondisi genetik, dan gaya hidup.

Dengan memasukkan evaluasi paternal ke dalam standar pemeriksaan klinis, diharapkan penanganan keguguran berulang bisa menjadi lebih tepat sasaran, personal, dan efektif.
Selain itu paksu juga sudah mulai mengambil Langkah sederhana seperti memperbaiki pola hidup, meminimalkan stres oksidatif, dan melakukan pemeriksaan mendalam pada sperma bisa menjadi titik awal untuk memperbesar peluang kehamilan yang sehat dan berkelanjutan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Kaltsas A, Zikopoulos A, Kojovic V, Dimitriadis F, Sofikitis N, Chrisofos M, Zachariou A. Paternal Contributions to Recurrent Pregnancy Loss: Mechanisms, Biomarkers, and Therapeutic Approaches. Medicina. 2024; 60(12):1920.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ayah, keguguran berulang, peran ayah, promil

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.