
Banyak yang mengira kualitas sperma hanya ditentukan oleh jumlah atau bentuknya. Padahal, ada satu komponen kecil yang punya peran sangat besar: mitokondria. Mitokondria adalah “mesin energi” di dalam sel sperma yang bertugas menghasilkan ATP, yaitu sumber energi utama untuk pergerakan sperma. Tanpa energi yang cukup, sperma tidak akan mampu berenang menuju sel telur.
Namun, fungsinya tidak berhenti di situ. Mitokondria juga berperan dalam menjaga keseimbangan kalsium, mengatur produksi reactive oxygen species (ROS), serta mendukung proses penting seperti kapasitasi dan reaksi akrosom dua tahap krusial sebelum pembuahan terjadi. Artinya, mitokondria bukan hanya soal energi, tapi juga menyangkut keseluruhan kemampuan sperma untuk membuahi sel telur.
Ketika Mitokondria Bermasalah
Masalah muncul ketika fungsi mitokondria terganggu. Penurunan performa mitokondria dapat menyebabkan produksi energi menurun, sehingga sperma kehilangan kemampuan geraknya. Salah satu indikator penting adalah mitochondrial membrane potential (MMP). Ketika nilai ini menurun, biasanya diikuti dengan penurunan motilitas sperma dan kemampuan fertilisasi.
Selain itu, mitokondria juga memiliki DNA sendiri (mtDNA) yang lebih rentan mengalami kerusakan dibandingkan DNA inti. Hal ini karena mtDNA tidak memiliki sistem perlindungan sekuat DNA lainnya, sehingga lebih mudah terkena stres oksidatif. Akibatnya, kerusakan pada mitokondria tidak hanya memengaruhi pergerakan sperma, tetapi juga dapat berdampak pada integritas DNA sperma itu sendiri.
Dampaknya pada Kesuburan dan Keberhasilan Program Hamil
Gangguan pada mitokondria telah dikaitkan dengan berbagai kondisi infertilitas pria, termasuk kasus yang sebelumnya dianggap “tidak jelas penyebabnya”.
Disfungsi mitokondria dapat berhubungan dengan:
- penurunan kualitas sperma
- kegagalan fertilisasi
- bahkan kegagalan pada program seperti IVF atau ICSI
Dalam beberapa kasus, masalah ini juga dikaitkan dengan keguguran berulang. Artinya, dampaknya tidak hanya terjadi di awal proses pembuahan, tetapi bisa berlanjut hingga tahap perkembangan embrio.
Menariknya, meskipun teknologi seperti ICSI memungkinkan sperma langsung dimasukkan ke dalam sel telur, faktor kualitas sperma termasuk fungsi mitokondria tetap berperan penting dalam menentukan keberhasilan akhir.
Kenapa Hal Ini Penting untuk Dipahami?
Banyak pasangan sudah menjalani berbagai upaya, mulai dari suplemen hingga program bayi tabung, tetapi belum mendapatkan hasil yang diharapkan. Salah satu alasannya bisa jadi karena masalah yang terjadi bukan hanya di permukaan (seperti jumlah atau bentuk sperma), tetapi lebih dalam yaitu pada tingkat seluler, termasuk fungsi mitokondria.
Inilah yang membuat evaluasi kesuburan pria seharusnya tidak berhenti pada analisis dasar saja, tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor yang lebih kompleks. Dengan memahami bahwa kualitas sperma dipengaruhi oleh banyak aspek, termasuk “mesin energi”-nya, pasangan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan strategis dalam perjalanan promil. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya
Referensi
- Vahedi Raad, M., Firouzabadi, A. M., Tofighi Niaki, M., Henkel, R., & Fesahat, F. (2024). The impact of mitochondrial impairments on sperm function and male fertility: a systematic review. Reproductive Biology and Endocrinology, 22(1), 83.