• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

kanker

Fertility Preservation pada Pasien Kanker: Menjaga Harapan Reproduksi di Tengah Perjalanan Melawan Penyakit

March 9, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Diagnosis kanker sering kali menjadi titik balik besar dalam kehidupan seseorang. Selain menghadapi tantangan fisik dan emosional akibat penyakit, banyak pasien terutama yang berada di usia reproduktif juga harus menghadapi kemungkinan lain yang tidak kalah berat: risiko kehilangan kesuburan.

Berbagai terapi kanker seperti kemoterapi, radioterapi, maupun tindakan operasi memang berperan penting dalam menyelamatkan nyawa. Namun, terapi-terapi tersebut juga dapat memberikan dampak signifikan terhadap sistem reproduksi. Kerusakan pada ovarium atau testis dapat menyebabkan infertilitas sementara bahkan permanen, sehingga peluang untuk memiliki anak di masa depan bisa berkurang.

Apa Itu Fertility Preservation?

Fertility preservation adalah serangkaian intervensi medis dan prosedur klinis yang bertujuan untuk menjaga potensi reproduksi seseorang sebelum, selama, atau setelah menjalani terapi kanker.

Pendekatan ini memberikan kesempatan bagi pasien kanker untuk tetap memiliki peluang membangun keluarga setelah mereka menyelesaikan pengobatan dan memasuki fase survivorship. Seiring dengan berkembangnya teknologi reproduksi berbantu, berbagai metode fertility preservation kini tersedia bagi pasien laki-laki maupun perempuan.

Pilihan Fertility Preservation pada Pasien Kanker

Beberapa teknik yang saat ini digunakan dalam praktik klinis meliputi metode yang sudah mapan maupun pendekatan yang masih terus berkembang.

Embryo Cryopreservation

Metode ini melibatkan proses fertilisasi sel telur dengan sperma melalui teknik IVF untuk menghasilkan embrio, yang kemudian dibekukan dan disimpan. Embryo cryopreservation merupakan salah satu metode yang paling lama digunakan dan memiliki tingkat keberhasilan yang relatif baik.

Oocyte Cryopreservation

Pada perempuan yang belum memiliki pasangan atau memilih untuk tidak membuat embrio terlebih dahulu, pembekuan sel telur menjadi alternatif yang banyak digunakan. Sel telur diambil dari ovarium setelah proses stimulasi ovarium, kemudian dibekukan untuk digunakan di masa depan.

Sperm Banking

Pada pasien laki-laki, metode yang paling sederhana dan umum dilakukan adalah pembekuan sperma sebelum terapi kanker dimulai. Sampel sperma disimpan dalam bank sperma dan dapat digunakan kemudian dalam program fertilisasi berbantu.

Cryopreservation Jaringan Ovarium dan Testis

Selain metode konvensional, teknik yang lebih baru juga terus dikembangkan, seperti pembekuan jaringan ovarium atau jaringan testis. Jaringan tersebut dapat ditransplantasikan kembali setelah pasien menyelesaikan terapi kanker dengan harapan fungsi reproduksi dapat pulih.

Teknik ini menjadi sangat penting terutama bagi pasien yang tidak memiliki cukup waktu untuk menjalani stimulasi ovarium atau pada pasien usia anak yang belum memasuki masa pubertas.

Pentingnya Oncofertility Counseling

Salah satu aspek penting dalam fertility preservation adalah konseling oncofertility, yaitu proses edukasi dan diskusi antara pasien dan tenaga medis mengenai dampak terapi kanker terhadap kesuburan serta pilihan pelestarian fertilitas yang tersedia.

Konseling ini membantu memahami:

  • risiko infertilitas akibat terapi kanker
  • pilihan metode fertility preservation yang sesuai
  • kemungkinan keberhasilan di masa depan
  • pertimbangan etika dan emosional yang mungkin muncul

Pendekatan ini biasanya melibatkan tim multidisiplin, termasuk dokter onkologi, spesialis fertilitas, psikolog, dan tenaga kesehatan lainnya. Kolaborasi ini bertujuan memastikan bahwa pasien dapat membuat keputusan yang paling sesuai dengan kondisi medis dan rencana hidup mereka. Meskipun perkembangan teknologi telah memberikan banyak harapan baru, praktik fertility preservation masih menghadapi beberapa tantangan.

Salah satunya adalah akses terhadap layanan fertilitas, yang tidak selalu tersedia di semua pusat kesehatan. Selain itu, keterbatasan waktu sebelum terapi kanker dimulai sering kali membuat keputusan harus diambil dengan cepat.

Isu lain yang juga sering muncul adalah pertimbangan etika, terutama terkait penggunaan embrio, penyimpanan jangka panjang jaringan reproduksi, serta keputusan reproduksi di masa depan.

Harapan bagi Survivor Kanker

Dengan meningkatnya angka harapan hidup pasien kanker, perhatian terhadap kualitas hidup setelah sembuh menjadi semakin penting. Keinginan untuk memiliki anak merupakan bagian penting dari kehidupan banyak individu.

Melalui kemajuan teknologi reproduksi dan pendekatan oncofertility yang semakin berkembang, fertility preservation kini memberikan harapan nyata bagi pasien kanker untuk tetap memiliki kesempatan menjadi orang tua di masa depan.

Ke depan, penelitian dan inovasi bioteknologi di bidang reproduksi diharapkan dapat semakin meningkatkan efektivitas metode yang ada, memperluas akses layanan, serta memberikan pilihan yang lebih aman dan optimal bagi para survivor kanker yang ingin mewujudkan impian memiliki keluarga.

Referensi

  • (2025). Fertility Preservation in Cancer Patients: Review Article. The Egyptian Journal of Hospital Medicine, 100(1), 2727-2733. doi: 10.21608/ejhm.2025.436804

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kanker, preservation, reproduksi

Hubungan Infertilitas Pria dan Risiko Kanker Testis

November 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Selama ini, kanker testis dikenal dapat menyebabkan penurunan kesuburan pria baik sebelum maupun sesudah pengobatan. Namun, sisi lain dari hubungan ini apakah infertilitas dapat meningkatkan risiko kanker testis masih belum sepenuhnya dipahami. Ulasan ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui analisis komprehensif terhadap bukti histopatologis, etiologis, dan epidemiologis yang ada.

Infertilitas dan Kanker Testis: Hubungan Dua Arah

Yang harus paksu tahu bahwasanya secara global, kanker testis termasuk jenis kanker yang relatif jarang, tetapi merupakan kanker paling umum pada pria usia 15–44 tahun di Eropa. Tahun 2020, tercatat sekitar 74.500 kasus baru di seluruh dunia.

Di sisi lain, sekitar 8–12% pasangan mengalami kesulitan memiliki anak, dan 50% diantaranya disebabkan oleh faktor pria. Penurunan kualitas dan jumlah sperma pada pria di berbagai negara menjadi perhatian serius dalam dua dekade terakhir.

Kanker testis diketahui sangat mempengaruhi kesuburan pria. Sekitar 52% pria dengan kanker testis mengalami oligospermia (jumlah sperma rendah) sebelum pengobatan angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan penderita kanker lain. Jenis tumor seperti seminoma bahkan memiliki dampak lebih besar terhadap produksi sperma dibanding tumor non-seminomatous.

Selain itu, berbagai bentuk terapi kanker testis terutama kemoterapi dan radioterapi dikenal bersifat genotoksik, yakni dapat merusak jaringan penghasil sperma. Walau demikian, tingkat keberhasilan pasangan untuk hamil setelah pengobatan tetap tinggi, yakni mencapai sekitar 82%.

Infertilitas Pria sebagai Faktor Risiko Kanker Testis

Sementara hubungan kanker testis terhadap infertilitas sudah jelas, bukti bahwa infertilitas dapat menjadi faktor risiko kanker testis baru mulai terungkap dalam beberapa tahun terakhir.

Penelitian-penelitian yang ditinjau dalam ulasan ini menunjukkan bahwa:

  • Neoplasia sel germinal in situ (GCNIS), yang merupakan cikal bakal kanker testis, lebih sering ditemukan pada pria infertil, terutama pada mereka dengan jumlah sperma sangat rendah.
    Secara epidemiologis, pria infertil memiliki risiko kanker testis yang lebih tinggi dibandingkan pria subur atau populasi umum.
  • Model Testicular Dysgenesis Syndrome (TDS) menjelaskan bahwa kondisi seperti infertilitas, kanker testis, kriptorkismus (testis tidak turun), dan hipospadia (kelainan lubang uretra) dapat memiliki akar penyebab yang sama, yakni gangguan perkembangan testis sejak masa janin.

Pentingnya Pemeriksaan dan Deteksi Dini

Bagi pria dengan infertilitas, beberapa tanda klinis dapat membantu menilai risiko kanker testis, antara lain:

  • Riwayat kriptorkismus (testis tidak turun sempurna saat lahir),
  • Lesi testis atau mikrolithiasis yang terdeteksi lewat USG skrotum,
  • Parameter analisis sperma yang menunjukkan gangguan signifikan.

Peneliti juga menyoroti potensi penggunaan biomarker baru, seperti mikroRNA (miRNA) dalam sperma dan serum, untuk mendeteksi dini kanker testis dan GCNIS secara non-invasif di masa depan. Temuan tersebut juga menegaskan bahwa infertilitas pria bukan hanya masalah reproduksi, tetapi juga dapat menjadi tanda risiko kanker testis. Karena itu, penilaian menyeluruh melalui pemeriksaan fisik, analisis sperma, dan USG testis sangat disarankan bagi pria yang mengalami gangguan kesuburan.

Pendekatan ini tidak hanya membantu diagnosis dini kanker testis, tetapi juga menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan reproduksi dan keselamatan jangka panjang pria.

Referensi:
Maiolino, G., Fernández-Pascual, E., Ochoa Arvizo, M. A., Vishwakarma, R., & Martínez-Salamanca, J. I. (2023). Male Infertility and the Risk of Developing Testicular Cancer: A Critical Contemporary Literature Review. Medicina, 59(7), 1305. https://doi.org/10.3390/medicina59071305

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, kanker, Pria, testis

HPV dan Reproduksi: Dari Harapan Pencegahan Kanker hingga Tantangan pada Program Hamil

June 24, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Human papillomavirus (HPV) bukan cuma dikenal sebagai penyebab utama kanker serviks, tapi juga mulai dilirik karena potensi dampaknya terhadap kesuburan. Dalam dua dekade terakhir, penelitian tentang HPV semakin berkembang dari upaya pencegahan lewat vaksin, hingga eksplorasi perannya dalam teknologi reproduksi berbantu (assisted reproductive technology/ART).

MDG kali ini akan membahas dua sisi dari HPV selain sebagai ancaman yang bisa dicegah melalui vaksinasi, dan sebagai faktor yang perlu diperhatikan karena berdampak pada infertilitas.

Vaksin HPV: Harapan Nyata untuk Mengakhiri Kanker Serviks

Kanker serviks masih menjadi tantangan besar, terutama di negara-negara berkembang. Sementara negara maju mencatat penurunan signifikan berkat program skrining dan vaksinasi HPV yang terstruktur, negara-negara berpenghasilan rendah justru masih menanggung beban terbesar, salah satu penyebabnya adalah karena akses terhadap vaksin dan pemeriksaan dini yang sangat terbatas.

Kenapa Vaksin Ini Penting?

Infeksi HPV yang berlangsung lama (persisten) terbukti dapat memicu transformasi sel serviks menjadi sel kanker. Vaksin HPV bekerja dengan cara merangsang sistem kekebalan tubuh agar siap melawan virus sebelum menyebabkan infeksi kronis atau kerusakan. Karena itu, pemberian vaksin paling efektif dilakukan pada usia remaja, sebelum terpapar virus lewat kontak seksual.

Kini, vaksin HPV telah masuk dalam program imunisasi nasional di banyak negara. Bahkan, skrining kanker serviks kini beralih ke deteksi DNA HPV sebagai metode utama, sesuai dengan rekomendasi WHO.

Namun, sekitar 86% kasus kanker serviks masih terjadi di negara-negara dengan akses terbatas terhadap vaksinasi dan skrining. Ini menciptakan ketimpangan besar dalam pencegahan kanker serviks global.

Selain akses dan biaya, tantangan besar lainnya adalah edukasi masyarakat dan stigma. Masih ada anggapan bahwa vaksin HPV berkaitan dengan promosi aktivitas seksual dini, padahal faktanya, vaksin ini bersifat preventif dan tidak berkaitan dengan perilaku seksual penerima. Dibutuhkan pendekatan komunikasi yang sensitif namun berbasis bukti untuk menghapus keraguan ini.

Jika vaksinasi dan skrining dilakukan secara merata, kanker serviks bukan tidak mungkin bisa dieliminasi di masa depan. Tapi ini tentu membutuhkan komitmen jangka panjang dari berbagai pihak termasuk pemerintah, tenaga kesehatan, dan komunitas.

HPV dan Kesehatan Reproduksi

Selain sebagai penyebab utama kanker serviks, HPV juga sering dikaitkan dengan masalah infertilitas dan keberhasilan program hamil berbantu seperti inseminasi buatan dan bayi tabung (ART).

Infeksi HPV diketahui dapat berdampak pada kesuburan dan kehamilan, termasuk memengaruhi kualitas hasil dari prosedur ART. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pria dengan gangguan reproduksi lebih berisiko mengalami infeksi HPV dibandingkan pria subur yang pada akhirnya bisa berdampak pada pasangan dan potensi terjadinya kanker serviks.Hal ini cukup mengkhawatirkan, karena infeksi HPV dalam semen dapat menurunkan kualitas sperma dan mengganggu fungsi reproduksi. 

Sedangkan pada pasangan yang menjalani ART biasanya sudah melalui perjalanan panjang dan emosional. Jika infeksi HPV ternyata terbukti memengaruhi kualitas embrio atau keberhasilan implantasi, maka skrining dan penanganan HPV sebelum ART bisa menjadi langkah strategis dalam meningkatkan peluang keberhasilan.

HPV bukan sekadar virus yang memicu kanker serviks. Bukti-bukti ilmiah yang mulai bermunculan menunjukkan bahwa dampaknya bisa meluas hingga ke masalah kesuburan, terutama pada pasangan yang tengah menjalani program hamil berbantu. Infeksi yang mungkin tak bergejala ini bisa memengaruhi kualitas sperma, embrio, bahkan menurunkan peluang keberhasilan prosedur ART.

Di sisi lain, vaksinasi dan skrining HPV telah terbukti efektif dalam mencegah kanker serviks dan berpotensi memiliki peran penting juga dalam upaya menjaga kualitas reproduksi. Oleh karena itu, penting bagi sister dan paksu untuk mulai aware dengan HPV karena pencegahan, deteksi dini, dan kesadaran akan dampaknya dalam konteks kesuburan perlu terus disuarakan, bukan hanya untuk perempuan, tapi juga laki-laki.

Dengan edukasi yang tepat, akses layanan yang adil, dan komitmen bersama, kita bisa melangkah menuju masa depan di mana kanker serviks bisa dieliminasi dan keberhasilan program hamil bisa terjamin. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Illah, O., & Olaitan, A. (2023). Updates on HPV vaccination. Diagnostics, 13(2), 243.
  • Tramontano, L., Sciorio, R., Bellaminutti, S., Esteves, S. C., & Petignat, P. (2023). Exploring the potential impact of human papillomavirus on infertility and assisted reproductive technology outcomes. Reproductive biology, 23(2), 100753.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: HPV, infertilitas, kanker

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Apa yang Terjadi di Ovarium Hari demi Hari: Memahami Perjalanan Sel Telur Sebelum Ovulasi
  • Sindrom Kallmann: Ketika Gangguan Penciuman Berkaitan dengan Kesuburan Mengenal Sindrom Kallmann
  • Mengapa Cadangan Ovarium Bisa Menurun Lebih Cepat?
  • Bagaimana Peran DNA dalam Infertilitas Perempuan
  • Apakah Operasi Ovarium Bisa Memengaruhi Pertumbuhan Folikel?

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.