• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

testis

Azoospermia Bukan Akhir: Webinar Kupas Tuntas Operasi Testis dan Teknologi Reproduksi untuk Harapan Pasien Azoospermia

February 9, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Surabaya, 8 Februari 2026, Azoospermia masih sering dianggap sebagai vonis akhir bagi pasangan yang ingin memiliki anak. Ketika hasil analisis sperma menunjukkan “tidak ditemukan sperma”, banyak pasangan langsung dihadapkan pada ketakutan, kebingungan, dan perasaan kehilangan harapan. Padahal, perkembangan teknologi reproduksi modern membuka lebih banyak kemungkinan dibandingkan satu dekade lalu.

Isu inilah yang menjadi fokus utama webinar “Operasi pada Testis dan Bayi Tabung: Harapan Pasien Azoospermia” yang diselenggarakan oleh Menuju Dua Garis (MDG) bekerja sama dengan Alhaya Fertility Centre.

Acara dibuka oleh Mizz Rosie, Founder Menuju Dua Garis, yang menekankan bahwa azoospermia bukan sekadar hasil laboratorium, tetapi perjalanan emosional yang panjang bagi pasangan. “Banyak pasangan datang dengan rasa takut, merasa tubuhnya gagal. Padahal, azoospermia memiliki spektrum luas dan tidak bisa disamaratakan,” ujarnya.

Sebagai pembicara utama, Dr. Wan Syahirah Yang Mohsin (Dr. Sera), Consultant Obstetrician & Gynaecologist sekaligus Fertility Specialist, menjelaskan bahwa pendekatan pada azoospermia saat ini tidak lagi berhenti pada analisis sperma semata. Evaluasi testis, riwayat penyakit seperti orchitis, kondisi hormonal, hingga teknologi pengambilan sperma menjadi bagian penting dari penentuan strategi.

“Pada beberapa kasus, sperma memang tidak keluar bersama ejakulat, tetapi masih bisa ditemukan langsung dari testis atau epididimis melalui tindakan seperti TESA, MESA, hingga microTESE,” jelas Dr. Sera. “Ini bukan soal menjanjikan hasil, tapi membuka peluang yang sebelumnya tidak terlihat.”

Dr. Sera juga menyoroti peran teknologi laboratorium dalam meningkatkan peluang keberhasilan IVF pada pasien azoospermia. Teknik seperti pemilihan sperma secara mikro (micro-manipulation sperm), penggunaan Piezo ICSI, hingga manajemen sperma hasil operasi testis yang sangat terbatas, menjadi faktor krusial yang sering luput dipahami pasien.

Antusiasme peserta terasa kuat saat sesi diskusi dibuka. Berbagai pertanyaan reflektif dan emosional disampaikan, mulai dari perubahan hasil analisis sperma dari azoospermia menjadi cryptozoospermia, kegagalan microTESE, hingga kegelisahan tentang apakah masih ada harapan setelah operasi tidak menemukan sperma.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Sera menekankan bahwa setiap kasus azoospermia bersifat sangat individual. “Tidak ditemukannya sperma pada satu prosedur tidak selalu berarti peluang tertutup selamanya. Evaluasi ulang, waktu, gaya hidup, hingga strategi yang berbeda bisa saja memberi hasil yang berbeda,” ungkapnya.

Isu sensitif seperti pengangkatan testis juga dibahas secara terbuka. Dijelaskan bahwa testis tidak hanya berfungsi untuk produksi sperma, tetapi juga produksi hormon testosteron, sehingga keputusan tindakan invasif harus dipertimbangkan secara matang dan multidisipliner.

Webinar ini menegaskan satu pesan penting: azoospermia bukan akhir cerita, melainkan titik awal untuk memahami tubuh secara lebih mendalam dan mengambil keputusan berbasis informasi yang tepat. Dengan kemajuan teknologi reproduksi dan pendekatan yang lebih manusiawi, harapan tetap ada meski jalannya tidak selalu mudah.

Acara berlangsung hangat, reflektif, dan penuh empati, meninggalkan kesan kuat bahwa di balik istilah medis yang terdengar berat, selalu ada cerita manusia yang layak didengar dan diperjuangkan.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: azoospermia, Teknologi, testis

Hubungan Infertilitas Pria dan Risiko Kanker Testis

November 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Selama ini, kanker testis dikenal dapat menyebabkan penurunan kesuburan pria baik sebelum maupun sesudah pengobatan. Namun, sisi lain dari hubungan ini apakah infertilitas dapat meningkatkan risiko kanker testis masih belum sepenuhnya dipahami. Ulasan ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui analisis komprehensif terhadap bukti histopatologis, etiologis, dan epidemiologis yang ada.

Infertilitas dan Kanker Testis: Hubungan Dua Arah

Yang harus paksu tahu bahwasanya secara global, kanker testis termasuk jenis kanker yang relatif jarang, tetapi merupakan kanker paling umum pada pria usia 15–44 tahun di Eropa. Tahun 2020, tercatat sekitar 74.500 kasus baru di seluruh dunia.

Di sisi lain, sekitar 8–12% pasangan mengalami kesulitan memiliki anak, dan 50% diantaranya disebabkan oleh faktor pria. Penurunan kualitas dan jumlah sperma pada pria di berbagai negara menjadi perhatian serius dalam dua dekade terakhir.

Kanker testis diketahui sangat mempengaruhi kesuburan pria. Sekitar 52% pria dengan kanker testis mengalami oligospermia (jumlah sperma rendah) sebelum pengobatan angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan penderita kanker lain. Jenis tumor seperti seminoma bahkan memiliki dampak lebih besar terhadap produksi sperma dibanding tumor non-seminomatous.

Selain itu, berbagai bentuk terapi kanker testis terutama kemoterapi dan radioterapi dikenal bersifat genotoksik, yakni dapat merusak jaringan penghasil sperma. Walau demikian, tingkat keberhasilan pasangan untuk hamil setelah pengobatan tetap tinggi, yakni mencapai sekitar 82%.

Infertilitas Pria sebagai Faktor Risiko Kanker Testis

Sementara hubungan kanker testis terhadap infertilitas sudah jelas, bukti bahwa infertilitas dapat menjadi faktor risiko kanker testis baru mulai terungkap dalam beberapa tahun terakhir.

Penelitian-penelitian yang ditinjau dalam ulasan ini menunjukkan bahwa:

  • Neoplasia sel germinal in situ (GCNIS), yang merupakan cikal bakal kanker testis, lebih sering ditemukan pada pria infertil, terutama pada mereka dengan jumlah sperma sangat rendah.
    Secara epidemiologis, pria infertil memiliki risiko kanker testis yang lebih tinggi dibandingkan pria subur atau populasi umum.
  • Model Testicular Dysgenesis Syndrome (TDS) menjelaskan bahwa kondisi seperti infertilitas, kanker testis, kriptorkismus (testis tidak turun), dan hipospadia (kelainan lubang uretra) dapat memiliki akar penyebab yang sama, yakni gangguan perkembangan testis sejak masa janin.

Pentingnya Pemeriksaan dan Deteksi Dini

Bagi pria dengan infertilitas, beberapa tanda klinis dapat membantu menilai risiko kanker testis, antara lain:

  • Riwayat kriptorkismus (testis tidak turun sempurna saat lahir),
  • Lesi testis atau mikrolithiasis yang terdeteksi lewat USG skrotum,
  • Parameter analisis sperma yang menunjukkan gangguan signifikan.

Peneliti juga menyoroti potensi penggunaan biomarker baru, seperti mikroRNA (miRNA) dalam sperma dan serum, untuk mendeteksi dini kanker testis dan GCNIS secara non-invasif di masa depan. Temuan tersebut juga menegaskan bahwa infertilitas pria bukan hanya masalah reproduksi, tetapi juga dapat menjadi tanda risiko kanker testis. Karena itu, penilaian menyeluruh melalui pemeriksaan fisik, analisis sperma, dan USG testis sangat disarankan bagi pria yang mengalami gangguan kesuburan.

Pendekatan ini tidak hanya membantu diagnosis dini kanker testis, tetapi juga menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan reproduksi dan keselamatan jangka panjang pria.

Referensi:
Maiolino, G., Fernández-Pascual, E., Ochoa Arvizo, M. A., Vishwakarma, R., & Martínez-Salamanca, J. I. (2023). Male Infertility and the Risk of Developing Testicular Cancer: A Critical Contemporary Literature Review. Medicina, 59(7), 1305. https://doi.org/10.3390/medicina59071305

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, kanker, Pria, testis

Scrotal Wall Layers dan Skrotum dalam Infertilitas: Apa Pengaruhnya?

March 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Sister dan paksu, tahukah kamu kalau infertilitas laki-laki menyumbang hampir setengah dari kasus infertilitas yang dilaporkan? Salah satu faktor yang mungkin berperan adalah lapisan dinding skrotum, yaitu lapisan pelindung testis. Lapisan ini punya peran penting dalam mengatur kesehatan testis, tapi sayangnya, belum banyak yang melihat faktor ini sebagai infertilitas laki-laki

Kenapa Dinding Skrotum Bisa Berpengaruh ke Infertilitas?

Beberapa masalah pada lapisan skrotum ternyata bisa memicu infertilitas dengan berbagai mekanisme, seperti:

  • Menekan testis secara mekanis, yang bisa mengganggu strukturnya.
  • Memicu peradangan testis, yang bisa berdampak pada produksi sperma.
  • Meningkatkan suhu testis (hipertermia), yang berisiko menghambat spermatogenesis atau produksi sperma.

Gangguan pada Skrotum

Setelah mengetahui pengaruh dinding skrotum bagi sistem reproduksi laki-laki, maka menjaga kesehatan skrotum merupakan hal yang tak boleh terlewatkan. Karena masalah pada skrotum dapat meningkatkan risiko infertilitas pada laki-laki. Sister dan paksu harus tahu ada beberapa infertilitas karena gangguan skrotum diantaranya adalah:

Pertama ada varikokel salah satu kondisi ketika sekumpulan pembuluh darah vena di skrotum mengalami pembengkakan. Adapun beberapa gejalanya adalah rasa nyeri ringan, dan testis terasa berat sebelah. Namun pada sejumlah kasus, varikokel mungkin tidak menimbulkan gejala. Tentu saja kondisi ini perlu segera ditangani karena dapat menurunkan kualitas sperma, memperkecil testis, dan menyebabkan infertilitas pada laki-laki.

Kedua ada hidrokel yang merupakan penumpukan cairan di dalam rongga salah satu testis. Kondisi ini biasanya terjadi pada bayi baru lahir, namun bisa juga dialami oleh orang dewasa akibat peradangan atau cedera. Jika tidak segera ditangani, hidrokel dapat menyebabkan skrotum membengkak disertai nyeri hebat

Selanjutnya yaitu torsio testis merupakan kondisi ketika tali sperma atau korda spermatika terpuntir di dalam skrotum sehingga dapat menghambat suplai darah, distribusi sperma, serta fungsi saraf. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa nyeri hebat, pembengkakan di testis, posisi testis tidak pada tempatnya, sering buang air kecil, dan nyeri perut di bagian bawah. Potensinya adalah bisa iskemia testis akibat terputusnya suplai darah ke testis.

Juga orkitis adalah peradangan atau infeksi pada salah satu atau kedua testis yang paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti infeksi menular seksual (IMS). Kondisi ini dapat memicu rasa nyeri, bengkak, dan nyeri tekan pada testis. Sedangkan epididimitis adalah kondisi ketika epididimis mengalami peradangan. Sama halnya dengan orkitis, kondisi ini juga lebih banyak disebabkan oleh IMS. Sejumlah gejala epididimitis, antara lain adalah nyeri tekan pada testis atau skrotum, rasa hangat dan kemerahan pada skrotum, serta keluar cairan abnormal dari penis.

Tidak lain hernia inguinalis terjadi ketika ada usus kecil yang menembus dinding perut dan menonjol ke bawah ke daerah inguinalis atau selangkangan. Gejala yang ditimbulkan dari kondisi ini, antara lain rasa nyeri terbakar, dan tidak nyaman di area kemaluan serta pembesaran skrotum.

Terakhir adalah kanker testis terjadi saat terdapat sel-sel yang tumbuh secara abnormal dan tidak terkendali di dalam jaringan testis. Pada sebagian besar kasus kanker testis, pertumbuhan sel abnormal tersebut dimulai dari sel yang memproduksi sperma. Kondisi ini biasanya ditandai dengan benjolan pada skrotum, rasa nyeri, serta penumpukan cairan pada skrotum.

Jadi, jika ada gangguan pada lapisan ini, bukan hanya testis yang terkena dampaknya, tetapi juga kualitas sperma yang dihasilkan paksu. Masih banyak yang harus dieksplorasi agar kita bisa memahami lebih jauh tentang hubungan antara lapisan skrotum dan infertilitas. Jadi, buat sister yang sedang berjuang dengan program hamil bersama paksu, jangan ragu untuk mencari informasi lebih lanjut dan berkonsultasi dengan tenaga medis. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Raad, G., Massaad, V., Serdarogullari, M., Bakos, H. W., Issa, R., Khachan, M. J., … & Fakih, F. (2023). Functional histology of human scrotal wall layers and their overlooked relation with infertility: a narrative review. International Journal of Impotence Research, 35(5), 428-438.
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/fungsi-skrotum

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, Pria, skrotum, testis

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.