• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

kecemasan

Kecemasan Saat IVF: Kenapa Terjadi dan Apa yang Bisa Dilakukan?

June 23, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Mengikuti program bayi tabung (IVF) bisa jadi salah satu perjalanan emosional paling menantang bagi pasangan. Bukan hanya soal suntikan hormon atau prosedur medis, tapi juga tentang bagaimana tubuh dan pikiran merespons tekanan yang terus-menerus.

IVF dan Kecemasan: Hubungan yang Kompleks

Studi menunjukkan bahwa pria dan wanita yang menjalani IVF cenderung mengalami peningkatan tingkat kecemasan. Prosedur IVF terdiri dari beberapa tahap yang harus berhasil dilewati satu per satu mulai dari stimulasi hormon, pengambilan sel telur, fertilisasi, hingga transfer embrio. Semakin jauh proses berlangsung, biasanya harapan meningkat, tetapi begitu juga rasa takut akan kegagalan.

Setiap tahap membawa ketidakpastian. Belum lagi efek samping dari terapi hormon yang bisa memicu gejala fisik menyerupai kecemasan seperti jantung berdebar, kelelahan, atau sulit tidur. Beberapa orang bahkan merasa stres hanya dengan suntikan harian atau berada di lingkungan rumah sakit.

Kenali Tanda-Tanda Kecemasan

Gejala Psikologis Kekhawatiran berlebihan, Pikiran obsesif, Sulit konsentrasi, Mudah tersinggung. Gejala Fisik Jantung berdebar, Gelisah, Tegang otot, Lelah berlebih, Sulit tidur. di tahap perilakunya bisa sampai ke penghindaran pada situasi tertentu (misalnya, enggan ke klinik atau berbicara soal IVF). Jika gejala ini semakin sering, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau menurunkan kualitas hidup, penting untuk segera mencari bantuan.

Ubah Gaya Hidup, Olahraga teratur, Terhubung dengan orang terdekat, Jadwalkan waktu untuk istirahat harian. Gabung dengan komunitas agar dapat berbagi cerita dengan orang lain yang punya pengalaman serupa bisa sangat membantu secara emosional. juga bisa melakukan latihan relaksasi napas dalam meditasi, relaksasi otot progresif, visualisasi positif

Cognitive Behavioural Therapy (CBT) sebagai Perawatan Psikologis

Selain cara-cara tersebut, sister juga dapat mencoba salah satu pendekatan yang cukup dikenal adalah Cognitive Behavioural Therapy (CBT). Terapi ini dilakukan lewat percakapan yang terarah untuk membantu seseorang mengenali dan mengubah pola pikir serta perilaku yang memicu kecemasan. Misalnya, saat muncul pikiran seperti “saya pasti gagal”, CBT akan mengajak kita untuk mempertanyakan pikiran tersebut. Kita dilatih untuk bertanya, “Apa buktinya saya tidak mampu?” atau “Pernahkah saya menghadapi situasi sulit sebelumnya dan berhasil melewatinya?” Cara berpikir ini membantu membangun sudut pandang yang lebih realistis dan tidak terlalu keras pada diri sendiri.

CBT juga bisa membantu mengatasi perilaku menghindar, seperti enggan ikut support group karena takut dinilai atau merasa terlalu cemas menghadapi jadwal minum obat. Dalam beberapa kasus, terapis bisa menggunakan teknik bernama graded exposure, yaitu proses bertahap untuk menghadapi hal-hal yang ditakuti, seperti rasa takut pada suntikan atau suasana rumah sakit.

Temuan dari Faramarzi, 2013 CBT tidak hanya mampu menurunkan tingkat stres infertilitas secara keseluruhan, tetapi juga berdampak positif pada berbagai aspek seperti kekhawatiran sosial, masalah dalam hubungan seksual, ketegangan pernikahan, penerimaan terhadap kemungkinan hidup tanpa anak, dan kebutuhan kuat untuk menjadi orang tua. 

Merasa cemas saat menjalani IVF adalah hal yang sangat wajar. Tapi saat kecemasan mulai mengambil alih hidupmu, jangan ragu untuk mencari bantuan. Kesehatan mental adalah bagian penting dari perjalanan menuju kehamilan. Bukan tanda kelemahan tapi bentuk keberanian menghadapi proses yang memang tidak mudah.

Yuk, jaga tubuh dan pikiran tetap seimbang selama program kesuburan. Karena program hamil bukan cuma soal angka dan prosedur, tapi juga tentang harapan, emosi, dan ketahanan diri. Informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa follow Instagram @menujuduagris.id

Referensi

  • Faramarzi, M., Pasha, H., Esmailzadeh, S., Kheirkhah, F., Heidary, S., & Afshar, Z. (2013). The effect of the cognitive behavioral therapy and pharmacotherapy on infertility stress: a randomized controlled trial. International journal of fertility & sterility, 7(3), 199.
  • https://www.cope.org.au/planning-a-family/happening/mental-health-and-ivf/anxiety-and-ivf/

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: IVF, kecemasan, kesehatan mental, psikologi

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.