• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

folikel

Apakah Operasi Ovarium Bisa Memengaruhi Pertumbuhan Folikel?

March 10, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Pada beberapa perempuan dengan endometriosis, kista dapat terbentuk di ovarium. Kista ini sering disebut sebagai kista endometriosis atau kista coklat. Isinya berupa darah lama yang menumpuk dari waktu ke waktu.

Ketika kista ini menimbulkan nyeri hebat atau ukurannya semakin besar, dokter terkadang menyarankan operasi pengangkatan kista.

Namun setelah operasi dilakukan, tidak sedikit perempuan yang mulai bertanya-tanya, Apakah operasi ovarium bisa memengaruhi cadangan sel telur? Apakah pertumbuhan folikel bisa ikut terpengaruh? Pertanyaan ini wajar muncul, karena ovarium adalah tempat di mana folikel berkembang dan sel telur matang setiap siklusnya.

Ovarium dan Folikel: Hubungan yang Sangat Halus

Di dalam ovarium terdapat ribuan folikel kecil. Folikel ini berisi sel telur yang masih berada dalam tahap “tidur”. Setiap bulan, sebagian kecil folikel akan mulai berkembang. Biasanya hanya satu yang akhirnya benar-benar matang dan dilepaskan saat ovulasi.

Proses ini terjadi dalam lingkungan yang sangat sensitif. Folikel membutuhkan aliran darah yang baik, jaringan ovarium yang sehat, serta keseimbangan hormon yang stabil. Ketika salah satu faktor ini terganggu, pertumbuhan folikel juga bisa ikut terpengaruh.

Apa yang Terjadi Saat Operasi Ovarium?

Operasi pengangkatan kista endometriosis bertujuan untuk mengangkat jaringan kista yang menempel di ovarium. Namun dalam praktiknya, batas antara kista dan jaringan ovarium sering kali sangat tipis.

Artinya, saat kista diangkat, ada kemungkinan sebagian kecil jaringan ovarium yang sehat ikut terangkat bersama kista tersebut. Jaringan inilah yang sebenarnya menyimpan folikel-folikel kecil.

Selain itu, proses pembedahan juga bisa meninggalkan jaringan parut kecil pada ovarium. Walaupun biasanya tidak menimbulkan masalah besar, perubahan ini bisa memengaruhi lingkungan tempat folikel berkembang.

Dalam beberapa kasus, aliran darah di area ovarium juga dapat sedikit berubah setelah tindakan operasi. Apakah Artinya Operasi Selalu Berbahaya untuk Ovarium? Tidak selalu. Pada banyak perempuan, ovarium masih bisa berfungsi dengan baik setelah operasi. Siklus menstruasi tetap berjalan, dan ovulasi tetap terjadi.

Namun pada sebagian perempuan, terutama yang sudah memiliki cadangan ovarium yang terbatas, operasi bisa memberikan dampak yang lebih terasa. Itulah sebabnya dokter biasanya akan mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan apakah operasi benar-benar diperlukan.

Hal yang sering membuat situasi ini menjadi rumit adalah bahwa endometriosis sendiri juga dapat memengaruhi ovarium. Kista endometriosis dapat menciptakan lingkungan yang penuh peradangan di sekitar ovarium. Kondisi ini bisa memengaruhi kualitas sel telur dan perkembangan folikel. Jadi dalam banyak kasus, sulit untuk mengatakan apakah perubahan pada ovarium disebabkan oleh kistanya, operasinya, atau kombinasi keduanya.

Mengapa Keputusan Operasi Harus Dipertimbangkan dengan Matang?

Karena setiap perempuan memiliki kondisi yang berbeda. Beberapa faktor yang biasanya dipertimbangkan antara lain: ukuran kista, tingkat nyeri yang dialami, usia pasien, cadangan ovarium dan rencana kehamilan di masa dekat

Pada sebagian perempuan, operasi memang sangat membantu untuk mengurangi nyeri dan memperbaiki kualitas hidup. Namun pada kondisi lain, terutama ketika pasien sedang merencanakan program kehamilan, dokter mungkin akan memilih pendekatan yang lebih hati-hati.

Operasi ovarium, khususnya untuk mengangkat kista endometriosis, memang dapat memengaruhi lingkungan tempat folikel berkembang. Hal ini bisa terjadi karena sebagian jaringan ovarium ikut terangkat atau karena perubahan kecil pada struktur ovarium setelah operasi.

Namun dampaknya tidak selalu sama pada setiap perempuan. Banyak yang tetap memiliki fungsi ovarium yang baik setelah operasi, sementara pada sebagian lainnya perubahan tersebut bisa lebih terasa. Karena itu, keputusan mengenai operasi biasanya tidak diambil secara terburu-buru. Dokter akan mempertimbangkan kondisi ovarium, keluhan yang dialami, serta rencana kehamilan di masa depan. Pendekatan yang tepat akan membantu menjaga keseimbangan antara mengatasi penyakit dan melindungi potensi kesuburan.

Referensi

  • Li, Y., Gong, Y., Jiang, H., & Ji, M. (2025). Impact of endometriotic cystectomy on ovarian reserve function and ovulation induction outcomes in women with endometriosis undergoing assisted reproductive technology. Frontiers in Endocrinology, 16, 1687765.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: folikel, Operasi

Ukuran Folikel Ideal untuk Program IUI: Kenapa Ukuran Folikel Penting?

August 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Dalam program inseminasi intrauterin (IUI), keberhasilan sangat dipengaruhi oleh waktu yang tepat. Salah satu indikator utama adalah ukuran folikel, yaitu kantung kecil berisi sel telur di dalam ovarium. Folikel yang matang akan melepaskan sel telur (ovulasi), dan momen inilah yang menjadi target saat inseminasi dilakukan. Lalu apa yang dapat dilakukan? yuk pelajari lebih lanjut!

Suntikan HCG vs Ovulasi Alami

Dalam praktiknya, ada dua cara memicu ovulasi diantaranya adalah dengan suntikan HCG (human chorionic gonadotropin), yang berfungsi merangsang pelepasan sel telur. yang ke-dua adalah Dengan ovulasi alami, ketika tubuh sendiri yang menghasilkan lonjakan hormon LH untuk memicu ovulasi. 

Ada sebuah penelitian membandingkan kedua kondisi ini untuk melihat ukuran folikel yang paling pas saat inseminasi

Temuan penelitian menunjukkan:

  • Folikel dengan ukuran 16–18 mm justru memberikan peluang terbaik untuk kehamilan, bukan folikel yang lebih besar.
  • Kehadiran lebih dari satu folikel matang juga meningkatkan peluang berhasil dibandingkan hanya satu folikel saja.
  • Faktor lain, seperti lama infertilitas pasangan, tetap memengaruhi hasil program.

Apa Artinya untuk Pasangan Promil?

Kalau folikel sudah berada di ukuran 14–18 mm dan terjadi lonjakan LH alami, siklus IUI tidak perlu dibatalkan. Justru, ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk melanjutkan program. Jadi, jangan terlalu terpaku menunggu folikel terlihat sangat besar, karena kualitas dan timing lebih penting daripada sekadar ukuran.

Setiap tubuh punya respons berbeda terhadap obat kesuburan maupun ovulasi alami. Karena itu, diskusi dengan dokter tetap menjadi kunci agar strategi IUI bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan.

Dari hasil pembahasan, bisa disimpulkan bahwa ukuran folikel ternyata punya peran penting dalam menentukan peluang kehamilan lewat IUI dengan bantuan obat letrozole dan HMG. Folikel yang terlalu besar justru tidak selalu memberi hasil terbaik, sementara ukuran yang lebih ideal justru ada di kisaran 16–18 mm. Bahkan, ketika terjadi lonjakan hormon LH secara alami, folikel yang ukurannya sedikit lebih kecil tetap bisa memberi peluang baik untuk hamil. 

Artinya, untuk sister dan paksu yang sedang menjalani program IUI tidak perlu khawatir jika ukuran folikel belum terlalu besar, karena yang terpenting adalah menemukan waktu yang paling tepat untuk proses inseminasi. Jangan lupa untuk follow Instagram @menujudugaris.id 

Referensi

  • Chen, L., Jiang, S., Xi, Q., Li, W., Lyu, Q., & Kuang, Y. (2023). Optimal lead follicle size in letrozole human menopausal gonadotrophin intrauterine insemination cycles with and without spontaneous LH surge. Reproductive BioMedicine Online, 46(3), 566-576.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: folikel, IUI, program hamil

Ternyata ada hormon yang digadang-gadang Mendorong suksesi IVF

March 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, kalau lagi menjalani program bayi tabung atau ingin tahu info lebih banyak mengenai ada nggak sih faktor yang mempengaruhi keberhasilannya, yuk bahas soal Hormon Pelepas Kortisol (CRH)! Kenapa membahas ini, karena hormon CRH yang digadang-gadang menjadi suksesi IVF

CRH dan Hormon dalam Cairan Folikel

CRH adalah hormon yang ditemukan dalam cairan folikel, yaitu cairan yang mengelilingi sel telur di dalam ovarium. Folikel ovarium sendiri adalah kantong kecil berisi cairan yang berfungsi sebagai tempat perkembangan sel telur. Selain itu, folikel juga menghasilkan hormon seperti estrogen dan progesteron, yang berperan dalam mengatur siklus menstruasi.

Saat seorang wanita mencapai pubertas, ia memiliki sekitar 300.000 hingga 400.000 folikel, masing-masing berpotensi melepaskan sel telur yang siap dibuahi. Jumlah dan ukuran folikel menjadi faktor penting dalam penilaian serta pengobatan gangguan kesuburan.

Lalu, bagaimana proses perkembangan folikel ini?

Setiap siklus menstruasi, beberapa folikel mulai berkembang dari ukuran awal sekitar 0,025 mm. Biasanya, seorang wanita akan mengembangkan sekitar lima hingga enam folikel dalam satu siklus. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh berbagai hormon, terutama hormon perangsang folikel (FSH) yang diproduksi oleh kelenjar pituitari. FSH berperan dalam mematangkan folikel serta menghambat pertumbuhan folikel yang lebih kecil, sehingga hanya folikel yang lebih kuat yang dapat berkembang dengan baik.

Seiring pertumbuhannya, folikel mulai melepaskan lebih banyak estrogen. Peningkatan kadar estrogen ini kemudian memberi sinyal kepada kelenjar pituitari untuk mengurangi produksi FSH. Akibatnya, folikel yang lebih kecil berhenti tumbuh, sementara folikel yang lebih besar dan matang terus berkembang, hingga akhirnya siap untuk melepaskan sel telur dalam proses ovulasi.

Studi terbaru menunjukkan bahwa kadar CRH dalam cairan folikel bisa berhubungan dengan peluang keberhasilan siklus perawatan reproduksi berbantuan (ART), seperti fertilisasi in vitro (IVF) dan injeksi sperma intra-sitoplasma (ICSI).

Penelitian Menarik Tentang CRH dan ART oleh  Supramaniam, 2017 yang melalukan penelusuran prospektif terhadap 50 wanita yang menjalani IVF/ICSI, para peneliti menemukan bahwa kadar rata-rata CRH dalam cairan folikel adalah 173 ± 9 pg/mL. Nah, yang menarik adalah kadar CRH lebih dari 145 pg/mL ternyata berhubungan dengan keberhasilan ART yang lebih tinggi. Artinya, semakin tinggi kadar CRH dalam cairan folikel, peluang keberhasilannya juga lebih besar!

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Studi ini jadi pengingat kalau hormon dalam cairan folikel bisa berperan dalam menentukan keberhasilan ART. Meskipun masih butuh penelitian lebih lanjut, temuan ini bisa membuka wawasan baru tentang bagaimana kita bisa meningkatkan peluang keberhasilan bayi tabung di masa depan.

Kalau sister lagi menjalani program IVF atau ICSI, memahami faktor-faktor seperti kadar CRH dalam cairan folikel bisa membantu untuk lebih siap menghadapi prosesnya. Tapi jangan khawatir, faktor kesuksesan ART itu banyak banget, jadi tetap konsultasi dengan dokter dan jangan lupa jaga kesehatan fisik serta mental ya!  Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Lim, L. N., Supramaniam, P. R., Mittal, M., Linton, E. A., & McVeigh, E. (2017). Follicular Fluid Cortisol Releasing Hormone (CRH) Levels and Assisted Reproductive Treatment (ART) Outcomes. Open Journal of Obstetrics and Gynecology, 7(13), 1271.
  • https://bocahindonesia.com/folikel-pada-sistem-reproduksi-wanita/
  • https://www.ivi.uk/blog/what-are-ovarian-follicles/

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: folikel, hormon, IVF, perempuan

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.