• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

motilitas sperma

Menjelajahi Peran Stres Oksidatif pada Motilitas Sperma Penyebab Infertilitas Laki-laki

August 28, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas merupakan masalah kesehatan global yang memengaruhi jutaan pasangan, dengan hampir 50% kasus dikaitkan dengan faktor pria. Salah satu mekanisme penting yang banyak diteliti adalah peran stres oksidatif, yaitu kondisi ketika terjadi ketidakseimbangan antara produksi reactive oxygen species (ROS) dan kapasitas antioksidan dalam tubuh.

ROS dalam jumlah terkendali sebenarnya diperlukan untuk fungsi fisiologis normal sperma, termasuk kapasitasi, hiperaktivitas, dan reaksi akrosom. Namun, akumulasi ROS berlebih dapat merusak membran, DNA, maupun protein sperma sehingga menurunkan motilitas. Dilaporkan bahwa kadar ROS tinggi ditemukan pada 30–80% pria infertil, menjadikannya isu sentral dalam penelitian infertilitas pria.

Stres Oksidatif dan Asthenozoospermia

Salah satu manifestasi klinis dari kerusakan akibat stres oksidatif adalah asthenozoospermia, yaitu kondisi menurunnya motilitas sperma. Hal ini sangat krusial karena kemampuan sperma untuk bergerak progresif menentukan keberhasilannya mencapai dan membuahi sel telur.

Stres oksidatif memengaruhi berbagai jalur biologis, mulai dari kerusakan lipid membran, modifikasi protein, hingga fragmentasi DNA sperma. Konsekuensinya, sperma kehilangan vitalitas serta kemampuan fertilisasi.

Pendekatan Proteomik untuk Memahami Mekanisme Molekuler

Kemajuan teknologi proteomik, khususnya quantitative mass spectrometry (MS)-based proteomics, memungkinkan peneliti memetakan protein yang terlibat dalam regulasi motilitas sperma di bawah kondisi stres oksidatif.

Dalam kajian terbaru, analisis proteome dari plasma seminal dan sel sperma dilakukan dengan dukungan alat bioinformatika seperti Cytoscape (ClueGO + CluePedia) dan STRING. Melalui pendekatan jaringan proteomik ini, peneliti dapat mengidentifikasi proses biologis yang paling berperan pada asthenozoospermia, dengan fokus pada protein yang berkaitan dengan respon terhadap stres oksidatif.

Protein untuk Kesuburan Pria dalam Makanan Sehari-hari

Protein Antioksidan Fungsinya: menetralisir radikal bebas (ROS) supaya sperma tidak cepat rusak. Contoh makanan tinggi protein + antioksidan: Telur (putihnya kaya protein, kuningnya ada vitamin A, E, selenium), Kacang almond, kenari, kedelai (protein nabati plus vitamin E dan isoflavon sebagai antioksidan) dan Ikan salmon, sarden, tuna (protein + omega-3 + selenium)

Protein Mitokondria, Fungsinya: menjaga produksi energi sperma. Mitokondria ibarat “mesin” yang bikin sperma bisa bergerak cepat. Contoh makanan Daging tanpa lemak (sapi, ayam, kalkun sumber asam amino penting), Susu dan yoghurt (protein hewani + vitamin B kompleks untuk metabolisme energi), Kacang merah, buncis, lentil (protein nabati + zat besi, mendukung kerja mitokondria)

Protein Struktural Sperma, Fungsinya: membangun bentuk dan kekuatan sperma (kepala, ekor/flagela). Kalau protein ini rusak karena oksidasi, sperma sulit berenang. Contoh makanan: Ikan laut (protein + zinc  penting buat pembentukan struktur sperma), Ayam dan telur (protein lengkap + kolin untuk membran sel sperma) dan Biji labu & wijen (protein nabati + zinc + magnesium).

Sister, perjalanan promil itu bukan cuma urusan angka di hasil lab atau istilah medis. Paksu juga punya peran penting, salah satunya lewat gaya hidup yang bisa bantu jaga kualitas sperma. Stres oksidatif memang terdengar rumit, tapi intinya ia bisa bikin sperma lemah dan motilitasnya menurun.

Kabar baiknya, proteomik sekarang membantu kita ngerti lebih dalam soal mekanisme ini, sementara di sisi praktis, asupan protein dari makanan sehari-hari seperti telur, ikan, kacang, atau biji-bijian bisa jadi “senjata sederhana” untuk melawan dampaknya.

Jadi, sister dan paksu nggak sendirian. Dengan pemahaman yang tepat dan langkah kecil yang konsisten, peluang untuk dua garis tetap terbuka. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ribeiro, J. C., Nogueira-Ferreira, R., Amado, F., Alves, M. G., Ferreira, R., & Oliveira, P. F. (2022). Exploring the role of oxidative stress in sperm motility: A proteomic network approach. Antioxidants & Redox Signaling, 37(7-9), 501-520.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, motilitas sperma, stress oksidatif

Kenali Senyawa Spesies Oksigen Reaktif, yang Dapat Mempengaruhi Kesuburan

January 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Spesies oksigen reaktif atau bisa disebut (ROS) adalah senyawa yang mengandung oksigen dengan sifat reaktif tinggi, yang dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel tubuh. ROS termasuk berbagai bentuk seperti radikal bebas, hidrogen peroksida (H₂O₂), dan ion superoksida (O₂- −). Jika diantara kita kelebihan senyawa ini maka akan berdampak pada kesuburan, MDG akan membahas senyawa ini dan kaitannya dengan infertilitas. Baca sampai habis ya!

Definisi  Senyawa Spesies Oksigen Reaktif 

Spesies oksigen reaktif (ROS) adalah molekul yang mampu hidup secara independen, mengandung sedikitnya satu atom oksigen dan satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Kelompok ini mencakup radikal bebas oksigen, misalnya radikal anion superoksida, radikal hidroksil, radikal hidroperoksil, oksigen tunggal, serta radikal nitrogen bebas. 

Dalam kondisi fisiologis, sejumlah kecil ROS terbentuk selama proses sel, seperti respirasi aerobik atau proses inflamasi, terutama di hepatosit dan makrofag. Spesies oksigen reaktif terutama merupakan molekul pemberi sinyal. Selain itu, mereka menginduksi diferensiasi sel dan apoptosis, sehingga berkontribusi pada proses penuaan alami.

Senyawa ini terbentuk secara alami dalam proses metabolisme sel, terutama dalam mitokondria selama respirasi seluler. Meskipun ROS memiliki peran penting dalam beberapa fungsi fisiologis, seperti signaling seluler, kelebihan produksi ROS dapat menyebabkan kondisi yang disebut stres oksidatif, yang lebih lanjut berdampak pada kesuburan.

ROS dan Dampak Negatif Terhadap Kesuburan

Stres oksidatif terjadi ketika pembentukan spesies oksigen reaktif (ROS) dan spesies radikal lainnya melebihi kapasitas pembersihan oleh antioksidan karena produksi, ROS yang berlebihan dan/atau asupan yang tidak memadai atau peningkatan penggunaan antioksidan.

Ada bukti yang mendukung peran stres oksidatif dalam subfertilitas pria, termasuk penurunan motilitas sperma, jumlah sperma, dan fusi sperma-oosit. Pada wanita, beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres oksidatif dapat mempengaruhi kesuburan wanita tetapi hubungannya belum ditangani secara langsung pada wanita yang mencoba untuk hamil. 

Penyebab ROS dan cara Membersihkan

Penyebab dari peningkatan produksi radikal bebas sendiri dipengaruhi oleh paparan radiasi UV yang berlebihan, kondisi stres jangka panjang, latihan fisik yang intens, diet yang tidak tepat, dan penggunaan stimulan.

ROS juga terbentuk sebagai konsekuensi dari rantai pernapasan mitokondria, tetapi juga dapat terbentuk oleh paparan eksogen seperti alkohol, asap tembakau, dan polutan lingkungan. 

Bagaimana cara menangani hal tersebut? sister dan paksu mulai dapat mengkonsumsi antioksidan (termasuk vitamin C dan E) dan kofaktor antioksidan (seperti selenium, seng, dan tembaga)karena mereka  mampu membuang, membersihkan, atau menekan pembentukan ROS. Jadi meski berdampak secara signifikan, sister dan paksu tentu dapat mengurangi kadarnya atau dapat menghindari penyebab dan pemicunya. Untuk informasi menarik lainnya dapat cek Instagram kami @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Lukitasari, A. (2009). Pembentukan senyawa oksigen reaktif. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 9(1), 31-39.
  • Jakubczyk, K., Dec, K., Kałduńska, J., Kawczuga, D., Kochman, J., & Janda, K. (2020). Reactive oxygen species-sources, functions, oxidative damage. Polski merkuriusz lekarski: organ Polskiego Towarzystwa Lekarskiego, 48(284), 124-127.
  • Ruder, E. H., Hartman, T. J., & Goldman, M. B. (2009). Impact of oxidative stress on female fertility. Current Opinion in Obstetrics and Gynecology, 21(3), 219-222.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: apa saja hormon pria, gangguan kesuburan yang menyebabkan sulit hamil, motilitas sperma, ROS

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.