• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

promil alami

Recap Sesi 07 with dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG., Subsp F.E.R “Mengelola Endometriosis & AMH Rendah Harapan Tetap Ada”

September 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Banyak perempuan merasa putus asa ketika mendengar diagnosis endometriosis ditambah dengan angka AMH rendah. Dua kondisi ini sering dianggap sebagai “jalan buntu” dalam program hamil, sehingga IVF (bayi tabung) dipandang sebagai satu-satunya solusi.

Tapi benarkah begitu? Dalam sesi terakhir bersama dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG., Subsp F.E.R, dibahas tuntas bahwa masih ada harapan lain bagi pasangan dengan kondisi ini.

Salah satu peserta Menuju Dua Garis Bertanya,

“Dok, saya 29 tahun dengan endometriosis dan AMH 0,59. Suami saya 31 tahun, kualitas spermanya kurang tapi sedang diperbaiki. Apakah kami masih bisa promil alami atau inseminasi, atau harus langsung IVF?”

Pertanyaan ini sering muncul di ruang konsultasi, dan mewakili banyak pasangan yang merasa peluangnya kecil.

Menurut dr. Aerul, tidak semua kasus endometriosis harus langsung IVF. Ada beberapa hal penting yang perlu dilihat lebih dulu:

  • Derajat endometriosis – Diagnosis lengkap dengan ultrasonografi penting untuk menentukan tingkat keparahan.
  • Jenis endometriosis – Tidak selalu berupa kista. Bisa berupa superfisial, adenomiosis, atau bentuk lain yang tetap memungkinkan peluang hamil alami.
  • Kondisi tuba & sperma – Jika saluran tuba tidak tersumbat dan kualitas sperma memadai, peluang promil alami maupun inseminasi masih terbuka.

Bagaimana dengan AMH Rendah?

AMH (Anti-Müllerian Hormone) sering membuat pasien khawatir, terutama jika nilainya rendah seperti 0,59.

dr. Aerul menekankan bahwa:

  • AMH hanya berbicara tentang jumlah sel telur (quantity), bukan kualitas.
  • Banyak penelitian menunjukkan bahwa meski jumlah sel telur sedikit, kemampuan sel telur untuk menjadi embrio sehat tidak berkurang.
  • Faktor yang lebih menentukan adalah usia. Pada usia 29 tahun, peluang keberhasilan kehamilan masih cukup baik, meskipun AMH rendah.

Harapan Tetap Ada

Kesimpulannya, endometriosis dan AMH rendah memang menantang, tetapi bukan berarti menutup semua jalan. IVF memang bisa menjadi opsi, tapi bukan satu-satunya. Dengan diagnosis yang tepat, pemeriksaan menyeluruh, serta memperhatikan faktor usia, promil alami dan inseminasi tetap mungkin dilakukan.

Jadi, sister, jangan menyerah dulu. Setiap tubuh punya jalannya sendiri, dan selalu ada harapan di balik angka dan diagnosis medis. 

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: dr chakra, inseminasi, IVF, MDG, PDG, promil alami

Optimalkan Kesuburan Pria untuk Promil Alami & Inseminasi

September 8, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pada sesi keempat Fertility Bootcamp, dr. Maitra membahas pentingnya peran pria dalam keberhasilan program hamil, baik secara alami maupun melalui inseminasi. Beliau menekankan bahwa kualitas sperma saat ini sedang menjadi perhatian global.

Tren penurunan kualitas sperma ditunjukkan melalui data yang menunjukkan bahwa pada tahun 1973, rata-rata jumlah sperma pria mencapai 101 juta/ml. Namun, pada 2018 angka tersebut turun drastis menjadi hanya 49 juta/ml hampir separuhnya. Fakta ini menegaskan bahwa menjaga kesuburan pria sama pentingnya dengan perempuan. Promil bukan hanya urusan perempuan, tetapi juga laki-laki.

Penyebab Masalah Sperma

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi kualitas sperma, antara lain:

  • Faktor genetik & kromosom
    Beberapa pria mengalami infertilitas karena kelainan genetik atau kromosom. Misalnya sindrom Klinefelter, di mana kromosom seks tidak normal sehingga testis tidak mampu memproduksi sperma dengan baik. Mutasi gen tertentu juga bisa mengganggu pembentukan sperma, bahkan ada yang menyebabkan sperma sama sekali tidak terbentuk.
  • Gangguan pada testis dan saluran sperma
    Kerusakan pada testis, baik akibat infeksi, cedera, atau varikokel (pelebaran pembuluh darah di sekitar testis), bisa menurunkan produksi sperma. Selain itu, bila saluran sperma tersumbat atau tidak terbentuk dengan sempurna, sperma tidak bisa keluar meskipun diproduksi.
  • Ketidakseimbangan hormon
    Produksi sperma sangat dipengaruhi oleh hormon, terutama testosteron dan hormon lain dari kelenjar pituitari. Bila terjadi ketidakseimbangan, misalnya kadar hormon terlalu rendah atau terlalu tinggi, proses produksi sperma bisa terganggu.
  • Masalah organ reproduksi lain
    Selain testis dan saluran sperma, organ reproduksi lain seperti prostat atau vesikula seminalis juga berperan dalam kesuburan. Infeksi atau kelainan pada organ-organ ini bisa memengaruhi kualitas sperma atau cairan semen.
  • Penyakit kronis
    Kondisi medis jangka panjang, seperti diabetes, penyakit ginjal, atau kanker, dapat berdampak pada fungsi reproduksi pria. Pengobatan tertentu, seperti kemoterapi, juga berpotensi merusak sel-sel penghasil sperma di testis.
  • Gaya hidup seperti obesitas, merokok, pola makan tidak sehat, hingga stres
    Faktor gaya hidup sangat berpengaruh. Obesitas bisa mengganggu keseimbangan hormon. Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan pola makan tidak sehat dapat menurunkan kualitas sperma. Stres berkepanjangan juga dapat memengaruhi hormon dan menurunkan peluang kesuburan.

Jenis kelainan sperma

Beberapa kondisi yang sering ditemukan pada analisis sperma, antara lain:

  • Asthenozoospermia → sperma bergerak lemah
  • Teratozoospermia → bentuk sperma abnormal
  • Oligozoospermia → jumlah sperma sedikit
  • Azoospermia → tidak ditemukan sperma sama sekali

Mengapa Analisis Sperma Penting?

Salah satu hal yang sering diabaikan adalah fakta bahwa laki-laki dengan infertilitas sering kali tidak menunjukkan gejala apa pun. Karena itu, analisis sperma merupakan langkah awal penting dalam program hamil.

Q&A bersama dr. Maitra dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta (PDG) berbagi pengalaman: “Setelah hamil alami dengan morfologi normal 4%, saya sempat hamil namun mengalami terminasi di usia 11 minggu. Setelah itu, suami hanya diresepkan vitamin. Tapi tiga bulan kemudian, morfologinya justru turun. Kok bisa?” dr. Maitra menjelaskan bahwa penurunan ini bisa terjadi karena beberapa hal:

  1. Faktor pemeriksaan → morfologi sperma sangat subjektif, tergantung pemeriksa.
  2. Hasil sebaiknya dikonfirmasi dengan pemeriksaan ulang dalam interval 2–8 minggu.
  3. Kondisi sementara seperti flu, demam, duduk lama, trauma, hingga olahraga berat juga bisa memengaruhi hasil.

Lebih penting lagi, menurut dr. Maitra, adalah memeriksa DNA fragmentasi sperma. Karena bentuk sperma boleh saja berbeda, tetapi kualitas DNA-lah yang paling menentukan.

Faktor risiko keguguran

  1. Maitra juga mengingatkan bahwa sekitar 70% penyebab keguguran berasal dari faktor janin, 25% dari tubuh ibu, dan 5% sisanya dari faktor lain. Jika keguguran terjadi berulang, maka pemeriksaan genetik perlu dipertimbangkan, termasuk opsi promil seperti inseminasi dengan pencucian sperma.

Pesan penutup dr. Maitra menekankan: “Bahwa keajaiban itu ada. Kita tugasnya berusaha, biar Tuhan yang menentukan.”

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: inseminasi, kesuburan laki-laki, Pria, promil alami

USG, Laparoskopi & Histeroskopi : Benarkan Membantu Buka Jalan Promil Alami

August 11, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Bayangkan saluran tuba itu hadir menjadi jalan jalan untuk sel telur. Prosesnya dari ovarium, sel telur harus lewat jalur ini untuk ketemu sperma dan kemudian menuju rahim. Kalau jalannya rusak, berlubang, atau ketutup, perjalanan itu jadi terganggu. Itulah kenapa sister dan paksu perlu memastikan apakah saluran tuba bermasalah atau tidak.

Salah satu hambatan yang sering muncul adalah hidrosalping dimana ujung tuba tersumbat dan berisi cairan atau hidrosalping, bahas lebih lanjut yuk! Bagaimana penanganannya

Akurasi USG Transvaginal untuk Mendeteksi Hidrosalping
Hidrosalping adalah kondisi ketika saluran tuba terisi cairan dan membesar, yang bisa mengganggu peluang kehamilan. Karena perannya sangat krusial dalam kesehatan reproduksi, pemeriksaan yang akurat jadi kunci untuk menentukan langkah penanganan.

USG transvaginal (USG-TV) menjadi salah satu cara non-invasif yang efektif untuk mendeteksi hidrosalping. Keunggulannya, banyak perempuan bisa terhindar dari tindakan laparoskopi yang sebenarnya tidak diperlukan. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa USG-TV memiliki tingkat akurasi tinggi, dengan risiko kesalahan diagnosis yang sangat rendah.

Kalau hasil USG-TV menunjukkan tanda-tanda hidrosalping, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti laparoskopi. Prosedur ini tidak hanya memastikan diagnosis, tapi juga bisa langsung menangani masalahnya.

Peran Laparoskopi dan Histeroskopi
Dulu, memperbaiki tuba identik dengan operasi besar. Sekarang, ada laparoskopi dan histeroskopi dua prosedur minim sayatan yang bisa memeriksa sekaligus memperbaiki masalah di dalam panggul atau rahim.

Lewat teknik ini, dokter bisa membuka sumbatan, melepaskan perlengketan, atau memperbaiki bentuk ujung tuba (fimbriae) supaya sel telur bisa lewat dengan lancar.

Setelah Operasi, Bisakah Hamil Alami?
Jawabannya: bisa, tergantung tingkat kerusakan tuba. Banyak perempuan berhasil hamil alami setelah tindakan ini, terutama jika kerusakan tidak terlalu parah dan tuba satunya masih sehat.

Tapi kalau kondisinya berat misalnya hidrosalping besar, tuba terpuntir, atau fimbriae rusak peluang hamil alami menurun. Risiko kehamilan ektopik juga lebih tinggi, jadi tetap perlu pemantauan ketat.

Operasi memang bisa “membuka jalan”, tapi keberhasilan program hamil alami tetap bergantung pada kondisi tuba dan kesehatan reproduksi secara keseluruhan.

Itulah kenapa konsultasi pasca tindakan sangat penting. Dari evaluasi tersebut, dokter bisa menentukan apakah promil alami cukup aman dan realistis, atau sebaiknya langsung dibantu dengan program seperti IVF.

Referensi 

  • Nian, L., Yang, D. H., Zhang, J., Zhao, H., Zhu, C. F., Dong, M. F., & Ai, Y. (2021). Analysis of the clinical efficacy of laparoscopy and hysteroscopy in the treatment of tubal-factor infertility. Frontiers in Medicine, 8, 712222.
  • Delgado-Morell, A., Nieto-Tous, M., Andrada-Ripolles, C., Pascual, M. A., Ajossa, S., Guerriero, S., & Alcazar, J. L. (2023). Transvaginal ultrasound accuracy in the hydrosalpinx diagnosis: a systematic review and meta-analysis. Diagnostics, 13(5), 948.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: laparoskopi, promil alami

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis Bisa Menyentuh Paru dan Diafragma: Memahami Thoracic Endometriosis Syndrome (TES)
  • The Fertility Cascade: Ketika Banyak Perempuan Tahu Mereka Infertil, Tapi Hanya Sedikit yang Bisa Mendapatkan Anak
  • Folat dan Cadangan Ovarium: Apakah Benar Bisa Mempengaruhi AFC, Sister?
  • Ketika IVF Berulang Mengubah Hidup: Apa yang Terjadi pada Kualitas Hidup & Emosi Perempuan?
  • Ketika Infertilitas Berkepanjangan Menggerus Kesehatan Mental: Apa yang Terjadi pada Perempuan?

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2025 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.