• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

tekanan

Terjebak Stigma, Terluka Diam-Diam: Infertilitas dan Beban Perempuan Asia

August 9, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Di balik keinginan untuk memiliki buah hati, ada luka yang kadang tak terlihat, apalagi di tengah budaya yang menggambarkan kesuburan sebagai harga diri seorang perempuan.

Infertilitas bukan sekadar kondisi medis. Ia bisa menjelma jadi stigma sosial, tekanan keluarga, dan bahkan krisis dalam hubungan pernikahan. Salah satunya di budaya yang memiliki budaya patriarkal kuat, perempuan yang tidak kunjung hamil bisa dianggap gagal sebagai istri meski penyebabnya tak selalu berasal dari pihak perempuan.

Infertilitas: Kupas Fakta Secara Global dan Lokal

Menurut WHO, infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan pasangan untuk hamil setelah satu tahun melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi. Kondisi ini terbagi menjadi Infertilitas primer dimana belum pernah hamil sama sekali dan Infertilitas sekunder yaitu pernah hamil sebelumnya, tapi gagal hamil kembali.

Secara global, sekitar 50 juta pasangan mengalami infertilitas. Di Pakistan, sekitar 22% perempuan mengalami infertilitas, dengan 4% diantaranya mengalami infertilitas primer. Menariknya, angka ini diyakini masih lebih rendah dari realita karena banyak pasangan yang tidak mencari bantuan medis mungkin karena takut, malu, atau merasa tak berdaya melawan stigma.

Bukan Sekadar Medis, Tapi Juga Masalah Sosial

Dan yang perlu kalian ketahui bahwa dalam budaya yang ada di Asia infertilitas kerap dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat mistis atau moral, seperti hukuman dari Tuhan, dosa masa lalu atau kutukan atau ilmu hitam

Tak hanya itu, perempuan yang tidak kunjung hamil sering dianggap sebagai penyebab utama, bahkan jika suaminya juga punya masalah kesuburan. Ini memperburuk beban emosional yang mereka rasakan.

Anak = Keharmonisan Rumah Tangga?

Dalam masyarakat di mana anak dianggap “pengikat” pernikahan, infertilitas bisa mengancam stabilitas hubungan. Beberapa studi menunjukkan pasangan infertil memiliki tingkat burnout hubungan dan kepercayaan negatif yang lebih tinggi dibandingkan pasangan subur. Perempuan mengalami depresi, kecemasan, perasaan bersalah, isolasi sosial, bahkan kehilangan kepercayaan diri sebagai perempuan. Sementara itu, laki-laki lebih cenderung menunjukkan dukungan secara lahiriah, meskipun juga mengalami tekanan batin.

Lalu apa yang Dapat Dilakukan?

Apakah seseorang cenderung menghindar, cemas, atau aman dalam hubungan (attachment style), ternyata ikut memengaruhi cara mereka menghadapi stres karena infertilitas Attachment yang aman berperan melindungi kesehatan mental, Attachment yang menghindar/cemas justru memperparah tekanan psikologis dan konflik dalam rumah tangga

Sebuah studi di Baluchistan mengungkapkan bahwa infertilitas menyebabkan perempuan merasa kehilangan, terisolasi, dan tidak berdaya diperparah oleh budaya yang menempatkan tanggung jawab reproduksi sepenuhnya pada perempuan.

Infertilitas bukan hanya masalah medis tapi juga soal keadilan sosial, empati, dan penyembuhan psikologis. Sehingga dibutuhkan dukungan pasangan yang setara, akses layanan kesehatan mental yang peka budaya, ruang aman untuk perempuan berbagi tanpa dihakimi dan edukasi publik agar masyarakat memahami bahwa punya anak bukan satu-satunya makna hidup, dan infertilitas bukan “kutukan”. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Mobeen, T., & Dawood, S. (2023). Relationship beliefs, attachment styles and depression among infertile women. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology: X, 20, 100245.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kecemasan sosial, mental health, stigma sosial, tekanan

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Azoospermia Bukan Akhir: Webinar Kupas Tuntas Operasi Testis dan Teknologi Reproduksi untuk Harapan Pasien Azoospermia
  • Asam Folat dan Zinc pada Infertilitas Pria: Benarkah Bisa Memperbaiki Kualitas Sperma dan Peluang Kehamilan?
  • Hamil Bisa, Bertahan Tidak: Talkshow Kupas Tuntas Akar Keguguran Berulang Bersama Dr Uma Mariappen
  • Gaya Hidup, Hormon, dan Kualitas Sperma: Apa yang Sering Terlewat dalam Evaluasi Infertilitas Pria?
  • Mencintai Seseorang dengan Endometriosis

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.