• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

teratozoospermia

Teratozoospermia Terisolasi: Saat Bentuk Sperma Jadi Penentu Kesuburan laki-laki

May 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam dunia infertilitas pria, salah satu langkah awal untuk mengevaluasi masalah kesuburan adalah dengan analisis air mani dasar. Dalam proses ini akan dilakukan pemeriksaan dengan menilai tiga aspek utama sperma yaitu dari sisi jumlah, pergerakan (motilitas), dan bentuk (morfologi). Sehingga jika ketiga ini ada yang tidak sempurna akan dapat mempengaruhi kualitas sperma dan bahkan berdampak pada infertilitas, salah satunya adalah teratozoospermia, yaitu kondisi dimana bentuk sperma tidak normal.

Namun, ada satu bentuk teratozoospermia yang sering bikin bingung teratozoospermia terisolasi. Ini adalah kondisi di mana bentuk sperma abnormal, tapi jumlah dan gerakannya tetap normal. Nah, kondisi ini jadi menarik karena belum sepenuhnya dipahami—bahkan para ahli pun masih punya pendapat berbeda soal seberapa besar pengaruhnya terhadap kesuburan pria.

Apa Sebenarnya Teratozoospermia dan penyebabnya?

Bentuk sperma sangat beragam, tapi secara ideal, sperma harus punya kepala lonjong, leher yang simetris, dan ekor yang utuh serta lurus. Kalau bentuknya menyimpang, bisa mengganggu kemampuannya menembus sel telur. Penyebab Teratozoospermia setidaknya ada dua yaitu dari sisi genetik sampai gaya hidup pada faktor genetik dapat disebut sebagai kelainan bawaan pada spermatogenesis. Sedangkan pada faktor lingkungan diantaranya adalah terkena paparan bahan kimia atau panas. Kondisi kesehatan seperti varikokel, Stres oksidatif tinggi dan kerusakan DNA sperma.

Bahkan lebih umum kondisi ini berdampak pada penurunan fungsi antioksidan dalam tubuh, serta perubahan proses apoptosis (kematian sel terprogram), yang bisa mengganggu fungsi sperma secara keseluruhan.

Kriteria ketat Kruger, yang sering digunakan untuk menilai morfologi sperma, mengaitkan bentuk sperma yang normal dengan peluang kehamilan yang lebih tinggi. Tapi meski begitu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bentuk sperma saja belum tentu jadi penentu utama keberhasilan program kehamilan.

Lalu, Apa Teratozoospermia Terisolasi Itu Masalah?

Inilah bagian yang paling menarik: teratozoospermia terisolasi belum tentu menyebabkan infertilitas. Beberapa studi bahkan menyatakan bahwa pria dengan bentuk sperma yang tidak ideal masih bisa punya anak, terutama jika jumlah dan motilitas spermanya baik.

Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa teratozoospermia terisolasi tidak selalu berdampak buruk terhadap keberhasilan teknologi reproduksi berbantu (ART) seperti IVF (bayi tabung) atau ICSI (suntik sperma ke sel telur). Bahkan, prosedur sederhana seperti inseminasi intrauterin (IUI) masih bisa jadi pilihan efektif, meskipun ada bentuk sperma yang abnormal.

Sayangnya, belum ada terapi yang benar-benar terbukti efektif untuk mengatasi teratozoospermia terisolasi yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Teratozoospermia terisolasi menjadi entitas klinis yang kompleks dan masih menyimpan banyak misteri. Bentuk sperma memang penting, tapi bukan satu-satunya faktor dalam keberhasilan kehamilan. Di tengah data yang saling bertentangan, satu hal yang jelas: masih banyak yang perlu kita pahami soal hubungan antara morfologi sperma dan kesuburan pria. Jadi buat sister yang terdiagnosa teratozoospermia tapi ternyata pergerakan cepat bisa jadi pendekatan medisnya berbeda, untuk itu segera konsultasi ke dokter spesialis ya. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

Atmoko, W., Savira, M., Shah, R., Chung, E., & Agarwal, A. (2024). Isolated teratozoospermia: revisiting its relevance in male infertility: a narrative review. Translational Andrology and Urology, 13(2), 260.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesuburan, Pria, sperma, teratozoospermia, terisolasi

Calicin dan Teratozoospermia: Mengungkap Peran Mutasi Genetik dalam Infertilitas Laki-laki

May 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas pada laki-laki tidak lain adalah permasalahan sperma, lebih spesifik yaitu pada bentuk dan struktur sperma. Hal ini disebut sebut sebagai teratozoospermia, yaitu kondisi di mana sperma memiliki bentuk abnormal. Tentu saja kondisi ini secara signifikan menurunkan peluang terjadinya pembuahan secara alami.

Meski penyebab teratozoospermia bisa beragam mulai dari varikokel, paparan zat berbahaya, hingga infeksi MDG ingin menunjukkan dari hasil penelitian bahwa ternyata faktor genetik juga memiliki peran besar, terutama pada kasus-kasus yang tidak diketahui penyebab pastinya.

Pahami apa itu CCIN dan Calicin sebagai Kunci Pembentukan Kepala Sperma

Salah satu gen yang baru-baru ini diidentifikasi terkait dengan teratozoospermia adalah CCIN, yang bertanggung jawab dalam pembentukan protein Calicin. Calicin merupakan protein sitoskeletal yang berada di bagian kepala sperma, tepatnya dalam struktur yang disebut kaliks. Struktur ini penting untuk menjaga bentuk kepala sperma yang normal selama proses pematangan, atau yang dikenal dengan spermiogenesis.

Dalam studi terbaru, ditemukan mutasi homozigot dan heterozigot gabungan pada gen CCIN dari laki-laki dengan teratozoospermia. Pemeriksaan sperma mereka menunjukkan adanya kelainan bentuk kepala sperma yang parah, khususnya pada bagian nukleus dan akrosom.

Mengapa Ini Penting?

Melalui analisis lebih lanjut menggunakan uji imunofluoresensi, diketahui bahwa sperma dengan mutasi CCIN memiliki kadar Calicin yang sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mutasi ini mengganggu proses pembentukan kepala sperma secara signifikan. Dampaknya, sperma tersebut tidak mampu menempel pada zona pelusida lapisan pelindung sel telur yang merupakan tahap krusial dalam proses pembuahan.

Peran ICSI pada Teratozoospermia

Kabar baiknya, pasangan dengan kasus seperti ini masih bisa memiliki keturunan melalui teknologi reproduksi berbantu seperti  Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI). Teknik ini memungkinkan pembuahan terjadi secara langsung di dalam sel telur, sehingga dapat mengatasi hambatan akibat bentuk sperma yang abnormal.

Temuan ini menegaskan bahwa mutasi pada gen CCIN merupakan salah satu penyebab genetik dari teratozoospermia dan infertilitas laki-laki. Pemeriksaan genetik dapat menjadi langkah penting dalam proses diagnosis dan perencanaan perawatan. Selain membantu penanganan medis, informasi ini juga sangat berguna dalam proses konseling genetik, terutama bagi sister dan paksu yang sedang merencanakan program kehamilan, dan masih belum menemukan penyebab mengapa mengalami infertilitas terutama teratozoospermia, selain ICSI program hamil lain juga memungkinkan untuk dilakukan, hal ini tentu membutuhkan saran dari dokter yang disesuaikan dengan kasus sister dan paksu. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Fan, Y., Huang, C., Chen, J., Chen, Y., Wang, Y., Yan, Z., … & Lei, M. (2022). Mutations in CCIN cause teratozoospermia and male infertility. Science Bulletin, 67(20), 2112-2123.
  • Yan, W. (2022). Calicin is a key sperm head-shaping factor essential for male fertility. Science bulletin, 67(23), 2395.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: genetik, laki-laki, teratozoospermia

7 Kelainan Sperma yang Menyebabkan Infertilitas Pria      

June 24, 2023 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sisters, masalah infertilitas tidak hanya menjadi problem bagi kaum wanita saja. Pria pun bisa mengalami masalah yang sama. Penyebabnya beragam, mulai dari kelainan genetik, kondisi medis tertentu sampai kelainan sperma. [Read more…] about 7 Kelainan Sperma yang Menyebabkan Infertilitas Pria      

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: asthenozoospermia, azoospermia, cryptozoospermia, oligozoospermia, sperma encer, sperma OAT, teratozoospermia

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.