• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Admin Menuju Dua Garis

Hubungan Celiac Disease dan Kesuburan: Saat Gluten Turut Berperan dalam Fertilitas

October 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Celiac disease (CeD), atau penyakit celiac, dikenal sebagai gangguan autoimun yang dipicu oleh konsumsi gluten protein yang terdapat dalam gandum, barley, dan rye. Penyakit ini menyebabkan peradangan dan kerusakan pada usus halus, sehingga tubuh kesulitan menyerap nutrisi penting. Namun, tahukah kamu kalau dampak CeD ternyata bisa meluas hingga ke kesehatan reproduksi?

Artikel terbaru yang diterbitkan di jurnal Nutrients (2025) oleh Wieser dan koleganya, menyoroti kaitan antara celiac disease dan infertilitas, baik pada perempuan maupun laki-laki. Hasilnya? Menarik, tapi juga masih menyisakan banyak tanda tanya. Yuk pelajari lebih lanjut!

Celiac Disease dan Risiko Infertilitas

Pada penderita CeD terutama yang belum terdiagnosis atau tidak menjalani diet bebas gluten memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesuburan, seperti:

  • Sulit hamil (unexplained infertility)
  • Keguguran berulang
  • Kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah

CeD yang tidak tertangani dapat memicu peradangan kronis, gangguan hormonal, dan defisiensi nutrisi penting seperti zat besi, seng, dan asam folat  semuanya berperan penting dalam fungsi reproduksi yang sehat.

Namun, tak semua penelitian sepakat. Beberapa studi berskala besar menemukan bahwa prevalensi infertilitas pada penderita CeD tidak jauh berbeda dengan populasi umum. Perbedaan hasil ini dipengaruhi oleh variasi definisi infertilitas, ukuran sampel, dan metode diagnosis CeD yang digunakan (apakah berdasarkan antibodi atau biopsi usus).

Apa Kata Penelitian pada Perempuan?

Sejak 1970-an, para peneliti sudah mencurigai hubungan antara CeD dan infertilitas perempuan. Dalam beberapa studi terkini:

  • Perempuan dengan infertilitas tanpa sebab yang jelas menunjukkan prevalensi antibodi CeD lebih tinggi dibanding kelompok kontrol sehat.
  • Studi di India dan Brasil, misalnya, menemukan bahwa 5–10% perempuan infertil menunjukkan hasil positif terhadap antibodi anti-transglutaminase (TGA), indikator utama CeD.
  • Menariknya, banyak dari mereka tidak memiliki gejala pencernaan sama sekali artinya CeD bisa tersembunyi di balik masalah reproduksi tanpa disadari.

Bagaimana dengan Laki-Laki?

Meski lebih jarang dibahas, CeD ternyata juga bisa memengaruhi kualitas sperma dan fungsi hormonal pria. Defisiensi nutrisi, peradangan sistemik, dan gangguan penyerapan zinc atau folat dapat menurunkan motilitas sperma dan menimbulkan disfungsi ereksi.

Menariknya, beberapa studi menemukan perbaikan signifikan setelah menjalani diet bebas gluten (gluten-free diet / GFD). Artinya, respons tubuh terhadap gluten mungkin juga berperan dalam kesehatan reproduksi pria.

Hingga saat ini, satu-satunya terapi efektif untuk CeD adalah diet bebas gluten seumur hidup. Banyak laporan kasus menunjukkan bahwa perempuan dengan infertilitas tak terjelaskan berhasil hamil setelah menerapkan GFD secara konsisten.
Meski belum bisa disebut “obat mujarab”, hasil ini memberi harapan bahwa mengelola CeD dengan tepat dapat memperbaiki fungsi reproduksi.

Celiac disease memang tidak selalu menjadi penyebab utama infertilitas, tapi pada sebagian individu terutama dengan kasus infertilitas yang tidak dapat dijelaskan CeD bisa menjadi faktor tersembunyi yang patut dicurigai. Jadi sister dan paksu dapat menggunakan pola makan bebas gluten secara konsisten karena berpotensi memperbaiki fungsi reproduksi pada pasien yang memiliki CeD aktif. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris,id

Referensi

Wieser, H., Ciacci, C., Soldaini, C., Gizzi, C., Pellegrini, L., & Santonicola, A. (2025). Fertility in Celiac Disease: The Impact of Gluten on Male and Female Reproductive Health. Nutrients, 17(9), 1575.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Gluten, infertilitas, IVF, kesuburan

Saat Sistem Kekebalan Tubuh Justru Mengganggu Kesuburan

October 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 Infertilitas bukan hanya soal hormon, usia, atau anatomi organ reproduksi. Di balik itu, ada satu faktor yang mulai banyak diperhatikan yaitu “autoimunitas”, yaitu kondisi ketika sistem imun seseorang justru menyerang jaringan tubuhnya sendiri termasuk organ dan sel-sel yang berperan dalam proses reproduksi.

Studi terbaru oleh Šemeklienė dan Gradauskienė (2025) dari Lithuanian University of Health Sciences menyoroti bagaimana autoantibodi zat kekebalan yang seharusnya melindungi tubuh justru bisa mengganggu proses kehamilan, baik pada perempuan maupun laki-laki.

Apa Itu Autoimun dalam Konteks Kesuburan?

Biasanya, sistem imun bertugas mengenali dan melawan benda asing seperti virus atau bakteri. Namun, pada kondisi autoimun, sistem ini “salah sasaran”. Ia mengenali jaringan tubuh sendiri sebagai ancaman, lalu membentuk autoantibodi untuk menyerangnya.

Ketika reaksi ini terjadi di organ reproduksi, dampaknya bisa luas: Menghambat pematangan sel telur, Menurunkan kualitas sperma, Mengganggu implantasi embrio di rahim, Bahkan memicu keguguran berulang.

Peneliti memperkirakan mekanisme ini berperan pada sebagian kasus infertilitas yang tidak bisa dijelaskan (unexplained infertility)—yaitu ketika hasil pemeriksaan anatomi dan hormonal normal, tapi kehamilan tetap tak kunjung terjadi.

Jenis Autoantibodi yang Paling Sering Ditemukan

Beberapa autoantibodi terbukti berkaitan dengan gangguan kesuburan:

  1. Antinuclear Antibodies (ANA)
    ANA menyerang inti sel dan sering ditemukan pada penderita penyakit autoimun seperti lupus. Studi menunjukkan ANA dapat memengaruhi kualitas oosit (sel telur) dan kemampuan embrio untuk menempel di rahim. Bahkan pada pasien IVF, kadar ANA yang tinggi dikaitkan dengan tingkat kegagalan implantasi lebih besar. Beberapa penelitian juga menunjukkan terapi imunosupresif ringan seperti prednison, aspirin, atau hydroxychloroquine bisa memperbaiki peluang kehamilan pada pasien dengan ANA positif.
  2. Antisperm Antibodies (ASA)
    Ditemukan pada laki-laki, ASA menyerang sperma sendiri. Akibatnya, sperma jadi mudah saling menempel, bergerak lambat, atau gagal membuahi sel telur. ASA sering muncul setelah infeksi, varikokel, atau operasi seperti vasektomi. Pada kasus seperti ini, teknologi seperti ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection) sering digunakan untuk melewati hambatan akibat ASA.
  3. Antiphospholipid Antibodies (APL)
    APL berkaitan dengan Antiphospholipid Syndrome (APS)—penyakit autoimun yang bisa menyebabkan pembekuan darah di pembuluh kecil, termasuk di plasenta.
    Kondisi ini sering dikaitkan dengan keguguran berulang, kegagalan implantasi, dan komplikasi kehamilan seperti preeklamsia.
  4. Antithyroid Antibodies (ATA)
    Antibodi terhadap kelenjar tiroid (seperti anti-TPO dan anti-Tg) bisa muncul bahkan saat fungsi tiroid masih normal. Namun, keberadaannya dikaitkan dengan penurunan peluang hamil dan peningkatan risiko keguguran, kemungkinan karena memengaruhi keseimbangan hormon dan sistem imun lokal di endometrium.
  5. Antiovarian dan Antiendometrial Antibodies (AOA & AEA)
    Dua jenis antibodi ini menyerang jaringan ovarium dan lapisan rahim. Akibatnya, bisa terjadi gangguan pematangan folikel, penurunan cadangan ovarium, atau lingkungan rahim yang tidak ramah untuk implantasi.

Bagaimana Autoantibodi Mengganggu Proses Reproduksi?

Secara mekanistik, autoantibodi bisa mengganggu kesuburan lewat beberapa cara:

  • Mengaktifkan sistem komplemen dan peradangan, yang dapat merusak jaringan ovarium atau endometrium.
  • Melepaskan sitokin proinflamasi, menciptakan lingkungan rahim yang “tidak bersahabat” bagi embrio.
  • Menghambat fungsi hormon, termasuk yang penting untuk ovulasi dan dukungan fase luteal.
  • Mengganggu interaksi sel trofoblas dan endometrium, yang penting untuk proses implantasi.

Akibatnya, meskipun secara anatomi dan hormon tampak normal, proses biologis halus yang diperlukan untuk pembuahan bisa gagal di tingkat mikroskopik.

Namun, mereka juga menegaskan bahwa tidak semua pasien infertil perlu diperiksa autoantibodi. Pemeriksaan ini paling bermanfaat untuk mereka yang mengalami:

  • Infertilitas tanpa sebab yang jelas (unexplained infertility).
  • Kegagalan implantasi berulang.
  • Keguguran berulang.
  • Riwayat penyakit autoimun.

Apa Artinya untuk Praktik Klinik?

Pemahaman tentang infertilitas autoimun masih terus berkembang. Namun, beberapa pesan penting bisa diambil: Tes autoimun tidak perlu dilakukan secara rutin untuk semua pasien infertilitas. Tes seperti ANA, APL, atau ASA sebaiknya hanya dilakukan bila ada indikasi klinis kuat. Pendekatan individual sangat penting. Tidak semua antibodi positif berarti penyakit aktif. Interpretasi hasil harus mempertimbangkan konteks klinis dan riwayat pasien. Terapi harus terarah. Bila terbukti autoimunitas berperan, pengobatan dapat melibatkan imunomodulator, pengaturan hormon, hingga modifikasi gaya hidup seperti pengendalian stres dan pola makan antiinflamasi.

Autoimunitas kini diakui sebagai salah satu faktor tersembunyi yang dapat mengganggu kesuburan. Meski belum semua mekanisme terjelaskan sepenuhnya, bukti ilmiah menunjukkan bahwa autoantibodi tertentu—terutama ANA, ASA, APL, dan ATA—dapat memengaruhi kualitas gamet, implantasi, dan keberhasilan kehamilan. Bagi sister dan paksu yang mengalami infertilitas tanpa sebab jelas, pemahaman ini bisa menjadi langkah baru menuju diagnosis yang lebih akurat dan harapan baru untuk keberhasilan program hamil di masa depan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya!

Referensi

  • Šemeklienė, B., & Gradauskienė, B. (2025). Infertility and Auto-Antibodies: A Review. Antibodies, 14(3), 76.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Autoimun, Kekebalan Tubuh, kesuburan, perempuan

Membaca Ulang Kesuburan Perempuan Lewat Mikrobiota

October 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama bertahun-tahun, pemahaman tentang kesuburan perempuan banyak bertumpu pada pengamatan langsung terhadap interaksi sperma dan sistem reproduksi perempuan. Salah satu metode klasik yang pernah populer adalah post-coital test (PCT)—sebuah prosedur yang dianggap mampu “mendeteksi kecocokan biologis” antara pasangan. Namun, kini, dunia medis beralih ke arah yang lebih dalam dan mikro: studi tentang mikrobiota reproduksi. Wah seperti apa ini? yuk pahami lebih lanjut sister!

Metode Lama: Post-Coital Test dan Logika Mekanis

Pada masa sebelum tahun 2000-an, PCT sering dijadikan alat untuk menilai apakah lendir serviks mendukung pergerakan sperma. Pemeriksaan dilakukan beberapa jam setelah hubungan seksual; lendir diambil dari serviks lalu diamati di bawah mikroskop. Sperma yang aktif menandakan kondisi yang “subur”.

Namun, seiring berkembangnya bukti ilmiah, keandalan PCT mulai dipertanyakan. Beberapa kelemahannya antara lain:

  • Hasil yang tidak konsisten dan sangat operator-dependent, karena bergantung pada teknik pengambilan serta waktu pemeriksaan.
  • Kurang mencerminkan kondisi fisiologis sebenarnya, sebab hanya menggambarkan interaksi sesaat, bukan kualitas lingkungan reproduksi secara keseluruhan.
  • Tidak memiliki nilai prediktif yang kuat terhadap keberhasilan kehamilan alami maupun IVF.

Akhirnya, banyak panduan klinis (termasuk dari NICE dan ASRM) merekomendasikan untuk tidak lagi menggunakan PCT dalam evaluasi infertilitas.

Pergeseran Paradigma: Dari Mekanistik ke Ekologis

Jika paradigma lama menilai kesuburan secara mekanistik—apakah sperma bisa “menembus” lendir—maka paradigma baru memandang sistem reproduksi sebagai ekosistem biologis yang kompleks. Karena tubuh perempuan tidak lagi dilihat sebagai “ruang pasif” tempat sperma berjuang, melainkan sebagai lingkungan aktif yang memiliki keseimbangan biologis sendiri.

Keseimbangan ini salah satunya diatur oleh mikrobiota vagina dan endometrium, yaitu komunitas mikroorganisme yang hidup secara simbiotik.

Pendekatan Baru: Mikrobiota dan Keseimbangan Reproduksi

Penelitian dekade terakhir menemukan bahwa dominasi bakteri Lactobacillus di vagina berperan penting dalam menjaga pH optimal (sekitar 3,8–4,5) serta mencegah kolonisasi patogen. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi sperma maupun implantasi embrio.

Sebaliknya, jika terjadi dysbiosis yakni ketidakseimbangan mikrobiota maka risiko terjadinya infertilitas, implantation failure, bahkan keguguran berulang meningkat.
Sebuah riset oleh Moreno dkk. (2016) menunjukkan bahwa endometrium dengan komposisi non-Lactobacillus-dominated memiliki tingkat keberhasilan implantasi yang jauh lebih rendah dibanding yang seimbang.

Menuju Era Diagnostik Reproduksi Presisi

Pendekatan mikrobiota membawa arah baru dalam evaluasi kesuburan: dari sekadar menilai fungsi mekanik menjadi memahami ekologi tubuh. Di masa depan, profil mikrobiota mungkin akan menjadi bagian rutin dari pemeriksaan infertilitas, berdampingan dengan analisis hormonal dan genetik.

Dengan memahami bahwa kesuburan bukan hanya soal “bertemunya sperma dan sel telur”, tetapi juga tentang lingkungan mikro yang sehat dan seimbang, kita sedang melangkah menuju pendekatan yang lebih personal, presisi, dan manusiawi. Bagaimana menarik bukan? sister jadi banyak mendapatkan harapan dari semua kemajuan ini. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Vitale, S. G., Ferrari, F., Ciebiera, M., Zgliczyńska, M., Rapisarda, A. M. C., Vecchio, G. M., … & Cianci, S. (2021). The role of genital tract microbiome in fertility: a systematic review. International journal of molecular sciences, 23(1), 180.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesuburan, Microbiota, perempuan

Terobosan Baru IVF dan Endometriosis: Pendekatan Tepat, Hasil Lebih Optimal

October 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Surabaya, 12 Oktober 2025 — Menuju Dua Garis bersama Thomson Fertility Centre menghadirkan talkshow edukatif bertajuk “Terobosan Baru IVF dan Endometriosis”, menghadirkan narasumber Prof. Dr. Prasanna Supramaniam, Fertility Specialist internasional yang juga terlibat dalam penyusunan Endometriosis Guideline ESHRE (European Society of Human Reproduction and Embryology) — standar perawatan endometriosis yang diakui di seluruh dunia.

Acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai hubungan antara endometriosis dan kesuburan, serta bagaimana penanganan yang tepat dapat meningkatkan peluang keberhasilan program bayi tabung (IVF).

Prof. Prasanna menjelaskan bahwa endometriosis tidak hanya menimbulkan nyeri, tetapi juga dapat menurunkan kualitas sel telur dan mempercepat penurunan cadangan ovarium, terutama pada perempuan usia reproduktif lanjut.

“Pendekatan pengobatan untuk pasien dengan endometriosis tidak bisa disamaratakan. Setiap pasien memiliki kondisi berbeda, sehingga protokol IVF dan dosis obat perlu disesuaikan secara individual,” ujar Prof. Prasanna.

Selain IVF, laparoskopi menjadi salah satu tindakan penting pada pasien dengan kista endometriosis berukuran besar (7–9 cm) atau yang mengganggu struktur reproduksi. Pada kasus tertentu, kista endometriosis juga dapat ditangani dengan metode skleroterapi etanol (pemberian cairan alkohol) untuk menghancurkan isi kista tanpa operasi besar—terutama jika kualitas sel telur perlu dipertahankan.

Dalam sesi diskusi, Prof. Prasanna juga menyoroti perbedaan mendasar antara endometriosis, mioma uteri, dan polip rahim. Perbedaan utama adalah lokasi dan dampaknya: endometriosis terjadi ketika jaringan mirip endometrium tumbuh di luar rahim (misalnya di ovarium), menyebabkan nyeri dan bisa memengaruhi kualitas sel telur; mioma uteri adalah pertumbuhan non-kanker di otot dinding rahim; dan polip rahim adalah pertumbuhan jaringan abnormal di lapisan dalam rahim (endometrium). .

Selain faktor medis, gaya hidup dan kesehatan umum juga menjadi penentu penting. Kondisi seperti berat badan berlebih, tekanan darah tinggi, stres kronis, hingga gangguan ereksi pada pria dapat memengaruhi keberhasilan program hamil.

“Pemahaman yang fasih tentang endometriosis sangat penting. Penanganan yang kurang tepat justru bisa membahayakan, baik bagi kesuburan maupun keselamatan pasien,” tambahnya.

Melalui talkshow ini, para peserta diharapkan lebih memahami bahwa penanganan endometriosis memerlukan kolaborasi antara keilmuan, ketelitian diagnosis, dan pendekatan personal.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi menujuduagaris.id atau Intagagram @menujuduagaris.id

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, IVF, Terobosan Baru

Endometriosis Sebagai Penyebab Langka Sumbatan Usus: Apa yang Perlu Diketahui?

October 9, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister mungkin sering dengar kalau endometriosis menyebabkan nyeri haid hebat, kista ovarium, atau gangguan kesuburan. Tapi tahukah kamu, kondisi ini juga bisa menyebabkan sumbatan usus (intestinal obstruction) meski sangat jarang terjadi?

Sebuah comprehensive literature review yang diterbitkan di Journal of Clinical Medicine telah mengungkapkan fakta menarik tentang hal ini. Yuk, kita bahas dengan bahasa yang lebih ringan!

Seberapa Sering Endometriosis Menyerang Usus?

Peneliti menemukan bahwa 3–37% kasus endometriosis melibatkan saluran pencernaan, terutama di bagian usus besar dan kecil. Namun, kasus yang sampai menyebabkan sumbatan usus total (intestinal occlusion) sangat jarang, hanya sekitar 0,1–0,7% dari semua kasus endometriosis.

Artinya, dari seratus perempuan dengan endometriosis, hanya satu atau bahkan kurang yang mengalami sumbatan usus akibat kondisi ini.

Bagaimana Endometriosis Bisa Menyumbat Usus? Dalam tinjauan ini, tercatat 107 pasien dengan sumbatan usus akibat endometriosis. Lokasi yang paling sering terkena antara lain:

  • Ileum (38,3%) – bagian akhir usus halus
  • Rektosigmoid (34,5%) – bagian bawah usus besar
  • Ileocecal junction & usus buntu (14,9%)
  • Rektum (10,2%)

Bahkan ada satu kasus unik di mana sumbatan terjadi di lekukan hati usus besar (hepatic flexure) dan satu lagi akibat kista endometrioid besar di omentum yang menekan usus dari luar.

Apa Penyebab Mekanismenya?

Endometriosis bisa menghambat aliran usus lewat beberapa mekanisme:

  1. Massa di dalam atau dinding usus – jaringan endometriosis tumbuh dan menutup sebagian lumen.
  2. Tekanan dari luar (ekstrinsik) – lesi menekan usus dari jaringan sekitarnya.
  3. Adhesi atau perlengketan – membuat bagian usus saling menempel.
  4. Intususepsi – kondisi saat satu bagian usus masuk ke bagian lain.

Uniknya, ada juga kasus pada perempuan pascamenopause, yang menunjukkan bahwa endometriosis tidak sepenuhnya berhenti setelah menstruasi berakhir. Meski begitu ada risiko yang lebih serius.

Risiko yang Lebih Serius: Transformasi Maligna

Dalam beberapa kasus langka, jaringan endometriosis bisa berubah menjadi kanker dan menyebabkan sumbatan usus. Kondisi ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan penanganan tepat pada endometriosis yang melibatkan organ pencernaan.

Kapan Harus Waspada? Gejala sumbatan usus akibat endometriosis sering kali mirip dengan gangguan pencernaan biasa, seperti: Nyeri perut parah, Mual dan muntah, Perut kembung atau terasa penuh dan tidak bisa buang gas atau buang air besar

Meskipun jarang, endometriosis dapat menjadi penyebab sumbatan usus yang serius.
Kasus-kasus ini menunjukkan betapa luas dan kompleks dampak endometriosis terhadap tubuh, bukan hanya pada sistem reproduksi, tapi juga organ lain seperti saluran pencernaan.

Jadi, jangan remehkan gejala yang terasa “tidak bisanya, sister! Deteksi dini dan konsultasi rutin dengan dokter bisa membantu menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh

  • Referensi:
    Mușat, F., Păduraru, D. N., Bolocan, A., Constantinescu, A., Ion, D., & Andronic, O. (2023). Endometriosis as an Uncommon Cause of Intestinal Obstruction—A Comprehensive Literature Review. Journal of Clinical Medicine, 12(19), 6376. https://doi.org/10.3390/jcm12196376

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, Sumbatan, Usus

Program Hamil dengan Endometriosis: Laparoskopi atau IVF Dulu?

October 8, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Bagi banyak perempuan, endometriosis bukan hanya sekadar “penyakit haid yang nyeri”. Kondisi ini jauh lebih kompleks dan sering kali baru benar-benar terasa dampaknya ketika mereka mencoba untuk hamil. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: haruskah dilakukan operasi laparoskopi terlebih dahulu untuk membersihkan endometriosis, atau langsung memulai program bayi tabung (IVF)?

Dilema ini sangat relevan, karena baik laparoskopi maupun IVF sama-sama memiliki peran penting, namun keputusan yang tepat sangat tergantung pada kondisi masing-masing pasien.

Endometriosis dan Hubungannya dengan Kesuburan

Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan mirip endometrium dimana lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium, tuba falopi, atau bahkan rongga panggul. Penyakit ini bersifat estrogen-dependent, artinya pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen.

Menariknya, penelitian terbaru menemukan adanya kondisi yang disebut local hypoestrogenism, yaitu kadar estrogen yang lebih rendah di jaringan endometriosis dibandingkan jaringan sehat di sekitarnya. Akibat ketidakseimbangan ini, muncul beberapa masalah:

  • Peradangan kronis: jaringan endometriosis memicu reaksi imun yang berlebihan, menimbulkan nyeri yang persisten.
  • Fibrosis (jaringan parut): proses penyembuhan yang berulang membuat organ menjadi kaku.
  • Adhesi: organ-organ di panggul dapat saling menempel, sehingga anatomi normal terganggu.
  • Gangguan kesuburan: tuba falopi bisa tersumbat, pelepasan sel telur terganggu, dan pertemuan sperma dengan sel telur jadi semakin sulit.

 

Selain itu, endometriosis juga berdampak langsung pada ovarium. Cairan dari kista endometriosis kaya akan zat besi yang dapat memicu stres oksidatif, yaitu ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh. Kondisi ini merusak sel-sel folikel, sehingga kualitas dan jumlah sel telur menurun. Pada akhirnya, cadangan ovarium (ovarian reserve) menjadi lebih cepat berkurang dibandingkan perempuan tanpa endometriosis. Jika sudah begitu penanganan apa yang dapat pilih?

Laparoskopi atau IVF?

Dalam konteks program hamil, ada dua jalur utama yang bisa dipilih: laparoskopi atau IVF.

Laparoskopi adalah prosedur bedah minimal invasif yang dilakukan dengan memasukkan kamera kecil melalui sayatan kecil di perut. Tujuannya antara lain Mengangkat jaringan endometriosis, Membersihkan kista endometriosis, Memperbaiki anatomi panggul dengan memutus adhesi dan Mengurangi nyeri yang mengganggu kualitas hidup.

laparoskopi, anatomi organ reproduksi bisa kembali lebih normal, sehingga peluang hamil secara alami bisa meningkat. Namun, laparoskopi juga membawa risiko: semakin sering ovarium dioperasi, cadangan sel telur justru bisa semakin berkurang.

Sedangkan In Vitro Fertilization (IVF) atau program bayi tabung bekerja dengan cara “melewati” hambatan yang ditimbulkan oleh endometriosis. Proses pembuahan dilakukan di laboratorium, sehingga masalah adhesi atau kerusakan tuba tidak lagi menjadi halangan utama.

IVF biasanya lebih disarankan untuk perempuan Berusia di atas 35 tahun. Karena kualitas dan cadangan sel telur menurun secara alami seiring usia. Memiliki cadangan ovarium rendah. IVF bisa membantu memaksimalkan sel telur yang tersisa. Dan Tidak mengalami nyeri hebat. Karena tujuan utama langsung difokuskan ke kehamilan, bukan perbaikan kualitas hidup.

Lalu, Mana yang Harus Dipilih Lebih Dulu?

Jawabannya: tidak ada satu pilihan yang berlaku untuk semua orang.

  • Jika nyeri akibat endometriosis sangat parah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, laparoskopi sering kali menjadi langkah awal yang bijak.
  • Jika usia sudah tidak lagi muda dan cadangan sel telur menurun, IVF bisa menjadi jalan yang lebih efisien.
  • Dalam beberapa kasus, kombinasi keduanya juga dilakukan—laparoskopi untuk memperbaiki anatomi, kemudian dilanjutkan IVF untuk memaksimalkan peluang kehamilan.

 

Memutuskan apakah harus melakukan laparoskopi dulu atau langsung IVF pada promil dengan endometriosis bukanlah keputusan yang sederhana. Faktor usia, tingkat nyeri, kondisi ovarium, dan derajat keparahan endometriosis semuanya perlu dipertimbangkan.

Yang pasti, setiap strategi harus disesuaikan secara personal, karena apa yang tepat untuk satu orang belum tentu sama untuk orang lain. Konsultasi mendalam dengan dokter kandungan yang berpengalaman dalam menangani endometriosis adalah kunci utama sebelum memutuskan langkah.

Nah, kalau sister sedang menghadapi kondisi ini, lebih condong ke mana: laparoskopi dulu atau langsung IVF? Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Colombi, I., Ginetti, A., Cannoni, A., Cimino, G., d’Abate, C., Schettini, G., … & Centini, G. (2024). Combine surgery and in vitro fertilization (IVF) in endometriosis-related infertility: when and why. Journal of Clinical Medicine, 13(23), 7349.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, hamil, IVF, laparoskopi, Program

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 25
  • Page 26
  • Page 27
  • Page 28
  • Page 29
  • Interim pages omitted …
  • Page 97
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.