• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Sel telur

Endometriosis Ovarium dan Fertilitas: Mengapa Pembekuan Sel Telur Perlu Dipertimbangkan Lebih Dini

January 2, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Endometriosis bukan sekadar soal nyeri haid atau kista di ovarium. Pada banyak perempuan, kondisi ini diam-diam memengaruhi kesuburan bahkan jauh sebelum kehamilan benar-benar direncanakan. Salah satu bentuk endometriosis yang paling berdampak pada fertilitas adalah endometriosis ovarium atau endometrioma.

Dalam perjalanan klinisnya, perempuan dengan endometriosis ovarium sering dihadapkan pada dilema besar:
mengobati penyakitnya, atau menjaga cadangan ovarium agar peluang hamil tetap terbuka.

Di titik inilah pembekuan sel telur (oocyte cryopreservation) mulai mendapat perhatian sebagai bagian penting dari perawatan endometriosis yang lebih menyeluruh.

Mengapa Endometriosis Ovarium Sangat Berkaitan dengan Infertilitas

Endometriosis ditemukan pada sekitar 30–50% perempuan infertil, dan hampir setengah dari mereka pada akhirnya membutuhkan teknologi reproduksi berbantu seperti IVF untuk mencapai kehamilan.

Khusus pada endometrioma:

  • kadar AMH cenderung lebih rendah,
  • penurunan cadangan ovarium terjadi lebih cepat dibanding perempuan seusia tanpa endometriosis,
  • dan risiko infertilitas meningkat seiring waktu.

Endometrioma tidak hanya “menempati ruang” di ovarium. Cairan di dalam kista mengandung zat yang bersifat toksik, seperti zat besi bebas, yang dapat merusak jaringan ovarium di sekitarnya. Selain itu, peregangan kronis pada korteks ovarium akibat kista juga berkontribusi pada hilangnya folikel primordial secara perlahan.

Artinya, kerusakan cadangan ovarium sering kali sudah terjadi bahkan sebelum tindakan operasi dilakukan.

Operasi Endometrioma: Solusi yang Tidak Bebas Konsekuensi

Operasi kistektomi ovarium masih menjadi salah satu terapi utama endometriosis ovarium. Namun, bukti ilmiah konsisten menunjukkan bahwa tindakan ini hampir selalu diikuti oleh penurunan AMH pascaoperasi dan penurunan ini bersifat permanen.

Risiko terbesar terjadi pada:

  • operasi bilateral,
  • endometrioma berukuran besar,
  • atau operasi berulang.

Bahkan pada tangan ahli bedah berpengalaman, pengangkatan endometrioma hampir tidak bisa sepenuhnya menghindari terangkatnya jaringan ovarium sehat. Inilah alasan mengapa semakin banyak literatur menyarankan agar keputusan operasi tidak berdiri sendiri, tetapi dipertimbangkan bersama strategi menjaga fertilitas.

Pembekuan Sel Telur: Dari Onkologi ke Endometriosis

Awalnya, pembekuan sel telur dikembangkan untuk pasien kanker yang berisiko kehilangan fungsi reproduksi akibat kemoterapi. Namun dalam satu dekade terakhir, teknik ini berkembang pesat dan kini diakui sebagai metode preservasi fertilitas yang aman dan efektif, termasuk untuk perempuan dengan endometriosis.

Teknologi vitrification modern memungkinkan:

  • tingkat kelangsungan hidup sel telur yang tinggi setelah pencairan,
  • tidak meningkatkan risiko kelainan pada bayi,
  • serta hasil kehamilan yang sebanding dengan sel telur segar, terutama pada usia muda.

Bagi perempuan dengan endometriosis ovarium, pembekuan sel telur memberikan ruang waktu kesempatan untuk menunda kehamilan tanpa sepenuhnya mengorbankan peluang di masa depan.

Kapan Pembekuan Sel Telur Paling Memberi Manfaat?

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa hasil terbaik diperoleh bila pembekuan sel telur dilakukan:

  • sebelum usia 35 tahun, dan
  • sebelum operasi ovarium, terutama jika terdapat endometrioma besar atau bilateral.

Usia memengaruhi kualitas sel telur, sementara operasi memengaruhi jumlahnya. Kombinasi usia muda dan ovarium yang belum mengalami trauma bedah memberikan peluang terbaik untuk memperoleh jumlah sel telur matang yang optimal.

Pada perempuan dengan endometriosis, kualitas sel telur umumnya tidak jauh berbeda dibandingkan perempuan tanpa endometriosis pada usia yang sama yang menjadi tantangan utama adalah jumlahnya.

Stimulasi Ovarium pada Endometriosis: Apa yang Perlu Diketahui

Perempuan dengan endometriosis cenderung memerlukan:

  • dosis hormon stimulasi yang lebih tinggi,
  • dan terkadang hasil jumlah sel telur yang lebih rendah dibanding penyebab infertilitas lain.

Namun, proses stimulasi terbukti relatif aman:

  • tidak memperbesar ukuran endometrioma,
  • tidak meningkatkan komplikasi berarti,
  • dan dapat dilakukan berulang untuk mengumpulkan jumlah sel telur yang memadai.

Bahkan bila hasil siklus pertama terasa “sedikit”, pengulangan siklus sering kali memungkinkan total sel telur yang cukup untuk disimpan.

Berapa Banyak Sel Telur yang Ideal untuk Dibekukan?

Tidak ada angka pasti yang menjamin kehamilan. Namun, secara umum:

  • usia ≤35 tahun disarankan menyimpan 10–15 sel telur matang,
  • semakin bertambah usia, jumlah yang dibutuhkan untuk peluang yang sama akan meningkat.

Pada perempuan dengan endometriosis, strategi ini perlu lebih fleksibel dan realistis, disesuaikan dengan kondisi ovarium, usia, dan rencana hidup pasien.

Apakah Pembekuan Sel Telur Selalu Akan Digunakan?

Menariknya, tingkat “kembali menggunakan” sel telur beku pada perempuan dengan endometriosis relatif tinggi dibanding pembekuan elektif. Ini menunjukkan bahwa bagi banyak pasien, pembekuan sel telur bukan sekadar “jaga-jaga”, melainkan bagian dari strategi nyata menghadapi infertilitas yang mungkin terjadi.

Endometriosis adalah penyakit kronis dengan perjalanan panjang dan risiko berulang. Pendekatan yang hanya berfokus pada menghilangkan lesi tanpa mempertimbangkan masa depan fertilitas sering kali membuat perempuan kehilangan pilihan.

Pembekuan sel telur bukan solusi untuk semua orang, dan bukan kewajiban bagi setiap pasien endometriosis. Namun, diskusi tentang preservasi fertilitas seharusnya menjadi bagian awal dari perawatan, bukan pilihan yang datang terlambat.

Karena keputusan terbaik hanya bisa diambil ketika perempuan ketika berhasil memahami kondisi tubuhnya, mengetahui risiko setiap tindakan, dan diberi ruang untuk memilih dengan sadar.

Referensi

  • Mifsud, J. M., Pellegrini, L., & Cozzolino, M. (2023). Oocyte cryopreservation in women with ovarian endometriosis. Journal of clinical medicine, 12(21), 6767.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, ovarium, Sel telur

AMH Rendah Bukan Cuma Soal Jumlah Sel Telur: Tapi Juga Risiko Kehilangan Kehamilan Dini

January 2, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Selama ini, AMH sering dibicarakan sebagai penanda cadangan ovarium. Angkanya rendah, lalu langsung diasosiasikan dengan “stok sel telur sedikit”.

Padahal, riset terbaru menunjukkan bahwa AMH rendah tidak hanya berkaitan dengan peluang hamil, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan kehamilan untuk bertahan di awal.

Ketika Embrio Sudah Normal, Tapi Kehamilan Tetap Gugur

Salah satu pertanyaan besar dalam dunia fertilitas adalah mengapa keguguran masih bisa terjadi, padahal embrio yang ditransfer sudah dinyatakan normal secara genetik. Banyak orang mengira bahwa begitu faktor kromosom dieliminasi, risiko keguguran akan turun drastis. Namun kenyataannya, tidak selalu demikian.

Pada perempuan dengan AMH rendah, kehilangan kehamilan dini ternyata tetap terjadi lebih sering. Bukan hanya itu, peluang untuk mencapai kehamilan klinis juga lebih rendah, dan angka kelahiran hidup pun ikut menurun. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun embrio terlihat “baik” secara genetik, ada faktor lain dari tubuh perempuan yang tetap memegang peranan penting.

Yang menarik, risiko ini tetap muncul bahkan setelah berbagai faktor lain diperhitungkan. Artinya, AMH rendah bukan sekadar penanda tambahan, tetapi berdiri sebagai faktor risiko tersendiri. Dampaknya justru terlihat lebih jelas pada perempuan usia di bawah 35 tahun, terutama mereka yang baru pertama kali menghadapi masalah infertilitas, bahkan pada kondisi ketika jumlah folikel awal masih tampak cukup.

Temuan ini menggeser cara kita memaknai AMH. Selama ini, AMH sering dipahami hanya sebagai indikator jumlah sel telur. Padahal, kenyataannya AMH juga berkaitan dengan kualitas lingkungan biologis yang menopang kehamilan sejak fase paling awal. Di titik ini, AMH tidak lagi sekadar angka, melainkan sinyal tentang kesiapan tubuh dalam mempertahankan kehamilan, bahkan ketika embrio sudah berada dalam kondisi terbaiknya.

AMH mungkin juga mencerminkan kompetensi sel telur, bukan hanya soal berapa banyak, tapi juga seberapa siap sel telur tersebut mendukung kehamilan yang sehat.

Dengan kata lain:

  • embrio bisa tampak normal,
  • proses transfer bisa berjalan baik,
  • tetapi kualitas biologis dari sel telur tetap berperan dalam keberlanjutan kehamilan.

Apa Artinya untuk Pasangan yang Sedang Promil?

Untuk sister yang masih masih muda, AMH rendah, dan sering bingung saat keguguran terjadi meski “semuanya terlihat baik”.

Ini bukan soal menyalahkan tubuh. Tapi soal memahami bahwa fertilitas tidak bekerja satu lapis saja.

AMH rendah bukan vonis. Namun ia memberi sinyal bahwa pendekatan promil perlu lebih personal dan hati-hati, termasuk:

  • strategi stimulasi,
  • pemilihan waktu dan metode,
  • serta kesiapan tubuh untuk mempertahankan kehamilan.

AMH bukan sekadar angka di hasil lab. Ia adalah potongan kecil dari cerita besar tentang kesiapan reproduksi. Karena keberhasilan hamil tidak berhenti di embrio yang “normal”, dan perjalanan menuju kelahiran hidup melibatkan banyak faktor yang saling berkaitan. Karena itu, promil terutama pada AMH rendah tidak bisa disederhanakan, dan tidak bisa disamakan antara satu orang dengan yang lain. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya

Referensi

  • Sun, L., Zhang, C., Yin, B., Li, J., Yao, Z., Tian, M., … & Zhang, Y. (2025). Low anti-müllerian hormone levels increased early pregnancy loss rate in patients undergoing frozen-thawed euploid single blastocyst transfer: a retrospective cohort study. Reproductive Biology and Endocrinology, 23(1), 112.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: amh, infertilitas, Sel telur

Akupunktur & Ovarium: Pendekatan “Mencegah Sebelum Sakit” dalam Menjaga Cadangan Ovarium

October 15, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Penurunan cadangan ovarium (Diminished Ovarian Reserve, DOR) sering jadi tantangan bagi banyak perempuan yang sedang berjuang mendapatkan dua garis. Kondisi ini menunjukkan ovarium mulai berkurang kemampuannya menghasilkan sel telur yang cukup dan berkualitas. Akibatnya, peluang hamil ikut menurun baik secara alami maupun lewat IVF.

Dalam pengobatan modern, DOR sering dikaitkan dengan kadar AMH yang menurun dan FSH yang meningkat, menandakan fungsi ovarium yang melemah. Namun, dari perspektif pengobatan tradisional Tiongkok, masalah ini tidak hanya soal hormon, tapi juga aliran energi dan keseimbangan tubuh secara menyeluruh

Pendekatan “Mencegah Sebelum Sakit”

Konsep “preventive treatment of disease” sudah dikenal sejak ribuan tahun dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Prinsipnya sederhana tapi kuat: menyeimbangkan tubuh sebelum penyakit berkembang.

Akupunktur berperan sebagai “penjaga keseimbangan” dengan cara:

  • Menyeimbangkan Yin dan Yang, dua energi utama dalam tubuh.
  • Melancarkan aliran darah dan energi (Qi) di meridian, terutama di area reproduksi.
  • Menguatkan energi vital (Qi) agar tubuh lebih tahan terhadap stres dan gangguan.
  • Menenangkan pikiran dan emosi, karena keseimbangan mental juga memengaruhi sistem reproduksi.

Dengan cara ini, akupunktur tidak hanya mengobati gejala, tapi juga memperkuat sistem tubuh dari dalam menjaga agar fungsi ovarium tidak semakin menurun.

Hubungan Meridian dan Organ Reproduksi

Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, rahim dan ovarium terhubung erat dengan beberapa jalur energi utama (meridian) seperti:

  • Ren dan Chong meridian, yang mengatur aliran darah dan siklus menstruasi.
  • Liver meridian, yang bertanggung jawab menjaga kelancaran aliran Qi dan darah ke organ reproduksi.
  • Kidney meridian, yang dianggap sebagai “akar kesuburan,” menyimpan energi dan esensi kehidupan.
  • Spleen dan Heart meridian, yang mendukung pembentukan darah dan kestabilan emosi.

Kalau salah satu dari meridian ini terganggu, aliran Qi dan darah bisa tersendat — ibaratnya seperti pipa air yang tersumbat. Akibatnya, ovarium kehilangan suplai energi dan nutrisi yang dibutuhkan untuk mematangkan sel telur.

Bagaimana Akupuntur Membantu?

Penelitian terbaru (Pan et al., 2023) menjelaskan bahwa akupunktur dapat memengaruhi tubuh lewat beberapa mekanisme biologis, seperti:

  • Menormalkan kadar hormon reproduksi (FSH, AMH, dan estradiol)
  • Memperbaiki sirkulasi darah dan oksigen di ovarium
  • Mengurangi stres oksidatif dan apoptosis (kematian sel) pada sel granulosa
  • Meningkatkan kualitas dan kuantitas sel telur
  • Memperbaiki siklus haid dan memperbaiki suasana hati

Studi-studi meta-analisis juga menemukan bahwa pasien DOR yang menjalani terapi akupunktur menunjukkan peningkatan jumlah folikel antral, ovulasi yang lebih teratur, dan peluang kehamilan yang lebih tinggi dibandingkan terapi medis tunggal.

Intinya, Akupunktur Bukan Sekadar “Tusuk Jarum”

Akupunktur bekerja sebagai terapi pendukung yang menyeimbangkan tubuh fisik dan mental  agar lebih siap untuk hamil. Dengan menjaga aliran energi dan fungsi organ yang harmonis, tubuh menjadi lebih responsif terhadap pengobatan medis seperti IVF.

Pendekatan pengobatan tradisional Tiongkok mengingatkan kita bahwa kesehatan reproduksi bukan hanya tentang hormon, tapi tentang keseimbangan tubuh secara utuh dari meridian, organ, sampai pikiran. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi:

Pan, S.A., Murong, Z.M., Zhu, Y.L., Song, J.W., Chang, X.R., Liu, Y., & Yue, Z.H. (2023). Discussion on Relationship between Meridians and Viscera of Decreased Ovarian Reserve from the Perspective of “Preventive Treatment of Disease” by Acupuncture. World Journal of Traditional Chinese Medicine, 9(2), 111–122. DOI: 10.4103/2311-8571.378173

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: akupuntur, ovarium, Sel telur

Jangan Tunggu Nanti: Kenali Cadangan Sel Telur dari Sekarang

August 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Anti-Müllerian Hormone (AMH) sekarang sering banget jadi bahan obrolan waktu perempuan mau periksa kesuburan. Katanya, kalau AMH rendah, berarti cadangan sel telur menipis, peluang hamil kecil, dan masa subur udah mau habis.

Tapi… ternyata nggak sesederhana itu.

Karena penurunan AMH itu beda-beda tiap orang, dan satu kali tes AMH belum tentu cukup buat meramal masa subur seseorang. 

AMH Itu Apa, Sih?

AMH adalah hormon yang diproduksi oleh sel-sel kecil di ovarium (folikel). Semakin banyak folikel yang kamu punya, semakin tinggi kadar AMH-mu. Karena itu, AMH dianggap bisa jadi cerminan cadangan sel telur alias ovarian reserve.

Makanya, sekarang banyak klinik menggunakan tes AMH buat: Perencanaan program hamil, konsultasi fertilitas dan menentukan langkah bayi tabung atau pembekuan sel telur

Faktanya, Penurunan AMH Itu Nggak Sama Tiap Orang

Fakta ini ditemukan oleh sebuah penelitian diantaranya adalah: penurunan AMH makin cepat setelah usia 40 tahun selain itu laju penurunannya nggak sama antara satu perempuan dengan yang lain ada yang AMH-nya menurun pelan-pelan, ada juga yang drastis walau cenderung tetap tinggi/rendah seiring waktu, perbedaan antara perempuan jadi makin tipis di usia lebih tua

Dengan kata lain: nggak semua perempuan dengan AMH rendah akan cepat menopause, dan nggak semua yang tinggi pasti subur lebih lama.

Jadi, Tes AMH Bisa Diandalkan Nggak?

Tes AMH tetap penting, tapi fungsinya lebih ke Mengetahui kondisi saat ini (bukan memprediksi masa depan secara pasti), Memberi gambaran kasar tentang jumlah folikel yang masih aktif dan membantu dokter dalam menentukan strategi promil

Tapi tes ini nggak bisa berdiri sendiri. Hasilnya harus dilihat bareng faktor lain seperti usia, siklus haid, hasil USG, dan kondisi pasangan.

Kalau kamu pernah dites dan hasil AMH-mu rendah, itu bukan akhir segalanya. Sebaliknya, kalau tinggi pun bukan jaminan bisa menunda program hamil seenaknya.

Setiap perempuan punya jalur kesuburan yang unik. Yang penting, kenali tubuh sendiri dan jangan ragu untuk konsultasi dengan dokter yang paham konteks keseluruhan hal ini akan mempermudah sister dan paksu untuk menentukan langkah terbaik apa yang dapat diambil ketika akan melaksanakan program hamil. 

Referensi 

de Kat, A.C., van der Schouw, Y.T., Eijkemans, M.J.C. et al. Back to the basics of ovarian aging: a population-based study on longitudinal anti-Müllerian hormone decline. BMC Med 14, 151 (2016). https://doi.org/10.1186/s12916-016-0699-y

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, low amh, perempuan, Sel telur

Usia Ovarium: Bukan Hanya Soal Sel Telur, Tapi Proses Penuaan yang Kompleks pada Wanita

July 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Ketika kita berbicara tentang kesuburan wanita, usia ovarium atau usia indung telur sering dianggap sebagai penyebab utama masalah kesuburan. Secara tradisional, kita tahu bahwa kemampuan reproduksi wanita mulai menurun di pertengahan usia 30-an, menstruasi mulai tidak teratur di pertengahan 40-an, dan akhirnya kesuburan berhenti sama sekali sebelum mencapai menopause di awal 50-an. Semua ini dikaitkan dengan penurunan jumlah dan kualitas sel telur (oosit) seiring bertambahnya usia.

Pada artikel kali ini MDG akan membahas lebih lanjut bagaimana proses ini terjadi, dan bagaimana peran yang dimiliki. Baca sampai akhir ya

Ketahui Apa saja Faktor-faktor Penuaan Ovarium

Kenapa Peluang Kehamilan Bisa Menurun Seiring Usia?

Sister, pernah nggak sih kepikiran… kenapa makin bertambah usia, peluang untuk hamil jadi makin kecil?

Ternyata jawabannya nggak cuma soal jumlah sel telur yang berkurang. Di balik itu, ada proses biologis yang kompleks yang secara perlahan memengaruhi fungsi ovarium kita.

Setidaknya ada beberapa proses penting yang perlu sister pahami:

Mitokondria dan Stres Oksidatif

Mitokondria dikenal sebagai “pembangkit energi” dalam sel. Tapi seiring bertambahnya usia, fungsi mitokondria di sel-sel ovarium bisa menurun. Akibatnya, sel ovarium jadi kurang optimal dalam menjalankan tugasnya.

Selain itu, tubuh kita juga bisa mengalami stres oksidatif, yaitu kondisi saat radikal bebas dalam tubuh lebih banyak daripada antioksidan. Ketidakseimbangan ini yang juga bisa dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup dapat merusak sel-sel ovarium dan mempercepat penuaan.

Perubahan di Lingkungan Seluler

Indung telur nggak cuma terdiri dari sel telur, tapi juga dikelilingi oleh jaringan pendukung yang disebut matriks ekstraseluler.

Bayangkan ini seperti “lantai dan tembok” yang menopang dan mengatur lingkungan kerja sel-sel ovarium. Nah, seiring bertambahnya usia, bagian pendukung ini juga bisa mengalami perubahan. Kalau struktur pendukungnya terganggu, maka sel-sel ovarium pun jadi nggak bekerja seefisien dulu dan itu bisa berdampak pada kesuburan.

Peran Sel Imun

Jaringan pendukung utama di indung telur yang disebut stroma ovarium juga dihuni oleh sel-sel imun. Baik dari sistem kekebalan bawaan maupun adaptif, sel-sel ini ikut berperan dalam proses penuaan ovarium. Jadi, sistem imun kita bukan cuma bertugas melawan penyakit, tapi juga bisa memengaruhi bagaimana organ reproduksi menua.

Memahami semua proses ini sangat krusial, sister. Karena kalau kita tahu apa yang terjadi di dalam tubuh, kita bisa lebih siap dalam merancang strategi pengobatan atau perawatan yang tepat terutama untuk memperlambat penuaan ovarium.

Mengapa Penting Menjaga Kesehatan Ovarium?

Menjaga kesehatan ovarium, terutama dengan memperlambat proses penuaannya, bukan cuma soal memperpanjang masa subur. Lebih dari itu, dampaknya bisa sangat luas.

Kalau fungsi ovarium tetap optimal, kita juga bisa meringankan berbagai efek samping menopause yang sering bikin tidak nyaman seperti masalah pada tulang dan otot (sistem muskuloskeletal), gangguan jantung dan pembuluh darah (sistem kardiovaskular), hingga keluhan pada sistem saraf.

Jadi, menjaga ovarium bukan cuma soal “bisa punya anak atau tidak”, tapi soal menjaga kualitas hidup perempuan di usia yang lebih matang. Supaya tetap sehat, aktif, dan bisa menikmati hidup dengan lebih baik di masa-masa penting kedepannya. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Camaioni, A., Ucci, M. A., Campagnolo, L., De Felici, M., Klinger, F. G., & Italian Society of Embryology, Reproduction and Research (SIERR). (2022). The process of ovarian aging: it is not just about oocytes and granulosa cells. Journal of assisted reproduction and genetics, 39(4), 783-792.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ovarium, Penuaan, Sel telur, Usia

Sindikat China yang Melakukan Jual beli Sel Telur, Apakah berdampak bagi tubuh Perempuan Di masa yang akan Datang?

February 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Baru-baru ini dunia dihebohkan dengan berita praktek jual beli sel telur. Apakah sister dan paksu juga sempat membaca? sebagai pejuang dua garis terutama dengan spesifik kasus low AMH seringkali dapat membayangkan bagaimana mendapatkan donor sel telur. Sayangnya di Indonesia praktek ini masih dalam kategori ilegal loh. 

Menurut undang-undang UU Kesehatan dan peraturan pelaksananya PP 28/2024 telah menegaskan inseminasi buatan/reproduksi buatan hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan disertai hasil pemeriksaan medis mengalami ketidaksuburan atau infertilitas untuk memperoleh keturunan.

Melihat undang-undang tersebut bahwasanya adanya larangan untuk menerima donor sperma dari orang lain selain dari suami sendiri, atau penggunaan ovum dari orang lain selain dari istri sendiri. MDG pada akan membahas lebih lanjut terutama menyoroti kesehatan perempuan di masa depan jika melakukan donor sel telur.

Bagaimana Dunia Memandang Program Sel Telur?

Ternyata menurut beberapa penelitian bahwasanya tidak ada transparansi yang diberikan terkait dampak jangka panjang, sebuah penelitian dengan judul “Tempting Luck: Temporalities and Risk Anticipation among Egg Donors in Spain” Berdasarkan penelitian etnografi di Barcelona dengan donor sel telur dan profesional IVF, terjadi fenomena yang disebut “temporal choreography” untuk menjelaskan bagaimana praktik klinis membatasi informasi yang diberikan kepada donor. Mereka ditempatkan dalam “temporal stasis“, di mana potensi risiko masa depan dari donasi diabaikan, dan pertimbangan terkait penggunaan sel telur di masa mendatang dihilangkan.

Padahal ada yang paling penting diantaranya adalah kondisi yang berkaitan dengan kehidupan donor, yang umumnya masih muda dan secara ekonomi tidak stabil. Koreografi ini berperan dalam kesuksesan industri donasi sel telur di Spanyol, yang terbesar di Eropa. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana tubuh tertentu diarahkan untuk mengantisipasi risiko dan melihat kesuburan sebagai perawatan diri, sementara yang lain justru didorong untuk mengabaikan risiko demi keuntungan finansial jangka pendek.

Efek Jangka Panjang Bagi Pendonor

Setelah melihat temuan diatas, dapat dibayangkan bagaimana masih belum banyak temuan medis yang dilakukan terkait dengan menyoroti dampak jangka panjang pada pendonor sel telur. Melihat bagaimana prosedur ini terlihat cukup mudah, prosedur ini tidak disarankan bagi wanita. Pasalnya, belum diketahui apa yang menjadi efek jangka panjang bagi wanita. Selama pelaksanaan prosedur ini, beberapa wanita mungkin akan mengalami pendarahan ketika dokter memasukkan jarum ke dalam ovarium mereka.

Prosedur ini juga bisa saja mengakibatkan kerusakan pada usus, kandung kemih, atau pembuluh darah, tetapi dalam kasus yang jarang terjadi. Infeksi bisa saja terjadi setelah pengangkatan sel telur. Dalam kasus yang parah dan membutuhkan rawat inap, gejala yang ditimbulkan meliputi sakit perut, muntah, kesulitan bernapas, dan pertambahan berat badan yang cepat. Bagaimana sister dan paksu apakah sudah tercerahkan? untuk informasi menarik lainnya dapat di akses di Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Molas, A., & Whittaker, A. (2024). Tempting luck: Temporalities and risk anticipation among egg donors in Spain. Science, Technology, & Human Values, 49(6), 1256-1280.
  • https://www.hukumonline.com/klinik/a/sahkah-donor-sperma-di-indonesia-lt62aad2cc18f9d/
  • https://www.halodoc.com/artikel/donor-sel-telur-bagaimana-efek-jangka-panjangnya-bagi-wanita?srsltid=AfmBOoqRVbeQXz8efzZwK8sk-UoAQPsr_cMHugvrjvUqLdH0ng1YLc1z

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: cina, donor, IVF, Sel telur

  • Page 1
  • Page 2
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Ketika Embrio Tampak Baik, Tapi Kehamilan Tak Kunjung Datang: Peran Sunyi Epigenetik Sperma dalam Kegagalan FET
  • Memahami Adenomyosis dan Dampaknya terhadap Kesuburan serta Program Bayi Tabung
  • Karena dalam Promil Modern, Sel Sperma Juga Perlu Perhatian yang Sama Seriusnya
  • Kenapa Usia Ayah Bisa Berpengaruh ke Perkembangan Anak?
  • Mengenal PCOS Lebih Dalam: Bukan Sekadar Haid Tidak Teratur, tapi Cerita Tubuh yang Kompleks

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.