• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

POI

Diminished Ovarian Reserve (DOR) dan Premature Ovarian Insufficiency (POI): Serupa Tapi Tak Sama

March 1, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Banyak orang mengira semua masalah cadangan sel telur itu sama. Padahal, dalam dunia fertilitas, ada dua kondisi yang sering terdengar mirip namun sebenarnya berbeda: Diminished Ovarian Reserve (DOR) dan Premature Ovarian Insufficiency (POI).

Keduanya sama-sama ditandai dengan berkurangnya cadangan ovarium. Artinya, jumlah dan potensi sel telur yang dimiliki lebih rendah dari yang diharapkan. Namun tingkat keparahan, dampak hormon, dan pendekatan penanganannya tidak selalu sama.

Apa Itu DOR?

Diminished Ovarian Reserve adalah kondisi ketika cadangan sel telur menurun lebih cepat dari yang seharusnya. Biasanya diketahui melalui pemeriksaan seperti AMH atau hitung folikel di USG.

Pada DOR, menstruasi sering kali masih teratur. Hormon belum sepenuhnya terganggu. Namun jumlah sel telur yang tersedia lebih sedikit, sehingga peluang hamil bisa menurun, terutama jika usia juga bertambah.

Penanganan DOR biasanya berfokus pada:

  • Edukasi dan konseling mengenai peluang kehamilan
  • Pertimbangan pembekuan sel telur jika belum ingin hamil dalam waktu dekat
  • Optimalisasi program hamil atau bayi tabung jika ingin segera memiliki keturunan

Tujuannya adalah memaksimalkan peluang yang masih ada.

Lalu, Apa Itu Premature Ovarian Insufficiency (POI)?

Premature Ovarian Insufficiency (POI) adalah kondisi yang lebih serius. Ini terjadi ketika fungsi ovarium menurun secara signifikan sebelum usia 40 tahun.

Pada POI, siklus haid bisa menjadi sangat jarang atau bahkan berhenti. Kadar hormon estrogen menurun, sementara hormon FSH meningkat. Artinya, ovarium tidak lagi merespons dengan baik seperti seharusnya.

Karena kadar estrogen rendah, POI bukan hanya berdampak pada kesuburan, tetapi juga pada kesehatan jangka panjang. Estrogen berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang, jantung, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Itulah sebabnya pada POI, terapi pengganti hormon sering diperlukan untuk melindungi kesehatan tubuh, bukan hanya untuk urusan kehamilan.

Kenapa Kondisi Ini Bisa Terjadi?

Penyebabnya bisa beragam. Ada faktor medis seperti kemoterapi, operasi panggul, atau radioterapi. Ada juga faktor genetik, kelainan kromosom, gangguan autoimun, paparan lingkungan tertentu, bahkan pada sebagian kasus penyebabnya tidak diketahui dengan pasti. Karena penyebabnya multifaktor, penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh agar penanganannya tepat.

Mengenali DOR atau POI sejak awal sangat penting. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang untuk mengambil langkah yang sesuai baik untuk menjaga peluang kehamilan maupun melindungi kesehatan jangka panjang. Bagi wanita dengan DOR, waktu menjadi faktor krusial. Bagi wanita dengan POI, perlindungan kesehatan hormonal menjadi prioritas utama.

Pada akhirnya, DOR dan POI memang sama-sama berkaitan dengan cadangan sel telur yang menurun. Namun keduanya memiliki perjalanan yang berbeda. Memahami perbedaannya membantu kita mengambil keputusan yang lebih tepat bukan hanya tentang memiliki anak, tetapi juga tentang menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Referensi

  • Houeis, L., Donnez, J., & Dolmans, M. M. (2025). Premature Ovarian Insufficiency and Diminished Ovarian Reserve: From Diagnosis to Current Management and Treatment. Journal of clinical medicine, 14(21), 7473.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: DOR, POI

POI Selain Donor Sel Telur Apa Ada Pilihan Lain??

February 28, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Banyak pasien dengan Premature Ovarian Insufficiency (POI) bertanya, “Kalau saya tidak ingin donor sel telur, apakah masih ada harapan menggunakan sel telur sendiri?”

POI adalah kondisi ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun. Ditandai dengan haid yang jarang atau berhenti, kadar FSH tinggi, dan cadangan ovarium yang sangat rendah. Selain infertilitas, POI juga berdampak pada kesehatan tulang, jantung, dan kondisi psikologis.

Selama ini, terapi lini pertama adalah Hormone Replacement Therapy (HRT). Namun penting dipahami, HRT hanya menggantikan hormon bukan mengembalikan fungsi ovarium atau kesuburan.

Lalu bagaimana dengan pilihan lain?

  1. In Vitro Activation (IVA), Sekitar 75% pasien POI masih memiliki folikel primordial “tertidur” di ovarium. IVA bertujuan membangunkan folikel tersebut agar bisa berkembang menjadi sel telur matang. Prosedurnya melibatkan pengambilan jaringan ovarium, Fragmentasi jaringan untuk mengganggu jalur Hippo, Aktivasi jalur PI3K/Akt dan transplantasi kembali ke tubuh
  2. Terapi Aktivasi Mitokondria, Kualitas sel telur sangat bergantung pada fungsi mitokondria, yaitu “pembangkit energi” sel. Pada POI, sering ditemukan penurunan jumlah mtDNA, peningkatan stres oksidatif dan gangguan produksi energi.
  3. Stem Cell Therapy, Terapi sel punca (stem cell) menjadi salah satu pendekatan yang paling banyak diteliti. Cara kerjanya melalui anti-inflamasi, anti-apoptosis, perbaikan vaskularisasi dan regulasi imun
  4. Platelet-Rich Plasma (PRP), PRP adalah plasma kaya faktor pertumbuhan yang diinjeksi ke ovarium dengan tujuan merangsang aktivitas jaringan.

Terapi-terapi seperti IVA, stem cell, PRP, dan aktivasi mitokondria adalah pendekatan inovatif yang menjanjikan, tetapi masih dalam tahap perkembangan dan penelitian. Artinya, keputusan terapi harus sangat individual dan didiskusikan dengan dokter fertilitas yang berpengalaman.

Jadi Apa yang Perlu Sister dan Paksu Pahami

Dunia fertilitas sedang berkembang cepat. POI bukan lagi kondisi tanpa pilihan.
Namun tidak semua pilihan sudah matang secara klinis.Harapan itu ada.
Tapi harus berbasis ilmu, bukan sekadar tren. Setiap pasien punya kondisi biologis yang berbeda. Dan setiap keputusan harus mempertimbangkan keamanan, peluang keberhasilan, serta kesiapan emosional.

Karena pada akhirnya, program kesuburan bukan hanya tentang teknologi. Tetapi tentang strategi yang paling sesuai untuk tubuh dan kehidupan kalian.

Referensi

    • Huang, Q. Y., Chen, S. R., Chen, J. M., Shi, Q. Y., & Lin, S. (2022). Therapeutic options for premature ovarian insufficiency: an updated review. Reproductive Biology and Endocrinology, 20(1), 28.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, POI, Sel telur

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.