• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

ovarium

Premature Ovarian Insufficiency: Ketika Fungsi Ovarium Menurun Terlalu Dini

March 15, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Premature Ovarian Insufficiency (POI) adalah kondisi ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun. Kondisi ini ditandai dengan gangguan siklus menstruasi, kadar hormon estrogen yang rendah, serta peningkatan hormon gonadotropin dalam darah.

POI tidak hanya memengaruhi kesuburan, tetapi juga berdampak pada kesehatan secara keseluruhan. Perempuan dengan kondisi ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan seperti osteoporosis, gangguan kardiovaskular, hingga perubahan kesehatan mental.

Meskipun cukup sering terjadi dalam praktik klinis, penyebab pasti dari POI masih belum sepenuhnya dipahami.

Mengapa POI Bisa Terjadi?

Penyebab POI bersifat kompleks dan sering kali melibatkan lebih dari satu faktor. Dalam banyak kasus, penyebabnya bahkan tidak dapat diidentifikasi secara pasti.

Beberapa faktor yang diketahui berperan antara lain faktor genetik, penyakit autoimun, efek pengobatan tertentu, hingga paparan lingkungan.

Kelainan genetik menjadi salah satu penyebab yang cukup penting. Gangguan pada kromosom X, seperti yang terjadi pada Turner syndrome atau premutasi gen Fragile X, dapat memengaruhi perkembangan dan fungsi ovarium.

Selain itu, berbagai mutasi gen yang berperan dalam proses pembentukan folikel, pematangan sel telur, dan ovulasi juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya POI.

Pengaruh Lingkungan terhadap Fungsi Ovarium

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian peneliti juga tertuju pada peran faktor lingkungan terhadap kesehatan reproduksi perempuan.

Paparan zat berbahaya di lingkungan diduga dapat memengaruhi fungsi ovarium. Beberapa di antaranya meliputi polusi udara, bahan kimia pengganggu hormon, pestisida, logam berat, mikroplastik, hingga paparan asap rokok.

Zat-zat tersebut dapat memicu stres oksidatif, kerusakan sel, serta gangguan keseimbangan hormon yang pada akhirnya dapat mempercepat penurunan cadangan ovarium.

Karena paparan lingkungan sering kali terjadi dalam jangka panjang dan tidak selalu disadari, dampaknya terhadap kesehatan reproduksi juga sering kali baru terlihat setelah beberapa waktu.

Bagaimana POI Terjadi di Dalam Ovarium?

Sejak sebelum lahir, ovarium perempuan sudah memiliki jumlah folikel yang terbatas. Pada masa perkembangan janin, jumlah folikel primordial mencapai puncaknya, kemudian secara alami akan berkurang seiring bertambahnya usia.

Sebagian besar folikel akan mengalami proses degenerasi alami, sementara hanya sebagian kecil yang akan berkembang hingga tahap ovulasi selama masa reproduksi.

Pada kondisi POI, proses ini terjadi lebih cepat dari seharusnya. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa mekanisme biologis, seperti kerusakan DNA pada sel ovarium, stres oksidatif, gangguan hormonal, proses inflamasi, atau kematian sel yang lebih cepat.

Ketidakseimbangan antara proses aktivasi, perkembangan, dan kematian folikel inilah yang akhirnya menyebabkan cadangan ovarium menurun secara prematur.

Ketahui Pilihan Penanganan apa saja yang Sedang dikembangkan

Penanganan POI bertujuan untuk membantu menjaga kesehatan hormonal sekaligus mempertimbangkan kemungkinan kehamilan bagi pasien yang masih menginginkannya.

Salah satu terapi yang sering digunakan adalah hormone replacement therapy (HRT) untuk membantu menggantikan hormon estrogen yang menurun.

Selain itu, berbagai pendekatan baru juga sedang dikembangkan dalam dunia penelitian. Beberapa di antaranya termasuk terapi berbasis sel punca, terapi eksosom, penggunaan melatonin, pendekatan pengobatan tradisional, hingga teknik aktivasi ovarium.

Teknologi reproduksi berbantu seperti pembekuan jaringan ovarium juga menjadi salah satu pilihan untuk menjaga potensi reproduksi pada kondisi tertentu.

Meskipun berbagai pendekatan ini menunjukkan potensi yang menjanjikan, sebagian di antaranya masih berada dalam tahap penelitian dan membutuhkan studi lebih lanjut sebelum dapat digunakan secara luas dalam praktik klinis.

Karena penyebab POI sangat beragam dan sering kali sulit diprediksi, upaya pencegahan menjadi hal yang penting. Mengurangi paparan terhadap zat berbahaya di lingkungan, menjaga pola hidup sehat, serta melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala dapat membantu menjaga fungsi ovarium dalam jangka panjang. Kesadaran terhadap faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi juga menjadi langkah penting untuk melindungi kualitas hidup dan potensi kesuburan perempuan di masa depan. Jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id ya!

Referensi

  • Huang Y, Liu Z, Geng Y, et al. The risk factors, pathogenesis and treatment of premature ovarian insufficiency. Journal of Ovarian Research. 2025.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ovarium, prematur

Apa yang Terjadi di Ovarium Hari demi Hari: Memahami Perjalanan Sel Telur Sebelum Ovulasi

March 10, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Banyak orang mengenal ovulasi sebagai momen ketika sel telur dilepaskan dari ovarium. Namun sebenarnya, sebelum momen itu terjadi, sel telur telah menjalani perjalanan biologis yang panjang di dalam tubuh perempuan.

Perjalanan ini tidak berlangsung dalam hitungan hari saja. Bahkan, proses perkembangan sel telur bisa dimulai berbulan-bulan sebelum ovulasi terjadi. Di dalam ovarium, sel telur berkembang di dalam struktur kecil yang disebut folikel.

Proses perkembangan folikel ini dikenal sebagai folliculogenesis, yaitu perjalanan biologis yang mengubah folikel dari tahap paling awal hingga akhirnya siap untuk ovulasi.

Memahami bagaimana folikel berkembang membantu kita melihat bahwa kesuburan bukan hanya tentang ovulasi, tetapi juga tentang bagaimana lingkungan ovarium mendukung perkembangan sel telur sejak tahap awal.

Perempuan Sudah Memiliki Cadangan Sel Telur Sejak Lahir

Salah satu fakta menarik tentang ovarium adalah bahwa perempuan sebenarnya sudah membawa cadangan sel telur sejak lahir. Saat bayi perempuan dilahirkan, ovarium sudah memiliki sekitar 1–2 juta folikel primordial. Namun jumlah ini tidak bertahan selamanya. Seiring waktu, sebagian besar folikel akan mengalami proses alami yang disebut atresia, yaitu berhenti berkembang dan akhirnya menghilang.

Ketika memasuki masa pubertas, jumlah folikel biasanya tersisa sekitar 300–400 ribu. Dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil yang akan berkembang sepanjang masa reproduksi perempuan. Setiap siklus menstruasi, tubuh memilih beberapa folikel untuk mulai berkembang. Namun biasanya hanya satu folikel dominan yang akhirnya mencapai tahap matang dan siap untuk ovulasi. Karena itulah, kualitas dan jumlah folikel menjadi faktor penting dalam menentukan potensi kesuburan perempuan.

Tahap Awal: Folikel yang “Tertidur”

Perjalanan sel telur dimulai dari tahap yang disebut primordial follicle. Pada tahap ini, folikel berada dalam keadaan yang sangat tenang atau “dormant”. Sel telur masih berukuran kecil dan hanya dikelilingi oleh satu lapisan sel pendukung yang disebut sel granulosa.

Folikel pada tahap ini bisa tetap berada dalam kondisi tidak aktif selama bertahun-tahun di dalam ovarium. Tubuh memiliki mekanisme khusus untuk mengatur kapan folikel mulai aktif dan berkembang. Salah satu faktor yang berperan dalam proses ini adalah Anti-Müllerian Hormone (AMH), yaitu hormon yang membantu mengatur jumlah folikel yang direkrut untuk berkembang. Tahap ini sangat penting karena menjadi titik awal dari seluruh perjalanan perkembangan sel telur.

Ketika Folikel Mulai Berkembang

Ketika folikel mulai aktif, ia akan memasuki tahap primary follicle dan kemudian berkembang menjadi secondary follicle. Pada tahap ini, beberapa perubahan penting mulai terjadi di dalam ovarium. Sel granulosa yang mengelilingi sel telur mulai bertambah jumlahnya dan membentuk lapisan yang lebih tebal. Di bagian luar folikel juga mulai terbentuk struktur lain yang disebut sel teka.

Perubahan ini tidak hanya bersifat struktural. Di dalam folikel juga terjadi komunikasi yang sangat aktif antara sel telur dan sel-sel pendukung di sekitarnya. Sel telur sebenarnya sangat bergantung pada lingkungan di sekitarnya. Sel granulosa membantu menyediakan nutrisi, sinyal biologis, dan perlindungan yang diperlukan agar sel telur dapat berkembang dengan baik. Hubungan antara sel telur dan sel pendukung ini menjadi salah satu kunci penting dalam menentukan kualitas oosit.

Folikel Mulai Membesar dan Membentuk Rongga Cairan

Seiring waktu, folikel yang berkembang akan memasuki tahap antral follicle. Pada tahap ini, folikel mulai membentuk rongga berisi cairan yang disebut antrum. Cairan ini mengandung berbagai molekul penting yang membantu mendukung perkembangan sel telur. Ukuran folikel juga mulai bertambah besar, dan aktivitas hormonal di dalam ovarium menjadi lebih aktif. Sel-sel di dalam folikel mulai memproduksi hormon estrogen, yang nantinya berperan dalam mengatur siklus menstruasi. Pada tahap ini pula folikel mulai merespons hormon dari otak, terutama Follicle Stimulating Hormone (FSH). Hormon ini membantu mendukung pertumbuhan folikel agar dapat mencapai tahap pematangan.

Dari beberapa folikel yang berkembang, tubuh biasanya akan memilih satu yang paling responsif terhadap hormon. Folikel inilah yang kemudian menjadi folikel dominan.

Tahap Akhir Sebelum Ovulasi

Ketika folikel dominan mencapai ukuran yang cukup besar, ia memasuki tahap pre-ovulatory follicle. Pada tahap ini, folikel menghasilkan kadar estrogen yang semakin tinggi. Hormon ini kemudian memicu lonjakan hormon lain yang disebut Luteinizing Hormone (LH). Lonjakan LH menjadi sinyal penting yang menandai bahwa sel telur telah siap untuk dilepaskan.

Proses pelepasan sel telur dari ovarium inilah yang dikenal sebagai ovulasi. Sel telur yang dilepaskan kemudian dapat bertemu dengan sperma di saluran reproduksi dan berpotensi untuk dibuahi.

Mengapa Usia Mempengaruhi Kualitas Sel Telur

Seiring bertambahnya usia, perubahan biologis mulai terjadi di dalam ovarium. Jumlah folikel secara alami akan terus menurun. Selain itu, kualitas sel telur juga dapat mengalami penurunan karena berbagai faktor biologis, seperti perubahan fungsi mitokondria dan meningkatnya stres oksidatif di dalam sel.

Perubahan ini dapat memengaruhi berbagai hal dalam proses reproduksi, mulai dari kualitas embrio hingga peluang keberhasilan kehamilan.

Itulah sebabnya usia reproduksi sering menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam perencanaan kehamilan.

Perjalanan Panjang Sebuah Sel Telur

Jika kita melihat keseluruhan prosesnya, perjalanan sebuah sel telur sebenarnya sangat kompleks. Dari folikel yang awalnya “tertidur”, hingga akhirnya menjadi sel telur matang yang siap untuk ovulasi, banyak proses biologis yang bekerja bersama. Regulasi hormon, komunikasi antar sel, serta lingkungan mikro di dalam ovarium semuanya berperan penting dalam mendukung perkembangan ini.

Memahami perjalanan ini membantu kita melihat bahwa kesuburan bukan hanya tentang satu momen dalam siklus menstruasi, tetapi tentang bagaimana tubuh menjaga keseimbangan biologis yang mendukung perkembangan sel telur sejak tahap awal. Pada akhirnya, kualitas sel telur tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya, tetapi juga oleh lingkungan biologis tempat ia berkembang di dalam ovarium.

Referensi

  • Esencan, E., Beroukhim, G., & Seifer, D. B. (2022). Age-related changes in Folliculogenesis and potential modifiers to improve fertility outcomes-A narrative review. Reproductive biology and endocrinology, 20(1), 156.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, ovarium, Sel telur

IVF pada Pasien dengan Respons Ovarium Rendah: Apakah Dosis Hormon Lebih Tinggi Selalu Lebih Baik?

March 9, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Dalam program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF), salah satu tantangan terbesar yang sering dihadapi dokter adalah menangani pasien dengan prediksi respons ovarium rendah. Kondisi ini biasanya ditemukan pada perempuan yang memiliki cadangan ovarium rendah, yang berarti jumlah folikel yang dapat berkembang di ovarium relatif sedikit.

Akibatnya, saat menjalani stimulasi ovarium dalam program IVF, jumlah sel telur yang dihasilkan juga cenderung lebih sedikit dibandingkan pasien dengan cadangan ovarium normal. Hal ini sering membuat peluang keberhasilan program menjadi lebih menantang.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, banyak klinisi mencoba meningkatkan dosis hormon stimulasi ovarium, terutama hormon follicle-stimulating hormone (FSH). Tujuannya sederhana: dengan stimulasi yang lebih kuat, diharapkan ovarium dapat menghasilkan lebih banyak sel telur sehingga peluang terbentuknya embrio yang baik juga meningkat.

Namun, pertanyaannya adalah: apakah peningkatan dosis hormon ini benar-benar meningkatkan peluang keberhasilan IVF?

Ketika Lebih Banyak Hormon Tidak Selalu Lebih Efektif

Sebuah penelitian klinis yang dipublikasikan dalam jurnal Human Reproduction mencoba mengevaluasi hal ini melalui studi randomized controlled trial, yaitu jenis penelitian yang dianggap sebagai standar emas dalam penelitian medis.

Penelitian tersebut melibatkan perempuan yang akan menjalani siklus IVF pertama dan memiliki prediksi respons ovarium rendah berdasarkan pemeriksaan cadangan ovarium. Para peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok menerima dosis hormon stimulasi yang lebih tinggi, sementara kelompok lainnya menjalani dosis standar yang biasa digunakan dalam praktik klinis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan dosis hormon tidak secara signifikan meningkatkan peluang kelahiran hidup dibandingkan dengan penggunaan dosis standar. Dengan kata lain, meskipun ovarium distimulasi dengan dosis hormon yang lebih besar, hal tersebut tidak otomatis menghasilkan keberhasilan yang lebih tinggi dalam program IVF.

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Pada pasien dengan cadangan ovarium rendah, keterbatasan utama sebenarnya terletak pada jumlah folikel yang tersedia di ovarium. Folikel-folikel ini sudah ditentukan sejak awal, sehingga stimulasi hormon hanya dapat membantu folikel yang memang sudah ada untuk berkembang.

Jika jumlah folikel yang tersedia memang sedikit, pemberian hormon dalam dosis yang jauh lebih tinggi tidak dapat menciptakan folikel baru. Oleh karena itu, peningkatan dosis hormon sering kali tidak memberikan perubahan besar terhadap hasil akhir program IVF.

Selain itu, penggunaan hormon dalam dosis yang terlalu tinggi juga dapat meningkatkan biaya pengobatan dan berpotensi menimbulkan efek samping yang tidak diperlukan, tanpa memberikan manfaat yang signifikan bagi keberhasilan program. Keberhasilan IVF tidak hanya bergantung pada seberapa tinggi dosis hormon yang diberikan, tetapi lebih pada pendekatan yang tepat dan individual bagi setiap pasien.

Dokter biasanya mempertimbangkan berbagai faktor, seperti usia pasien, cadangan ovarium, riwayat infertilitas dan respons terhadap stimulasi sebelumnya

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, terapi stimulasi ovarium dapat disesuaikan agar tetap efektif tanpa memberikan intervensi yang berlebihan.

Pada pasien dengan prediksi respons ovarium rendah, meningkatkan dosis hormon stimulasi ovarium tidak selalu meningkatkan peluang keberhasilan IVF. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kedokteran reproduksi, strategi yang lebih banyak belum tentu berarti hasil yang lebih baik. Pendekatan yang lebih personal dan berbasis kondisi biologis masing-masing pasien justru menjadi kunci dalam merancang program fertilitas yang optimal.

Referensi

  • Liu, X., Wen, W., Wang, T., Tian, L., Li, N., Sun, T., … & Shi, J. (2022). Increased versus standard gonadotrophin dosing in predicted poor responders of IVF: an open-label randomized controlled trial. Human Reproduction, 37(8), 1806-1815.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: dosis, IVF, ovarium

AMH Rendah dan Peluang IVF: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Ovarium?

March 1, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Banyak pasien datang dengan satu kalimat yang sama: “Dok, AMH saya rendah… berarti saya tidak bisa hamil ya?” AMH atau Anti-Müllerian Hormone sering dianggap sebagai “angka penentu harapan”. Padahal sebenarnya, AMH adalah gambaran tentang berapa banyak cadangan sel telur yang masih tersisa di ovarium bukan jaminan berhasil atau tidaknya kehamilan. Bagaimana hasil IVF pada pasien dengan AMH rendah dibandingkan dengan mereka yang memiliki AMH normal?

Bayangkan ovarium seperti kebun.
Pada AMH normal, jumlah “bibit” yang bisa tumbuh saat distimulasi relatif lebih banyak.
Pada AMH rendah, bibit yang tersedia memang lebih sedikit.

Pasien dengan AMH sangat rendah (di bawah 0,5 ng/ml):

  • Menghasilkan lebih sedikit folikel saat stimulasi
  • Mendapatkan lebih sedikit sel telur saat proses OPU
  • Memiliki jumlah sel telur matang yang lebih rendah
  • Membentuk embrio dalam jumlah yang lebih sedikit
  • Lebih jarang memiliki embrio untuk dibekukan

Bahkan dalam beberapa kasus, saat dilakukan pengambilan sel telur, tidak ditemukan sel telur yang bisa diambil. Ini menjelaskan mengapa peluang kehamilan pada kelompok AMH sangat rendah sekitar setengah dari kelompok AMH normal.

Tapi Ceritanya Tidak Berhenti di Situ

Menariknya, ketika kehamilan berhasil terjadi, angka keguguran dan kelahiran hidup tidak jauh berbeda dengan pasien yang memiliki AMH normal. Artinya, masalah utama bukan pada kemampuan mempertahankan kehamilan. Tantangannya ada pada fase awal yaitu mencapai kehamilan itu sendiri. Dengan kata lain AMH rendah lebih memengaruhi “kesempatan mencoba”, bukan kualitas akhir jika kehamilan sudah terjadi.

Jadi, Haruskah Khawatir Jika AMH Rendah?

AMH rendah bukan vonis. Namun memang menjadi sinyal bahwa:

  • Respons terhadap obat stimulasi mungkin tidak optimal
  • Jumlah sel telur yang didapatkan mungkin lebih sedikit
  • Peluang kehamilan bisa lebih rendah dibandingkan AMH normal

Tapi itu bukan berarti tidak mungkin, banyak pasien dengan AMH rendah tetap bisa hamil, terutama bila usia masih mendukung dan strategi terapi disesuaikan secara individual. Intinya AMH membantu kita memahami cadangan ovarium. Namun hasil IVF tidak hanya ditentukan oleh satu angka. Cadangan sel telur, kualitas sel telur, usia, respons tubuh terhadap stimulasi, hingga kondisi pasangan semuanya berperan dalam satu perjalanan yang kompleks.

Karena dalam dunia fertilitas, bukan hanya soal “berapa banyak yang tersisa”, tetapi juga bagaimana kita mengoptimalkan setiap peluang yang ada. Dan setiap pasien selalu memiliki cerita yang berbeda.

Referensi

  • Armijo, O., Alonso-Luque, B., Vargas, S., García, E., Iniesta, S., & Hernández, A. (2021). Results of IVF-ICSI cycles in low responder patients: An observational study. Medicina Reproductiva y Embriología Clínica, 8(3), 100109.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: amh, ovarium

Harapan Baru untuk Cadangan Ovarium Rendah: Mengaktifkan Folikel “Tertidur”

February 25, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Di dalam ovarium perempuan, terdapat ribuan folikel kecil yang menyimpan sel telur. Setiap bulan, sebagian folikel ini tumbuh dan satu di antaranya akan matang untuk dilepaskan saat ovulasi.

Namun pada beberapa kondisi seperti Primary Ovarian Insufficiency (POI)  ketika fungsi ovarium menurun sebelum usia 40 tahun  jumlah folikel yang aktif sangat sedikit. Selama ini, banyak pasien POI hanya memiliki satu pilihan realistis untuk hamil: menggunakan donor sel telur.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Ovarium?

Penelitian menemukan bahwa pertumbuhan folikel ternyata diatur oleh jalur sinyal biologis di dalam sel, salah satunya disebut Hippo signaling pathway.

Secara sederhana, jalur Hippo ini berfungsi seperti “rem” yang menjaga agar pertumbuhan jaringan tetap terkendali. Jika jalur ini terlalu aktif, folikel bisa tetap berada dalam kondisi “tidur”.

Di sisi lain, ada jalur lain bernama Akt signaling, yang berperan seperti “tombol gas” untuk merangsang pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel. Keseimbangan antara “rem” dan “gas” inilah yang menentukan apakah folikel akan tumbuh atau tetap dorman.

Bagaimana Cara Mengaktifkan Folikel yang Tersisa?

Para peneliti mencoba pendekatan yang disebut in vitro activation (IVA).

Langkahnya secara garis besar seperti ini:

  1. Ovarium (atau sebagian jaringan ovarium) diambil melalui prosedur bedah minimal invasif.
  2. Jaringan tersebut dipotong menjadi fragmen kecil proses ini ternyata dapat “mengganggu” jalur Hippo.
  3. Jaringan kemudian diberikan stimulasi obat untuk mengaktifkan jalur Akt.
  4. Setelah itu, jaringan ovarium ditanam kembali ke tubuh pasien (autograft).

Mengapa Ini Penting? Pendekatan ini membuka kemungkinan baru untuk Pasien dengan Primary Ovarian Insufficiency (POI), Wanita dengan cadangan ovarium rendah, Pasien kanker yang berisiko kehilangan fungsi ovarium akibat terapi. Perempuan usia matang dengan respons ovarium yang sangat terbatas

Artinya, pada kondisi tertentu, ovarium yang “terlihat tidak aktif” mungkin masih menyimpan potensi hanya saja perlu pendekatan yang tepat untuk membangunkannya. Tentu saja, terapi ini tidak cocok untuk semua pasien dan masih memerlukan seleksi serta evaluasi ketat. Namun konsep bahwa folikel “tidur” bisa diaktifkan kembali mengubah cara kita memandang infertilitas akibat cadangan ovarium rendah. Dulu, pilihannya hampir selalu donor sel telur. Kini, ada kemungkinan menggunakan sel telur sendiri pada kondisi yang tepat. Ilmu reproduksi terus berkembang. Dan setiap perkembangan baru memberi satu hal yang sangat berarti bagi banyak pasangan harapan. 

Referensi

  • Kawamura, K., Cheng, Y., Suzuki, N., Deguchi, M., Sato, Y., Takae, S., … & Hsueh, A. J. (2013). Hippo signaling disruption and Akt stimulation of ovarian follicles for infertility treatment. Proceedings of the National Academy of Sciences, 110(43), 17474-17479.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: low amh, ovarium

Chemical IVA vs Fragmentasi Ovarium: Benarkah Aktivasi Kimia Lebih Unggul untuk Membangunkan Folikel pada POI?

February 21, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Bayangkan seorang perempuan usia 32 tahun didiagnosis Premature Ovarian Insufficiency (POI). Siklus haidnya berhenti, kadar hormon berubah, dan ia diberi tahu bahwa cadangan ovariumnya sangat rendah. Namun ketika jaringan ovariumnya diperiksa lebih dalam, ternyata masih ada folikel primordial sel telur yang ada, tetapi seperti tertidur.

Dari sinilah konsep In Vitro Activation (IVA) berkembang: sebuah upaya “membangunkan” folikel yang dorman dengan memproses jaringan ovarium di luar tubuh sebelum ditanam kembali. Pahami lebih lanjut yuk!

Dua Cara Membangunkan Folikel:  Fragmentasi (Mechanical IVA)

Pada metode ini, jaringan ovarium dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Tindakan ini bukan sekadar teknis ia mengganggu jalur biologis bernama Hippo pathway, yang berperan menjaga folikel tetap dalam keadaan dorman.

Ketika jalur ini terganggu, folikel menerima sinyal bahwa “lingkungan berubah”, dan sebagian mulai aktif. Tidak ada obat tambahan. Hanya manipulasi mekanis jaringan.

Chemical IVA (cIVA), Metode ini menambahkan stimulasi kimia setelah fragmentasi.
Jalur pertumbuhan sel yang disebut PI3K–Akt diaktifkan dengan tujuan mendorong folikel berkembang lebih cepat dan lebih banyak. Secara teori, ini seperti memberi “gas tambahan” setelah mesin dinyalakan. Pertanyaannya: Apakah gas tambahan ini benar-benar membuat hasilnya jauh lebih baik?

 

Apa yang Terjadi di Dalam Jaringan?

Secara kasat mata (melihat jaringan di bawah mikroskop), chemical IVA memang tampak lebih agresif:

  • Lebih banyak folikel berkembang ke tahap lanjut
  • Ukuran folikel lebih besar
  • Tampak lebih aktif

Namun ketika dilihat lebih dalam bukan hanya bentuknya, tetapi aktivitas biologis di dalam sel ceritanya menjadi lebih kompleks.

Ternyata, hanya dengan memotong dan mengultur jaringan saja, tubuh sudah memberikan respons besar baik metabolisme energi meningkat, jalur inflamasi aktif, sistem pertumbuhan seperti mTOR menyala dan gen yang mengatur hormon lokal ikut berubah. Artinya, proses fragmentasi itu sendiri sudah cukup untuk menciptakan “kejutan biologis” pada ovarium.

Chemical IVA memang memperkuat beberapa jalur tersebut. Tetapi perbedaannya tidak sedrastis yang dibayangkan.

Hal yang Perlu Diperhatikan pada IVA

Ya, chemical IVA dapat meningkatkan pertumbuhan folikel.
Namun beberapa hal perlu dipertimbangkan:

  • Perbedaan molekuler dibanding fragmentasi saja ternyata relatif kecil
  • Dampak jangka panjang terhadap kualitas oosit belum sepenuhnya diketahui
  • Jalur PI3K Akt juga berperan dalam regulasi pembelahan sel secara umum, sehingga aspek keamanan tetap menjadi perhatian

Ini penting, terutama bagi pasien yang menjalani fertility preservation, termasuk pasien kanker yang ingin menjaga peluang kehamilan di masa depan.

Karena dalam reproduksi, pertanyaan besarnya bukan hanya:
“Bisakah folikel tumbuh?”

Tetapi juga:
“Apakah oosit yang dihasilkan berkualitas dan aman dalam jangka panjang?”

Karena dalam dunia fertilitas, bukan hanya pertumbuhan yang penting tetapi kualitas, keseimbangan, dan keamanan jangka panjang.

Referensi

  • Hao, J., Li, T., Heinzelmann, M., Moussaud-Lamodière, E., Lebre, F., Krjutškov, K., … & Damdimopoulou, P. (2024). Effects of chemical in vitro activation versus fragmentation on human ovarian tissue and follicle growth in culture. Human Reproduction Open, 2024(3), hoae028.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Aktivitas Kimia, ovarium

  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.