• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

ovarium

Endometriosis Ovarium dan Fertilitas: Mengapa Pembekuan Sel Telur Perlu Dipertimbangkan Lebih Dini

January 2, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Endometriosis bukan sekadar soal nyeri haid atau kista di ovarium. Pada banyak perempuan, kondisi ini diam-diam memengaruhi kesuburan bahkan jauh sebelum kehamilan benar-benar direncanakan. Salah satu bentuk endometriosis yang paling berdampak pada fertilitas adalah endometriosis ovarium atau endometrioma.

Dalam perjalanan klinisnya, perempuan dengan endometriosis ovarium sering dihadapkan pada dilema besar:
mengobati penyakitnya, atau menjaga cadangan ovarium agar peluang hamil tetap terbuka.

Di titik inilah pembekuan sel telur (oocyte cryopreservation) mulai mendapat perhatian sebagai bagian penting dari perawatan endometriosis yang lebih menyeluruh.

Mengapa Endometriosis Ovarium Sangat Berkaitan dengan Infertilitas

Endometriosis ditemukan pada sekitar 30–50% perempuan infertil, dan hampir setengah dari mereka pada akhirnya membutuhkan teknologi reproduksi berbantu seperti IVF untuk mencapai kehamilan.

Khusus pada endometrioma:

  • kadar AMH cenderung lebih rendah,
  • penurunan cadangan ovarium terjadi lebih cepat dibanding perempuan seusia tanpa endometriosis,
  • dan risiko infertilitas meningkat seiring waktu.

Endometrioma tidak hanya “menempati ruang” di ovarium. Cairan di dalam kista mengandung zat yang bersifat toksik, seperti zat besi bebas, yang dapat merusak jaringan ovarium di sekitarnya. Selain itu, peregangan kronis pada korteks ovarium akibat kista juga berkontribusi pada hilangnya folikel primordial secara perlahan.

Artinya, kerusakan cadangan ovarium sering kali sudah terjadi bahkan sebelum tindakan operasi dilakukan.

Operasi Endometrioma: Solusi yang Tidak Bebas Konsekuensi

Operasi kistektomi ovarium masih menjadi salah satu terapi utama endometriosis ovarium. Namun, bukti ilmiah konsisten menunjukkan bahwa tindakan ini hampir selalu diikuti oleh penurunan AMH pascaoperasi dan penurunan ini bersifat permanen.

Risiko terbesar terjadi pada:

  • operasi bilateral,
  • endometrioma berukuran besar,
  • atau operasi berulang.

Bahkan pada tangan ahli bedah berpengalaman, pengangkatan endometrioma hampir tidak bisa sepenuhnya menghindari terangkatnya jaringan ovarium sehat. Inilah alasan mengapa semakin banyak literatur menyarankan agar keputusan operasi tidak berdiri sendiri, tetapi dipertimbangkan bersama strategi menjaga fertilitas.

Pembekuan Sel Telur: Dari Onkologi ke Endometriosis

Awalnya, pembekuan sel telur dikembangkan untuk pasien kanker yang berisiko kehilangan fungsi reproduksi akibat kemoterapi. Namun dalam satu dekade terakhir, teknik ini berkembang pesat dan kini diakui sebagai metode preservasi fertilitas yang aman dan efektif, termasuk untuk perempuan dengan endometriosis.

Teknologi vitrification modern memungkinkan:

  • tingkat kelangsungan hidup sel telur yang tinggi setelah pencairan,
  • tidak meningkatkan risiko kelainan pada bayi,
  • serta hasil kehamilan yang sebanding dengan sel telur segar, terutama pada usia muda.

Bagi perempuan dengan endometriosis ovarium, pembekuan sel telur memberikan ruang waktu kesempatan untuk menunda kehamilan tanpa sepenuhnya mengorbankan peluang di masa depan.

Kapan Pembekuan Sel Telur Paling Memberi Manfaat?

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa hasil terbaik diperoleh bila pembekuan sel telur dilakukan:

  • sebelum usia 35 tahun, dan
  • sebelum operasi ovarium, terutama jika terdapat endometrioma besar atau bilateral.

Usia memengaruhi kualitas sel telur, sementara operasi memengaruhi jumlahnya. Kombinasi usia muda dan ovarium yang belum mengalami trauma bedah memberikan peluang terbaik untuk memperoleh jumlah sel telur matang yang optimal.

Pada perempuan dengan endometriosis, kualitas sel telur umumnya tidak jauh berbeda dibandingkan perempuan tanpa endometriosis pada usia yang sama yang menjadi tantangan utama adalah jumlahnya.

Stimulasi Ovarium pada Endometriosis: Apa yang Perlu Diketahui

Perempuan dengan endometriosis cenderung memerlukan:

  • dosis hormon stimulasi yang lebih tinggi,
  • dan terkadang hasil jumlah sel telur yang lebih rendah dibanding penyebab infertilitas lain.

Namun, proses stimulasi terbukti relatif aman:

  • tidak memperbesar ukuran endometrioma,
  • tidak meningkatkan komplikasi berarti,
  • dan dapat dilakukan berulang untuk mengumpulkan jumlah sel telur yang memadai.

Bahkan bila hasil siklus pertama terasa “sedikit”, pengulangan siklus sering kali memungkinkan total sel telur yang cukup untuk disimpan.

Berapa Banyak Sel Telur yang Ideal untuk Dibekukan?

Tidak ada angka pasti yang menjamin kehamilan. Namun, secara umum:

  • usia ≤35 tahun disarankan menyimpan 10–15 sel telur matang,
  • semakin bertambah usia, jumlah yang dibutuhkan untuk peluang yang sama akan meningkat.

Pada perempuan dengan endometriosis, strategi ini perlu lebih fleksibel dan realistis, disesuaikan dengan kondisi ovarium, usia, dan rencana hidup pasien.

Apakah Pembekuan Sel Telur Selalu Akan Digunakan?

Menariknya, tingkat “kembali menggunakan” sel telur beku pada perempuan dengan endometriosis relatif tinggi dibanding pembekuan elektif. Ini menunjukkan bahwa bagi banyak pasien, pembekuan sel telur bukan sekadar “jaga-jaga”, melainkan bagian dari strategi nyata menghadapi infertilitas yang mungkin terjadi.

Endometriosis adalah penyakit kronis dengan perjalanan panjang dan risiko berulang. Pendekatan yang hanya berfokus pada menghilangkan lesi tanpa mempertimbangkan masa depan fertilitas sering kali membuat perempuan kehilangan pilihan.

Pembekuan sel telur bukan solusi untuk semua orang, dan bukan kewajiban bagi setiap pasien endometriosis. Namun, diskusi tentang preservasi fertilitas seharusnya menjadi bagian awal dari perawatan, bukan pilihan yang datang terlambat.

Karena keputusan terbaik hanya bisa diambil ketika perempuan ketika berhasil memahami kondisi tubuhnya, mengetahui risiko setiap tindakan, dan diberi ruang untuk memilih dengan sadar.

Referensi

  • Mifsud, J. M., Pellegrini, L., & Cozzolino, M. (2023). Oocyte cryopreservation in women with ovarian endometriosis. Journal of clinical medicine, 12(21), 6767.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, ovarium, Sel telur

Folat dan Cadangan Ovarium: Apakah Benar Bisa Mempengaruhi AFC, Sister?

December 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini kita mengenal folat sebagai vitamin penting sebelum hamil wajib diminum karena melindungi bayi dari cacat tabung saraf. Tapi siapa sangka, folat ternyata punya peran lain yang jarang dibahas: ia ikut menyentuh kesehatan ovarium, bahkan bisa berhubungan dengan jumlah folikel kecil yang menjadi “calon-calon sel telur” kita.

Folikel ini dikenal sebagai antral follicle count atau AFC. Kalau AFC banyak, ovarium punya cadangan yang lebih baik dan biasanya lebih responsif terhadap program hamil seperti IVF.
Kalau sedikit, tubuh cenderung bekerja lebih keras untuk mendapatkan hasil yang sama.

Nah, pertanyaannya: apakah asupan folat benar-benar bisa membantu menjaga atau meningkatkan AFC? Ternyata, ada petunjuk ke arah sana.

Folat yang Cukup: Lingkungan Ovarium yang Lebih Sehat

Dalam penelitian besar yang dilakukan di sebuah klinik fertilitas akademik, para peneliti melihat pola sederhana: semakin cukup asupan folatnya, jumlah folikel antral perempuan cenderung sedikit lebih tinggi. Bukan lonjakan besar, tapi ada peningkatan nyata sekitar satu sampai satu setengah folikel tambahan jika asupan folatnya lebih tinggi.

Tentu, angka ini kecil. Tapi dalam dunia kesuburan, satu folikel tambahan sering kali bisa membawa perbedaan besar. Satu folikel berarti satu kesempatan lagi untuk mendapatkan sel telur. Satu sel telur berarti satu peluang ekstra bagi embrio terbentuk.

Ternyata Suplemen Memberikan Efek Terkuat

Yang menarik, folat dari makanan memang baik untuk kesehatan umum, tapi efeknya terhadap ovarium tidak terlalu terlihat. Justru folat dari suplemen yang terlihat paling konsisten memberikan manfaat.

Ada pola jelas: Sampai sekitar 800 mikrogram folat dari suplemen per hari, AFC terlihat meningkat. Tapi setelah lewat angka itu, manfaatnya seperti “mentok” tidak terus naik walaupun dosis ditambah.

Ini memberi gambaran bahwa ovarium kita merespons folat sampai titik tertentu. Lebih dari itu tidak membuat ovarium bekerja lebih baik, tapi juga tidak berbahaya.

Kenapa Folat Bisa Memengaruhi Cadangan Ovarium?

Kalau kita lihat dari sisi tubuh, semuanya masuk akal. Folat adalah vitamin yang sangat penting dalam pembentukan DNA dan pembelahan sel dua proses utama dalam pertumbuhan folikel. Ketika tubuh kekurangan folat, beberapa hal bisa terjadi: pembelahan sel tidak optimal, sel menjadi lebih mudah stres, proses metilasi terganggu, muncul lebih banyak peradangan, dan sel granulosa (yang menjaga folikel) jadi lebih rentan rusak.
Gabungan hal-hal inilah yang membuat folikel lebih cepat mengalami kematian atau gagal berkembang.

Sebaliknya, saat folat cukup, ovarium memiliki lingkungan yang lebih tenang, lebih stabil, dan lebih siap mendukung pertumbuhan folikel. Karena itu, wajar jika AFC terlihat sedikit lebih tinggi pada perempuan yang folatnya mencukupi.

Folat Bukan Pengubah Takdir, Tapi Ia Memberi “Support Kecil yang Berarti”

Walau begitu, folat bukanlah vitamin ajaib yang langsung menaikkan AMH atau membuat ovarium kembali muda. Tidak. Efeknya bukan sebesar itu.

Folat lebih seperti teman baik yang selalu hadir: tidak mengubah semuanya sendirian, tapi memberi dukungan kecil yang membuat proses dalam tubuh berjalan lebih mulus. Ia membantu menjaga lingkungan ovarium tetap sehat, menjaga siklus menstruasi lebih stabil, dan mendukung proses pembentukan sel telur berlangsung sebagaimana mestinya.

Dan yang terpenting: folat aman, murah, dan memiliki manfaat besar untuk kehamilan itu sendiri. Jadi memperbaiki asupan folat baik dari makanan maupun suplemen adalah langkah sederhana yang benar-benar masuk akal, terutama kalau sedang merencanakan kehamilan. Folat memang tidak membuat AFC melejit, tapi ia terlihat memberikan sedikit dorongan positif kecil namun berarti.

Kalau sister sedang promil atau sedang menjaga kesehatan reproduksi, pastikan asupan folatmu cukup setiap hari. Tidak perlu dosis berlebihan, karena manfaat terbaik justru ada pada dosis yang moderat dan konsisten.

Intinya, folat membantu ovarium bekerja di kondisi terbaiknya. Dan di perjalanan menuju dua garis, kadang dukungan kecil seperti inilah yang membuat perbedaan besar. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Kadir, M., Hood, R. B., Mínguez-Alarcón, L., Maldonado-Cárceles, A. B., Ford, J. B., Souter, I., … & EARTH Study Team. (2022). Folate intake and ovarian reserve among women attending a fertility center. Fertility and sterility, 117(1), 171-180.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, ovarium, suplemen

Akupunktur & Ovarium: Pendekatan “Mencegah Sebelum Sakit” dalam Menjaga Cadangan Ovarium

October 15, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Penurunan cadangan ovarium (Diminished Ovarian Reserve, DOR) sering jadi tantangan bagi banyak perempuan yang sedang berjuang mendapatkan dua garis. Kondisi ini menunjukkan ovarium mulai berkurang kemampuannya menghasilkan sel telur yang cukup dan berkualitas. Akibatnya, peluang hamil ikut menurun baik secara alami maupun lewat IVF.

Dalam pengobatan modern, DOR sering dikaitkan dengan kadar AMH yang menurun dan FSH yang meningkat, menandakan fungsi ovarium yang melemah. Namun, dari perspektif pengobatan tradisional Tiongkok, masalah ini tidak hanya soal hormon, tapi juga aliran energi dan keseimbangan tubuh secara menyeluruh

Pendekatan “Mencegah Sebelum Sakit”

Konsep “preventive treatment of disease” sudah dikenal sejak ribuan tahun dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Prinsipnya sederhana tapi kuat: menyeimbangkan tubuh sebelum penyakit berkembang.

Akupunktur berperan sebagai “penjaga keseimbangan” dengan cara:

  • Menyeimbangkan Yin dan Yang, dua energi utama dalam tubuh.
  • Melancarkan aliran darah dan energi (Qi) di meridian, terutama di area reproduksi.
  • Menguatkan energi vital (Qi) agar tubuh lebih tahan terhadap stres dan gangguan.
  • Menenangkan pikiran dan emosi, karena keseimbangan mental juga memengaruhi sistem reproduksi.

Dengan cara ini, akupunktur tidak hanya mengobati gejala, tapi juga memperkuat sistem tubuh dari dalam menjaga agar fungsi ovarium tidak semakin menurun.

Hubungan Meridian dan Organ Reproduksi

Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, rahim dan ovarium terhubung erat dengan beberapa jalur energi utama (meridian) seperti:

  • Ren dan Chong meridian, yang mengatur aliran darah dan siklus menstruasi.
  • Liver meridian, yang bertanggung jawab menjaga kelancaran aliran Qi dan darah ke organ reproduksi.
  • Kidney meridian, yang dianggap sebagai “akar kesuburan,” menyimpan energi dan esensi kehidupan.
  • Spleen dan Heart meridian, yang mendukung pembentukan darah dan kestabilan emosi.

Kalau salah satu dari meridian ini terganggu, aliran Qi dan darah bisa tersendat — ibaratnya seperti pipa air yang tersumbat. Akibatnya, ovarium kehilangan suplai energi dan nutrisi yang dibutuhkan untuk mematangkan sel telur.

Bagaimana Akupuntur Membantu?

Penelitian terbaru (Pan et al., 2023) menjelaskan bahwa akupunktur dapat memengaruhi tubuh lewat beberapa mekanisme biologis, seperti:

  • Menormalkan kadar hormon reproduksi (FSH, AMH, dan estradiol)
  • Memperbaiki sirkulasi darah dan oksigen di ovarium
  • Mengurangi stres oksidatif dan apoptosis (kematian sel) pada sel granulosa
  • Meningkatkan kualitas dan kuantitas sel telur
  • Memperbaiki siklus haid dan memperbaiki suasana hati

Studi-studi meta-analisis juga menemukan bahwa pasien DOR yang menjalani terapi akupunktur menunjukkan peningkatan jumlah folikel antral, ovulasi yang lebih teratur, dan peluang kehamilan yang lebih tinggi dibandingkan terapi medis tunggal.

Intinya, Akupunktur Bukan Sekadar “Tusuk Jarum”

Akupunktur bekerja sebagai terapi pendukung yang menyeimbangkan tubuh fisik dan mental  agar lebih siap untuk hamil. Dengan menjaga aliran energi dan fungsi organ yang harmonis, tubuh menjadi lebih responsif terhadap pengobatan medis seperti IVF.

Pendekatan pengobatan tradisional Tiongkok mengingatkan kita bahwa kesehatan reproduksi bukan hanya tentang hormon, tapi tentang keseimbangan tubuh secara utuh dari meridian, organ, sampai pikiran. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi:

Pan, S.A., Murong, Z.M., Zhu, Y.L., Song, J.W., Chang, X.R., Liu, Y., & Yue, Z.H. (2023). Discussion on Relationship between Meridians and Viscera of Decreased Ovarian Reserve from the Perspective of “Preventive Treatment of Disease” by Acupuncture. World Journal of Traditional Chinese Medicine, 9(2), 111–122. DOI: 10.4103/2311-8571.378173

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: akupuntur, ovarium, Sel telur

Usia Ovarium: Bukan Hanya Soal Sel Telur, Tapi Proses Penuaan yang Kompleks pada Wanita

July 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Ketika kita berbicara tentang kesuburan wanita, usia ovarium atau usia indung telur sering dianggap sebagai penyebab utama masalah kesuburan. Secara tradisional, kita tahu bahwa kemampuan reproduksi wanita mulai menurun di pertengahan usia 30-an, menstruasi mulai tidak teratur di pertengahan 40-an, dan akhirnya kesuburan berhenti sama sekali sebelum mencapai menopause di awal 50-an. Semua ini dikaitkan dengan penurunan jumlah dan kualitas sel telur (oosit) seiring bertambahnya usia.

Pada artikel kali ini MDG akan membahas lebih lanjut bagaimana proses ini terjadi, dan bagaimana peran yang dimiliki. Baca sampai akhir ya

Ketahui Apa saja Faktor-faktor Penuaan Ovarium

Kenapa Peluang Kehamilan Bisa Menurun Seiring Usia?

Sister, pernah nggak sih kepikiran… kenapa makin bertambah usia, peluang untuk hamil jadi makin kecil?

Ternyata jawabannya nggak cuma soal jumlah sel telur yang berkurang. Di balik itu, ada proses biologis yang kompleks yang secara perlahan memengaruhi fungsi ovarium kita.

Setidaknya ada beberapa proses penting yang perlu sister pahami:

Mitokondria dan Stres Oksidatif

Mitokondria dikenal sebagai “pembangkit energi” dalam sel. Tapi seiring bertambahnya usia, fungsi mitokondria di sel-sel ovarium bisa menurun. Akibatnya, sel ovarium jadi kurang optimal dalam menjalankan tugasnya.

Selain itu, tubuh kita juga bisa mengalami stres oksidatif, yaitu kondisi saat radikal bebas dalam tubuh lebih banyak daripada antioksidan. Ketidakseimbangan ini yang juga bisa dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup dapat merusak sel-sel ovarium dan mempercepat penuaan.

Perubahan di Lingkungan Seluler

Indung telur nggak cuma terdiri dari sel telur, tapi juga dikelilingi oleh jaringan pendukung yang disebut matriks ekstraseluler.

Bayangkan ini seperti “lantai dan tembok” yang menopang dan mengatur lingkungan kerja sel-sel ovarium. Nah, seiring bertambahnya usia, bagian pendukung ini juga bisa mengalami perubahan. Kalau struktur pendukungnya terganggu, maka sel-sel ovarium pun jadi nggak bekerja seefisien dulu dan itu bisa berdampak pada kesuburan.

Peran Sel Imun

Jaringan pendukung utama di indung telur yang disebut stroma ovarium juga dihuni oleh sel-sel imun. Baik dari sistem kekebalan bawaan maupun adaptif, sel-sel ini ikut berperan dalam proses penuaan ovarium. Jadi, sistem imun kita bukan cuma bertugas melawan penyakit, tapi juga bisa memengaruhi bagaimana organ reproduksi menua.

Memahami semua proses ini sangat krusial, sister. Karena kalau kita tahu apa yang terjadi di dalam tubuh, kita bisa lebih siap dalam merancang strategi pengobatan atau perawatan yang tepat terutama untuk memperlambat penuaan ovarium.

Mengapa Penting Menjaga Kesehatan Ovarium?

Menjaga kesehatan ovarium, terutama dengan memperlambat proses penuaannya, bukan cuma soal memperpanjang masa subur. Lebih dari itu, dampaknya bisa sangat luas.

Kalau fungsi ovarium tetap optimal, kita juga bisa meringankan berbagai efek samping menopause yang sering bikin tidak nyaman seperti masalah pada tulang dan otot (sistem muskuloskeletal), gangguan jantung dan pembuluh darah (sistem kardiovaskular), hingga keluhan pada sistem saraf.

Jadi, menjaga ovarium bukan cuma soal “bisa punya anak atau tidak”, tapi soal menjaga kualitas hidup perempuan di usia yang lebih matang. Supaya tetap sehat, aktif, dan bisa menikmati hidup dengan lebih baik di masa-masa penting kedepannya. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Camaioni, A., Ucci, M. A., Campagnolo, L., De Felici, M., Klinger, F. G., & Italian Society of Embryology, Reproduction and Research (SIERR). (2022). The process of ovarian aging: it is not just about oocytes and granulosa cells. Journal of assisted reproduction and genetics, 39(4), 783-792.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ovarium, Penuaan, Sel telur, Usia

Bukan Cuma Rahim dan Hormon, Mikrobiota Juga Punya Peran!

June 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Kalau selama ini kita mikir soal kesuburan cuma sebatas rahim, ovarium, atau hormon ternyata ada bagian lain dari tubuh yang diam-diam punya peran penting ini berkaitan dengan mikrobiota! Yuk bahas lebih lanjut!

Jadi apa Itu Mikrobiota
Sebelum itu pahami dulu yuk apa itu mikrobiota, jadi ia adalah kumpulan bakteri baik (dan kadang jahat juga) yang hidup di berbagai bagian tubuh, termasuk usus dan area kewanitaan. Mereka punya tugas masing-masing, mulai dari bantu pencernaan sampai jaga sistem imun.

Jadi kehadirannya sangat penting, lalu bagaimana jika keseimbangan bakteri ini juga bisa ngaruh ke kesuburan perempuan.

Fungsi Mikrobiota dan Kesehatan Reproduksi

Pada proses reproduksi jika mikroba di usus atau vagina terganggu, misalnya karena stres, pola makan nggak sehat, atau infeksi bisa muncul berbagai masalah. Nggak cuma gangguan pencernaan, tapi juga masalah di area reproduksi seperti:

  • Endometriosis

  • PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)

  • Nyeri panggul yang nggak jelas penyebabnya

  • Bahkan infertilitas alias susah hamil

Nah, disinilah probiotik dapat menjadi solusi dari kasus ini. Probiotik adalah bakteri baik yang bisa bantu “menyeimbangkan” mikrobiota dalam tubuh. Banyak yang percaya, kalau mikrobiota kembali sehat, tubuh pun jadi lebih siap untuk hamil.

Tapi bukan berarti semua langsung cocok ya. Efek probiotik bisa beda-beda tergantung kondisi tubuh, jenis bakteri yang dikonsumsi, dan cara mengkonsumsinya ada dua baik oral atau langsung ke area vagina.

Apa yang dapat kita Lakukan untuk Menjaga Pencernaan

Meskipun dunia medis masih terus belajar soal ini, satu hal sudah jelas: menjaga kesehatan usus dan vagina itu penting. Beberapa hal simpel yang bisa dilakukan antara lain dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dan rendah gula, mengurangi stres, menjaga kebersihan area kewanitaan tanpa produk yang berlebihan, dan tentu saja, pada langkah yang lebih lanjut, berkonsultasi dengan dokter. Karena masalah kesuburan itu kadang dimulai dari hal-hal yang kita anggap sepele seperti urusan bakteri di usus dan vagina. Informasi lebih lanjut follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Favaron, A., Turkgeldi, E., Elbadawi, M., Gaisford, S., Basit, A. W., & Orlu, M. (2024). Do probiotic interventions improve female unexplained infertility? A critical commentary. Reproductive BioMedicine Online, 48(4), 103734.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hormon, mikrobiota usus, mikrobiota vagina, ovarium

Mengenal Kegagalan Ovarium Prematur: Penyebab dan Pengobatan yang Tepat!

April 29, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

 

Sister, pernah dengar tentang kegagalan ovarium prematur atau yang biasa disebut Premature Ovarian Failure (POF)? Nah ini adalah kondisi ketika ovarium berhenti berfungsi sebelum usia 40 tahun. Gejalanya biasanya berupa amenore atau tidak menstruasi, hipoestrogenisme atau kadar hormon estrogen yang rendah, dan peningkatan kadar gonadotropin dalam darah. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab umum infertilitas pada wanita muda. POF bukan hanya soal tidak adanya haid, tapi juga sinyal bahwa fungsi reproduksi terganggu lebih awal dari yang seharusnya. Wah kira-kira apa penyebabnya? pahami lebih lanjut yuk!

Penyebab Kegagalan Ovarium Prematur: Bukan Cuma Soal Usia, Sister

Kegagalan ovarium prematur alias POF (Premature Ovarian Failure) itu nggak cuma soal “tua sebelum waktunya”. Banyak faktor yang bisa jadi penyebabnya, dan beberapa di antaranya cukup serius. Yuk kita bahas satu per satu. 

Pertama ada kelainan kromosom, contohnya sindrom Turner (45X) atau variannya yang sering disebut “mosaik Turner”. Kondisi ini bisa bikin ovarium nggak berkembang dengan baik sejak awal. Kedua adalah Kerusakan ovarium akibat pengobatan atau operasi seperti  kemoterapi, radiasi, atau operasi di sekitar area panggul, ada kemungkinan ovarium kamu ikut terdampak.

Ketiga, ada Premutasi Gen FMR1 – Gen Terkait Sindrom Fragile X Gen ini penting banget karena berperan dalam perkembangan saraf. Kalau ada premutasi (55–200 pengulangan CGG), sekitar 20% wanita bisa mengalami kegagalan ovarium prematur. Premutasi ini sering ditemukan pada kasus POF sporadis (yang nggak diturunkan secara genetik), dan bisa mencapai 13% pada kasus familial. Walau belum jelas gimana mekanismenya, kemungkinan besar ada dua skenario yaitu jumlah sel telur memang lebih sedikit sejak awal, atau sel telurnya habis lebih cepat dari seharusnya.

Keempat adalah penyebab autoimun bagaimana sistem kekebalan tubuh kita bisa “salah target” dan menyerang jaringan sendiri, termasuk ovarium. POF karena autoimun ini juga sering dikaitkan dengan gangguan di organ endokrin lain, seperti tiroid, adrenal, dan paratiroid. Itulah kenapa skrining untuk penyakit autoimun jadi penting kalau ada gejala atau riwayat POF.

Gejala yang Muncul saat POF

  • Menstruasi makin jarang atau berhenti sama sekali

  • Hot flashes

  • Keringat malam

  • Vagina jadi lebih kering dan tipis

Bagaimana Penanganannya?

Karena POF biasanya disebabkan oleh hilangnya cadangan sel telur, saat ini belum ada pengobatan yang bisa “balikin” fungsi ovarium seperti semula. Tapi, beberapa hal masih bisa dilakukan:

  • Terapi hormon estrogen/progestin bisa membantu melindungi tulang dan mengurangi gejala akibat kekurangan estrogen.

  • Donasi sel telur lewat fertilisasi in vitro (IVF) jadi salah satu opsi paling efektif untuk hamil, dengan tingkat keberhasilan sekitar 75% per percobaan.

  • Walau langka, beberapa wanita tetap bisa hamil secara spontan, terutama kalau sedang menjalani terapi hormon. Studi menunjukkan sekitar 5–10% wanita dengan POF akhirnya bisa hamil tanpa bantuan dokter kesuburan.

Bahkan temuan oleh Castillo dkk, 2021 menemukan penyebab POF masih banyak yang belum bisa dijelaskan, perkembangan teknologi seperti Whole Exome Sequencing (WES) dan machine learning memberi harapan baru. Lewat pendekatan ini, ilmuwan mulai menemukan pola genetik tersembunyi yang sebelumnya sulit dikenali, termasuk varian langka yang mungkin berperan dalam kegagalan ovarium. Bahkan, kemampuan machine learning mengelompokkan pasien ke dalam subtipe tertentu membuka peluang untuk memahami karakteristik POF secara lebih personal.

Harapannya, langkah-langkah ini bisa menjadi fondasi untuk diagnosis yang lebih tepat, serta pengembangan terapi yang lebih terarah di masa depan. Cara ini tentu lebih personal dengan mengenali pola genetik dari berbagai macam kemungkinan yang ada. Meski demikian perlu pengawasan dokter yang menangani sister dan paksu ya. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Chapman, C., Cree, L., & Shelling, A. N. (2015). The genetics of premature ovarian failure: current perspectives. International journal of women’s health, 799-810.
  • Henarejos-Castillo, I., Aleman, A., Martinez-Montoro, B., Gracia-Aznárez, F. J., Sebastian-Leon, P., Romeu, M., … & Diaz-Gimeno, P. (2021). Machine learning-based approach highlights the use of a genomic variant profile for precision medicine in ovarian failure. Journal of Personalized Medicine, 11(7), 609.
  • https://www.advancedfertility.com/patient-education/causes-of-infertility/premature-ovarian-failure

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, ovarium, prrempuan, rahim

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.