• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

BMI

Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

April 5, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, pernah nggak sih merasa semuanya sudah dilakukan dengan baik? Pola makan mulai dijaga, berat badan terasa masih dalam batas “aman”, dan secara kasat mata tubuh juga terlihat sehat. Tapi saat menjalani program hamil, hasilnya belum juga datang sesuai harapan.

Di titik ini, banyak yang mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang masih kurang? Padahal dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Dan ternyata, jawabannya tidak selalu sesederhana yang kita kira.

Body Mass Index (BMI) dan Peluang Hamil Pahami Lebih Dalam Yuk!

Selama ini, salah satu indikator yang paling sering digunakan untuk menilai kondisi tubuh adalah Body Mass Index atau BMI. Bahkan di beberapa negara, BMI menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan apakah seseorang bisa menjalani program fertilitas seperti bayi tabung.

Hal ini bukan tanpa alasan. Sebuah studi besar yang menganalisis puluhan penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan BMI yang lebih tinggi memiliki peluang keberhasilan yang lebih rendah dalam program hamil. Wanita dengan BMI di atas 25 diketahui memiliki kemungkinan lahir hidup yang lebih rendah dibandingkan mereka dengan BMI normal. Sementara itu, pada BMI di atas 30, risiko keguguran juga meningkat secara signifikan..

Ketika BMI Tidak Cukup Menjelaskan Semuanya

Fakta bahwa BMI tidak sepenuhnya mampu menjelaskan kenapa peluang hamil bisa menurun. Dalam praktik sehari-hari, kita sering menemukan kondisi di mana seseorang memiliki BMI normal, terlihat sehat, dan sudah menjaga gaya hidup, tetapi tetap mengalami kesulitan untuk hamil.

Hal ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang bekerja di balik layar sesuatu yang tidak selalu terlihat dari angka di timbangan. Di balik tubuh yang tampak sehat, bisa saja terdapat kondisi yang tidak kita sadari. Gangguan metabolisme, penumpukan lemak visceral, dan proses inflamasi ringan adalah beberapa hal yang dapat terjadi tanpa gejala yang jelas.

Lemak visceral, yang tersimpan di sekitar organ dalam, memiliki peran yang cukup besar dalam mengganggu keseimbangan hormon. Sementara itu, metabolisme yang tidak optimal dapat memengaruhi kualitas sel telur dan kesiapan tubuh untuk hamil. Proses inflamasi yang berlangsung secara kronis, meskipun ringan, juga dapat mengganggu proses implantasi embrio. Semua faktor ini bekerja secara halus, namun berdampak nyata terhadap keberhasilan program hamil.

Melihat Kesehatan Lebih dari Sekadar Angka

Karena itu, penting untuk mulai melihat kesehatan tubuh secara lebih menyeluruh. Tidak hanya berhenti pada angka berat badan atau BMI, tetapi juga memahami bagaimana kondisi tubuh dari dalam.

Pendekatan ini membantu kita menyadari bahwa tubuh yang terlihat sehat belum tentu berada dalam kondisi optimal untuk kehamilan. Dengan memahami peran metabolisme dan lemak visceral, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang kesiapan tubuh dalam menjalani program hamil.

Sister, perjalanan menuju dua garis memang tidak selalu sederhana. Terkadang, yang paling berpengaruh justru adalah hal-hal yang tidak terlihat.

Namun kabar baiknya, ketika kita mulai memahami tubuh lebih dalam, kita juga membuka peluang untuk mengambil langkah yang lebih tepat. Dan dari situlah, harapan itu bisa tumbuh kembali pelan tapi pasti, menuju hasil yang kita impikan. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id ya 

Referensi

  • Wang, Y., Wang, F., Zhang, Q., Liu, W., Luo, Y., Fan, L., … & Liu, F. (2026). Effect of the timing of surgical treatment of hydrosalpinx on in vitro fertilization/intracytoplasmic single-sperm injection pregnancy outcomes in patients with tubal factor infertility. Contraception and Reproductive Medicine.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: BMI, perempuan, tubuh

Dampak Penurunan Berat Badan Sebelum IVF: Benarkah Berpengaruh pada Keberhasilan Kehamilan?

April 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Fertilisasi in vitro (IVF) sudah banyak dipilih oleh pasangan pejuang dua garis. Proses ini meski sudah menggunakan teknologi yang canggih pada prosesnya masih dihadapkan oleh banyak tantangan. MDG akan mencoba membahas bagaimana berat badan juga berpengaruh, baca sampai akhir ya!

Mengapa Penurunan Berat Badan Sebelum IVF Menjadi Perdebatan?

Banyak perempuan dengan obesitas atau kelebihan berat badan disarankan untuk menurunkan berat badan sebelum menjalani prosedur fertilisasi in vitro (IVF). Mengapa demikian? Berat badan berlebih sering dikaitkan dengan gangguan kesuburan. Namun, apakah benar penurunan berat badan sebelum IVF dapat meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan? 

Kebijakan dan Pandangan Medis

Banyak penyedia layanan kesuburan, termasuk NHS, menetapkan batas indeks massa tubuh (BMI) sebelum pasien dapat menjalani IVF. Biasanya, BMI yang disarankan berada di kisaran 19-30, meskipun beberapa penyedia memiliki batas lebih ketat, yaitu 19-25. Hal ini bergantung dengan perseorangan.

Walaupun penelitian tentang hubungan antara berat badan dan kesuburan masih berlangsung, dampak obesitas terhadap hasil IVF semakin banyak diakui. Misalnya, sebuah studi tahun 2021 terhadap lebih dari 7.300 wanita menemukan bahwa meskipun tingkat kehamilan tidak berbeda secara signifikan antar kategori BMI, wanita dengan BMI lebih tinggi memiliki angka kelahiran hidup lebih rendah dan risiko keguguran lebih tinggi. Studi tersebut juga mencatat bahwa wanita dengan obesitas cenderung memiliki lebih sedikit sel telur matang dan embrio yang berkembang ke tahap blastokista.

Jika BMI Saya Tidak Ideal untuk IVF, Apa yang Harus Dilakukan?

Jika BMI  terlalu tinggi untuk menjalani IVF, dokter mungkin menyarankan untuk menurunkan 5-10% dari berat badan. Namun, menurunkan berat badan bukan satu-satunya solusi. Konsultasi dengan dokter akan membantu menentukan langkah terbaik berdasarkan kondisi kesehatan dan riwayat medis Anda.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menguji kadar Hormon Anti-Mullerian (AMH) untuk mengetahui cadangan ovarium. Tes darah sederhana ini dapat membantu dokter menilai peluang kehamilan dan memahami apakah BMI mempengaruhi kesuburan Anda.

Berdasarkan artikel hari ini, ternyata menurunkan berat badan sebelum IVF memang dapat mengurangi berat badan secara signifikan, tetapi tidak selalu meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan. Oleh karena itu, keputusan untuk menurunkan berat badan sebelum IVF sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing dan didiskusikan dengan dokter yang menangani sister dan paksu. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Jeong, H. G., Cho, S., Ryu, K. J., Kim, T., & Park, H. (2024). Effect of weight loss before in vitro fertilization in women with obesity or overweight and infertility: a systematic review and meta-analysis. Scientific Reports, 14(1), 6153.
  • https://www.alodokter.com/ketahui-tingkat-keberhasilan-dan-kegagalan-ivf-atau-bayi-tabung-sebelum-melakukannya
  • https://www.ivi.uk/blog/why-your-bmi-matters-when-trying-to-get-pregnant/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: berat badan, BMI, IVF

Dampak Indeks Massa Tubuh (BMI) pada Keberhasilan Teknologi Reproduksi Berbantuan (ART)

March 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, pernah dengar kalau IMT atau indeks massa tubuh bisa mempengaruhi peluang keberhasilan program bayi tabung? Bahkan salah di negara lain seperti di Inggris, layanan fertilitas yang didanai publik punya aturan ketat soal siapa yang bisa mendapatkan perawatan lewat NHS. Salah satu syaratnya adalah IMT, yang diterapkan baik di sektor publik maupun swasta.

Bahkan ada sebuah temuan dari  Supramaniam, 2018 yang turut ini membahas bagaimana peningkatan IMT berdampak pada hasil perawatan fertilitas. Studi tersebut turut  menyertakan data dengan kriteria IMT WHO, yang jadi referensi utama bagi dokter dan pihak komisioning klinis dalam menentukan siapa yang bisa menerima perawatan. Bahkan dalam penelitian ini menjadi pembaruan dari tinjauan sistematis yang sudah dilakukan sebelum-sebelumnya dengan tambahan data besar dari Society for Assisted Reproductive Technology (SART). Baca lebih lanjut yuk!

BMI dan Tingkat Keberhasilan ART

ART dan kesehatan tubuh sangat memiliki pengaruh satu dengan lain mengapa? karena tentu saja proses yang ada pada ART seperti IVF membutuhkan tubuh yang sehat agar memperlancar mulai dari proses ovulasi hingga transfer embrio. Tubuh sehat juga berdampak kepada yang lain salah satunya kehidupan yang lebih panjang

Hal ini ditemukan dari sebuah 49 studi yang dianalisis, ditemukan bahwa Memiliki berat badan yang ideal ternyata berpengaruh pada kesehatan, termasuk dalam hal kesuburan. Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memiliki BMI normal memiliki risiko 19% lebih rendah mengalami gangguan kesuburan dibandingkan dengan mereka yang berada di luar kategori BMI normal. Dengan kata lain, menjaga berat badan dalam rentang yang sehat bukan hanya soal penampilan, tetapi juga dapat berdampak positif pada kesehatan reproduksi

Kenapa BMI Bisa Berpengaruh?

Setelah melihat dari banyaknya temuan membuktikan bahwa BMI memiliki dampak nyata terhadap keberhasilan ART. BMI berpengaruh ke kesehatan reproduksi karena tubuh butuh keseimbangan hormon untuk bisa berfungsi dengan baik, termasuk dalam hal kesuburan. Kalau BMI terlalu rendah atau terlalu tinggi, keseimbangan hormon bisa terganggu, dan ini bisa mempengaruhi peluang kehamilan.

Kalau BMI terlalu rendah (kurus):

  • Tubuh bisa kekurangan lemak yang dibutuhkan untuk produksi hormon seperti estrogen.
  • Siklus haid bisa jadi tidak teratur atau bahkan berhenti (amenore), sehingga sulit hamil.
  • Pada pria, jumlah dan kualitas sperma bisa menurun.

Kalau BMI terlalu tinggi (gemuk):

  • Lemak berlebih bisa mengganggu keseimbangan hormon, meningkatkan kadar estrogen berlebih, yang bisa menghambat ovulasi.
  • Risiko PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) lebih tinggi, yang sering dikaitkan dengan sulit hamil.
  • Pada pria, kelebihan lemak bisa menurunkan kadar testosteron dan kualitas sperma.

Jadi, menjaga berat badan tetap ideal membantu tubuh bekerja lebih optimal, termasuk dalam hal kesuburan!

Buat sister yang sedang menjalani program kehamilan, menjaga berat badan ideal bisa jadi salah satu faktor pendukung keberhasilan ART. Yuk, diskusi lebih lanjut dengan tenaga medis terpercaya untuk perencanaan yang lebih matang! informasi menarik lainnya bisa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Supramaniam, P. R., Mittal, M., McVeigh, E., & Lim, L. N. (2018). The correlation between raised body mass index and assisted reproductive treatment outcomes: a systematic review and meta-analysis of the evidence. Reproductive health, 15, 1-15.
  • https://www.artfertilityclinics.com/in/en/art-blog/mens-fertility-health

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: BMI, indeks massa tubuh, Teknologi reproduksi

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.