• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

kesehatan

Sister, Paksu, Yuk Kenali Dampak Kelebihan Zat Besi pada Kesuburan!

March 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu pasti sudah tahu bahwa beberapa asupan seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan kandungan lainnya sangat penting untuk dicukupi. Salah satu yang tidak dapat dilupakan adalah zat besi. Seseorang yang mengalami kekurangan zat besi dapat terserang anemia, sehingga tubuhnya sering merasa lemas. Meski begitu, kelebihan zat besi di dalam tubuh juga tidak baik untuk kesehatan, lho.

Tapi pernah ngga sister dengar tentang hemoglobinopati? Ini adalah gangguan darah yang bisa mempengaruhi banyak aspek kesehatan, termasuk sistem endokrin dan, tentu saja, kesuburan! Salah satu efek yang sering terjadi adalah kelebihan zat besi dalam tubuh, yang bisa mengganggu fungsi organ vital, termasuk ovarium dan testis. Nah MDG akan membahas lebih lanjut terutama dalam konteks infertilitas atau kesuburan, baca sampai habis ya!

Mengapa terjadi Kelebihan Zat Besi

Pertama yang paling rentang mengalami ini adalah faktor keluarga atau gen, keluarga yang memiliki sejarah kelebihan zat besi akan semakin mudah terserang. Selanjutnya adalah Faktor keturunan atau ras tertentu juga dapat meningkatkan risiko untuk mengalami kelebihan zat besi. Contohnya, orang keturunan Eropa Utara juga lebih rentan terhadap hemokromatosis herediter dibandingkan orang-orang dengan etnis lainnya. Terakhir adalah kelebihan zat besi ini bisa berdampak pada pria yang mungkin untuk mengembangkan tanda dan gejala dari kelebihan zat besi dibandingkan wanita. Pasalnya, wanita rutin kehilangan zat besi melalui menstruasi dan kehamilan, sehingga cenderung menyimpan lebih sedikit mineral dibandingkan pria

Kelebihan Zat besi dan Fungsi Reproduksi

Jadi, gimana caranya kita bisa tahu apakah fungsi reproduksi terpengaruh? Ada beberapa modalitas penilaian yang bisa digunakan untuk mengukur fungsi ovarium dan testis. Ini penting banget buat sister yang sedang merencanakan kehamilan atau paksu yang ingin memastikan kualitas sperma tetap optimal.

Pilihan Manajemen untuk Mengatasi Hipogonadisme Hipogonadotropik Kalau kadar zat besi dalam tubuh sudah berlebihan dan menyebabkan gangguan hormonal, ada beberapa pilihan manajemen yang bisa dilakukan:

  1. Terapi kelasi sejak usia dini – Ini bertujuan untuk mengurangi kadar zat besi dalam tubuh supaya nggak sampai merusak fungsi organ penting.
  2. Gonadotropin menopause manusia (hMG) – Terapi ini bisa membantu menginduksi ovulasi pada sister dan meningkatkan produksi sperma pada paksu.
  3. Donasi sel telur, sperma, atau embrio – Kalau terapi hormonal nggak memberikan hasil yang optimal, opsi ini bisa jadi alternatif bagi pasangan yang ingin memiliki keturunan.
  4. Kriopreservasi – Nah, ini cocok buat sister dan paksu yang ingin menyimpan sel telur atau sperma untuk program kehamilan di masa depan. Tapi perlu diingat, metode ini belum menjadi perawatan standar ya!

Yuk, Pahami dan Kelola dengan Baik! Tujuan utama dari memahami kondisi ini adalah supaya sister dan paksu bisa mendapatkan informasi yang tepat soal dampak kelebihan zat besi pada kesuburan. Dengan pengetahuan yang cukup, kita bisa mengevaluasi pilihan pengobatan terbaik dan menentukan langkah yang paling sesuai untuk menjaga kesehatan reproduksi.

Jadi, kalau sister atau paksu memiliki kondisi ini atau sekadar ingin tahu lebih dalam, jangan ragu untuk konsultasi dengan tenaga medis ya! Sehat reproduksi, sehat mental, happy life! Informasi menarik lainnya sister dan paksu juga dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Supramaniam, P. R., Mittal, M., Hay, D., Narvekar, N., Lim, L. N., & Becker, C. M. (2018). Haemoglobinopathy: Considerations for reproductive health. The Obstetrician & Gynaecologist, 20(4), 253-259.
  • https://www.halodoc.com/artikel/siapa-saja-yang-rentan-alami-kelebihan-zat-besi-dalam-tubuh

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesehatan, kesuburan, zat besi

Kenali Diet Mediterania vs Pola makan Sehat, Mana Lebih Efektif?

February 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Banyak yang bilang pola makan bisa ngaruh ke kesuburan, tapi sebenarnya diet seperti apa sih yang paling efektif? Apakah diet mediterania atau pola makan sehat. Keduanya kaya akan nutrisi, tapi apakah benar bisa meningkatkan peluang kehamilan? nah MDG kali ini akan membahas diet dan juga pola makan sehat untuk sister dan paksu yang dapat diterapkan nantinya, baca sampai habis ya!

Apa sih yang disebut Diet Mediterania 

Diet mediterania adalah pola makan yang didasarkan pada masakan tradisional Yunani, Italia, Spanyol dan negara-negara lain yang berbatasan dengan Laut Mediterania. yang termasuk dalam komponen makanan diet mediterania adalah makanan nabati, seperti biji-bijian utuh, sayuran, polong-polongan, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, bumbu, dan rempah-rempah, merupakan dasar dari pola makan ini. Minyak zaitun juga menjadi sumber utama lemak tambahan.

Untuk diet mediterania juga ada yang harus dikurangi konsumsinya seperti ikan, makanan laut, susu, dan unggas termasuk dalam makanan yang harus dibatasi jumlah sedang. Daging merah dan makanan manis hanya boleh dimakan sesekali.

Sebuah studi dengan mengelompokkan pola makan jadi tiga kategori: Mediterania, Sehat, dan Tidak Sehat. Mendapatkan hasil bahwa diet Mediterania, yang kaya buah, sayur, ikan, dan lemak sehat, dikaitkan dengan peluang kehamilan lebih tinggi dalam ART. Selain diet mediterania ada juga pola makan sehat. Pola makan biasanya menjadi salah satu pilihan dari para pasangan untuk mendukung kesuksesan program hamil. 

Apa itu Pola Makan Sehat?

Pola makan sehat adalah perilaku mengkonsumsi makan dengan gizi seimbang guna menjaga kesehatan tubuh. Seperti yang diketahui, pola makan seseorang sangat berpengaruh pada kondisi tubuhnya.

Sedangkan pola makan sehat, seperti ProFertilitas juga menunjukkan dampak positif baik untuk ART maupun kehamilan alami. Sementara itu, pola makan tidak sehat yang tinggi gula, lemak jenuh, dan olahan berdampak berdampak negatif pada kesuburan.

Meski demikian, ternyata pola makan Sehat itu variatif, jadi tentu sister dan paksu harus lebih selektif. Meski sebuah studi menunjukkan bahwa pola makan berperan dalam kesuburan, tapi masih harus disesuaikan dengan apa yang sister dan paksu hadapi. 

Jadi, udah mulai mikirin asupan makananmu, sister? jangan lupa untuk tetap mengkonsumsi sesuai dengan porsi dan disesuaikan dengan kebutuhan sister dan paksu, jangan sampai salah langkah ya! jika perlu juga dapat berkonsultasi dengan dokter. Informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Daftar Pustaka

  • Winter, H. G., Rolnik, D. L., Mol, B. W., Torkel, S., Alesi, S., Mousa, A., … & Moran, L. J. (2023). Can dietary patterns impact fertility outcomes? A systematic review and meta-analysis. Nutrients, 15(11), 2589.
  • https://www.halodoc.com/kesehatan/diet-mediterania
  • https://kumparan.com/kabar-harian/pola-makan-sehat-pengertian-dan-cara-menerapkannya-1x1ByALytWC

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: diet, kesehatan, mediterania, pola hidup, sehat

Berbicara tentang Infertilitas sebagai Masalah Kesehatan Global yang Terabaikan

February 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas faktanya hadir sebagai salah satu isu kesehatan reproduksi yang sering diabaikan dalam penelitian dan kebijakan global, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. 

Sementara ini banyak yang menyoroti angka fertilitas yang tinggi, akses terbatas terhadap kontrasepsi, serta kebutuhan keluarga berencana yang belum terpenuhi, infertilitas justru sering dikesampingkan dari diskusi kesehatan reproduksi. Padahal, diperkirakan ada sekitar 48 juta pasangan dan 186 juta individu di seluruh dunia yang mengalami infertilitas. Wah mengapa begitu ya?

Infertilitas dalam Kebijakan Kesehatan Reproduksi

Infertilitas bukanlah isu baru dalam kesehatan global. Pada Konferensi International Conference on Population and Development (ICPD) tahun 1994 di Kairo, infertilitas diakui sebagai bagian dari program aksi kesehatan reproduksi yang komprehensif. Namun, dalam pertemuan ICPD25 tahun 2019 di Nairobi dan laporan Komisi tingkat tinggi tahun 2021, infertilitas tidak lagi disebutkan secara eksplisit.

Kemajuan dalam teknik reproduksi berbantuan, seperti fertilisasi in-vitro (IVF) yang pertama kali berhasil pada tahun 1978, masih belum dapat diakses secara luas. Bahkan di negara berpenghasilan tinggi, teknologi ini masih tergolong mahal dan sulit dijangkau. Upaya untuk memperluas akses terhadap teknologi ini di negara berkembang juga masih sangat terbatas.

Hambatan dalam Perhatian dan Kebijakan

Minimnya perhatian terhadap infertilitas dalam kebijakan nasional dan internasional disebabkan oleh beberapa faktor utama, di antaranya:

  1. Prioritas Kesehatan Lainnya – Fokus utama banyak negara adalah mengatasi kelebihan populasi, pengendalian kelahiran, serta masalah kesehatan lain seperti penyakit menular dan tingginya angka kematian ibu.
  2. Keterbatasan Sumber Daya – Investasi dalam perawatan fertilitas dianggap mahal dan sulit dibenarkan dalam konteks kesehatan masyarakat yang lebih luas.
  3. Dampak Sosial dan Psikologis – Ketidaksuburan dapat menyebabkan stigma sosial, pengucilan, kecemasan, depresi, serta rendahnya harga diri, terutama dalam budaya yang sangat menekankan peran perempuan sebagai ibu.

Infertilitas dan Kekerasan Terhadap Perempuan

Ketidaksuburan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memiliki konsekuensi sosial yang serius. Sebuah studi oleh Yuanyuan Wang dkk. dalam The Lancet Global Health menunjukkan bahwa wanita infertil di negara berpenghasilan rendah dan menengah lebih rentan mengalami kekerasan pasangan intim (KDRT). Setidaknya satu dari tiga wanita infertil mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir, sementara hampir setengahnya mengalami kekerasan sepanjang hidup mereka. Bentuk kekerasan yang paling umum adalah kekerasan psikologis, diikuti oleh kekerasan fisik, seksual, dan pemaksaan ekonomi.

Infertilitas bukan hanya masalah kesehatan reproduksi, tetapi juga isu sosial yang mempengaruhi kesejahteraan individu dan hubungan keluarga. Sudah saatnya dunia memberikan perhatian lebih terhadap kondisi ini dan mencari solusi yang inklusif serta berkelanjutan bagi mereka yang terkena dampaknya. Untuk informasi menarik lainnya sister dapat akses di Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

  • Wang, Y. (2022). Infertility—why the silence. Lancet Global Health, 10(6)
  • https://www.who.int/publications/i/item/978920068315

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: global, infertilitas, kesehatan

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Page 2

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.