• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

PCOS

Follitropin Delta dan Risiko OHSS pada Pasien PCOS: Dosis Tepat untuk Hasil Optimal

October 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan salah satu gangguan endokrin paling umum yang memengaruhi 4–21% perempuan usia reproduktif. Kondisi ini ditandai oleh kombinasi antara hiperandrogenisme, gangguan ovulasi, dan morfologi ovarium polikistik.

Menurut kriteria Rotterdam ESHRE/ASRM 2003, sindrom ovarium polikistik (PCOS) dibagi menjadi empat fenotipe utama, yaitu fenotipe A, B, C, dan D. Fenotipe A atau tipe klasik memiliki tiga ciri sekaligus: oligo/anovulasi (gangguan ovulasi), hiperandrogenisme (kadar hormon androgen tinggi), dan gambaran ovarium polikistik (PCOM) di USG. Fenotipe B memiliki oligo/anovulasi dan hiperandrogenisme, tetapi tidak menunjukkan gambaran ovarium polikistik. Fenotipe C disebut tipe ovulasi karena meskipun terdapat hiperandrogenisme dan PCOM, siklus haidnya masih teratur. Sementara itu, fenotipe D merupakan tipe non-hyperandrogenic, ditandai dengan oligo/anovulasi dan PCOM tanpa peningkatan kadar androgen.

Perempuan dengan PCOS sering kali memiliki risiko lebih tinggi terhadap Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS) saat menjalani stimulasi ovarium menggunakan gonadotropin. Hal ini terutama dialami oleh fenotipe A dan B yang memiliki kadar anti-Müllerian hormone (AMH) sangat tinggi, sehingga lebih sensitif terhadap stimulasi.

Mengapa OHSS Bisa Terjadi?

OHSS merupakan komplikasi iatrogenik akibat stimulasi ovarium berlebihan. Kondisi ini menyebabkan ovarium membesar dan cairan berpindah ke rongga peritoneum, yang dalam kasus berat bisa mengancam jiwa.

Tantangan utama bagi klinisi adalah menyeimbangkan antara keberhasilan stimulasi ovarium dan pencegahan OHSS. Karena itu, pendekatan yang bersifat individual menjadi kunci terutama dengan mempertimbangkan kadar AMH dan indeks massa tubuh pasien sebelum menentukan dosis gonadotropin.

Follitropin Delta: Generasi Baru dengan Algoritma Dosis Individual

Berbeda dengan gonadotropin konvensional, follitropin delta adalah recombinant FSH generasi baru yang menggunakan algoritma dosis individual berdasarkan berat badan dan kadar AMH pasien. Pendekatan ini dirancang agar setiap pasien menerima dosis yang sesuai dengan kapasitas ovarium mereka tidak kurang, tapi juga tidak berlebihan.

Sejumlah uji klinis sebelumnya menunjukkan bahwa follitropin delta memiliki tingkat keberhasilan kehamilan yang sebanding dengan follitropin alfa, namun dengan profil keamanan yang lebih baik terhadap risiko OHSS.

Pendekatan berbasis algoritma individu dengan follitropin delta terbukti aman dan efektif untuk pasien PCOS, bahkan pada mereka dengan risiko tinggi seperti fenotipe A dan B. Dosis yang disesuaikan secara personal tidak hanya meminimalkan risiko OHSS, tetapi juga mempertahankan hasil stimulasi ovarium yang optimal.

Bagi klinisi, ini menjadi langkah maju dalam personalisasi terapi kesuburan. Bagi pasien, ini memberikan harapan bahwa keamanan dan efektivitas kini dapat berjalan seiring.

Referensi
Yacoub, S., Cadesky, K., & Casper, R. F. (2021). Low risk of OHSS with follitropin delta use in women with different PCOS phenotypes: a retrospective case series. Journal of Ovarian Research, 14(1), 1–9.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: dosis, OHSS, PCOS

Mindfulness Bisa Bantu Kurangi Kekhawatiran pada Wanita dengan PCOS

October 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) hadir sebagai salah satu gangguan hormonal yang paling sering dialami wanita usia subur. Gejalanya bisa bermacam-macam, mulai dari haid tidak teratur, jerawat, pertumbuhan rambut berlebih, sampai sulit hamil. Tapi ada satu hal yang sering terlupakan yaitu dampak PCOS terhadap kesehatan mental.

Banyak sister dengan PCOS yang merasa khawatir berlebihan, cemas, bahkan sampai kualitas hidupnya menurun. Nah, sebuah penelitian terbaru memberikan angin segar. Ternyata, latihan Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) bisa membantu mengurangi kekhawatiran pada wanita dengan PCOS. Yuk kita bahas lebih dalam!

Apa Itu Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR)?

MBSR adalah metode yang mengajarkan seseorang untuk lebih sadar penuh terhadap apa yang sedang dirasakan, tanpa menghakimi. Teknik ini biasanya menggabungkan meditasi, latihan pernapasan, dan kesadaran tubuh.

Tujuannya sederhana yaitu membantu seseorang menghadapi stres, kecemasan, dan rasa khawatir dengan cara yang lebih sehat.

Kenapa Penting untuk Wanita dengan PCOS?

Hidup dengan PCOS nggak hanya soal gejala fisik. Banyak wanita melaporkan kekhawatiran yang muncul di berbagai aspek hidup, seperti:

  • Masalah mental: rasa cemas, sedih, bahkan depresi.
  • Hubungan sosial: merasa berbeda atau kurang percaya diri.
  • Komplikasi fisik: takut dengan efek jangka panjang seperti diabetes atau obesitas.
  • Kesuburan & kehamilan: khawatir sulit hamil atau ada risiko saat hamil.
  • Kehidupan seksual: menurunnya kepuasan atau rasa percaya diri.
  • Aspek religius: merasa terbebani secara spiritual karena kondisi ini.

Semua ini bisa bikin beban mental jadi semakin berat dan mindfulness tidak menggantikan pengobatan medis, tapi bisa menjadi pelengkap yang membantu tubuh dan pikiran lebih seimbang.

Kalau kamu punya PCOS, mungkin kamu bisa coba mulai dari hal kecil, seperti:

  • Melatih pernapasan sadar 5–10 menit sehari.
  • Meditasi ringan dengan panduan audio.
  • Yoga atau gerakan lembut sambil memperhatikan napas.
  • Menulis jurnal rasa syukur setiap malam.

PCOS bukan hanya urusan hormon atau kesuburan, tapi juga menyangkut kualitas hidup secara menyeluruh. Mindfulness terbukti bisa mengurangi rasa khawatir dan membantu wanita dengan PCOS menjalani hidup dengan lebih tenang dan penuh kontrol.

Jadi sister, jangan ragu untuk menjadikan mindfulness sebagai salah satu cara mendukung perjalananmu menghadapi PCOS. Karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Referensi

  • Salajegheh, Z., Ahmadi, A., Shahrahmani, H., Jahani, Y., Alidousti, K., Nasiri Amiri, F., & Salari, Z. (2023). Mindfulness-based stress reduction (MBSR) effects on the worries of women with poly cystic ovary syndrome (PCOS). BMC psychiatry, 23(1), 185.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, Mindfulness, PCOS, wanita

Mindfulness-Based Art Therapy (MBAT) Bisa Bantu Wanita dengan PCOS Lebih Percaya Diri dengan Tubuhnya

October 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, PCOS itu lebih dari sekadar masalah hormon atau kesulitan hamil. Banyak wanita dengan PCOS sering merasa nggak nyaman dengan tubuh sendiri. Bayangin deh: rambut tumbuh di tempat yang nggak diinginkan, berat badan naik padahal udah diet, haid nggak teratur, sampai kista yang bikin perut terasa nggak nyaman. Semua ini bikin kita sering nggak percaya diri, minder sama penampilan, dan kadang gampang stres atau sedih.

MBAT: Terapi yang Menggabungkan Mindfulness dan Seni

Nah, ada cara seru buat bantu body image alias pandangan kita tentang tubuh, namanya Mindfulness-Based Art Therapy (MBAT). MBAT itu gabungan mindfulness—latihan sadar penuh dengan momen sekarang dan seni. Artinya, kita nggak cuma duduk ngobrol atau curhat, tapi juga bisa mengekspresikan perasaan lewat gambar, kolase, atau karya seni lainnya.

Terapi ini nggak cuma bikin kita fokus sama tubuh dan emosi, tapi juga:

  • Membantu kita mengenali dan menerima tubuh apa adanya
  • Menyalurkan perasaan yang kadang susah diungkapkan dengan kata-kata
  • Membuat sesi terapi lebih interaktif dan menyenangkan

Bagaimana MBAT Membantu Wanita dengan PCOS

Sebuah studi melibatkan wanita usia subur dengan PCOS yang mengikuti MBAT delapan kali, dua sesi seminggu selama empat minggu, plus latihan mandiri di rumah. Setiap sesi berlangsung 90–120 menit, dilakukan secara online, dan peserta dibagi ke grup kecil supaya lebih nyaman dan fokus.

Hasilnya? Peserta yang ikut MBAT merasakan perubahan nyata. Mereka merasa lebih puas dengan tubuhnya, terutama bagian-bagian tubuh yang sebelumnya sering bikin minder. Penilaian terhadap penampilan juga meningkat, dan efek positifnya tetap terasa bahkan satu bulan setelah terapi selesai.

Manfaat MBAT yang Bisa Dirasakan Sehari-hari

Dengan MBAT, wanita dengan PCOS bisa:

  • Lebih nyaman dan percaya diri dengan tubuh sendiri
  • Mengurangi rasa cemas, stres, dan pikiran negatif soal tubuh
  • Menikmati kegiatan kreatif yang bikin hati lebih lega

MBAT bukan cuma “terapi tambahan”, tapi bisa jadi cara praktis buat self-care sambil belajar menerima diri sendiri. Bagi sister yang sering merasa nggak nyaman dengan tubuh karena PCOS, MBAT bisa jadi teman yang seru dan menenangkan, sekaligus cara melatih mindfulness yang kreatif. Informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Bafghi, Z. R., Ahmadi, A., Mirzaee, F., & Ghazanfarpour, M. (2024). The effect of mindfulness-based art therapy (MBAT) on the body image of women with polycystic ovary syndrome (PCOS): a randomized controlled trial. BMC psychiatry, 24(1), 611.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: MBAT, PCOS, terapi, wanita

PCOS dan Vitamin D: Apa Peran Genetiknya?

September 21, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah salah satu masalah kesehatan reproduksi yang cukup sering dialami perempuan. Diperkirakan sekitar 8–13% perempuan usia reproduksi mengalami kondisi ini.

Gejalanya bisa berupa haid tidak teratur, jerawat, tumbuh rambut berlebih, sampai sulit hamil. Selain memengaruhi kesuburan, PCOS juga sering dikaitkan dengan masalah metabolisme, seperti resistensi insulin dan risiko diabetes.

Kenapa PCOS bisa terjadi?

Sampai saat ini, penyebab PCOS belum sepenuhnya jelas. Faktor hormon, gaya hidup, hingga keturunan semuanya bisa ikut berperan. Nah, salah satu yang menarik perhatian para ahli adalah hubungan antara vitamin D dengan PCOS.

Apa hubungannya vitamin D dengan PCOS? Vitamin D bukan hanya penting untuk kesehatan tulang, tapi juga punya peran dalam keseimbangan hormon reproduksi dan metabolisme tubuh. Tubuh kita “membaca” vitamin D melalui reseptor khusus yang disebut Vitamin D Receptor (VDR).

Masalahnya, setiap orang bisa punya variasi genetik berbeda pada reseptor ini. Variasi kecil pada gen inilah yang disebut polimorfisme genetik. Kalau terjadi pada VDR, tubuh mungkin merespons vitamin D dengan cara yang berbeda.

Beberapa penelitian menemukan bahwa ada varian tertentu pada gen VDR—misalnya FokI, TaqI, atau BsmI—yang lebih sering muncul pada perempuan dengan PCOS. Jadi, bukan sekadar pola makan atau gaya hidup saja, tapi faktor genetik juga punya peran.

Kenapa penting buat kita tahu?

  • Lebih personal → Setiap orang bisa punya “bekal genetik” berbeda. Ini bisa menjelaskan kenapa ada perempuan yang lebih rentan terkena PCOS.
  • Peran vitamin D → Banyak studi menemukan kadar vitamin D yang rendah pada perempuan dengan PCOS. Meski belum pasti apakah ini penyebab atau akibat, jelas ada keterkaitan.
  • Arah ke depan → Pemahaman soal genetik ini bisa membuka jalan untuk terapi yang lebih tepat sasaran di masa depan, mungkin termasuk strategi personalisasi berdasarkan profil genetik dan kadar vitamin D seseorang.

Jadi, apa artinya buat sister?

PCOS bukan cuma soal hormon atau gaya hidup, tapi juga ada campur tangan genetik—termasuk gen reseptor vitamin D. Mengetahui faktor ini bisa membantu kita lebih memahami tubuh sendiri dan membuka peluang perawatan PCOS yang lebih personal di masa depan.

Buat kamu yang punya gejala PCOS atau merasa berisiko, jangan ragu untuk cek kesehatan reproduksi sekaligus memeriksa kadar vitamin D. Selain itu, pola hidup sehat tetap jadi kunci mulai dari makan bergizi, rutin olahraga, sampai mengelola stres. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Heidarzadehpilehrood, R., Hamid, H. A., & Pirhoushiaran, M. (2025). Vitamin D receptor (VDR) gene polymorphisms and risk for polycystic ovary syndrome and infertility: An updated systematic review and meta-analysis. Metabolism Open, 25, 100343.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Gen, PCOS, perempuan, Vit D

Insulin Resistance dan Infertilitas: Mengungkap Hubungan yang Sering Terabaikan Pendahuluan

September 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Metabolic Syndrome (MetS) adalah kumpulan gangguan metabolik yang meliputi resistensi insulin, obesitas sentral, hipertensi, dan gangguan lipid. Kondisi ini kini menjadi masalah kesehatan serius di seluruh dunia. Salah satu faktor utama dalam MetS adalah insulin resistance (IR), yaitu keadaan di mana sel tubuh kurang responsif terhadap insulin sehingga tubuh harus memproduksi lebih banyak insulin (hiperinsulinemia) untuk menjaga kestabilan gula darah.

Selain berperan pada penyakit metabolik seperti obesitas, hipertensi, aterosklerosis, dan penyakit hati berlemak non-alkoholik, IR ternyata juga berdampak besar pada fungsi reproduksi wanita. Banyak penelitian menunjukkan bahwa IR tidak hanya meningkatkan risiko infertilitas pada perempuan dengan polycystic ovary syndrome (PCOS), tetapi juga pada wanita tanpa PCOS, terutama yang mengalami siklus haid tidak teratur atau obesitas.

Bagaimana IR Mempengaruhi Kesuburan?

Insulin resistance mempengaruhi kesuburan melalui berbagai mekanisme biologis, di antaranya:

  1. Gangguan perkembangan sel telur dan kualitas embrio, IR meningkatkan stres oksidatif dan merusak fungsi mitokondria pada oosit, yang dapat menurunkan kualitas sel telur serta meningkatkan risiko kelainan kromosom.
  2. Endometrium kurang reseptif, Endometrium membutuhkan metabolisme glukosa yang baik untuk mendukung implantasi embrio. Pada wanita dengan IR, ekspresi transporter glukosa menurun, sehingga lapisan rahim tidak optimal menerima embrio.
  3. Gangguan hormonal, IR memperparah hiperandrogenemia, terutama pada pasien PCOS. Kadar androgen yang tinggi menyebabkan gangguan ovulasi, kualitas folikel menurun, hingga siklus menstruasi tidak teratur.
  4. Risiko keguguran dan komplikasi kehamilan, IR dikaitkan dengan meningkatnya risiko keguguran spontan, diabetes gestasional, hingga komplikasi jangka panjang bagi keturunan, seperti obesitas dan penyakit metabolik.

PCOS dan IR: Kombinasi yang Rumit

PCOS merupakan salah satu penyebab utama infertilitas pada wanita usia reproduktif dengan prevalensi sekitar 5–10%. Sebagian besar pasien PCOS memiliki IR yang memperburuk hiperandrogenemia, menyebabkan gangguan ovulasi, serta meningkatkan risiko sindrom metabolik. Siklus “IR ↔ hiperandrogenemia ↔ obesitas” menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus tanpa intervensi medis dan perubahan gaya hidup.

Menariknya, IR tidak hanya ditemukan pada pasien PCOS. Studi menunjukkan bahwa wanita tanpa PCOS tetapi mengalami obesitas, siklus haid panjang, atau gangguan metabolik juga memiliki IR yang berdampak buruk pada kesuburan. Pada kelompok ini, IR dapat:

  • Mengganggu pematangan oosit,
  • Mengurangi kualitas blastokista,
  • Menyebabkan disfungsi endometrium,
  • Menurunkan angka keberhasilan program bayi tabung (IVF/ART).

Terapi dan Pendekatan Penanganan

Mengatasi IR pada  infertil menjadi bagian penting dalam perencanaan terapi. Beberapa pendekatan yang digunakan adalah:

  • Perubahan gaya hidup: menurunkan berat badan, memperbaiki pola makan, dan meningkatkan aktivitas fisik.
  • Metformin: obat yang meningkatkan sensitivitas insulin sekaligus membantu mengatur siklus menstruasi pada pasien PCOS.
  • Inositol (Myo-inositol dan D-Chiro inositol): suplemen yang mulai banyak digunakan untuk memperbaiki sensitivitas insulin dengan efek samping minimal.
  • Terapi kombinasi: karena etiologi IR kompleks, sering kali dibutuhkan pendekatan multidisiplin.

Insulin resistance memiliki peran besar dalam infertilitas, baik pada pasien dengan PCOS maupun tanpa PCOS. Dampaknya mencakup gangguan perkembangan sel telur, penurunan kualitas embrio, endometrium yang kurang reseptif, hingga menurunnya keberhasilan program reproduksi berbantu.

Oleh karena itu, mengidentifikasi dan menangani IR lebih awal sangat penting untuk meningkatkan peluang kehamilan, mencegah komplikasi kehamilan, serta melindungi kesehatan jangka panjang keturunan. Informasi manarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Lei, R., Chen, S., & Li, W. (2024). Advances in the study of the correlation between insulin resistance and infertility. Front. Endocrinol.(Lausanne). 2024; 15: 1288326.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, insulin resistance, Metabolic Syndrome, PCOS

PCOS, Risiko Genetik, dan Faktor Lingkungan yang Perlu Kamu Tahu

September 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

PCOS atau Polycystic Ovarian Syndrome adalah salah satu masalah kesehatan paling sering dialami perempuan usia subur. Gejalanya bukan cuma haid tidak teratur, tapi juga bisa berupa kenaikan berat badan, tumbuh rambut berlebih, hingga resistensi insulin.
Lebih dari itu, PCOS juga jadi penyebab utama infertilitas pada perempuan, serta bisa meningkatkan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular. Pelajari lebih lanjut yuk sister!

Gen Juga Bisa Jadi Pemicu PCOS

Selain gaya hidup dan lingkungan, ternyata faktor genetik juga berperan besar. Salah satu gen yang sering dikaitkan dengan PCOS adalah gen Adiponektin (ADIPOQ).
Gen ini mengatur produksi adiponektin protein yang diproduksi jaringan lemak dan penting untuk metabolisme lemak serta gula darah.

Penelitian menemukan bahwa variasi genetik tertentu (disebut single nucleotide polymorphisms / SNPs) pada ADIPOQ, seperti rs1501299 dan rs17300539, bisa meningkatkan kerentanan terhadap PCOS. Pada perempuan dengan varian tertentu pada gen ini biasanya memiliki kadar adiponektin lebih rendah, sehingga lebih rentan mengalami obesitas dan resistensi insulin. Dua kondisi ini sangat erat kaitannya dengan PCOS.

Faktor Lingkungan yang Tak Boleh Diremehkan

Meski genetik berpengaruh, PCOS tetap bersifat multifaktorial. Artinya, lingkungan dan gaya hidup juga punya peran besar. Beberapa faktor risiko yang terbukti meningkatkan kemungkinan PCOS antara lain:

  • Obesitas
  • Merokok atau paparan asap rokok
  • Riwayat keluarga dengan PCOS
  • Perkawinan sedarah (consanguinity)
  • Paparan lingkungan berbahaya seperti pestisida atau limbah industri

Apa Artinya Buat Kita?

PCOS bukan kondisi tunggal dengan satu penyebab. Sebaliknya, ia lahir dari interaksi genetik, lingkungan, dan gaya hidup. Itu artinya, perempuan yang punya riwayat keluarga PCOS atau gejala sejak dini sebaiknya lebih waspada dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.

Di masa depan, identifikasi biomarker genetik seperti SNP pada gen ADIPOQ bisa membantu skrining dini dan memungkinkan pengobatan yang lebih personal.

PCOS adalah kondisi kompleks, tapi bukan berarti tak bisa dikelola. Pemahaman yang baik tentang faktor genetik dan lingkungan bisa membantu deteksi dini, pencegahan, dan penanganan yang lebih tepat bukan hanya lewat terapi medis, tapi juga dengan perubahan gaya hidup sehat yang berkelanjutan. Informasi lebih lanjut jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Mushtaq, A., Bibi, A., Malik, S., & Kausar, N. (2025). Association of SNPs rs1501299 and rs17300539 in ADIPOQ with Serum Adiponectin Level and risk of Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) in population of Southern Punjab, Pakistan. Pakistan Journal of Medical Sciences, 41(6), 1651.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: genetik, infertilitas, lingkungan, PCOS

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Page 4
  • Page 5
  • Page 6
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.