• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

perempuan hamil

Waspadai Jenis Stress Dalam IVF dan Mempertanyakan Siapa yang Lebih Rentan Mengalami Tekanan Psikologis

June 20, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Saat menjalani program bayi tabung (IVF) atau teknologi reproduksi berbantuan (ART), pasangan tidak hanya menghadapi tantangan fisik, tapi juga tekanan mental. Banyak yang tidak menyadari bahwa proses ini bisa sangat menguras emosi.

MDG akan membahas ini dengan sister bahwa tekanan psikologis yang dirasakan pria dan wanita selama menjalani program ini bisa berbeda. Dengan kita memahami ini membantu kita lebih memahami pentingnya dukungan emosional selama proses memiliki buah hati

Apa yang Dirasakan Para Perempuan?

Dibandingkan para suami, wanita yang mengalami infertilitas ternyata lebih tinggi dalam berbagai gejala psikologis, seperti:

  1. Somatisasi (keluhan fisik yang terkait stres),
    Tekanan mental selama program bayi tabung (IVF) juga bisa memicu gangguan psikologis lain seperti somatic symptom disorder (SSD) atau gangguan somatoform. Kondisi ini membuat seseorang merasakan berbagai keluhan fisik seperti nyeri perut, sesak napas, atau kelelahan, padahal tidak ditemukan penyebab medis yang jelas. Yang membedakan adalah tingkat kekhawatiran berlebih terhadap gejala fisik tersebut pengidap SSD bisa merasa sangat cemas dan yakin bahwa mereka sedang mengalami penyakit serius. Dalam konteks IVF, ketegangan emosional yang terus-menerus bisa membuat seseorang lebih peka terhadap perubahan tubuhnya, hingga setiap rasa nyeri atau sensasi ringan pun dianggap sebagai tanda bahaya. Gejala ini bisa semakin mengganggu proses dan memperburuk tekanan psikologis yang dirasakan. Karena itu, penting bagi pasangan untuk memahami bahwa kesehatan mental juga bagian dari kesiapan menjalani program kesuburan, dan tidak ragu mencari bantuan profesional jika muncul gejala yang mengganggu.
  2. Gejala obsesif,
    Bagi sebagian pasangan yang menjalani program bayi tabung (IVF), tekanan mental yang muncul bisa memicu atau memperparah kondisi kesehatan mental tertentu, seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD). OCD ditandai dengan pola pikir dan ketakutan yang tidak diinginkan (obsesi) yang mendorong seseorang melakukan perilaku berulang (kompulsi) untuk meredakan kecemasan. Misalnya, kekhawatiran berlebihan terhadap kebersihan atau prosedur medis dapat membuat seseorang terus-menerus mencuci tangan, mengecek jadwal minum obat, atau berulang kali mencari kepastian dari tenaga medis semua dilakukan secara berlebihan dan ritualistik. Sayangnya, dorongan untuk mengontrol segala sesuatu ini justru menimbulkan lingkaran stres yang sulit diputus. Di tengah proses IVF yang sudah menantang secara fisik dan emosional, kondisi OCD bisa makin memperberat beban mental. Perasaan malu, frustrasi, atau risih terhadap gejala OCD pun kerap muncul. Namun, penting untuk diingat bahwa kondisi ini bisa diatasi dengan bantuan profesional, dan pengobatan yang tepat dapat membantu memperbaiki kualitas hidup selama menjalani program kesuburan.

Bahkan penelitian yang dilakukan Kissi, 2013 menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengalami tekanan psikologis yang lebih berat saat menghadapi tantangan infertilitas dan menjalani prosedur medis seperti ART. Bukan berarti pria tidak terpengaruh, tetapi tekanan emosional pada wanita tampaknya lebih kompleks dan dalam.

Untuk itu sister dan paksu harus mulai aware dengan dukungan psikologis yang bukan dapat dihiraukan karena hal ini masuk sebagai bagian dari perawatan infertilitas. Terutama untuk para sister yang membutuhkan dukungan ekstra, layanan konseling atau terapi emosional bisa sangat membantu dalam menjaga keseimbangan mental selama proses pengobatan.

Infertilitas bukan sekadar isu medis. Ini juga tentang perasaan, harapan, dan tekanan sosial yang seringkali hanya dirasakan tapi tak terucap. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • El Kissi Y, Romdhane AB, Hidar S, Bannour S, Ayoubi Idrissi K, Khairi H, et al. General psychopathology, anxiety, depression and self-esteem in couples undergoing infertility treatment: a comparative study between men and women. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. (2013) 167:185–9. doi: 10.1016/j.ejogrb.2012.12.014
  • https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/gangguan-somatoform-somatisasi/
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/obsessive-compulsive-disorder/symptoms-causes/syc-20354432

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: IVF, menuju dua garis, perempuan, perempuan hamil, stress

Ketahui Strategi Non Farmakologis dapat Mengurangi Kecemasan Selama Kehamilan, Persalinan, dan Pasca Persalinan

February 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Kehamilan adalah fase penting dalam kehidupan seorang wanita yang seringkali disertai dengan kecemasan. Kecemasan yang tidak terkontrol dapat berdampak negatif pada perkembangan emosional, psikologis, dan sosial bayi yang baru lahir. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang efektif untuk mengurangi kecemasan selama masa kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan. MDG kali ini akan membahas dari perspektif psikologis terutama dalam penerapan strategi non farmakologis

Definisi Strategi Non Farmakologis 

Strategi non-farmakologis sendiri dipahami sebagai upaya meningkatkan kesehatan atau kesejahteraan tanpa menggunakan obat-obatan. Strategi ini dapat berupa terapi, intervensi, atau pendekatan yang bertujuan untuk mengelola kesehatan seseorang. Sehingga tentu saja metode ini dapat diterapkan untuk ibu hamil. Lalu bagaimana metode ini dapat diterapkan.

Penerapan Strategi Non Farmakologis

Setidaknya ada 3 fase proses kehamilan terjadi, yaitu saat kehamilan kemudian saat melahirkan dan pasca kehamilan. Pertama yang dapat dilakukan adalah Intervensi selama kehamilan, hal ini dapat dilakukan melalui aktivasi perilaku, terapi perilaku kognitif, yoga, terapi musik, dan teknik relaksasi terbukti efektif dalam mengurangi kecemasan.

Kedua adalah dilakukan saat Intervensi selama persalinan, seperti penggunaan Aromaterapi menjadi metode utama yang digunakan untuk menenangkan ibu saat menghadapi proses persalinan.

Yang terakhir adalah intervensi selama kehamilan dan pasca persalinan. Beberapa strategi seperti pelatihan antenatal, pijat oleh pasangan, serta membaca buku panduan mandiri dengan dukungan telepon profesional terbukti memberikan manfaat dalam mengurangi kecemasan ibu.

Faktanya bahwa proses itu sangat penting dipraktikan agar tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Dari pemaparan tersebut menunjukkan bahwa intervensi non farmakologis yang diterapkan selama kehamilan dan pasca persalinan lebih efektif dibandingkan dengan intervensi yang dilakukan selama persalinan. Meski hal ini berfokus pada keadaan seorang ibu, namun tentu semua akan terlibat sementara hanya sedikit penelitian yang melibatkan kedua pasangan.

Intervensi non farmakologis ini dapat diterapkan oleh tenaga kesehatan, terutama perawat dan bidan, untuk membantu mengurangi kecemasan pada ibu hamil dan ibu pasca persalinan. Dengan penerapan strategi yang tepat, diharapkan kesehatan mental ibu dapat lebih terjaga, sehingga berdampak positif pada kesejahteraan bayi dan keluarga secara keseluruhan. Bagaimana sister apakah sudah dapat dipahami nah selanjutnya jika sister yang hamil dapat melakukan praktik tersebut ya. Informasi menarik lainnya sister dapat follow instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Domínguez-Solís, E., Lima-Serrano, M., & Lima-Rodríguez, J. S. (2021). Non-pharmacological interventions to reduce anxiety in pregnancy, labour and postpartum: A systematic review. Midwifery, 102, 103126.
  • https://www.alomedika.com/penatalaksanaan-nonfarmakologis-untuk-gangguan-kecemasan

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesehatan mental, perempuan hamil, strategi non farmakologis

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.