• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

laki-laki

Ketahui Pentingnya Mengecek Seberapa Ideal Berat Badan yang Berpengaruh ke Kesuburan Laki-laki

April 18, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini kita sering dengar kalau kelebihan berat badan bisa ganggu kesehatan. Tapi, pernah kepikiran nggak sih, kalau lemak di perut juga bisa ngaruh ke kualitas sperma? meski banyak pengaruh yang lain, MDG pada kesempatan kali ini ingin membahas dari sisi obesitas atau kelebihan lemak terutama jika ini terjadi pada paksu. 

Kelebihan Berat Badan & Sperma: Apa Hubungannya?

Seseorang dengan kelebihan berat badan dapat mengurangi kualitas dan kesuburan sperma. Kenapa bisa terjadi? nah hal ini berkesinambungan dengan ketidakseimbangan hormonal. Pada laki-laki yang mengalami kelebihan berat badan alias obesitas, menurut penelitian, sperma yang dihasilkan biasanya memiliki kualitas yang buruk. 

Hal itu terjadi karena adanya perubahan hormon yang menjadi tidak seimbang. Laki-laki dengan berat badan berlebih biasanya  juga jadi lebih sulit untuk mengalami ereksi. Banyak cara mengetahui ukuran tubuh agar dapat diketahui apakah sudah ideal atau belum.

Cara Mengetahui Atau mengukur Lemah pada Tubuh

Beberapa penelitian udah nunjukin bahwa laki-laki yang kelebihan berat badan lebih rentan punya masalah sperma, entah itu dari segi jumlah, pergerakan, atau bentuknya. Nah, biasanya untuk mengukur berat badan, dipakai yang namanya BMI (Body Mass Index). Tapi, BMI ini cuma ngitung berat dan tinggi badan, tanpa tahu lemaknya ngumpul di mana.

Lalu bagaimana dengan lemak yang ada di bagian tertentu seperti pada perut, fakta bahwa lemak di perut (obesitas sentral) justru bisa lebih bahaya dan lebih akurat menunjukkan risiko kesehatan. Nah untuk itu muncul pengukuran lain: WHR (Waist-to-Hip Ratio) atau rasio lingkar pinggang ke pinggul. WHR ini bisa ngasih gambaran apakah lemak tubuh terkonsentrasi di bagian perut atau nggak.

Nah bagi sister dan paksu yang baru familiar sama cara pengukuran berat badan di BMI, sebaiknya mempertimbangkan juga pengecekan lain seperti WHR. Oh ya penyebab dari obesitas di perut juga beragam ya. Tapi secara umum memang sama-sama kelebihan berat badan. 

Cara Mengatasi Perut Buncit

Pada penyebab perut buncit oleh penumpukan lemak berlebih atau obesitas bisa paksu atasi dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti diet atau mengatur pola makan, mengonsumsi makanan sehat serta memiliki gizi seimbang, mencukupi waktu tidur minimal 7-9 jam per hari, berolahraga secara rutin, berhenti merokok dan menghindari konsumsi alkohol berlebihan.

Karena paksu harus ketahui bahwasanya penelitian yang dilakukan oleh Keszthelyi et.al (2020)  ini kasih sinyal kuat kalau obesitas di area perut bisa berdampak ke kesuburan laki-laki. Nggak cuma jumlah sperma yang turun, tapi juga kemampuan mereka buat “berenang” menuju sel telur. Jadi baiknya untuk paksu harus  mulai jaga pola makan dan olahraga teratur. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Keszthelyi, M., Gyarmathy, V. A., Kaposi, A., & Kopa, Z. (2020). The potential role of central obesity in male infertility: body mass index versus waist to hip ratio as they relate to selected semen parameters. BMC Public Health, 20, 1-10.
  • https://www.halodoc.com/artikel/cek-hubungan-berat-badan-vs-kesuburan-pria
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/penyebab-perut-buncit

 

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, obesitas, perut buncit, sperma

Infertilitas Laki-laki: Ketika Penyebabnya Masih Misterius, Tapi Bukan Berarti Tak Bisa Dicari

April 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas bukan hanya persoalan perempuan. Faktanya, sekitar 40% kasus infertilitas pada pasangan berasal dari faktor laki-laki. Namun, banyak dari kasus ini tidak memiliki penyebab yang jelas. Kondisi ini disebut sebagai infertilitas idiopatik, yaitu ketika laki-laki mengalami infertilitas tetapi hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya kelainan yang spesifik.

Apa Kata Sebuah Temuan dari Penelitian?

Sebuah studi besar dari Eropa mencoba memecahkan misteri ini. Studi tersebut melibatkan 1.174 laki-laki Eropa dengan infertilitas primer (belum pernah memiliki anak sebelumnya), dan menjalani pemeriksaan yang sangat menyeluruh bukan sekadar analisis sperma.

Hasilnya, 81% laki-laki dalam studi ini ternyata memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi. Artinya, hanya sekitar 19% yang benar-benar tergolong idiopatik. Temuannya diantaranya adalah : hipogonadisme (gangguan hormon) – 37%, varikokel (pelebaran pembuluh darah di testis) – 27% dan kelainan genetik – 5%

Menariknya, semakin berat gangguan kesuburan yang dialami, semakin besar kemungkinan penyebabnya bisa ditemukan. Misalnya, laki-laki dengan kondisi azoospermia (tidak ada sel sperma sama sekali) cenderung lebih mudah ditemukan penyebabnya dibandingkan laki-laki dengan gangguan yang lebih ringan.

Mengapa Penting Mendeteksi Infertilitas pada Laki-laki? 

Selama ini, banyak laki-laki yang langsung diberi label “idiopatik” karena hasil pemeriksaannya terlihat normal di permukaan. Padahal, dengan evaluasi yang lebih komprehensif, penyebab sebenarnya bisa terungkap. Hal ini penting karena:

  • Membuka peluang untuk terapi yang lebih tepat. Paksu jika sudah mengetahui kebenaran yang terjadi pada kalian, maka akan benar juga terapi yang dapat diambil karena sesuai dengan permasalahan

  • Membantu memahami kondisi kesehatan reproduksi secara menyeluruh. JIka pengukuran dilakukan maka akan memberi manfaat pada kondisi kesehatan secara keseluruhan

  • Mengurangi beban psikologis akibat ketidakjelasan. Yang paling penting terutama berkaitan dengan mental yang sudah banyak terombang-ambing, sehingga pengetahuan ini membantu paksu tidak hanya fisik tapi juga mental.

Meski begitu, laki-laki dengan gangguan ringan masih menjadi tantangan tersendiri dalam penentuan diagnosis. Tidak semua kasus bisa dijelaskan, bahkan dengan pemeriksaan lanjutan. Oleh karena itu, masih dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui subkelompok infertilitas paksu dikategorikan.

Meski begitu berkat pemeriksaan yang lebih menyeluruh, laki-laki dengan infertilitas dapat ditemukan penyebabnya. Ini menjadi harapan baru bagi banyak pasangan. Infertilitas idiopatik ternyata tidak selalu benar-benar tanpa sebab. Jika sister dan paksu sedang dalam proses mencari tahu penyebab infertilitas dan belum mendapat jawaban yang jelas, evaluasi lanjutan bisa menjadi langkah penting untuk mendapatkan kejelasan dan rencana terapi yang lebih tepat. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram kami di @menujuduagaris.id

Referensi

Ventimiglia, E., Pozzi, E., Capogrosso, P., Boeri, L., Alfano, M., Cazzaniga, W., … & Salonia, A. (2021). Extensive assessment of underlying etiological factors in primary infertile men reduces the proportion of men with idiopathic infertility. Frontiers in endocrinology, 12, 801125.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ideopatik, infertilitas, laki-laki

Penyebab Ketidaksuburan Nggak Jelas? Hati-Hati, Mungkin Kamu Alami Unexplained Infertility!

April 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Kalau sister dan paksu sudah rutin berusaha punya anak tapi hasilnya masih belum juga positif, dan semua hasil tes menunjukkan kondisi reproduksi normal, kalian mungkin termasuk dalam kondisi yang disebut Unexplained Infertility (UI) alias infertilitas yang belum diketahui penyebab pastinya.

Nah, kabar baiknya, sekarang ada panduan baru dari ESHRE (European Society of Human Reproduction and Embryology) yang bantu kalian dalam menentukan langkah terbaik untuk pasangan dengan UI. Yuk bersama dengan MDG kita bahas lebih lanjut!

Apa Itu Unexplained Infertility?

Unexplained Infertility adalah kondisi di mana pasangan tidak kunjung hamil, padahal hasil pemeriksaan semuanya normal mulai dari ovulasi, saluran tuba, sampai kualitas sperma.

Masalahnya, belum ada standar global yang benar-benar seragam soal tes apa saja yang wajib dilakukan sebelum menyimpulkan diagnosis UI. Makanya, selama ini pendekatannya cenderung bersifat empiris, alias berdasarkan pengalaman, bukan pada bukti ilmiah yang kuat.

Karena UI adalah diagnosis “pengecualian”, penting banget untuk memastikan bahwa semua pemeriksaan dasar sudah dijalani sebelum benar-benar menyimpulkan “nggak ada penyebabnya”.

Rekomendasi ESHRE: Dari Diagnosis Sampai Pengobatan

Melihat banyaknya pasangan yang mengalami infertilitas tanpa sebab yang jelas, ESHRE akhirnya menyusun panduan khusus untuk menangani kasus unexplained infertility ini. Tujuannya jelas: memberikan arahan berbasis bukti terbaik agar dokter nggak lagi hanya mengandalkan intuisi atau “kebiasaan lama” dalam menangani UI.

Panduan ini disusun dengan proses yang ketat—mulai dari merumuskan pertanyaan kunci, menelusuri literatur ilmiah terbaru, sampai menyaring bukti-bukti yang ada. Hasilnya? Terbitlah total 52 rekomendasi yang mencakup dari definisi, diagnosis, hingga pengobatan.

Tapi menariknya, meskipun jumlah rekomendasinya banyak, sebagian besar masih belum ditopang oleh bukti yang benar-benar kuat. Dari semua itu, hanya satu yang didukung bukti kualitas sedang. Sisanya? Banyak yang berasal dari penelitian dengan kualitas rendah, bahkan sangat rendah. Ini menunjukkan kalau UI masih jadi “misteri” yang butuh lebih banyak riset di masa depan.

Lalu, kalau belum banyak bukti kuat, gimana dong pengobatannya?

ESHRE tetap menyusun panduan langkah-langkah yang bisa diambil dokter. Untuk perawatan tahap awal, pasangan dengan UI direkomendasikan menjalani inseminasi intrauterin (IUI) yang dikombinasikan dengan stimulasi ovarium. Pendekatan ini dinilai sebagai opsi paling masuk akal karena relatif sederhana, terjangkau, dan minim resiko dibandingkan prosedur yang lebih invasif seperti IVF.

Namun tentu, keputusan pengobatan harus dipersonalisasi. Nggak semua pasangan cocok dengan pendekatan yang sama. Karena itu, sister dan paksu diarahkan untuk tetap melakukan komunikasi terbuka terutama pada dokter. Panduan ini bukan “aturan kaku” atau menjadi satu-satunya yang sister dan paksu harus jalani, tapi lebih ke arah petunjuk yang bisa jadi bahan diskusi antara sister dan paksu dan dokter. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Guideline Group on Unexplained Infertility, Romualdi, D., Ata, B., Bhattacharya, S., Bosch, E., Costello, M., … & Le Clef, N. (2023). Evidence-based guideline: unexplained infertility. Human Reproduction, 38(10), 1881-1890.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, perempuan, unexplain fertility

FSH untuk Infertilitas Laki-laki: Harapan Baru untuk Pasangan Pejuang Dua Garis

April 7, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Infertilitas pria masih menjadi tantangan besar dalam dunia reproduksi. Faktanya, sekitar 50% dari semua kasus infertilitas pada pasangan disebabkan oleh faktor pria. Namun, dalam sepertiga dari kasus ini, penyebab pastinya sulit diketahui, yang disebut sebagai infertilitas idiopatik pria. Dalam kondisi seperti ini, pilihan pengobatan yang jelas dan efektif pun sering kali tidak tersedia.

Nah, dalam situasi inilah hormon perangsang folikel atau FSH (Follicle Stimulating Hormone) mulai dilirik sebagai solusi. Wah bagaimana bisa? yuk bahas lebih lanjut!

Apa itu FSH dan Kenapa Penting?

Secara alami, FSH diproduksi oleh tubuh dan berperan penting dalam proses pembentukan sperma. Hormon ini bekerja langsung pada sel Sertoli di testis untuk mendukung perkembangan sperma dari awal hingga matang. Pada kondisi tertentu seperti hipogonadisme hipogonadotropik (ketika tubuh tidak menghasilkan cukup hormon), FSH sudah dikenal luas sebagai terapi standar.

Tapi bagaimana kalau FSH diberikan kepada pria dengan infertilitas idiopatik yang penyebabnya tidak jelas?

Sebuah Studi memberikan Harapan Nyata

Sebuah studi retrospektif dilakukan di Unit Andrologi Modena, Italia, yang meneliti pria infertil yang mendapat terapi FSH dari tahun 2015 hingga 2022. Dari 362 pria, sebanyak 194 memenuhi syarat untuk mendapatkan FSH berdasarkan ketentuan sistem kesehatan nasional. Rata-rata usia mereka 37,9 tahun.

Hasilnya? Sebanyak 43 kehamilan tercatat (27,6%) setelah terapi FSH 22 kehamilan terjadi secara alami. 21 lainnya melalui teknologi reproduksi berbantuan (ART). Tak hanya itu, ada peningkatan signifikan dalam konsentrasi sperma, dari rata-rata 9,9 juta/mL menjadi 18,9 juta/mL. Bahkan, jumlah pria dengan sperma normal (normozoospermia) juga meningkat, sementara yang mengalami azoospermia (tidak ada sperma) menurun. Kelompok pria yang berhasil mencapai kehamilan ternyata memiliki sperma dengan konsentrasi dan motilitas (pergerakan) yang lebih baik dibanding yang tidak.

Meskipun belum menjadi pengobatan utama dan masih dianggap sebagai terapi empiris (berdasarkan pengalaman klinis), studi ini menunjukkan bahwa FSH bisa membantu satu dari empat pria dengan infertilitas idiopatik untuk memiliki anak. Ini angka yang cukup menggembirakan, terutama bila dibandingkan dengan data sebelumnya yang menyebutkan bahwa paling tidak 10 pria harus diobati untuk menghasilkan satu kehamilan.

Kapan Penggunaan FSH Bisa Dipertimbangkan?

Terapi FSH bisa dipertimbangkan untuk pria dengan diagnosa infertilitas idiopatik, juga ketika parameter sperma yang rendah tanpa penyebab yang jelas, dan dilakukan untuk meningkatkan peluang kehamilan baik secara alami maupun melalui ART.

Bagaimana sister dan paksu, ternyata terapi FSH menawarkan harapan baru dalam dunia pengobatan infertilitas pria, terutama bagi mereka yang belum menemukan penyebab pasti dari masalah kesuburannya. Meski belum menjadi solusi untuk semua, FSH bisa jadi peluang yang layak dipertimbangkan dalam strategi perencanaan keluarga bagi pasangan yang sedang berjuang. Tapi penting untuk dicatat bahwa terapi ini hanya boleh dilakukan setelah konsultasi dan evaluasi menyeluruh oleh dokter spesialis andrologi atau reproduksi. Untuk informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Romeo, M., Spaggiari, G., Nuzzo, F., Granata, A. R., Simoni, M., & Santi, D. (2023). Follicle‐stimulating hormone effectiveness in male idiopathic infertility: What happens in daily practice?. Andrology, 11(3), 478-488.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, infertilitas, laki-laki

Obesitas dan Kesuburan: Apa Hubungannya?

April 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sekarang ini, dengan arus modern banyak makanan yang mengandung bahan-bahan kimia, seperti junk food dan berbagai macam olahan fast food. Hal ini mengakibatkan banyaknya orang mengalami kelebihan berat badan. Tapi yang sering luput dari perhatian, ternyata obesitas nggak cuma soal penampilan atau kesehatan jantung aja tapi juga bisa berdampak pada kasus infertilitas atau kesuburan.

Masalah kesuburan nggak hanya berasal dari perempuan. Laki-laki juga punya peran penting. Dan faktanya, kondisi tubuh seperti obesitas bisa mempengaruhi kualitas sperma. Pelajari lebih lanjut yuk!

Laki-laki dan Obesitas

Pada laki-laki, lemak berlebih bisa mengganggu keseimbangan hormon yang berperan dalam produksi sperma. Hal ini berkaitan dengan hormon testosteron (yang penting buat produksi sperma) bisa menurun, sedangkan hormon estrogen malah meningkat. Nah, kondisi ini bikin proses pembentukan sperma jadi kurang optimal.

Akibatnya, jumlah sperma bisa berkurang, geraknya jadi lambat, bahkan bentuknya nggak normal. Semua ini bisa menurunkan peluang untuk membuahi sel telur.

Obesitas Bisa Mengganggu Hormon Laki-laki

Laki-laki dalam penelitian yang kelebihan berat badan atau obesitas menghasilkan volume air mani yang lebih rendah daripada mereka yang memiliki berat badan sehat. Laki-laki dengan lingkar pinggang yang berukuran 102 sentimeter atau lebih memiliki jumlah sperma total 22 persen lebih rendah daripada laki-laki yang lingkar pinggangnya kurang dari 94 sentimeter. Bahkan kondisi tubuh ayah saat program hamil bisa berpengaruh ke generasi berikutnya. Obesitas nggak cuma bikin proses kehamilan jadi lebih sulit dimana beberapa ahli juga mulai menyoroti kemungkinan dampaknya terhadap kesehatan dan kesuburan anak di masa depan. Meski demikian tiap tubuh memiliki kondisi yang berbeda-beda.

Kenapa Hasilnya Bisa Beda-Beda?

Tidak semua orang obesitas pasti punya masalah sperma. Ada juga yang hasilnya normal-normal aja. Bisa jadi karena perbedaan usia, gaya hidup, atau penyakit lain yang menyertai misalnya diabetes atau tekanan darah tinggi. Sehingga diperlukan untuk melihat kondisi tubuh secara menyeluruh, bukan cuma fokus pada berat badan aja.

Obesitas Sering Datang Bareng Penyakit Lain

Mengapa penting menjaga pola hidup? yang sister dan paksu harus ketahui bahwasanya obesitas ini sering muncul bersama kondisi lain, seperti gula darah tinggi, kolesterol, atau tekanan darah tinggi. Jadi tidak hanya berkaitan dengan infertilitas tetapi juga penyakit-penyakit lain. Jadi, efek obesitas pada kesuburan bukan cuma karena berat badannya aja, tapi juga karena kondisi lain yang ikut menyertainya.

Obesitas bisa berdampak besar pada peluang untuk punya anak, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Kalau sister dan paksu sedang merencanakan kehamilan, menjaga pola makan, olahraga rutin, dan mengatur berat badan bisa jadi langkah penting untuk meningkatkan peluang kehamilan.

Nggak harus langsung kurus, kok. Tapi mulai dari perubahan kecil bisa bawa dampak besar untuk masa depan. Semoga berhasil ya, untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ramaraju, G. A., Teppala, S., Prathigudupu, K., Kalagara, M., Thota, S., Kota, M., & Cheemakurthi, R. (2018). Association between obesity and sperm quality. Andrologia, 50(3), e12888.
  • https://www.halodoc.com/artikel/hubungan-berat-badan-dengan-tingkat-kesuburan-pria?srsltid=AfmBOoqAqKStMJTRrfriysXYPvFIxoXt9yUUciJy9CwniXpQ88UxOOxu

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesuburan, laki-laki, obesitas, perempuan

Kenali Shatavari Solusi Herbal untuk Mengatasi Gangguan Reproduksi Akibat Stres

April 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister dan paksu, sebagai pejuang dua garis pasti dihadapkan dengan banyak rintangan salah satunya adalah potensi stress. Faktanya stres hadir sebagai bagian dari kehidupan modern yang sulit dihindari. 

Berbagai faktor seperti tekanan pekerjaan, perubahan lingkungan, dan gaya hidup yang tidak sehat dapat meningkatkan tingkat stres dalam masyarakat. Pada perempuan, khususnya mereka yang berada dalam usia reproduksi, lebih rentan mengalami stres psikologis, fisik, dan fisiologis. Hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan reproduksi. MDG akan membahas lebih lanjut, baca sampai habis ya! 

Bagaimana stress ini berdampak pada Infertilitas?

Stres psikologis yang berkepanjangan terbukti dapat mengganggu kesehatan reproduksi dengan meningkatkan produksi spesies oksigen reaktif (ROS), yang menyebabkan stres oksidatif (OS). OS yang tinggi dapat mempengaruhi fisiologi ovarium, menurunkan kualitas oosit, serta menyebabkan gangguan kesuburan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan untuk mengurangi efek negatif stres terhadap sistem reproduksi wanita.

Lalu bagaimana Dampak Stres pada Kesehatan Reproduksi Perempuan? stres psikologis dan fisiologis memiliki peran besar dalam menurunkan tingkat kesuburan wanita. Stres kronis diketahui dapat menurunkan keberhasilan fertilisasi in vitro (IVF), Meningkatkan produksi ROS yang merusak sel telur dan Menghambat biosintesis hormon estradiol-17β di ovarium, yang berdampak pada penurunan jumlah serta kualitas oosit

Hubungan Pengobatan Herbal dengan Infertilitas

Menurut WHO, sekitar 60–80 juta pasangan di seluruh dunia mengalami masalah infertilitas. Salah satu pengobatan tradisional yang telah lama digunakan untuk mengatasi gangguan reproduksi wanita adalah shatavari (Asparagus racemosus). Lalu apa Itu Shatavari?

Shatavari adalah tanaman herbal dari keluarga Liliaceae yang banyak digunakan dalam pengobatan Ayurveda. Dalam bahasa Sanskerta, “shatavari” berarti “mampu memiliki seratus suami”, yang mencerminkan perannya dalam meningkatkan kesuburan wanita. Tanaman ini umumnya tumbuh di daerah tropis dan subtropis seperti India dan Himalaya.

Sebagai salah satu obat herbal utama dalam Ayurveda, shatavari dikenal memiliki berbagai manfaat, terutama dalam menjaga keseimbangan hormon, meningkatkan kualitas sel telur, serta memperbaiki gangguan reproduksi yang disebabkan oleh stres.

Shatavari mengandung lebih dari 50 senyawa bioaktif, termasuk:

  • Saponin steroid: Komponen utama yang berperan dalam menyeimbangkan hormon reproduksi.
  • Flavonoid dan glikosida: Berperan sebagai antioksidan yang membantu mengurangi stres oksidatif.
  • Asparagamine, racemosol, dan kaempferol: Senyawa aktif yang dapat meningkatkan kesehatan ovarium.

Shatavari merupakan salah satu solusi herbal yang telah digunakan selama berabad-abad dalam Ayurveda untuk mengatasi masalah reproduksi yang disebabkan oleh stres. Dengan kandungan antioksidan dan zat aktifnya, shatavari berpotensi membantu mengurangi stres oksidatif, menyeimbangkan hormon, dan meningkatkan kualitas oosit. Namun, meskipun manfaatnya cukup menjanjikan, diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami mekanisme kerjanya secara lebih mendalam.

Bagi wanita yang mengalami gangguan reproduksi akibat stres, shatavari dapat menjadi pilihan alternatif yang alami. Namun, sebelum menggunakannya, Sister dan paksu tentu membutuhkan untuk konsultasi lebih lanjut, agar penggunaannya lebih optimal dan sesuai dengan kondisi sister dan paksu. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Pandey, A. K., Gupta, A., Tiwari, M., Prasad, S., Pandey, A. N., Yadav, P. K., … & Chaube, S. K. (2018). Impact of stress on female reproductive health disorders: Possible beneficial effects of shatavari (Asparagus racemosus). Biomedicine & pharmacotherapy, 103, 46-49

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: laki-laki, obat herbal, perempuan, reproduksi

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 7
  • Page 8
  • Page 9
  • Page 10
  • Page 11
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.