• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

laki-laki

Kenali apa itu Asthenozoospermia dan Dampaknya pada Infertilitas Laki-laki

May 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Asthenozoospermia (AZS) merupakan kondisi medis yang sering menjadi penyebab utama infertilitas pria. Secara umum, AZS didefinisikan sebagai berkurangnya motilitas sperma atau bahkan hilangnya motilitas sperma. Biasanya, sperma yang dapat bergerak maju (motilitas progresif) harus lebih dari 32%. Nah dalam kasus dengan AZS, motilitas sperma jauh di bawah angka tersebut, yang berujung pada kesulitan dalam mencapai sel telur dan menghambat kemungkinan terjadinya pembuahan. Yuk pahami lebih dalam mengenai AZS?

Faktor Penyebab Asthenozoospermia

Kondisi AZS ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi salah satu penyebab utama adalah kelainan pada flagel sperma. Flagel sperma adalah struktur berbentuk cambuk yang memungkinkan sperma bergerak. Flagel ini terdiri dari beberapa bagian, termasuk aksonema, yang merupakan bagian inti dari flagel, dan beberapa struktur aksonema seperti selubung mitokondria dan selubung fibrosa. Aksonema flagel sperma memiliki struktur yang mirip dengan silia pada sel lainnya. Oleh karena itu, kelainan pada struktur flagel ini dapat menyebabkan berkurangnya motilitas sperma.

Secara klinis, AZS dibagi menjadi dua bentuk utama:

  1. AZS Terisolasi
    Bentuk ini tidak disertai dengan gejala atau masalah kesehatan lainnya. AZS terisolasi dapat mencakup multiple Anomaly of Sperm Flagella (MMAF), dimana flagela sperma memiliki bentuk yang tidak normal, misalnya, tidak ada flagela, flagela yang pendek, bersudut, atau tidak teratur. Hal ini dianggap sebagai kelainan genetik yang dapat mempengaruhi kemampuan sperma untuk bergerak dengan baik.

  2. AZS Sindromik
    AZS juga dapat berupa sindromik, di mana disfungsi silia berperan. Salah satu contoh penyakit yang terkait adalah diskinesia silia primer (PCD), sebuah gangguan genetik resesif autosomal yang mengganggu motilitas silia. PCD tidak hanya memengaruhi flagela sperma tetapi juga menyebabkan gangguan pernapasan seperti bronkitis dan rinosinusitis akibat malfungsi silia di saluran pernapasan.

Dampak Asthenozoospermia pada Kesuburan Pria

AZS terisolasi sering kali ditemukan pada pria dengan masalah kesuburan, berkontribusi pada sekitar 80% kasus infertilitas pria. Dalam banyak kasus, pria dengan AZS mengalami penurunan kemampuan untuk membuahi sel telur, meskipun masih memiliki sperma yang terlihat normal di bawah mikroskop. Keberhasilan reproduksi pria dengan AZS bergantung pada kualitas motilitas sperma. Oleh karena itu, memahami penyebab dan mekanisme dibalik AZS sangat penting untuk mengembangkan pengobatan yang efektif.

Implikasi untuk Pengobatan dan Reproduksi

Meskipun terapi untuk AZS masih terbatas, beberapa penelitian telah menunjukkan potensi pengobatan melalui teknologi reproduksi berbantu seperti ICSI (Intra-Cytoplasmic Sperm Injection), yang memungkinkan sperma dengan motilitas rendah tetap digunakan untuk pembuahan in-vitro. 

Asthenozoospermia merupakan salah satu penyebab utama infertilitas laki-laki dan tentunya sudah banyak solusi yang ditawarkan seperti IVF dan ICSI, untuk itu bagi kalian yang sedang mengalami kasus ini harus segera membicarakan pada dokter dalam membicarakan langkah apa baiknya yang dapat diputuskan sehingga tidak akan salah langkah. Informasi menarik lainnya bisa langsung cek di Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

Tu, C., Wang, W., Hu, T., Lu, G., Lin, G., & Tan, Y.-Q. (2020). Genetic underpinnings of asthenozoospermia. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism, 34(6), 101472. https://doi.org/10.1016/j.beem.2020.101472

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: AZS, flagel, laki-laki, sperma

Strategi Hormonal untuk Mengatasi OAT: Ketika Kesuburan Pria Terancam

May 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas bukan cuma soal perempuan. Faktanya, sekitar 50% kasus infertilitas pada pasangan disumbang oleh faktor laki-laki. Nah fakta bahwa sekitar 40% kasus infertilitas pria termasuk dalam kategori idiopatik alias penyebabnya belum jelas. Salah satu kondisi yang cukup sering muncul dalam kasus ini adalah oligoasthenoteratozoospermia (OAT), yang merujuk pada rendahnya jumlah sperma, motilitas (kemampuan bergerak), dan bentuk sperma yang normal.

Menurut kriteria WHO 2010, seseorang dikatakan mengalami OAT jika konsentrasi sperma kurang dari 15 juta/mL, motilitas total di bawah 40%, motilitas progresif kurang dari 32%, dan morfologi sperma normal kurang dari 4%. Untuk mengatasi masalah ini, pendekatan multidisiplin sangat penting, termasuk strategi pengobatan berbasis hormonal yang mulai menunjukkan hasil menjanjikan. Nah MDG akan membahas lebih lanjut bagaimana strategi hormonal ini berpengaruh!

Hubungan Hormon dengan Kesuburan Laki-laki 

Jadi sistem kesuburan laki-laki itu sangat bergantung pada keseimbangan hormon dalam sumbu HPG (hipotalamus–hipofisis–gonad). Gangguan apa pun di titik ini bisa mengacaukan produksi sperma. Beberapa kondisi yang bisa mengganggu sumbu HPG antara lain, obesitas dan diabetes melitus yang tidak terkontrol, Infeksi dan penyakit sistemik, penggunaan obat tertentu seperti anti-androgen dan steroid, konsumsi alkohol berlebihan, paparan zat kimia yang mengganggu hormon dan juga tumor testis atau hormon-secreting tumor seperti tumor Leydig

Nah pada beberapa kasus ternyata laki-laki dengan OAT memiliki kadar testosteron yang rendah, namun kadar hormon FSH dan LH-nya tetap normal, hal ini menunjukkan adanya hipogonadisme fungsional, kondisi yang bisa memburuk karena gaya hidup tidak sehat seperti obesitas.

Kenapa Tidak Bisa Pakai Terapi Testosteron Biasa?

Secara logika, jika testosteron rendah, tinggal diberi saja, kan? Sayangnya, tidak sesederhana itu.

Terapi penggantian testosteron (TRT) memang lazim digunakan untuk pria dengan hipogonadisme, tapi bagi pria yang ingin tetap subur, ini bisa jadi bumerang. Testosteron sintetis justru memberi sinyal ke otak bahwa tubuh sudah cukup hormon, sehingga produksi hormon pemicu sperma (GnRH, FSH, dan LH) ditekan. Akibatnya, kadar testosteron di dalam testis yang sangat penting untuk pembentukan sperma menurun drastis. Untuk itu butuh pendekatan hormonal yang tepat sasaran. 

Pengobatan Hormonal yang Tepat Sasaran

Alih-alih memberi testosteron dari luar, strategi terbaru adalah meningkatkan produksi testosteron alami di dalam testis, terutama dengan menargetkan jalur androgen dalam sel Sertoli, Leydig, dan mioid peritubular. Sebuah temuan bahkan menunjukkan bahwa jika reseptor androgen dalam sel-sel ini dinonaktifkan (seperti pada studi tikus knockout), proses spermatogenesis akan berhenti. Artinya, testosteron lokal di testis sangat krusial, bahkan lebih penting dari testosteron dalam darah.

Namun, kadar testosteron intratestikular optimal untuk merangsang spermatogenesis hingga kini masih menjadi tanda tanya besar. Sehingga dibutuhkan evaluasi menyeluruh sebelum memulai terapi hormonal. Mulai dari menentukan kandidat yang cocok untuk terapi hormonal, memilih jenis terapi yang tepat, menentukan durasi pengobatan dan mengevaluasi hasil terapi secara berkala. Masih banyak perdebatan terkait pilihan terapi, dosis, dan waktu terbaik untuk pengobatan hormonal pada pasien OAT. Jadi jangan lupa tetap konsultasikan dengan dokter ya! informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

  • Çayan, S., Altay, A. B., Rambhatla, A., Colpi, G. M., & Agarwal, A. (2024). Is There a Role for Hormonal Therapy in Men with Oligoasthenoteratozoospermia (OAT)?. Journal of Clinical Medicine, 14(1), 185.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hormonal, infertilitas, laki-laki, OAT

CBAVD & Prosedur PESA dan ICSI: Kenapa Gerak Sperma Penting Banget?

May 9, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Banyak faktor penyebab infertilitas, terkadang dari faktor perempuan tapi juga bisa jadi dari laki-laki. Salah satu kondisi bawaan yang cukup sering jadi penyebab tapi jarang disadari dia adalah Congenital Bilateral Absence of the Vas Deferens (CBAVD). Ini adalah kondisi bawaan di mana saluran vas deferens sebagai jalur utama keluarnya sperma tidak terbentuk sejak lahir. 

Akibatnya, sperma nggak bisa keluar lewat ejakulasi secara alami. Dalam kasus ini tentu satu-satunya solusi adalah menggunakan prosedur seperti PESA dan ICSI. Nah MDG akan membahas secara spesifik bagaimana dua prosedur ini berperan dalam membantu kondisi CBAVD.

Pahami apa itu PESA dan ICSI

Pada kondisi ini sister dan paksu dapat memanfaatkan teknologi medis yang sudah berkembang pesat. Dalam kasus CBAVD salah satu solusi yang bisa diandalkan untuk kasus ini adalah kombinasi dua prosedur:

  • PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration), yaitu pengambilan sperma langsung dari epididimis menggunakan jarum halus dan
  • ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection), yaitu penyuntikan satu sperma langsung ke dalam sel telur.

Meski memiliki infertilitas dimana tidak bisanya mengeluarkan sperma secara alami, tapi  yang menarik, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa motilitas sperma alias “gerak lincahnya sperma” ternyata lebih memengaruhi hasil dari program PESA-ICSI ini.

Dalam studi oleh Jixiang yang melibatkan lebih dari seratus pasangan program bayi tabung dengan sperma hasil PESA, pria dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan seberapa aktif sperma mereka bergerak. Hasilnya cukup jelas, sister. Mereka yang spermanya lebih lincah ternyata menunjukkan hasil yang jauh lebih baik di berbagai tahap penting, mulai dari proses pembuahan, perkembangan embrio, hingga kualitas embrio yang dihasilkan. Nggak cuma itu, peluang kehamilan dan kelahiran bayi sehat juga jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan sperma yang geraknya lambat. Ini jadi bukti kalau motilitas sperma punya peran besar dalam menentukan keberhasilan program bayi tabung, khususnya dengan metode PESA-ICSI.

Jadi, Apa Artinya?

Buat paksu yang sedang berjuang lewat program bayi tabung, terutama dengan kondisi CBAVD, gerak sperma bukan cuma angka tambahan di hasil lab. Motilitas sperma bisa jadi penentu penting keberhasilan pembuahan, perkembangan embrio, hingga kelahiran bayi.

Artinya, saat kamu menjalani prosedur seperti PESA, diskusikan juga soal kualitas sperma terutama motilitasnya dengan doktermu. Ini bisa membantu menentukan strategi terbaik buat kamu dan pasangan.

Ingat, setiap perjalanan menuju kehamilan itu unik. Teknologi bisa bantu banyak, tapi memahami tubuh dan kondisinya adalah langkah awal yang penting. Dan kamu nggak sendiri, sister & paksu. Banyak yang sedang melalui perjuangan yang sama untuk itu saling support itu penting. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Jixiang, Z., Lianmei, Z., Yanghua, Z., & Huiying, X. (2022). Relationship of sperm motility with clinical outcome of percutaneous epididymal sperm aspiration–intracytoplasmic sperm injection in infertile males with congenital domestic absence of vas deferens: a retrospective study. Zygote, 30(2), 234-238.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: gerak, infertilitas, laki-laki, motilitas, sperma

Kenali Teknik Pengambilan Sperma yang Paling Efektif untuk Azoospermia Obstruktif

May 8, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Fakta bahwa infertilitas tidak hanya disebabkan oleh perempuan tapi juga laki-laki, salah satunya adalah berhubungan dengan kualitas dan jumlah sperma. Dan kasus ini disebut sebagai azoospermia, MDG alan membahas lebih lanjut  tentang azoospermia obstruktif, karena pada kasus ini sering sekali ditemui. 

Azoospermia ini bisa juga dipahami sebagai pasca-testis, dimana adanya penyumbatan atau hilangnya koneksi di sepanjang saluran reproduksi. Laki-laki tetap memproduksi sperma tetapi sperma tersebut terhalang untuk keluar. Jenis ini juga disebut azoospermia obstruktif. Ini adalah jenis yang paling umum, yang memengaruhi hingga 40% orang dengan azoospermia.

Nah, ada beberapa teknik pengambilan sperma yang biasa digunakan, dan muncul pertanyaan: mana yang paling efektif? salah satunya antara dua teknik yang paling sering digunakan adalah PESA dan MESA. Tapi sebelum itu pahami dulu yuk apa perbedaan dari dua prosedur ini.

Apa Bedanya PESA dan MESA?

PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration) adalah prosedur yang relatif simpel. Nggak perlu operasi besar, bisa dilakukan cepat, tanpa rawat inap, dan biayanya pun lebih terjangkau. Banyak sumber menyebut PESA cocok dijadikan pilihan pertama apalagi kalau kondisi pasien memungkinkan.

Tapi ada satu hal penting kalau melihat dari angka-angka keberhasilan dalam mengambil sperma yang benar-benar bisa dipakai, justru MESA (Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration) yang unggul.

MESA dilakukan dengan bantuan mikroskop bedah, sehingga proses pengambilannya lebih presisi. Hasilnya? Tingkat pengambilan sperma lebih tinggi, dan peluang untuk kriopreservasi (pembekuan sperma untuk nanti) juga lebih besar.

Apa kerugian MESA?

Mikroskop operasi dan keterampilan khusus diperlukan untuk mengidentifikasi saluran yang paling mungkin berisi sperma. Prosedur ini memerlukan anestesi umum atau spinal dan melibatkan sayatan di skrotum untuk mendapatkan akses ke satu atau kedua testis.

PESA merupakan cara yang cepat dan murah untuk mendapatkan sperma dari epididimis. Namun, MESA merupakan metode yang lebih disukai untuk mendapatkan sperma motil dalam jumlah yang lebih banyak untuk kriopreservasi atau ICSI. Akibatnya, biaya keseluruhan MESA lebih tinggi daripada PESA perkutan.

Teknik ini melibatkan sayatan pada kulit; karena itu, ada risiko kecil terjadinya infeksi luka dan hematoma.

Dalam kasus di mana tidak ada sperma yang ditemukan, maka perlu dilakukan pemeriksaan ke dalam testis untuk mencari sperma yang layak, suatu prosedur yang disebut TESE atau ekstraksi sperma testis.

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Kalau tujuannya benar-benar ingin dapat sperma dengan kualitas terbaik dan peluang simpan jangka panjang, MESA bisa jadi pilihan yang lebih optimal.

Tapi bukan berarti PESA kalah sepenuhnya. Banyak yang tetap memilih PESA karena lebih praktis dan hemat. Bahkan beberapa menyarankan untuk coba PESA dulu, baru lanjut ke MESA kalau ternyata tidak berhasil. Wah bagaimana menarik bukan? jadi sister dan paksu apakah sudah ada bayangan akan pilih prosedur mana? dua-duanya memiliki kelebihan dan kekurangan, untuk itu kalian harus benar-benar berkonsultasi dengan dokter agar tidak terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan. Untuk informasi menarik lainnya bisa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Fraietta, R., De Carvalho, R., & Vasconcellos, F. (2022). WHAT IS THE BEST TECHNIQUE TO RECOVER SPERMATOZOA FROM OBSTRUCTIVE AZOOSPERMIC PATIENTS?. Fertility and Sterility, 118(4), e292-e293.
  • https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/15441-azoospermia?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true
  • https://www.ivftreatmentistanbul.com/pesa-tesa-mesa

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: azoo, infertilitas, laki-laki, MESA, PESA, sperma

Memahami Peran LH dalam Stimulasi Ovarium: Lebih dari Sekadar Hormon Pendukung

May 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini, kita mungkin mengenal LH (luteinizing hormone) sebagai hormon yang “datang belakangan” untuk memicu ovulasi. Pada kasus infertilitas kehadiran LH sangat penting terutama dalam proses stimulasi ovarium (ovarian stimulation/OS) yang dijalani oleh banyak perempuan dalam program bayi tabung (IVF).

Bisakah LH Gantikan FSH?

Model klasik ‘dua sel-dua gonadotropin’ sudah lama menjadi dasar pemahaman kita soal folikulogenesis. Dalam model ini, LH bekerja di sel teka untuk memicu produksi androgen, sementara FSH (follicle stimulating hormone) bekerja di sel granulosa untuk mengubah androgen menjadi estrogen lewat enzim aromatase.

Tapi, kini kita tahu LH tidak hanya aktif di sel teka. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa LH juga punya efek di sel granulosa, bahkan bisa meniru efek FSH seperti mengaktifkan enzim aromatase dan mendukung pertumbuhan folikel.

Beberapa studi bahkan turut menunjukkan bahwa di tahap akhir stimulasi ovarium, LH saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan folikel besar, bahkan tanpa FSH! Salah satu studi menunjukkan bahwa pemberian LH (dalam bentuk hCG dosis rendah) mampu menghasilkan kadar estradiol dan jumlah folikel matang yang setara dengan pemberian FSH. Lebih dari itu, LH juga mengurangi jumlah folikel kecil, sehingga seleksi folikel jadi lebih efisien.

Formulasi LH rekombinan saat ini dirancang lebih murni dan memiliki efek anti-apoptotik yang lebih kuat dibanding hCG. Ini penting, karena LH ternyata juga berperan dalam menjaga sel dari kematian akibat kemoterapi dan mendukung kelangsungan kesuburan.

Selain itu, kerja sama antara FSH dan LH juga meningkatkan produksi faktor-faktor parakrin penting seperti IGF (insulin-like growth factor) dan inhibin B yang turut mendukung proses pematangan folikel.

LH Hadir Sebagai Hormon Ovulasi dan Implantasi

LH punya peran utama dalam proses ovulasi, termasuk pematangan oosit dan pelepasan sel telur. Setelah ovulasi, LH juga mendorong luteinisasi, yaitu proses pembentukan korpus luteum yang menghasilkan progesteron untuk menjaga lapisan endometrium tetap optimal bagi implantasi.

Uniknya lagi, reseptor LH juga ditemukan di jaringan endometrium dan beberapa jaringan non-gonad lainnya. Meski masih banyak perdebatan soal pentingnya peran LH di luar sistem reproduksi, penemuan ini membuka peluang baru dalam memahami fungsi hormon ini secara menyeluruh.

 

Lalu siapa yang Membutuhkan Suplementasi LH

Salah satu perdebatan besar dalam dunia reproduksi berbantuan adalah soal perlu tidaknya suplementasi LH saat OS. Terutama karena obat-obatan yang digunakan untuk mencegah ovulasi prematur (seperti agonis atau antagonis GnRH) bisa menekan produksi LH endogen secara temporer.

Namun, banyak wanita tetap menunjukkan respons baik terhadap stimulasi dengan FSH saja. Ini artinya, kadar LH sisa yang beredar masih cukup untuk mendukung aktivitas LHCGR (reseptor LH/CG) di folikel.

Jadi pada intinya tetap bergantung dengan kondisi tubuh yaa sister! apalagi kebutuhan LF dan FSH. Karena pada kasus pejuang dua garis terutama yang memiliki kondisi spesifik atau respons buruk terhadap OS, bisa mendapatkan manfaat dari tambahan LH. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris ya!

Referensi

  • Alviggi, C., Vigilante, L., Cariati, F., Conforti, A., & Humaidan, P. (2025). The role of recombinant LH in ovarian stimulation: what’s new?. Reproductive Biology and Endocrinology, 23(Suppl 1), 38.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, ibu, infertilitas, laki-laki, LH, pejuang dua garis, perempuan

Probiotik Sebelum Transfer Embrio: Apakah Bisa Meningkatkan Keberhasilan Kehamilan?

April 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Penanganan infertilitas terus mengalami perkembangan pesat. Salah satu pendekatan yang kini mulai menarik perhatian adalah penggunaan probiotik vagina sebelum prosedur transfer embrio (ET/embrio transfer). Probiotik diyakini mampu memperbaiki keseimbangan mikrobiota di area vagina, yang mungkin berdampak positif terhadap keberhasilan implantasi embrio. Tapi, seberapa besar dampaknya terhadap peluang kehamilan? MDG akan membahas lebih lanjut, baca sampai akhir ya!

Apa Peran Probiotik dalam Program Kehamilan?

Probiotik dikenal sebagai bakteri “baik” yang bisa memberikan manfaat untuk kesehatan tubuh, termasuk dalam kesehatan reproduksi. Salah satu jenis probiotik yang penting adalah Lactobacillus, yaitu bakteri yang secara alami hidup di vagina dan rongga rahim (endometrium).

Nah, Lactobacillus ini tidak sekadar “numpang lewat”. Ia bekerja menjaga keseimbangan lingkungan di area kewanitaan dengan memproduksi zat seperti asam laktat, hidrogen peroksida, dan bakteriosin. Zat-zat ini membantu menjaga pH vagina tetap rendah (kurang dari 4,5), sehingga menghambat pertumbuhan kuman jahat. 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi rahim dan vagina yang didominasi oleh Lactobacillus berhubungan dengan tingkat keberhasilan kehamilan yang lebih tinggi, terutama pada program bayi tabung (IVF). 

Sebaliknya, jika mikrobioma di rahim didominasi oleh bakteri lain yang tidak menguntungkan, peluang kehamilan cenderung lebih rendah, bahkan bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur. Bahkan Salah satu studi menunjukkan bahwa setelah enam bulan konsumsi probiotik oral tertentu (Ligilactobacillus salivarius), sekitar 56% wanita dengan masalah kesuburan akhirnya bisa hamil. 

Apakah Probiotik Bisa Benar-benar Membantu Implantasi?

Para peneliti menduga bahwa suplementasi probiotik bisa membantu keberhasilan implantasi yaitu proses menempelnya embrio di dinding rahim. Tapi agar efeknya terasa, durasi pemberiannya juga penting. Beberapa studi menyarankan minimal enam hari pemberian probiotik vagina untuk memberi waktu bakteri baik menetap dan bekerja, bahkan bisa berpindah ke rahim.

Namun, jika hanya diberikan selama tiga hari belum tentu memberikan efek apa-apa. Selain itu, prosedur lain dalam siklus IVF seperti pencucian vagina dengan cairan garam atau stimulasi hormon juga bisa memengaruhi keseimbangan bakteri baik, bahkan mungkin mengganggu lingkungan rahim yang sudah optimal.

Meski demikian tentu saja sister dan paksu harus berkonsultasi dengan dokter dan disesuaikan dengan kebutuhan. Karena pendekatan terapi probiotik yang dipersonalisasi bisa menjadi strategi baru yang menjanjikan dalam meningkatkan keberhasilan program bayi tabung. Untuk informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Maleki-Hajiagha, A., Karimi, R., Abbasi, S., Emami, N., & Amidi, F. (2025). Vaginal probiotics as therapeutic adjuncts for improving embryo transfer success rates: a systematic review and meta-analysis. BMC Pregnancy and Childbirth, 25(1), 262.
  • https://www.alomedika.com/probiotik-untuk-bv#:~:text=Probiotik%20berfungsi%20menjaga%20stabilitas%20flora,vaginosis%20dan%20memperlambat%20terjadinya%20relapse.
  • Thanaboonyawat, I., Pothisan, S., Petyim, S., & Laokirkkiat, P. (2023). Pregnancy outcomes after vaginal probiotic supplementation before frozen embryo transfer: A randomized controlled study. Scientific Reports, 13(1), 11892.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, laki-laki, perempuan, probiotik

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 6
  • Page 7
  • Page 8
  • Page 9
  • Page 10
  • Page 11
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.