• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

OAT

Strategi Hormonal untuk Mengatasi OAT: Ketika Kesuburan Pria Terancam

May 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas bukan cuma soal perempuan. Faktanya, sekitar 50% kasus infertilitas pada pasangan disumbang oleh faktor laki-laki. Nah fakta bahwa sekitar 40% kasus infertilitas pria termasuk dalam kategori idiopatik alias penyebabnya belum jelas. Salah satu kondisi yang cukup sering muncul dalam kasus ini adalah oligoasthenoteratozoospermia (OAT), yang merujuk pada rendahnya jumlah sperma, motilitas (kemampuan bergerak), dan bentuk sperma yang normal.

Menurut kriteria WHO 2010, seseorang dikatakan mengalami OAT jika konsentrasi sperma kurang dari 15 juta/mL, motilitas total di bawah 40%, motilitas progresif kurang dari 32%, dan morfologi sperma normal kurang dari 4%. Untuk mengatasi masalah ini, pendekatan multidisiplin sangat penting, termasuk strategi pengobatan berbasis hormonal yang mulai menunjukkan hasil menjanjikan. Nah MDG akan membahas lebih lanjut bagaimana strategi hormonal ini berpengaruh!

Hubungan Hormon dengan Kesuburan Laki-laki 

Jadi sistem kesuburan laki-laki itu sangat bergantung pada keseimbangan hormon dalam sumbu HPG (hipotalamus–hipofisis–gonad). Gangguan apa pun di titik ini bisa mengacaukan produksi sperma. Beberapa kondisi yang bisa mengganggu sumbu HPG antara lain, obesitas dan diabetes melitus yang tidak terkontrol, Infeksi dan penyakit sistemik, penggunaan obat tertentu seperti anti-androgen dan steroid, konsumsi alkohol berlebihan, paparan zat kimia yang mengganggu hormon dan juga tumor testis atau hormon-secreting tumor seperti tumor Leydig

Nah pada beberapa kasus ternyata laki-laki dengan OAT memiliki kadar testosteron yang rendah, namun kadar hormon FSH dan LH-nya tetap normal, hal ini menunjukkan adanya hipogonadisme fungsional, kondisi yang bisa memburuk karena gaya hidup tidak sehat seperti obesitas.

Kenapa Tidak Bisa Pakai Terapi Testosteron Biasa?

Secara logika, jika testosteron rendah, tinggal diberi saja, kan? Sayangnya, tidak sesederhana itu.

Terapi penggantian testosteron (TRT) memang lazim digunakan untuk pria dengan hipogonadisme, tapi bagi pria yang ingin tetap subur, ini bisa jadi bumerang. Testosteron sintetis justru memberi sinyal ke otak bahwa tubuh sudah cukup hormon, sehingga produksi hormon pemicu sperma (GnRH, FSH, dan LH) ditekan. Akibatnya, kadar testosteron di dalam testis yang sangat penting untuk pembentukan sperma menurun drastis. Untuk itu butuh pendekatan hormonal yang tepat sasaran. 

Pengobatan Hormonal yang Tepat Sasaran

Alih-alih memberi testosteron dari luar, strategi terbaru adalah meningkatkan produksi testosteron alami di dalam testis, terutama dengan menargetkan jalur androgen dalam sel Sertoli, Leydig, dan mioid peritubular. Sebuah temuan bahkan menunjukkan bahwa jika reseptor androgen dalam sel-sel ini dinonaktifkan (seperti pada studi tikus knockout), proses spermatogenesis akan berhenti. Artinya, testosteron lokal di testis sangat krusial, bahkan lebih penting dari testosteron dalam darah.

Namun, kadar testosteron intratestikular optimal untuk merangsang spermatogenesis hingga kini masih menjadi tanda tanya besar. Sehingga dibutuhkan evaluasi menyeluruh sebelum memulai terapi hormonal. Mulai dari menentukan kandidat yang cocok untuk terapi hormonal, memilih jenis terapi yang tepat, menentukan durasi pengobatan dan mengevaluasi hasil terapi secara berkala. Masih banyak perdebatan terkait pilihan terapi, dosis, dan waktu terbaik untuk pengobatan hormonal pada pasien OAT. Jadi jangan lupa tetap konsultasikan dengan dokter ya! informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

  • Çayan, S., Altay, A. B., Rambhatla, A., Colpi, G. M., & Agarwal, A. (2024). Is There a Role for Hormonal Therapy in Men with Oligoasthenoteratozoospermia (OAT)?. Journal of Clinical Medicine, 14(1), 185.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hormonal, infertilitas, laki-laki, OAT

Prosedur TESA Solusi untuk Masalah Kesuburan Pria, Ini Faktanya!

May 7, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Buat kamu dan paksu yang sedang berjuang punya buah hati, istilah TESA (Testicular Sperm Aspiration) mungkin belum terlalu familiar. Tapi tenang, kita bahas bareng, yuk!

Berkenalan dengan Prosedur TESA

TESA adalah prosedur pengambilan sperma langsung dari testis, biasanya dilakukan saat paksu tidak bisa mengeluarkan sperma secara alami atau jumlah sperma sangat sedikit atau permasalahan sperma lainnya. TESA (Testicular Sperm Aspiration) adalah prosedur pengambilan sperma langsung dari epididimis atau testis yang digunakan pada pria dengan azoospermia, yaitu kondisi di mana tidak ditemukan sperma dalam air mani. 

Azoospermia bisa disebabkan oleh sumbatan (obstruktif) atau gangguan produksi sperma (non-obstruktif). Sperma yang diambil biasanya digunakan untuk program bayi tabung dengan teknik ICSI (injeksi sperma ke dalam sel telur), karena jumlahnya sangat terbatas dan tidak cocok untuk inseminasi biasa.

Siapa Aja yang Bisa Menggunakan Prosedur TESA?

TESA biasanya direkomendasikan buat pria yang punya kondisi tertentu, kayak:

  • Nggak bisa ejakulasi, misalnya karena kondisi medis seperti cedera saraf, atau karena faktor psikologis yang bikin stres berat tiap kali harus “mengeluarkan”.

  • Jumlah dan kualitas sperma yang sangat rendah, padahal secara fisik dan hormon nggak ada keluhan yang berarti.

  • Pernah steril (vasektomi) dan sudah operasi penyambungan, tapi sperma masih sulit ditemukan di air mani

Apakah Prosedur TESA Bisa Berhasil? Berapa Banyak?

Nah, ini yang bikin semangat, sister! sebuah penelitian bahkan menunjukkan ternyata TESA berhasil ambil sperma pada 94% pria yang ikut prosedur ini. Bahkan, di dua kelompok yang nggak bisa ejakulasi dan yang sudah operasi penyambungan angka keberhasilannya 100%! Keren banget, kan?

Dan setelah spermanya diambil lewat TESA, pasangan ini ikut program bayi tabung (ICSI). Hasilnya?  Sekitar 1 dari 3 pasangan berhasil hamil. Angka yang cukup menjanjikan buat yang udah berjuang lama.

Artinya, kalau paksu masih punya sperma walau sangat sedikit atau susah dikeluarkan, TESA bisa jadi salah satu cara untuk bantu wujudkan impian punya anak. Tentu nggak semua pasangan langsung berhasil, tapi prosedur ini kasih peluang tambahan yang patut dicoba.

Dan yang paling penting: kamu nggak sendirian dalam perjuangan ini. Ada banyak pasangan lain yang juga lagi mencari jalan terbaik dan TESA mungkin bisa jadi salah satunya. Jika butuh informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Alrabeeah, K., Yafi, F., Flageole, C., Phillips, S., Wachter, A., Bissonnette, F., … & Zini, A. (2014). Testicular sperm aspiration for nonazoospermic men: sperm retrieval and intracytoplasmic sperm injection outcomes. Urology, 84(6), 1342-1346.
  • https://www.lifefertility.com.au/resources/factsheets/pesa-tesa/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: azoo, OAT, sperma, TESA

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.