• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

paksu

Vitamin E dan Vitamin C pada Infertilitas Pria: Apakah Antioksidan Ini Benar-Benar Membantu?

February 17, 2026 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas pria sering kali berkaitan dengan kualitas sperma yang menurun, dan salah satu faktor yang paling sering disorot adalah stres oksidatif. Dalam kondisi normal, sperma hanya terpapar sedikit radikal bebas. Namun ketika jumlahnya berlebihan, sel sperma menjadi rentan rusak baik dari sisi jumlah, pergerakan, hingga integritas DNA. Di sinilah peran antioksidan seperti vitamin E dan vitamin C mulai banyak dibicarakan.

Bahas lebih lanjut yuk, bagaimana Vitamin C dan vitamin E hadir sebagai antioksidan yang mudah ditemukan, relatif murah, dan sering direkomendasikan sebagai terapi tambahan pada infertilitas pria. Meski penggunaannya luas, pertanyaannya tetap sama: apakah manfaatnya benar-benar nyata secara klinis?

Mengapa Antioksidan Penting?

Radikal bebas atau reactive oxygen species (ROS) dapat memicu kerusakan membran sperma dan DNA. Sperma sendiri merupakan sel yang sangat sensitif terhadap stres oksidatif karena struktur membrannya kaya asam lemak tak jenuh.

Vitamin C berperan menjaga fungsi sperma dan stabilitas DNA, sementara vitamin E dikenal mampu melindungi membran sel dari kerusakan oksidatif. Secara teori, keduanya terlihat menjanjikan. Namun teori saja tentu tidak cukup.

Apa yang Terlihat dari Berbagai Studi Klinis?

Ketika berbagai uji klinis dikumpulkan dan dianalisis secara sistematis, muncul gambaran yang lebih utuh. Secara umum, suplementasi vitamin E dan vitamin C menunjukkan perbaikan pada beberapa parameter sperma.

Pergerakan sperma progresif cenderung membaik, begitu pula konsentrasi sperma dan jumlah total sperma. Bentuk sperma juga menunjukkan perbaikan, meskipun tidak selalu konsisten di semua studi. Menariknya, efek samping hampir tidak dilaporkan, sehingga suplementasi ini relatif aman dalam jangka pendek.

Namun yang paling sering ditunggu oleh pasangan peluang kehamilan ternyata tidak sesederhana itu.

Bagaimana dengan Peluang Kehamilan?

Dalam beberapa studi, pemberian vitamin E dikaitkan dengan peningkatan angka kehamilan pasangan. Efek ini terlihat lebih jelas dibandingkan vitamin C saja. Meski demikian, peningkatan tersebut tidak selalu muncul di semua penelitian, dan kekuatan buktinya masih tergolong sedang hingga rendah.

Artinya, ada sinyal positif, tetapi belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa vitamin E dan C pasti meningkatkan peluang kehamilan pada semua kasus infertilitas pria.

Jadi, Apakah Vitamin E dan C Layak Dikonsumsi?

Vitamin E dan vitamin C memang berpotensi membantu memperbaiki kualitas sperma, terutama pada pria dengan gangguan yang berkaitan dengan stres oksidatif. Namun, manfaatnya tidak bersifat universal.

Tidak semua infertilitas pria disebabkan oleh masalah oksidatif. Pada kondisi tertentu seperti gangguan genetik, kerusakan testis berat, atau azoospermia non-obstruktif peran suplemen menjadi sangat terbatas. Dengan kata lain, antioksidan bukan solusi utama, melainkan bagian kecil dari strategi yang lebih besar.

Yang harus kita soroti sebagai pejuang dua garis terutama untuk paksu, bahwa infertilitas pria seharusnya dimulai dari pemahaman penyebabnya. Evaluasi hormonal, kondisi testis, riwayat infeksi, hingga kualitas DNA sperma jauh lebih menentukan arah terapi dibandingkan sekadar “minum vitamin”.

Vitamin E dan C bisa menjadi pendukung, tetapi bukan penentu. Dalam konteks infertilitas pria, keputusan yang tepat bukan tentang suplemen apa yang diminum, melainkan masalah apa yang sedang dihadapi dan bagaimana menanganinya secara terarah. Jadi tetap harus disesuaikan ya! Jangan lupa follow juga Instagram @menujuduagaris.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.

Referensi

Zhou X, Shi H, Zhu S, Wang H, Sun S. Effects of vitamin E and vitamin C on male infertility: a meta-analysis. International Urology and Nephrology. 2022;54:1793–1805.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Multivitamin, paksu, Pria, promil, Vitamin

Update Pedoman EAU 2021 tentang Infertilitas Pria: Apa yang Berubah?

September 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu pasti sudah tau kalau Infertilitas kini turut menjadi masalah kesehatan global yang memengaruhi sekitar 15% pasangan, dengan kontribusi faktor pria mencapai hampir 50% kasus. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada peluang memiliki keturunan, tetapi juga sering berkaitan dengan masalah kesehatan lain, termasuk penyakit kardiovaskular dan kanker.

Melihat perkembangan riset dan terapi, European Association of Urology (EAU) memperbarui pedoman mengenai kesehatan seksual dan reproduksi pada tahun 2021, khususnya pada aspek infertilitas pria.

Mengapa Perlu Pembaruan?

Pedoman EAU pertama kali diterbitkan tahun 2001 dan terakhir diperbarui pada 2018. Seiring bertambahnya data dan penelitian terbaru, banyak pendekatan diagnostik dan terapi yang perlu dikaji ulang. Misalnya, penurunan global tingkat kesuburan dan tren penurunan kualitas sperma membuat perhatian terhadap kesehatan reproduksi pria semakin meningkat.

Poin-Poin Penting dalam Pedoman Baru

  1. Pemeriksaan menyeluruh pada pria, Semua pria dari pasangan infertil wajib menjalani pemeriksaan urologi komprehensif. Tujuannya adalah untuk: Mengidentifikasi faktor risiko yang bisa dimodifikasi (misalnya varikokel, hipogonadisme). Menyaring kemungkinan penyakit lain, karena pria infertil memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker dan penyakit jantung.
  1. Sperm DNA fragmentation, tes fragmentasi DNA sperma muncul sebagai biomarker baru. Tes ini dapat membantu mengidentifikasi infertilitas pria serta memprediksi hasil teknik reproduksi berbantu (ART).
  1. Terapi Hormonal dan Pengobatan Empiris, terapi hormonal untuk pasien dengan hipogonadisme atau kondisi eugonadal masih kontroversial, dan tidak direkomendasikan di luar uji klinis. Antioksidan dan terapi empiris lain (misalnya beberapa suplemen) belum terbukti efektif secara kuat, sehingga penggunaannya di praktik klinis masih harus hati-hati.
  2. Intervensi Bedah, untuk pasien dengan non-obstructive azoospermia (NOA), pilihan utama tetap TESE (conventional atau microdissection). Dan Fine-needle mapping testis sebagai metode prediktif masih dinilai memiliki bukti rendah, sehingga belum bisa menggantikan TESE secara rutin.

Implikasi Kesehatan Jangka Panjang

Pedoman tersebut menunjukkan bahwa infertilitas bukan hanya persoalan kesuburan. Pria infertil terbukti memiliki risiko lebih tinggi terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskular serta kemungkinan lebih besar mengalami malignansi. Karena itu, selain fokus pada kesuburan, pasien perlu mendapatkan konseling dan pemantauan kesehatan jangka panjang.

Pedoman EAU 2021 memberikan arah baru dalam manajemen infertilitas pria. Pesan utamanya jelas bahwa semua pria infertil harus diperiksa secara komprehensif. Hati-hati menggunakan terapi yang belum terbukti kuat secara ilmiah. Dan terakhir harus diingat jika Infertilitas harus dilihat tidak hanya sebagai masalah reproduksi, tetapi juga sebagai penanda kesehatan pria secara umum.

Referensi

  • Minhas, S., Bettocchi, C., Boeri, L., Capogrosso, P., Carvalho, J., Cilesiz, N. C., … & Salonia, A. (2021). European association of urology guidelines on male sexual and reproductive health: 2021 update on male infertility. European urology, 80(5), 603-620.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: global, kesehatan, paksu, pasangan, standar baru

A Body Shape Index (ABSI) dan Infertilitas: Apakah Bentuk Tubuh Bisa Jadi Petunjuk Kesuburan?

April 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas bukan hanya persoalan medis semata, tapi juga isu kesehatan masyarakat yang berdampak besar pada kualitas hidup jutaan perempuan di dunia. Bahkan diperkirakan, sekitar 10–15% perempuan usia reproduksi mengalami kesulitan untuk hamil. Di balik angka ini, ada beban psikologis, tekanan sosial, dan tantangan ekonomi yang tidak kecil. MDG akan membahas salah dengan sudut pandang ABSI. 

Ketahui Lemak visceral Faktor Infertilitas

Masalah infertilitas sendiri sangat kompleks, dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari genetik, lingkungan, gaya hidup, hingga kondisi metabolik. Karena itu, penting bagi kita untuk terus mencari penanda baru yang bisa membantu deteksi dini dan penanganan infertilitas secara lebih efektif.

Salah satu faktor yang akan MDG bahas adalah dalam faktor obesitas, khususnya obesitas sentral (lemak yang menumpuk di sekitar perut). Lemak visceral (lemak di sekitar organ dalam perut) punya dampak lebih besar terhadap kesehatan reproduksi dibandingkan lemak subkutan (lemak di bawah kulit). Lemak visceral ini berkontribusi terhadap resistensi insulin, gangguan hormon, bahkan masalah sistem imun, semuanya bisa mengganggu kesuburan perempuan.

Cara Mengukur Lemak yang Efektif

Masalahnya, pengukuran obesitas yang umum digunakan seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) ternyata tidak cukup akurat untuk membedakan jenis lemak ini. Alternatif seperti waist-to-hip ratio (WHR) dan visceral adiposity index (VAI) sudah mulai digunakan, tapi keduanya juga punya keterbatasan, baik dalam hal akurasi maupun kemudahan penggunaannya di lapangan.

Nah, disinilah ABSI (A Body Shape Index) hadir sebagai solusi baru. Apa Itu ABSI? ABSI adalah indeks antropometri yang menggabungkan data lingkar pinggang, tinggi badan, dan berat badan untuk memberikan gambaran yang lebih presisi tentang lemak perut. Rumus ABSI adalah: ABSI = Lingkar Pinggang / (BMI^(2/3) × Tinggi^(1/2))

Dengan pendekatan ini, ABSI dinilai lebih jitu dalam mendeteksi risiko yang berhubungan dengan lemak visceral seperti penyakit jantung, diabetes, sindrom metabolik, dan bahkan kematian dini. Tapi yang menarik, belum banyak studi yang mengkaji kaitannya dengan infertilitas perempuan.

Hubungan Bentuk Tubuh dan Kesuburan

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yang et.al 2024 menunjukkan bahwa perempuan dengan nilai ABSI yang lebih tinggi menunjukkan tingkat infertilitas yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan ABSI lebih rendah. Dari sisi kesehatan, mereka juga lebih sering mengalami tekanan darah tinggi dan diabetes. Temuan ini memperlihatkan bahwa nilai ABSI yang tinggi dapat menjadi petunjuk awal adanya risiko gangguan kesuburan, terutama jika dilihat bersama faktor-faktor lain seperti usia, kondisi kesehatan, dan gaya hidup. 

Sehingga dapat kita pahami bahwa memahami bentuk tubuh lebih dalam bukan sekadar berat badan atau BMI saja yang bisa membantu kita mengenali potensi risiko lebih awal dan mengambil langkah yang tepat. ABSI juga unggul karena mudah dihitung, non-invasif dan cocok digunakan dalam pengaturan skala besar.

Namun tentu saja, dibutuhkan pengecekan lebih lanjut dan memahami secara lebih mendalam hubungan antara bentuk tubuh dan kesuburan perempuan. Tapi satu hal pasti cara tubuh menyimpan lemak ternyata bisa memberi kita petunjuk penting tentang kesehatan reproduksi. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Yang, Q., Wuliu, J., Zeng, L. et al. Association between a body shape index and female infertility: a cross-sectional study. BMC Women’s Health 24, 486 (2024). https://doi.org/10.1186/s12905-024-03335-1

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, lemak visceral, paksu, perempuan, sister

Kenali Kehamilan Ektopik Sebagai Ancaman di Awal Kehamilan

April 4, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Kehamilan ektopik (ectopic pregnancy/EP) merupakan salah satu kondisi serius yang bisa terjadi di awal kehamilan, terutama pada trimester pertama. Penjelasannya ini bahwa EP terjadi saat sel telur yang telah dibuahi tidak menempel di dalam rahim, melainkan tumbuh di lokasi yang tidak semestinya. Yang paling umum adalah di saluran tuba falopi, tapi ternyata ada juga yang terjadi di tempat lain seperti isthmus, bekas luka operasi caesar, serviks, kornua, ovarium, bahkan di rongga perut. Yuk pelajari lebih lanjut, baca sampai habis ya!

Kehamilan Ektopik pada ART dan Faktor yang Mempengaruhinya

Beberapa faktor teknis yang dapat mempengaruhi kehamilan ektopik adalah tahap embrio saat transfer (pembelahan vs blastokista), jenis siklus transfer (segar vs beku)
frekuensi kontraksi uterus selama siklus segar, penggunaan progesteron untuk dukungan fase luteal, dan kesulitan teknis saat transfer embrio 

Dalam hal ini, sebuah studi retrospektif yang dilakukan di salah satu pusat fertilitas di Milan, Italia, menyertakan data dari 27.376 siklus ART dan IUI selama 10 tahun (2009–2018), mencatat faktor-faktor lain ini seperti usia pasien, BMI, riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, cadangan ovarium (FSH, AMH, AFC), dan kondisi seperti infeksi panggul atau endometriosis. 

Faktor Risiko Tambahan: Siapa yang Lebih Rentan?

Selain faktor teknis ART, ada pula sejumlah faktor risiko lain yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya EP, seperti riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, Infeksi panggul, endometriosis, atau perlengketan di area reproduksi, usia wanita, kebiasaan merokok, dan lama infertilitas, kualitas cadangan ovarium yang rendah dan prosedur transfer embrio yang sulit atau traumatis.

Yang perlu dicatat, banyak faktor risiko EP juga tumpang tindih dengan faktor risiko infertilitas. Dengan semakin banyaknya pasangan yang mengandalkan teknologi reproduksi berbantu untuk mendapatkan keturunan, penting untuk bagi sister dan paksu untuk mengenali dan memahami risiko kehamilan ektopik. 

Deteksi dini dan pendekatan yang tepat dapat menyelamatkan nyawa serta meningkatkan peluang kehamilan yang sehat dan berkelanjutan. Pencegahan lainnya adalah dengan edukasi, yaitu memahami informasi yang jelas tentang kondisi yang dialami.

Selain itu, pengawasan ketat selama prosedur ART serta pengembangan protokol yang lebih aman dan personalisasi kasus menjadi langkah penting dalam mengurangi angka kejadian kehamilan ektopik (EP).

Untuk informasi menarik lainnya, jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id!

Referensi

Ramaraju, G. A., Teppala, S., Prathigudupu, K., Kalagara, M., Thota, S., Kota, M., & Cheemakurthi, R. (2018). Association between obesity and sperm quality. Andrologia, 50(3), e12888.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kehamilan ektopik, paksu, perempuan, rahim, sister, tuba

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.