• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

pasangan

Update Pedoman EAU 2021 tentang Infertilitas Pria: Apa yang Berubah?

September 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu pasti sudah tau kalau Infertilitas kini turut menjadi masalah kesehatan global yang memengaruhi sekitar 15% pasangan, dengan kontribusi faktor pria mencapai hampir 50% kasus. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada peluang memiliki keturunan, tetapi juga sering berkaitan dengan masalah kesehatan lain, termasuk penyakit kardiovaskular dan kanker.

Melihat perkembangan riset dan terapi, European Association of Urology (EAU) memperbarui pedoman mengenai kesehatan seksual dan reproduksi pada tahun 2021, khususnya pada aspek infertilitas pria.

Mengapa Perlu Pembaruan?

Pedoman EAU pertama kali diterbitkan tahun 2001 dan terakhir diperbarui pada 2018. Seiring bertambahnya data dan penelitian terbaru, banyak pendekatan diagnostik dan terapi yang perlu dikaji ulang. Misalnya, penurunan global tingkat kesuburan dan tren penurunan kualitas sperma membuat perhatian terhadap kesehatan reproduksi pria semakin meningkat.

Poin-Poin Penting dalam Pedoman Baru

  1. Pemeriksaan menyeluruh pada pria, Semua pria dari pasangan infertil wajib menjalani pemeriksaan urologi komprehensif. Tujuannya adalah untuk: Mengidentifikasi faktor risiko yang bisa dimodifikasi (misalnya varikokel, hipogonadisme). Menyaring kemungkinan penyakit lain, karena pria infertil memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker dan penyakit jantung.
  1. Sperm DNA fragmentation, tes fragmentasi DNA sperma muncul sebagai biomarker baru. Tes ini dapat membantu mengidentifikasi infertilitas pria serta memprediksi hasil teknik reproduksi berbantu (ART).
  1. Terapi Hormonal dan Pengobatan Empiris, terapi hormonal untuk pasien dengan hipogonadisme atau kondisi eugonadal masih kontroversial, dan tidak direkomendasikan di luar uji klinis. Antioksidan dan terapi empiris lain (misalnya beberapa suplemen) belum terbukti efektif secara kuat, sehingga penggunaannya di praktik klinis masih harus hati-hati.
  2. Intervensi Bedah, untuk pasien dengan non-obstructive azoospermia (NOA), pilihan utama tetap TESE (conventional atau microdissection). Dan Fine-needle mapping testis sebagai metode prediktif masih dinilai memiliki bukti rendah, sehingga belum bisa menggantikan TESE secara rutin.

Implikasi Kesehatan Jangka Panjang

Pedoman tersebut menunjukkan bahwa infertilitas bukan hanya persoalan kesuburan. Pria infertil terbukti memiliki risiko lebih tinggi terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskular serta kemungkinan lebih besar mengalami malignansi. Karena itu, selain fokus pada kesuburan, pasien perlu mendapatkan konseling dan pemantauan kesehatan jangka panjang.

Pedoman EAU 2021 memberikan arah baru dalam manajemen infertilitas pria. Pesan utamanya jelas bahwa semua pria infertil harus diperiksa secara komprehensif. Hati-hati menggunakan terapi yang belum terbukti kuat secara ilmiah. Dan terakhir harus diingat jika Infertilitas harus dilihat tidak hanya sebagai masalah reproduksi, tetapi juga sebagai penanda kesehatan pria secara umum.

Referensi

  • Minhas, S., Bettocchi, C., Boeri, L., Capogrosso, P., Carvalho, J., Cilesiz, N. C., … & Salonia, A. (2021). European association of urology guidelines on male sexual and reproductive health: 2021 update on male infertility. European urology, 80(5), 603-620.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: global, kesehatan, paksu, pasangan, standar baru

Menjaga Mental & Keharmonisan Pasangan Saat Promil

September 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Promil (program hamil) seringkali dipahami sebatas urusan medis. Padahal, kesehatan mental dan keharmonisan hubungan dengan pasangan juga memegang peran besar dalam keberhasilan perjalanan menuju dua garis.

Dalam sesi pertama Prodia Fertility Bootcamp 2025, psikolog Dra. Astrid Regina Sapiie, M.Psi.T. berbagi banyak hal tentang bagaimana menjaga ketenangan pikiran dan keharmonisan rumah tangga selama proses promil.

Tantangan dalam Perjalanan Promil

Promil tidak selalu berjalan mulus. Tekanan sering datang dari berbagai arah:

  • Harapan orang tua atau mertua, Tekanan bisa datang dari keluarga besar yang menginginkan segera hadirnya cucu. Contoh: Orang tua sering bertanya, “Kapan nih punya anak?” atau mertua memberi saran berulang kali soal program hamil, yang bisa membuat pasangan merasa tertekan.
  • Persepsi masyarakat sekitar Lingkungan sosial kadang ikut menambah beban dengan komentar atau stigma. Contoh: Tetangga bilang, “Sudah lama menikah kok belum punya anak?” atau teman sebaya sudah banyak yang membawa anak saat kumpul keluarga.
  • Perbedaan emosi dengan pasangan, Pasangan bisa punya cara berbeda dalam merespons kegagalan promil. Ada yang lebih rasional, ada juga yang lebih emosional. Contoh: Istri merasa sedih dan menangis ketika tes kehamilan negatif, sementara suami terlihat lebih santai. Perbedaan ini bisa memicu salah paham jika tidak saling memahami.
  • Stres akibat hasil promil yang belum sesuai harapan, Setiap usaha promil membawa ekspektasi besar. Ketika hasilnya tidak sesuai, wajar muncul rasa kecewa, marah, atau putus asa. Contoh: Setelah berbulan-bulan rutin cek USG, minum obat, dan menjaga pola hidup, hasilnya tetap belum hamil. Hal ini bisa membuat pasangan merasa gagal dan stres berlebihan.

Kondisi ini bisa membuat pasangan merasa terbebani. Karena itu, penting untuk menemukan cara agar kesehatan mental tetap terjaga.

Tips Menjaga Kesehatan Mental

Menurut Bu Astrid, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan. Tidak semua situasi ada di tangan kita, jadi lebih baik mengerahkan energi pada hal yang memang bisa diperbaiki.
  • Ciptakan cerita baik bersama pasangan. Ingat momen positif dan buat pengalaman baru yang menyenangkan.
  • Terhubung dengan komunitas. Dukungan sosial membuat pasangan tidak merasa sendirian.

  • Jaga fisik dengan baik. Nutrisi seimbang, tidur cukup, olahraga, dan manajemen stres menjadi fondasi penting.
  • Latih komunikasi sehat. Keterbukaan dan kecerdasan emosional membantu mencegah konflik yang merusak hubungan.

Harmoni Bukan Berarti Tanpa Konflik

Sering ada anggapan bahwa pasangan yang harmonis tidak pernah bertengkar. Padahal, menurut Bu Astrid, konflik bisa saja terjadi dan justru sehat jika dihadapi dengan cara yang tepat. Kuncinya adalah kesadaran bersama bahwa hubungan adalah perjalanan yang perlu dijaga berdua, bukan sendiri-sendiri.

Salah satu pertanyaan menarik yang muncul dalam sesi ini adalah: “Bagaimana cara mengembalikan keintiman, karena hubungan setelah 6 bulan terasa bukan lagi bentuk cinta, tetapi menjadi tekanan untuk berhasil promil?”

Bu Astrid menjawab dengan menekankan pentingnya mindfulness – hadir penuh pada momen saat ini, menikmati dan fokus pada “hari ini, di sini.”

Selain itu, keintiman bisa dibangun kembali lewat nostalgia, dengan menghadirkan kembali emosi positif dari memori indah bersama. Dan yang paling penting, Bu Astrid mengingatkan: “Ingat, keintiman itu dibangun, bukan muncul tiba-tiba.”

Perjalanan promil memang penuh tantangan, tapi bukan berarti pasangan harus terjebak dalam tekanan. Dengan menjaga kesehatan mental, komunikasi yang baik, serta membangun kembali keintiman, perjalanan menuju dua garis bisa dijalani dengan lebih ringan dan penuh harapan. Jangan lupa sister dan paksu untuk ikut sesi selanjutnya ya! follow juga Instagram @menujuduagaris.id

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: fertility bootcamp, keharmonisan, menjaga mental, pasangan, sesi 1

Masturbasi Atipikal dan Masalah Seksual: Apa Pengaruhnya terhadap Program Hamil?

May 25, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Bagi sister dan paksu juga perlu memahami tentang cara masturbasi yang ternyata bisa berdampak pada keberhasilan program hamil. Bahkan sebuah studi baru mengungkap bahwa cara masturbasi yang tidak biasa dapat berkontribusi pada erectile dysfunction (ED), terutama pada pria yang juga mengalami pre-mature ejaculation (PE). Wah bagaimana ini terjadi? yuk pahami lebih lanjut!

Yuk Pahami apa itu Pre-mature Ejaculation (PE) atau Disfungsi Ereksi

Ejakulasi dini (PE) adalah jenis disfungsi seksual yang terjadi saat seseorang mengalami orgasme dan ejakulasi lebih cepat dari yang diinginkannya atau pasangannya. Hal ini sering terjadi sebelum atau sesaat setelah penetrasi saat berhubungan seksual. Ejakulasi dini dapat menjadi pengalaman yang membuat frustasi bagi pasangan seksual Anda serta membuat kehidupan seks kalian menjadi kurang menyenangkan. Sehingga ini berdampak pada program hamil yang bisa jadi sedang paksu dan sister jalani.

Sebuah penelitian menemukan bahwa beberapa pria memiliki kebiasaan masturbasi yang tidak lazim, seperti menggesekkan alat kelamin lewat pakaian atau menggosok dalam posisi tengkurap. Pola seperti ini, jika berlangsung lama dan menjadi kebiasaan utama dalam meraih orgasme, bisa membuat tubuh dan otak terbiasa merespons rangsangan secara terbatas. Akibatnya, saat melakukan hubungan seksual yang normal dengan pasangan, respon seksual bisa terganggu, misalnya sulit mencapai ereksi atau kesulitan mempertahankan ereksi sampai ejakulasi terjadi. Kebiasaan seperti ini berpotensi menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya disfungsi ereksi. Lalu apakah ini disebut sebagian dari sebab susahnya hamil?

Kenapa Cara Masturbasi Bisa Berpengaruh pada Infertilitas?

Perilaku masturbasi yang tidak lazim dapat menciptakan pola respon seksual yang terbentuk kuat seiring waktu. Tubuh dan otak jadi terbiasa merespons rangsangan dalam kondisi tertentu saja. Ketika seseorang kemudian berada dalam hubungan seksual yang “normal”, tubuh tidak memberikan respon yang sama.

Dampaknya terhadap Kesuburan, di sinilah keterkaitannya dengan infertilitas muncul. Bagi pasangan yang sedang mencoba memiliki anak, hubungan seksual yang sehat dan teratur adalah kunci. Jika ada hambatan seperti ejakulasi terlalu cepat atau tidak tuntas, maka kemungkinan kehamilan bisa berkurang.

Beberapa dampak langsung dari kondisi DE dan PE terhadap kesuburan antara lain:

  • Ejakulasi terjadi sebelum penetrasi optimal, sehingga sperma tidak tersalurkan ke dalam vagina

  • Ereksi tidak bertahan cukup lama untuk menyelesaikan hubungan seksual

  • Frekuensi hubungan seksual menurun akibat tekanan psikologis dari masalah performa

Bahkan jika kualitas sperma pria tergolong baik, hambatan dalam fungsi seksual bisa tetap menghalangi terjadinya kehamilan secara alami.

Perlu Evaluasi Menyeluruh, Bukan Hanya Sperma

Sering kali fokus evaluasi infertilitas hanya tertuju pada analisis sperma. Padahal, aspek lain seperti fungsi seksual dan perilaku masturbasi juga bisa memainkan peran penting. Dalam kasus ejakulasi dini yang disertai disfungsi ereksi, kebiasaan masturbasi sebaiknya turut ditanyakan dan dievaluasi.

Keterbukaan antara pasangan dan konsultasi ke tenaga kesehatan menjadi langkah penting. Mengenali bahwa kebiasaan tertentu bisa berkontribusi terhadap masalah reproduksi adalah awal dari solusi yang lebih menyeluruh.

Kalau sister dan paksu juga merasakan gangguan seksual dan sedang dalam program hamil, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Masalah ini umum terjadi dan bisa diatasi asal ditangani secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi medis, tapi juga dari sisi psikologis dan perilaku. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Kafkasli, A., Yazici, O., Can, U., Coskun, A., Boz, M. Y., Karatas, B., & Kece, C. (2021). Traumatic masturbation syndrome may be an important cause of erectile dysfunction in pre‐mature ejaculation patients. Andrologia, 53(9), e14168.
  • https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/15627-premature-ejaculation?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, masturbasi, pasangan, perempuan, program hamil

Pahami Penerapan Strategi Coping dalam Menghadapi Infertilitas

March 15, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas bukan hanya persoalan medis, tetapi juga tantangan emosional yang harus dihadapi bersama. Bagi sister dan paksu yang sedang berjuang dalam proses ini, menjaga keseimbangan emosional dan saling mendukung adalah kunci utama agar tetap kuat. Lalu, bagaimana cara terbaik untuk menghadapinya? MDG setidaknya akan bahas beberapa langakah yang dapat dilakukan, salah satunya adalah strategi coping.

Apa itu coping strategies, ia hadir sebagai salah satu cara untuk mengatasi ketidaksuburan meliputi mempelajari tentang ketidaksuburan, berkomunikasi dengan pasangan, dan mempraktikkan perawatan diri. Untuk itu MDG sudah memberikan banyak informasi agar sister dan paksu dapat mendapatkan akses informasi. Pada pertemuan kali ini bahas teknik coping yang lain yuk! 

  • Saling Terbuka dan Komunikatif

Pertama saat menghadapi diagnosis infertilitas, keterbukaan menjadi hal penting. Sister dan paksu perlu berbicara secara jujur tentang perasaan, ketakutan, dan harapan masing-masing. Jangan menyimpan semuanya sendiri, karena komunikasi yang baik akan mempererat hubungan dan mengurangi stres.

  • Menjaga Efikasi Diri dan Pikiran Positif

Kepercayaan diri dalam menghadapi situasi sulit sangat mempengaruhi kualitas hidup. Semakin yakin pasangan dalam menghadapi tantangan ini, semakin mudah mereka menjalani prosesnya. Fokuslah pada hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti gaya hidup sehat, pola pikir positif, dan dukungan satu sama lain.

  • Menghindari Sikap Menghindar, Fokus pada Solusi

Saat menghadapi masalah, ada kecenderungan untuk menghindari atau mengabaikannya. Namun, strategi ini justru bisa memperburuk keadaan. Sebaliknya, hadapi tantangan ini dengan mencari solusi yang realistis, baik dari sisi medis maupun emosional. Konsultasi dengan dokter, mengikuti terapi, atau bergabung dengan komunitas bisa menjadi pilihan.

  • Mencari Dukungan dan Tetap Bersama dalam Perjalanan Ini

Infertilitas bukan hanya tentang upaya memiliki anak, tetapi juga bagaimana pasangan menghadapi tantangan bersama. Mencari dukungan dari keluarga, teman, atau profesional bisa membantu mengurangi beban. Yang terpenting, sister dan paksu tetap satu tim, saling menguatkan, dan tidak menyalahkan satu sama lain.

Terakhir sister dan paksu juga dapat melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama, seperti traveling, mencoba hobi baru, atau sekadar menghabiskan waktu berkualitas. hubungan sister dan paksu lebih besar daripada sekadar perjalanan memiliki anak. Yang jelas bahwa menghadapi infertilitas bukanlah perjalanan yang mudah, tetapi dengan dukungan, komunikasi, dan pola pikir yang tepat, pasangan bisa tetap kuat dan harmonis. Apapun hasil akhirnya, perjalanan ini adalah bagian dari kisah hidup yang harus dihadapi bersama. Stay strong, sister dan paksu! untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Andrei, F., Salvatori, P., Cipriani, L., Damiano, G., Dirodi, M., Trombini, E., … & Porcu, E. (2021). Self-efficacy, coping strategies and quality of life in women and men requiring assisted reproductive technology treatments for anatomical or non-anatomical infertility. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology, 264, 241-246.
  • https://resolve.org/get-help/helpful-resources-and-advice/managing-infertility-stress/coping-techniques/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: coping, infertilitas, komunikasi, medis, mental health, pasangan

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Apa yang Terjadi di Ovarium Hari demi Hari: Memahami Perjalanan Sel Telur Sebelum Ovulasi
  • Sindrom Kallmann: Ketika Gangguan Penciuman Berkaitan dengan Kesuburan Mengenal Sindrom Kallmann
  • Mengapa Cadangan Ovarium Bisa Menurun Lebih Cepat?
  • Bagaimana Peran DNA dalam Infertilitas Perempuan
  • Apakah Operasi Ovarium Bisa Memengaruhi Pertumbuhan Folikel?

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.