• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Archives for August 2025

USG, Laparoskopi & Histeroskopi : Benarkan Membantu Buka Jalan Promil Alami

August 11, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Bayangkan saluran tuba itu hadir menjadi jalan jalan untuk sel telur. Prosesnya dari ovarium, sel telur harus lewat jalur ini untuk ketemu sperma dan kemudian menuju rahim. Kalau jalannya rusak, berlubang, atau ketutup, perjalanan itu jadi terganggu. Itulah kenapa sister dan paksu perlu memastikan apakah saluran tuba bermasalah atau tidak.

Salah satu hambatan yang sering muncul adalah hidrosalping dimana ujung tuba tersumbat dan berisi cairan atau hidrosalping, bahas lebih lanjut yuk! Bagaimana penanganannya

Akurasi USG Transvaginal untuk Mendeteksi Hidrosalping
Hidrosalping adalah kondisi ketika saluran tuba terisi cairan dan membesar, yang bisa mengganggu peluang kehamilan. Karena perannya sangat krusial dalam kesehatan reproduksi, pemeriksaan yang akurat jadi kunci untuk menentukan langkah penanganan.

USG transvaginal (USG-TV) menjadi salah satu cara non-invasif yang efektif untuk mendeteksi hidrosalping. Keunggulannya, banyak perempuan bisa terhindar dari tindakan laparoskopi yang sebenarnya tidak diperlukan. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa USG-TV memiliki tingkat akurasi tinggi, dengan risiko kesalahan diagnosis yang sangat rendah.

Kalau hasil USG-TV menunjukkan tanda-tanda hidrosalping, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti laparoskopi. Prosedur ini tidak hanya memastikan diagnosis, tapi juga bisa langsung menangani masalahnya.

Peran Laparoskopi dan Histeroskopi
Dulu, memperbaiki tuba identik dengan operasi besar. Sekarang, ada laparoskopi dan histeroskopi dua prosedur minim sayatan yang bisa memeriksa sekaligus memperbaiki masalah di dalam panggul atau rahim.

Lewat teknik ini, dokter bisa membuka sumbatan, melepaskan perlengketan, atau memperbaiki bentuk ujung tuba (fimbriae) supaya sel telur bisa lewat dengan lancar.

Setelah Operasi, Bisakah Hamil Alami?
Jawabannya: bisa, tergantung tingkat kerusakan tuba. Banyak perempuan berhasil hamil alami setelah tindakan ini, terutama jika kerusakan tidak terlalu parah dan tuba satunya masih sehat.

Tapi kalau kondisinya berat misalnya hidrosalping besar, tuba terpuntir, atau fimbriae rusak peluang hamil alami menurun. Risiko kehamilan ektopik juga lebih tinggi, jadi tetap perlu pemantauan ketat.

Operasi memang bisa “membuka jalan”, tapi keberhasilan program hamil alami tetap bergantung pada kondisi tuba dan kesehatan reproduksi secara keseluruhan.

Itulah kenapa konsultasi pasca tindakan sangat penting. Dari evaluasi tersebut, dokter bisa menentukan apakah promil alami cukup aman dan realistis, atau sebaiknya langsung dibantu dengan program seperti IVF.

Referensi 

  • Nian, L., Yang, D. H., Zhang, J., Zhao, H., Zhu, C. F., Dong, M. F., & Ai, Y. (2021). Analysis of the clinical efficacy of laparoscopy and hysteroscopy in the treatment of tubal-factor infertility. Frontiers in Medicine, 8, 712222.
  • Delgado-Morell, A., Nieto-Tous, M., Andrada-Ripolles, C., Pascual, M. A., Ajossa, S., Guerriero, S., & Alcazar, J. L. (2023). Transvaginal ultrasound accuracy in the hydrosalpinx diagnosis: a systematic review and meta-analysis. Diagnostics, 13(5), 948.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: laparoskopi, promil alami

Terapi Miom Apakah Hanya Operasi?

August 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 Selama ini, operasi sering dianggap sebagai satu-satunya cara mengatasi miom yang menimbulkan gejala seperti pendarahan menstruasi berlebihan (menorrhagia) atau nyeri. Tapi yang sister harus tahu dengan kemajuan teknologi kini dunia medis menawarkan berbagai terapi non-bedah dan minim-invasif yang terbukti efektif. Jadi yuk ketahui lebih lanjut, barangkali ini akan menjadi salah satu pilihan sister yang sedang ada miom.

Terapi Minim-Invasif yang Sudah Terbukti

Miom Tidak Selalu Harus Dioperasi Besar, banyak orang mengira satu-satunya cara mengatasi miom adalah operasi besar seperti histerektomi (pengangkatan rahim). Faktanya, dunia medis kini punya berbagai pilihan terapi minim-invasif yang lebih ringan, efektif, dan punya waktu pemulihan lebih cepat.

Salah satu yang paling sering digunakan adalah miomektomi laparoskopik atau histeroskopik. Miomektomi adalah prosedur mengangkat miom tanpa mengangkat rahim. Metode ini sangat direkomendasikan untuk wanita yang masih ingin memiliki anak di masa depan.Histeroskopik miomektomi khusus ditujukan untuk miom yang berada di lapisan dalam rahim (submukosa). Prosedur ini bahkan bisa meningkatkan peluang kehamilan karena struktur rahim menjadi lebih optimal untuk implantasi janin.

Selain miomektomi, ada juga Uterine Artery Embolization (UAE) menjadi prosedur yang memutus aliran darah ke miom sehingga ukurannya mengecil dan gejala berkurang. UAE efektif meredakan nyeri dan perdarahan, tetapi pada wanita usia reproduktif, beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan risiko masalah kehamilan dibandingkan dengan miomektomi.

Apa Saja Terapi Baru yang Sedang Berkembang?

Jadi kemajuan teknologi juga melahirkan metode baru yang menjanjikan diantaranya adalah MRgFUS (Magnetic Resonance-guided High-Intensity Focused Ultrasound) sebagai terapi non-bedah tanpa sayatan, menggunakan gelombang ultrasound terfokus yang diarahkan dengan panduan MRI untuk menghancurkan miom secara presisi. 

Myolisis / Radiofrequency Ablation (RFA) sebagai teknik minim-invasif yang menghancurkan jaringan miom menggunakan energi panas, biasanya dilakukan melalui laparoskopi.
Laparoscopic/Vaginal Occlusion of Uterine Arteries (L/V-OUA) Prosedur untuk menutup pembuluh darah yang memberi nutrisi pada miom, sehingga miom akan mengecil secara bertahap.

Miom tidak selalu berarti harus menjalani operasi besar. Ada berbagai pilihan terapi yang bisa disesuaikan dengan kondisi kesehatan, ukuran dan lokasi miom, serta rencana kehamilan di masa depan. Untuk wanita yang ingin tetap bisa hamil, miomektomi masih menjadi pilihan paling aman berdasarkan bukti ilmiah. Sementara itu, UAE dan terapi baru bisa menjadi alternatif bagi yang ingin pemulihan cepat atau tidak berencana hamil.

Jadi sister, kuncinya adalah mengenal semua opsi sebelum memutuskan langkah. Miom memang bisa bikin khawatir, tapi dunia medis sekarang sudah jauh lebih canggih dari dulu. Nggak semua harus langsung operasi besar ada banyak pilihan yang minim risiko, pemulihan cepat, dan tetap mempertahankan peluang kehamilan. Konsultasikan kondisi kamu dengan dokter yang paham kebutuhan dan rencana hidupmu, supaya terapi yang dipilih benar-benar pas. Ingat, keputusan terbaik selalu datang dari informasi yang lengkap dan pertimbangan matang.

Referensi

  • van der Kooij, S. M., Ankum, W. M., & Hehenkamp, W. J. (2012). Review of nonsurgical/minimally invasive treatments for uterine fibroids. Current Opinion in Obstetrics and Gynecology, 24(6), 368-375.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ciri miom, miom, oprasi, terapi

Terjebak Stigma, Terluka Diam-Diam: Infertilitas dan Beban Perempuan Asia

August 9, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Di balik keinginan untuk memiliki buah hati, ada luka yang kadang tak terlihat, apalagi di tengah budaya yang menggambarkan kesuburan sebagai harga diri seorang perempuan.

Infertilitas bukan sekadar kondisi medis. Ia bisa menjelma jadi stigma sosial, tekanan keluarga, dan bahkan krisis dalam hubungan pernikahan. Salah satunya di budaya yang memiliki budaya patriarkal kuat, perempuan yang tidak kunjung hamil bisa dianggap gagal sebagai istri meski penyebabnya tak selalu berasal dari pihak perempuan.

Infertilitas: Kupas Fakta Secara Global dan Lokal

Menurut WHO, infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan pasangan untuk hamil setelah satu tahun melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi. Kondisi ini terbagi menjadi Infertilitas primer dimana belum pernah hamil sama sekali dan Infertilitas sekunder yaitu pernah hamil sebelumnya, tapi gagal hamil kembali.

Secara global, sekitar 50 juta pasangan mengalami infertilitas. Di Pakistan, sekitar 22% perempuan mengalami infertilitas, dengan 4% diantaranya mengalami infertilitas primer. Menariknya, angka ini diyakini masih lebih rendah dari realita karena banyak pasangan yang tidak mencari bantuan medis mungkin karena takut, malu, atau merasa tak berdaya melawan stigma.

Bukan Sekadar Medis, Tapi Juga Masalah Sosial

Dan yang perlu kalian ketahui bahwa dalam budaya yang ada di Asia infertilitas kerap dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat mistis atau moral, seperti hukuman dari Tuhan, dosa masa lalu atau kutukan atau ilmu hitam

Tak hanya itu, perempuan yang tidak kunjung hamil sering dianggap sebagai penyebab utama, bahkan jika suaminya juga punya masalah kesuburan. Ini memperburuk beban emosional yang mereka rasakan.

Anak = Keharmonisan Rumah Tangga?

Dalam masyarakat di mana anak dianggap “pengikat” pernikahan, infertilitas bisa mengancam stabilitas hubungan. Beberapa studi menunjukkan pasangan infertil memiliki tingkat burnout hubungan dan kepercayaan negatif yang lebih tinggi dibandingkan pasangan subur. Perempuan mengalami depresi, kecemasan, perasaan bersalah, isolasi sosial, bahkan kehilangan kepercayaan diri sebagai perempuan. Sementara itu, laki-laki lebih cenderung menunjukkan dukungan secara lahiriah, meskipun juga mengalami tekanan batin.

Lalu apa yang Dapat Dilakukan?

Apakah seseorang cenderung menghindar, cemas, atau aman dalam hubungan (attachment style), ternyata ikut memengaruhi cara mereka menghadapi stres karena infertilitas Attachment yang aman berperan melindungi kesehatan mental, Attachment yang menghindar/cemas justru memperparah tekanan psikologis dan konflik dalam rumah tangga

Sebuah studi di Baluchistan mengungkapkan bahwa infertilitas menyebabkan perempuan merasa kehilangan, terisolasi, dan tidak berdaya diperparah oleh budaya yang menempatkan tanggung jawab reproduksi sepenuhnya pada perempuan.

Infertilitas bukan hanya masalah medis tapi juga soal keadilan sosial, empati, dan penyembuhan psikologis. Sehingga dibutuhkan dukungan pasangan yang setara, akses layanan kesehatan mental yang peka budaya, ruang aman untuk perempuan berbagi tanpa dihakimi dan edukasi publik agar masyarakat memahami bahwa punya anak bukan satu-satunya makna hidup, dan infertilitas bukan “kutukan”. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Mobeen, T., & Dawood, S. (2023). Relationship beliefs, attachment styles and depression among infertile women. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology: X, 20, 100245.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kecemasan sosial, mental health, stigma sosial, tekanan

Perlu Nggak Sih Cek AMH Kalau Masih Muda?

August 9, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas baik bagi laki-laki maupun perempuan bisa diketahui sejak mereka muda, bisa dilihat bagaimana frekuensi haid dan gaya hidup laki-laki. Pada perempuan yang dapat  sama cadangan sel telur, nah salah satu tes yang dapat dilakukan adalah Anti-Müllerian Hormone (AMH). Tes ini makin populer karena katanya bisa jadi “tes kesuburan”. Tapi apakah benar AMH bisa memprediksi peluang hamil? Yuk kita kupas!

Apa itu AMH?

AMH adalah hormon yang diproduksi oleh sel di dalam folikel (calon sel telur) di ovarium. Kadar AMH menggambarkan jumlah sel telur yang masih tersisa, tapi ingat ya tidak berhubungan dengan tes kualitasnya. Jadi, AMH bisa memberi gambaran kuantitas, tapi tidak bisa menilai kesehatan sel telur atau peluang sukses hamil.

Dalam dunia medis, AMH sering digunakan untuk:

Memperkirakan cadangan ovarium (berapa banyak sel telur yang tersisa)
Menentukan dosis obat stimulasi pada program bayi tabung (IVF)
Memprediksi respons tubuh terhadap stimulasi ovarium.

Kalau kadarnya rendah, itu bisa jadi sinyal bahwa jendela reproduksi mungkin lebih pendek. Tapi penting diingat, AMH rendah bukan berarti nggak bisa hamil. Karena itu bukan satu satunya yang menjadi fokus utama dengan teknologi yang tentunya semakin canggih. Jadi apa aja sih faktor yang bisa mengubah hasil AMH

Kadar AMH bisa dipengaruhi beberapa hal, seperti:

  • Penggunaan kontrasepsi hormonal – Bisa menurunkan AMH sementara
  • Kondisi hormon tertentu seperti hipogonadotropik hipogonadisme
  • Indeks massa tubuh (IMT) tinggi – AMH bisa terlihat lebih rendah, tapi ini tidak selalu mencerminkan kemampuan ovarium yang sebenarnya

Itu sebabnya, hasil AMH harus dilihat bersama informasi medis lainnya, bukan dijadikan satu-satunya patokan. Kenapa karena AMH menjadi salah satu tolak ukur yang berguna untuk dokter dalam mengevaluasi kesuburan, terutama jika sister sedang atau akan menjalani perawatan. Tapi, tes ini bukan “ramalan masa depan” kesuburan kamu. Karena faktor kesuburan sangatlah banyak diantaranya adalah usia yang menjadi salah satu  faktor paling penting dalam peluang keberhasilan program hamil.

Kalau kamu masih muda, sehat, dan belum punya rencana hamil dalam waktu dekat, cek AMH bisa jadi opsional. Namun, kalau ingin menunda kehamilan atau punya riwayat keluarga menopause dini, tes ini bisa membantu untuk perencanaan.

Referensi

  • Cedars, M. I. (2022). Evaluation of female fertility—AMH and ovarian reserve testing. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 107(6), 1510-1519.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: amh, cadangan sel telur rendah, low amh, perempuan

Unexplained Infertility: Harapan Tetap Ada Meski Awalnya Gagal Program

August 7, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Infertilitas yang tidak jelas penyebabnya bisa terasa sangat membingungkan. Bagaimana tidak? Segala pemeriksaan sudah dilakukan, hasilnya normal, tapi kehamilan tak kunjung datang. Situasi ini bisa membuat sister dan paksu merasa frustasi, bingung harus mulai dari mana, dan tidak jarang merasa kehabisan harapan. Tapi tentu hal ini tetap ada solusinya karena beberapa diantara pejuang dia garis akhirnya berhasil hamil setelah melakukan program hamil. Meski begitu tentu sister dan paksu harus tahu bahwa itu tidaklah instan

Program Hamil Tak Selalu Instan

Sebuah penelitian dengan ratusan pasangan yang menjalani program kehamilan untuk kasus infertilitas tanpa sebab jelas diikuti selama beberapa tahun. Mereka menjalani beberapa tahapan program ada yang memulai dari tahapan ringan lalu bertahap ke prosedur seperti bayi tabung, ada juga yang langsung mencoba metode yang lebih intensif.

Di akhir program, sebagian pasangan memang berhasil memiliki anak. Tapi sebagian lainnya belum. Pertanyaannya: bagaimana kondisi mereka setelah program selesai?

Lima belas tahun setelah program selesai, para peneliti menghubungi kembali para perempuan yang dulu ikut program. Hasilnya mengejutkan banyak dari mereka ternyata berhasil hamil setelah program selesai, bahkan secara alami tanpa bantuan medis. Sebagian lainnya berhasil lewat prosedur seperti inseminasi atau bayi tabung.

Yang lebih menggembirakan, sebagian besar merasa puas dengan keluarga yang akhirnya mereka miliki. Beberapa pasangan bahkan bisa memiliki lebih dari satu anak. Ini menunjukkan bahwa hasil program hamil tidak harus langsung terlihat saat itu juga karena ada pasangan yang memang butuh waktu lebih panjang untuk berhasil.

Bagaimana bisa berhasil?

Kegagal di satu siklus program hamil bukan berarti kamu tidak bisa hamil selamanya. Karena banyak pasangan tetap bisa membangun keluarga, bahkan ketika mereka tidak berhasil dalam program awal. Untuk itu semakin cepat mendapatkan perawatan yang tepat, semakin besar peluang untuk mencoba lebih dari sekali. Pada akhirnya program hamil membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan dukungan sangat berperan dalam proses ini.

Bagi sister dan paksu yang sedang menjalani promil dan merasa jalan masih panjang, dalam artikel ini membawa satu pesan kuat: bahwa harapan itu masih ada. Bahkan ketika hasil tidak langsung terlihat, bukan berarti usaha sister maupun paksu sia-sia. Bisa jadi tubuhmu hanya butuh waktu. Bisa jadi jalanmu memang sedikit berbeda dari orang lain.

Yang penting, tetap bergerak. Tetap mencari bantuan dan dukungan yang tepat. Dan tetap percaya bahwa tubuhmu punya potensi luar biasa untuk menciptakan kehidupan meski kadang tidak terlihat secepat yang kamu harapkan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Vaughan, D. A., Goldman, M. B., Koniares, K. G., Nesbit, C. B., Toth, T. L., Fung, J. L., & Reindollar, R. H. (2022). Long-term reproductive outcomes in patients with unexplained infertility: follow-up of the Fast Track and Standard Treatment Trial participants. Fertility and Sterility, 117(1), 193-201.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: inferilitas, laki-laki, perempuan, unexplain fertility

Ketika Bentuk Rahim Bisa Mempengaruhi Kehamilan

August 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Hai sister apakah kalian tahu bahwa bentuk rahim ternyata bisa berdampak besar pada keberhasilan kehamilan. Bagi sebagian perempuan, rahim yang tidak terbentuk sempurna sejak lahir dikenal sebagai Congenital Uterine Anomalies (CUA) atau kelainan rahim bawaan hal tersebut dapat memengaruhi kesuburan, meningkatkan risiko keguguran, hingga menimbulkan tantangan saat melahirkan.

Yuk kenalan apa itu Congenital Uterine Anomalies (CUA)?

CUA adalah kondisi bawaan yang menyebabkan bentuk atau struktur rahim berbeda dari biasanya. Contohnya bisa berupa:

Rahim yang terbagi dua,
Rahim hanya setengah sisi,
Atau bentuk rahim yang menyerupai hati.

Sayangnya banyak perempuan baru mengetahui kondisi ini saat kesulitan hamil atau mengalami komplikasi kehamilan.

Apa Dampaknya bagi Kehamilan?

Sebuah studi yang menggabungkan hasil dari banyak penelitian internasional menemukan bahwa perempuan dengan CUA cenderung mengalami tantangan berikut:

  • Lebih sedikit peluang melahirkan bayi hidup
    Perempuan dengan kelainan rahim punya kemungkinan lebih rendah untuk mencapai persalinan yang sukses dibandingkan perempuan dengan rahim normal.
  • Risiko keguguran lebih tinggi
    Baik di trimester pertama maupun kedua, kemungkinan keguguran meningkat signifikan.
  • Risiko kelahiran prematur dan bayi sungsang
    Bayi bisa lahir sebelum waktunya atau dalam posisi yang menyulitkan proses persalinan.
  • Lebih sering menjalani operasi caesar
    Karena bentuk rahim yang tidak ideal, banyak perempuan dengan CUA harus melahirkan lewat prosedur operasi.
  • Komplikasi serius seperti lepasnya plasenta sebelum waktunya
    Ini kondisi yang bisa membahayakan ibu dan bayi, dan lebih sering terjadi pada perempuan dengan CUA.

Jenis kelainan rahim juga berpengaruh pada jenis risiko Kelainan pembentukan saluran rahim (canalization defects): cenderung menyebabkan keguguran di awal kehamilan. Kelainan penyatuan rahim (unification defects): lebih sering dikaitkan dengan komplikasi di trimester akhir atau saat melahirkan.

Jadi apa yang Dapat Dilakukan?

Kalau sister atau seseorang yang kamu kenal memiliki CUA, bukan berarti tidak bisa hamil atau melahirkan dengan sehat. Yang penting adalah Mengenali kondisi ini sejak awal, mendapat pemantauan medis yang tepat, berkonsultasi secara rutin dengan dokter kandungan, serta menyusun rencana kehamilan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Congenital Uterine Anomalies memang bisa membawa tantangan dalam perjalanan menjadi ibu. Tapi dengan penanganan yang baik dan informasi yang cukup, banyak perempuan tetap bisa menjalani kehamilan yang aman dan bahagia. Mengenali bentuk rahim bukan cuma soal medis tapi soal memahami tubuh sendiri dan mengambil langkah tepat untuk masa depan yang sehat. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Kim, M. A., Kim, H. S., & Kim, Y. H. (2021). Reproductive, obstetric and neonatal outcomes in women with congenital uterine anomalies: a systematic review and meta-analysis. Journal of clinical medicine, 10(21), 4797.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, perempuan, rahim

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Page 4
  • Page 5
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.