• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Admin Menuju Dua Garis

Apakah Aspermia pada Pria Muda Penderita Diabetes Berdampak pada Infertilitas?

June 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Aspermia sendiri merupakan kondisi ketika paksu mengalami orgasme tanpa mengeluarkan sperma. Kondisi ini disebut juga sebagai orgasme kering (dry orgasm). Aspermia dapat terjadi sesekali dan hilang dengan sendirinya, tetapi bisa juga terjadi dalam jangka panjang dan berdampak pada kesuburan pria.

Aspermia dapat terjadi ketika air mani atau sperma berkurang. Bisa juga akibat adanya sumbatan pada saluran sperma sehingga air mani dan sperma tidak dapat dikeluarkan saat ejakulasi.

Beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab aspermia adalah Operasi prostat (prostatektomi), Operasi kandung kemih, Vasektomi, Radioterapi pada organ reproduksi pria misalnya testis dan prostat, Kelainan genetik yang mengganggu fungsi organ reproduksi, Kadar hormon testosteron yang terlalu rendah, Ejakulasi terbalik Infeksi, misalnya orchitis dan epididimitis, Varikokel, Sumbatan di saluran sperma atau saluran kemih dan Multiple sclerosis dan Cedera tulang belakang. Sekarang bagaimana jika kondisi ini jika terjadi pada laki-laki dengan diabetes? Yuk ketahui lebih lanjut!

Aspermia dan Diabetes

Diabetes melitus bukan hanya soal gula darah, karena kondisi kronik ini juga bisa menyentuh aspek kehidupan yang lebih dalam dan personal, termasuk kesuburan. Salah satu komplikasi yang jarang dibicarakan tapi nyata terjadi adalah aspermia. Fakta bahwa kondisi saat pria tidak bisa mengeluarkan air mani saat ejakulasi. Sekitar 40% pria penderita diabetes bisa mengalami kondisi ini, dan dampaknya tidak main-main terhadap peluang mereka menjadi seorang ayah. Lalu bagaimana jika pada paksu yang memiliki kondisi ini ingin melakukan program hamil?

Penanganan Melalui Kombinasi Bedah dan Terapi Obat

Masalah ejakulasi seperti ejakulasi kering atau gagal emisi pada pria dengan diabetes bukan hal yang bisa dianggap sepele. Ini bisa menjadi bagian dari komplikasi diabetes jangka panjang, khususnya yang memengaruhi pembuluh darah dan sistem saraf otonom yang mengatur fungsi seksual dan reproduksi.

Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah kombinasi antara tindakan bedah dan terapi medis. Misalnya, bila ditemukan kondisi varikokel (pelebaran pembuluh darah di skrotum), prosedur varikokelektomi dapat dilakukan untuk memperbaiki aliran darah di sekitar testis. Dalam beberapa kasus, bisa juga dilakukan tindakan ekstraksi sperma dari testis (TESE) untuk mengetahui kondisi spermatogenesis secara langsung.

Selain itu, terapi obat juga bisa menjadi bagian penting dalam pemulihan fungsi ejakulasi. Salah satu pilihan yang digunakan adalah Imipramine, yaitu obat antidepresan trisiklik yang telah ditemukan memiliki efek positif terhadap ejakulasi, terutama pada pria dengan diabetes. Obat ini bekerja dengan memengaruhi saraf dan otot yang terlibat dalam proses ejakulasi.

Dengan pendekatan yang tepat dan dilakukan secara bertahap, kemungkinan pemulihan fungsi ejakulasi tetap terbuka. Jika kualitas sperma setelah terapi membaik, prosedur seperti inseminasi intrauterin (IUI) bisa menjadi langkah selanjutnya dalam program kehamilan.

Yang penting untuk diingat paksu, infertilitas bukan hanya soal jumlah sperma tetapi juga bagaimana tubuh bekerja untuk mengeluarkannya. Dan ya diabetes memang bisa memengaruhi proses ini. Tapi kabar baiknya, penanganan tetap bisa dilakukan dengan pendekatan menyeluruh, bukan hanya fokus pada satu aspek saja. Jangan lupa tetap melakukan pemeriksaan ke dokter kalian yaa! Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Aghajani, M. M. R., Golsorkhtabaramiri, M., & Mirabi, P. (2021). Treatment of aspermia (anejaculation) in a diabetic infertile man (a case report). Journal of Clinical and Translational Endocrinology: Case Reports, 20, 100083.
  • https://www.alodokter.com/aspermia

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: aspermia, diabetes, infertilitas, laki-laki, sperma

Bukan Cuma Rahim dan Hormon, Mikrobiota Juga Punya Peran!

June 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Kalau selama ini kita mikir soal kesuburan cuma sebatas rahim, ovarium, atau hormon ternyata ada bagian lain dari tubuh yang diam-diam punya peran penting ini berkaitan dengan mikrobiota! Yuk bahas lebih lanjut!

Jadi apa Itu Mikrobiota
Sebelum itu pahami dulu yuk apa itu mikrobiota, jadi ia adalah kumpulan bakteri baik (dan kadang jahat juga) yang hidup di berbagai bagian tubuh, termasuk usus dan area kewanitaan. Mereka punya tugas masing-masing, mulai dari bantu pencernaan sampai jaga sistem imun.

Jadi kehadirannya sangat penting, lalu bagaimana jika keseimbangan bakteri ini juga bisa ngaruh ke kesuburan perempuan.

Fungsi Mikrobiota dan Kesehatan Reproduksi

Pada proses reproduksi jika mikroba di usus atau vagina terganggu, misalnya karena stres, pola makan nggak sehat, atau infeksi bisa muncul berbagai masalah. Nggak cuma gangguan pencernaan, tapi juga masalah di area reproduksi seperti:

  • Endometriosis

  • PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)

  • Nyeri panggul yang nggak jelas penyebabnya

  • Bahkan infertilitas alias susah hamil

Nah, disinilah probiotik dapat menjadi solusi dari kasus ini. Probiotik adalah bakteri baik yang bisa bantu “menyeimbangkan” mikrobiota dalam tubuh. Banyak yang percaya, kalau mikrobiota kembali sehat, tubuh pun jadi lebih siap untuk hamil.

Tapi bukan berarti semua langsung cocok ya. Efek probiotik bisa beda-beda tergantung kondisi tubuh, jenis bakteri yang dikonsumsi, dan cara mengkonsumsinya ada dua baik oral atau langsung ke area vagina.

Apa yang dapat kita Lakukan untuk Menjaga Pencernaan

Meskipun dunia medis masih terus belajar soal ini, satu hal sudah jelas: menjaga kesehatan usus dan vagina itu penting. Beberapa hal simpel yang bisa dilakukan antara lain dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dan rendah gula, mengurangi stres, menjaga kebersihan area kewanitaan tanpa produk yang berlebihan, dan tentu saja, pada langkah yang lebih lanjut, berkonsultasi dengan dokter. Karena masalah kesuburan itu kadang dimulai dari hal-hal yang kita anggap sepele seperti urusan bakteri di usus dan vagina. Informasi lebih lanjut follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Favaron, A., Turkgeldi, E., Elbadawi, M., Gaisford, S., Basit, A. W., & Orlu, M. (2024). Do probiotic interventions improve female unexplained infertility? A critical commentary. Reproductive BioMedicine Online, 48(4), 103734.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hormon, mikrobiota usus, mikrobiota vagina, ovarium

Apakah LH dan FSH Benar-benar Penting dalam Spermatogenesis pada Pria?

June 4, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu sudah tahu jika LH dan FSH itu penting buat kesuburan pria. Tapi, seberapa penting, sih, sebenarnya? Apakah tanpa salah satunya sperma tetap bisa diproduksi? Nah, yuk bahas bareng dengan MDG karena ini akan sangat penting untuk infertilitas paksu, baca sampai habis ya!

FSHR Rusak Tapi Masih Bisa Punya Anak?

Ada kasus menarik dari Finlandia di mana beberapa pria ditemukan memiliki mutasi inaktif pada gen reseptor FSH (FSHR). Mutasi ini menyebabkan protein reseptor FSH mereka tidak muncul dengan sempurna di permukaan sel, sehingga reseptor tidak bisa menerima sinyal hormon FSH dengan baik.

Yang unik, dari lima pria dengan mutasi ini, tidak ada yang benar-benar mengalami azoospermia (tanpa sperma sama sekali). Sebagian memiliki sperma normal (normozoospermia), dan sebagian lain mengalami oligozoospermia parah (jumlah sperma sangat sedikit). Empat dari mereka mengalami subfertilitas atau gangguan kesuburan, tetapi dua di antaranya tetap berhasil menjadi ayah dari dua anak!

Mereka memang memiliki kadar FSH yang tinggi dalam darah — kemungkinan sebagai respons tubuh yang berusaha ‘mengimbangi’ kerusakan pada reseptor. Studi laboratorium menunjukkan bahwa meski reseptor rusak, sebagian kecil dari reseptor mutan ini masih mampu menangkap sinyal FSH jika kadar hormon sangat tinggi.

Jadi, bagaimana ini bisa terjadi? Dengan kadar FSH yang sangat tinggi, ada sedikit aktivasi yang tetap bisa terjadi pada reseptor yang rusak. Ibaratnya, meski antenanya rusak, kalau sinyalnya sangat kuat, tetap ada kemungkinan nyambung sedikit. Ini mirip dengan kasus wanita yang punya mutasi reseptor LH inaktif, tapi tetap bisa merespons hormon hCG dalam dosis tinggi.

Kesimpulannya, reseptor FSH yang rusak total memang bisa mengganggu proses pembentukan sperma, tapi belum tentu menyebabkan infertilitas total. Semua tergantung seberapa parah kerusakannya dan seberapa tinggi kadar FSH di tubuh.

Gimana Kalau Permasalahan Ada di FSH-nya?

Nah, beda cerita kalau masalahnya bukan di reseptornya, tapi justru di hormon FSH-nya sendiri, tepatnya di bagian subunit beta FSH. Kerna laki-laki dengan permasalahan hormon FSH mereka cenderung mengalami azoospermia total, alias nggak ada sperma sama sekali, dan tentu saja jadi infertil.

Dapat kita lihat ternyata fungsi FSH ini krusial sejak masa perkembangan awal—bahkan sejak masa pubertas. Jadi kalau baru diobati pas dewasa, kerusakan atau “ketinggalannya” udah nggak bisa diperbaiki. Artinya, FSH nggak bisa ‘mengejar ketertinggalan’ kalau sistem pembentuk spermanya udah telanjur nggak berkembang sejak awal.

Fakta yang dapat sister dan paksu pahami bahwa:

  1. FSH itu penting banget untuk spermatogenesis manusia.
    Buktinya, mutasi pada gen FSH atau reseptornya berhubungan dengan gangguan produksi sperma.

  2. Mutasi FSHβ = infertil total.
    Mutasi di hormon itu sendiri berdampak lebih fatal dibandingkan mutasi di reseptornya.

  3. Reseptor FSH rusak belum tentu bikin mandul.
    Masih ada kemungkinan spermatogenesis jalan meski terganggu, tergantung tingkat kerusakan dan adaptasi tubuh.

  4. Waktu itu krusial.
    FSH kemungkinan punya peran penting saat masa perkembangan, yang nggak bisa digantikan kalau baru diintervensi saat dewasa.

Dari kasus-kasus langka ini, kita belajar bahwa sistem hormonal dalam tubuh manusia jauh dari kata sederhana. FSH dan reseptornya bekerja seperti kunci dan gembok karena jika salah satu rusak, bisa saja masih ada celah untuk “membuka”, tapi nggak akan seefektif versi normalnya. Sister dan paksu juga harus aware bahwa kesuburan pria itu nggak hanya soal jumlah sperma, tapi juga melibatkan kerjasama kompleks antara gen, hormon, dan waktu perkembangan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Siegel, E.T.; Kim, H.-G.; Nishimoto, H.K.; Layman, L.C. The Molecular Basis of Impaired Follicle-Stimulating Hormone Action: Evidence from Human Mutations and Mouse Models. Reprod. Sci. 2013, 20, 211–233. [Google Scholar] [CrossRef] [Green Version]
  • Tapanainen, J.S.; Aittomäki, K.; Min, J.; Vaskivuo, T.; Huhtaniemi, I.T. Men Homozygous for an Inactivating Mutation of the Follicle-Stimulating Hormone (FSH) Receptor Gene Present Variable Suppression of Spermatogenesis and Fertility. Nat. Genet. 1997, 15, 205–206. [Google Scholar] [CrossRef]

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, LH, Pria, spermatogenesis

Terapi Testosteron: Solusi untuk Hipogonadisme, Tapi Bagaimana Dampaknya ke Kesuburan?

June 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pada kasus infertiltas paksu, salah satu terapi penggantian testosteron (testosterone replacement therapy atau TRT) telah menjadi andalan dalam mengobati pria dengan kadar testosteron rendah dan gejala hipogonadisme, seperti kelelahan, penurunan libido, dan gangguan mood. Seiring berkembangnya ilmu medis, kini tersedia berbagai bentuk TRT: dari sediaan oral, bukal, injeksi intramuskular, hingga patch transdermal, implan subdermal, dan semprotan nasal.

MDG saat ini ingin membahas lebih lanjut bagaimana terapi ini bukan tanpa risiko. Karena TRT eksogen berpotensi menekan kesuburan pria. Kok bisa?

Bagaimana TRT Bisa Mengganggu Kesuburan?

Kesuburan berupa hipogonadisme sendiri merupakan kondisi medis dimana kelenjar seks (gonad) pria (testis) atau wanita (ovarium) memproduksi hormon seks dalam jumlah yang kurang atau bahkan tidak memproduksi sama sekali. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan reproduksi, perubahan karakteristik seksual, dan masalah metabolisme. 

Tubuh pria memiliki sistem pengatur hormonal yang disebut sumbu hipotalamus–hipofisis–gonad (HPG). Sistem ini menjaga keseimbangan hormon, termasuk memicu produksi testosteron oleh sel Leydig di testis melalui sinyal hormon LH (luteinizing hormone).

Nah, ketika tubuh menerima testosteron dari luar (TRT eksogen), sumbu HPG “mengira” kadar testosteron sudah cukup — akibatnya, produksi LH ditekan. Ini menyebabkan testis berhenti memproduksi testosteron alami, dan kadar testosteron di dalam testis pun ikut turun drastis. Padahal, testosteron intratestikular ini krusial untuk proses pembentukan sperma (spermatogenesis). Akibatnya? Risiko infertilitas meningkat. Lalu kira-kira ada tidak alternatif untuk menyelesaikan masalah ini?

Alternatif Terapi dalam Meningkatkan Testosteron Tanpa Merusak Kesuburan

Bagi pria yang ingin menaikkan kadar testosteron tanpa mengorbankan kesuburan, terapi alternatif sedang dikembangkan dan sebagian sudah digunakan. Pendekatan ini bertujuan untuk merangsang produksi testosteron alami, bukan menggantikannya dari luar.

Beberapa opsi yang sedang digunakan atau diteliti antara lain:

  • Modulator reseptor estrogen selektif (SERM) seperti clomiphene citrate

  • Gonadotropin, termasuk hCG dan FSH

  • Inhibitor aromatase, yang mengurangi konversi testosteron menjadi estrogen

Meski demikian TRT bisa jadi solusi yang sangat membantu bagi pria dengan defisiensi testosteron. Tapi untuk sister dan paksu yang yang ingin melakukan program hamil, penting untuk berpikir dua kali dan berdiskusi dengan dokter. Terutama berkaitan dengan terapi yang meningkatkan testosteron alami sambil menjaga fungsi testis yang menjadi jalan tengah yang ideal. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Khodamoradi, K., Khosravizadeh, Z., Parmar, M., Kuchakulla, M., Ramasamy, R., & Arora, H. (2021). Exogenous testosterone replacement therapy versus raising endogenous testosterone levels: current and future prospects. F&S Reviews, 2(1), 32-42.
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-hipogonadisme

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hipogonadisme, infertilitas, laki-laki, perempuan, testosteron

SERM untuk Endometriosis: Harapan Baru atau Masih Sekadar Wacana?

June 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister dan paksu pasti pernah dengar salah satu penyebab infertilitas yaitu endometriosis. Infertilitas ini tentu lebih tidak asing buat banyak perempuan, apalagi yang sering mengalami nyeri haid hebat atau dispareunia (nyeri saat berhubungan intim). 

Penyakit ini terjadi saat jaringan yang seharusnya tumbuh di dalam rahim malah tumbuh di luar rahim. Kondisi ini kronis, berulang, dan bisa jadi biang masalah kesuburan. Nah kira-kira ada tidak ya penanganan yang tepat? Yuk pahami lebih lanjut!

SERM untuk Endometriosis

Kita tahu bahwa selama ini, pengobatan endometriosis umumnya fokus pada penekanan siklus menstruasi untuk meredakan gejala. Tapi, seiring berkembangnya penelitian, muncullah harapan baru seperti selective oestrogen receptor modulators  (SERM). Obat ini digadang-gadang bisa menargetkan hormon estrogen biang keladi utama dalam pertumbuhan jaringan endometriosis.

Nah karena endometriosis bergantung pada estrogen, para peneliti ingin tahu: bisakah SERM bekerja efektif untuk mengontrol gejala dan perkembangan endometriosis? 

Hasil studi menunjukkan bahwa raloxifene belum memberikan harapan yang meyakinkan dalam penanganan endometriosis; nyeri panggul justru lebih cepat kambuh dibanding plasebo, tidak ada bukti kuat terkait penurunan gejala lain seperti kista ovarium, sakit kepala, atau depresi, dan kualitas hidup mental malah lebih baik pada kelompok plasebo. Selain itu, tingkat kekambuhan endometriosis dan dampak terhadap kesuburan maupun biaya pengobatan masih belum jelas karena keterbatasan data dan hanya berasal dari satu studi kecil dengan kualitas bukti sangat rendah.

Jadi SERM faktanya belum bisa digunakan sebagai pengobatan efektif, lalu apa yang dapat dilakukan?

Penanganan endometriosis 

Saran seperti yang kutip oleh aladokter.com pengobatan bisa meliputi obat pereda nyeri seperti ibuprofen dan diklofenak, serta terapi hormon yang bekerja dengan menekan produksi estrogen, seperti pil KB, Gn-RH analog, progestogen, hingga danazol. 

Terapi ini efektif mengontrol gejala, namun bisa menimbulkan efek samping seperti perubahan suasana hati dan berat badan. Bila gejala tak membaik, dokter dapat menyarankan operasi, mulai dari laparoskopi (operasi minimal invasif), laparotomi (sayatan besar), hingga histerektomi (pengangkatan rahim), tergantung pada tingkat keparahan dan rencana kesuburan pasien. 

Catatan buat sister yang sedang berjuang dengan endometriosis, setiap tubuh itu unik. Apa yang berhasil untuk satu orang belum tentu cocok untuk yang lain. Diskusikan semua pilihan pengobatan dengan dokter dan jangan ragu untuk mencari second opinion. Baca informasi menarik lainnya di Instagram kami @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Van Hoesel, M. H., Chen, Y. L., Zheng, A., Wan, Q., & Mourad, S. M. (2021). Selective oestrogen receptor modulators (SERMs) for endometriosis. Cochrane Database of Systematic Reviews, (5).
  • https://www.alodokter.com/endometriosis/pengobatan

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Beda Endometriosis dan Adenomiosis, endometriosis, hormon, SERM

Kok Bisa, Gula Darah Menjadi salah satu Penyebab Infertilitas? Ini Penjelasannya

May 31, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Banyak yang mengira infertilitas (susah hamil) banyak disebabkan hormon atau kondisi rahim. Tapi ternyata, masalah metabolik seperti resistensi insulin juga bisa jadi biang kerok yang sering terlewat.

Yup, resistensi insulin yang biasanya dikaitkan dengan diabetes atau sindrom metabolik. Lebih jauh ternyata punya dampak besar ke kesehatan reproduksi wanita. Tapi apa itu resistensi insulin?

Apa Itu Resistensi Insulin?

Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel di  otot , lemak , dan  hati  tidak merespons insulin sebagaimana mestinya. Kondisi ini juga dikenal sebagai gangguan sensitivitas insulin. Dimana insulin sangat penting untuk kehidupan dan mengatur  kadar glukosa (gula) darah. 

Jadi sister dan paksu harus tahu dulu bahwa insulin itu semacam “kunci” untuk membuka pintu sel supaya gula darah bisa masuk dan diubah jadi energi. Nah, pada orang dengan resistensi insulin, pintu selnya jadi ‘ngambek’ alias susah dibuka. Akibatnya, tubuh harus produksi insulin lebih banyak dari biasanya buat nyimbangin gula darah. Lalu mengapa kira-kira ini terjadi?

Penyebab Resistensi Insulin

Resistensi insulin bisa disebabkan oleh gabungan faktor genetik, gaya hidup, dan kondisi medis tertentu. Beberapa orang mungkin memiliki gen bawaan yang membuat mereka lebih rentan, sementara penyebab yang didapat mencakup obesitas (terutama lemak perut), kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi karbohidrat olahan, dan penggunaan obat-obatan tertentu seperti steroid atau obat tekanan darah. Selain itu, gangguan hormonal seperti sindrom Cushing, hipotiroidisme, dan akromegali juga dapat memicu kondisi ini. 

Ada juga kondisi genetik langka seperti sindrom Donohue, Werner, dan lipodistrofi bawaan yang berkaitan dengan resistensi insulin. Karena tidak selalu menunjukkan gejala, diagnosis biasanya didasarkan pada riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan faktor risiko yang dimiliki seseorang. Masalahnya, kondisi ini nggak cuma ngaruh ke metabolisme, tapi juga bisa ganggu kerja organ reproduksi.

Apa Dampaknya ke Kesuburan?

Resistensi insulin bisa bikin banyak hal kacau di sistem reproduksi, misalnya:

  1. Mengganggu kualitas sel telur dan embrio
  2. Menurunkan daya “lengket” rahim buat menempelkan embrio (implantasi)
  3. Mengacaukan keseimbangan hormon penting buat ovulasi
  4. Bikin risiko gagal program bayi tabung makin tinggi

Dan parahnya lagi, resistensi insulin bisa muncul nggak cuma pada penderita PCOS, tapi juga pada wanita yang terlihat sehat tapi punya pola menstruasi nggak teratur atau kelebihan berat badan.

Hal ini juga berdampak berkelanjutan terutama pasca kehamilan, seperti adanya risiko keguguran lebih tinggi, potensi kena diabetes selama hamil, masalah tumbuh kembang janin dan efek jangka panjang ke anak, seperti risiko obesitas dan penyakit metabolik. 

Jadi alangkah baiknya sister lebih skeptis dan segera dikonsultasikan pada dokter, agar mendapatkan penanganannya yang baik obat seperti metformin juga gaya hidup sehat, diet rendah gula, olahraga rutin. 

Karena masalah kesuburan itu bisa datang dari hal-hal yang nggak disangka. Jadi, bukan cuma soal hormon atau rahim, tapi juga metabolisme tubuh secara keseluruhan. Yuk, lebih aware sama kondisi tubuh sendiri dan jangan ragu cek ke dokter kalau ada yang terasa ‘nggak biasa’. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

  • Sertorio, M. N., César, H., de Souza, E. A., Mennitti, L. V., Santamarina, A. B., De Souza Mesquita, L. M., … & Pisani, L. P. (2022). Parental high-fat high-sugar diet intake programming inflammatory and oxidative parameters of reproductive health in male offspring. Frontiers in Cell and Developmental Biology, 10, 867127.
  • https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/22206-insulin-resistance?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: gula darah, infertilitas, insulin, resistensi insulin

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 46
  • Page 47
  • Page 48
  • Page 49
  • Page 50
  • Interim pages omitted …
  • Page 97
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.