• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Admin Menuju Dua Garis

Kenali Male Accessory Gland Inflammation (MAGI) dan Hubungannya dengan Infertilitas pada Pria

May 24, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Peradangan kelenjar aksesori seks pria atau dikenal sebagai MAGI (Male Accessory Gland Inflammation), seringkali jadi sumber berbagai keluhan yang mengganggu, mulai dari nyeri saat ejakulasi, gangguan berkemih, hingga disfungsi seksual. MDG akan membahas lebih lanjut, terutama bagaimana paksu bisa tahu jika sedang mengalami hal ini. 

Apa itu MAGI dan Mengapa Perlu Didiagnosis dengan Cermat?

MAGI bukanlah sebuah prostatitis biasa karena dalam kondisi yang lebih kompleks, peradangannya bisa melibatkan vesikula seminalis dan epididimis, bahkan bisa terjadi di satu sisi atau keduanya. MAGI (Male Accessory Gland Infections/Inflammation) adalah istilah untuk infeksi atau peradangan pada kelenjar aksesori pria, seperti prostat, vesikula seminalis, dan epididimis. Kondisi ini bisa menyebabkan perubahan pada kualitas sperma dan fungsi seksual.

Dalam hal ini Pria akan mengalami Penurunan jumlah, gerak, atau bentuk sperma (oligo-, astheno-, atau teratozoospermia), gangguan berkemih, nyeri di daerah panggul, skrotum, atau penis dan disfungsi ereksi atau ejakulasi dini.

Pendekatan Diagnostik yang Lebih Komprehensif

Untuk membantu diagnosis lebih akurat, dikembangkan alat bernama “structured interview about MAGI” (SI-MAGI) yang mencakup tiga hal yaitu gejala saluran kemih bagian bawah, nyeri atau ketidaknyamanan setelah ejakulasi dan masalah seksual seperti disfungsi ereksi atau ejakulasi abnormal. MAGI Bisa Disebabkan Oleh Apa?

Secara mikrobiologi, MAGI diklasifikasikan menjadi: Bentuk mikroba (karena infeksi bakteri) dan Bentuk inflamasi non-infeksi (karena peradangan tanpa infeksi).

Kenapa Ini Penting?

Karena jika tidak ditangani, MAGI bisa:

  • Merusak kualitas sperma

  • Menurunkan peluang pasangan untuk hamil

  • Mengganggu fungsi seksual pria secara signifikan

Jadi, buat paksu yang sedang mengalami gejala-gejala tersebut, jangan anggap remeh apalagi jika sedang menjalani program hamil bersama sister. Deteksi dan penanganan dini bisa sangat membantu! Ingat hal ini berkaitan dengan gejala seperti nyeri saat ejakulasi, gangguan buang air kecil, atau masalah seksual yang tak kunjung reda, sister dan paksu juga dapat melakukan evaluasi USG untuk mengetahui penyebab pastinya. Dan tentunya, penanganan yang lebih spesifik bisa ditentukan sejak awal. Informasi menarik lainnya jangan lupa dapatkan di Instagram kami di @menujuduagaris.id

Referensi

La Vignera, S., Crafa, A., Condorelli, R. A., Barbagallo, F., Mongioì, L. M., Cannarella, R., … & Calogero, A. E. (2021). Ultrasound aspects of symptomatic versus asymptomatic forms of male accessory gland inflammation. Andrology, 9(5), 1422-1428.

Calogero, A. E., Duca, Y., Condorelli, R. A., & La Vignera, S. (2017). Male accessory gland inflammation, infertility, and sexual dysfunctions: A practical approach to diagnosis and therapy. Andrology, 6(1), 1–11. https://doi.org/10.1111/andr.12427

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: inflamasi, laki-laki, MAGI, sperma

Mitos atau Fakta Sperma Kental itu Normal?

May 23, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Ketika sister dan paksu sulit mendapatkan dua garis, banyak yang langsung menyorot sisi perempuan. Padahal, sekitar 20% kasus infertilitas justru disebabkan sepenuhnya oleh faktor pria, dan 30%–40% lainnya merupakan kontribusi gabungan pria dan wanita.

Sayangnya, patofisiologi infertilitas pria masih menyimpan banyak misteri. Tidak ada tes khusus yang bisa langsung menunjuk penyebab pasti kerusakan fungsi sperma. Kita hanya bisa melihat “permukaan” nya melalui analisis air mani standar, yang meskipun bukan tes sempurna, tapi tentu saja ini bisa menjadi langkah yang bagus. Terutama dalam mengungkap dari fakta terkait sperma kental itu normal. Padahal tidak, yuk pahami lebih lanjut!

Mengapa penting Melakukan Analisis Sperma?

Analisis sperma memang tidak bisa menjamin kesuburan. Bahkan jika hasilnya “normal,” belum tentu paksu bisa membuahi. Tapi, tes ini masih dibutuhkan untuk mengidentifikasi kondisi absolut seperti sperma tidak bergerak total atau tidak ada sperma sama sekali (azoospermia). 

Tapi bagaimana kalau hasil spermanya terlihat normal, tapi tetap belum ada tanda dua garis? Bisa jadi masalahnya ada pada plasma mani, komponen tempat sperma “berenang” saat ejakulasi.

Plasma mani adalah campuran dari cairan testis, epididimis, vesikula seminalis, prostat, dan kelenjar bulbouretralis. Ternyata, komposisi plasma mani juga bisa berpengaruh besar terhadap motilitas sperma (kemampuannya untuk berenang dan mencapai sel telur). Nah hal ini juga menunjukkan bagaimana jika sperma paksu itu kental? Yuk pahami istilah medisnya!

Hiperviskositas Mani Kondisi Sperma Kental

Jadi sperma kental ini disebut dengan hiperviskositas mani, yaitu kondisi di mana air mani terlalu kental atau lengket. Ini terjadi pada 12%–29% kasus, kondisi hiperviskositas bisa mengindikasikan masalah pada kelenjar seks aksesori dan berpotensi memengaruhi kualitas sperma serta peluang pembuahan.

Bahkan sebuah studi menemukan bahwa hiperviskositas ini tidak hanya mengganggu secara mekanis, tapi juga mungkin menjadi indikator prognostik keberhasilan program bayi tabung (IVF/ICSI). Hiperviskositas mani ternyata berkaitan dengan kualitas embrio yang lebih rendah dan tingkat kehamilan yang juga menurun.

Masalah infertilitas paksu memang kompleks, dan hiperviskositas hanyalah salah satu dari banyak faktor yang bisa memengaruhi. Tapi dengan mengetahui ini, kita bisa menyadari bahwa mengevaluasi air mani bukan hanya soal jumlah dan bentuk sperma, tapi juga lingkungan tempat mereka hidup. Buat sister dan paksu yang sedang berjuang, jangan ragu untuk meminta pemeriksaan menyeluruh, termasuk aspek-aspek seperti ini. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, sperma kental

Mengungkap Peran Epigenetik dan RNA dalam Infertilitas Pria

May 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas pria bukan lagi sekadar soal “jumlah sperma sedikit” atau “sperma nggak kuat berenang.” Faktanya, kondisi ini jauh lebih rumit. Banyak kasus infertilitas paksu yang penyebab pastinya nggak jelas dan itu membuat penanganannya juga jadi nggak semudah “minum obat ini, tapi butuh analisa lebih lanjut.

Yang lebih tidak umum lagi yang harus paksu tahu bahwa penurunan jumlah sperma pada pria di seluruh dunia bukan cuma soal kesuburan. Bayangkan saja badan yang tidak sehat tentu memberi pengaruh pada organ lainnya seperti dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian, penyakit kronis, bahkan kanker. Ini bukan masalah kecil. Yuk kita pahami lebih lanjut!

Pentingnya RNA dalam Sperma

Penelitian terbaru mulai menyoroti peran epigenetik—cara gen “dinyalakan atau dimatikan” tanpa mengubah kode DNA-nya. Selain itu, RNA dalam sperma juga jadi sorotan. RNA dalam sperma bukan sekadar sisa dari proses pembentukan sel, tapi ternyata punya peran penting dalam kesuburan dan perkembangan awal embrio. Beberapa jenis RNA yang ditemukan antara lain mRNA, miRNA, piRNA, tRNA fragments, dan lncRNA. 

Mereka berfungsi untuk mengatur ekspresi gen, menjaga stabilitas DNA, dan bahkan bisa memengaruhi perkembangan embrio setelah pembuahan. Jadi, selain membawa DNA, sperma juga membawa “bekal molekuler” yang bisa berdampak besar pada kualitas embrio dan keberhasilan kehamilan.

RNA pengkode maupun non-pengkode berperan besar dalam:

  • Proses pematangan sperma 
  • Proses pembuahan (fertilisasi) 
  • Perkembangan awal embrio

Bayangkan kalau RNA-nya rusak atau nggak berfungsi dengan baik meskipun spermanya kelihatan sehat di mikroskop, bisa saja gagal bikin embrio berkembang atau menghasilkan kehamilan yang berhasil.

Fakta yang Harus Kita Tahu!

  • Spermanya sehat kok, berarti subur. Belum tentu karena sperma bisa terlihat normal tapi gagal bekerja karena gangguan di level epigenetik atau RNA. 
  • Infertilitas pria cuma soal sperma lemah. Faktanya, bisa jadi ada masalah molekuler yang tak terlihat secara kasat mata. 
  • Infertilitas solusinya adalah bayi tabung. Teknologi reproduksi bantu memang bisa jadi solusi, tapi yang harus diketahui adalah masalahnya secara personal agar dapat disesuaikan solusi apa yang dapat dilakukan

 

Infertilitas pria bukan hal sederhana. Ia bisa menjadi penanda dari masalah kesehatan yang lebih besar. Dengan terus berkembangnya penelitian tentang epigenetik dan RNA sperma, harapannya kita bisa memahami dan menangani infertilitas pria dengan lebih tepat, efektif, dan personal. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Leggio, L., Paternò, G., Cavallaro, F., Falcone, M., Vivarelli, S., Manna, C., … & Iraci, N. (2025). Sperm epigenetics and sperm RNAs as drivers of male infertility: truth or myth?. Molecular and Cellular Biochemistry, 480(2), 659-682.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: epigenetik, genetik, infertilitas, laki-laki, RNA, sperma

Infertilitas Pria: Mengupas Dampak Fragmentasi DNA Sperma pada Keberhasilan Program Bayi Tabung

May 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Dalam dunia fertilitas, seringkali perhatian tertuju pada kualitas sel telur dan rahim perempuan dan membuat kesimpulan ketidaksuburan adalah faktor perempuan. Padahal, satu faktor penting lainnya justru datang dari sisi laki-laki, yaitu kualitas DNA sperma. Salah satu penyebab penting yang harus dilihat adalah DNA Fragmentation Index (DFI) atau indeks fragmentasi DNA sperma. Yuk ketahui apa itu DFI? terutama bagaimana hal ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan program hamil seperti IVF dan ICSI.

Apa Itu DFI dan Mengapa Penting?

DFI merupakan indikator yang mengukur seberapa besar kerusakan DNA dalam sperma. Meskipun jumlah sperma dan bentuknya tampak normal, jika DNA di dalamnya rusak, kemampuan sperma untuk membuahi sel telur dan menghasilkan embrio sehat bisa terganggu.

Dengan meningkatnya penggunaan teknologi reproduksi berbantuan (ART) seperti IVF atau ICSI, sudah waktunya kita memahami apakah tingginya fragmentasi DNA sperma bisa memengaruhi keberhasilan prosedur-prosedur tersebut.

DFI dalam Program Hamil Berbantuan (ART)

Dalam literatur yang dilakukan oleh Deng, 2019 menemukan bagaimana DFI dalam program hamil berbantuan diantaranya adalah:

  1. Peluang Melahirkan Anak
    Secara umum, perbedaan antara sperma dengan DNA yang rusak dan tidak rusak belum terlalu terlihat signifikan pada angka kelahiran hidup.

  2. Risiko Keguguran
    Pasangan yang sperma pasangannya memiliki tingkat kerusakan DNA tinggi ternyata lebih sering mengalami keguguran dibanding yang tingkat kerusakannya rendah.

  3. Kualitas Embrio
    Embrio yang dihasilkan dari sperma dengan kerusakan DNA tinggi cenderung berkualitas lebih rendah, yang tentu bisa memengaruhi keberhasilan kehamilan.

  4. Kehamilan yang Berhasil Terlihat di USG
    Kemungkinan terjadinya kehamilan klinis (kehamilan yang sudah bisa dilihat lewat USG) juga lebih rendah pada kelompok dengan tingkat kerusakan DNA sperma yang tinggi.

Melihat penjabaran di atas,menunjukkan bahwa meskipun DFI tidak secara langsung menurunkan peluang kelahiran hidup secara signifikan, fragmentasi DNA sperma berkaitan erat dengan meningkatnya risiko keguguran dan menurunnya kualitas embrio serta keberhasilan kehamilan klinis. Artinya, kualitas DNA sperma penting untuk diperhatikan, terutama bagi pasangan yang menjalani program IVF atau ICSI.

Sister dan paksu juga sudah harus tahu bahwa selama ini, kesuburan pria sering dianggap cukup hanya dengan “jumlah sperma banyak” atau “gerakannya aktif”. Padahal, kualitas genetik sperma sama pentingnya. Sehingga pemeriksaan DFI bisa menjadi langkah tambahan yang membantu mengungkap penyebab tersembunyi dari kegagalan IVF atau keguguran berulang. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

Deng, C., Li, T., Xie, Y., Guo, Y., Yang, Q. Y., Liang, X., … & Liu, G. H. (2019). Sperm DNA fragmentation index influences assisted reproductive technology outcome: A systematic review and meta‐analysis combined with a retrospective cohort study. Andrologia, 51(6), e13263.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: DFI, DNA, infertilitas, kesuburan, laki-laki, Pria, sperma

Gerak Sperma Dipetakan AI: t-SNE Tunjukkan Potensi Diagnosis Kesuburan

May 21, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Pernah nggak sih, sister, kepikiran bahwa cara sperma bergerak bisa menjadi petunjuk penting untuk mengetahui peluang kehamilan?

Nah, sebuah studi terbaru mencoba menjawab hal ini dengan pendekatan yang modern banget yaitu dengan menggunakan kecerdasan buatan dan statistik canggih untuk memahami pergerakan sperma dan ternyata hasilnya cukup menjanjikan.

Pahami Hubungan antara Motilitas Sperma dan Kesuburan

Jadi yang perlu sister dan paksu ketahui bahwa sperma yang sehat dapat bergerak maju dengan kecepatan minimal 25 mikrometer per detik. Sedangkan, sperma lambat didiagnosis ketika sperma yang bergerak efisien berjumlah kurang dari 32 persen. Sehingga tidak heran jika motilitas atau pergerakan sperma ini sangat berpengaruh pada keberhasilan program hamil kalian.

 Pada kasus motilitas ini masuk pada Asthenozoospermia yang merupakan kondisi ketika sebagian besar sel sperma memiliki gerakan yang tidak normal. Meski bisa menyebabkan kemandulan, kondisi ini dapat disembuhkan jika ditangani dengan tepat. Nah peneliti sudah banyak melakukan percobaan salah satunya pada hewan dalam melihat pergerakan sperma.

Machine Learning untuk Deteksi Sperma 

Penggunaan sampling sperma babi (yes, babi sering dipakai dalam penelitian karena sistem reproduksinya mirip manusia). Mereka ingin tahu apakah cara sperma bergerak bisa dipetakan untuk memprediksi apakah seekor pejantan punya tingkat kesuburan tinggi atau tidak.

Hal ini yang digunakan adalah t-SNE, salah satu teknik machine learning yang bisa “memetakan” pola atau perilaku kompleks, termasuk dalam hal ini: variasi gerak sperma. Gerakannya nggak hanya dilihat cepat atau lambat, tapi juga apakah lurus, berputar, atau acak.

Setelah semua data diolah, para peneliti pakai metode statistik canggih bernama Bayesian logistic regression untuk memprediksi kemungkinan seekor pejantan subur atau tidak, berdasarkan pola gerak spermanya.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa:

  • Sperma yang bergerak cepat dan lurus ternyata lebih berkaitan dengan tingkat kesuburan yang tinggi.

  • Variasi dalam gerakan sperma memang ada, tapi bukan semuanya penting. Yang paling relevan adalah pola gerak efisien dan terarah.

Walaupun ini masih studi pada hewan, tapi pendekatan ini bisa banget diterapkan untuk penelitian kesuburan manusia juga, lho! Dengan teknologi ini, dokter bisa lebih akurat menilai kualitas sperma secara otomatis, bukan hanya dilihat manual di bawah mikroskop.

Dan tentunya, ini membuka peluang baru untuk diagnosis dan penanganan masalah infertilitas pria di masa depan.

Referensi

  • Fernández-López, P., Garriga, J., Casas, I., Yeste, M., & Bartumeus, F. (2022). Predicting fertility from sperm motility landscapes. Communications biology, 5(1), 1027.
  • https://www.klikdokter.com/info-sehat/reproduksi/penyebab-pergerakan-sperma-lambat-yang-ganggu-kesuburan-pria

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kecepatan, kesuburan, laki-laki, motilitas, sperma

Infertilitas Pria yang Masih belum Terpecahkan? Bisa Jadi Karena Racun di Sekitar Kita

May 20, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, pernah dengar istilah infertilitas idiopatik? Ini adalah kondisi ketika paksu mengalami infertilitas, tapi setelah dicek sana-sini, nggak ada penyebab pasti yang bisa ditemukan. Nah, ternyata kondisi ini cukup umum dan bisa terjadi pada hampir 44% kasus infertilitas pria. Lalu, kenapa bisa begitu? MDG akan menjelaskan lebih lanjut!

Kesuburan dan Faktor Lingkungan

Fenomena kesuburan pria ini dari tahun ketahun terjadi peningkatan, terutama di negara-negara Barat. Dan anehnya penurunan ini nggak bisa dijelaskan sepenuhnya hanya karena obesitas, pola makan yang buruk, atau gaya hidup aja. Karena ada yang faktor lain salah satunya adalah paparan bahan kimia sintetis dalam kehidupan sehari-hari.

Kita sekarang hidup dikelilingi oleh ribuan bahan kimia baik dari plastik, makanan, hingga udara yang kita hirup. Beberapa di antaranya diketahui bisa mengganggu hormon, terutama hormon yang penting untuk produksi sperma, seperti hormon di sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad (HPG) adalah hormon pelepas gonadotropin (GnRH) dari hipotalamus, hormon luteinisasi (LH) dan hormon perangsang folikel (FSH) dari kelenjar pituitari, serta estrogen dan testosteron dari gonad. Lalu kira-kira jenis bahan kimia apa yang mempengaruhi

Toksin yang Wajib Diwaspadai

Diantara penyebab infertilitas terutama faktor lingkungan bisa jadi dari bahan-bahan yang mengandung bahan kimia, beberapa di antaranya bahkan tergolong racun reproduksi yang sudah dilarang di negara lain, tapi terkadang masih dipakai. Contohnya:

  • Ftalat dan BPA: Umumnya ada di plastik dan kemasan makanan
  • Pestisida dan herbisida: Seperti DDT, atrazin, organofosfat
  • Logam berat: Seperti timbal dan kadmium
  • Polusi udara dan suara, hingga radiasi non-pengion

Tidak hanya bahan-bahan itu saja, karena gaya hidup seperti pola makan, obesitas, konsumsi kafein berlebih, alkohol, rokok, narkoba, dan obat tertentu juga bisa memperparah

Untuk itu bagi sister dan paksu sudah harus mulai skeptis dengan apa yang ada disekitar kalian, meskipun kita belum bisa mengukur seberapa besar dampaknya secara individu  langkah awal yang bisa dilakukan dengan mengetahui sumber-sumber racun di sekitar kita, menghindari paparan berlebihan (misalnya dengan memilih produk bebas BPA, mengurangi paparan pestisida, dll) dan Menjaga gaya hidup sehat untuk meminimalkan efek tambahan dari faktor lain.

Ingat, sister. Kesehatan reproduksi bukan cuma urusan rahim dan sel telur. Paksu juga perlu perhatian ekstra terutama dalam menghadapi dunia modern yang penuh racun tak terlihat ini. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Krzastek, S. C., Farhi, J., Gray, M., & Smith, R. P. (2020). Impact of environmental toxin exposure on male fertility potential. Translational andrology and urology, 9(6), 2797.
  • https://med.uc.edu/landing-pages/reproductivephysiology/lecture-4/hypothalamic-pituitary-ovarian-axis

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hidup sehat, infertilitas, laki-laki, lingkungan, Pria

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 48
  • Page 49
  • Page 50
  • Page 51
  • Page 52
  • Interim pages omitted …
  • Page 97
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.