• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Admin Menuju Dua Garis

Teratozoospermia Terisolasi: Saat Bentuk Sperma Jadi Penentu Kesuburan laki-laki

May 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam dunia infertilitas pria, salah satu langkah awal untuk mengevaluasi masalah kesuburan adalah dengan analisis air mani dasar. Dalam proses ini akan dilakukan pemeriksaan dengan menilai tiga aspek utama sperma yaitu dari sisi jumlah, pergerakan (motilitas), dan bentuk (morfologi). Sehingga jika ketiga ini ada yang tidak sempurna akan dapat mempengaruhi kualitas sperma dan bahkan berdampak pada infertilitas, salah satunya adalah teratozoospermia, yaitu kondisi dimana bentuk sperma tidak normal.

Namun, ada satu bentuk teratozoospermia yang sering bikin bingung teratozoospermia terisolasi. Ini adalah kondisi di mana bentuk sperma abnormal, tapi jumlah dan gerakannya tetap normal. Nah, kondisi ini jadi menarik karena belum sepenuhnya dipahami—bahkan para ahli pun masih punya pendapat berbeda soal seberapa besar pengaruhnya terhadap kesuburan pria.

Apa Sebenarnya Teratozoospermia dan penyebabnya?

Bentuk sperma sangat beragam, tapi secara ideal, sperma harus punya kepala lonjong, leher yang simetris, dan ekor yang utuh serta lurus. Kalau bentuknya menyimpang, bisa mengganggu kemampuannya menembus sel telur. Penyebab Teratozoospermia setidaknya ada dua yaitu dari sisi genetik sampai gaya hidup pada faktor genetik dapat disebut sebagai kelainan bawaan pada spermatogenesis. Sedangkan pada faktor lingkungan diantaranya adalah terkena paparan bahan kimia atau panas. Kondisi kesehatan seperti varikokel, Stres oksidatif tinggi dan kerusakan DNA sperma.

Bahkan lebih umum kondisi ini berdampak pada penurunan fungsi antioksidan dalam tubuh, serta perubahan proses apoptosis (kematian sel terprogram), yang bisa mengganggu fungsi sperma secara keseluruhan.

Kriteria ketat Kruger, yang sering digunakan untuk menilai morfologi sperma, mengaitkan bentuk sperma yang normal dengan peluang kehamilan yang lebih tinggi. Tapi meski begitu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bentuk sperma saja belum tentu jadi penentu utama keberhasilan program kehamilan.

Lalu, Apa Teratozoospermia Terisolasi Itu Masalah?

Inilah bagian yang paling menarik: teratozoospermia terisolasi belum tentu menyebabkan infertilitas. Beberapa studi bahkan menyatakan bahwa pria dengan bentuk sperma yang tidak ideal masih bisa punya anak, terutama jika jumlah dan motilitas spermanya baik.

Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa teratozoospermia terisolasi tidak selalu berdampak buruk terhadap keberhasilan teknologi reproduksi berbantu (ART) seperti IVF (bayi tabung) atau ICSI (suntik sperma ke sel telur). Bahkan, prosedur sederhana seperti inseminasi intrauterin (IUI) masih bisa jadi pilihan efektif, meskipun ada bentuk sperma yang abnormal.

Sayangnya, belum ada terapi yang benar-benar terbukti efektif untuk mengatasi teratozoospermia terisolasi yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Teratozoospermia terisolasi menjadi entitas klinis yang kompleks dan masih menyimpan banyak misteri. Bentuk sperma memang penting, tapi bukan satu-satunya faktor dalam keberhasilan kehamilan. Di tengah data yang saling bertentangan, satu hal yang jelas: masih banyak yang perlu kita pahami soal hubungan antara morfologi sperma dan kesuburan pria. Jadi buat sister yang terdiagnosa teratozoospermia tapi ternyata pergerakan cepat bisa jadi pendekatan medisnya berbeda, untuk itu segera konsultasi ke dokter spesialis ya. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

Atmoko, W., Savira, M., Shah, R., Chung, E., & Agarwal, A. (2024). Isolated teratozoospermia: revisiting its relevance in male infertility: a narrative review. Translational Andrology and Urology, 13(2), 260.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesuburan, Pria, sperma, teratozoospermia, terisolasi

Calicin dan Teratozoospermia: Mengungkap Peran Mutasi Genetik dalam Infertilitas Laki-laki

May 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas pada laki-laki tidak lain adalah permasalahan sperma, lebih spesifik yaitu pada bentuk dan struktur sperma. Hal ini disebut sebut sebagai teratozoospermia, yaitu kondisi di mana sperma memiliki bentuk abnormal. Tentu saja kondisi ini secara signifikan menurunkan peluang terjadinya pembuahan secara alami.

Meski penyebab teratozoospermia bisa beragam mulai dari varikokel, paparan zat berbahaya, hingga infeksi MDG ingin menunjukkan dari hasil penelitian bahwa ternyata faktor genetik juga memiliki peran besar, terutama pada kasus-kasus yang tidak diketahui penyebab pastinya.

Pahami apa itu CCIN dan Calicin sebagai Kunci Pembentukan Kepala Sperma

Salah satu gen yang baru-baru ini diidentifikasi terkait dengan teratozoospermia adalah CCIN, yang bertanggung jawab dalam pembentukan protein Calicin. Calicin merupakan protein sitoskeletal yang berada di bagian kepala sperma, tepatnya dalam struktur yang disebut kaliks. Struktur ini penting untuk menjaga bentuk kepala sperma yang normal selama proses pematangan, atau yang dikenal dengan spermiogenesis.

Dalam studi terbaru, ditemukan mutasi homozigot dan heterozigot gabungan pada gen CCIN dari laki-laki dengan teratozoospermia. Pemeriksaan sperma mereka menunjukkan adanya kelainan bentuk kepala sperma yang parah, khususnya pada bagian nukleus dan akrosom.

Mengapa Ini Penting?

Melalui analisis lebih lanjut menggunakan uji imunofluoresensi, diketahui bahwa sperma dengan mutasi CCIN memiliki kadar Calicin yang sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mutasi ini mengganggu proses pembentukan kepala sperma secara signifikan. Dampaknya, sperma tersebut tidak mampu menempel pada zona pelusida lapisan pelindung sel telur yang merupakan tahap krusial dalam proses pembuahan.

Peran ICSI pada Teratozoospermia

Kabar baiknya, pasangan dengan kasus seperti ini masih bisa memiliki keturunan melalui teknologi reproduksi berbantu seperti  Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI). Teknik ini memungkinkan pembuahan terjadi secara langsung di dalam sel telur, sehingga dapat mengatasi hambatan akibat bentuk sperma yang abnormal.

Temuan ini menegaskan bahwa mutasi pada gen CCIN merupakan salah satu penyebab genetik dari teratozoospermia dan infertilitas laki-laki. Pemeriksaan genetik dapat menjadi langkah penting dalam proses diagnosis dan perencanaan perawatan. Selain membantu penanganan medis, informasi ini juga sangat berguna dalam proses konseling genetik, terutama bagi sister dan paksu yang sedang merencanakan program kehamilan, dan masih belum menemukan penyebab mengapa mengalami infertilitas terutama teratozoospermia, selain ICSI program hamil lain juga memungkinkan untuk dilakukan, hal ini tentu membutuhkan saran dari dokter yang disesuaikan dengan kasus sister dan paksu. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Fan, Y., Huang, C., Chen, J., Chen, Y., Wang, Y., Yan, Z., … & Lei, M. (2022). Mutations in CCIN cause teratozoospermia and male infertility. Science Bulletin, 67(20), 2112-2123.
  • Yan, W. (2022). Calicin is a key sperm head-shaping factor essential for male fertility. Science bulletin, 67(23), 2395.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: genetik, laki-laki, teratozoospermia

Kenali apa itu Asthenozoospermia dan Dampaknya pada Infertilitas Laki-laki

May 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Asthenozoospermia (AZS) merupakan kondisi medis yang sering menjadi penyebab utama infertilitas pria. Secara umum, AZS didefinisikan sebagai berkurangnya motilitas sperma atau bahkan hilangnya motilitas sperma. Biasanya, sperma yang dapat bergerak maju (motilitas progresif) harus lebih dari 32%. Nah dalam kasus dengan AZS, motilitas sperma jauh di bawah angka tersebut, yang berujung pada kesulitan dalam mencapai sel telur dan menghambat kemungkinan terjadinya pembuahan. Yuk pahami lebih dalam mengenai AZS?

Faktor Penyebab Asthenozoospermia

Kondisi AZS ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi salah satu penyebab utama adalah kelainan pada flagel sperma. Flagel sperma adalah struktur berbentuk cambuk yang memungkinkan sperma bergerak. Flagel ini terdiri dari beberapa bagian, termasuk aksonema, yang merupakan bagian inti dari flagel, dan beberapa struktur aksonema seperti selubung mitokondria dan selubung fibrosa. Aksonema flagel sperma memiliki struktur yang mirip dengan silia pada sel lainnya. Oleh karena itu, kelainan pada struktur flagel ini dapat menyebabkan berkurangnya motilitas sperma.

Secara klinis, AZS dibagi menjadi dua bentuk utama:

  1. AZS Terisolasi
    Bentuk ini tidak disertai dengan gejala atau masalah kesehatan lainnya. AZS terisolasi dapat mencakup multiple Anomaly of Sperm Flagella (MMAF), dimana flagela sperma memiliki bentuk yang tidak normal, misalnya, tidak ada flagela, flagela yang pendek, bersudut, atau tidak teratur. Hal ini dianggap sebagai kelainan genetik yang dapat mempengaruhi kemampuan sperma untuk bergerak dengan baik.

  2. AZS Sindromik
    AZS juga dapat berupa sindromik, di mana disfungsi silia berperan. Salah satu contoh penyakit yang terkait adalah diskinesia silia primer (PCD), sebuah gangguan genetik resesif autosomal yang mengganggu motilitas silia. PCD tidak hanya memengaruhi flagela sperma tetapi juga menyebabkan gangguan pernapasan seperti bronkitis dan rinosinusitis akibat malfungsi silia di saluran pernapasan.

Dampak Asthenozoospermia pada Kesuburan Pria

AZS terisolasi sering kali ditemukan pada pria dengan masalah kesuburan, berkontribusi pada sekitar 80% kasus infertilitas pria. Dalam banyak kasus, pria dengan AZS mengalami penurunan kemampuan untuk membuahi sel telur, meskipun masih memiliki sperma yang terlihat normal di bawah mikroskop. Keberhasilan reproduksi pria dengan AZS bergantung pada kualitas motilitas sperma. Oleh karena itu, memahami penyebab dan mekanisme dibalik AZS sangat penting untuk mengembangkan pengobatan yang efektif.

Implikasi untuk Pengobatan dan Reproduksi

Meskipun terapi untuk AZS masih terbatas, beberapa penelitian telah menunjukkan potensi pengobatan melalui teknologi reproduksi berbantu seperti ICSI (Intra-Cytoplasmic Sperm Injection), yang memungkinkan sperma dengan motilitas rendah tetap digunakan untuk pembuahan in-vitro. 

Asthenozoospermia merupakan salah satu penyebab utama infertilitas laki-laki dan tentunya sudah banyak solusi yang ditawarkan seperti IVF dan ICSI, untuk itu bagi kalian yang sedang mengalami kasus ini harus segera membicarakan pada dokter dalam membicarakan langkah apa baiknya yang dapat diputuskan sehingga tidak akan salah langkah. Informasi menarik lainnya bisa langsung cek di Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

Tu, C., Wang, W., Hu, T., Lu, G., Lin, G., & Tan, Y.-Q. (2020). Genetic underpinnings of asthenozoospermia. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism, 34(6), 101472. https://doi.org/10.1016/j.beem.2020.101472

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: AZS, flagel, laki-laki, sperma

Strategi Hormonal untuk Mengatasi OAT: Ketika Kesuburan Pria Terancam

May 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas bukan cuma soal perempuan. Faktanya, sekitar 50% kasus infertilitas pada pasangan disumbang oleh faktor laki-laki. Nah fakta bahwa sekitar 40% kasus infertilitas pria termasuk dalam kategori idiopatik alias penyebabnya belum jelas. Salah satu kondisi yang cukup sering muncul dalam kasus ini adalah oligoasthenoteratozoospermia (OAT), yang merujuk pada rendahnya jumlah sperma, motilitas (kemampuan bergerak), dan bentuk sperma yang normal.

Menurut kriteria WHO 2010, seseorang dikatakan mengalami OAT jika konsentrasi sperma kurang dari 15 juta/mL, motilitas total di bawah 40%, motilitas progresif kurang dari 32%, dan morfologi sperma normal kurang dari 4%. Untuk mengatasi masalah ini, pendekatan multidisiplin sangat penting, termasuk strategi pengobatan berbasis hormonal yang mulai menunjukkan hasil menjanjikan. Nah MDG akan membahas lebih lanjut bagaimana strategi hormonal ini berpengaruh!

Hubungan Hormon dengan Kesuburan Laki-laki 

Jadi sistem kesuburan laki-laki itu sangat bergantung pada keseimbangan hormon dalam sumbu HPG (hipotalamus–hipofisis–gonad). Gangguan apa pun di titik ini bisa mengacaukan produksi sperma. Beberapa kondisi yang bisa mengganggu sumbu HPG antara lain, obesitas dan diabetes melitus yang tidak terkontrol, Infeksi dan penyakit sistemik, penggunaan obat tertentu seperti anti-androgen dan steroid, konsumsi alkohol berlebihan, paparan zat kimia yang mengganggu hormon dan juga tumor testis atau hormon-secreting tumor seperti tumor Leydig

Nah pada beberapa kasus ternyata laki-laki dengan OAT memiliki kadar testosteron yang rendah, namun kadar hormon FSH dan LH-nya tetap normal, hal ini menunjukkan adanya hipogonadisme fungsional, kondisi yang bisa memburuk karena gaya hidup tidak sehat seperti obesitas.

Kenapa Tidak Bisa Pakai Terapi Testosteron Biasa?

Secara logika, jika testosteron rendah, tinggal diberi saja, kan? Sayangnya, tidak sesederhana itu.

Terapi penggantian testosteron (TRT) memang lazim digunakan untuk pria dengan hipogonadisme, tapi bagi pria yang ingin tetap subur, ini bisa jadi bumerang. Testosteron sintetis justru memberi sinyal ke otak bahwa tubuh sudah cukup hormon, sehingga produksi hormon pemicu sperma (GnRH, FSH, dan LH) ditekan. Akibatnya, kadar testosteron di dalam testis yang sangat penting untuk pembentukan sperma menurun drastis. Untuk itu butuh pendekatan hormonal yang tepat sasaran. 

Pengobatan Hormonal yang Tepat Sasaran

Alih-alih memberi testosteron dari luar, strategi terbaru adalah meningkatkan produksi testosteron alami di dalam testis, terutama dengan menargetkan jalur androgen dalam sel Sertoli, Leydig, dan mioid peritubular. Sebuah temuan bahkan menunjukkan bahwa jika reseptor androgen dalam sel-sel ini dinonaktifkan (seperti pada studi tikus knockout), proses spermatogenesis akan berhenti. Artinya, testosteron lokal di testis sangat krusial, bahkan lebih penting dari testosteron dalam darah.

Namun, kadar testosteron intratestikular optimal untuk merangsang spermatogenesis hingga kini masih menjadi tanda tanya besar. Sehingga dibutuhkan evaluasi menyeluruh sebelum memulai terapi hormonal. Mulai dari menentukan kandidat yang cocok untuk terapi hormonal, memilih jenis terapi yang tepat, menentukan durasi pengobatan dan mengevaluasi hasil terapi secara berkala. Masih banyak perdebatan terkait pilihan terapi, dosis, dan waktu terbaik untuk pengobatan hormonal pada pasien OAT. Jadi jangan lupa tetap konsultasikan dengan dokter ya! informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

  • Çayan, S., Altay, A. B., Rambhatla, A., Colpi, G. M., & Agarwal, A. (2024). Is There a Role for Hormonal Therapy in Men with Oligoasthenoteratozoospermia (OAT)?. Journal of Clinical Medicine, 14(1), 185.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hormonal, infertilitas, laki-laki, OAT

CBAVD & Prosedur PESA dan ICSI: Kenapa Gerak Sperma Penting Banget?

May 9, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Banyak faktor penyebab infertilitas, terkadang dari faktor perempuan tapi juga bisa jadi dari laki-laki. Salah satu kondisi bawaan yang cukup sering jadi penyebab tapi jarang disadari dia adalah Congenital Bilateral Absence of the Vas Deferens (CBAVD). Ini adalah kondisi bawaan di mana saluran vas deferens sebagai jalur utama keluarnya sperma tidak terbentuk sejak lahir. 

Akibatnya, sperma nggak bisa keluar lewat ejakulasi secara alami. Dalam kasus ini tentu satu-satunya solusi adalah menggunakan prosedur seperti PESA dan ICSI. Nah MDG akan membahas secara spesifik bagaimana dua prosedur ini berperan dalam membantu kondisi CBAVD.

Pahami apa itu PESA dan ICSI

Pada kondisi ini sister dan paksu dapat memanfaatkan teknologi medis yang sudah berkembang pesat. Dalam kasus CBAVD salah satu solusi yang bisa diandalkan untuk kasus ini adalah kombinasi dua prosedur:

  • PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration), yaitu pengambilan sperma langsung dari epididimis menggunakan jarum halus dan
  • ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection), yaitu penyuntikan satu sperma langsung ke dalam sel telur.

Meski memiliki infertilitas dimana tidak bisanya mengeluarkan sperma secara alami, tapi  yang menarik, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa motilitas sperma alias “gerak lincahnya sperma” ternyata lebih memengaruhi hasil dari program PESA-ICSI ini.

Dalam studi oleh Jixiang yang melibatkan lebih dari seratus pasangan program bayi tabung dengan sperma hasil PESA, pria dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan seberapa aktif sperma mereka bergerak. Hasilnya cukup jelas, sister. Mereka yang spermanya lebih lincah ternyata menunjukkan hasil yang jauh lebih baik di berbagai tahap penting, mulai dari proses pembuahan, perkembangan embrio, hingga kualitas embrio yang dihasilkan. Nggak cuma itu, peluang kehamilan dan kelahiran bayi sehat juga jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan sperma yang geraknya lambat. Ini jadi bukti kalau motilitas sperma punya peran besar dalam menentukan keberhasilan program bayi tabung, khususnya dengan metode PESA-ICSI.

Jadi, Apa Artinya?

Buat paksu yang sedang berjuang lewat program bayi tabung, terutama dengan kondisi CBAVD, gerak sperma bukan cuma angka tambahan di hasil lab. Motilitas sperma bisa jadi penentu penting keberhasilan pembuahan, perkembangan embrio, hingga kelahiran bayi.

Artinya, saat kamu menjalani prosedur seperti PESA, diskusikan juga soal kualitas sperma terutama motilitasnya dengan doktermu. Ini bisa membantu menentukan strategi terbaik buat kamu dan pasangan.

Ingat, setiap perjalanan menuju kehamilan itu unik. Teknologi bisa bantu banyak, tapi memahami tubuh dan kondisinya adalah langkah awal yang penting. Dan kamu nggak sendiri, sister & paksu. Banyak yang sedang melalui perjuangan yang sama untuk itu saling support itu penting. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Jixiang, Z., Lianmei, Z., Yanghua, Z., & Huiying, X. (2022). Relationship of sperm motility with clinical outcome of percutaneous epididymal sperm aspiration–intracytoplasmic sperm injection in infertile males with congenital domestic absence of vas deferens: a retrospective study. Zygote, 30(2), 234-238.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: gerak, infertilitas, laki-laki, motilitas, sperma

Kenali Teknik Pengambilan Sperma yang Paling Efektif untuk Azoospermia Obstruktif

May 8, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Fakta bahwa infertilitas tidak hanya disebabkan oleh perempuan tapi juga laki-laki, salah satunya adalah berhubungan dengan kualitas dan jumlah sperma. Dan kasus ini disebut sebagai azoospermia, MDG alan membahas lebih lanjut  tentang azoospermia obstruktif, karena pada kasus ini sering sekali ditemui. 

Azoospermia ini bisa juga dipahami sebagai pasca-testis, dimana adanya penyumbatan atau hilangnya koneksi di sepanjang saluran reproduksi. Laki-laki tetap memproduksi sperma tetapi sperma tersebut terhalang untuk keluar. Jenis ini juga disebut azoospermia obstruktif. Ini adalah jenis yang paling umum, yang memengaruhi hingga 40% orang dengan azoospermia.

Nah, ada beberapa teknik pengambilan sperma yang biasa digunakan, dan muncul pertanyaan: mana yang paling efektif? salah satunya antara dua teknik yang paling sering digunakan adalah PESA dan MESA. Tapi sebelum itu pahami dulu yuk apa perbedaan dari dua prosedur ini.

Apa Bedanya PESA dan MESA?

PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration) adalah prosedur yang relatif simpel. Nggak perlu operasi besar, bisa dilakukan cepat, tanpa rawat inap, dan biayanya pun lebih terjangkau. Banyak sumber menyebut PESA cocok dijadikan pilihan pertama apalagi kalau kondisi pasien memungkinkan.

Tapi ada satu hal penting kalau melihat dari angka-angka keberhasilan dalam mengambil sperma yang benar-benar bisa dipakai, justru MESA (Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration) yang unggul.

MESA dilakukan dengan bantuan mikroskop bedah, sehingga proses pengambilannya lebih presisi. Hasilnya? Tingkat pengambilan sperma lebih tinggi, dan peluang untuk kriopreservasi (pembekuan sperma untuk nanti) juga lebih besar.

Apa kerugian MESA?

Mikroskop operasi dan keterampilan khusus diperlukan untuk mengidentifikasi saluran yang paling mungkin berisi sperma. Prosedur ini memerlukan anestesi umum atau spinal dan melibatkan sayatan di skrotum untuk mendapatkan akses ke satu atau kedua testis.

PESA merupakan cara yang cepat dan murah untuk mendapatkan sperma dari epididimis. Namun, MESA merupakan metode yang lebih disukai untuk mendapatkan sperma motil dalam jumlah yang lebih banyak untuk kriopreservasi atau ICSI. Akibatnya, biaya keseluruhan MESA lebih tinggi daripada PESA perkutan.

Teknik ini melibatkan sayatan pada kulit; karena itu, ada risiko kecil terjadinya infeksi luka dan hematoma.

Dalam kasus di mana tidak ada sperma yang ditemukan, maka perlu dilakukan pemeriksaan ke dalam testis untuk mencari sperma yang layak, suatu prosedur yang disebut TESE atau ekstraksi sperma testis.

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Kalau tujuannya benar-benar ingin dapat sperma dengan kualitas terbaik dan peluang simpan jangka panjang, MESA bisa jadi pilihan yang lebih optimal.

Tapi bukan berarti PESA kalah sepenuhnya. Banyak yang tetap memilih PESA karena lebih praktis dan hemat. Bahkan beberapa menyarankan untuk coba PESA dulu, baru lanjut ke MESA kalau ternyata tidak berhasil. Wah bagaimana menarik bukan? jadi sister dan paksu apakah sudah ada bayangan akan pilih prosedur mana? dua-duanya memiliki kelebihan dan kekurangan, untuk itu kalian harus benar-benar berkonsultasi dengan dokter agar tidak terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan. Untuk informasi menarik lainnya bisa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Fraietta, R., De Carvalho, R., & Vasconcellos, F. (2022). WHAT IS THE BEST TECHNIQUE TO RECOVER SPERMATOZOA FROM OBSTRUCTIVE AZOOSPERMIC PATIENTS?. Fertility and Sterility, 118(4), e292-e293.
  • https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/15441-azoospermia?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true
  • https://www.ivftreatmentistanbul.com/pesa-tesa-mesa

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: azoo, infertilitas, laki-laki, MESA, PESA, sperma

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 50
  • Page 51
  • Page 52
  • Page 53
  • Page 54
  • Interim pages omitted …
  • Page 97
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.