• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Admin Menuju Dua Garis

Pahami Personalisasi Transfer Embrio untuk Hasil Kehamilan yang Lebih Baik

May 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Repeated Implantation Failure (RIF) atau disebut kegagalan berulang turut menjadi masalah yang sering dihadapi dalam dunia fertilisasi in-vitro (IVF). Meskipun IVF telah membantu banyak pasangan untuk memiliki anak, kegagalan implantasi tetap menjadi tantangan besar, terutama bagi mereka yang mengalami kegagalan berulang. 

Jadi kira-kira ada tidak ya? pendekatan untuk bisa membantu masalah ini? MDG akan menjelaskan bagaimana temuan yaitu melalui personalisasi transfer embrio. Baca lebih lanjut ya sister!

Mengapa Personalisasi Itu Penting?

Salah satu metode terbaru yang terbukti efektif dalam mengatasi kegagalan implantasi adalah penggunaan Endometrial Receptivity Array (ERA). ERA adalah teknologi yang digunakan untuk menilai kondisi endometrium (lapisan dalam rahim) dan menentukan kapan waktu terbaik untuk melakukan transfer embrio. Dengan mempersonalisasi jadwal transfer embrio berdasarkan hasil dari ERA, kemungkinan untuk berhasil hamil menjadi lebih tinggi.

Bagaimana ini dapat dipahami? jadi setiap wanita memiliki “jendela implantasi” yang berbeda-beda, yaitu waktu ketika rahim paling siap untuk menerima embrio yang telah dibuahi. Jika embrio ditransfer terlalu awal atau terlambat, meskipun kualitas embrionya baik, implantasi bisa gagal. Dengan menggunakan ERA, dokter dapat mengetahui kapan endometrium berada dalam kondisi terbaik untuk menerima embrio, sehingga waktu transfer embrio bisa disesuaikan secara tepat.

Selain itu, teknologi pengujian genetik pra-implantasi (PGT-A) juga dapat digunakan untuk memastikan bahwa embrio yang dipilih untuk transfer bebas dari gangguan genetik. Ini sangat penting karena embrio dengan kromosom yang tidak lengkap atau abnormal dapat menyebabkan kegagalan implantasi atau keguguran.

Hasil yang Lebih Baik dengan Pengujian Genetik

Dengan menggabungkan ERA dan PGT-A, banyak pasangan yang sebelumnya mengalami kegagalan implantasi berulang kini mendapatkan kesempatan lebih besar untuk berhasil hamil. Pengujian genetik membantu memilih embrio yang sehat, sementara ERA memastikan embrio tersebut ditransfer pada waktu yang tepat.

Bahkan temuan dari peneliti menunjukkan bahwa pasien yang menjalani transfer embrio yang dipersonalisasi setelah tes ERA, serta pengujian genetik untuk memastikan kualitas embrio, memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional.

Melalui pendekatan ini, pasangan yang menjalani IVF memiliki peluang lebih besar untuk hamil dan melahirkan anak yang sehat. Dengan menyesuaikan transfer embrio berdasarkan data yang diperoleh melalui ERA dan memastikan kualitas embrio dengan PGT-A, prosedur IVF menjadi lebih terarah dan hasilnya lebih dapat diprediksi.

Bagi pasangan yang telah lama berjuang untuk memiliki anak, personalisasi transfer embrio ini memberi harapan baru. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam dunia reproduksi berbantu, yang tidak hanya mengoptimalkan peluang kehamilan tetapi juga mengurangi risiko keguguran akibat masalah genetik atau waktu transfer yang tidak tepat. Meski begitu sister dan paksu jangan gegabah menggunakan prosedur ini ya! karena harus disesuaikan dengan saran dokter. Informasi menarik lainnya jangan lupa untuk follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Amin Sr, J., Patel, R., JayeshAmin, G., Gomedhikam, J., Surakala, S., Kota, M., & Gomedhikam, J. (2022). Personalized embryo transfer outcomes in recurrent implantation failure patients following endometrial receptivity array with pre-implantation genetic testing. Cureus, 14(6).

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, kehamilan, transfer

Memahami Peran LH dalam Stimulasi Ovarium: Lebih dari Sekadar Hormon Pendukung

May 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini, kita mungkin mengenal LH (luteinizing hormone) sebagai hormon yang “datang belakangan” untuk memicu ovulasi. Pada kasus infertilitas kehadiran LH sangat penting terutama dalam proses stimulasi ovarium (ovarian stimulation/OS) yang dijalani oleh banyak perempuan dalam program bayi tabung (IVF).

Bisakah LH Gantikan FSH?

Model klasik ‘dua sel-dua gonadotropin’ sudah lama menjadi dasar pemahaman kita soal folikulogenesis. Dalam model ini, LH bekerja di sel teka untuk memicu produksi androgen, sementara FSH (follicle stimulating hormone) bekerja di sel granulosa untuk mengubah androgen menjadi estrogen lewat enzim aromatase.

Tapi, kini kita tahu LH tidak hanya aktif di sel teka. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa LH juga punya efek di sel granulosa, bahkan bisa meniru efek FSH seperti mengaktifkan enzim aromatase dan mendukung pertumbuhan folikel.

Beberapa studi bahkan turut menunjukkan bahwa di tahap akhir stimulasi ovarium, LH saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan folikel besar, bahkan tanpa FSH! Salah satu studi menunjukkan bahwa pemberian LH (dalam bentuk hCG dosis rendah) mampu menghasilkan kadar estradiol dan jumlah folikel matang yang setara dengan pemberian FSH. Lebih dari itu, LH juga mengurangi jumlah folikel kecil, sehingga seleksi folikel jadi lebih efisien.

Formulasi LH rekombinan saat ini dirancang lebih murni dan memiliki efek anti-apoptotik yang lebih kuat dibanding hCG. Ini penting, karena LH ternyata juga berperan dalam menjaga sel dari kematian akibat kemoterapi dan mendukung kelangsungan kesuburan.

Selain itu, kerja sama antara FSH dan LH juga meningkatkan produksi faktor-faktor parakrin penting seperti IGF (insulin-like growth factor) dan inhibin B yang turut mendukung proses pematangan folikel.

LH Hadir Sebagai Hormon Ovulasi dan Implantasi

LH punya peran utama dalam proses ovulasi, termasuk pematangan oosit dan pelepasan sel telur. Setelah ovulasi, LH juga mendorong luteinisasi, yaitu proses pembentukan korpus luteum yang menghasilkan progesteron untuk menjaga lapisan endometrium tetap optimal bagi implantasi.

Uniknya lagi, reseptor LH juga ditemukan di jaringan endometrium dan beberapa jaringan non-gonad lainnya. Meski masih banyak perdebatan soal pentingnya peran LH di luar sistem reproduksi, penemuan ini membuka peluang baru dalam memahami fungsi hormon ini secara menyeluruh.

 

Lalu siapa yang Membutuhkan Suplementasi LH

Salah satu perdebatan besar dalam dunia reproduksi berbantuan adalah soal perlu tidaknya suplementasi LH saat OS. Terutama karena obat-obatan yang digunakan untuk mencegah ovulasi prematur (seperti agonis atau antagonis GnRH) bisa menekan produksi LH endogen secara temporer.

Namun, banyak wanita tetap menunjukkan respons baik terhadap stimulasi dengan FSH saja. Ini artinya, kadar LH sisa yang beredar masih cukup untuk mendukung aktivitas LHCGR (reseptor LH/CG) di folikel.

Jadi pada intinya tetap bergantung dengan kondisi tubuh yaa sister! apalagi kebutuhan LF dan FSH. Karena pada kasus pejuang dua garis terutama yang memiliki kondisi spesifik atau respons buruk terhadap OS, bisa mendapatkan manfaat dari tambahan LH. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris ya!

Referensi

  • Alviggi, C., Vigilante, L., Cariati, F., Conforti, A., & Humaidan, P. (2025). The role of recombinant LH in ovarian stimulation: what’s new?. Reproductive Biology and Endocrinology, 23(Suppl 1), 38.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, ibu, infertilitas, laki-laki, LH, pejuang dua garis, perempuan

Pahami Apa Itu Subpopulasi Sperma dan Mengapa Penting untuk Kesuburan

May 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini, banyak yang mengira kalau sperma dalam satu ejakulasi itu seragam semuanya berenang bareng, bentuknya mirip, dan punya tujuan yang sama: membuahi sel telur. Tapi pandangan itu ternyata sudah lama ditinggalkan. Dunia ilmu pengetahuan sekarang tahu, di balik satu tetes cairan ejakulasi, tersembunyi keragaman yang luar biasa. Bukan cuma sekadar ada sperma yang bagus dan sperma yang rusak. Tapi bahkan sperma yang tampaknya “normal” pun ternyata punya keunikan masing-masing. Hal tersebut disebut sebagai subpopulasi sperma mulai dikenal.

Keragaman Sperma dalam Ejakulasi

Para peneliti sejak akhir tahun 1970-an mulai menyadari bahwa sperma tidak bisa dianggap sebagai kelompok yang homogen. Bahkan dalam satu sampel yang tampak sehat, ada perbedaan yang signifikan antar sperma mulai dari cara mereka bergerak, cara mereka menggunakan energi, hingga kandungan molekul di dalamnya. Misalnya, ada sperma yang lebih aktif karena mitokondrianya bekerja lebih efisien, sementara yang lain punya cadangan energi berbeda. 

Ada juga sperma yang sudah mengalami perubahan fisiologis yang membuatnya siap membuahi sel telur (disebut sudah mengalami kapasitasi), sementara yang lain belum siap. Bahkan komposisi membran luar sperma, saluran ion, dan protein yang menempel pun bisa berbeda-beda. Ini artinya, dua sperma yang tampak sama di mikroskop, belum tentu punya potensi yang sama secara fungsional. Wah bisa begitu ya? menarik ngga si paksu?

Pentingnya Memahami Subpopulasi Sperma

Mengapa penting untuk memahami adanya subpopulasi ini? jadi ternyata dalam konteks fertilitas, terutama dalam program bayi tabung atau teknologi reproduksi berbantu lainnya, kita tidak cukup hanya menilai sperma dari jumlah, bentuk, atau geraknya saja. Bisa jadi, jumlahnya banyak dan bentuknya normal, tapi sebagian besar berasal dari subpopulasi yang kurang efisien dalam membuahi sel telur. 

Di sisi lain, ada kelompok kecil sperma yang punya kualitas molekuler tinggi dan peluang lebih besar untuk berhasil. Maka, dengan mengenali karakter tiap subpopulasi, kita bisa lebih cermat memilih sperma terbaik untuk proses pembuahan. Lalu dengan apa ini dapat dideteksi?

Teknologi untuk Mengidentifikasi Subpopulasi Sperma

Untuk mengidentifikasi subpopulasi ini, para ilmuwan kini menggunakan teknologi canggih. Salah satunya adalah analisis berbasis komputer yang bisa membaca pola gerak dan bentuk sperma secara otomatis dari ratusan hingga ribuan sel sekaligus. Selain itu, ada juga analisis molekuler dan sitometri alir yang memungkinkan kita melihat kandungan protein, RNA, atau bahkan tingkat fragmentasi DNA di dalam sperma satu per satu. Semakin berkembang teknologinya, semakin detail kita bisa memetakan “karakter” setiap sperma.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sausa yang menemukan subpopulasi sperma dengan mitokondria aktif misalnya memiliki kualitas lebih baik dan banyak yang utuh, lebih sedikit kerusakan kromatin, dan lebih mampu berpartisipasi dalam perkembangan awal. Metode penyortiran berdasarkan aktivitas mitokondria terbukti lebih efektif dibandingkan metode klasik. Aktivitas mitokondria dapat dijadikan indikator yang kuat untuk menilai fungsionalitas sperma manusia.

Hal tersebut menunjukkan bahwa di dalam sperma ada kompetisi, keragaman, dan bahkan kerja sama antar subpopulasi yang membuat proses pembuahan menjadi kompleks. Dan dengan mengenal subpopulasi sperma ini lebih jauh, sister dan paksu sedang membuka pintu baru dalam pemahaman tentang kesuburan terutama pada paksu. 

Referensi

  • Martínez-Pastor, F. (2022). What is the importance of sperm subpopulations?. Animal Reproduction Science, 246, 106844.
  • Sousa, A. P., Amaral, A., Baptista, M., Tavares, R., Caballero Campo, P., Caballero Peregrin, P., … & Ramalho-Santos, J. (2011). Not all sperm are equal: functional mitochondria characterize a subpopulation of human sperm with better fertilization potential. PloS one, 6(3), e18112.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, kesuburan, sperma

Belajar Ginekologi dan Infertilitas dari Drama Korea Resident Playbook

May 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu, siapa di sini yang lagi ngikutin drama Korea Resident Playbook?
Yes, ini adalah spin-off dari serial hits Hospital Playlist, tapi dengan nuansa yang lebih fokus ke satu departemen: obstetri dan ginekologi, alias obgyn. Berlatar di Rumah Sakit Yulje cabang Jongno, drama ini mengangkat kehidupan para dokter residen yang bergelut setiap hari dengan pasien-pasien perempuan, kelahiran, dan… perjuangan mendapatkan dua garis

Tapi sebelum kita lanjut, yuk kenalan dulu dengan istilah “ginekologi”.
Ginekologi adalah cabang ilmu kedokteran yang fokus pada kesehatan reproduksi perempuan mulai dari organ reproduksi, fungsi hormonal, hingga berbagai masalah seperti gangguan menstruasi, kehamilan, persalinan, sampai infertilitas dan kanker reproduksi. Intinya, ginekologi itu soal memahami tubuh perempuan secara menyeluruh dan mendalam.

Nah, drama Resident Playbook ini menyajikan semua itu dalam bentuk cerita yang menyentuh hati, termasuk perjuangan pasien-pasien yang berhadapan dengan infertilitas.

Oh Joo-young dan Perjuangan Dua Garis

Di Episode 6, ada satu adegan yang rasanya sulit dilupakan Oh Joo-young, salah satu karakter yang diam-diam mengikuti program IVF, harus menerima kenyataan pahit: embrionya tidak bertahan. Bukan di rumah, bukan di pelukan siapapun, tapi di tengah KRL, sendirian. Dunia tetap bergerak, kereta tetap melaju, tapi dunianya seolah berhenti. Suasana sunyi dan ekspresi kosong Joo-young menyampaikan luka yang lebih tajam dari seribu kata.

Adegan ini bukan cuma menyentuh, tapi juga mewakili suara banyak perempuan yang diam-diam memendam harapan, lalu menelan kecewa. Perjuangan mendapatkan dua garis itu bukan sekadar medis. Ini juga soal mental, emosi, dan kekuatan untuk tetap berdiri meski gagal lagi dan lagi. Dan di sini, drama ini menyampaikannya dengan cara yang realistis, empatik, dan nggak lebay.

Lahir Tapi Kehilangan: Ketika Organ Bayi Belum Sempurna

Nggak berhenti sampai disitu, Resident Playbook juga menunjukkan sisi lain dari dunia obgyn yang seringkali luput dari cerita-cerita mainstream: ada pasien yang berhasil melahirkan, tapi bayinya lahir dengan organ yang belum terbentuk sempurna.
Tangis bahagia berubah jadi ketegangan. Drama ini bikin kita sadar bahwa hamil dan melahirkan bukan sekadar “proses alami” aja, tapi juga penuh risiko dan ketidakpastian. Dan buat para dokter, ini bukan cuma kasus medis, tapi juga kisah kemanusiaan yang harus mereka tangani dengan kepala dingin dan hati yang hangat.

Dengan alur yang ringan tapi penuh makna, drama ini berhasil bikin kita belajar banyak hal bukan cuma soal medis, tapi juga tentang empati, keteguhan hati, dan pentingnya dukungan orang sekitar. Cocok banget buat sister dan paksu yang ingin menonton drama yang menghibur tapi juga membuka wawasan.

Gimana? Tertarik buat nonton bareng sambil malam mingguan? Resident Playbook tayang mulai 12 April sampai 18 Mei 2025, dan masih ongoing! Jangan lupa juga follow Instagram @menujuduagaris.id untuk info dan obrolan menarik lainnya seputar ginekologi dan perjuangan para pejuang dua garis.

Referensi

  • https://wolipop.detik.com/entertainment-news/d-7867029/mengenal-5-pemain-drakor-resident-playbook-spin-off-hospital-playlist
  • https://www.halodoc.com/artikel/jangan-keliru-ini-perbedaan-ginekologi-dan-obstetri

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: drama korea, infertilitas, IVF, resident plybook

Pahami Peran Genetika dalam menangani Infertilitas dengan kasus Primary Ovarian Insufficiency (POI)

May 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mempengaruhi sekitar 15% pasangan di seluruh dunia, dan salah satu penyebab utama infertilitas pada perempuan adalah Insufisiensi Ovarium Primer (POI). POI terjadi ketika ovarium berhenti berfungsi sebelum usia 40 tahun, dan ini memengaruhi 1–3,7% wanita. Penyebabnya beragam kelainan genetik, autoimun, pengobatan Medis seperti Terapi radiasi atau kemoterapi,
faktor lingkungan dan infeksi virus.

Salah satu dampak utama dari POI adalah infertilitas permanen, di mana wanita tersebut tidak bisa hamil secara alami. Selain infertilitas, POI juga berhubungan dengan masalah kesehatan serius lainnya, seperti osteoporosis, penyakit jantung, dan bahkan gangguan neurologis. Jika sister dan paksu penasaran apa penyebab dari penyebab ini, sayangnya dalam penelitian pun masih belum jelas penyebabnya. Tapi setidaknya kita dapat berfokus pada solusi apa yang kira-kira ditawarkan! baca lebih lanjut yuk!

Pahami Peran Genetika dalam Diagnosis POI

Bayangkan jika misteri gangguan kesuburan bisa dipecahkan lewat jejak genetik dalam tubuh kita, itulah yang ditemukan para peneliti dalam studi besar melibatkan 375 pasien dan 70 keluarga dengan insufisiensi ovarium primer (POI). Dengan teknologi Whole Exome Sequencing (WES) dan panel genetik, mereka menelusuri mutasi pada gen-gen yang berperan dalam fungsi ovarium. Hasilnya cukup mengejutkan: hampir sepertiga kasus 29,3% akhirnya memperoleh diagnosis yang jelas. Temuan ini memberi harapan baru, bahwa pendekatan genetika tak hanya membantu memahami penyebab POI, tapi juga membuka peluang untuk penanganan yang lebih personal dan tepat sasaran.

Genetika ini tidak hanya memberi kita wawasan baru mengenai penyebab POI, tetapi juga membuka jalan untuk pengobatan yang lebih dipersonalisasi. Misalnya, dengan mengetahui mutasi genetik tertentu, pengobatan bisa disesuaikan untuk meningkatkan peluang kehamilan pada pasien yang mengalami POI.

Genetik POI dan Infertilitas 

Dalam studi ini, peneliti mengidentifikasi beberapa gen baru yang terlibat dalam POI yang sebelumnya belum diketahui, serta mengkonfirmasi peran gen lain yang sudah dilaporkan sebelumnya. Salah satu temuan yang menarik adalah bahwa gangguan pada gen perbaikan DNA dan mitosis dapat berhubungan dengan kerentanan terhadap kanker—yang menunjukkan bahwa pasien POI berisiko mengalami komplikasi lebih lanjut di luar masalah kesuburan.

Selain itu, sekitar 35,4% kasus POI berhubungan dengan gangguan pada gen yang berperan dalam pertumbuhan folikel. Hal ini penting dalam konteks pengobatan infertilitas, karena aktivasi folikel in vitro sebuah teknik yang berpotensi untuk membantu pasien POI hamil dapat lebih efektif jika didasarkan pada pemahaman genetik yang lebih dalam.

Proses yang disebutkan diatas adalah salah satu upaya dalam personalisasi kasus, dimana diagnosis genetik ternyata dapat membantu menentukan pasien yang berpotensi berhasil dengan teknik aktivasi folikel in vitro. Dengan mengetahui cadangan ovarium residual melalui pendekatan genetika, dokter dapat merancang terapi yang lebih efektif untuk meningkatkan kesuburan pasien.

Selain itu, pendekatan ini juga memperkenalkan kemungkinan pengobatan yang lebih efektif dengan menargetkan jalur molekuler tertentu yang terlibat dalam POI. Salah satu jalur baru yang ditemukan terkait dengan imunitas dan regulasi gen, yang bisa menjadi target terapi di masa depan.

Jadi pada sister dan paksu yang dihadapkan dengan masalah ini, ingat bahwa infertilitas bukan hanya soal kesulitan hamil, tetapi juga merupakan masalah yang memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan jangka panjang. Jika ada kasus yang sedang kalian hadapi apalagi seperti POI maka segera berkonsultasi ke dokter, dan melihat apakah ada solusi yang tepat. Informasi menarik lainnya dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Heddar, A., Ogur, C., Da Costa, S., Braham, I., Billaud-Rist, L., Findikli, N., … & Misrahi, M. (2022). Genetic landscape of a large cohort of Primary Ovarian Insufficiency: New genes and pathways and implications for personalized medicine. EBioMedicine, 84.
  • https://www.morulaivf.co.id/id/blog/primary-ovarian-insufficiency/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: genetik, infertilitas, Insufisiensi Ovarium Primer

Gagal IVF 8 Kali Berhasil di Usia 45 Tahun Bersama Dr. Pandian Ram

May 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Pada hari Rabu, 30 April, pukul 19.30, Menuju Dua Garis kembali hadir menyapa sister dan paksu melalui sesi Live Instagram. Acara ini dipandu oleh Mizz Rosie, founder MDG, bersama Dr. Pandian Ram dari Ramfertility.

Sesi kali ini sangat menarik karena menghadirkan kisah inspiratif dari salah satu pasien Dr. Pandian Ram, yang berhasil menjalani IVF setelah 8 kali gagal. Pasien tersebut adalah Sister Iin Edrawati, yang akhirnya berhasil hamil di usia 45 tahun, meskipun memiliki AMH yang sangat rendah. Setelah banyak perjuangan, mereka akhirnya menjalani program bersama Dr. Pandian Ram.

Apa yang membuat proses ini berbeda?
Sister Iin menceritakan bahwa, secara emosional, dia sudah sangat semangat untuk berjuang. Yang membuatnya memutuskan untuk melakukan IVF dengan Dr. Ram adalah respons positif dan kenyamanan yang diberikan oleh dokter, yang membangun rasa percaya dan keyakinan bahwa ini adalah proses yang tepat. Dr. Pandian Ram membrikan anjuran untuk melakukan persiapan selama 6 bulan sebelum melakukan IVF, dengan pendekatan yang meliputi pola hidup sehat, olahraga, suplemen, hingga akupuntur. Hingga akhirnya sister Iin dan pasangan merasa bahwa persiapan mereka sangat matang. Dr. Pandian Ram juga membagi dosis obat hormon secara personal sesuai dengan kondisi sister Iin. 

Pada proses live akhirnya dilakukan tanya jawab dengan sister PDG lainnya, pertanyaan yang diajukan beragam yang memperlihatkan bagaimana mereka sangat antusias dengan pertanyaan yang lebih spesifik mengenai pemilihan protokol IVF, seperti apakah menggunakan short atau long protocol. Dr. Ram menjelaskan bahwa ia sudah meninggalkan long protocol dan berfokus pada short protocol. Juga peratnyaan seputar Low AMH dengan FSH dan LH. Menurut Dr. Ram, jika AMH rendah, tetapi FSH dan LH normal, maka program IVF tetap bisa dilanjutkan. Namun, jika LH rendah dan FSH tinggi, ini menandakan menopause, yang berarti program IVF tidak dapat dilakukan.

Meskipun sempat mengalami 8 kali kegagalan, sister Iin meyakini bahwa keberhasilan IVF yang ke-9 ini adalah sebuah mukjizat, setelah berjuang keras bersama suami selama 23 tahun pernikahan. MDG melihat perjuangan yang tiada akhir ini, dan percaya bahwa tidak ada usaha yang sia-sia dalam perjalanan menuju dua garis.

Menuju Dua Garis yakin, bagi sister dan paksu yang sedang berjuang, tidak ada kata menyerah. Akan ada hari yang indah yang bisa kalian rasakan bersama. Ingat, menjaga tubuh dan kesehatan reproduksi sangat berkaitan, dan semuanya demi tubuh yang sehat.

Untuk informasi lebih lanjut dan konten menarik lainnya, jangan lupa follow Instagram kami di @menujuduagaris.id!

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Dr Pandian Ram, Gagal IVF, IVF, usia 45 tahun

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 51
  • Page 52
  • Page 53
  • Page 54
  • Page 55
  • Interim pages omitted …
  • Page 97
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.