• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Admin Menuju Dua Garis

Kenali Teknologi Virtual Touch Tissue Imaging Quantification (VTIQ) untuk Diagnosis Infertilitas Pria

March 20, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Hai, sister dan paksu! Kalau bicara soal infertilitas pria, biasanya yang dicek pertama kali apa? pasti berkaitan dengan kualitas sperma bukan? nah dari banyaknya alat analisis ini ada loh teknologi baru yang bisa membantu melihat kondisi testis lebih akurat, yaitu Virtual Touch Tissue Imaging Quantification (VTIQ). Teknologi ini bisa memberikan gambaran lebih jelas tentang kesehatan testis dan mendeteksi gangguan yang bisa mempengaruhi kesuburan pria. Wah penasaran bagaimana metode ini bekerja?

Kenapa Penting untuk Kesuburan Pria?

Beberapa kondisi pada testis, seperti mikrolitiasis testis (kalsifikasi kecil di dalam testis) dan varikokel (pembesaran pembuluh darah di sekitar testis), bisa berdampak pada kualitas sperma. Nah, dengan VTIQ, dokter bisa lebih mudah mendeteksi perubahan dalam jaringan testis dan menilai apakah ada masalah yang mempengaruhi produksi sperma.

VTIQ cara bekerjanya adalah dengan menggunakan pulsa dorong mekanis untuk menghasilkan peta berwarna yang menunjukkan tingkat kekakuan jaringan. VTIQ berguna dalam mengevaluasi massa skrotum yang tidak jelas. Teknik ini tidak bergantung pada tekanan operator sehingga hasilnya lebih objektif.

Apa yang Bisa Dideteksi dengan VTIQ?

Mendeteksi kelainan testis yang tidak terlihat dengan pemeriksaan biasa, Menilai kondisi testis yang bisa berdampak pada kualitas sperma, Membantu dokter menentukan tindakan yang tepat untuk meningkatkan peluang kehamilan. 

Sebuah penelitian turut mengeksplorasi penggunaan awal dan nilai diagnostik VTIQ dalam mendeteksi penyakit testis difus pada pria infertil. Sebanyak 70 pria diperiksa dan dikelompokkan menjadi tiga kategori: normal, mikrolitiasis testis, dan varikokel. Penelitian ini menganalisis perbedaan antar kelompok serta hubungan antara kualitas air mani dan kecepatan gelombang geser testis. Hasilnya menunjukkan bahwa kecepatan gelombang geser bervariasi tergantung pada kondisi testis, posisi pengukuran, dan postur tubuh. Selain itu, ditemukan korelasi antara kecepatan gelombang geser testis dan motilitas sperma total. dapat diketahui bahwa teknologi VTIQ berpotensi menjadi metode diagnostik untuk penyakit testis, terutama pada pria infertil, guna mendukung diagnosis klinis dan pilihan pengobatan.

Manfaat VTIQ dalam Infertilitas Pria

Lebih akurat dalam melihat kondisi testis dibandingkan pemeriksaan manual, Bisa membantu mendeteksi penyebab infertilitas lebih awal, Membantu menentukan perawatan yang lebih tepat sesuai dengan kondisi testis

Sister dan paksu, kalau sedang menjalani program hamil dan mengalami kesulitan, ada baiknya mempertimbangkan pemeriksaan testis lebih lanjut. Teknologi VTIQ bisa membantu mengetahui kondisi testis dengan lebih akurat dan membantu dokter dalam menentukan langkah terbaik untuk meningkatkan kesuburan pria. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Liu, L., Xia, J. K., Zhu, Z. X., Chen, W. T., & Xu, Q. (2022). Preliminary study of virtual touch tissue imaging quantification in diffuse testicular diseases of male infertility. Acta Histochemica, 124(2), 151860.
  • Marcon, J., Trottmann, M., Rübenthaler, J., Stief, C. G., Reiser, M. F., & Clevert, D. A. (2017). Shear wave elastography of the testes in a healthy study collective–Differences in standard values between ARFI and VTIQ techniques. Clinical hemorheology and microcirculation, 64(4), 721-728.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: analisis sperma, Teknologi Virtual Touch Tissue Imaging Quantification, VTIQ

Memahami Infertilitas Tuba secara Anatomis: Kenapa Bisa Jadi Penghambat Kehamilan?

March 18, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Apakah sister dan paksu tau bahwa fakta sekitar 30% wanita infertil di seluruh dunia mengalami masalah pada tuba fallopi. Sayangnya, aspek ini bisa jadi terabaikan karena adanya prosedur bayi tabung (IVF) yang dianggap bisa menjadi solusi ketika tuba mengalami penyumbatan atau kerusakan. Padahal, memahami lebih dalam tentang infertilitas tuba bisa membantu sister dan paksu dalam menemukan pendekatan yang lebih tepat untuk mengatasi masalah kesuburan. Salah satu pendekatan ini 

Pentingnya Memahami Infertilitas Tuba

Dengan memahami kondisi ini lebih dalam, sister dan paksu bisa lebih bijak dalam mencari solusi yang sesuai. Karena tuba fallopi memiliki anatomi yang kompleks. Dari proses perkembangannya sejak embrio hingga struktur mikroskopisnya yang memiliki silia (rambut kecil yang membantu pergerakan sel telur), semua ini berperan penting dalam proses transportasi sel telur menuju tempat pembuahan.

Tuba falopi adalah saluran yang menghubungkan ovarium dan rahim, berperan penting dalam proses pembuahan. Panjangnya sekitar 11-12 cm dan memiliki diameter lumen yang sangat kecil, kurang dari 1 mm. Tuba fallopi memiliki empat bagian utama:

  1. Bagian uterus (paling dekat dengan rahim).
  2. Isthmus (bagian sempit yang berdekatan dengan uterus).
  3. Ampula (tempat paling umum terjadinya pembuahan).
  4. Infundibulum (bagian ujung dengan fimbria yang menangkap sel telur dari ovarium)

Singkatnya, tuba fallopi adalah jalur penting bagi sel telur menuju rahim, tempat terjadinya pembuahan, dan memiliki suplai darah serta sistem limfatik yang kompleks untuk menjaga fungsinya.

Ada banyak faktor yang menyebabkan infertilitas tuba, di antaranya:

  • Infeksi: Chlamydia trachomatis, gonore, dan tuberkulosis genital
  • Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD)
  • Endometriosis
  • Komplikasi setelah operasi perut

Kerusakan pada tuba bisa menyebabkan penyumbatan atau gangguan pergerakan sel telur, sehingga menghambat proses pembuahan secara alami. Bayangkan anatomi yang kompleks itu kemudian berhadapan dengan gangguan yang juga beragam faktornya. 

Apakah Ada Cara Mengatasi Infertilitas Tuba?

Meskipun masih ada perdebatan mengenai penyebab utama infertilitas tuba, perkembangan teknologi dalam diagnosis molekuler telah mengungkap bahwa infeksi, endometriosis, dan gangguan pergerakan silia menjadi faktor utama yang memicu obstruksi tuba. Ini menunjukkan bahwa memahami kondisi kesehatan reproduksi sejak dini sangat penting bagi sister yang ingin merencanakan kehamilan.

Infertilitas tuba merupakan salah satu penyebab utama gangguan kesuburan yang seringkali terabaikan. Penting bagi sister dan paksu untuk memahami faktor-faktor penyebabnya hal ini juga tentu bisa dikaitkan dengan anatomi tubuh sister dan paksu, kemudian dapat mencari solusi terbaik, baik melalui pengobatan medis maupun tindakan pencegahan seperti menjaga kesehatan reproduksi sejak dini. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Briceag, I., Costache, A., Purcarea, V. L., Cergan, R., Dumitru, M., Sajin, M., & Ispas, A. T. (2015). Fallopian tubes–literature review of anatomy and etiology in female infertility. Journal of medicine and life, 8(2), 129.
  • Han, J., & Sadiq, N. M. (2019). Anatomy, abdomen and pelvis, fallopian tube.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: IVF, perempuan, rahim, tuba falopi

MDG Edisi Ramadhan: Bersama dalam Ikhtiar, Berserah dalam Doa

March 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Surabaya, 16 Maret 2025 – Dalam semangat Ramadhan yang penuh berkah, Menuju Dua Garis (MDG) dengan bangga berkolaborasi bersama Asha IVF Indonesia untuk mengadakan sesi edukasi fertilitas secara online. Acara yang berlangsung pada Minggu pagi ini disambut dengan antusias oleh lebih dari 130 peserta yang bergabung dari rumah masing-masing. Sebagai bentuk dukungan nyata, Asha IVF juga memberikan pemeriksaan dasar fertilitas secara gratis bagi peserta.

Sesi ini menghadirkan dua dokter ahli, yaitu Dr. Ali Mahmud, Sp.OG., Subsp.FER dan Dr. Uning Marlina, MHSM., Sp.OG. Acara dibuka dengan penuh semangat oleh MC yang aktif berinteraksi dengan peserta, diikuti oleh sambutan dari Mizz Rosie, Founder MDG, yang memberikan pengantar sebelum sesi diskusi utama dimulai.

Untuk memaksimalkan pengalaman peserta, ruang Zoom dibagi menjadi dua sesi terpisah:
Bersama Dr. Ali Mahmud, peserta berdiskusi mengenai low AMH, endometriosis, permasalahan tuba, dan sperma. Bersama Dr. Uning Marlina, peserta membahas PCOS, infertilitas tanpa sebab yang jelas, keguguran berulang, dan program hamil alami.

Selama 40 menit sesi berlangsung, diskusi terasa begitu interaktif dan dinamis. Banyak pertanyaan dari peserta yang diajukan, bahkan beberapa di antaranya belum sempat dibahas karena keterbatasan waktu.

Yang membuat acara ini semakin spesial adalah sesi penutup yang menghadirkan Ustadzah Siti Fathiyah Khotib, Lc., MA. Beliau memberikan perspektif spiritual mengenai perjuangan menjadi orang tua dan bagaimana menjalani proses ini dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Pesan-pesan beliau begitu menyentuh, terbukti dari banyaknya komentar peserta yang merasa terharu dan mendapatkan penguatan iman, seperti, “Terima kasih sudah diingatkan, Ustadzah. Baru sadar, meski belum berhasil, tapi tiap tahunnya Allah selalu mudahkan kami untuk terus berproses.”

MDG sangat bersyukur bisa menghadirkan sesi penuh manfaat ini bagi para pejuang dua garis. Kami berharap acara ini bisa menjadi motivasi dan inspirasi dalam perjalanan ikhtiar mereka. Jangan sampai ketinggalan informasi dan program menarik lainnya, pastikan untuk mengikuti kami di Instagram @menujuduagaris.id!

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: asha ivf, infertilitas, romadhon, seminar

Fakta Menarik Asprosin: Perannya dalam Obesitas, Diabetes, dan Kesuburan

March 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu, pernah dengar tentang asprosin? ternyata hormon ini masih tergolong baru dalam dunia medis, nah MDG ingin menunjukkan kalau ternyata dia punya peran besar dalam pengaturan energi, metabolisme, bahkan kesuburan. Lalu apa sih yang dimaksud dengan hormon asprosin?

Apa yang dimaksud dengan Hormon Asprosin?

Asprosin sendiri merupakan adipokine glukoneogenik dan pro-fagosit yang ternyata baru teridentifikasi pada tahun 2016 oleh Romero et al. Zat ini terutama dilepaskan ke dalam aliran darah oleh jaringan adiposa putih dan mempengaruhi hati. Tapi semakin kesini bahwa hormon ini dapat menyebabkan peradangan dan stres pada retikulum endoplasma. Selain itu, telah diamati bahwa kadar asprosin dalam aliran darah lebih tinggi pada gangguan metabolik tertentu seperti diabetes melitus tipe 2 (T2DM), obesitas, sindrom ovarium polikistik, diabetes melitus gestasional, dan penyakit kardiometabolik

Ternyata dia memiliki tugas utama yaitu untuk membantu tubuh mengatur kadar glukosa dan meningkatkan nafsu makan. Disisi lain yang lebih mengejutkan adalah bahwa ada hal lain yang lebih menarik, hormon asprosin juga berpengaruh pada obesitas, diabetes, dan bahkan infertilitas.

Pahami Bagaimana Cara Kerja Asprosin?

  • Mengatur kadar gula darah, proses ini asprosin merangsang hati untuk melepaskan glukosa ke dalam darah, memberikan energi saat kita sedang berpuasa.
  • Meningkatkan nafsu makan, saat masuk ke otak, asprosin mengaktifkan neuron AgRP di hipotalamus, yang bikin kita merasa lapar.
  • Berkaitan dengan obesitas, nah sedangkan pada penderita obesitas, kadar asprosin dalam tubuh meningkat secara abnormal, yang bisa memperburuk masalah metabolisme.

Olahraga dan Asprosin

Buat sister dan paksu yang suka olahraga, ada hal menarik nih.

  • Latihan anaerobik (seperti angkat beban, sprint) → Bisa meningkatkan kadar asprosin dalam tubuh, hal ini dibutuhkan pada tubuh yang kekurangan hormon ini
  • Latihan aerobik (seperti jogging, bersepeda) → Justru membantu menurunkan kadar asprosin, yang bisa bermanfaat untuk penderita obesitas.

Dengan berbagai perannya dalam pengaturan gula darah, nafsu makan, obesitas, dan kesuburan, asprosin berpotensi menjadi target terapi baru di dunia medis. Apalagi, ada penelitian yang menunjukkan kalau pemberian antibodi anti-asprosin bisa membantu mengurangi nafsu makan dan mengatasi obesitas.

Tapi, sebelum benar-benar jadi solusi medis, jangan gegabah ya sister dan paksu karena kondisi tubuh sister dan paksu ini berbeda-beda, jadi tetap harus di cari tahu kecocokan metode apa yang dapat dilakukan, apakah dengan berpuasa atau dengan olahraga. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu bisa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Mazur-Bialy, A. I. (2021). Asprosin—a fasting-induced, glucogenic, and orexigenic adipokine as a new promising player. Will it be a new factor in the treatment of obesity, diabetes, or infertility? A review of the literature. Nutrients, 13(2), 620.
  • Lv, D., Wang, Z., Meng, C., Li, Y., & Ji, S. (2024). A study of the relationship between serum asprosin levels and MAFLD in a population undergoing physical examination. Scientific Reports, 14(1), 11170.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: asprosin, kesuburan, obesitas

Pahami Penerapan Strategi Coping dalam Menghadapi Infertilitas

March 15, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas bukan hanya persoalan medis, tetapi juga tantangan emosional yang harus dihadapi bersama. Bagi sister dan paksu yang sedang berjuang dalam proses ini, menjaga keseimbangan emosional dan saling mendukung adalah kunci utama agar tetap kuat. Lalu, bagaimana cara terbaik untuk menghadapinya? MDG setidaknya akan bahas beberapa langakah yang dapat dilakukan, salah satunya adalah strategi coping.

Apa itu coping strategies, ia hadir sebagai salah satu cara untuk mengatasi ketidaksuburan meliputi mempelajari tentang ketidaksuburan, berkomunikasi dengan pasangan, dan mempraktikkan perawatan diri. Untuk itu MDG sudah memberikan banyak informasi agar sister dan paksu dapat mendapatkan akses informasi. Pada pertemuan kali ini bahas teknik coping yang lain yuk! 

  • Saling Terbuka dan Komunikatif

Pertama saat menghadapi diagnosis infertilitas, keterbukaan menjadi hal penting. Sister dan paksu perlu berbicara secara jujur tentang perasaan, ketakutan, dan harapan masing-masing. Jangan menyimpan semuanya sendiri, karena komunikasi yang baik akan mempererat hubungan dan mengurangi stres.

  • Menjaga Efikasi Diri dan Pikiran Positif

Kepercayaan diri dalam menghadapi situasi sulit sangat mempengaruhi kualitas hidup. Semakin yakin pasangan dalam menghadapi tantangan ini, semakin mudah mereka menjalani prosesnya. Fokuslah pada hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti gaya hidup sehat, pola pikir positif, dan dukungan satu sama lain.

  • Menghindari Sikap Menghindar, Fokus pada Solusi

Saat menghadapi masalah, ada kecenderungan untuk menghindari atau mengabaikannya. Namun, strategi ini justru bisa memperburuk keadaan. Sebaliknya, hadapi tantangan ini dengan mencari solusi yang realistis, baik dari sisi medis maupun emosional. Konsultasi dengan dokter, mengikuti terapi, atau bergabung dengan komunitas bisa menjadi pilihan.

  • Mencari Dukungan dan Tetap Bersama dalam Perjalanan Ini

Infertilitas bukan hanya tentang upaya memiliki anak, tetapi juga bagaimana pasangan menghadapi tantangan bersama. Mencari dukungan dari keluarga, teman, atau profesional bisa membantu mengurangi beban. Yang terpenting, sister dan paksu tetap satu tim, saling menguatkan, dan tidak menyalahkan satu sama lain.

Terakhir sister dan paksu juga dapat melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama, seperti traveling, mencoba hobi baru, atau sekadar menghabiskan waktu berkualitas. hubungan sister dan paksu lebih besar daripada sekadar perjalanan memiliki anak. Yang jelas bahwa menghadapi infertilitas bukanlah perjalanan yang mudah, tetapi dengan dukungan, komunikasi, dan pola pikir yang tepat, pasangan bisa tetap kuat dan harmonis. Apapun hasil akhirnya, perjalanan ini adalah bagian dari kisah hidup yang harus dihadapi bersama. Stay strong, sister dan paksu! untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Andrei, F., Salvatori, P., Cipriani, L., Damiano, G., Dirodi, M., Trombini, E., … & Porcu, E. (2021). Self-efficacy, coping strategies and quality of life in women and men requiring assisted reproductive technology treatments for anatomical or non-anatomical infertility. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology, 264, 241-246.
  • https://resolve.org/get-help/helpful-resources-and-advice/managing-infertility-stress/coping-techniques/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: coping, infertilitas, komunikasi, medis, mental health, pasangan

Penyebab dan Cara Mengatasi Pretesticular Infertilitas pada Laki-laki

March 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, tahukah kalian bahwa masalah infertilitas tidak hanya terjadi pada wanita, tapi juga bisa dialami oleh paksu? Nah, salah satu penyebab infertilitas laki-laki adalah faktor pretestikuler. Yuk, kita bahas lebih lanjut supaya lebih paham!

Ketika pasangan mengalami kesulitan untuk memiliki anak, langkah pertama yang biasanya dilakukan adalah pemeriksaan medis. Ini termasuk riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, tes hormon, dan analisis air mani. 

Sayangnya, saat ini belum ada pemeriksaan klinis standar yang menyeluruh untuk laki-laki. Banyak pasangan yang lebih memilih menggunakan teknologi reproduksi berbantuan seperti Injeksi Sperma Intrasitoplasma (ICSI) untuk mendapatkan hasil cepat. Akibatnya, seringkali penyebab utama infertilitas laki-laki justru terabaikan. Padahal, memahami penyebabnya bisa membantu paksu mendapatkan solusi yang lebih tepat dan alami! Untuk itu pahami lebih dalam yuk!

Mengenal Pretesticular Infertilitas

Infertilitas yang dialami oleh paksu bisa dibagi menjadi tiga kategori utama, yaitu pre-testicular, testicular, dan post testicular. Nah, kita fokus dulu ke pre-testicular, ya!

Pre-testicular hadir sebagai salah satu infertilitas yang terjadi karena gangguan hormon yang mempengaruhi produksi sperma. Gangguan ini bisa berasal dari sistem hormon yang mengatur kerja testis, yaitu sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad (HPG). Sederhananya, ini adalah sistem dalam tubuh yang mengontrol produksi hormon reproduksi laki-laki. Lalu kira-kira seperti apa hormon ini mengatur kesuburan laki-laki?

Bagaimana Hormon Mengatur Kesuburan Laki-laki?

Tubuh paksu punya mekanisme canggih yang mengatur produksi sperma melalui interaksi beberapa hormon:

  1. GnRH (Gonadotropin-releasing hormone): Dihasilkan oleh hipotalamus untuk merangsang produksi hormon lain.
  2. LH (Luteinizing hormone): Memicu sel Leydig di testis untuk memproduksi testosteron.
  3. FSH (Follicle-stimulating hormone): Berperan dalam produksi sperma dengan merangsang sel Sertoli.

Jika ada gangguan dalam sistem ini, misalnya karena ketidakseimbangan hormon, produksi sperma bisa terganggu, dan ini menyebabkan infertilitas pretesticular.

Faktor yang Mempengaruhi Pretesticular Infertilitas

Beberapa hal yang bisa menyebabkan gangguan hormon ini antara lain:

  • Ketidakseimbangan hormon testosteron
  • Gangguan pada hipotalamus atau kelenjar pituitari
  • Pola makan yang tidak sehat
  • Stres berlebihan
  • Penggunaan obat-obatan tertentu
  • Obesitas atau kondisi medis lain seperti diabetes

Cara Mengatasi Pretesticular Infertilitas

Kabar baiknya, sister, kondisi ini bisa dikelola dengan baik! Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan: 

Konsultasi ke dokter, karena penting untuk mengetahui penyebab spesifik dari gangguan hormon ini. Menjaga pola hidup sehat, Pola makan bergizi, olahraga rutin, dan tidur cukup bisa membantu keseimbangan hormon. Mengelola stres, karena stres bisa mengganggu hormon reproduksi, jadi pastikan paksu punya waktu untuk relaksasi. Menghindari obat-obatan tertentu, karena beberapa obat bisa mempengaruhi hormon, jadi sebaiknya konsultasikan dulu sebelum mengkonsumsinya.

Dengan memahami penyebab dan cara mengatasi pretesticular infertilitas ini, semoga sister dan paksu bisa lebih siap dalam merencanakan kehamilan. Jangan ragu untuk konsultasi dengan dokter, ya! informasi manarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Dimitriadis, F., Adonakis, G., Kaponis, A., Mamoulakis, C., Takenaka, A., & Sofikitis, N. (2017). Pre-testicular, testicular, and post-testicular causes of male infertility. Endocrinol Testis Male Reprod, 1, 981.
  • Agarwal, A., Baskaran, S., Parekh, N., Cho, C. L., Henkel, R., Vij, S., … & Shah, R. (2021). Male infertility. The Lancet, 397(10271), 319-333.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, penyebab, Pretesticular

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 59
  • Page 60
  • Page 61
  • Page 62
  • Page 63
  • Interim pages omitted …
  • Page 97
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.