• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Artikel Pejuang Dua Garis

Bentuk Rahim Bisa Beda, dan Itu Bisa Pengaruhi Kesuburan

August 4, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

“Kok belum hamil-hamil, padahal haid lancar dan hasil lab bagus?”
Kadang jawabannya bukan di hormon atau sel telur tapi bisa jadi dari bentuk rahim. Banyak perempuan nggak menyadari kalau mereka punya anomali rahim alias kelainan bentuk rahim bawaan yang bisa menghambat kehamilan. Misalnya rahim terbagi dua (septate), rahim ganda (didelphys), atau rahim dengan bentuk tidak normal lainnya.

Masalahnya, kondisi ini sering luput terdeteksi karena gejalanya minim dan pemeriksaannya belum jadi standar di banyak tempat. Padahal, anomali rahim termasuk salah satu penyebab infertilitas yang bisa diatasi kalau dideteksi sejak awal.

Kenapa Sering Terlewat?

Sebelumnya, proses diagnosis anomali rahim masih punya banyak celah mulai dari klasifikasi bentuk rahim yang kurang jelas, Metode pemeriksaan yang bervariasi dan alat yang digunakan tidak selalu akurat

Karena itu, sering terjadi salah diagnosis baik overdiagnosis, underdiagnosis, maupun misdiagnosis. Dan ini berpengaruh langsung pada strategi program hamil.

Rekomendasi Pemeriksaan yang Lebih Akurat

Kini, sudah ada pendekatan yang lebih sistematis dan disepakati secara luas. Panduan ini menekankan pentingnya memilih jenis pemeriksaan berdasarkan kondisi pasien:

  1. Untuk perempuan tanpa keluhan: Pemeriksaan awal cukup dengan USG 2D dan pemeriksaan ginekologi rutin.
  2. Untuk yang punya riwayat infertilitas, keguguran berulang, atau menstruasi yang tidak normal: USG 3D direkomendasikan karena bisa menampilkan bentuk rahim secara lebih detail dan akurat.
  3. Untuk kasus yang kompleks atau hasil yang belum jelas: MRI dan endoskopi (seperti histeroskopi atau laparoskopi) digunakan untuk memastikan diagnosis.
  4. Untuk remaja yang sejak awal mengalami gejala mencurigakan: Disarankan kombinasi USG 2D, USG 3D, MRI, dan pemeriksaan endoskopi.

Cara Mengukur Bentuk Rahim dengan Benar

Salah satu penilaian penting dalam mendeteksi kelainan rahim adalah mengukur ketebalan dinding rahim. Titik ukurnya dihitung dari garis antara dua saluran tuba (interostial line) ke dinding luar rahim, dalam potongan gambar dari arah depan (koronal). Jika gambar ini tidak tersedia, bisa digunakan rata-rata ketebalan dinding depan dan belakang dari arah longitudinal.

Kenapa Ini Penting untuk Program Hamil

Beberapa bentuk rahim, seperti rahim septate, memang bisa diatasi lewat tindakan bedah kecil yang memperbaiki bentuk rahim dan secara signifikan meningkatkan peluang hamil. Tapi itu hanya bisa dilakukan kalau diagnosisnya tepat. Karena itu, deteksi anomali rahim tidak boleh diabaikan dalam evaluasi awal infertilitas.

Tidak semua masalah kesuburan berasal dari hormon atau sperma. Struktur rahim juga memegang peran penting dalam keberhasilan kehamilan. Deteksi dini kelainan bentuk rahim bisa jadi kunci penting dalam program hamil, terutama bagi pasangan yang sudah lama menunggu tanpa hasil yang jelas. Jadi jangan sampai luput dan lakukan pemeriksaan untuk kasus ini ya sister! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi:
Grigoris F. Grimbizis, Attilio Di Spiezio Sardo, Sotirios H. Saravelos, Stephan Gordts, Caterina Exacoustos, Dominique Van Schoubroeck, Carmina Bermejo, Nazar N. Amso, Geeta Nargund, Dirk Timmerman, Apostolos Athanasiadis, Sara Brucker, Carlo De Angelis, Marco Gergolet, Tin Chiu Li, Vasilios Tanos, Basil Tarlatzis, Roy Farquharson, Luca Gianaroli, Rudi Campo, The Thessaloniki ESHRE/ESGE consensus on diagnosis of female genital anomalies, Human Reproduction, Volume 31, Issue 1, January 2016, Pages 2–7, https://doi.org/10.1093/humrep/dev264

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, kesuburan, perempuan, rahim

Panduan Program Hamil untuk Pasien PCOS: Tanya Jawab Lengkap Bersama Dokter Spesialis

August 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Takeover MDG Channel bersama dr. Ali Mahmud, Sp.OG(K) FER

PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome merupakan salah satu kondisi yang cukup sering ditemui pada pasien yang sedang menjalani program hamil. Tapi banyak yang masih bingung apakah bisa hamil secara alami? Harus IVF? Atau menunggu siklus tertentu?

Dalam sesi tanya-jawab bersama dr. Ali Mahmud, Sp.OG(K) FER, berikut rangkuman jawaban dari berbagai pertanyaan yang sering diajukan para pejuang dua garis:

Apakah PCOS Berpengaruh Terhadap Keberhasilan FET (Frozen Embryo Transfer)?

Jawabannya: ya, sangat berpengaruh, terutama jika disertai obesitas atau masalah metabolik lainnya. Karena itu, sebelum FET disarankan:

  • Menurunkan berat badan (jika overweight)
  • Rutin berolahraga
  • Menjalani pola hidup sehat
  • Mendapatkan terapi medis yang sesuai

Langkah-langkah ini dapat meningkatkan keberhasilan implantasi embrio pada pasien PCOS.

Kalau BMI Normal, Masih Perlu Turunkan Berat Badan?

“BB saya 53 kg, TB 156 cm (BMI 21.8 – normal), tapi saya PCOS. Apa tetap harus turunkan berat badan 5%?”

Penjelasan dokter:

  • Jika BMI sudah ideal, tidak perlu turunkan berat badan lagi.
  • Namun tetap penting untuk menjaga agar IMT tidak naik.
  • Lakukan pemeriksaan AMH untuk mengetahui cadangan sel telur.
  • Ajak pasangan untuk konsultasi juga ke dokter andrologi, karena faktor kesuburan pria juga penting dalam promil.

Bagaimana Menebalkan Dinding Rahim pada Pasien PCOS?

“Saya sedang promil alami. Ada sel telur besar, tapi dinding rahim masih tipis. Apa yang harus dilakukan?”

Biasanya dokter akan memberikan obat hormonal tertentu untuk membantu menebalkan endometrium (dinding rahim).
Jika waktunya tidak memungkinkan, siklus akan diulang dengan penyesuaian obat yang lebih tepat.

PCOS Sudah Menikah Lama Tapi Belum Punya Anak Sehat—Apa Langkah Selanjutnya?

“Saya PCOS, menikah 9 tahun. Anak pertama meninggal karena kelainan, kehamilan kedua BO. Kenapa bisa begitu?”

Pasien PCOS memang bisa hamil, tapi kualitas kehamilan bisa terganggu. Risiko seperti keguguran atau kelainan janin bisa lebih tinggi.

Sebaiknya segera konsultasi ke dokter fertilitas. Bila memungkinkan secara finansial, program IVF sangat direkomendasikan, mengingat usia pernikahan sudah cukup lama dan belum mendapatkan keturunan yang sehat.

Program Apa yang Paling Efektif untuk Pasien PCOS?

Program dengan tingkat keberhasilan paling tinggi adalah IVF (bayi tabung).

Namun, promil lain seperti program alami atau inseminasi (IUI) masih memungkinkan, tergantung berat ringannya PCOS dan hasil evaluasi medis. Konsultasi menyeluruh sangat penting untuk menentukan langkah terbaik.

Artikel ini merupakan rangkuman dari sesi tanya-jawab di MDG Channel bersama dr. Ali Mahmud, Sp.OG(K) FER. Untuk rekomendasi dan penanganan sesuai kondisi pribadi, silahkan konsultasi langsung ke klinik fertilitas terpercaya.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FET, infertilitas, PCOS, perempuan

MDG Channel Take Over: Sperma Abnormal 99%, Harus IVF Sekarang atau Perbaiki Dulu? Ini Jawaban Dokter!

August 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Pertanyaan:

Halo dokter, saya mau tanya. Kalau suami saya spermanya 99% abnormal, apakah sebaiknya kami memperbaiki sperma dulu sebelum menjalani IVF, atau langsung IVF saja?

Jawaban dr. Uning Marlina, MHSM, Sp.OG:

Sebelum saya jawab, saya mau tanya balik dulu ya, sister
Tujuan programnya ini untuk punya anak, atau ingin memperbaiki kualitas sperma?

Karena, meskipun 99% sperma suami tidak normal dan hanya 1% yang normal, tetap ada kemungkinan untuk hamil, lho! Bahkan pasien yang azoospermia (tidak ditemukan sperma dalam pemeriksaan biasa) pun masih bisa punya anak.

Jadi kalau ada gangguan sperma, fokus utamanya adalah ingin program hamil, bukan sekadar menormalkan sperma.

Langkahnya nanti akan disesuaikan dengan kondisi sperma—mau lewat inseminasi (inseminasi intrauterin) atau IVF (bayi tabung). Tetap perlu kerja sama juga dengan dokter andrologi untuk mengoptimalkan sperma yang ada. Tapi tujuannya jelas: untuk mendukung program hamil, bukan sekadar mengejar hasil sperma yang “sempurna”.

Banyak pasangan yang terlalu fokus memperbaiki sperma hingga habis banyak biaya, tapi belum masuk ke program hamil sama sekali. Padahal, inseminasi atau IVF adalah langkah yang lebih tepat untuk menangani masalah sperma.

Jadi, saran saya: segera ke klinik IVF. Di sana, tim dokter akan membantu mengelola kondisi suami dan mempersiapkan IVF dengan optimalisasi sperma yang ada.

Semoga segera dipertemukan dengan dua garis birunya ya, sister dan paksu!

Kalau Embrio Gagal Menempel Setelah FET, Apa Penyebabnya?

Pertanyaan:

Bagaimana cara embrio bisa menempel setelah FET (frozen embryo transfer) pada pasien dengan unexplained infertility? Apakah banyak kasus seperti ini?

Jawaban dr. Uning Marlina, MHSM, Sp.OG:

Pertanyaan ini bagus sekali dan sering mewakili kegelisahan para pejuang dua garis yang sudah menjalani IVF, tapi belum berhasil juga.

Ibarat menanam biji mangga kadang tumbuh, kadang tidak. Kenapa bisa gagal menempel? Bisa dari bibit (embrio) atau dari tanahnya (rahim).

Kalau dari embrionya, kualitas menjadi faktor penting. Untuk pasien yang sudah berulang kali gagal IVF, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan PGTA untuk mengecek apakah embrionya benar-benar layak tanam atau tidak.

Kalau dari sisi rahim, banyak faktor juga:

  • Kondisi hormon
  • Aliran darah
  • Adanya penyakit atau gangguan imunologi
  • Status gizi
  • Dan faktor “kegemburan” rahim lainnya yang kadang tidak kasatmata

Biasanya, sebelum siklus IVF berikutnya, dokter akan lakukan evaluasi dulu:
“Kenapa ya kira-kira kemarin belum berhasil?”
Lalu, akan dicoba pendekatan atau metode lain pada siklus berikutnya.

Memang, unexplained infertility adalah salah satu tantangan terbesar, karena kita tidak tahu pasti penyebab kegagalannya. Tapi jangan putus harapan. Meski sudah usaha maksimal dan mencoba berbagai cara, ingat ada bagian yang tetap menjadi rahasia Tuhan.

Materi ini disadur dari sesi tanya jawab bersama dr. Uning Marlina, MHSM, Sp.OG. Untuk penilaian kondisi secara spesifik, silakan konsultasikan langsung ke klinik fertilitas terpercaya. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: IVF, MDG channel takeover, unexp;ain infertility

Day One or One Day: Jadi Pejuang Dua Garis Bareng Mizz Rosie dan Chef Ken di Ideafest Surabaya 2025

August 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Surabaya, 2025 Dalam ajang Ideafest Surabaya 2025, kisah penuh makna dari para pejuang dua garis hadir menyentuh hati. Mizz Rosie dan Chef Ken, dua sosok di balik komunitas Menuju Dua Garis (MDG), berbagi cerita perjuangan mereka dalam menghadapi infertilitas dan stigma sosial yang menyertainya. Mereka tidak sendiri hadir pula Astrid Regina Sapiie (psikolog klinis & CEO DearAstrid), serta Chitra Astriana (entrepreneur) sebagai moderator dalam sesi ini.

Cerita Dimulai di Titik Nol

Mizz Rosie dan Chef Ken berbagi tentang hari pertama mereka menyandang identitas sebagai pasangan pejuang dua garis. Di tengah perjuangan untuk memiliki keturunan, mereka juga harus menghadapi pandangan miring dari masyarakat. Chef Ken, yang kala itu menjadi finalis sebuah acara, bahkan sempat mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat berada di rumah sakit dicap, dinilai, tanpa empati.

Di sinilah “day one” mereka dimulai. Sebuah hari yang penuh emosi, marah, kecewa, namun justru menjadi batu loncatan menuju kedewasaan dan ketangguhan.

Proses yang Membentuk

Melalui waktu dan rasa saling percaya, Mizz Rosie akhirnya meminta izin kepada Chef Ken untuk membuka kisah mereka ke publik. “Ibarat seorang ayah melihat istri sebagai anak yang akhirnya tumbuh menjadi dewasa,” ungkapnya menyentuh.

Tak ada dokter, tak ada protokol medis rumit di sesi ini. Hanya kisah nyata, tentang bagaimana sebuah pasangan belajar untuk bertahan, mendewasa bersama, dan saling menopang satu sama lain. Bahwa menjadi pejuang dua garis bukan hanya tentang hamil tapi tentang harapan dan pilihan untuk tidak menyerah.

Psikologi Tentang Dibalik Ketangguhan

Bu Astrid, sebagai psikolog, menyampaikan bahwa ada tiga sisi penting yang membentuk resiliensi pasangan:

  1. Budaya dan stigma masyarakat: Ketimpangan gender yang melekatkan makna “perempuan sempurna” dengan keharusan punya anak.
  2. Resiliensi bukan bawaan lahir: Tapi kemampuan yang bisa dibangun. Seperti bola makin dibanting, makin keras pantulannya.
  3. Stress coping dan kepedulian: Resiliensi terlihat ketika seseorang masih bisa peduli pada orang lain, bahkan dalam masa sulit.

 

Belajar Bertahan dan Menjadi Lebih Baik

Selain dari sisi psikologi, hal tersebut juga berdampak pada pernikahan, pernikahan memang tak selalu mulus. Tapi, seperti kata Mizz Rosie: “Kisah pernikahan berbeda-beda, tapi Tuhan punya rencana untuk masing-masing kita. Kita belajar untuk bertahan, menjadi versi terbaik diri, dekat dengan pasangan dan Tuhan. Karena ujungnya, kita akan menghadapi semuanya berdua.”

Bu Astrid menutup sesi dengan mengingatkan bahwa kita tidak pernah punya hak untuk menghakimi pasangan mana pun, karena setiap orang punya cerita dan nilai hidup masing-masing.

Menuju Harapan yang Indah

MDG, yang awalnya lahir dari pengalaman pribadi, kini tumbuh menjadi simbol harapan. Sebuah ruang untuk para pejuang dua garis yang ingin terus belajar, berproses, dan saling menguatkan. “Kalau kamu ingin kebahagiaan, ya ambil dan perjuangkan. Happiness is something you learn,” pesan terakhir dari Chef Ken.

Sesi ini bukan hanya tentang infertilitas. Tapi tentang keberanian, tentang perubahan, dan tentang peran kita semua untuk saling mendukung mimpi satu sama lain.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: day one, ideafest, infertilitas, pejuang dua garis

PCOS, Stres, dan Peradangan: Ketika Emosi dan Tubuh Saling Terkait

August 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Bagi banyak perempuan dengan PCOS, perjuangan bukan cuma soal haid yang nggak teratur atau sulit hamil. Tapi juga soal perubahan emosi yang datang silih berganti cemas, mudah marah, merasa tertekan tanpa sebab yang jelas. 

Sebuah temuan dari penelitian menunjukkan bahwa PCOS dapat mengganggu cara tubuh kita mengelola stres dan emosi. Ada hubungan kompleks antara sistem saraf, hormon stres, dan sistem imun yang bisa terganggu pada perempuan dengan PCOS. Kondisi ini membuat tubuh cenderung mengalami peradangan ringan kronis sekaligus lebih sulit beradaptasi terhadap tekanan emosional.

Hormon Stres Menurun, Emosi Ikut Terpengaruh

Dalam tubuh yang sehat, hormon seperti CRH (corticotrophin-releasing hormone) dan NGF (nerve growth factor) membantu kita menyesuaikan diri saat stres. Tapi pada perempuan dengan PCOS, kadar dua hormon ini cenderung lebih rendah.
Akibatnya? Respons tubuh terhadap stres pun terganggu. Emosi jadi lebih mudah meledak, rasa cemas meningkat, dan energi mental cepat habis.

Ditambah lagi, PCOS juga berkaitan dengan ketidakseimbangan sistem imun, yang ditandai dengan naiknya penanda peradangan seperti interleukin (IL-1α dan IL-1β). Peradangan ini bisa memperburuk kondisi hormon dan emosi, membentuk lingkaran setan yang sulit diputus.

Jadi Wajar Nggak Sih Kalau Kita Ngerasa ‘Kacau’?

Wajar banget. Kondisi ini bukan karena kamu kurang kuat atau terlalu sensitif, tapi karena tubuhmu memang sedang mengalami ketidakseimbangan biologis yang nyata.

Meskipun nggak mudah, kabar baiknya: tubuh kita bisa dipulihkan.
Beberapa langkah kecil yang bisa membantu:

  1. Menjalani pola makan anti-inflamasi
  2. Rutin olahraga ringan
  3. Tidur cukup dan berkualitas
  4. Mengelola stres dengan cara yang sehat
  5. Dan yang nggak kalah penting: validasi perasaan diri sendiri

Perjalanan ini mungkin panjang, tapi dengan memahami apa yang terjadi dalam tubuh, kita bisa lebih bijak dan sabar menjalani prosesnya. Semoga para pejuang dua garis diberi kemudahan ya, informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Zangeneh, F. Z., Naghizadeh, M. M., Bagheri, M., & Jafarabadi, M. (2017). Are CRH & NGF as psychoneuroimmune regulators in women with polycystic ovary syndrome?. Gynecological endocrinology, 33(3), 227-233.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: emosi, PCOS, stress

Di Balik Sunyi: Menyingkap Stigma Infertilitas yang Dihadapi Perempuan

July 31, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas bukan hanya persoalan medis. Bagi banyak perempuan, ini adalah luka yang diam-diam menggores harga diri, relasi sosial, bahkan makna diri. Di balik label “belum punya anak”, ada stigma yang nyata dan menyakitkan.

Bahkan secara global, sekitar 8–12% pasangan usia subur mengalami infertilitas. Tapi meskipun angka ini cukup besar, banyak perempuan yang merasa sendirian. Mengapa?

Karena stigma. Masyarakat kerap melabeli perempuan infertil sebagai ‘kurang sempurna’ atau bahkan ‘gagal sebagai istri’. Padahal, infertilitas bisa terjadi pada laki-laki, perempuan, atau keduanya.

Cerita dari Balik Pintu Tertutup

Hal tersebut fakta adanya, seperti temuan penelitian yang dilakukan di Isfahan Fertility and Infertility Center dan menunjukkan mengapa ada perasaan seperti itu diantaranya adalah Pelanggengan Stigma, Stigma sendiri hadir dalam banyak bentuk mulai dari komentar menyakitkan, tatapan sinis, sampai tekanan dari sesama perempuan.  Selanjutnya ada juga stigma terhadap diri sendiri seperti rasa bersalah, malu, dan merasa tidak berharga sering kali muncul sebagai reaksi internal terhadap tekanan sosial. Inilah yang disebut self-stigma.

Akhirnya karena lingkungan itu membuat para perempuan mencoba bertahan dengan berbagai cara: berpura-pura baik-baik saja, menerima kondisi dengan berat hati, atau menyembunyikan fakta bahwa mereka sedang menjalani program hamil. Ada juga perempuan yang bangkit dan menjadi lebih kuat. Dukungan dari pasangan atau keluarga membantu mereka berdamai dengan diri sendiri dan stigma yang ada.

Dampak yang Berkelanjutan

Dampak stigma terhadap perempuan infertil tidak main-main. Mereka rentan mengalami kecemasan, depresi, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam beberapa kasus, tekanan ini lebih menyakitkan dibanding diagnosis medis itu sendiri.

Tapi penting untuk diingat: perempuan punya hak untuk didengar, didukung, dan tidak dihakimi. Penelitian ini mengingatkan kita bahwa mendampingi perempuan yang mengalami infertilitas bukan hanya soal memberi solusi medis, tapi juga menyentuh sisi psikologis dan sosial mereka.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  1. Validasi perasaan mereka. Jangan buru-buru menyuruh “sabar” atau “banyak doa”.

  2. Hindari komentar seperti “kapan punya anak?” ini bukan basa-basi yang menyenangkan.

  3. Buka ruang aman untuk berbagi cerita tanpa stigma.

Infertilitas bukan akhir dari segalanya. Tapi stigma bisa membuatnya terasa seperti itu. Sudah waktunya kita membuka mata dan hati agar tidak ada lagi perempuan yang merasa gagal hanya karena belum menjadi ibu. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi:

  • Taebi, M., Kariman, N., & Majd, H. A. (2021). Infertility stigma: A qualitative study on feelings and experiences of infertile women. International journal of fertility & sterility, 15(3), 189.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, mental, perempuan, Stigma

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 36
  • Page 37
  • Page 38
  • Page 39
  • Page 40
  • Interim pages omitted …
  • Page 97
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.