• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

infertilitas

Infertilitas Laki-laki: Ketika Penyebabnya Masih Misterius, Tapi Bukan Berarti Tak Bisa Dicari

April 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas bukan hanya persoalan perempuan. Faktanya, sekitar 40% kasus infertilitas pada pasangan berasal dari faktor laki-laki. Namun, banyak dari kasus ini tidak memiliki penyebab yang jelas. Kondisi ini disebut sebagai infertilitas idiopatik, yaitu ketika laki-laki mengalami infertilitas tetapi hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya kelainan yang spesifik.

Apa Kata Sebuah Temuan dari Penelitian?

Sebuah studi besar dari Eropa mencoba memecahkan misteri ini. Studi tersebut melibatkan 1.174 laki-laki Eropa dengan infertilitas primer (belum pernah memiliki anak sebelumnya), dan menjalani pemeriksaan yang sangat menyeluruh bukan sekadar analisis sperma.

Hasilnya, 81% laki-laki dalam studi ini ternyata memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi. Artinya, hanya sekitar 19% yang benar-benar tergolong idiopatik. Temuannya diantaranya adalah : hipogonadisme (gangguan hormon) – 37%, varikokel (pelebaran pembuluh darah di testis) – 27% dan kelainan genetik – 5%

Menariknya, semakin berat gangguan kesuburan yang dialami, semakin besar kemungkinan penyebabnya bisa ditemukan. Misalnya, laki-laki dengan kondisi azoospermia (tidak ada sel sperma sama sekali) cenderung lebih mudah ditemukan penyebabnya dibandingkan laki-laki dengan gangguan yang lebih ringan.

Mengapa Penting Mendeteksi Infertilitas pada Laki-laki? 

Selama ini, banyak laki-laki yang langsung diberi label “idiopatik” karena hasil pemeriksaannya terlihat normal di permukaan. Padahal, dengan evaluasi yang lebih komprehensif, penyebab sebenarnya bisa terungkap. Hal ini penting karena:

  • Membuka peluang untuk terapi yang lebih tepat. Paksu jika sudah mengetahui kebenaran yang terjadi pada kalian, maka akan benar juga terapi yang dapat diambil karena sesuai dengan permasalahan

  • Membantu memahami kondisi kesehatan reproduksi secara menyeluruh. JIka pengukuran dilakukan maka akan memberi manfaat pada kondisi kesehatan secara keseluruhan

  • Mengurangi beban psikologis akibat ketidakjelasan. Yang paling penting terutama berkaitan dengan mental yang sudah banyak terombang-ambing, sehingga pengetahuan ini membantu paksu tidak hanya fisik tapi juga mental.

Meski begitu, laki-laki dengan gangguan ringan masih menjadi tantangan tersendiri dalam penentuan diagnosis. Tidak semua kasus bisa dijelaskan, bahkan dengan pemeriksaan lanjutan. Oleh karena itu, masih dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui subkelompok infertilitas paksu dikategorikan.

Meski begitu berkat pemeriksaan yang lebih menyeluruh, laki-laki dengan infertilitas dapat ditemukan penyebabnya. Ini menjadi harapan baru bagi banyak pasangan. Infertilitas idiopatik ternyata tidak selalu benar-benar tanpa sebab. Jika sister dan paksu sedang dalam proses mencari tahu penyebab infertilitas dan belum mendapat jawaban yang jelas, evaluasi lanjutan bisa menjadi langkah penting untuk mendapatkan kejelasan dan rencana terapi yang lebih tepat. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram kami di @menujuduagaris.id

Referensi

Ventimiglia, E., Pozzi, E., Capogrosso, P., Boeri, L., Alfano, M., Cazzaniga, W., … & Salonia, A. (2021). Extensive assessment of underlying etiological factors in primary infertile men reduces the proportion of men with idiopathic infertility. Frontiers in endocrinology, 12, 801125.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ideopatik, infertilitas, laki-laki

Penyebab Ketidaksuburan Nggak Jelas? Hati-Hati, Mungkin Kamu Alami Unexplained Infertility!

April 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Kalau sister dan paksu sudah rutin berusaha punya anak tapi hasilnya masih belum juga positif, dan semua hasil tes menunjukkan kondisi reproduksi normal, kalian mungkin termasuk dalam kondisi yang disebut Unexplained Infertility (UI) alias infertilitas yang belum diketahui penyebab pastinya.

Nah, kabar baiknya, sekarang ada panduan baru dari ESHRE (European Society of Human Reproduction and Embryology) yang bantu kalian dalam menentukan langkah terbaik untuk pasangan dengan UI. Yuk bersama dengan MDG kita bahas lebih lanjut!

Apa Itu Unexplained Infertility?

Unexplained Infertility adalah kondisi di mana pasangan tidak kunjung hamil, padahal hasil pemeriksaan semuanya normal mulai dari ovulasi, saluran tuba, sampai kualitas sperma.

Masalahnya, belum ada standar global yang benar-benar seragam soal tes apa saja yang wajib dilakukan sebelum menyimpulkan diagnosis UI. Makanya, selama ini pendekatannya cenderung bersifat empiris, alias berdasarkan pengalaman, bukan pada bukti ilmiah yang kuat.

Karena UI adalah diagnosis “pengecualian”, penting banget untuk memastikan bahwa semua pemeriksaan dasar sudah dijalani sebelum benar-benar menyimpulkan “nggak ada penyebabnya”.

Rekomendasi ESHRE: Dari Diagnosis Sampai Pengobatan

Melihat banyaknya pasangan yang mengalami infertilitas tanpa sebab yang jelas, ESHRE akhirnya menyusun panduan khusus untuk menangani kasus unexplained infertility ini. Tujuannya jelas: memberikan arahan berbasis bukti terbaik agar dokter nggak lagi hanya mengandalkan intuisi atau “kebiasaan lama” dalam menangani UI.

Panduan ini disusun dengan proses yang ketat—mulai dari merumuskan pertanyaan kunci, menelusuri literatur ilmiah terbaru, sampai menyaring bukti-bukti yang ada. Hasilnya? Terbitlah total 52 rekomendasi yang mencakup dari definisi, diagnosis, hingga pengobatan.

Tapi menariknya, meskipun jumlah rekomendasinya banyak, sebagian besar masih belum ditopang oleh bukti yang benar-benar kuat. Dari semua itu, hanya satu yang didukung bukti kualitas sedang. Sisanya? Banyak yang berasal dari penelitian dengan kualitas rendah, bahkan sangat rendah. Ini menunjukkan kalau UI masih jadi “misteri” yang butuh lebih banyak riset di masa depan.

Lalu, kalau belum banyak bukti kuat, gimana dong pengobatannya?

ESHRE tetap menyusun panduan langkah-langkah yang bisa diambil dokter. Untuk perawatan tahap awal, pasangan dengan UI direkomendasikan menjalani inseminasi intrauterin (IUI) yang dikombinasikan dengan stimulasi ovarium. Pendekatan ini dinilai sebagai opsi paling masuk akal karena relatif sederhana, terjangkau, dan minim resiko dibandingkan prosedur yang lebih invasif seperti IVF.

Namun tentu, keputusan pengobatan harus dipersonalisasi. Nggak semua pasangan cocok dengan pendekatan yang sama. Karena itu, sister dan paksu diarahkan untuk tetap melakukan komunikasi terbuka terutama pada dokter. Panduan ini bukan “aturan kaku” atau menjadi satu-satunya yang sister dan paksu harus jalani, tapi lebih ke arah petunjuk yang bisa jadi bahan diskusi antara sister dan paksu dan dokter. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Guideline Group on Unexplained Infertility, Romualdi, D., Ata, B., Bhattacharya, S., Bosch, E., Costello, M., … & Le Clef, N. (2023). Evidence-based guideline: unexplained infertility. Human Reproduction, 38(10), 1881-1890.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, perempuan, unexplain fertility

FSH untuk Infertilitas Laki-laki: Harapan Baru untuk Pasangan Pejuang Dua Garis

April 7, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Infertilitas pria masih menjadi tantangan besar dalam dunia reproduksi. Faktanya, sekitar 50% dari semua kasus infertilitas pada pasangan disebabkan oleh faktor pria. Namun, dalam sepertiga dari kasus ini, penyebab pastinya sulit diketahui, yang disebut sebagai infertilitas idiopatik pria. Dalam kondisi seperti ini, pilihan pengobatan yang jelas dan efektif pun sering kali tidak tersedia.

Nah, dalam situasi inilah hormon perangsang folikel atau FSH (Follicle Stimulating Hormone) mulai dilirik sebagai solusi. Wah bagaimana bisa? yuk bahas lebih lanjut!

Apa itu FSH dan Kenapa Penting?

Secara alami, FSH diproduksi oleh tubuh dan berperan penting dalam proses pembentukan sperma. Hormon ini bekerja langsung pada sel Sertoli di testis untuk mendukung perkembangan sperma dari awal hingga matang. Pada kondisi tertentu seperti hipogonadisme hipogonadotropik (ketika tubuh tidak menghasilkan cukup hormon), FSH sudah dikenal luas sebagai terapi standar.

Tapi bagaimana kalau FSH diberikan kepada pria dengan infertilitas idiopatik yang penyebabnya tidak jelas?

Sebuah Studi memberikan Harapan Nyata

Sebuah studi retrospektif dilakukan di Unit Andrologi Modena, Italia, yang meneliti pria infertil yang mendapat terapi FSH dari tahun 2015 hingga 2022. Dari 362 pria, sebanyak 194 memenuhi syarat untuk mendapatkan FSH berdasarkan ketentuan sistem kesehatan nasional. Rata-rata usia mereka 37,9 tahun.

Hasilnya? Sebanyak 43 kehamilan tercatat (27,6%) setelah terapi FSH 22 kehamilan terjadi secara alami. 21 lainnya melalui teknologi reproduksi berbantuan (ART). Tak hanya itu, ada peningkatan signifikan dalam konsentrasi sperma, dari rata-rata 9,9 juta/mL menjadi 18,9 juta/mL. Bahkan, jumlah pria dengan sperma normal (normozoospermia) juga meningkat, sementara yang mengalami azoospermia (tidak ada sperma) menurun. Kelompok pria yang berhasil mencapai kehamilan ternyata memiliki sperma dengan konsentrasi dan motilitas (pergerakan) yang lebih baik dibanding yang tidak.

Meskipun belum menjadi pengobatan utama dan masih dianggap sebagai terapi empiris (berdasarkan pengalaman klinis), studi ini menunjukkan bahwa FSH bisa membantu satu dari empat pria dengan infertilitas idiopatik untuk memiliki anak. Ini angka yang cukup menggembirakan, terutama bila dibandingkan dengan data sebelumnya yang menyebutkan bahwa paling tidak 10 pria harus diobati untuk menghasilkan satu kehamilan.

Kapan Penggunaan FSH Bisa Dipertimbangkan?

Terapi FSH bisa dipertimbangkan untuk pria dengan diagnosa infertilitas idiopatik, juga ketika parameter sperma yang rendah tanpa penyebab yang jelas, dan dilakukan untuk meningkatkan peluang kehamilan baik secara alami maupun melalui ART.

Bagaimana sister dan paksu, ternyata terapi FSH menawarkan harapan baru dalam dunia pengobatan infertilitas pria, terutama bagi mereka yang belum menemukan penyebab pasti dari masalah kesuburannya. Meski belum menjadi solusi untuk semua, FSH bisa jadi peluang yang layak dipertimbangkan dalam strategi perencanaan keluarga bagi pasangan yang sedang berjuang. Tapi penting untuk dicatat bahwa terapi ini hanya boleh dilakukan setelah konsultasi dan evaluasi menyeluruh oleh dokter spesialis andrologi atau reproduksi. Untuk informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Romeo, M., Spaggiari, G., Nuzzo, F., Granata, A. R., Simoni, M., & Santi, D. (2023). Follicle‐stimulating hormone effectiveness in male idiopathic infertility: What happens in daily practice?. Andrology, 11(3), 478-488.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, infertilitas, laki-laki

Ketahui Dampak Pekerjaan sebagai Petani terhadap Infertilitas Laki-laki

April 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Dari banyaknya pekerjaan seperti petani, tukang las dan sebagainya yang banyak dilakukan laki-laki, ada yang berdampak pada infertilitas. MDG akan membahas lebih dalam bagaimana pekerjaan sebagai petani juga berpotensi pada infertilitas. 

Pahami Infertilitas dan Profesi Petani 

Infertilitas pada laki-laki sendiri merupakan masalah kesehatan yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan dan gaya hidup. Salah satu kelompok yang berisiko tinggi mengalami gangguan kesuburan adalah petani, terutama mereka yang sering terpapar bahan kimia seperti pestisida dalam aktivitas pertanian. 

Paparan bahan kimia ini dapat berdampak negatif terhadap kualitas sperma dan keseimbangan hormon reproduksi. Paparan pestisida dan risiko infertilitas petani yang sering terpapar pestisida memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesuburan. Tentu saja paparan ini akan berkembang jika para petani tidak berhati-hati dengan pekerjaan mereka. Yuk ketahui faktor-faktornya

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko

  • Frekuensi penyemprotan pestisida, terutama jika dilakukan lebih dari tiga kali dalam seminggu.
  • Teknik penyemprotan, seperti penyemprotan melawan arah angin, yang dapat meningkatkan paparan langsung terhadap pestisida.
  • Kurangnya penggunaan alat pelindung diri (APD) saat bekerja di ladang.
  • Kebiasaan higienis, seperti tidak mencuci tangan atau mengganti pakaian setelah penyemprotan.

Faktor yang tertera di atas akan berdampak lebih buruk jika tidak diimbangi dengan pola konsumsi makanan yang baik. 

Dalam kesehatan reproduksi laki-laki asupan nutrisi yang mengandung seng diketahui memiliki manfaat bagi kesuburan. Namun, banyak petani yang tidak memperhatikan pola makan sehat, yang dapat memperburuk risiko infertilitas.

Upaya Pencegahan dan Kesadaran Kesehatan Untuk mengurangi risiko infertilitas di kalangan petani, beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:

  • Edukasi mengenai bahaya pestisida dan cara penggunaannya yang lebih aman.
  • Penggunaan APD yang tepat, seperti masker dan sarung tangan, untuk mengurangi paparan langsung terhadap bahan kimia.
  • Peningkatan pola makan sehat, dengan mengonsumsi makanan yang kaya akan seng dan nutrisi penting lainnya.
  • Penerapan kebiasaan higienis, seperti mencuci tangan dan mengganti pakaian setelah bekerja di ladang.

 

Kesadaran akan bahaya pestisida dan penerapan langkah-langkah perlindungan yang tepat dapat membantu petani menjaga kesehatan reproduksi mereka dan mengurangi risiko infertilitas. Bagi paksu atau sister yang beraktivitas di ladang dan bersinggungan dengan bahan kimia ini dapat meminimalisir dengan menerapkan apa yang MDG sudah jabarkan. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

Winarni, S., Denny, H. M., Arifan, F., Suwondo, A., Kartini, A., & Susanto, H. (2021). Risk Factors of Infertility Cases Among Shallot Farmers. Malaysian Journal of Public Health Medicine, 21(1), 160-168.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, pestisida, petani

Adenomiosis: Penyebab Infertilitas yang Sering Tak Disadari

March 30, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Adenomiosis adalah kondisi di mana jaringan endometrium tumbuh ke dalam dinding otot rahim (miometrium). Kondisi ini sering dikaitkan dengan nyeri haid, perdarahan menstruasi yang berlebihan, serta masalah kesuburan. Namun, prevalensi adenomiosis pada wanita dengan subfertilitas masih menjadi topik penelitian yang terus berkembang.

Seberapa Sering Adenomiosis Terjadi pada Wanita dengan Subfertilitas

Dulu, adenomiosis dianggap hanya terjadi pada wanita yang sudah melahirkan dan biasanya baru terdeteksi setelah histerektomi. Namun, dengan kemajuan teknologi pencitraan dan semakin banyaknya wanita yang datang ke klinik di usia lebih tua, kasus adenomiosis kini lebih sering ditemukan pada pasien infertilitas. Berbagai metode pengobatan konservatif telah dicoba, tetapi hasilnya masih beragam dalam hal dampaknya terhadap kesuburan, sehingga menimbulkan tantangan bagi dokter dalam menangani pasien. Lalu kira-kira apa saja faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi?

Faktor yang Mempengaruhi Adenomiosis

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko adenomiosis adalah: Usia paruh baya, yaitu antara 40 dan 50 tahun, Pernah melahirkan, terutama kehamilan multipel (kembar), Pernah menjalani operasi rahim, seperti operasi caesar, pengangkatan fibroid, atau dilatasi dan kuretase (D&C), Menderita endometriosis, Ketidakseimbangan hormon, seperti produksi estrogen yang berlebih, Predisposisi genetik, karena adenomiosis kerap terjadi dalam keluarga, Riwayat depresi atau penggunaan antidepresan.

Dampak Adenomiosis pada Kesuburan

Adenomiosis dapat mempengaruhi kesuburan dengan beberapa cara, diantaranya:

  • Mengganggu proses implantasi embrio di dinding rahim.
  • Mempengaruhi fungsi trofoblas yang berperan dalam kehamilan.
  • Berpotensi meningkatkan risiko keguguran, meskipun penelitian terkait masih menunjukkan hasil yang bervariasi.

 

Untuk mencegah adenomiosis, sister dapat mulai menerapkan pola makan sehat, bergizi lengkap, dan seimbang, menjaga berat badan agar ideal, menurunkan berat badan bila mengalami obesitas dan menjalani pemeriksaan kesehatan dan kandungan secara rutin.

Pada fakta yang ada bawah satu dari sepuluh wanita dengan subfertilitas memiliki adenomiosis terisolasi. Namun, angka ini bisa lebih tinggi karena masih banyak kasus yang tidak terdiagnosis akibat kurangnya standar kriteria diagnostik yang digunakan oleh tenaga medis. Oleh karena itu, sister dan paksu jangan sampai lengah untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan pada dokter dan peneliti juga disarankan menggunakan standar diagnostik yang lebih akurat, seperti yang direkomendasikan dalam morphological uterus sonographic assessment (MUSA), agar prevalensi adenomiosis dapat diidentifikasi dengan lebih baik. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Mishra, I., Melo, P., Easter, C., Sephton, V., Dhillon‐Smith, R., & Coomarasamy, A. (2023). Prevalence of adenomyosis in women with subfertility: systematic review and meta‐analysis. Ultrasound in Obstetrics & Gynecology, 62(1), 23-41.
  • Maheshwari, A., Gurunath, S., Fatima, F., & Bhattacharya, S. (2012). Adenomyosis and subfertility: a systematic review of prevalence, diagnosis, treatment and fertility outcomes. Human reproduction update, 18(4), 374-392.
  • https://www.halodoc.com/kesehatan/adenomiosis

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: adenomiosis, infertilitas, perempuan

Infertilitas dan Subfertilitas pada Pasien dengan Penyakit Autoimun Sistemik

March 29, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu pasti sudah tahu jika Infertilitas ini didefinisikan sebagai kegagalan untuk mencapai kehamilan klinis setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual tanpa pengaman secara teratur. Nah bagaimana dengan subfertilitas? Jadi subfertilitas ini merujuk pada kondisi penundaan dalam mencapai kehamilan. Mengapa ditunda? subfertilitas tidak berarti kemandulan mutlak tetapi lebih kepada kesulitan dalam mencapai kehamilan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan populasi umum.

Hubungan Penyakit Autoimun dengan Infertilitas dan Subfertilitas

Beberapa faktor dapat menyebabkan infertilitas atau subfertilitas pada pasien dengan penyakit autoimun sistemik. Beberapa kondisi autoimun yang telah diketahui berkaitan dengan infertilitas antara lain, endometriosis, penyakit celiac dan autoimunitas tiroid. Selain itu sebagian besar obat antirematik yang digunakan dalam pengobatan penyakit autoimun dapat mengganggu kesuburan diantaranya adalah:

  • Siklofosfamid, dapat menyebabkan kegagalan ovarium prematur jika digunakan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, terdapat opsi pengobatan pencegahan untuk menjaga kesuburan pasien.
  • Obat Anti-Inflamasi Non Steroid (OAINS) dapat menyebabkan infertilitas sementara pada beberapa individu.
  • Kortikosteroid dikaitkan dengan waktu kehamilan yang lebih lama pada pasien dengan penyakit rematik tertentu.

 

Sindrom Antifosfolipid dan Lupus Eritematosus Sistemik

Sindrom Antifosfolipid (APS) adalah kondisi autoimun sistemik yang ditandai dengan trombus arteri maupun vena, keguguran berulang atau komplikasi kehamilan lainnya dan kehadiran antibodi antifosfolipid yang terdeteksi secara terus-menerus.

Pada pasien lupus eritematosus sistemik (LES), antibodi antifosfolipid (aPL) dan autoantibodi lain seperti anti-oosit dapat berkontribusi terhadap infertilitas. Namun, hubungan antara aPL dan infertilitas masih diperdebatkan karena beberapa penelitian menemukan peningkatan angka aPL pada pasien yang menjalani teknik reproduksi berbantuan medis.

Infertilitas pada pasien dengan penyakit autoimun sistemik merupakan permasalahan multifaktorial yang perlu diperhatikan oleh tenaga medis dan pasien itu sendiri. Meskipun infertilitas bukan satu-satunya penyebab, faktor-faktor seperti penggunaan obat tertentu, tingkat keparahan penyakit, serta kondisi autoimun spesifik dapat berkontribusi terhadap kesulitan dalam mencapai kehamilan. Oleh karena itu, pemantauan kesehatan reproduksi secara berkala sangat disarankan bagi pasien dengan penyakit autoimun yang ingin memiliki anak. MDG membahas berbagai macam kemungkinan kasus infertilitas, dan siapa yang mengalami serta banyak faktor yang mempengaruhi. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Khizroeva, J., Nalli, C., Bitsadze, V., Lojacono, A., Zatti, S., Andreoli, L., … & Makatsariya, A. (2019). Infertility in women with systemic autoimmune diseases. Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism, 33(6), 101369.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Autoimun, infertilitas, subfertilitas

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 20
  • Page 21
  • Page 22
  • Page 23
  • Page 24
  • Interim pages omitted …
  • Page 27
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.