• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

infertilitas

Depresi Bisa Bikin Sulit Hamil? Ini Penjelasan Ilmiahnya, Sister!

April 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pejuang dua garis seringkali dihadapkan dengan banyak tekanan, tidak lain adalah tekanan sosial baik dari lingkup sekitar atau bahkan dari keluarga. Hal ini jika ini berlarut-larut maka akan berdampak pada depresi. MDG akan membahas bagaimana hubungannya depresi dengan kasus infertilitas, baca sampai habis ya!

Depresi dan Hubungannya dengan Infertilitas

Depresi dan masalah sulit hamil ternyata nggak cuma berdampak pada kesehatan fisik atau mental aja, tapi bisa saling berkaitan juga, lho. Kaitanya tidak lain adalah kasus infertilitas. Apa sebenarnya yang menghubungkan keduanya?

Nah, salah satu hal yang menarik untuk dibahas adalah soal lemak darah. Bukan cuma soal kolesterol tinggi ya, tapi lebih spesifik lagi: rasio Non-HDL cholesterol to HDL cholesterol ratio (NHHR), yaitu perbandingan antara kolesterol jahat (non-HDL) dan kolesterol baik (HDL). Bagaimana ini dipahami?

Saat seseorang mengalami stres atau depresi dalam jangka panjang, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti kortisol yang bisa mengganggu keseimbangan lemak dalam darah. Akibatnya, kadar kolesterol jahat bisa naik dan kolesterol baik bisa turun, yang ditunjukkan lewat rasio NHHR. Nah, rasio ini bisa jadi penanda bahwa tubuh sedang dalam kondisi tidak sehat. Jika berlangsung lama, kondisi ini bisa mempengaruhi hormon, aliran darah ke organ reproduksi, bahkan menyebabkan peradangan, yang semuanya bisa berujung pada gangguan kesuburan.

Bahkan ada sebuah temuan yang melibatkan lebih dari 2.600 perempuan usia 18–45 tahun di Amerika Serikat. Para peneliti menganalisis data dari survei kesehatan nasional (NHANES) dan mendapatkan temuan Perempuan yang mengalami infertilitas cenderung punya tingkat depresi yang lebih tinggi. Mereka juga punya rasio NHHR yang lebih tinggi. Depresi sedang sampai berat bikin risiko infertilitas jadi makin besar. Rasio NHHR ikut berperan memperkuat hubungan antara depresi dan infertilitas.

Artinya, ketika seseorang mengalami depresi, kadar kolesterol “jahat” di tubuh bisa meningkat, rasio NHHR ikut naik, dan ini bisa berdampak ke fungsi reproduksi.

Walaupun NHHR cuma memediasi sebagian kecil hubungan ini (sekitar 6,57%), tapi tetap menunjukkan bahwa kesehatan mental dan metabolisme tubuh bisa saling memengaruhi, termasuk dalam hal kesuburan.

Jadi, Apa yang Bisa sister dan paksu Pelajari?

Kesehatan mental itu penting banget, bagaimana ini ternyata dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk kesuburan. Jangan anggap remeh stres berkepanjangan atau depresi yang nggak ditangani.

Kalau sister dan paksu, juga orang terdekat mengalami gejala depresi, nggak ada salahnya buat cari bantuan. Selain itu, menjaga pola makan, olahraga rutin, dan memantau kesehatan metabolik (seperti kolesterol) juga bisa jadi bagian dari ikhtiar menjaga peluang kehamilan. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Yang, Q., Tao, J., Xin, X., Zhang, J., & Fan, Z. (2024). Association between depression and infertility risk among American women aged 18–45 years: the mediating effect of the NHHR. Lipids in Health and Disease, 23(1), 178.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: depresi, hamil, infertilitas, pejuang dua garis

Pahami Naiknya Weight-Adjusted Waist Index (WWI) dan Risiko Infertilitas

April 15, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas adalah isu yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun, tahukah sister bahwa bentuk tubuh kita, khususnya distribusi lemak tubuh, juga bisa berperan? MDG akan membahas lebih lanjut, baca sampai habis ya!

Keunggulan WWI dibanding IMT

Weight-Adjusted Waist Index (WWI) atau Indeks pinggang yang disesuaikan dengan berat badan adalah ukuran baru yang digunakan untuk mengevaluasi distribusi lemak di sekitar perut, tanpa terlalu dipengaruhi oleh berat badan total. Berbeda dengan indeks massa tubuh (IMT) yang digunakan untuk menentukan berat badan ideal berdasarkan perbandingan berat badan dan tinggi badan, WWI dianggap lebih akurat untuk menilai lemak viseral jenis lemak yang sering dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan.

Survei terbaru bahkan sudah dilakukan oleh National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), yang dikumpulkan selama periode 2013 hingga 2018. Fokusnya adalah pada 3.374 perempuan usia subur, yang kemudian dianalisis untuk melihat apakah ada hubungan antara ukuran WWI dan kemungkinan mengalami infertilitas.

Survei tersebut tidak hanya membandingkan angka semata. Mereka juga mempertimbangkan berbagai faktor lain yang bisa mempengaruhi kesuburan, seperti usia, latar belakang etnis, dan kondisi kesehatan secara umum. Selain itu, mereka ingin tahu: apakah semakin tinggi WWI selalu berarti semakin besar pula risiko infertilitas? Jawabannya ternyata iya, dan pola itu berlangsung secara konsisten, dari angka WWI yang rendah hingga tinggi.

Apa yang Ditemukan?

Dari hasil pengamatan, ditemukan bahwa sebagian perempuan mengalami infertilitas. Dan menariknya, kecenderungan itu meningkat seiring dengan tingginya WWI. Semakin tinggi ukuran pinggang yang disesuaikan dengan berat badan, semakin besar pula kemungkinan mereka menghadapi masalah kesuburan.

Hubungan ini juga terlihat konsisten, tanpa adanya titik tertentu yang bisa dijadikan batas aman. Artinya, bahkan sedikit peningkatan dalam WWI tetap dapat memberi pengaruh terhadap risiko infertilitas.

Yang tak kalah penting, pengaruh WWI ini ternyata bisa berbeda-beda tergantung pada karakteristik tiap individu. Usia, latar belakang etnis, dan kondisi tubuh lainnya bisa membuat hubungan antara WWI dan kesuburan menjadi lebih kompleks dan patut untuk ditelusuri lebih dalam.

Kalau sister sedang dalam perjalanan menuju kehamilan, nggak ada salahnya mulai memperhatikan pola hidup sehat, termasuk menjaga lemak tubuh tetap seimbang. Konsultasi ke tenaga medis juga penting supaya bisa dapat gambaran utuh tentang kondisi tubuh kita masing-masing.

Mau ngobrol lebih lanjut soal WWI atau bahas topik seputar kesuburan lainnya? Yuk, share artikel ini jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id karena banyak banget informasi seputar infertilitas yang dapat kamu akses 

Referensi

  • He, Q., Chen, C., & Bai, S. (2023). The association between weight‐adjusted‐waist index and self‐reported infertility among women of reproductive age in the United States. Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 49(12), 2929-2937.
  • https://www.alodokter.com/pemahaman-seputar-indeks-massa-tubuh#:~:text=Indeks%20massa%20tubuh%20(IMT)%20digunakan,terhindar%20dari%20beragam%20gangguan%20kesehatan.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, perempuan, Weight-Adjusted Waist Index

Weight-Adjusted Waist Index (WWI), Depresi, dan Infertilitas Sekunder, Apa Hubungannya?

April 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Tahukah kamu, sister? Obesitas dan depresi ternyata bukan cuma berdampak pada kesehatan fisik dan mental saja. Keduanya juga punya peran penting dalam gangguan kesuburan, khususnya pada infertilitas dengan jenis sekunder. MDG akan membahas lebih detail baca sampai habis ya!

WWI, Infertilitas Sekunder dan Depresi 

Infertilitas sekunder sendiri merupakan kondisi saat seorang wanita pernah hamil sebelumnya, tapi kini tidak bisa hamil lagi setelah 12 bulan berhubungan seksual tanpa kontrasepsi. Sedangkan obesitas memang sudah lama diidentifikasi sebagai musuh kesuburan. Tapi bukan cuma soal berat badan atau BMI ya, sister. Yang lebih berbahaya adalah obesitas sentral lemak yang menumpuk di perut.

Nah, untuk mengukurnya, kini ada indikator yang lebih akurat dibanding BMI: Weight-Adjusted Waist Index (WWI). WWI dihitung dari lingkar pinggang dibagi dengan kuadrat berat badan, dan ternyata lebih sensitif dalam mendeteksi lemak perut yang berkaitan langsung dengan gangguan hormon dan ovulasi. Lalu apa hubungannya jika sudah ada lemak dalam perut ditambah dengan depresi?

Kita juga nggak bisa mengabaikan depresi, sister. Studi terbaru menunjukkan bahwa WWI yang tinggi berkorelasi dengan depresi, dan depresi itu sendiri bisa jadi penyebab maupun akibat dari infertilitas.

Bagaimana dampaknya pada Kesuburan?

Sebuah studi menunjukkan bahwa wanita dengan indeks pinggang berbasis berat badan (WWI) yang lebih tinggi cenderung memiliki risiko lebih besar mengalami infertilitas sekunder. Nggak cuma itu, gejala depresi juga ditemukan berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan infertilitas. Menariknya lagi, depresi ternyata ikut berperan sebagai jembatan yang memperkuat hubungan antara obesitas sentral (yang diukur dengan WWI) dan infertilitas sekunder. Artinya, faktor fisik dan psikologis saling terhubung dan nggak bisa dipisahkan begitu saja dalam isu kesuburan perempuan.

Artinya, meski angka mediasinya kecil, depresi memainkan peran psikologis yang signifikan dalam memperburuk kondisi infertilitas sekunder pada wanita dengan obesitas sentral.

Apa Artinya Ini Buat Pejuang Dua Garis

Dari fakta tersebut menunjukkan bahwa pendekatan terhadap infertilitas sekunder nggak bisa hanya fokus pada fisik seperti berat badan atau hormon saja. Faktor psikologis, terutama depresi, perlu ditangani secara serius. Dengan begitu, intervensi medis dan gaya hidup yang menyasar obesitas bisa berjalan lebih efektif.

WWI menunjukkan kemampuan prediksi yang lebih baik dibanding indikator obesitas lainnya, bahkan dalam kelompok dengan BMI normal. Jadi, wanita dengan berat badan “normal” tapi punya WWI tinggi juga tetap berisiko mengalami infertilitas sekunder.

Infertilitas sekunder ternyata punya hubungan yang kompleks antara tubuh dan pikiran. WWI bisa menjadi alarm awal tentang risiko infertilitas, tapi menjaga kesehatan mental terutama mengelola depresi juga sama pentingnya, sister.

Kalau sister sedang menghadapi masalah ini, atau merasa stuck di tengah prosesnya, yuk jangan ragu untuk mulai evaluasi pola hidup, lingkar pinggang, dan kondisi emosional kamu juga. Karena ternyata, semuanya saling berkaitan. Tentu saja ini bisa banget dengan bantuan profesional seperti dokter ya sister! untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa folllow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Sun, F., Liu, M., Hu, S., Xie, R., Chen, H., Sun, Z., & Bi, H. (2024). Associations of weight-adjusted-waist index and depression with secondary infertility. Frontiers in endocrinology, 15, 1330206.
  • https://www.alodokter.com/obesitas#:~:text=Pengertian%20Obesitas,jantung%2C%20hipertensi%2C%20hingga%20diabetes.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: depresi, infertilitas, Weight-Adjusted Waist Index

Pahami Tindakan Kistektomi Ovarium dan Dampaknya pada Kesuburan

April 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Ovarian cystectomy atau kistektomi ovarium adalah tindakan pembedahan untuk mengangkat kista ovarium. Tahukah sister dan paksu bahwa kista ovarium sendiri merupakan kantong abnormal di ovarium yang berisi cairan atau nanah. Pada sebagian kasus, kista ini dapat menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. 

Namun, dalam beberapa kondisi, kista ovarium bisa menetap, menimbulkan rasa nyeri, berpotensi menjadi sel kanker, dan jika berukuran cukup besar akan menekan organ lainnya, sehingga dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani tindakan kistektomi. Prosedurnya sendiri ada banyak mulai dari laparoskopi, hingga laparotomi. Nah MDG akan membahas salah satu dampak dari prosedur terutama berdampak pada kesuburan jangka panjang. Baca sampai habis yuk!

Dampak Sistektomi Ovarium dengan Prosedur Laparoskopi pada Cadangan Ovarium

Sistektomi laparoskopi adalah prosedur yang dilakukan untuk mengangkat kista ovarium, namun ada dampak yang perlu diperhatikan terhadap cadangan ovarium, yaitu kemampuan ovarium untuk menghasilkan sel telur. Dalam sebuah studi, wanita yang menjalani prosedur ini menunjukkan penurunan kadar hormon antimüllerian (AMH) yang digunakan untuk mengukur cadangan ovarium. 

Penurunan AMH ini lebih signifikan bagi sister yang menjalani kauterisasi lebih banyak selama operasi dan yang memiliki kista dengan ukuran tertentu. Selain itu, perlu di lihat bagaimana lokasi kista karena kista yang ada di satu atau dua ovarium berpengaruh pada penurunan kadar AMH. Hal ini penting untuk diperhatikan karena menurunnya kadar AMH dapat mempengaruhi kesuburan perempuan di masa depan.

Apa Artinya Bagi Kesuburan?

Kista ovarium dan sistektomi dapat mempengaruhi cadangan ovarium dan kemampuan perempuan untuk memiliki anak di masa depan. Meski penurunan lebih signifikan setelah sistektomi, kedua kondisi ini tetap berpengaruh pada kesuburan.

Nah jika begitu, maka kita perlu untuk menjaga kesehatan ovarium dan Kesuburan. Dan bagi perempuan yang mengalami kista ovarium atau sudah menjalani sistektomi, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk menjaga kesehatan ovarium dan kesuburan:

  1. Melakukan Pemantauan Rutin, dengan melakukan pemeriksaan berkala oleh dokter untuk memantau kesehatan ovarium, kadar hormon AMH, dan jumlah folikel antral.

  2. Gaya Hidup Sehat, dengan menjaga berat badan yang sehat, makan dengan gizi seimbang, dan rutin berolahraga dapat mendukung kesehatan reproduksi secara keseluruhan.

  3. Hindari Stres Berlebih, hal seperti stres dapat mempengaruhi keseimbangan hormon, jadi penting untuk mencari cara untuk mengelola stres, seperti meditasi atau kegiatan yang menenangkan.

  4. Edukasi dan Konsultasi, yang tidak kalah penting tentu saja mencari informasi lebih lanjut dan berkonsultasi dengan dokter atau spesialis kesuburan untuk merencanakan masa depan reproduksi.

Jadi meski ada potensi yang beresiko pada kesuburan dimasa yang akan datang, bagi perempuan yang memiliki kista ovarium besar atau yang sudah menjalani sistektomi dapat mendapatkan perhatian medis lebih untuk menjaga kesehatan ovarium. Pemantauan terhadap kadar hormon dan jumlah folikel sangat penting untuk memastikan dapat merencanakan kehamilan di masa depan dengan lebih baik. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Bareghamyan, H., Chopikyan, A., Petrosyan, M., Shahverdyan, N., & Harutyunyan, A. (2024). Influence of ovarian cysts on ovarian reserve and fertility: A case–control study. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 165(2), 424-430.
  • Mansouri, G., Safinataj, M., Shahesmaeili, A., Allahqoli, L., Salehiniya, H., & Alkatout, I. (2022). Effect of laparoscopic cystectomy on ovarian reserve in patients with ovarian cyst. Frontiers in Endocrinology, 13, 964229.
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/macam-macam-pembedahan-kista-ovarium

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: apa itu ovarium, infertilitas, kesuburan, kista, perempuan

Infertilitas Laki-laki: Ketika Penyebabnya Masih Misterius, Tapi Bukan Berarti Tak Bisa Dicari

April 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas bukan hanya persoalan perempuan. Faktanya, sekitar 40% kasus infertilitas pada pasangan berasal dari faktor laki-laki. Namun, banyak dari kasus ini tidak memiliki penyebab yang jelas. Kondisi ini disebut sebagai infertilitas idiopatik, yaitu ketika laki-laki mengalami infertilitas tetapi hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya kelainan yang spesifik.

Apa Kata Sebuah Temuan dari Penelitian?

Sebuah studi besar dari Eropa mencoba memecahkan misteri ini. Studi tersebut melibatkan 1.174 laki-laki Eropa dengan infertilitas primer (belum pernah memiliki anak sebelumnya), dan menjalani pemeriksaan yang sangat menyeluruh bukan sekadar analisis sperma.

Hasilnya, 81% laki-laki dalam studi ini ternyata memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi. Artinya, hanya sekitar 19% yang benar-benar tergolong idiopatik. Temuannya diantaranya adalah : hipogonadisme (gangguan hormon) – 37%, varikokel (pelebaran pembuluh darah di testis) – 27% dan kelainan genetik – 5%

Menariknya, semakin berat gangguan kesuburan yang dialami, semakin besar kemungkinan penyebabnya bisa ditemukan. Misalnya, laki-laki dengan kondisi azoospermia (tidak ada sel sperma sama sekali) cenderung lebih mudah ditemukan penyebabnya dibandingkan laki-laki dengan gangguan yang lebih ringan.

Mengapa Penting Mendeteksi Infertilitas pada Laki-laki? 

Selama ini, banyak laki-laki yang langsung diberi label “idiopatik” karena hasil pemeriksaannya terlihat normal di permukaan. Padahal, dengan evaluasi yang lebih komprehensif, penyebab sebenarnya bisa terungkap. Hal ini penting karena:

  • Membuka peluang untuk terapi yang lebih tepat. Paksu jika sudah mengetahui kebenaran yang terjadi pada kalian, maka akan benar juga terapi yang dapat diambil karena sesuai dengan permasalahan

  • Membantu memahami kondisi kesehatan reproduksi secara menyeluruh. JIka pengukuran dilakukan maka akan memberi manfaat pada kondisi kesehatan secara keseluruhan

  • Mengurangi beban psikologis akibat ketidakjelasan. Yang paling penting terutama berkaitan dengan mental yang sudah banyak terombang-ambing, sehingga pengetahuan ini membantu paksu tidak hanya fisik tapi juga mental.

Meski begitu, laki-laki dengan gangguan ringan masih menjadi tantangan tersendiri dalam penentuan diagnosis. Tidak semua kasus bisa dijelaskan, bahkan dengan pemeriksaan lanjutan. Oleh karena itu, masih dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui subkelompok infertilitas paksu dikategorikan.

Meski begitu berkat pemeriksaan yang lebih menyeluruh, laki-laki dengan infertilitas dapat ditemukan penyebabnya. Ini menjadi harapan baru bagi banyak pasangan. Infertilitas idiopatik ternyata tidak selalu benar-benar tanpa sebab. Jika sister dan paksu sedang dalam proses mencari tahu penyebab infertilitas dan belum mendapat jawaban yang jelas, evaluasi lanjutan bisa menjadi langkah penting untuk mendapatkan kejelasan dan rencana terapi yang lebih tepat. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram kami di @menujuduagaris.id

Referensi

Ventimiglia, E., Pozzi, E., Capogrosso, P., Boeri, L., Alfano, M., Cazzaniga, W., … & Salonia, A. (2021). Extensive assessment of underlying etiological factors in primary infertile men reduces the proportion of men with idiopathic infertility. Frontiers in endocrinology, 12, 801125.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ideopatik, infertilitas, laki-laki

Penyebab Ketidaksuburan Nggak Jelas? Hati-Hati, Mungkin Kamu Alami Unexplained Infertility!

April 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Kalau sister dan paksu sudah rutin berusaha punya anak tapi hasilnya masih belum juga positif, dan semua hasil tes menunjukkan kondisi reproduksi normal, kalian mungkin termasuk dalam kondisi yang disebut Unexplained Infertility (UI) alias infertilitas yang belum diketahui penyebab pastinya.

Nah, kabar baiknya, sekarang ada panduan baru dari ESHRE (European Society of Human Reproduction and Embryology) yang bantu kalian dalam menentukan langkah terbaik untuk pasangan dengan UI. Yuk bersama dengan MDG kita bahas lebih lanjut!

Apa Itu Unexplained Infertility?

Unexplained Infertility adalah kondisi di mana pasangan tidak kunjung hamil, padahal hasil pemeriksaan semuanya normal mulai dari ovulasi, saluran tuba, sampai kualitas sperma.

Masalahnya, belum ada standar global yang benar-benar seragam soal tes apa saja yang wajib dilakukan sebelum menyimpulkan diagnosis UI. Makanya, selama ini pendekatannya cenderung bersifat empiris, alias berdasarkan pengalaman, bukan pada bukti ilmiah yang kuat.

Karena UI adalah diagnosis “pengecualian”, penting banget untuk memastikan bahwa semua pemeriksaan dasar sudah dijalani sebelum benar-benar menyimpulkan “nggak ada penyebabnya”.

Rekomendasi ESHRE: Dari Diagnosis Sampai Pengobatan

Melihat banyaknya pasangan yang mengalami infertilitas tanpa sebab yang jelas, ESHRE akhirnya menyusun panduan khusus untuk menangani kasus unexplained infertility ini. Tujuannya jelas: memberikan arahan berbasis bukti terbaik agar dokter nggak lagi hanya mengandalkan intuisi atau “kebiasaan lama” dalam menangani UI.

Panduan ini disusun dengan proses yang ketat—mulai dari merumuskan pertanyaan kunci, menelusuri literatur ilmiah terbaru, sampai menyaring bukti-bukti yang ada. Hasilnya? Terbitlah total 52 rekomendasi yang mencakup dari definisi, diagnosis, hingga pengobatan.

Tapi menariknya, meskipun jumlah rekomendasinya banyak, sebagian besar masih belum ditopang oleh bukti yang benar-benar kuat. Dari semua itu, hanya satu yang didukung bukti kualitas sedang. Sisanya? Banyak yang berasal dari penelitian dengan kualitas rendah, bahkan sangat rendah. Ini menunjukkan kalau UI masih jadi “misteri” yang butuh lebih banyak riset di masa depan.

Lalu, kalau belum banyak bukti kuat, gimana dong pengobatannya?

ESHRE tetap menyusun panduan langkah-langkah yang bisa diambil dokter. Untuk perawatan tahap awal, pasangan dengan UI direkomendasikan menjalani inseminasi intrauterin (IUI) yang dikombinasikan dengan stimulasi ovarium. Pendekatan ini dinilai sebagai opsi paling masuk akal karena relatif sederhana, terjangkau, dan minim resiko dibandingkan prosedur yang lebih invasif seperti IVF.

Namun tentu, keputusan pengobatan harus dipersonalisasi. Nggak semua pasangan cocok dengan pendekatan yang sama. Karena itu, sister dan paksu diarahkan untuk tetap melakukan komunikasi terbuka terutama pada dokter. Panduan ini bukan “aturan kaku” atau menjadi satu-satunya yang sister dan paksu harus jalani, tapi lebih ke arah petunjuk yang bisa jadi bahan diskusi antara sister dan paksu dan dokter. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Guideline Group on Unexplained Infertility, Romualdi, D., Ata, B., Bhattacharya, S., Bosch, E., Costello, M., … & Le Clef, N. (2023). Evidence-based guideline: unexplained infertility. Human Reproduction, 38(10), 1881-1890.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, perempuan, unexplain fertility

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 19
  • Page 20
  • Page 21
  • Page 22
  • Page 23
  • Interim pages omitted …
  • Page 27
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.