• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

infertilitas

Belajar Ginekologi dan Infertilitas dari Drama Korea Resident Playbook

May 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu, siapa di sini yang lagi ngikutin drama Korea Resident Playbook?
Yes, ini adalah spin-off dari serial hits Hospital Playlist, tapi dengan nuansa yang lebih fokus ke satu departemen: obstetri dan ginekologi, alias obgyn. Berlatar di Rumah Sakit Yulje cabang Jongno, drama ini mengangkat kehidupan para dokter residen yang bergelut setiap hari dengan pasien-pasien perempuan, kelahiran, dan… perjuangan mendapatkan dua garis

Tapi sebelum kita lanjut, yuk kenalan dulu dengan istilah “ginekologi”.
Ginekologi adalah cabang ilmu kedokteran yang fokus pada kesehatan reproduksi perempuan mulai dari organ reproduksi, fungsi hormonal, hingga berbagai masalah seperti gangguan menstruasi, kehamilan, persalinan, sampai infertilitas dan kanker reproduksi. Intinya, ginekologi itu soal memahami tubuh perempuan secara menyeluruh dan mendalam.

Nah, drama Resident Playbook ini menyajikan semua itu dalam bentuk cerita yang menyentuh hati, termasuk perjuangan pasien-pasien yang berhadapan dengan infertilitas.

Oh Joo-young dan Perjuangan Dua Garis

Di Episode 6, ada satu adegan yang rasanya sulit dilupakan Oh Joo-young, salah satu karakter yang diam-diam mengikuti program IVF, harus menerima kenyataan pahit: embrionya tidak bertahan. Bukan di rumah, bukan di pelukan siapapun, tapi di tengah KRL, sendirian. Dunia tetap bergerak, kereta tetap melaju, tapi dunianya seolah berhenti. Suasana sunyi dan ekspresi kosong Joo-young menyampaikan luka yang lebih tajam dari seribu kata.

Adegan ini bukan cuma menyentuh, tapi juga mewakili suara banyak perempuan yang diam-diam memendam harapan, lalu menelan kecewa. Perjuangan mendapatkan dua garis itu bukan sekadar medis. Ini juga soal mental, emosi, dan kekuatan untuk tetap berdiri meski gagal lagi dan lagi. Dan di sini, drama ini menyampaikannya dengan cara yang realistis, empatik, dan nggak lebay.

Lahir Tapi Kehilangan: Ketika Organ Bayi Belum Sempurna

Nggak berhenti sampai disitu, Resident Playbook juga menunjukkan sisi lain dari dunia obgyn yang seringkali luput dari cerita-cerita mainstream: ada pasien yang berhasil melahirkan, tapi bayinya lahir dengan organ yang belum terbentuk sempurna.
Tangis bahagia berubah jadi ketegangan. Drama ini bikin kita sadar bahwa hamil dan melahirkan bukan sekadar “proses alami” aja, tapi juga penuh risiko dan ketidakpastian. Dan buat para dokter, ini bukan cuma kasus medis, tapi juga kisah kemanusiaan yang harus mereka tangani dengan kepala dingin dan hati yang hangat.

Dengan alur yang ringan tapi penuh makna, drama ini berhasil bikin kita belajar banyak hal bukan cuma soal medis, tapi juga tentang empati, keteguhan hati, dan pentingnya dukungan orang sekitar. Cocok banget buat sister dan paksu yang ingin menonton drama yang menghibur tapi juga membuka wawasan.

Gimana? Tertarik buat nonton bareng sambil malam mingguan? Resident Playbook tayang mulai 12 April sampai 18 Mei 2025, dan masih ongoing! Jangan lupa juga follow Instagram @menujuduagaris.id untuk info dan obrolan menarik lainnya seputar ginekologi dan perjuangan para pejuang dua garis.

Referensi

  • https://wolipop.detik.com/entertainment-news/d-7867029/mengenal-5-pemain-drakor-resident-playbook-spin-off-hospital-playlist
  • https://www.halodoc.com/artikel/jangan-keliru-ini-perbedaan-ginekologi-dan-obstetri

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: drama korea, infertilitas, IVF, resident plybook

Pahami Peran Genetika dalam menangani Infertilitas dengan kasus Primary Ovarian Insufficiency (POI)

May 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mempengaruhi sekitar 15% pasangan di seluruh dunia, dan salah satu penyebab utama infertilitas pada perempuan adalah Insufisiensi Ovarium Primer (POI). POI terjadi ketika ovarium berhenti berfungsi sebelum usia 40 tahun, dan ini memengaruhi 1–3,7% wanita. Penyebabnya beragam kelainan genetik, autoimun, pengobatan Medis seperti Terapi radiasi atau kemoterapi,
faktor lingkungan dan infeksi virus.

Salah satu dampak utama dari POI adalah infertilitas permanen, di mana wanita tersebut tidak bisa hamil secara alami. Selain infertilitas, POI juga berhubungan dengan masalah kesehatan serius lainnya, seperti osteoporosis, penyakit jantung, dan bahkan gangguan neurologis. Jika sister dan paksu penasaran apa penyebab dari penyebab ini, sayangnya dalam penelitian pun masih belum jelas penyebabnya. Tapi setidaknya kita dapat berfokus pada solusi apa yang kira-kira ditawarkan! baca lebih lanjut yuk!

Pahami Peran Genetika dalam Diagnosis POI

Bayangkan jika misteri gangguan kesuburan bisa dipecahkan lewat jejak genetik dalam tubuh kita, itulah yang ditemukan para peneliti dalam studi besar melibatkan 375 pasien dan 70 keluarga dengan insufisiensi ovarium primer (POI). Dengan teknologi Whole Exome Sequencing (WES) dan panel genetik, mereka menelusuri mutasi pada gen-gen yang berperan dalam fungsi ovarium. Hasilnya cukup mengejutkan: hampir sepertiga kasus 29,3% akhirnya memperoleh diagnosis yang jelas. Temuan ini memberi harapan baru, bahwa pendekatan genetika tak hanya membantu memahami penyebab POI, tapi juga membuka peluang untuk penanganan yang lebih personal dan tepat sasaran.

Genetika ini tidak hanya memberi kita wawasan baru mengenai penyebab POI, tetapi juga membuka jalan untuk pengobatan yang lebih dipersonalisasi. Misalnya, dengan mengetahui mutasi genetik tertentu, pengobatan bisa disesuaikan untuk meningkatkan peluang kehamilan pada pasien yang mengalami POI.

Genetik POI dan Infertilitas 

Dalam studi ini, peneliti mengidentifikasi beberapa gen baru yang terlibat dalam POI yang sebelumnya belum diketahui, serta mengkonfirmasi peran gen lain yang sudah dilaporkan sebelumnya. Salah satu temuan yang menarik adalah bahwa gangguan pada gen perbaikan DNA dan mitosis dapat berhubungan dengan kerentanan terhadap kanker—yang menunjukkan bahwa pasien POI berisiko mengalami komplikasi lebih lanjut di luar masalah kesuburan.

Selain itu, sekitar 35,4% kasus POI berhubungan dengan gangguan pada gen yang berperan dalam pertumbuhan folikel. Hal ini penting dalam konteks pengobatan infertilitas, karena aktivasi folikel in vitro sebuah teknik yang berpotensi untuk membantu pasien POI hamil dapat lebih efektif jika didasarkan pada pemahaman genetik yang lebih dalam.

Proses yang disebutkan diatas adalah salah satu upaya dalam personalisasi kasus, dimana diagnosis genetik ternyata dapat membantu menentukan pasien yang berpotensi berhasil dengan teknik aktivasi folikel in vitro. Dengan mengetahui cadangan ovarium residual melalui pendekatan genetika, dokter dapat merancang terapi yang lebih efektif untuk meningkatkan kesuburan pasien.

Selain itu, pendekatan ini juga memperkenalkan kemungkinan pengobatan yang lebih efektif dengan menargetkan jalur molekuler tertentu yang terlibat dalam POI. Salah satu jalur baru yang ditemukan terkait dengan imunitas dan regulasi gen, yang bisa menjadi target terapi di masa depan.

Jadi pada sister dan paksu yang dihadapkan dengan masalah ini, ingat bahwa infertilitas bukan hanya soal kesulitan hamil, tetapi juga merupakan masalah yang memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan jangka panjang. Jika ada kasus yang sedang kalian hadapi apalagi seperti POI maka segera berkonsultasi ke dokter, dan melihat apakah ada solusi yang tepat. Informasi menarik lainnya dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Heddar, A., Ogur, C., Da Costa, S., Braham, I., Billaud-Rist, L., Findikli, N., … & Misrahi, M. (2022). Genetic landscape of a large cohort of Primary Ovarian Insufficiency: New genes and pathways and implications for personalized medicine. EBioMedicine, 84.
  • https://www.morulaivf.co.id/id/blog/primary-ovarian-insufficiency/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: genetik, infertilitas, Insufisiensi Ovarium Primer

Mengenal Kegagalan Ovarium Prematur: Penyebab dan Pengobatan yang Tepat!

April 29, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

 

Sister, pernah dengar tentang kegagalan ovarium prematur atau yang biasa disebut Premature Ovarian Failure (POF)? Nah ini adalah kondisi ketika ovarium berhenti berfungsi sebelum usia 40 tahun. Gejalanya biasanya berupa amenore atau tidak menstruasi, hipoestrogenisme atau kadar hormon estrogen yang rendah, dan peningkatan kadar gonadotropin dalam darah. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab umum infertilitas pada wanita muda. POF bukan hanya soal tidak adanya haid, tapi juga sinyal bahwa fungsi reproduksi terganggu lebih awal dari yang seharusnya. Wah kira-kira apa penyebabnya? pahami lebih lanjut yuk!

Penyebab Kegagalan Ovarium Prematur: Bukan Cuma Soal Usia, Sister

Kegagalan ovarium prematur alias POF (Premature Ovarian Failure) itu nggak cuma soal “tua sebelum waktunya”. Banyak faktor yang bisa jadi penyebabnya, dan beberapa di antaranya cukup serius. Yuk kita bahas satu per satu. 

Pertama ada kelainan kromosom, contohnya sindrom Turner (45X) atau variannya yang sering disebut “mosaik Turner”. Kondisi ini bisa bikin ovarium nggak berkembang dengan baik sejak awal. Kedua adalah Kerusakan ovarium akibat pengobatan atau operasi seperti  kemoterapi, radiasi, atau operasi di sekitar area panggul, ada kemungkinan ovarium kamu ikut terdampak.

Ketiga, ada Premutasi Gen FMR1 – Gen Terkait Sindrom Fragile X Gen ini penting banget karena berperan dalam perkembangan saraf. Kalau ada premutasi (55–200 pengulangan CGG), sekitar 20% wanita bisa mengalami kegagalan ovarium prematur. Premutasi ini sering ditemukan pada kasus POF sporadis (yang nggak diturunkan secara genetik), dan bisa mencapai 13% pada kasus familial. Walau belum jelas gimana mekanismenya, kemungkinan besar ada dua skenario yaitu jumlah sel telur memang lebih sedikit sejak awal, atau sel telurnya habis lebih cepat dari seharusnya.

Keempat adalah penyebab autoimun bagaimana sistem kekebalan tubuh kita bisa “salah target” dan menyerang jaringan sendiri, termasuk ovarium. POF karena autoimun ini juga sering dikaitkan dengan gangguan di organ endokrin lain, seperti tiroid, adrenal, dan paratiroid. Itulah kenapa skrining untuk penyakit autoimun jadi penting kalau ada gejala atau riwayat POF.

Gejala yang Muncul saat POF

  • Menstruasi makin jarang atau berhenti sama sekali

  • Hot flashes

  • Keringat malam

  • Vagina jadi lebih kering dan tipis

Bagaimana Penanganannya?

Karena POF biasanya disebabkan oleh hilangnya cadangan sel telur, saat ini belum ada pengobatan yang bisa “balikin” fungsi ovarium seperti semula. Tapi, beberapa hal masih bisa dilakukan:

  • Terapi hormon estrogen/progestin bisa membantu melindungi tulang dan mengurangi gejala akibat kekurangan estrogen.

  • Donasi sel telur lewat fertilisasi in vitro (IVF) jadi salah satu opsi paling efektif untuk hamil, dengan tingkat keberhasilan sekitar 75% per percobaan.

  • Walau langka, beberapa wanita tetap bisa hamil secara spontan, terutama kalau sedang menjalani terapi hormon. Studi menunjukkan sekitar 5–10% wanita dengan POF akhirnya bisa hamil tanpa bantuan dokter kesuburan.

Bahkan temuan oleh Castillo dkk, 2021 menemukan penyebab POF masih banyak yang belum bisa dijelaskan, perkembangan teknologi seperti Whole Exome Sequencing (WES) dan machine learning memberi harapan baru. Lewat pendekatan ini, ilmuwan mulai menemukan pola genetik tersembunyi yang sebelumnya sulit dikenali, termasuk varian langka yang mungkin berperan dalam kegagalan ovarium. Bahkan, kemampuan machine learning mengelompokkan pasien ke dalam subtipe tertentu membuka peluang untuk memahami karakteristik POF secara lebih personal.

Harapannya, langkah-langkah ini bisa menjadi fondasi untuk diagnosis yang lebih tepat, serta pengembangan terapi yang lebih terarah di masa depan. Cara ini tentu lebih personal dengan mengenali pola genetik dari berbagai macam kemungkinan yang ada. Meski demikian perlu pengawasan dokter yang menangani sister dan paksu ya. Informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Chapman, C., Cree, L., & Shelling, A. N. (2015). The genetics of premature ovarian failure: current perspectives. International journal of women’s health, 799-810.
  • Henarejos-Castillo, I., Aleman, A., Martinez-Montoro, B., Gracia-Aznárez, F. J., Sebastian-Leon, P., Romeu, M., … & Diaz-Gimeno, P. (2021). Machine learning-based approach highlights the use of a genomic variant profile for precision medicine in ovarian failure. Journal of Personalized Medicine, 11(7), 609.
  • https://www.advancedfertility.com/patient-education/causes-of-infertility/premature-ovarian-failure

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, ovarium, prrempuan, rahim

Kiat Optimalisasi Program IVF: Dari Protokol Stimulasi Hingga Embrio Transfer

April 20, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Surabaya, 19 April 2025 – Setelah sukses menggelar Fertility Bootcamp perdana bersama Sunfert Malaysia di penghujung tahun 2024, komunitas Menuju Dua Garis (MDG) kembali menghadirkan program edukasi lanjutan bertajuk “Kiat Optimalisasi Program IVF: Dari Protokol Stimulasi Hingga Embrio Transfer”. Acara ini kembali menggandeng Sunfert Malaysia dan menghadirkan pakar fertilitas terkemuka, Dr. Lim Lei Jun, serta dua Pejuang Dua Garis (PDG) inspiratif Indah dan Chandra yang menerima program IVF gratis dari Sunfert.

Dalam sesi ini, lebih dari 80 peserta yang terdiri dari sister dan paksu bergabung secara daring melalui Zoom untuk menyimak pemaparan mendalam seputar proses IVF. Acara dibuka dengan video apresiasi dari MDG, dilanjutkan sambutan hangat dari pendiri MDG, Mizz Rosie, yang menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota komunitas yang telah membersamai perjuangan panjang dalam mendapatkan buah hati.

Dr. Lim Lei Jun memaparkan secara detail tahapan IVF, mulai dari stimulasi ovarium, jenis-jenis hormon yang digunakan, hingga proses transfer embrio. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang personalized dalam pemberian obat, disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing pasien. Salah satu contoh nyata adalah pengalaman Indah yang mendapatkan tambahan suntikan Cetrotide untuk mencegah pematangan dini sel telur. Dalam kesempatan ini, Dr. Lim juga menjelaskan bahwa transfer embrio pada tahap blastokista yakni pada hari ke-5 hingga ke-6 pasca pembuahan, memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi dibanding transfer pada tahap sebelumnya.

Kisah sukses Indah dan Chandra yang berhasil memperoleh 10 blastokista pada siklus IVF pertama mereka menjadi sorotan inspiratif dalam acara ini. Kehadiran mereka memberikan semangat baru bagi para PDG lainnya untuk terus berjuang.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Pertanyaan yang diajukan pun sangat personal dan mendalam, seperti:

  • “Untuk kondisi very low AMH dan saat USG transv hanya terlihat dua sel telur, apakah prosedur IVF tetap bisa dilanjutkan atau menunggu hingga jumlah sel telur bertambah?”

  • “Apakah program IVF berisiko menyebabkan OHSS? Saya baru selesai IVF dan sebelum OPU, kadar estradiol saya mencapai 6000-an sehingga tidak bisa melakukan fresh transfer.”

MDG merasa terharu melihat semangat juang para PDG yang telah melalui berbagai tahap hingga ke proses IVF. Melalui acara ini, MDG berharap dapat menjadi sumber informasi yang dapat diandalkan, sekaligus ruang dukungan emosional bagi para pejuang dua garis di seluruh Indonesia.

Untuk informasi dan edukasi seputar fertilitas lainnya, jangan lupa untuk mengikuti akun Instagram @menujuduagaris.id agar tidak ketinggalan berbagai program dan acara menarik lainnya.

Sampai jumpa di forum selanjutnya!

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, infertilitas, IVF, MDG, menuju dua garis, PDG, pejuang dua garis, sunfert

Ketahui Pentingnya Mengecek Seberapa Ideal Berat Badan yang Berpengaruh ke Kesuburan Laki-laki

April 18, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Selama ini kita sering dengar kalau kelebihan berat badan bisa ganggu kesehatan. Tapi, pernah kepikiran nggak sih, kalau lemak di perut juga bisa ngaruh ke kualitas sperma? meski banyak pengaruh yang lain, MDG pada kesempatan kali ini ingin membahas dari sisi obesitas atau kelebihan lemak terutama jika ini terjadi pada paksu. 

Kelebihan Berat Badan & Sperma: Apa Hubungannya?

Seseorang dengan kelebihan berat badan dapat mengurangi kualitas dan kesuburan sperma. Kenapa bisa terjadi? nah hal ini berkesinambungan dengan ketidakseimbangan hormonal. Pada laki-laki yang mengalami kelebihan berat badan alias obesitas, menurut penelitian, sperma yang dihasilkan biasanya memiliki kualitas yang buruk. 

Hal itu terjadi karena adanya perubahan hormon yang menjadi tidak seimbang. Laki-laki dengan berat badan berlebih biasanya  juga jadi lebih sulit untuk mengalami ereksi. Banyak cara mengetahui ukuran tubuh agar dapat diketahui apakah sudah ideal atau belum.

Cara Mengetahui Atau mengukur Lemah pada Tubuh

Beberapa penelitian udah nunjukin bahwa laki-laki yang kelebihan berat badan lebih rentan punya masalah sperma, entah itu dari segi jumlah, pergerakan, atau bentuknya. Nah, biasanya untuk mengukur berat badan, dipakai yang namanya BMI (Body Mass Index). Tapi, BMI ini cuma ngitung berat dan tinggi badan, tanpa tahu lemaknya ngumpul di mana.

Lalu bagaimana dengan lemak yang ada di bagian tertentu seperti pada perut, fakta bahwa lemak di perut (obesitas sentral) justru bisa lebih bahaya dan lebih akurat menunjukkan risiko kesehatan. Nah untuk itu muncul pengukuran lain: WHR (Waist-to-Hip Ratio) atau rasio lingkar pinggang ke pinggul. WHR ini bisa ngasih gambaran apakah lemak tubuh terkonsentrasi di bagian perut atau nggak.

Nah bagi sister dan paksu yang baru familiar sama cara pengukuran berat badan di BMI, sebaiknya mempertimbangkan juga pengecekan lain seperti WHR. Oh ya penyebab dari obesitas di perut juga beragam ya. Tapi secara umum memang sama-sama kelebihan berat badan. 

Cara Mengatasi Perut Buncit

Pada penyebab perut buncit oleh penumpukan lemak berlebih atau obesitas bisa paksu atasi dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti diet atau mengatur pola makan, mengonsumsi makanan sehat serta memiliki gizi seimbang, mencukupi waktu tidur minimal 7-9 jam per hari, berolahraga secara rutin, berhenti merokok dan menghindari konsumsi alkohol berlebihan.

Karena paksu harus ketahui bahwasanya penelitian yang dilakukan oleh Keszthelyi et.al (2020)  ini kasih sinyal kuat kalau obesitas di area perut bisa berdampak ke kesuburan laki-laki. Nggak cuma jumlah sperma yang turun, tapi juga kemampuan mereka buat “berenang” menuju sel telur. Jadi baiknya untuk paksu harus  mulai jaga pola makan dan olahraga teratur. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Keszthelyi, M., Gyarmathy, V. A., Kaposi, A., & Kopa, Z. (2020). The potential role of central obesity in male infertility: body mass index versus waist to hip ratio as they relate to selected semen parameters. BMC Public Health, 20, 1-10.
  • https://www.halodoc.com/artikel/cek-hubungan-berat-badan-vs-kesuburan-pria
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/penyebab-perut-buncit

 

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, obesitas, perut buncit, sperma

A Body Shape Index (ABSI) dan Infertilitas: Apakah Bentuk Tubuh Bisa Jadi Petunjuk Kesuburan?

April 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas bukan hanya persoalan medis semata, tapi juga isu kesehatan masyarakat yang berdampak besar pada kualitas hidup jutaan perempuan di dunia. Bahkan diperkirakan, sekitar 10–15% perempuan usia reproduksi mengalami kesulitan untuk hamil. Di balik angka ini, ada beban psikologis, tekanan sosial, dan tantangan ekonomi yang tidak kecil. MDG akan membahas salah dengan sudut pandang ABSI. 

Ketahui Lemak visceral Faktor Infertilitas

Masalah infertilitas sendiri sangat kompleks, dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari genetik, lingkungan, gaya hidup, hingga kondisi metabolik. Karena itu, penting bagi kita untuk terus mencari penanda baru yang bisa membantu deteksi dini dan penanganan infertilitas secara lebih efektif.

Salah satu faktor yang akan MDG bahas adalah dalam faktor obesitas, khususnya obesitas sentral (lemak yang menumpuk di sekitar perut). Lemak visceral (lemak di sekitar organ dalam perut) punya dampak lebih besar terhadap kesehatan reproduksi dibandingkan lemak subkutan (lemak di bawah kulit). Lemak visceral ini berkontribusi terhadap resistensi insulin, gangguan hormon, bahkan masalah sistem imun, semuanya bisa mengganggu kesuburan perempuan.

Cara Mengukur Lemak yang Efektif

Masalahnya, pengukuran obesitas yang umum digunakan seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) ternyata tidak cukup akurat untuk membedakan jenis lemak ini. Alternatif seperti waist-to-hip ratio (WHR) dan visceral adiposity index (VAI) sudah mulai digunakan, tapi keduanya juga punya keterbatasan, baik dalam hal akurasi maupun kemudahan penggunaannya di lapangan.

Nah, disinilah ABSI (A Body Shape Index) hadir sebagai solusi baru. Apa Itu ABSI? ABSI adalah indeks antropometri yang menggabungkan data lingkar pinggang, tinggi badan, dan berat badan untuk memberikan gambaran yang lebih presisi tentang lemak perut. Rumus ABSI adalah: ABSI = Lingkar Pinggang / (BMI^(2/3) × Tinggi^(1/2))

Dengan pendekatan ini, ABSI dinilai lebih jitu dalam mendeteksi risiko yang berhubungan dengan lemak visceral seperti penyakit jantung, diabetes, sindrom metabolik, dan bahkan kematian dini. Tapi yang menarik, belum banyak studi yang mengkaji kaitannya dengan infertilitas perempuan.

Hubungan Bentuk Tubuh dan Kesuburan

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yang et.al 2024 menunjukkan bahwa perempuan dengan nilai ABSI yang lebih tinggi menunjukkan tingkat infertilitas yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan ABSI lebih rendah. Dari sisi kesehatan, mereka juga lebih sering mengalami tekanan darah tinggi dan diabetes. Temuan ini memperlihatkan bahwa nilai ABSI yang tinggi dapat menjadi petunjuk awal adanya risiko gangguan kesuburan, terutama jika dilihat bersama faktor-faktor lain seperti usia, kondisi kesehatan, dan gaya hidup. 

Sehingga dapat kita pahami bahwa memahami bentuk tubuh lebih dalam bukan sekadar berat badan atau BMI saja yang bisa membantu kita mengenali potensi risiko lebih awal dan mengambil langkah yang tepat. ABSI juga unggul karena mudah dihitung, non-invasif dan cocok digunakan dalam pengaturan skala besar.

Namun tentu saja, dibutuhkan pengecekan lebih lanjut dan memahami secara lebih mendalam hubungan antara bentuk tubuh dan kesuburan perempuan. Tapi satu hal pasti cara tubuh menyimpan lemak ternyata bisa memberi kita petunjuk penting tentang kesehatan reproduksi. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Yang, Q., Wuliu, J., Zeng, L. et al. Association between a body shape index and female infertility: a cross-sectional study. BMC Women’s Health 24, 486 (2024). https://doi.org/10.1186/s12905-024-03335-1

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, lemak visceral, paksu, perempuan, sister

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 18
  • Page 19
  • Page 20
  • Page 21
  • Page 22
  • Interim pages omitted …
  • Page 27
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.