• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

infertilitas

Ternyata, Nggak Semua Tubuh Bisa Pakai Asam Folat Untuk Program Hamil

May 27, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Kalau bicara soal nutrisi penting untuk kesuburan pria, salah satu yang banyak digunakan untuk membantu keberhasilan program hamil adalah vitamin B9, atau yang lebih dikenal dengan folat. Tapi disisi lain yang harus kita pahami adalah bahwa kemampuan tubuh dalam memanfaatkan folat bisa dipengaruhi oleh faktor genetik, terutama oleh gen bernama MTHFR. Fakta menunjukkan bahwa mutasi pada gen ini bisa membuat tubuh sulit menggunakan folat secara optimal. Wah mengapa bisa begitu? pahami lebih lanjut yuk!

Pahami tentang hubungan Asam Folat dan Gen MTHFR 

Asam folat (yang dikenal juga sebagai vitamin B9) penting banget buat pembentukan DNA, perbaikan sel, dan menangkal stres oksidatif. Tapi, sebelum bisa dipakai tubuh, asam folat harus “diaktifkan” dulu lewat proses kimiawi yang diatur oleh gen bernama MTHFR.

Nah, beberapa orang punya variasi genetik MTHFR, khususnya versi yang dikenal dengan nama C677T dan A1298C yang bikin proses ini nggak berjalan lancar. Akibatnya, asam folat jadi nggak bisa diproses maksimal, dan ini bisa ganggu proses pembentukan sperma.

Sebuah temuan yang dilakukan di Tiongkok yang melibatkan lebih dari 800 pria menunjukkan bahwa pria dengan gangguan kualitas sperma seperti jumlah sperma rendah atau sperma dengan gangguan motilitas, lebih sering memiliki variasi genetik MTHFR C677T dibandingkan pria dengan kualitas sperma normal. Nah temuan tersebut memberi petunjuk bahwa mutasi gen MTHFR bisa jadi berperan dalam beberapa kasus infertilitas pria, meski bukan satu-satunya faktor penyebab. Yuk kita lihat bagaimana ini perpengaruh ke infertilitas pria.

Gen MTHFR dan Infertilitas Pria

Jadi variasi genetik pada gen methylenetetrahydrofolate reductase (MTHFR), khususnya A1298C, diketahui dapat menurunkan kadar folat dalam plasma dan meningkatkan kerentanan terhadap berbagai gangguan multifaktorial. 

Sebuah studi turut menganalisis 50 pria infertil dengan riwayat azoospermia nonobstruktif atau oligozoospermia berat, serta 50 pria fertil sebagai kelompok kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi A1298C pada gen MTHFR memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan infertilitas pria, sementara variasi C677T tidak menunjukkan asosiasi yang serupa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa polimorfisme A1298C berpotensi meningkatkan risiko infertilitas pria.

Karena folat nggak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh dan hanya bisa didapat dari makanan atau suplemen, maka mengetahui adanya mutasi pada gen MTHFR bisa membantu kalian untuk dapat mempertimbangkan intervensi nutrisi yang lebih tepat, seperti suplementasi folat aktif atau penguatan pola makan.

Selain itu, ini juga jadi pengingat bahwa gangguan kesuburan pria bisa dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik, dan bukan sekadar soal gaya hidup atau kesehatan umum.

Kalau sister dan paksu sedang menjalani program hamil dan merasa sudah mencoba banyak hal, pemeriksaan genetik bisa menjadi salah satu langkah lanjutan. Terutama kalau ada riwayat gangguan sperma atau hasil pemeriksaan semen yang kurang optimal. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ren, F. J., Fang, G. Y., & Zhang, Z. Y. (2024). Association between methylenetetrahydrofolate reductase C677T polymorphisms and male oligozoospermia, asthenozoospermia or oligoasthenozoospermia: a case–control study. Scientific Reports, 14(1), 25219.
  • Balunathan, N., Venkatesen, V., Chauhan, J., Reddy, S. N., Perumal, V., & Paul, S. F. (2021). Role of MTHFR gene polymorphisms in male infertility. Int J Infertil Fetal Med, 12(1), 7-12.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: asam folat, infertilitas, kacang, laki-laki, program hamil

Masturbasi Atipikal dan Masalah Seksual: Apa Pengaruhnya terhadap Program Hamil?

May 25, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Bagi sister dan paksu juga perlu memahami tentang cara masturbasi yang ternyata bisa berdampak pada keberhasilan program hamil. Bahkan sebuah studi baru mengungkap bahwa cara masturbasi yang tidak biasa dapat berkontribusi pada erectile dysfunction (ED), terutama pada pria yang juga mengalami pre-mature ejaculation (PE). Wah bagaimana ini terjadi? yuk pahami lebih lanjut!

Yuk Pahami apa itu Pre-mature Ejaculation (PE) atau Disfungsi Ereksi

Ejakulasi dini (PE) adalah jenis disfungsi seksual yang terjadi saat seseorang mengalami orgasme dan ejakulasi lebih cepat dari yang diinginkannya atau pasangannya. Hal ini sering terjadi sebelum atau sesaat setelah penetrasi saat berhubungan seksual. Ejakulasi dini dapat menjadi pengalaman yang membuat frustasi bagi pasangan seksual Anda serta membuat kehidupan seks kalian menjadi kurang menyenangkan. Sehingga ini berdampak pada program hamil yang bisa jadi sedang paksu dan sister jalani.

Sebuah penelitian menemukan bahwa beberapa pria memiliki kebiasaan masturbasi yang tidak lazim, seperti menggesekkan alat kelamin lewat pakaian atau menggosok dalam posisi tengkurap. Pola seperti ini, jika berlangsung lama dan menjadi kebiasaan utama dalam meraih orgasme, bisa membuat tubuh dan otak terbiasa merespons rangsangan secara terbatas. Akibatnya, saat melakukan hubungan seksual yang normal dengan pasangan, respon seksual bisa terganggu, misalnya sulit mencapai ereksi atau kesulitan mempertahankan ereksi sampai ejakulasi terjadi. Kebiasaan seperti ini berpotensi menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya disfungsi ereksi. Lalu apakah ini disebut sebagian dari sebab susahnya hamil?

Kenapa Cara Masturbasi Bisa Berpengaruh pada Infertilitas?

Perilaku masturbasi yang tidak lazim dapat menciptakan pola respon seksual yang terbentuk kuat seiring waktu. Tubuh dan otak jadi terbiasa merespons rangsangan dalam kondisi tertentu saja. Ketika seseorang kemudian berada dalam hubungan seksual yang “normal”, tubuh tidak memberikan respon yang sama.

Dampaknya terhadap Kesuburan, di sinilah keterkaitannya dengan infertilitas muncul. Bagi pasangan yang sedang mencoba memiliki anak, hubungan seksual yang sehat dan teratur adalah kunci. Jika ada hambatan seperti ejakulasi terlalu cepat atau tidak tuntas, maka kemungkinan kehamilan bisa berkurang.

Beberapa dampak langsung dari kondisi DE dan PE terhadap kesuburan antara lain:

  • Ejakulasi terjadi sebelum penetrasi optimal, sehingga sperma tidak tersalurkan ke dalam vagina

  • Ereksi tidak bertahan cukup lama untuk menyelesaikan hubungan seksual

  • Frekuensi hubungan seksual menurun akibat tekanan psikologis dari masalah performa

Bahkan jika kualitas sperma pria tergolong baik, hambatan dalam fungsi seksual bisa tetap menghalangi terjadinya kehamilan secara alami.

Perlu Evaluasi Menyeluruh, Bukan Hanya Sperma

Sering kali fokus evaluasi infertilitas hanya tertuju pada analisis sperma. Padahal, aspek lain seperti fungsi seksual dan perilaku masturbasi juga bisa memainkan peran penting. Dalam kasus ejakulasi dini yang disertai disfungsi ereksi, kebiasaan masturbasi sebaiknya turut ditanyakan dan dievaluasi.

Keterbukaan antara pasangan dan konsultasi ke tenaga kesehatan menjadi langkah penting. Mengenali bahwa kebiasaan tertentu bisa berkontribusi terhadap masalah reproduksi adalah awal dari solusi yang lebih menyeluruh.

Kalau sister dan paksu juga merasakan gangguan seksual dan sedang dalam program hamil, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Masalah ini umum terjadi dan bisa diatasi asal ditangani secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi medis, tapi juga dari sisi psikologis dan perilaku. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Kafkasli, A., Yazici, O., Can, U., Coskun, A., Boz, M. Y., Karatas, B., & Kece, C. (2021). Traumatic masturbation syndrome may be an important cause of erectile dysfunction in pre‐mature ejaculation patients. Andrologia, 53(9), e14168.
  • https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/15627-premature-ejaculation?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, masturbasi, pasangan, perempuan, program hamil

Mitos atau Fakta Sperma Kental itu Normal?

May 23, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Ketika sister dan paksu sulit mendapatkan dua garis, banyak yang langsung menyorot sisi perempuan. Padahal, sekitar 20% kasus infertilitas justru disebabkan sepenuhnya oleh faktor pria, dan 30%–40% lainnya merupakan kontribusi gabungan pria dan wanita.

Sayangnya, patofisiologi infertilitas pria masih menyimpan banyak misteri. Tidak ada tes khusus yang bisa langsung menunjuk penyebab pasti kerusakan fungsi sperma. Kita hanya bisa melihat “permukaan” nya melalui analisis air mani standar, yang meskipun bukan tes sempurna, tapi tentu saja ini bisa menjadi langkah yang bagus. Terutama dalam mengungkap dari fakta terkait sperma kental itu normal. Padahal tidak, yuk pahami lebih lanjut!

Mengapa penting Melakukan Analisis Sperma?

Analisis sperma memang tidak bisa menjamin kesuburan. Bahkan jika hasilnya “normal,” belum tentu paksu bisa membuahi. Tapi, tes ini masih dibutuhkan untuk mengidentifikasi kondisi absolut seperti sperma tidak bergerak total atau tidak ada sperma sama sekali (azoospermia). 

Tapi bagaimana kalau hasil spermanya terlihat normal, tapi tetap belum ada tanda dua garis? Bisa jadi masalahnya ada pada plasma mani, komponen tempat sperma “berenang” saat ejakulasi.

Plasma mani adalah campuran dari cairan testis, epididimis, vesikula seminalis, prostat, dan kelenjar bulbouretralis. Ternyata, komposisi plasma mani juga bisa berpengaruh besar terhadap motilitas sperma (kemampuannya untuk berenang dan mencapai sel telur). Nah hal ini juga menunjukkan bagaimana jika sperma paksu itu kental? Yuk pahami istilah medisnya!

Hiperviskositas Mani Kondisi Sperma Kental

Jadi sperma kental ini disebut dengan hiperviskositas mani, yaitu kondisi di mana air mani terlalu kental atau lengket. Ini terjadi pada 12%–29% kasus, kondisi hiperviskositas bisa mengindikasikan masalah pada kelenjar seks aksesori dan berpotensi memengaruhi kualitas sperma serta peluang pembuahan.

Bahkan sebuah studi menemukan bahwa hiperviskositas ini tidak hanya mengganggu secara mekanis, tapi juga mungkin menjadi indikator prognostik keberhasilan program bayi tabung (IVF/ICSI). Hiperviskositas mani ternyata berkaitan dengan kualitas embrio yang lebih rendah dan tingkat kehamilan yang juga menurun.

Masalah infertilitas paksu memang kompleks, dan hiperviskositas hanyalah salah satu dari banyak faktor yang bisa memengaruhi. Tapi dengan mengetahui ini, kita bisa menyadari bahwa mengevaluasi air mani bukan hanya soal jumlah dan bentuk sperma, tapi juga lingkungan tempat mereka hidup. Buat sister dan paksu yang sedang berjuang, jangan ragu untuk meminta pemeriksaan menyeluruh, termasuk aspek-aspek seperti ini. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, sperma kental

Mengungkap Peran Epigenetik dan RNA dalam Infertilitas Pria

May 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas pria bukan lagi sekadar soal “jumlah sperma sedikit” atau “sperma nggak kuat berenang.” Faktanya, kondisi ini jauh lebih rumit. Banyak kasus infertilitas paksu yang penyebab pastinya nggak jelas dan itu membuat penanganannya juga jadi nggak semudah “minum obat ini, tapi butuh analisa lebih lanjut.

Yang lebih tidak umum lagi yang harus paksu tahu bahwa penurunan jumlah sperma pada pria di seluruh dunia bukan cuma soal kesuburan. Bayangkan saja badan yang tidak sehat tentu memberi pengaruh pada organ lainnya seperti dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian, penyakit kronis, bahkan kanker. Ini bukan masalah kecil. Yuk kita pahami lebih lanjut!

Pentingnya RNA dalam Sperma

Penelitian terbaru mulai menyoroti peran epigenetik—cara gen “dinyalakan atau dimatikan” tanpa mengubah kode DNA-nya. Selain itu, RNA dalam sperma juga jadi sorotan. RNA dalam sperma bukan sekadar sisa dari proses pembentukan sel, tapi ternyata punya peran penting dalam kesuburan dan perkembangan awal embrio. Beberapa jenis RNA yang ditemukan antara lain mRNA, miRNA, piRNA, tRNA fragments, dan lncRNA. 

Mereka berfungsi untuk mengatur ekspresi gen, menjaga stabilitas DNA, dan bahkan bisa memengaruhi perkembangan embrio setelah pembuahan. Jadi, selain membawa DNA, sperma juga membawa “bekal molekuler” yang bisa berdampak besar pada kualitas embrio dan keberhasilan kehamilan.

RNA pengkode maupun non-pengkode berperan besar dalam:

  • Proses pematangan sperma 
  • Proses pembuahan (fertilisasi) 
  • Perkembangan awal embrio

Bayangkan kalau RNA-nya rusak atau nggak berfungsi dengan baik meskipun spermanya kelihatan sehat di mikroskop, bisa saja gagal bikin embrio berkembang atau menghasilkan kehamilan yang berhasil.

Fakta yang Harus Kita Tahu!

  • Spermanya sehat kok, berarti subur. Belum tentu karena sperma bisa terlihat normal tapi gagal bekerja karena gangguan di level epigenetik atau RNA. 
  • Infertilitas pria cuma soal sperma lemah. Faktanya, bisa jadi ada masalah molekuler yang tak terlihat secara kasat mata. 
  • Infertilitas solusinya adalah bayi tabung. Teknologi reproduksi bantu memang bisa jadi solusi, tapi yang harus diketahui adalah masalahnya secara personal agar dapat disesuaikan solusi apa yang dapat dilakukan

 

Infertilitas pria bukan hal sederhana. Ia bisa menjadi penanda dari masalah kesehatan yang lebih besar. Dengan terus berkembangnya penelitian tentang epigenetik dan RNA sperma, harapannya kita bisa memahami dan menangani infertilitas pria dengan lebih tepat, efektif, dan personal. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Leggio, L., Paternò, G., Cavallaro, F., Falcone, M., Vivarelli, S., Manna, C., … & Iraci, N. (2025). Sperm epigenetics and sperm RNAs as drivers of male infertility: truth or myth?. Molecular and Cellular Biochemistry, 480(2), 659-682.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: epigenetik, genetik, infertilitas, laki-laki, RNA, sperma

Infertilitas Pria: Mengupas Dampak Fragmentasi DNA Sperma pada Keberhasilan Program Bayi Tabung

May 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Dalam dunia fertilitas, seringkali perhatian tertuju pada kualitas sel telur dan rahim perempuan dan membuat kesimpulan ketidaksuburan adalah faktor perempuan. Padahal, satu faktor penting lainnya justru datang dari sisi laki-laki, yaitu kualitas DNA sperma. Salah satu penyebab penting yang harus dilihat adalah DNA Fragmentation Index (DFI) atau indeks fragmentasi DNA sperma. Yuk ketahui apa itu DFI? terutama bagaimana hal ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan program hamil seperti IVF dan ICSI.

Apa Itu DFI dan Mengapa Penting?

DFI merupakan indikator yang mengukur seberapa besar kerusakan DNA dalam sperma. Meskipun jumlah sperma dan bentuknya tampak normal, jika DNA di dalamnya rusak, kemampuan sperma untuk membuahi sel telur dan menghasilkan embrio sehat bisa terganggu.

Dengan meningkatnya penggunaan teknologi reproduksi berbantuan (ART) seperti IVF atau ICSI, sudah waktunya kita memahami apakah tingginya fragmentasi DNA sperma bisa memengaruhi keberhasilan prosedur-prosedur tersebut.

DFI dalam Program Hamil Berbantuan (ART)

Dalam literatur yang dilakukan oleh Deng, 2019 menemukan bagaimana DFI dalam program hamil berbantuan diantaranya adalah:

  1. Peluang Melahirkan Anak
    Secara umum, perbedaan antara sperma dengan DNA yang rusak dan tidak rusak belum terlalu terlihat signifikan pada angka kelahiran hidup.

  2. Risiko Keguguran
    Pasangan yang sperma pasangannya memiliki tingkat kerusakan DNA tinggi ternyata lebih sering mengalami keguguran dibanding yang tingkat kerusakannya rendah.

  3. Kualitas Embrio
    Embrio yang dihasilkan dari sperma dengan kerusakan DNA tinggi cenderung berkualitas lebih rendah, yang tentu bisa memengaruhi keberhasilan kehamilan.

  4. Kehamilan yang Berhasil Terlihat di USG
    Kemungkinan terjadinya kehamilan klinis (kehamilan yang sudah bisa dilihat lewat USG) juga lebih rendah pada kelompok dengan tingkat kerusakan DNA sperma yang tinggi.

Melihat penjabaran di atas,menunjukkan bahwa meskipun DFI tidak secara langsung menurunkan peluang kelahiran hidup secara signifikan, fragmentasi DNA sperma berkaitan erat dengan meningkatnya risiko keguguran dan menurunnya kualitas embrio serta keberhasilan kehamilan klinis. Artinya, kualitas DNA sperma penting untuk diperhatikan, terutama bagi pasangan yang menjalani program IVF atau ICSI.

Sister dan paksu juga sudah harus tahu bahwa selama ini, kesuburan pria sering dianggap cukup hanya dengan “jumlah sperma banyak” atau “gerakannya aktif”. Padahal, kualitas genetik sperma sama pentingnya. Sehingga pemeriksaan DFI bisa menjadi langkah tambahan yang membantu mengungkap penyebab tersembunyi dari kegagalan IVF atau keguguran berulang. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

Deng, C., Li, T., Xie, Y., Guo, Y., Yang, Q. Y., Liang, X., … & Liu, G. H. (2019). Sperm DNA fragmentation index influences assisted reproductive technology outcome: A systematic review and meta‐analysis combined with a retrospective cohort study. Andrologia, 51(6), e13263.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: DFI, DNA, infertilitas, kesuburan, laki-laki, Pria, sperma

Infertilitas Pria yang Masih belum Terpecahkan? Bisa Jadi Karena Racun di Sekitar Kita

May 20, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, pernah dengar istilah infertilitas idiopatik? Ini adalah kondisi ketika paksu mengalami infertilitas, tapi setelah dicek sana-sini, nggak ada penyebab pasti yang bisa ditemukan. Nah, ternyata kondisi ini cukup umum dan bisa terjadi pada hampir 44% kasus infertilitas pria. Lalu, kenapa bisa begitu? MDG akan menjelaskan lebih lanjut!

Kesuburan dan Faktor Lingkungan

Fenomena kesuburan pria ini dari tahun ketahun terjadi peningkatan, terutama di negara-negara Barat. Dan anehnya penurunan ini nggak bisa dijelaskan sepenuhnya hanya karena obesitas, pola makan yang buruk, atau gaya hidup aja. Karena ada yang faktor lain salah satunya adalah paparan bahan kimia sintetis dalam kehidupan sehari-hari.

Kita sekarang hidup dikelilingi oleh ribuan bahan kimia baik dari plastik, makanan, hingga udara yang kita hirup. Beberapa di antaranya diketahui bisa mengganggu hormon, terutama hormon yang penting untuk produksi sperma, seperti hormon di sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad (HPG) adalah hormon pelepas gonadotropin (GnRH) dari hipotalamus, hormon luteinisasi (LH) dan hormon perangsang folikel (FSH) dari kelenjar pituitari, serta estrogen dan testosteron dari gonad. Lalu kira-kira jenis bahan kimia apa yang mempengaruhi

Toksin yang Wajib Diwaspadai

Diantara penyebab infertilitas terutama faktor lingkungan bisa jadi dari bahan-bahan yang mengandung bahan kimia, beberapa di antaranya bahkan tergolong racun reproduksi yang sudah dilarang di negara lain, tapi terkadang masih dipakai. Contohnya:

  • Ftalat dan BPA: Umumnya ada di plastik dan kemasan makanan
  • Pestisida dan herbisida: Seperti DDT, atrazin, organofosfat
  • Logam berat: Seperti timbal dan kadmium
  • Polusi udara dan suara, hingga radiasi non-pengion

Tidak hanya bahan-bahan itu saja, karena gaya hidup seperti pola makan, obesitas, konsumsi kafein berlebih, alkohol, rokok, narkoba, dan obat tertentu juga bisa memperparah

Untuk itu bagi sister dan paksu sudah harus mulai skeptis dengan apa yang ada disekitar kalian, meskipun kita belum bisa mengukur seberapa besar dampaknya secara individu  langkah awal yang bisa dilakukan dengan mengetahui sumber-sumber racun di sekitar kita, menghindari paparan berlebihan (misalnya dengan memilih produk bebas BPA, mengurangi paparan pestisida, dll) dan Menjaga gaya hidup sehat untuk meminimalkan efek tambahan dari faktor lain.

Ingat, sister. Kesehatan reproduksi bukan cuma urusan rahim dan sel telur. Paksu juga perlu perhatian ekstra terutama dalam menghadapi dunia modern yang penuh racun tak terlihat ini. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Krzastek, S. C., Farhi, J., Gray, M., & Smith, R. P. (2020). Impact of environmental toxin exposure on male fertility potential. Translational andrology and urology, 9(6), 2797.
  • https://med.uc.edu/landing-pages/reproductivephysiology/lecture-4/hypothalamic-pituitary-ovarian-axis

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hidup sehat, infertilitas, laki-laki, lingkungan, Pria

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 16
  • Page 17
  • Page 18
  • Page 19
  • Page 20
  • Interim pages omitted …
  • Page 27
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.