• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

infertilitas

Welcome to Our MDG Special Event with Dr. Puvanesvaran Velupulai

May 19, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Surabaya, Menuju Dua Garis (MDG) menggelar acara istimewa yang berkolaborasi dengan TMC Fertility Malaysia dan didukung oleh PROEM.1. Acara ini diselenggarakan pada hari Minggu, bertempat di Kollabora Cafe mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai.

Acara dibuka oleh Bumin MDG yang mengajak para sister dan paksu untuk bersama-sama memahami bahwa infertilitas adalah ilmu yang perlu dipelajari, bukan aib yang harus disembunyikan atau diratapi. Selanjutnya, acara dipandu oleh Mizz Rosie, Founder MDG sekaligus seorang pejuang IVF yang juga menjadi host dalam sesi ini.

Dr. Puvanesvaran Velupulai, seorang Consultant Obstetrician and Gynaecologist sekaligus Subspecialist in Reproductive Medicine dari TMC Fertility Puchong, Malaysia, hadir sebagai pembicara utama. Beliau menyampaikan materi yang sangat komprehensif mengenai infertilitas pria, dimulai dengan data bahwa 40% penyebab infertilitas di Indonesia berasal dari faktor laki-laki. Dr. Puvan menguraikan penyebab infertilitas pria dari sisi pra-testikular, testikular, hingga post-testikular, dilengkapi dengan penjelasan visual seperti bentuk mikropenis, video sperma, hingga prosedur TESE.

Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan, dipandu langsung oleh Mizz Rosie. Pertanyaan dari para peserta mencakup mulai dari nutrisi yang disarankan, hingga kasus-kasus spesifik yang sedang dihadapi oleh sister dan paksu yang hadir.

Menjelang akhir acara, suasana menjadi semakin emosional ketika seorang pejuang dua garis berbagi kisah keberhasilannya mendapatkan buah hati melalui bantuan TMC Fertility. Cerita ini menambah semangat dan harapan bagi para peserta yang hadir dari berbagai daerah, termasuk Surabaya dan Kediri.

Acara ini berlangsung dengan penuh kehangatan, edukatif, menyentuh, dan sangat menginspirasi. Para peserta menunjukkan tekad kuat untuk terus mencari tahu dan memahami kondisi mereka.

Untuk informasi dan kegiatan menarik lainnya, jangan lupa follow Instagram kami di @menujuduagaris.id.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, MDG, Puvanesvaran, sperma, TMC

Live Instagram MDG x TMC Fertility: Bahas Tuntas Infertilitas Pria dan Ragam Solusinya

May 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Pada Rabu, 14 Mei 2025 pukul 19.00 WIB, MDG berkolaborasi dengan TMC Fertility menggelar sesi Live Instagram yang membahas secara mendalam tentang infertilitas pria bersama Dr. Puvanesvaran Velupulai, Konsultan Obstetrician & Gynaecologist. Diskusi ini dipandu oleh Mizz Rosie, founder MDG, yang membuka percakapan dengan menyoroti perbedaan mendasar antara infertilitas pada pria dan wanita. Secara khusus, ia menekankan bahwa pada pria, infertilitas erat kaitannya dengan kualitas sperma meski terdengar sederhana, penanganannya jauh lebih kompleks.

Dr. Puvanesvaran atau Dr. Puvan menjelaskan dengan sangat komprehensif mengenai tiga kategori utama infertilitas pria: pra-testis, testis, dan pasca-testis. Pra-testis mencakup gangguan hormonal seperti hipogonadisme hipogonadotropik, disfungsi ereksi, serta pengaruh penyakit sistemik. Pada kategori testis, penyebabnya bisa berupa varikokel, kelainan genetik seperti sindrom Klinefelter, infeksi, testis tidak turun, hingga paparan racun atau obat-obatan. Sementara itu, pasca-testis mencakup kondisi seperti azoospermia obstruktif dan ejakulasi retrograde, di mana sperma tidak dapat dikeluarkan secara normal.

Tak hanya itu, Dr. Puvan juga membahas lebih lanjut tentang gangguan kualitas sperma seperti oligozoospermia, asthenozoospermia, teratozoospermia, dan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan dari audiens pun sangat spesifik, antara lain: Apa saran terbaik untuk teratozoospermia?, Apakah ejakulasi dini memengaruhi kualitas sperma?, Apakah wasir stadium 4 pada suami bisa memengaruhi kualitas sperma?, Berapa tingkat keberhasilan IVF pada cryptozoospermia?, Mengapa oligozoospermia bisa berkembang menjadi azoospermia?, hingga Apakah teratozoospermia bisa sembuh hanya dengan perubahan gaya hidup?

Satu hal penting yang ditegaskan oleh Mizz Rosie dan Dr. Puvan dalam diskusi ini adalah bahwa tes sperma sangatlah sederhana dan tidak memerlukan waktu lama. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi pria untuk melakukan tes ini lebih awal agar dapat segera mengetahui kondisi serta langkah yang harus diambil.

Kabar baiknya, sister dan paksu juga bisa bertemu langsung dengan Dr. Puvan dalam kesempatan mendatang untuk diskusi lebih personal! Info lengkapnya bisa kamu temukan di Instagram @menujuduagaris.id. Jangan lupa follow agar tidak ketinggalan informasi menarik lainnya!

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, MDG, perempuan, TMC Fertility

Rokok dan Alkohol Bisa Menurunkan Kualitas Sperma, Ini Faktanya

May 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister dan paksu pasti sudah tahu jika Infertilitas atau masalah kesuburan bukan cuma karena faktor dari perempuan saja. Karena sekitar setengah dari kasus infertilitas justru disebabkan oleh faktor dari pihak laki-laki. Salah satu hal yang bisa memengaruhi kesuburan pria adalah gaya hidup termasuk kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol. Wah kenapa begitu ya? Yuk pahami lebih jauh bagaimana salah satu pola hidup ini memengaruhi infertilitas.

Kualitas Sperma Turun pada Perokok dan Peminum

Pada tahun 2020, sekitar 71,4% pria Indonesia berusia 15 tahun ke atas masih merokok, dan angka ini hampir tidak berubah, menjadikan 2020 sebagai puncak tingkat perokok di Indonesia. Penggunaan tembakau mencakup berbagai produk seperti rokok, cerutu, kretek, dan tembakau tanpa asap, namun tidak termasuk rokok elektronik. Hal ini yang kemudian memberikan dampak signifikan pada kesehatan terutama jika sedang mengusahakan program kehamilan baik secara alami maupun berbantu. 

Karena dibandingkan pria yang tidak merokok atau tidak minum alkohol, perokok dan peminum memiliki kualitas sperma yang lebih rendah. Hal ini terlihat dari jumlah sperma yang lebih sedikit, gerakan sperma yang lebih lambat, dan bentuk sperma yang kurang ideal.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah kerusakan di tingkat genetik. Sebuah penelitian ini menunjukkan bahwa pria yang minum alkohol memiliki tingkat kerusakan DNA sperma yang lebih tinggi dibandingkan perokok. Selain itu, sperma mereka juga cenderung belum matang secara sempurna. Yuk kita lihat apa kandungan bahaya yang terkandung!

Kandungan Berbahaya dalam Rokok dan Alkohol

Rokok sendiri mengandung berbagai zat kimia beracun seperti logam berat (kadmium dan timbal), nikotin, tar, dan senyawa lain yang bisa merusak sistem reproduksi pria. Sementara alkohol dapat memicu stres oksidatif, mengganggu keseimbangan hormon, serta merusak materi genetik di dalam sperma.

Kedua kebiasaan ini juga dapat memicu peradangan di tubuh, yang pada akhirnya ikut memengaruhi fungsi testis dan produksi sperma secara keseluruhan.

Apa Saja Dampaknya?

Hal yang mengkhawatirkan selanjutnya adalah adanya kerusakan pada DNA sperma dan sperma yang belum matang, karena bisa menurunkan peluang terjadinya kehamilan. Bahkan ketika pasangan menggunakan bantuan teknologi seperti bayi tabung (IVF) atau ICSI, kualitas sperma tetap menjadi salah satu penentu utama keberhasilan.

Meskipun teknologi ini sudah sangat canggih, tingkat keberhasilannya masih tergolong rendah jika kualitas sperma buruk. Itu sebabnya menjaga gaya hidup sehat menjadi sangat penting, terutama bagi pria yang sedang merencanakan kehamilan bersama pasangannya.

Jadi tidak bisa dianggap remeh bukan? yuk paksu untuk bisa lebih menjaga tubuhnya, karena meski menjalani berbagai upaya medis, termasuk prosedur yang mahal dan emosional seperti IVF. Tapi kalau gaya hidup tidak dijaga, usaha tersebut bisa jadi sia-sia. bagi paksu, ingat bahwa berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol bukan hanya soal kesehatan pribadi, tapi juga soal kesiapan menjadi ayah dari anak yang sehat di masa depan. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Amor, H., Hammadeh, M. E., Mohd, I., & Jankowski, P. M. (2022). Impact of heavy alcohol consumption and cigarette smoking on sperm DNA integrity. Andrologia, 54(7), e14434.
  • https://www.statista.com/statistics/732840/indonesia-male-smoking-rate/?__sso_cookie_checker=failed

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: alkohol, gaya hidup, infertilitas, Pria, rokok

Strategi Hormonal untuk Mengatasi OAT: Ketika Kesuburan Pria Terancam

May 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas bukan cuma soal perempuan. Faktanya, sekitar 50% kasus infertilitas pada pasangan disumbang oleh faktor laki-laki. Nah fakta bahwa sekitar 40% kasus infertilitas pria termasuk dalam kategori idiopatik alias penyebabnya belum jelas. Salah satu kondisi yang cukup sering muncul dalam kasus ini adalah oligoasthenoteratozoospermia (OAT), yang merujuk pada rendahnya jumlah sperma, motilitas (kemampuan bergerak), dan bentuk sperma yang normal.

Menurut kriteria WHO 2010, seseorang dikatakan mengalami OAT jika konsentrasi sperma kurang dari 15 juta/mL, motilitas total di bawah 40%, motilitas progresif kurang dari 32%, dan morfologi sperma normal kurang dari 4%. Untuk mengatasi masalah ini, pendekatan multidisiplin sangat penting, termasuk strategi pengobatan berbasis hormonal yang mulai menunjukkan hasil menjanjikan. Nah MDG akan membahas lebih lanjut bagaimana strategi hormonal ini berpengaruh!

Hubungan Hormon dengan Kesuburan Laki-laki 

Jadi sistem kesuburan laki-laki itu sangat bergantung pada keseimbangan hormon dalam sumbu HPG (hipotalamus–hipofisis–gonad). Gangguan apa pun di titik ini bisa mengacaukan produksi sperma. Beberapa kondisi yang bisa mengganggu sumbu HPG antara lain, obesitas dan diabetes melitus yang tidak terkontrol, Infeksi dan penyakit sistemik, penggunaan obat tertentu seperti anti-androgen dan steroid, konsumsi alkohol berlebihan, paparan zat kimia yang mengganggu hormon dan juga tumor testis atau hormon-secreting tumor seperti tumor Leydig

Nah pada beberapa kasus ternyata laki-laki dengan OAT memiliki kadar testosteron yang rendah, namun kadar hormon FSH dan LH-nya tetap normal, hal ini menunjukkan adanya hipogonadisme fungsional, kondisi yang bisa memburuk karena gaya hidup tidak sehat seperti obesitas.

Kenapa Tidak Bisa Pakai Terapi Testosteron Biasa?

Secara logika, jika testosteron rendah, tinggal diberi saja, kan? Sayangnya, tidak sesederhana itu.

Terapi penggantian testosteron (TRT) memang lazim digunakan untuk pria dengan hipogonadisme, tapi bagi pria yang ingin tetap subur, ini bisa jadi bumerang. Testosteron sintetis justru memberi sinyal ke otak bahwa tubuh sudah cukup hormon, sehingga produksi hormon pemicu sperma (GnRH, FSH, dan LH) ditekan. Akibatnya, kadar testosteron di dalam testis yang sangat penting untuk pembentukan sperma menurun drastis. Untuk itu butuh pendekatan hormonal yang tepat sasaran. 

Pengobatan Hormonal yang Tepat Sasaran

Alih-alih memberi testosteron dari luar, strategi terbaru adalah meningkatkan produksi testosteron alami di dalam testis, terutama dengan menargetkan jalur androgen dalam sel Sertoli, Leydig, dan mioid peritubular. Sebuah temuan bahkan menunjukkan bahwa jika reseptor androgen dalam sel-sel ini dinonaktifkan (seperti pada studi tikus knockout), proses spermatogenesis akan berhenti. Artinya, testosteron lokal di testis sangat krusial, bahkan lebih penting dari testosteron dalam darah.

Namun, kadar testosteron intratestikular optimal untuk merangsang spermatogenesis hingga kini masih menjadi tanda tanya besar. Sehingga dibutuhkan evaluasi menyeluruh sebelum memulai terapi hormonal. Mulai dari menentukan kandidat yang cocok untuk terapi hormonal, memilih jenis terapi yang tepat, menentukan durasi pengobatan dan mengevaluasi hasil terapi secara berkala. Masih banyak perdebatan terkait pilihan terapi, dosis, dan waktu terbaik untuk pengobatan hormonal pada pasien OAT. Jadi jangan lupa tetap konsultasikan dengan dokter ya! informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

  • Çayan, S., Altay, A. B., Rambhatla, A., Colpi, G. M., & Agarwal, A. (2024). Is There a Role for Hormonal Therapy in Men with Oligoasthenoteratozoospermia (OAT)?. Journal of Clinical Medicine, 14(1), 185.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hormonal, infertilitas, laki-laki, OAT

CBAVD & Prosedur PESA dan ICSI: Kenapa Gerak Sperma Penting Banget?

May 9, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Banyak faktor penyebab infertilitas, terkadang dari faktor perempuan tapi juga bisa jadi dari laki-laki. Salah satu kondisi bawaan yang cukup sering jadi penyebab tapi jarang disadari dia adalah Congenital Bilateral Absence of the Vas Deferens (CBAVD). Ini adalah kondisi bawaan di mana saluran vas deferens sebagai jalur utama keluarnya sperma tidak terbentuk sejak lahir. 

Akibatnya, sperma nggak bisa keluar lewat ejakulasi secara alami. Dalam kasus ini tentu satu-satunya solusi adalah menggunakan prosedur seperti PESA dan ICSI. Nah MDG akan membahas secara spesifik bagaimana dua prosedur ini berperan dalam membantu kondisi CBAVD.

Pahami apa itu PESA dan ICSI

Pada kondisi ini sister dan paksu dapat memanfaatkan teknologi medis yang sudah berkembang pesat. Dalam kasus CBAVD salah satu solusi yang bisa diandalkan untuk kasus ini adalah kombinasi dua prosedur:

  • PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration), yaitu pengambilan sperma langsung dari epididimis menggunakan jarum halus dan
  • ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection), yaitu penyuntikan satu sperma langsung ke dalam sel telur.

Meski memiliki infertilitas dimana tidak bisanya mengeluarkan sperma secara alami, tapi  yang menarik, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa motilitas sperma alias “gerak lincahnya sperma” ternyata lebih memengaruhi hasil dari program PESA-ICSI ini.

Dalam studi oleh Jixiang yang melibatkan lebih dari seratus pasangan program bayi tabung dengan sperma hasil PESA, pria dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan seberapa aktif sperma mereka bergerak. Hasilnya cukup jelas, sister. Mereka yang spermanya lebih lincah ternyata menunjukkan hasil yang jauh lebih baik di berbagai tahap penting, mulai dari proses pembuahan, perkembangan embrio, hingga kualitas embrio yang dihasilkan. Nggak cuma itu, peluang kehamilan dan kelahiran bayi sehat juga jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan sperma yang geraknya lambat. Ini jadi bukti kalau motilitas sperma punya peran besar dalam menentukan keberhasilan program bayi tabung, khususnya dengan metode PESA-ICSI.

Jadi, Apa Artinya?

Buat paksu yang sedang berjuang lewat program bayi tabung, terutama dengan kondisi CBAVD, gerak sperma bukan cuma angka tambahan di hasil lab. Motilitas sperma bisa jadi penentu penting keberhasilan pembuahan, perkembangan embrio, hingga kelahiran bayi.

Artinya, saat kamu menjalani prosedur seperti PESA, diskusikan juga soal kualitas sperma terutama motilitasnya dengan doktermu. Ini bisa membantu menentukan strategi terbaik buat kamu dan pasangan.

Ingat, setiap perjalanan menuju kehamilan itu unik. Teknologi bisa bantu banyak, tapi memahami tubuh dan kondisinya adalah langkah awal yang penting. Dan kamu nggak sendiri, sister & paksu. Banyak yang sedang melalui perjuangan yang sama untuk itu saling support itu penting. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Jixiang, Z., Lianmei, Z., Yanghua, Z., & Huiying, X. (2022). Relationship of sperm motility with clinical outcome of percutaneous epididymal sperm aspiration–intracytoplasmic sperm injection in infertile males with congenital domestic absence of vas deferens: a retrospective study. Zygote, 30(2), 234-238.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: gerak, infertilitas, laki-laki, motilitas, sperma

Kenali Teknik Pengambilan Sperma yang Paling Efektif untuk Azoospermia Obstruktif

May 8, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Fakta bahwa infertilitas tidak hanya disebabkan oleh perempuan tapi juga laki-laki, salah satunya adalah berhubungan dengan kualitas dan jumlah sperma. Dan kasus ini disebut sebagai azoospermia, MDG alan membahas lebih lanjut  tentang azoospermia obstruktif, karena pada kasus ini sering sekali ditemui. 

Azoospermia ini bisa juga dipahami sebagai pasca-testis, dimana adanya penyumbatan atau hilangnya koneksi di sepanjang saluran reproduksi. Laki-laki tetap memproduksi sperma tetapi sperma tersebut terhalang untuk keluar. Jenis ini juga disebut azoospermia obstruktif. Ini adalah jenis yang paling umum, yang memengaruhi hingga 40% orang dengan azoospermia.

Nah, ada beberapa teknik pengambilan sperma yang biasa digunakan, dan muncul pertanyaan: mana yang paling efektif? salah satunya antara dua teknik yang paling sering digunakan adalah PESA dan MESA. Tapi sebelum itu pahami dulu yuk apa perbedaan dari dua prosedur ini.

Apa Bedanya PESA dan MESA?

PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration) adalah prosedur yang relatif simpel. Nggak perlu operasi besar, bisa dilakukan cepat, tanpa rawat inap, dan biayanya pun lebih terjangkau. Banyak sumber menyebut PESA cocok dijadikan pilihan pertama apalagi kalau kondisi pasien memungkinkan.

Tapi ada satu hal penting kalau melihat dari angka-angka keberhasilan dalam mengambil sperma yang benar-benar bisa dipakai, justru MESA (Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration) yang unggul.

MESA dilakukan dengan bantuan mikroskop bedah, sehingga proses pengambilannya lebih presisi. Hasilnya? Tingkat pengambilan sperma lebih tinggi, dan peluang untuk kriopreservasi (pembekuan sperma untuk nanti) juga lebih besar.

Apa kerugian MESA?

Mikroskop operasi dan keterampilan khusus diperlukan untuk mengidentifikasi saluran yang paling mungkin berisi sperma. Prosedur ini memerlukan anestesi umum atau spinal dan melibatkan sayatan di skrotum untuk mendapatkan akses ke satu atau kedua testis.

PESA merupakan cara yang cepat dan murah untuk mendapatkan sperma dari epididimis. Namun, MESA merupakan metode yang lebih disukai untuk mendapatkan sperma motil dalam jumlah yang lebih banyak untuk kriopreservasi atau ICSI. Akibatnya, biaya keseluruhan MESA lebih tinggi daripada PESA perkutan.

Teknik ini melibatkan sayatan pada kulit; karena itu, ada risiko kecil terjadinya infeksi luka dan hematoma.

Dalam kasus di mana tidak ada sperma yang ditemukan, maka perlu dilakukan pemeriksaan ke dalam testis untuk mencari sperma yang layak, suatu prosedur yang disebut TESE atau ekstraksi sperma testis.

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Kalau tujuannya benar-benar ingin dapat sperma dengan kualitas terbaik dan peluang simpan jangka panjang, MESA bisa jadi pilihan yang lebih optimal.

Tapi bukan berarti PESA kalah sepenuhnya. Banyak yang tetap memilih PESA karena lebih praktis dan hemat. Bahkan beberapa menyarankan untuk coba PESA dulu, baru lanjut ke MESA kalau ternyata tidak berhasil. Wah bagaimana menarik bukan? jadi sister dan paksu apakah sudah ada bayangan akan pilih prosedur mana? dua-duanya memiliki kelebihan dan kekurangan, untuk itu kalian harus benar-benar berkonsultasi dengan dokter agar tidak terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan. Untuk informasi menarik lainnya bisa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Fraietta, R., De Carvalho, R., & Vasconcellos, F. (2022). WHAT IS THE BEST TECHNIQUE TO RECOVER SPERMATOZOA FROM OBSTRUCTIVE AZOOSPERMIC PATIENTS?. Fertility and Sterility, 118(4), e292-e293.
  • https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/15441-azoospermia?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true
  • https://www.ivftreatmentistanbul.com/pesa-tesa-mesa

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: azoo, infertilitas, laki-laki, MESA, PESA, sperma

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 17
  • Page 18
  • Page 19
  • Page 20
  • Page 21
  • Interim pages omitted …
  • Page 27
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.