• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

infertilitas

Apakah Aspermia pada Pria Muda Penderita Diabetes Berdampak pada Infertilitas?

June 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Aspermia sendiri merupakan kondisi ketika paksu mengalami orgasme tanpa mengeluarkan sperma. Kondisi ini disebut juga sebagai orgasme kering (dry orgasm). Aspermia dapat terjadi sesekali dan hilang dengan sendirinya, tetapi bisa juga terjadi dalam jangka panjang dan berdampak pada kesuburan pria.

Aspermia dapat terjadi ketika air mani atau sperma berkurang. Bisa juga akibat adanya sumbatan pada saluran sperma sehingga air mani dan sperma tidak dapat dikeluarkan saat ejakulasi.

Beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab aspermia adalah Operasi prostat (prostatektomi), Operasi kandung kemih, Vasektomi, Radioterapi pada organ reproduksi pria misalnya testis dan prostat, Kelainan genetik yang mengganggu fungsi organ reproduksi, Kadar hormon testosteron yang terlalu rendah, Ejakulasi terbalik Infeksi, misalnya orchitis dan epididimitis, Varikokel, Sumbatan di saluran sperma atau saluran kemih dan Multiple sclerosis dan Cedera tulang belakang. Sekarang bagaimana jika kondisi ini jika terjadi pada laki-laki dengan diabetes? Yuk ketahui lebih lanjut!

Aspermia dan Diabetes

Diabetes melitus bukan hanya soal gula darah, karena kondisi kronik ini juga bisa menyentuh aspek kehidupan yang lebih dalam dan personal, termasuk kesuburan. Salah satu komplikasi yang jarang dibicarakan tapi nyata terjadi adalah aspermia. Fakta bahwa kondisi saat pria tidak bisa mengeluarkan air mani saat ejakulasi. Sekitar 40% pria penderita diabetes bisa mengalami kondisi ini, dan dampaknya tidak main-main terhadap peluang mereka menjadi seorang ayah. Lalu bagaimana jika pada paksu yang memiliki kondisi ini ingin melakukan program hamil?

Penanganan Melalui Kombinasi Bedah dan Terapi Obat

Masalah ejakulasi seperti ejakulasi kering atau gagal emisi pada pria dengan diabetes bukan hal yang bisa dianggap sepele. Ini bisa menjadi bagian dari komplikasi diabetes jangka panjang, khususnya yang memengaruhi pembuluh darah dan sistem saraf otonom yang mengatur fungsi seksual dan reproduksi.

Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah kombinasi antara tindakan bedah dan terapi medis. Misalnya, bila ditemukan kondisi varikokel (pelebaran pembuluh darah di skrotum), prosedur varikokelektomi dapat dilakukan untuk memperbaiki aliran darah di sekitar testis. Dalam beberapa kasus, bisa juga dilakukan tindakan ekstraksi sperma dari testis (TESE) untuk mengetahui kondisi spermatogenesis secara langsung.

Selain itu, terapi obat juga bisa menjadi bagian penting dalam pemulihan fungsi ejakulasi. Salah satu pilihan yang digunakan adalah Imipramine, yaitu obat antidepresan trisiklik yang telah ditemukan memiliki efek positif terhadap ejakulasi, terutama pada pria dengan diabetes. Obat ini bekerja dengan memengaruhi saraf dan otot yang terlibat dalam proses ejakulasi.

Dengan pendekatan yang tepat dan dilakukan secara bertahap, kemungkinan pemulihan fungsi ejakulasi tetap terbuka. Jika kualitas sperma setelah terapi membaik, prosedur seperti inseminasi intrauterin (IUI) bisa menjadi langkah selanjutnya dalam program kehamilan.

Yang penting untuk diingat paksu, infertilitas bukan hanya soal jumlah sperma tetapi juga bagaimana tubuh bekerja untuk mengeluarkannya. Dan ya diabetes memang bisa memengaruhi proses ini. Tapi kabar baiknya, penanganan tetap bisa dilakukan dengan pendekatan menyeluruh, bukan hanya fokus pada satu aspek saja. Jangan lupa tetap melakukan pemeriksaan ke dokter kalian yaa! Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Aghajani, M. M. R., Golsorkhtabaramiri, M., & Mirabi, P. (2021). Treatment of aspermia (anejaculation) in a diabetic infertile man (a case report). Journal of Clinical and Translational Endocrinology: Case Reports, 20, 100083.
  • https://www.alodokter.com/aspermia

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: aspermia, diabetes, infertilitas, laki-laki, sperma

Terapi Testosteron: Solusi untuk Hipogonadisme, Tapi Bagaimana Dampaknya ke Kesuburan?

June 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pada kasus infertiltas paksu, salah satu terapi penggantian testosteron (testosterone replacement therapy atau TRT) telah menjadi andalan dalam mengobati pria dengan kadar testosteron rendah dan gejala hipogonadisme, seperti kelelahan, penurunan libido, dan gangguan mood. Seiring berkembangnya ilmu medis, kini tersedia berbagai bentuk TRT: dari sediaan oral, bukal, injeksi intramuskular, hingga patch transdermal, implan subdermal, dan semprotan nasal.

MDG saat ini ingin membahas lebih lanjut bagaimana terapi ini bukan tanpa risiko. Karena TRT eksogen berpotensi menekan kesuburan pria. Kok bisa?

Bagaimana TRT Bisa Mengganggu Kesuburan?

Kesuburan berupa hipogonadisme sendiri merupakan kondisi medis dimana kelenjar seks (gonad) pria (testis) atau wanita (ovarium) memproduksi hormon seks dalam jumlah yang kurang atau bahkan tidak memproduksi sama sekali. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan reproduksi, perubahan karakteristik seksual, dan masalah metabolisme. 

Tubuh pria memiliki sistem pengatur hormonal yang disebut sumbu hipotalamus–hipofisis–gonad (HPG). Sistem ini menjaga keseimbangan hormon, termasuk memicu produksi testosteron oleh sel Leydig di testis melalui sinyal hormon LH (luteinizing hormone).

Nah, ketika tubuh menerima testosteron dari luar (TRT eksogen), sumbu HPG “mengira” kadar testosteron sudah cukup — akibatnya, produksi LH ditekan. Ini menyebabkan testis berhenti memproduksi testosteron alami, dan kadar testosteron di dalam testis pun ikut turun drastis. Padahal, testosteron intratestikular ini krusial untuk proses pembentukan sperma (spermatogenesis). Akibatnya? Risiko infertilitas meningkat. Lalu kira-kira ada tidak alternatif untuk menyelesaikan masalah ini?

Alternatif Terapi dalam Meningkatkan Testosteron Tanpa Merusak Kesuburan

Bagi pria yang ingin menaikkan kadar testosteron tanpa mengorbankan kesuburan, terapi alternatif sedang dikembangkan dan sebagian sudah digunakan. Pendekatan ini bertujuan untuk merangsang produksi testosteron alami, bukan menggantikannya dari luar.

Beberapa opsi yang sedang digunakan atau diteliti antara lain:

  • Modulator reseptor estrogen selektif (SERM) seperti clomiphene citrate

  • Gonadotropin, termasuk hCG dan FSH

  • Inhibitor aromatase, yang mengurangi konversi testosteron menjadi estrogen

Meski demikian TRT bisa jadi solusi yang sangat membantu bagi pria dengan defisiensi testosteron. Tapi untuk sister dan paksu yang yang ingin melakukan program hamil, penting untuk berpikir dua kali dan berdiskusi dengan dokter. Terutama berkaitan dengan terapi yang meningkatkan testosteron alami sambil menjaga fungsi testis yang menjadi jalan tengah yang ideal. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Khodamoradi, K., Khosravizadeh, Z., Parmar, M., Kuchakulla, M., Ramasamy, R., & Arora, H. (2021). Exogenous testosterone replacement therapy versus raising endogenous testosterone levels: current and future prospects. F&S Reviews, 2(1), 32-42.
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-hipogonadisme

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hipogonadisme, infertilitas, laki-laki, perempuan, testosteron

Kok Bisa, Gula Darah Menjadi salah satu Penyebab Infertilitas? Ini Penjelasannya

May 31, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Banyak yang mengira infertilitas (susah hamil) banyak disebabkan hormon atau kondisi rahim. Tapi ternyata, masalah metabolik seperti resistensi insulin juga bisa jadi biang kerok yang sering terlewat.

Yup, resistensi insulin yang biasanya dikaitkan dengan diabetes atau sindrom metabolik. Lebih jauh ternyata punya dampak besar ke kesehatan reproduksi wanita. Tapi apa itu resistensi insulin?

Apa Itu Resistensi Insulin?

Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel di  otot , lemak , dan  hati  tidak merespons insulin sebagaimana mestinya. Kondisi ini juga dikenal sebagai gangguan sensitivitas insulin. Dimana insulin sangat penting untuk kehidupan dan mengatur  kadar glukosa (gula) darah. 

Jadi sister dan paksu harus tahu dulu bahwa insulin itu semacam “kunci” untuk membuka pintu sel supaya gula darah bisa masuk dan diubah jadi energi. Nah, pada orang dengan resistensi insulin, pintu selnya jadi ‘ngambek’ alias susah dibuka. Akibatnya, tubuh harus produksi insulin lebih banyak dari biasanya buat nyimbangin gula darah. Lalu mengapa kira-kira ini terjadi?

Penyebab Resistensi Insulin

Resistensi insulin bisa disebabkan oleh gabungan faktor genetik, gaya hidup, dan kondisi medis tertentu. Beberapa orang mungkin memiliki gen bawaan yang membuat mereka lebih rentan, sementara penyebab yang didapat mencakup obesitas (terutama lemak perut), kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi karbohidrat olahan, dan penggunaan obat-obatan tertentu seperti steroid atau obat tekanan darah. Selain itu, gangguan hormonal seperti sindrom Cushing, hipotiroidisme, dan akromegali juga dapat memicu kondisi ini. 

Ada juga kondisi genetik langka seperti sindrom Donohue, Werner, dan lipodistrofi bawaan yang berkaitan dengan resistensi insulin. Karena tidak selalu menunjukkan gejala, diagnosis biasanya didasarkan pada riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan faktor risiko yang dimiliki seseorang. Masalahnya, kondisi ini nggak cuma ngaruh ke metabolisme, tapi juga bisa ganggu kerja organ reproduksi.

Apa Dampaknya ke Kesuburan?

Resistensi insulin bisa bikin banyak hal kacau di sistem reproduksi, misalnya:

  1. Mengganggu kualitas sel telur dan embrio
  2. Menurunkan daya “lengket” rahim buat menempelkan embrio (implantasi)
  3. Mengacaukan keseimbangan hormon penting buat ovulasi
  4. Bikin risiko gagal program bayi tabung makin tinggi

Dan parahnya lagi, resistensi insulin bisa muncul nggak cuma pada penderita PCOS, tapi juga pada wanita yang terlihat sehat tapi punya pola menstruasi nggak teratur atau kelebihan berat badan.

Hal ini juga berdampak berkelanjutan terutama pasca kehamilan, seperti adanya risiko keguguran lebih tinggi, potensi kena diabetes selama hamil, masalah tumbuh kembang janin dan efek jangka panjang ke anak, seperti risiko obesitas dan penyakit metabolik. 

Jadi alangkah baiknya sister lebih skeptis dan segera dikonsultasikan pada dokter, agar mendapatkan penanganannya yang baik obat seperti metformin juga gaya hidup sehat, diet rendah gula, olahraga rutin. 

Karena masalah kesuburan itu bisa datang dari hal-hal yang nggak disangka. Jadi, bukan cuma soal hormon atau rahim, tapi juga metabolisme tubuh secara keseluruhan. Yuk, lebih aware sama kondisi tubuh sendiri dan jangan ragu cek ke dokter kalau ada yang terasa ‘nggak biasa’. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi 

  • Sertorio, M. N., César, H., de Souza, E. A., Mennitti, L. V., Santamarina, A. B., De Souza Mesquita, L. M., … & Pisani, L. P. (2022). Parental high-fat high-sugar diet intake programming inflammatory and oxidative parameters of reproductive health in male offspring. Frontiers in Cell and Developmental Biology, 10, 867127.
  • https://my-clevelandclinic-org.translate.goog/health/diseases/22206-insulin-resistance?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge&_x_tr_hist=true

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: gula darah, infertilitas, insulin, resistensi insulin

Bagaimana Menentukan Pilihan Terbaik untuk ICSI pada Pria dengan Sperma Sangat Sedikit

May 30, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam dunia fertilitas, pria dengan jumlah sperma yang sangat rendah seperti oligozoospermia atau bahkan kriptozoospermia seringkali dihadapkan pada pertanyaan penting, lebih baik menggunakan sperma dari ejakulasi atau langsung dari testis untuk prosedur ICSI (Injeksi Sperma Intrasitoplasma)? Sebelum itu apakah kalian tahu perbedaan antara dua infertilitas itu?

Oligozoospermia dan Kriptozoospermia

Oligozoospermia adalah kondisi ketika jumlah sperma dalam air mani lebih sedikit dari jumlah normal. WHO (2021) menetapkan batas normalnya yaitu sekitar 16 juta sperma per mililiter. Kalau di bawah angka itu, bisa disebut oligozoospermia.

Nah, kondisi ini kadang dikategorikan jadi ringan, sedang, atau berat, tapi sebenarnya pembagian ini nggak menunjukkan penyebab pastinya. Artinya, meski jumlahnya sedikit, belum tentu tahu langsung apa penyebabnya.

Yang penting diingat, diagnosis oligozoospermia harus berdasarkan analisis laboratorium air mani yang dilakukan dengan prosedur ketat sesuai panduan WHO. Jadi, bukan asal tebak-tebakan atau satu kali tes aja.

Sedangkan berdasarkan standar WHO, kriptozoospermia didefinisikan sebagai tidak adanya sperma dalam air mani yang diejakulasi melalui pemeriksaan mikroskopis, tetapi ada dalam sedimen sentrifus. Kriptozoospermia, yang juga dikenal sebagai kriptozoospermia, adalah jenis khusus oligospermia ekstrem, dengan insidensi sekitar 8,73%.4 Karena manifestasi klinisnya yang unik, kondisi ini mudah salah didiagnosis sebagai azoospermia. Lalu kira-kira bagaimana program hamil yang dapat dipilih, salah satunya adalah melalui ICSI dengan metode pengambilan sperma.

ICSI Sebagai Program Hamil

Pada sebuah penelitian dengan pasangan yang menjalani prosedur ICSI, di mana sel telur dibuahi menggunakan sperma dari ejakulasi atau sperma testis yang diambil lewat aspirasi jarum halus. Peneliti kemudian membandingkan beberapa parameter penting: tingkat pembuahan, pembelahan sel, kualitas embrio, dan pembentukan blastokista (embrio tahap lanjut).

Hasilnya menunjukkan bahwa:

  • Pada pria dengan sperma dibawah 1 juta/mL, sperma testis memberikan hasil yang jauh lebih baik. Tingkat pembuahan, pembelahan embrio, dan jumlah embrio berkualitas tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan sperma dari ejakulasi.

  • Pada kasus kriptozoospermia, sperma testis juga lebih unggul secara signifikan dalam hal pembuahan, meskipun keunggulan kualitas embrio tidak terlalu mencolok.

  • Namun, pada pria dengan sperma di atas 1 juta/mL, sperma dari ejakulasi justru menunjukkan hasil yang lebih baik.

Dari temuan di atas sister dan paksu dapat tahu bahwa tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua. Tapi setidaknya konsentrasi sperma bisa menjadi kunci dalam menentukan dari mana sperma sebaiknya diambil untuk prosedur ICSI. Dengan berfokus pada hal ini, nantinya dokter dapat memberikan rekomendasi yang lebih tepat dan personal bagi sister dan paksu yang sedang berjuang menghadapi infertilitas terutama pada paksu. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi  

  • Derakhshan, M., Salehi, P., Derakhshan, M., Naghshineh, E., Movahedi, M., Tehrani, H. G., & Salehi, E. (2024). Should testicular sperm retrieval be implemented for intracytoplasmic sperm injection in all patients with severe oligozoospermia or cryptozoospermia?. Korean Journal of Fertility and Sterility.
  • Liu, H., Luo, Z., Chen, J., Zheng, H., & Zeng, Q. (2023). Treatment progress of cryptozoospermia with Western Medicine and traditional Chinese medicine: A literature review. Health Science Reports, 6(1), e1019.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ICSI, infertilitas, Oligozoospermia dan Kriptozoospermia, Pria

Fakta Merokok dan Dampaknya pada Infertilitas

May 29, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu harus tahu fakta bahwa dalam beberapa dekade terakhir, kualitas reproduksi pria mengalami penurunan di berbagai negara. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya kasus infertilitas pria, penurunan kualitas air mani, hingga gangguan hormon. Banyak faktor yang jadi penyebabnya, dan salah satu yang paling sering disorot adalah gaya hidup, terutama kebiasaan merokok.

Fenomena dampak Rokok dari Berbagai Dunia

Fenomena ini dapat kita lihat dari hasil sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari seribu pria muda usia rata-rata 23 tahun dari berbagai latar belakang etnis. Penelitian ini turut mengevaluasi dampak merokok terhadap kualitas air mani, termasuk fragmentasi DNA sperma, status hormon, kadar zink, dan kesehatan metabolik.

Hasilnya cukup jelas: pada kelompok perokok berat, ditemukan beberapa gangguan signifikan, yaitu:

  • Penurunan volume semen
  • Penurunan jumlah dan konsentrasi sperma
  • Penurunan motilitas sperma
  • Peningkatan fragmentasi DNA sperma
  • Lebih banyak sperma dengan bentuk tidak normal (teratozoospermia)
  • Penurunan kadar zink dalam darah dan semen
  • Gangguan pada kesehatan metabolik

Ternyata dampak Rokok Tidak hanya pada Laki-laki!

Sister kalian pasti sudah tahu bahwa merencanakan kehamilan itu dimulai dari menjaga kesehatan diri sendiri, baik bagi sister maupun paksu. Nah salah satu langkah terpenting adalah berhenti merokok. Karena bukan hanya perokok aktif, perokok pasif pun dapat terkena dampaknya. Merokok terbukti menurunkan kesuburan pada sister dan mengganggu kualitas sperma pada pria.

Pada paksu turut mengalami penurunan tajam pada kualitas semen, kadar zink, dan kerusakan DNA sperma. Selain itu, menjaga pola makan bergizi, konsumsi vitamin E dan C bagi pria, serta susu pra-kehamilan bagi wanita juga penting. Pola hidup sehat dengan olahraga hingga istirahat cukup. Jika perlu, konsultasi ke dokter kandungan bisa membantu mengetahui penyebab gangguan kesuburan dan menentukan langkah terbaik kedepannya.

Sister dan paksu, kalau sedang ikhtiar atau ingin menjaga kesehatan reproduksi, ini waktunya ngobrol serius soal rokok. Karena tentu banyak hal bisa berubah kalau kita lebih peduli sama tubuh sendiri, termasuk soal kebiasaan yang dianggap “biasa” tapi ternyata punya dampak besar. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id untuk menemuman informasi menarik lainnya. 

Referensi

  • Osadchuk, L., Kleshchev, M., & Osadchuk, A. (2023). Effects of cigarette smoking on semen quality, reproductive hormone levels, metabolic profile, zinc and sperm DNA fragmentation in men: results from a population-based study. Frontiers in Endocrinology, 14, 1255304.
  • https://www.alodokter.com/komunitas/topic/cara-cepat-hamil-tapi-seorang-perokok-aktiv

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, perokok

Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Ancaman Tersembunyi pada Pria yang Tampak Sehat

May 28, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu pasti sudah tahu bahwa masalah infertilitas tidak selalu tampak jelas dari luar. Bahkan pada paksu dengan kondisi fisik sehat dan tanpa penyebab infertilitas yang pasti, kualitas sperma bisa saja terganggu. Nah yuk ketahui salah satu faktor tersembunyi yang kini menjadi sorotan adalah stres oksidatif (oxidative stress/OS).

Hubungan Kualitas Sperma dan Stress Oksidatif

Ada sebuah studi yang melibatkan 41 pria yang memiliki pasangan infertil dan mengevaluasi parameter air mani seperti jumlah sperma, motilitas, fragmentasi DNA, serta penanda stres oksidatif seperti ORP (oxidation–reduction potential) dan d-ROM (derivatives of Reactive Oxygen Metabolites).

Dan menemukan fakta menarik yaitu meski para partisipan sebagian besar berusia di bawah 40 tahun, tidak mengalami obesitas, dan memiliki kondisi klinis yang dianggap normal mereka dengan 

  1. Kadar d-ROM dalam darah dan ORP dalam air mani terbukti berkaitan dengan penurunan jumlah sperma.
  2. Motilitas sperma juga dipengaruhi oleh kadar seng serum dan ORP air mani.
  3. Fragmentasi DNA sperma berkaitan erat dengan kadar kolesterol HDL dan seng.

Penanda stres oksidatif di sperma (ORP) dan di darah (d-ROM) ternyata nggak selalu sejalan. Ini menunjukkan bahwa kerusakan sperma bisa disebabkan oleh stres oksidatif lokal maupun sistemik, jadi kita nggak bisa menilai cuma dari salah satunya aja.

Stres oksidatif sendiri merupakan kondisi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh melebihi kapasitas antioksidan untuk menetralkannya. Radikal bebas ini dapat merusak sel, termasuk sel sperma, dengan menyebabkan kerusakan DNA, menurunnya motilitas, hingga kematian sel sperma itu sendiri. Stres oksidatif, terjadi secara sistemik (dalam tubuh) maupun lokal (langsung di sperma).

Bagaimana Perannya dalam Infertilitas Pria?

Pada pria dengan gaya hidup tidak sehat (merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur), stres oksidatif kerap ditemukan tinggi. Namun, bahkan pada pria yang terlihat sehat pun bisa mengalami stres oksidatif lokal di organ reproduksi yang berdampak negatif pada kualitas sperma.

Banyak sister dan paksu yang tidak kunjung hamil, meskipun tidak ditemukan “masalah” medis yang jelas. Sehingga fakta tersebut mendorong pentingnya evaluasi mendalam terhadap stres oksidatif terutama pemeriksaan kesuburan pria. Pendekatan ini juga membuka peluang pengobatan preventif berbasis antioksidan, manajemen stres, hingga perbaikan pola makan.

Infertilitas pria bisa terjadi tanpa gejala atau penyebab yang terlihat. Stres oksidatif adalah “musuh dalam selimut” yang dapat memengaruhi kualitas sperma, bahkan pada pria dengan hasil pemeriksaan dasar yang normal. Pemeriksaan stres oksidatif akghirnya dibutuhkan lebih menyeluruh agar tidak ada yang terlewatkan, dan juga dukungan gaya hidup sehat menjadi langkah penting yang seharusnya mulai diperhitungkan dalam manajemen kesuburan pasangan. 

Referensi

  • Chen, L., Mori, Y., Nishii, S., Sakamoto, M., Ohara, M., Yamagishi, S. I., & Sekizawa, A. (2024). Impact of Oxidative Stress on Sperm Quality in Oligozoospermia and Normozoospermia Males Without Obvious Causes of Infertility. Journal of Clinical Medicine, 13(23), 7158.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, MDG, oksidatif, PDG, perempuan, stress

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 15
  • Page 16
  • Page 17
  • Page 18
  • Page 19
  • Interim pages omitted …
  • Page 27
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.