• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

infertilitas

Infertilitas dan Biaya yang Tak Terhindarkan: Gambaran Beban Sosial dari Sudut Pandang Finansial

June 16, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas bukan hanya perkara medis, tapi juga isu sosial dan ekonomi yang semakin mendapat sorotan di berbagai belahan dunia. Diperkirakan, 22,3% pasangan mengalami infertilitas angka yang mencerminkan bahwa ini bukan masalah individu semata, melainkan sudah menjadi tantangan global dalam ranah kesehatan reproduksi.

Salah satu hambatan utama yang dialami pasangan infertil adalah minimnya informasi mengenai akses layanan dan kesiapan finansial. Akibatnya, banyak yang tidak mendapatkan penanganan dini yang sebenarnya sangat krusial. 

Program Hamil dan Biaya 

Dalam artikel ini ingin menunjukkan sebuah hasil dari penelitian guna memberikan gambaran konkret mengenai alokasi biaya yang diperlukan untuk menangani satu kasus infertilitas, dari perspektif sosial. Angka Biaya dan Realitas Psikososial melibatkan 17 wanita dalam wawancara mendalam, Hasilnya menunjukkan bahwa biaya satu siklus IVF sangat bervariasi tergantung usia, penyebab infertilitas, metode yang digunakan, dan jenis fasilitas kesehatan. Rinciannya sebagai berikut:

  1. Biaya berdasarkan usia: <35 tahun: Rp99,139,468, 35–39 tahun: Rp112,547,433, ≥40 tahun: Rp109,943,598
  2. Biaya berdasarkan penyebab infertilitas: Faktor wanita: Rp94,877,925, Faktor pria: Rp110,292,261 dan Faktor pria dan wanita: Rp114,732,351
  3. Biaya berdasarkan metode IVF: Semi natural: Rp53,673,111, Injeksi hormon: Rp110,548,132
  4. Biaya berdasarkan jenis fasilitas: Fasilitas negeri: Rp102,319,691, Fasilitas swasta: Rp143,823,928

Selain dari sisi ekonomi, aspek psikososial juga tak kalah penting. Rata-rata skor kualitas hidup dengan infertilitas mengalami gangguan kejiwaan, terutama depresi (16,36%) dan kecemasan (16,36%). Ini membuktikan bahwa beban infertilitas bukan hanya soal biaya, tapi juga emosi dan mental yang terkuras.

Infertilitas membawa beban ganda finansial dan psikologis. Biaya tinggi yang dikeluarkan untuk satu siklus IVF berpotensi menyebabkan pengeluaran katastropik, yakni pengeluaran medis yang membebani ekonomi keluarga. Di sisi lain, kualitas hidup dan kesehatan mental perempuan infertil juga berdampak signifikan.

Indonesia dan Infertilitas

Dari realitas ini fakta yang sister dan paksu harus siap hadapi adalah perlunya perhatian lebih besar pada isu infertilitas, baik dari sisi kebijakan publik, edukasi masyarakat, maupun sistem pembiayaan yang lebih inklusif dan terjangkau. Selama 2018-2023, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan UNFPA dan UNICEF melalui Program Better Sexual and Reproductive Health and Rights for All in Indonesia atau BERANI, sudah berupaya meningkatkan kualitas kesehatan dan hak-hak seksual dan reproduksi bagi perempuan dan anak muda di seluruh Indonesia. Salah satu fokus BERANI adalah menyediakan layanan dan informasi kesehatan seksual dan reproduksi yang ramah anak muda.

Selama program berlangsung, banyak pencapaian yang signifikan telah terjadi. Lebih dari 20 kebijakan, strategi advokasi, dan peta jalan telah dikembangkan untuk mempromosikan kesehatan dan hak-hak seksual dan reproduksi. Klinik-klinik swasta juga telah diperkuat untuk menyediakan layanan berkualitas yang ramah bagi kaum muda. Ribuan remaja telah menerima pendidikan seksualitas yang komprehensif dan informasi tentang manajemen kebersihan menstruasi. Ini tentu menjadi salah satu kabar yang menyenangkan untuk sister dan paksu yang sedang berjuang. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id 

Referensi

  • Damayanti, F., Hakimi, M., Anwar, M., & Puspandari, D. A. (n.d.). Cost of illness infertilitas di Indonesia.
  • https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/blog/20240605/2745655/who-1-dari-6-orang-tidak-subur/#:~:text=Selaras%20dengan%20hal%20itu%2C%20selama,lebih%20dari%20600%20ribu%20remaja.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: beban sosial, biaya, biaya inseminasi, finansial, infertilitas

Gaya Hidup Modern dan Penurunan Kualitas Sperma: Bisakah Nutrisi Jadi Solusinya?

June 15, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Ketika berbicara soal kesuburan pria, tentu memiliki banyak faktor yang memengaruhinya diantaranya adalah dari hormon, gaya hidup, hingga nutrisi. Saat ini ditengah gaya hidup yang semakin instan maka penting bagi paksu juga turut memperhatikan nutrisi yang dikonsumsi, karena kebiasaan memakan makanan instan dapat berdampak kepada kesehatan salah satunya adalah kesehatan reproduksi yang lebih spesifik berdampak terhadap kesehatan reproduksi. 

Apalagi jika yang dihadapi berhubungan dengan kualitas sperma maka paksu dapat berfokus pada nutrisi yang baik untuk sperma, tapi kira-kira nutrisi apa itu? yuk bahas lebih lanjut!

Mengenal apa itu DHA dan EPA

Eicosapentaenoic Acid (EPA) dan Docosahexaenoic Acid (DHA) adalah dua jenis utama asam lemak omega-3 yang memiliki peran penting bagi kesehatan. EPA merupakan asam karboksilat rantai panjang yang umumnya ditemukan dalam ikan seperti cod, makarel, salmon, sarden, serta pada fitoplankton, rumput laut, mikroalga, dan ASI. EPA dikenal bermanfaat dalam menjaga kesehatan jantung, menurunkan kadar trigliserida, bersifat anti-inflamasi untuk sistem kardiovaskular dan sendi, serta dapat membantu mengurangi depresi. 

Sementara itu, DHA adalah asam lemak dengan rantai karbon lebih panjang, berperan sebagai komponen struktural utama pada otak, korteks serebral, retina, kulit, sperma, dan testis. DHA sangat rentan terhadap oksidasi, sehingga sumber makanan yang mengandungnya seperti minyak ikan cenderung memiliki daya simpan yang singkat akibat kerusakan oleh radikal bebas. Apakah DHA dan EPA juga dapat memperbaiki kualitas sperma?

DHA dan EPA: Nutrisi Penting untuk Sperma?

Sebuah penelitian yang lakukan oleh Hosseini (2019) turut mengevaluasi Konsentrasi sperma total, Kadar DHA dalam sperma dan konsentrasi DHA dalam plasma mani, dan ditemukan bahwa suplementasi omega-3 secara signifikan meningkatkan motilitas sperma, yaitu kemampuan sperma untuk bergerak menuju sel telur. 

Hasil studi tersebut menyiratkan bahwa suplemen omega-3 mungkin belum tentu meningkatkan jumlah sperma secara keseluruhan, namun dapat membantu meningkatkan kualitas sperma, khususnya dalam hal pergerakan dan lingkungan kimiawi tempat sperma berkembang (plasma mani).

DHA dan EPA, memiliki potensi untuk meningkatkan motilitas sperma dan kandungan DHA dalam plasma mani pria infertil. Meskipun belum terbukti meningkatkan jumlah sperma, peningkatan kualitas ini dapat menjadi salah satu faktor penting dalam membantu keberhasilan program kehamilan.

Suplemen omega-3 dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari pendekatan holistik dalam mengatasi infertilitas paksu, terutama jika disertai dengan pola hidup sehat dan penanganan medis yang sesuai. Namun, konsultasi dengan dokter tetap diperlukan untuk menyesuaikan dosis dan kebutuhan masing-masing individu, karena tubuh paksu satu dengan lainnya berbeda jadi penanganannya juga akan berbeda. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Hosseini, B., Nourmohamadi, M., Hajipour, S., Taghizadeh, M., Asemi, Z., Keshavarz, S. A., & Jafarnejad, S. (2019). The effect of omega-3 fatty acids, EPA, and/or DHA on male infertility: a systematic review and meta-analysis. Journal of dietary supplements, 16(2), 245-256.
  • https://www.halodoc.com/artikel/4-manfaat-dha-dan-epa-yang-perlu-diketahui?srsltid=AfmBOopF4nezCOPC0WlEhF4JIcLevc7Ymqf6Et0aqRBBjUdKQJWXyGwt
  • https://nutrilite.co.id/healthy-lifestyle/uncategorized/mengenal-epa-dha

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, kualitas sperma, nutrisi, omega-3, Pria

Ternyata Asam Lemak Tak Jenuh Ganda Berperan dalam Menurunkan Risiko Depresi

June 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Infertilitas adalah kondisi yang tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga pada kesehatan mental, terutama pada wanita. Ketidakmampuan untuk hamil setelah 12 bulan mencoba bisa menyebabkan tekanan psikologis yang berat. Bahkan, sekitar 31% hingga 58% wanita dengan infertilitas mengalami depresi. Durasi infertilitas yang makin lama dapat memperburuk kualitas hidup, memperparah stres, dan memperbesar risiko gangguan kesehatan mental.

Tapi apakah itu adalah akhir dari segalanya? atau adakah faktor yang dapat mengurangi rasa stress yang terjadi akibat dari infertilitas?, tentu saja dalam konteks ini, penting bagi sister dan paksu mengetahui faktor-faktor yang mungkin dapat membantu mengurangi gejala depresi pada wanita infertil. Tapi apa itu? bahasa lebih lanjut yuk!

Polyunsaturated Fatty Acids (PUFAs) dan Faktor Mengurangi Stress

Meski infertilitas memberi dampak pada mental tapi tentu saja tubuh harus diperhatikan, Salah satu faktor potensial dapat membantu adalah nutrisi, khususnya peran asam lemak tak jenuh ganda polyunsaturated fatty acids (PUFAs) seperti omega-3 dan omega-6.

PUFAs adalah jenis lemak sehat yang memiliki banyak ikatan rangkap dan berperan dalam berbagai proses biologis, termasuk regulasi peradangan. Omega-3 umumnya bersifat anti inflamasi, sedangkan omega-6 cenderung proinflamasi. Keseimbangan antara dua jenis asam lemak ini menjadi penting, karena peradangan kronis telah dikaitkan dengan depresi dan infertilitas.

Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi DHA (salah satu komponen omega-3) dapat menurunkan risiko infertilitas. Sementara itu, rasio omega-6/omega-3 yang terlalu tinggi justru dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi dan infertilitas.

Sister pernah dengar nggak sih, kalau asupan lemak baik bisa berpengaruh ke mood? Nah, ternyata ini juga berlaku buat sister yang sedang berjuang dengan infertilitas.

Sebuah penelitian dari NHANES (National Health and Nutrition Examination Survey) coba melihat apakah ada hubungan antara konsumsi PUFA (lemak tak jenuh ganda) dan gejala depresi pada wanita infertil. Mereka pakai alat yang namanya PHQ-9 buat menilai gejala depresi alat standar yang biasa dipakai dalam dunia medis.

Hasilnya? Cukup menarik, sister. Wanita yang mengonsumsi PUFA dalam jumlah sedang (bukan yang paling tinggi, tapi juga bukan yang paling rendah) justru punya risiko gejala depresi yang lebih rendah dibanding yang asupannya paling sedikit. Jadi, bisa dibilang, menjaga asupan lemak baik itu penting, bukan cuma buat kesuburan, tapi juga buat kesehatan mental.

Artinya, asupan sedang dari berbagai jenis PUFA dapat dikaitkan dengan penurunan kemungkinan mengalami gejala depresi.

Apa Artinya untuk Perawatan Sister dengan Infertilitas? keadaan tersebut menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan kaya omega-3 dan omega-6 PUFA dalam jumlah seimbang bisa menjadi bagian dari strategi untuk mendukung kesehatan mental wanita dengan infertilitas. Bukan sebagai pengganti terapi psikologis atau medis, tapi sebagai pendukung yang memperkuat pendekatan menyeluruh. Jadi sister dan paksu penting untuk mengetahui faktor.

Referensi

  • Hong, Y., Jin, X., & Shi, L. (2024). Association between polyunsaturated fatty acids and depression in women with infertility: a cross-sectional study based on the National Health and Nutrition Examination Survey. Frontiers in Psychiatry, 15, 1345815.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, inflamasi, Polyunsaturated Fatty Acids, proinflamasi, stress

Infertilitas dan Kesepian yang Tak Terlihat: Menggali Pengalaman Emosional Pria dan Wanita

June 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan sosial. Pengalaman sister dan paksu dalam menghadapi infertilitas sangat dipengaruhi oleh dukungan lingkungan sekitar, MDG ingin menunjukkan bagaimana pria dan wanita memaknai pengalaman mereka dalam konteks dukungan sosial.

Infertilitas dan Dukungan Sosial

Usaha pejuang dua garis sering kali membawa beban emosional yang berat dan dapat berdampak pada kesehatan mental, termasuk meningkatkan risiko depresi. Faktor-faktor pemicunya antara lain tekanan untuk melacak siklus, mengikuti pengobatan dan pemeriksaan, harapan sosial tentang kehamilan, perasaan gagal, serta pengaruh perubahan hormonal akibat terapi kesuburan. Obat-obatan seperti klomifen dan gonadotropin juga dapat menyebabkan efek samping psikologis seperti depresi, kecemasan, dan gangguan tidur. Kombinasi stres emosional dan perubahan hormon ini membuat pengalaman PDG semakin menantang secara mental.

Bahkan sebuah penelitian menemukan bagaimana pengalaman emosional mereka yang menghadapi infertilitas mereka merasakan isolasi dan kesepian, stigma dan sentimen kesalahpahaman, reaksi sosial yang tidak sensitif dan dukungan yang tidak membantu

Yang membuat lebih rentan lagi bahwa pada wanita lebih sering melaporkan pengalaman-pengalaman ini, terutama dalam bentuk tekanan sosial dan rasa tidak dimengerti oleh orang-orang terdekat. Di sisi lain, pria juga mengungkapkan perasaan tertekan dan distigma, namun mereka merasa jauh lebih diabaikan dalam diskursus publik mengenai infertilitas, meskipun turut merasakan dampak yang sama berat.

Mengapa demikian? Kebutuhan Pemahaman pada Ruang Sosial

Pada keadaan tersebut mereka cenderung menunjukkan bahwa perasaan keterasingan yang dirasakan oleh individu dengan infertilitas sebagian besar bersumber dari minimnya pemahaman masyarakat terhadap kondisi ini. Ketika orang-orang di sekitar tidak memiliki pengalaman serupa atau gagal menunjukkan empati, rasa kesepian menjadi semakin dalam.

Karena itu, penting untuk tidak hanya membangun kesadaran di kalangan penyintas infertilitas, tetapi juga mengedukasi masyarakat luas agar lebih peka dan mendukung. Dukungan sosial yang efektif dan empatik dapat menjadi kekuatan besar dalam menjaga kesehatan mental mereka.

Infertilitas bukan sekadar diagnosis medis. Ini adalah pengalaman hidup yang kompleks, menyentuh identitas, hubungan, dan kesejahteraan emosional. Baik sister maupun paksu sama-sama membutuhkan ruang untuk didengar dan dimengerti. Dengan membuka percakapan yang lebih inklusif, kita dapat mulai mengikis stigma dan membangun lingkungan yang lebih suportif bagi semua yang sedang berjuang. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Pinzon, M., & Rotoli, S. (2022). A qualitative exploration of social support in males and females experiencing issues with infertility. Cureus, 14(9).
  • https://www.get-carrot.com/blog/infertility-and-depression-a-complex-relationship

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: emosional, infertilitas, Kesepian

Mampukah Kedekatan dari Keluarga Mengurangi Pikiran Irasional pada Perempuan yang Mengalami Infertilitas?

June 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas bisa jadi salah satu pukulan terberat dalam hidup baik pada sister maupun paksu, Meski demikian faktor standar sosial  lebih banyak menekankan perempuan. Pada budaya tertentu tidak lain di Indonesia menjadi seorang ibu bahkan dianggap sebagai bagian dari identitas dan harga diri perempuan. Ketika kehamilan tak kunjung datang, banyak perempuan yang mulai dihantui pikiran-pikiran irasional seperti merasa gagal, tidak layak, atau kehilangan arti hidup.

Hal ini tentu tidak lain dipengaruhi oleh ruang yang mengkonstruksi perempuan, Perempuan diajarkan untuk tunduk, patuh, dan memiliki sumbu sabar tak terhingga semata demi menyempurnakan visi masyarakat patriarkis mengenai sosok istri dan ibu ideal. Para perempuan diajarkan bahwa tujuan utama menjadi perempuan adalah menjadi tiang keluarga dan bersama itu pula dibebankan pula segala tanggung jawab dan tugas menjaga keutuhan, kedamaian, dan keharmonisan keluarga kepada perempuan seorang. Peran ganda ini akhirnya menjadi kesalahan jika perempuan tidak berhasil hamil terlepas tidak diketahui siapa penyebab infertilitasnya. Dilain sisi keluarga atau orang terdekat memiliki peran yang sangat signifikan menjadi support system pada mereka yang juga merupakan pejuang dua garis. 

Peran Keluarga dalam Pemberdayaan Perempuan Infertil 

MDG menemukan sebuah studi menarik yang mencoba menjawab pertanyaan penting ini bisakah dukungan keluarga membantu mengurangi tekanan psikologis akibat infertilitas? Dalam studi tersebut menerapkan family-centered empowerment model (model pemberdayaan berbasis keluarga). 

Model pemberdayaan berbasis keluarga dalam konteks infertilitas perempuan itu intinya ngajak keluarga, terutama pasangan, buat bareng-bareng ngadepin situasi ini. Jadi bukan cuma perempuan saja yang dibebani, tapi keluarga juga ikut belajar tentang penyebab dan cara penanganannya, saling dukung secara emosional, dan ambil keputusan bareng. Dengan cara ini, perempuan yang sedang berjuang punya support system yang solid, bikin dia nggak merasa sendirian, lebih percaya diri, dan lebih siap jalani proses pengobatan atau program hamil.

Penelitian yang mencoba mengujikan kepada 80 pasangan infertil, yang dibagi menjadi dua kelompok intervensi dan kontrol. Dan hasilnya skor pikiran irasional turun drastis, Model pemberdayaan berbasis keluarga terbukti efektif dalam mengurangi pikiran irasional perempuan yang mengalami infertilitas. Pendekatan ini bukan hanya memperkuat mental perempuan, tapi juga mempererat hubungan dalam keluarga, sehingga mereka tidak merasa sendirian menghadapi perjuangan ini.

Kalau kamu sedang menjalani perjalanan serupa, ingatlah: kamu nggak sendiri. Libatkan pasanganmu, bangun komunikasi yang terbuka, dan jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Kadang, kekuatan kita justru muncul saat kita mau membuka diri dan menerima dukungan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Modarres, M., Abunasri, M., Alhani, F., & Ebrahimi, E. (2022). The effectiveness of implementing family-centered empowerment model on irrational thoughts of Iranian infertile women: a randomized clinical trial. Journal of Caring Sciences, 11(4), 224.
  • https://www.perempuanberkisah.id/2022/09/10/menjadi-ibu-bukanlah-tujuan-mutlak-melainkan-pilihan-sadar-perempuan/#:~:text=%E2%80%9CSudah%20bagus%20ada%20yang%20melamar,foto%20idul%20fitri%20setahun%20sekali?

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: budaya, infertilitas, keluarga, kontruksi sosial, perempuan, stress

Ketika Infertilitas Tak Hanya Soal Fisik, tapi Juga Luka Psikologis

June 11, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas bukan hanya soal tubuh yang sulit hamil. Bagi banyak wanita, diagnosis infertilitas adalah awal dari roller coaster emosional disana berisikan harapan, kegagalan, terapi hormon, hingga metode seperti IVF yang menguras tenaga, emosi, dan isi dompet. Pada artikel kali ini MDG akan membahas lebih detail bagaimana dampak IVF pada psikologis.

IVF dan Mental Health

Meski IVF kerap membawa harapan, realitanya tak selalu indah. Banyak dari wanita yang menjalani prosedur ini mengalami tekanan psikologis berat kecemasan, ketakutan, depresi, dan bahkan relasi yang terganggu. Bahkan dalam sebuah studi menunjukkan 76% wanita infertil melaporkan gejala kecemasan nyata saat berkunjung ke klinik fertilitas. Kecemasan menjadi reaksi pertama yang paling umum muncul, bahkan sebelum prosedur dimulai.

Tidak berhenti di sana, tekanan mental ini kerap menjalar ke kehidupan seksual pasangan. Penurunan gairah, nyeri saat berhubungan, hingga sulit orgasme. Tentu saja ini memengaruhi kepuasan seksual dan sayangnya, malah bisa memperburuk kondisi infertilitas itu sendiri. Pertanyaannya, apakah cukup hanya mengandalkan prosedur medis? Jawabannya tidak selalu.

Bagaimana Kata Psikologis?

Berbagai intervensi psikologis kini digunakan untuk membantu pasangan infertil, seperti terapi psikoanalitik, konseling berbasis kesadaran, hingga pendekatan kolaboratif. Namun, sebagian besar metode ini masih bersifat terbatas dan belum menyentuh akar kebutuhan emosional pasien secara menyeluruh.

Karena itu, pendekatan pemberdayaan psikologis mulai dilirik sebagai alternatif yang lebih luas dan mendalam. Pemberdayaan psikologis bukan sekadar semangat-positif-bersama-motivasi”, tapi sebuah pendekatan ilmiah yang telah dikembangkan dan divalidasi. Dalam paket pemberdayaan yang dirancang oleh Bahrami Kerchi dan timnya (2019), wanita infertil diberikan teknik khusus untuk membangun kepercayaan diri, mengelola kecemasan, dan menghadapi tekanan sosial maupun seksual yang timbul akibat infertilitas. Hasilnya? Signifikan Studi-studi menunjukkan pemberdayaan ini berhasil mengurangi stres dan depresi. 

Selain pemberdayaan psikologis, Terapi Perilaku Dialektis (Dialectical Behavior Therapy / DBT) juga mulai dilirik dalam konteks infertilitas. DBT menggabungkan strategi perilaku kognitif dengan prinsip-prinsip mindfulness. Awalnya dikembangkan untuk gangguan borderline personality, kini pendekatan ini terbukti menjanjikan untuk gangguan kecemasan, depresi, bahkan trauma.

Infertilitas tidak bisa hanya ditangani dari sisi fisik. Perlu pendekatan yang lebih menyeluruh yang menyentuh sisi emosional, sosial, dan psikologis wanita.

Jika sister atau orang terdekatmu sedang berjuang dalam proses ini, ingatlah bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan reproduksi. Dan kabar baiknya, sekarang sudah ada pendekatan yang secara ilmiah terbukti mampu membantu. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Kerchi, A. B., Manshaee, G., & Keshtiaray, N. (2021). The Effect of the Psychological Empowerment and Dialectical Behavior Therapy on Infertile Women’s Anxiety and Sexual Satisfaction in Pretreatment Phase of In Vitro Fertilization. Journal of Midwifery & Reproductive Health, 9(3).

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: fisik, infertilitas, mental health, psikologis

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 13
  • Page 14
  • Page 15
  • Page 16
  • Page 17
  • Interim pages omitted …
  • Page 27
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.