• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

infertilitas

HPV dan Reproduksi: Dari Harapan Pencegahan Kanker hingga Tantangan pada Program Hamil

June 24, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Human papillomavirus (HPV) bukan cuma dikenal sebagai penyebab utama kanker serviks, tapi juga mulai dilirik karena potensi dampaknya terhadap kesuburan. Dalam dua dekade terakhir, penelitian tentang HPV semakin berkembang dari upaya pencegahan lewat vaksin, hingga eksplorasi perannya dalam teknologi reproduksi berbantu (assisted reproductive technology/ART).

MDG kali ini akan membahas dua sisi dari HPV selain sebagai ancaman yang bisa dicegah melalui vaksinasi, dan sebagai faktor yang perlu diperhatikan karena berdampak pada infertilitas.

Vaksin HPV: Harapan Nyata untuk Mengakhiri Kanker Serviks

Kanker serviks masih menjadi tantangan besar, terutama di negara-negara berkembang. Sementara negara maju mencatat penurunan signifikan berkat program skrining dan vaksinasi HPV yang terstruktur, negara-negara berpenghasilan rendah justru masih menanggung beban terbesar, salah satu penyebabnya adalah karena akses terhadap vaksin dan pemeriksaan dini yang sangat terbatas.

Kenapa Vaksin Ini Penting?

Infeksi HPV yang berlangsung lama (persisten) terbukti dapat memicu transformasi sel serviks menjadi sel kanker. Vaksin HPV bekerja dengan cara merangsang sistem kekebalan tubuh agar siap melawan virus sebelum menyebabkan infeksi kronis atau kerusakan. Karena itu, pemberian vaksin paling efektif dilakukan pada usia remaja, sebelum terpapar virus lewat kontak seksual.

Kini, vaksin HPV telah masuk dalam program imunisasi nasional di banyak negara. Bahkan, skrining kanker serviks kini beralih ke deteksi DNA HPV sebagai metode utama, sesuai dengan rekomendasi WHO.

Namun, sekitar 86% kasus kanker serviks masih terjadi di negara-negara dengan akses terbatas terhadap vaksinasi dan skrining. Ini menciptakan ketimpangan besar dalam pencegahan kanker serviks global.

Selain akses dan biaya, tantangan besar lainnya adalah edukasi masyarakat dan stigma. Masih ada anggapan bahwa vaksin HPV berkaitan dengan promosi aktivitas seksual dini, padahal faktanya, vaksin ini bersifat preventif dan tidak berkaitan dengan perilaku seksual penerima. Dibutuhkan pendekatan komunikasi yang sensitif namun berbasis bukti untuk menghapus keraguan ini.

Jika vaksinasi dan skrining dilakukan secara merata, kanker serviks bukan tidak mungkin bisa dieliminasi di masa depan. Tapi ini tentu membutuhkan komitmen jangka panjang dari berbagai pihak termasuk pemerintah, tenaga kesehatan, dan komunitas.

HPV dan Kesehatan Reproduksi

Selain sebagai penyebab utama kanker serviks, HPV juga sering dikaitkan dengan masalah infertilitas dan keberhasilan program hamil berbantu seperti inseminasi buatan dan bayi tabung (ART).

Infeksi HPV diketahui dapat berdampak pada kesuburan dan kehamilan, termasuk memengaruhi kualitas hasil dari prosedur ART. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pria dengan gangguan reproduksi lebih berisiko mengalami infeksi HPV dibandingkan pria subur yang pada akhirnya bisa berdampak pada pasangan dan potensi terjadinya kanker serviks.Hal ini cukup mengkhawatirkan, karena infeksi HPV dalam semen dapat menurunkan kualitas sperma dan mengganggu fungsi reproduksi. 

Sedangkan pada pasangan yang menjalani ART biasanya sudah melalui perjalanan panjang dan emosional. Jika infeksi HPV ternyata terbukti memengaruhi kualitas embrio atau keberhasilan implantasi, maka skrining dan penanganan HPV sebelum ART bisa menjadi langkah strategis dalam meningkatkan peluang keberhasilan.

HPV bukan sekadar virus yang memicu kanker serviks. Bukti-bukti ilmiah yang mulai bermunculan menunjukkan bahwa dampaknya bisa meluas hingga ke masalah kesuburan, terutama pada pasangan yang tengah menjalani program hamil berbantu. Infeksi yang mungkin tak bergejala ini bisa memengaruhi kualitas sperma, embrio, bahkan menurunkan peluang keberhasilan prosedur ART.

Di sisi lain, vaksinasi dan skrining HPV telah terbukti efektif dalam mencegah kanker serviks dan berpotensi memiliki peran penting juga dalam upaya menjaga kualitas reproduksi. Oleh karena itu, penting bagi sister dan paksu untuk mulai aware dengan HPV karena pencegahan, deteksi dini, dan kesadaran akan dampaknya dalam konteks kesuburan perlu terus disuarakan, bukan hanya untuk perempuan, tapi juga laki-laki.

Dengan edukasi yang tepat, akses layanan yang adil, dan komitmen bersama, kita bisa melangkah menuju masa depan di mana kanker serviks bisa dieliminasi dan keberhasilan program hamil bisa terjamin. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Illah, O., & Olaitan, A. (2023). Updates on HPV vaccination. Diagnostics, 13(2), 243.
  • Tramontano, L., Sciorio, R., Bellaminutti, S., Esteves, S. C., & Petignat, P. (2023). Exploring the potential impact of human papillomavirus on infertility and assisted reproductive technology outcomes. Reproductive biology, 23(2), 100753.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: HPV, infertilitas, kanker

Hati-hati dengan Paparan Ftalat! Bisa Pengaruhi Kualitas Sperma

June 23, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Pernah dengar tentang phthalates alias ftalat? Bahan kimia ini sering ditemukan di produk sehari-hari, seperti plastik, parfum, sabun, hingga produk perawatan tubuh. Bahan yang ternyata sister dan paksu sering temui ini menunjukkan bahwa zat ini bisa berdampak pada kualitas sperma pria. Wah bagaimana bisa terjadi dan bagaimana cara berdampak ke sperma, yuk pahami lebih lanjut!

Apa itu Phthalates alias Ftalat, dan Adakah Undang-Undang yang Mengatur?

Ftalat atau ester ftalat adalah bahan kimia yang secara umum digunakan sebagai plasticizer yang ditambahkan ke dalam bahan plastik untuk meningkatkan kelenturan, transparansi dan daya tahannya. Ftalat digunakan secara luas untuk produk yang umum digunakan oleh manusia seperti kemasan plastik, mainan anak, kosmetik dan obat-obatan.

Mengapa bahan ini membahayakan? Karena tidak adanya ikatan konten antara ftalat dan plastik, maka tidak mudah sekali terlepas ke lingkungan dengan pemanasan atau penggunaan pelarut kuat. Saat ftalat sudah terlepas ke lingkungan maka akan mudah terpapar ke manusia melalui debu, air, dan udara.

Hal ini sudah turut diatur dalam Undang-undang Nomor HK.03.1.23.07.11.6664 tahun 2011 yang mengatur tentang ambang batas beberapa jenis ftalat sebagai bahan pemlastis dalam kemasan pangan dengan berbagai konsentrasi. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor : 55/M-IND/PER/11/2013 yang mengatur penggunaan ftalat pada mainan anak tidak boleh melebihi 0,1%. 

Paparan Bahan Kimia Ini Bisa Pengaruhi Jumlah Sperma

Beberapa bahan kimia yang sering ditemukan di plastik, seperti ftalat, ternyata bisa berdampak pada kesehatan reproduksi laki-laki. Zat turunan ftalat yang masuk ke tubuh baik lewat urin atau cairan semen terkait dengan penurunan jumlah sperma. Contohnya seperti:

  1. MBP (monobutyl phthalate): bisa berasal dari produk perawatan pribadi seperti sampo, sabun cair, dan parfum.
  2. MBzP (monobenzyl phthalate): sering ditemukan pada lantai vinyl atau bahan pelapis berbahan plastik.
  3. DEHP (di-(2-ethylhexyl) phthalate): banyak digunakan dalam plastik lunak seperti kemasan makanan, botol minum, atau bahkan selang medis.

Semakin tinggi kadar zat-zat ini di tubuh, jumlah sperma bisa makin rendah. Artinya, paparan dari lingkungan sekitar termasuk makanan yang dibungkus plastik atau produk harian yang kita pakai bisa mempengaruhi kualitas sperma.

Meski begitu tidak semua metabolit ftalat menunjukkan efek buruk. Beberapa zat lain seperti MEP, MMP, dan MEHP tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan parameter kualitas sperma seperti jumlah, gerakan (motilitas), atau bentuk (morfologi).

Dari artikel MDG kali ini, kami ingin memberikan informasi bawah memang ada pengaruh dari paparan ftalat tertentu terhadap kesuburan pria, khususnya pada jumlah sperma. Meskipun begitu, tingkat kepastian bukti ini masih tergolong “sedang”, artinya belum 100% pasti. Namun perlu untuk mengurangi paparan ftalat bisa jadi langkah awal yang baik misalnya dengan memilih produk bebas ftalat, tidak memanaskan makanan dalam wadah plastik, atau menghindari parfum dan produk perawatan yang tidak jelas kandungannya. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Cao, S., Meng, L., Bai, H., Yang, W., Hu, X., & Li, X. (2024). The association between ethylene oxide and testosterone in the United States population: a cross-sectional study based on the National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) 2013–2016. Endocrine, 86(2), 850-859.
  • chrome-extension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://bbkk.kemenperin.go.id/wp-content/uploads/brosur/brosur%20ftalat.pdf

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ftalat, infertilitas, sperma

Ketahui Bahaya Konsumsi Mie Instan yang Mengandung Etilen Oksida Pada Kesehatan Reproduksi!

June 21, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Kita mungkin sudah familiar dengan etilen oksida (EtO) ia merupakan salah satu bahan kimia industri yang bisa mencemari lingkungan. Dan akhir-akhir ini kandungan tersebut ditemukan di makanan yang sering kita temui. Fakta yang tidak kalah penting bahwa zat tersebut ternyata punya hubungan dengan hormon laki-laki, yaitu testosteron?

Ketahui Bahaya Bahan Kimia etilen oksida (EtO)

Paparan EtO terbukti menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius termasuk kanker, kerusakan saraf, gangguan sistem reproduksi, dan kerusakan organ. Paparan jangka panjang terhadap EtO juga dapat meningkatkan risiko kanker pada paru-paru, perut, dan sistem saraf.

Banyak fakta yang berbasis penelitian turut menunjukkan bagaimana paparan EtO dapat menyebabkan kerusakan saraf dan gangguan neurologis pada manusia. Bahkan, paparan EtO dapat mempengaruhi fungsi sistem reproduksi manusia. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Toxicological Sciences, paparan EtO dapat menyebabkan kerusakan sperma pada pria dan kelainan pada ovum pada wanita.

Salah satu makanan yang ditemukan ada EtO dalam produksi mie instan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih makanan yang lebih sehat dan menghindari mie instan sebagai makanan yang sering dikonsumsi. Selain pada mi instan bahan kimia ini juga banyak digunakan dalam berbagai industri. 

EtO ditemukan terutama dalam produksi etilen glikol, yang digunakan dalam pembuatan berbagai produk seperti antibeku, tekstil, plastik, deterjen, dan perekat. Selain itu, EtO juga digunakan sebagai agen sterilisasi untuk peralatan medis dan produk lainnya yang tidak dapat disterilkan dengan panas atau uap, seperti peralatan medis sekali pakai. 

Paparan EtO dan Testosteron

Disisi lain penelitian dari Wang tahun 2023 menemukan bahwa orang yang punya paparan etilen oksida (EO) lebih tinggi yang diukur lewat kadar HbEO dalam darah ternyata juga punya kadar hormon testosteron yang lebih tinggi, terutama pada pria. Jadi, makin banyak EO yang masuk ke tubuh, makin tinggi juga kadar testosteronnya. 

Efek ini paling terlihat pada pria, sementara pada wanita tidak sekuat itu. Tapi, perlu diingat, meskipun testosteron naik, EO tetap tergolong zat berbahaya yang bisa meningkatkan risiko kanker dan penyakit lainnya. Penemuan ini membuka wawasan baru bahwa bahan kimia dari lingkungan bisa memengaruhi hormon tubuh kita, dan masih perlu banyak penelitian untuk tahu cara kerjanya lebih jelas.

Paparan etilen oksida memang memberikan gambaran yang kompleks di satu sisi bisa memengaruhi kadar hormon seperti testosteron, tapi disisi lain juga membawa risiko besar terhadap kesehatan, mulai dari kanker, gangguan saraf, hingga kerusakan sistem reproduksi. Fakta bahwa EtO bisa ditemukan dalam makanan sehari-hari seperti mi instan dan dalam berbagai produk industri membuat kita perlu lebih waspada dalam memilih apa yang kita konsumsi dan gunakan. Meski tubuh manusia punya kemampuan adaptasi, tidak ada salahnya untuk mulai membatasi paparan terhadap zat berbahaya ini. Yuk, lebih bijak memilih makanan dan produk, demi menjaga kesehatan jangka panjang kita dan orang-orang tercinta. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Wang, H., He, H., Wei, Y., Gao, X., Zhang, T., & Zhai, J. (2023). Do phthalates and their metabolites cause poor semen quality? A systematic review and meta-analysis of epidemiological studies on risk of decline in sperm quality. Environmental Science and Pollution Research, 30(12), 34214-34228.
  • https://fkm.unair.ac.id/2023/11/17/bahaya-zat-etilen-oksida-yang-sering-ditemukan-di-produk-mie-instan-bagi-tubuh/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: EtO, infertilitas, laki-laki, mi instan, reproduksi

Kenali apa itu Infertilitas Oligospermia pada Laki-laki dan Apa Solusinya!

June 19, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Diantara infertilitas yang banyak menimpa laki-laki salah satunya adalah mengalami oligospermia, yaitu kondisi di mana jumlah spermanya di bawah normal. Tapi kadang, masalahnya bisa jadi menjadi semakin kompleks karena bukan hanya karena jumlahnya sedikit tapi juga karena kualitas DNA sperma-nya rusak.

Jadi meskipun sperma itu masih bisa bergerak dan membuahi sel telur, kalau DNA-nya rusak, bisa bikin proses pembuahan jadi gagal total. Salah satu cara mengecek kerusakan ini adalah lewat uji TUNEL, yang melihat berapa banyak sperma dengan DNA yang terfragmentasi.

TUNEL Assay: Cara Mengecek Kerusakan DNA di Sperma

DNA dalam sperma punya peran penting dalam proses kehamilan mulai dari pembuahan sampai perkembangan janin. Kalau DNA-nya rusak, bisa bikin sperma sulit membuahi atau menyebabkan keguguran. Kerusakan ini disebut sebagai fragmentasi DNA sperma, dan ternyata lebih sering terjadi pada pria yang mengalami infertilitas. 

Nah salah satu cara untuk mengecek apakah ada kerusakan DNA di sperma adalah dengan tes terminal deoxynucleotidyl transferase dUTP Nick-End labeling (TUNEL). Tes ini bisa langsung mendeteksi kerusakan, baik yang ringan maupun berat, pada untaian DNA sperma. Biasanya, TUNEL dilakukan dengan alat bernama flow cytometer, yang membantu membaca hasilnya secara lebih akurat dan cepat. Hasil dari tes ini bisa membantu dokter memahami penyebab infertilitas yang nggak kelihatan dari hasil analisis sperma biasa. Bagaimana jika setelah dibaca ditemukan kerusakan pada sperma?

Ketika Sperma Ejakulasi Gagal dan Ditemukan Kerusakan pada Sperma

Pada beberapa kasus oligospermia, sperma yang keluar saat ejakulasi ternyata punya tingkat kerusakan DNA yang tinggi. Nah, disinilah banyak metode berbantu terutama dalam membantu mengambil sperma langsung dari testis lewat prosedur TESE (Testicular Sperm Extraction).

Ternyata, sperma yang diambil dari testis sering kali punya kualitas DNA yang jauh lebih baik. Kenapa? Karena sperma ejakulasi bisa rusak saat melewati saluran reproduksi, sementara sperma testis belum mengalami “perjalanan panjang” itu.

Buat pasangan dengan kondisi seperti ini oligospermia ditambah dengan sperma rusak banyak yang akhirnya berhasil hamil setelah mencoba bayi tabung lagi, tapi pakai sperma testis.

Menariknya, keberhasilan ini tidak tergantung pada usia pasangan, jumlah upaya sebelumnya, atau jumlah embrio yang ditransfer. Justru yang membedakan adalah dari mana sperma itu diambil.

Kalau paksu punya jumlah sperma yang sedikit dan kualitas DNA-nya buruk, sudah saatnya pertimbangkan jalur lain. Karena kadang, bukan tubuhnya yang gagal tapi strateginya yang perlu disesuaikan.

Dan siapa tahu, sperma testis-lah yang akhirnya jadi program hamil yang berhasil dalam perjalanan dua garis kalian.

Referensi

  • Mehta, A., Bolyakov, A., Schlegel, P. N., & Paduch, D. A. (2015). Higher pregnancy rates using testicular sperm in men with severe oligospermia. Fertility and sterility, 104(6), 1382-1387.
  • Sharma, R., Iovine, C., Agarwal, A., & Henkel, R. (2021). TUNEL assay—Standardized method for testing sperm DNA fragmentation. Andrologia, 53(2), e13738.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, lakilaki, Oligospermia

Bahaya Kecemasan dan mempertanyakan Mengapa Efikasi Diri Infertilitas Penting

June 18, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister dan paksu sudah tahu jika masalah infertilitas tidak hanya berkaitan dengan kesehatan reproduksi tapi juga berdampak pada kesehatan mental. Sehingga agar akurat bermunculan banyak alat ukur kesehatan mental yang berfokus pada aspek tekanan dan masalah psikologis. Misalnya, Beck Depression Inventory dan State Trait Anxiety Measure yang digunakan untuk menilai tingkat depresi dan kecemasan. Alat lainnya seperti Ways of Coping, Fertility Problem Inventory, hingga Concerns During Assisted Reproductive Technologies scale lebih berfokus pada stres dan persoalan psikososial.

Nah pendekatan diatas belum ada yang melihat aspek yang tak kalah penting yaitu keyakinan pasien terhadap kemampuan mereka sendiri. Proses ini berkaitan dengan efikasi diri.

Pahami Efikasi Diri yang berfokus pada Kemampuan, Bukan Masalah

Efikasi diri berfokus pada kemampuan dan kepercayaan diri seseorang untuk terlibat dalam perilaku tertentu, baik itu menyuntik diri sendiri, menghadiri sesi terapi, atau tetap mengikuti regimen pengobatan yang ketat. Cara ini telah banyak digunakan dalam bidang kesehatan lain, seperti kanker, artritis, diabetes, perimenopause, aktivitas fisik, hingga penggunaan kondom.

Jadi sister dan paksu dapat membayangkan proses ini dilakukan “ketika seseorang memandang situasi sulit sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan, maka situasi tersebut terasa lebih ringan, lebih bisa diprediksi, dan tidak terlalu mengancam.

Efikasi Diri Mempengaruhi Hasil Reproduksi? 

Efikasi diri tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tapi juga berpotensi memengaruhi biologis dalam kesehatan reproduksi. Misalnya, wanita yang awalnya percaya diri dalam menjalani pengobatan bisa kehilangan kepercayaan itu setelah beberapa kali keguguran atau siklus gagal. Dalam kondisi ini, intervensi psikologis sangat dibutuhkan untuk membangun kembali efikasi dirinya.

Fakta dilapangan bahwa perempuan yang infertil sering kali memulai perawatan dengan kepercayaan diri yang tinggi. Namun, kepercayaan tersebut perlahan terkikis seiring panjangnya proses pengobatan dan tekanan yang mereka alami.

Dilain sisi pada wanita terbukti mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan pasangan pria, terutama karena mereka yang menjalani sebagian besar prosedur invasif dan harus menyesuaikan hidupnya dengan siklus pengobatan. Namun demikian, baik pria maupun wanita dapat sama-sama mendapat manfaat dari intervensi psikososial, dan infertilitas tetap merupakan pengalaman baru bagi kebanyakan orang.

Menerapkan efikasi diri dalam konteks infertilitas bukan sekadar tambahan. Ini adalah langkah penting untuk memahami bagaimana pasien menghadapi diagnosis dan perawatan yang sangat menantang secara fisik dan emosional. Dengan berfokus pada kemampuan setidaknya dapat mengurangi rasa sakit dan rasa takut yang dihadapkan kepada pasangan pejuang dua garis. Salah satunya adalah dengan bergabung pada komunitas untuk mendapatkan dukungan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Cousineau, T. M., Green, T. C., Corsini, E. A., Barnard, T., Seibring, A. R., & Domar, A. D. (2006). Development and validation of the Infertility Self-Efficacy scale. Fertility and sterility, 85(6), 1684-1696.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: efikasi diri, infertilitas, laki-laki, perempuan

Ketika “The value of motherhood” Jadi Ukuran: Infertilitas dan Luka yang Tak Terlihat

June 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Sister dan paksu yang sudah menikah terutama bagi sister sering dihadapkan dengan realitas “Menjadi ibu seringkali dipandang sebagai puncak pencapaian seorang perempuan”. Dalam banyak budaya, termasuk Indonesia, keibuan bukan hanya pilihan tapi harapan, norma, bahkan identitas. Karena itu, ketika diagnosis infertilitas datang, luka yang timbul tak hanya di tubuh, tetapi juga di hati dan pikiran. Jadi jelas bahwa pejuang dua garis bukanlah hal yang mudah.

Infertilitas dan Value Motherhood

Infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk hamil setelah 12 bulan berhubungan tanpa kontrasepsi, atau 6 bulan jika usia perempuan sudah di atas 35 tahun. Infertilitas memiliki banyak dampak karena tidak hanya bergantung pada keberhasilan pengobatan tapi juga pada kesiapan mental dan sosial pasien.

Banyak perempuan yang menginternalisasi peran ibu sebagai tujuan hidup. Ketika harapan ini tidak tercapai, muncul perasaan gagal, malu, cemas, bahkan depresi. Sebuah riset menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami infertilitas cenderung memiliki tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan pasangan mereka.

Perasaan tak cukup sebagai perempuan, stigma dari lingkungan, hingga tekanan untuk selalu tersenyum dan “tetap kuat” bisa membuat mereka menarik diri. Tak sedikit yang menyembunyikan diagnosis mereka karena takut dianggap tidak sempurna.

Strategi Bertahan: Dari Agama hingga Menyendiri

Untuk bertahan secara mental, perempuan menggunakan berbagai strategi coping. Sebuah upaya kognitif dan perilaku yang dilakukan seseorang untuk mengelola tekanan, stres, atau tuntutan yang dirasa melebihi kapasitasnya. Strategi ini membantu individu beradaptasi dengan situasi sulit, baik dengan mengatasi penyebab stres maupun mengatur respons emosional terhadap stres tersebut.

Beberapa memilih menghadapi masalah dengan aktif berbicara, mencari solusi, mencari dukungan. Namun ada juga yang memilih diam, menyangkal, menarik diri dari pergaulan sosial. Strategi pasif ini justru lebih sering dikaitkan dengan tingkat stres yang lebih tinggi.

Dalam budaya religius, banyak perempuan yang mengandalkan coping spiritual. Ada yang menemukan ketenangan melalui keyakinan bahwa Tuhan punya rencana, tapi ada juga yang justru merasa dihukum atau tidak layak. Dan ini semua sangatlah wajar tapi setidaknya segala usaha sudah dilakukan. 

Karena Jadi Ibu Masih Dianggap “Wajib”

Di masyarakat yang pronatalis, perempuan tanpa anak kerap dinilai tidak lengkap. Mereka dicap egois, tidak bertanggung jawab, atau terlalu mementingkan diri sendiri. Bahkan ketika infertilitas bukan pilihan, tekanan sosial tetap membekas. Tak jarang, perempuan merasa gagal memenuhi “takdir biologisnya”. Padahal, menjadi ibu bukan satu-satunya ukuran kebermaknaan hidup.

Infertilitas bukan hanya masalah rahim, tetapi juga tentang bagaimana perempuan dipaksa membuktikan diri melalui keibuan. Maka, penting bagi kita semua untuk mengubah cara pandang terhadap peran perempuan. Bahwa mereka tetap utuh, meski tanpa status “ibu”.

Yang dibutuhkan perempuan infertil bukan hanya dokter dan teknologi. Tapi juga empati, ruang aman untuk bercerita, dan masyarakat yang berhenti menjadikan anak sebagai satu-satunya validasi hidup perempuan. Kami MDG selalu ingin berbagi dan mendengarkan sister dan hadir sebagai ruang aman. Semoga usaha kalian dimudahkan dan diberikan ruang untuk dapat berbahagia. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Foti, F. L., Karner-Huţuleac, A., & Maftei, A. (2023). The value of motherhood and psychological distress among infertile women: The mediating role of coping strategies. Frontiers in Public Health, 11, 1024438.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ibu, infertilitas, luka, PDG, value of motherhood

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 12
  • Page 13
  • Page 14
  • Page 15
  • Page 16
  • Interim pages omitted …
  • Page 27
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.