• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

infertilitas

Panduan Program Hamil untuk Pasien PCOS: Tanya Jawab Lengkap Bersama Dokter Spesialis

August 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Takeover MDG Channel bersama dr. Ali Mahmud, Sp.OG(K) FER

PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome merupakan salah satu kondisi yang cukup sering ditemui pada pasien yang sedang menjalani program hamil. Tapi banyak yang masih bingung apakah bisa hamil secara alami? Harus IVF? Atau menunggu siklus tertentu?

Dalam sesi tanya-jawab bersama dr. Ali Mahmud, Sp.OG(K) FER, berikut rangkuman jawaban dari berbagai pertanyaan yang sering diajukan para pejuang dua garis:

Apakah PCOS Berpengaruh Terhadap Keberhasilan FET (Frozen Embryo Transfer)?

Jawabannya: ya, sangat berpengaruh, terutama jika disertai obesitas atau masalah metabolik lainnya. Karena itu, sebelum FET disarankan:

  • Menurunkan berat badan (jika overweight)
  • Rutin berolahraga
  • Menjalani pola hidup sehat
  • Mendapatkan terapi medis yang sesuai

Langkah-langkah ini dapat meningkatkan keberhasilan implantasi embrio pada pasien PCOS.

Kalau BMI Normal, Masih Perlu Turunkan Berat Badan?

“BB saya 53 kg, TB 156 cm (BMI 21.8 – normal), tapi saya PCOS. Apa tetap harus turunkan berat badan 5%?”

Penjelasan dokter:

  • Jika BMI sudah ideal, tidak perlu turunkan berat badan lagi.
  • Namun tetap penting untuk menjaga agar IMT tidak naik.
  • Lakukan pemeriksaan AMH untuk mengetahui cadangan sel telur.
  • Ajak pasangan untuk konsultasi juga ke dokter andrologi, karena faktor kesuburan pria juga penting dalam promil.

Bagaimana Menebalkan Dinding Rahim pada Pasien PCOS?

“Saya sedang promil alami. Ada sel telur besar, tapi dinding rahim masih tipis. Apa yang harus dilakukan?”

Biasanya dokter akan memberikan obat hormonal tertentu untuk membantu menebalkan endometrium (dinding rahim).
Jika waktunya tidak memungkinkan, siklus akan diulang dengan penyesuaian obat yang lebih tepat.

PCOS Sudah Menikah Lama Tapi Belum Punya Anak Sehat—Apa Langkah Selanjutnya?

“Saya PCOS, menikah 9 tahun. Anak pertama meninggal karena kelainan, kehamilan kedua BO. Kenapa bisa begitu?”

Pasien PCOS memang bisa hamil, tapi kualitas kehamilan bisa terganggu. Risiko seperti keguguran atau kelainan janin bisa lebih tinggi.

Sebaiknya segera konsultasi ke dokter fertilitas. Bila memungkinkan secara finansial, program IVF sangat direkomendasikan, mengingat usia pernikahan sudah cukup lama dan belum mendapatkan keturunan yang sehat.

Program Apa yang Paling Efektif untuk Pasien PCOS?

Program dengan tingkat keberhasilan paling tinggi adalah IVF (bayi tabung).

Namun, promil lain seperti program alami atau inseminasi (IUI) masih memungkinkan, tergantung berat ringannya PCOS dan hasil evaluasi medis. Konsultasi menyeluruh sangat penting untuk menentukan langkah terbaik.

Artikel ini merupakan rangkuman dari sesi tanya-jawab di MDG Channel bersama dr. Ali Mahmud, Sp.OG(K) FER. Untuk rekomendasi dan penanganan sesuai kondisi pribadi, silahkan konsultasi langsung ke klinik fertilitas terpercaya.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FET, infertilitas, PCOS, perempuan

Day One or One Day: Jadi Pejuang Dua Garis Bareng Mizz Rosie dan Chef Ken di Ideafest Surabaya 2025

August 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Surabaya, 2025 Dalam ajang Ideafest Surabaya 2025, kisah penuh makna dari para pejuang dua garis hadir menyentuh hati. Mizz Rosie dan Chef Ken, dua sosok di balik komunitas Menuju Dua Garis (MDG), berbagi cerita perjuangan mereka dalam menghadapi infertilitas dan stigma sosial yang menyertainya. Mereka tidak sendiri hadir pula Astrid Regina Sapiie (psikolog klinis & CEO DearAstrid), serta Chitra Astriana (entrepreneur) sebagai moderator dalam sesi ini.

Cerita Dimulai di Titik Nol

Mizz Rosie dan Chef Ken berbagi tentang hari pertama mereka menyandang identitas sebagai pasangan pejuang dua garis. Di tengah perjuangan untuk memiliki keturunan, mereka juga harus menghadapi pandangan miring dari masyarakat. Chef Ken, yang kala itu menjadi finalis sebuah acara, bahkan sempat mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat berada di rumah sakit dicap, dinilai, tanpa empati.

Di sinilah “day one” mereka dimulai. Sebuah hari yang penuh emosi, marah, kecewa, namun justru menjadi batu loncatan menuju kedewasaan dan ketangguhan.

Proses yang Membentuk

Melalui waktu dan rasa saling percaya, Mizz Rosie akhirnya meminta izin kepada Chef Ken untuk membuka kisah mereka ke publik. “Ibarat seorang ayah melihat istri sebagai anak yang akhirnya tumbuh menjadi dewasa,” ungkapnya menyentuh.

Tak ada dokter, tak ada protokol medis rumit di sesi ini. Hanya kisah nyata, tentang bagaimana sebuah pasangan belajar untuk bertahan, mendewasa bersama, dan saling menopang satu sama lain. Bahwa menjadi pejuang dua garis bukan hanya tentang hamil tapi tentang harapan dan pilihan untuk tidak menyerah.

Psikologi Tentang Dibalik Ketangguhan

Bu Astrid, sebagai psikolog, menyampaikan bahwa ada tiga sisi penting yang membentuk resiliensi pasangan:

  1. Budaya dan stigma masyarakat: Ketimpangan gender yang melekatkan makna “perempuan sempurna” dengan keharusan punya anak.
  2. Resiliensi bukan bawaan lahir: Tapi kemampuan yang bisa dibangun. Seperti bola makin dibanting, makin keras pantulannya.
  3. Stress coping dan kepedulian: Resiliensi terlihat ketika seseorang masih bisa peduli pada orang lain, bahkan dalam masa sulit.

 

Belajar Bertahan dan Menjadi Lebih Baik

Selain dari sisi psikologi, hal tersebut juga berdampak pada pernikahan, pernikahan memang tak selalu mulus. Tapi, seperti kata Mizz Rosie: “Kisah pernikahan berbeda-beda, tapi Tuhan punya rencana untuk masing-masing kita. Kita belajar untuk bertahan, menjadi versi terbaik diri, dekat dengan pasangan dan Tuhan. Karena ujungnya, kita akan menghadapi semuanya berdua.”

Bu Astrid menutup sesi dengan mengingatkan bahwa kita tidak pernah punya hak untuk menghakimi pasangan mana pun, karena setiap orang punya cerita dan nilai hidup masing-masing.

Menuju Harapan yang Indah

MDG, yang awalnya lahir dari pengalaman pribadi, kini tumbuh menjadi simbol harapan. Sebuah ruang untuk para pejuang dua garis yang ingin terus belajar, berproses, dan saling menguatkan. “Kalau kamu ingin kebahagiaan, ya ambil dan perjuangkan. Happiness is something you learn,” pesan terakhir dari Chef Ken.

Sesi ini bukan hanya tentang infertilitas. Tapi tentang keberanian, tentang perubahan, dan tentang peran kita semua untuk saling mendukung mimpi satu sama lain.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: day one, ideafest, infertilitas, pejuang dua garis

Di Balik Sunyi: Menyingkap Stigma Infertilitas yang Dihadapi Perempuan

July 31, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas bukan hanya persoalan medis. Bagi banyak perempuan, ini adalah luka yang diam-diam menggores harga diri, relasi sosial, bahkan makna diri. Di balik label “belum punya anak”, ada stigma yang nyata dan menyakitkan.

Bahkan secara global, sekitar 8–12% pasangan usia subur mengalami infertilitas. Tapi meskipun angka ini cukup besar, banyak perempuan yang merasa sendirian. Mengapa?

Karena stigma. Masyarakat kerap melabeli perempuan infertil sebagai ‘kurang sempurna’ atau bahkan ‘gagal sebagai istri’. Padahal, infertilitas bisa terjadi pada laki-laki, perempuan, atau keduanya.

Cerita dari Balik Pintu Tertutup

Hal tersebut fakta adanya, seperti temuan penelitian yang dilakukan di Isfahan Fertility and Infertility Center dan menunjukkan mengapa ada perasaan seperti itu diantaranya adalah Pelanggengan Stigma, Stigma sendiri hadir dalam banyak bentuk mulai dari komentar menyakitkan, tatapan sinis, sampai tekanan dari sesama perempuan.  Selanjutnya ada juga stigma terhadap diri sendiri seperti rasa bersalah, malu, dan merasa tidak berharga sering kali muncul sebagai reaksi internal terhadap tekanan sosial. Inilah yang disebut self-stigma.

Akhirnya karena lingkungan itu membuat para perempuan mencoba bertahan dengan berbagai cara: berpura-pura baik-baik saja, menerima kondisi dengan berat hati, atau menyembunyikan fakta bahwa mereka sedang menjalani program hamil. Ada juga perempuan yang bangkit dan menjadi lebih kuat. Dukungan dari pasangan atau keluarga membantu mereka berdamai dengan diri sendiri dan stigma yang ada.

Dampak yang Berkelanjutan

Dampak stigma terhadap perempuan infertil tidak main-main. Mereka rentan mengalami kecemasan, depresi, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam beberapa kasus, tekanan ini lebih menyakitkan dibanding diagnosis medis itu sendiri.

Tapi penting untuk diingat: perempuan punya hak untuk didengar, didukung, dan tidak dihakimi. Penelitian ini mengingatkan kita bahwa mendampingi perempuan yang mengalami infertilitas bukan hanya soal memberi solusi medis, tapi juga menyentuh sisi psikologis dan sosial mereka.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  1. Validasi perasaan mereka. Jangan buru-buru menyuruh “sabar” atau “banyak doa”.

  2. Hindari komentar seperti “kapan punya anak?” ini bukan basa-basi yang menyenangkan.

  3. Buka ruang aman untuk berbagi cerita tanpa stigma.

Infertilitas bukan akhir dari segalanya. Tapi stigma bisa membuatnya terasa seperti itu. Sudah waktunya kita membuka mata dan hati agar tidak ada lagi perempuan yang merasa gagal hanya karena belum menjadi ibu. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi:

  • Taebi, M., Kariman, N., & Majd, H. A. (2021). Infertility stigma: A qualitative study on feelings and experiences of infertile women. International journal of fertility & sterility, 15(3), 189.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, mental, perempuan, Stigma

Kenapa Sperma Harus Gesit? Ini Pentingnya Motilitas Sperma dalam Program Hamil

July 25, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Banyak yang berpikir, selama jumlah sperma banyak, maka peluang hamil juga tinggi. Tapi faktanya, nggak cuma soal jumlah, sister. Kemampuan sperma untuk bergerak maju dengan gesit atau dalam medis disebut dengan motilitas sperma memiliki peran besar dalam keberhasilan kehamilan baik alami maupun program hamil berbantuan (ART). Sebelum itu pahami apa itu sperma!

Pahami Pentingnya Sperma

Sperma itu sel yang sangat spesial. Ukurannya kecil, bentuknya unik, dan punya tugas berat: menyampaikan materi genetik dari ayah ke sel telur ibu.

Setelah diproduksi di testis, sperma akan mengalami proses pematangan di epididimis. Di sinilah sperma memperoleh kemampuan untuk bergerak dan membuahi sel telur. Setelah matang, sperma akan melalui saluran reproduksi wanita menuju tuba falopi—lokasi terjadinya pembuahan.

Jarak yang harus ditempuh sperma dari vagina hingga tuba falopi diperkirakan sekitar 19 cm. Sepanjang perjalanan ini, sperma menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah. Mulai dari lingkungan vagina yang bersifat asam, sistem pertahanan tubuh wanita yang dapat menyerang sel-sel asing termasuk sperma, hingga proses seleksi alami oleh tubuh wanita yang hanya memungkinkan sperma dengan kualitas terbaik untuk terus melaju menuju sel telur. Semua ini menjadi bagian dari proses alamiah yang memastikan hanya sperma yang benar-benar sehat dan tangguh yang bisa mencapai lokasi pembuahan.

Makanya, sperma harus bisa bergerak cepat dan tepat arah. Dan inilah yang disebut motilitas progresif kemampuan sperma untuk melaju lurus ke depan, bukan cuma berputar-putar di tempat.

Motilitas: Penentu Keberhasilan Pembuahan

Menurut WHO, sperma dikategorikan berdasarkan cara geraknya:

  1. Progresif (maju lurus)
  2. Non-progresif (cuma gerak-gerak di tempat)
  3. Immotile Gak gerak sama sekali

Kalau jumlah sperma yang progresif kurang dari 32%, maka pria tersebut masuk dalam kategori asthenozoospermia, yaitu kondisi di mana sperma kurang lincah. Ini salah satu penyebab paling umum dari infertilitas pria.

Kenapa Motilitas Bisa Menurun?

Beberapa faktor yang bisa bikin sperma tidak bagus pergerakannya diantaranya adalah karena paparan Radikal bebas dan stres oksidatif, Paparan panas berlebih (misalnya dari sauna atau laptop di pangkuan), Merokok, alkohol, dan gaya hidup tidak sehat, Infeksi atau peradangan di saluran reproduksi.

Selain itu, kondisi medis seperti varikokel atau gangguan hormonal juga bisa memengaruhi motilitas.

Kalau Motilitas Buruk, Masih Bisa Hamil?

Masih bisa, tapi peluangnya lebih kecil.
Itulah kenapa, dalam dunia medis, motilitas sperma dianggap sebagai salah satu indikator paling penting dalam menilai potensi kesuburan pria—baik untuk kehamilan alami maupun yang dibantu dengan teknologi seperti IUI atau IVF.

Bahkan di laboratorium bayi tabung, kualitas gerak sperma sangat dipertimbangkan dalam pemilihan sperma terbaik.

Apa Bisa Ditingkatkan?

Kabar baiknya, bisa banget.
Peneliti dan dokter terus mengembangkan berbagai cara untuk bantu meningkatkan motilitas sperma, seperti: Antioksidan dan suplemen tertentu (misalnya CoQ10, vitamin C & E, zinc), Obat-obatan khusus untuk kondisi tertentu, Terapi hormonal jika diperlukan dan Perbaikan gaya hidup dan pola makan.

Jadi, kalau kamu atau paksu sedang berjuang menuju dua garis, jangan cuma lihat angka jumlah sperma. Perhatikan juga kualitas geraknya. Karena percuma banyak, tapi nggak bisa sampai tujuan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujudagaris.id

Referensi

  • Dcunha, R., Hussein, R. S., Ananda, H., Kumari, S., Adiga, S. K., Kannan, N., … & Kalthur, G. (2022). Current insights and latest updates in sperm motility and associated applications in assisted reproduction. Reproductive sciences, 29(1), 7-25.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, motilitas, program hamil, sperma

Peran Mitokondria dalam Kualitas Sperma: Harapan Baru dari Antioksidan untuk Kualitas Sperma

July 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas kini menjadi tantangan besar di era modern. Sekitar 10%–15% pasangan usia reproduktif mengalami kesulitan untuk hamil, dan dalam 50% kasus, faktor laki-laki turut berperan baik sebagai penyebab tunggal atau bersama dengan faktor perempuan. Salah satu penyebab utamanya adalah gangguan fungsi sperma. Lalu adakah penyebab dan obat untuk menangani masalah ini? yuk pahami lebih lanhjut!

Mitokondria dan Kualitas Sperma

Mitokondria adalah organela penghasil energi (ATP) yang sangat penting bagi sel sperma. Letaknya berada di bagian leher sperma dan fungsinya memasok energi untuk pergerakan ekor, sehingga sperma mampu berenang menuju sel telur dan melakukan pembuahan. Mitokondria yang bekerja optimal sangat menentukan kualitas motilitas (pergerakan), daya tahan sperma di saluran reproduksi, hingga kemampuannya bertahan hidup setelah proses pembekuan (cryopreservation). Dengan kata lain, tanpa energi yang cukup dari mitokondria, sperma akan kesulitan bergerak aktif dan peluang terjadinya pembuahan pun menurun.

Namun, produksi energi oleh mitokondria juga menghasilkan radikal bebas yang disebut Reactive Oxygen Species (ROS). Dalam batas wajar, ROS berguna untuk pematangan sperma, tapi jika jumlahnya berlebihan akan terjadi stres oksidatif. Stres oksidatif dapat merusak struktur sperma, menurunkan kemampuan bergerak, dan bahkan merusak DNA sperma. Banyak kasus infertilitas pria bahkan yang penyebabnya tidak jelas—kini dihubungkan dengan stres oksidatif akibat kelebihan ROS dari mitokondria. Oleh karena itu, menjaga fungsi mitokondria melalui gaya hidup sehat dan asupan antioksidan sangat penting untuk mendukung kesehatan dan kualitas sperma.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Selama beberapa dekade terakhir, para peneliti telah mengembangkan berbagai metode untuk mengukur dan menilai fungsi mitokondria dalam sperma secara lebih akurat. Pengujian ini meliputi penilaian produksi energi, aktivitas enzim, serta tingkat produksi radikal bebas (ROS) di mitokondria sperma. Saat ini, parameter fungsi mitokondria sudah mulai digunakan sebagai indikator langsung kualitas sperma, karena kemampuan mitokondria sangat berkaitan erat dengan motilitas dan daya tahan sperma. Dengan memahami kondisi mitokondria, dokter dan ahli reproduksi dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang potensi kesuburan seorang pria.

Perkembangan terbaru dalam bidang ini menunjukkan potensi besar dari penggunaan senyawa antioksidan yang ditargetkan langsung ke mitokondria. Zat antioksidan khusus ini dirancang untuk menetralisir ROS secara spesifik di tempat produksinya, yaitu dalam mitokondria. Pendekatan ini dianggap lebih efektif dibandingkan antioksidan umum dalam melindungi sperma dari kerusakan oksidatif. Terapi yang menargetkan mitokondria ini mulai dilirik sebagai upaya untuk meningkatkan fungsi sperma secara menyeluruh, sekaligus digunakan sebagai dukungan terapi setelah proses pembekuan sperma (cryopreservation) agar kualitasnya tetap terjaga.

Pendekatan terapi yang menargetkan mitokondria sperma sebagai “jantung energi” sel ini membuka jalan baru yang menjanjikan dalam meningkatkan kualitas dan fungsi sperma. Dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan teknologi memungkinkan para peneliti mengukur langsung kesehatan mitokondria sperma sebagai indikator utama kesuburan. Terutama, penggunaan antioksidan yang difokuskan pada mitokondria berhasil menetralisir radikal bebas (ROS) di sumber produksinya, sehingga melindungi sperma dari stres oksidatif yang merusak. Langkah ini berbeda dari terapi tradisional yang biasanya tidak secara spesifik menargetkan mitokondria, sehingga potensi meningkatkan motilitas, daya tahan, dan kualitas sperma menjadi lebih besar sekaligus menjaga kualitas sperma setelah pembekuan.

Meski metode ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas dan keamanannya secara klinis, pendekatan langsung ke mitokondria sudah mulai dianggap sebagai solusi strategis untuk mengatasi infertilitas pria, terutama dalam kasus yang sulit diobati dengan terapi konvensional. Kedepannya, integrasi terapi tersebut ke dalam perawatan infertilitas dapat meningkatkan peluang kehamilan bagi banyak pasangan. Pendekatan ini juga menimbulkan pertanyaan penting tentang langkah-langkah selanjutnya, seperti bagaimana memaksimalkan terapi mitokondria, mengelola potensi risiko klinis, dan menggabungkannya ke dalam protokol pengobatan fertilitas yang ada saat ini. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Escada-Rebelo, S., Cristo, M. I., Ramalho-Santos, J., & Amaral, S. (2022). Mitochondria-targeted compounds to assess and improve human sperm function. Antioxidants & Redox Signaling, 37(7-9), 451-480.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: antioksidan, infertilitas, laki-laki, sperma

Bekukan Telur Sebagai Wujud dari Pertahankan Harapan: Apa Kata Penelitian tentang Oocyte Cryopreservation?

July 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Di tengah semakin berkembangnya teknologi reproduksi berbantu (ART), salah satu pilihan yang makin banyak dibicarakan adalah pembekuan sel telur atau oocyte cryopreservation. Tapi, seberapa efektif sebenarnya metode ini? Apakah sel telur beku bisa bertahan, menghasilkan kehamilan, bahkan melahirkan bayi sehat? Yuk, kita bahas hasil penelitian terbaru yang bisa jadi insight penting buat kamu, sister!

Mengenal Tujuan dan Latar Belakang Prosedur

Jadi ada sebuah penelitian yang melihat bagaimana hasil dari prosedur pembekuan sel telur (oocyte cryopreservation) yang dilakukan di sebuah klinik fertilitas selama tahun 2015–2020. Sebanyak 224 perempuan berusia 18–48 tahun ikut serta dalam studi ini, dengan latar belakang yang beragam. Ada yang membekukan sel telur karena harus menjalani pengobatan seperti kemoterapi yang bisa merusak kesuburan, ada juga perempuan lajang yang cadangan sel telurnya mulai menurun. Beberapa pasangan melakukan prosedur ini karena di hari pengambilan sel telur, sperma tidak bisa didapatkan. Selain itu, ada juga pasien yang melakukan teknik oocyte pooling untuk keperluan ICSI (penyuntikan sperma ke dalam sel telur) karena alasan teknis.

Gimana Hasilnya?

Dari data yang dikumpulkan, didapatkan hasil menarik:

  1. Tingkat kelangsungan hidup sel telur setelah dibekukan dan dicairkan: 92,68%
  2. Tingkat kehamilan per siklus pencairan sel telur: 8,66%
  3. Tingkat kelahiran hidup per siklus pencairan: 4,66%

Jadi dengan menggunakan teknik vitrifikasi (proses pembekuan super cepat yang mencegah pembentukan kristal es), tingkat kelangsungan hidup sel telur sangat tinggi lebih dari 90%! Ini menunjukkan bahwa metode ini sudah cukup aman dan efektif.

Meskipun angka kehamilan dan kelahiran hidup per siklus belum setinggi pembekuan embrio, hasilnya relatif setara, apalagi untuk pasien dengan kondisi khusus seperti yang disebutkan di atas.

Pembekuan Sel Telur dan Pilihan Perempuan

Karena pembekuan sel telur memberikan pilihan nyata bagi perempuan untuk menjaga kemungkinan memiliki anak di masa depan, khususnya bagi yang belum menemukan pasangan, Menghadapi kondisi medis serius atau Mengalami penurunan cadangan ovarium di usia muda.

Dengan terus berkembangnya teknologi, pembekuan sel telur bukan lagi sekadar wacana, tapi investasi nyata untuk masa depan reproduksi perempuan. Kalau kamu ingin tahu apakah pembekuan sel telur cocok untukmu atau ingin memahami lebih lanjut soal fertilitas, jangan ragu buat diskusi ya, sister! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Spiegel, E., Weintraub, A. Y., Aricha-Tamir, B., Ben-Harush, Y., & Hershkovitz, R. (2021). The use of sonographic myometrial thickness measurements for the prediction of time from induction of labor to delivery. Archives of Gynecology and Obstetrics, 303(4), 891-896.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, perempuan, Telur

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 10
  • Page 11
  • Page 12
  • Page 13
  • Page 14
  • Interim pages omitted …
  • Page 27
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.