• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

infertilitas

Rokok dan Infertilitas Pria: Ketika Asap Menghalangi Peluang Hidup Baru

November 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Bagi sebagian besar orang, merokok dianggap sebagai kebiasaan yang sulit dilepaskan ritual pagi dengan secangkir kopi, teman setia di tengah stres, atau sekadar pelengkap obrolan. Namun, di balik kepulan asap yang menenangkan itu, ada cerita lain yang jarang dibicarakan: pengaruhnya terhadap kesuburan pria.

Sebuah studi besar dari University of Science and Technology of China (USTC) meneliti bagaimana kebiasaan merokok memengaruhi kualitas sperma pada hampir dua ribu pria yang mengalami infertilitas. Penelitian ini tak hanya melihat jumlah sperma, tapi juga bagaimana sperma bergerak, bentuknya, dan seberapa “kuat” mereka dalam upaya membuahi sel telur.

Hasil yang Menggugah

Dari 1.938 pria yang diteliti, sebagian besar dibagi menjadi dua kelompok: tidak merokok (1.067 orang) dan perokok aktif (871 orang). Para perokok dibagi lagi menjadi kategori perokok ringan (1–10 batang per hari) dan perokok berat (lebih dari 10 batang per hari).

Hasilnya cukup jelas. Pada pria dengan infertilitas primer (belum pernah memiliki anak), perokok berat memiliki konsentrasi sperma yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak merokok hanya sekitar 59 juta/ml dibandingkan 68 juta/ml pada non-perokok.

Sementara itu, pada pria dengan infertilitas sekunder (dulu pernah memiliki anak, tapi kini sulit lagi), perokok berat menunjukkan penurunan motilitas sperma — kemampuan sperma untuk bergerak maju dan membuahi sel telur. Angkanya turun menjadi 44,7%, dibandingkan 48,1% pada pria yang tidak merokok.

Perbedaan ini mungkin tampak kecil di atas kertas, tapi dalam dunia reproduksi, penurunan sekecil apa pun bisa menjadi pembeda antara keberhasilan dan kegagalan dalam program hamil.

Kenapa Rokok Bisa Begitu Merusak?

Rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia, dan beberapa di antaranya seperti kadmium dan timbal diketahui merusak DNA sperma. Zat-zat ini meningkatkan stres oksidatif, yang bisa “mengoksidasi” sel sperma hingga strukturnya rusak.

Akibatnya, sperma menjadi lebih sedikit, bergerak lambat, dan bahkan mengalami kelainan bentuk. Kondisi ini membuat kemungkinan pembuahan alami menurun, dan jika terjadi kehamilan pun, risiko keguguran atau gangguan perkembangan janin meningkat.

Rokok dan Pola Infertilitas Global

Infertilitas pria kini menjadi setengah dari semua kasus infertilitas pasangan di dunia. WHO memperkirakan lebih dari 70 juta orang di dunia menghadapi kesulitan memiliki anak. Menariknya, banyak penelitian menunjukkan adanya tren penurunan kualitas sperma global bahkan pada pria sehat yang tidak menjalani promil.

Selain faktor genetik dan lingkungan, kebiasaan seperti merokok, kurang tidur, stres, serta paparan polusi dan panas berlebih juga turut berperan besar.

Saatnya Mengambil Kendali

Pesan utama dari studi ini jelas: berhenti merokok bukan hanya soal paru-paru dan jantung, tapi juga tentang masa depan tentang kesempatan untuk menjadi ayah.

Bagi pria yang sedang menjalani program hamil, menghentikan kebiasaan merokok dapat menjadi salah satu langkah paling signifikan untuk meningkatkan peluang keberhasilan. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kualitas sperma bisa mulai membaik dalam 3 bulan setelah berhenti merokok, seiring regenerasi spermatogenesis yang baru.

Jadi, sebelum menyalakan batang rokok berikutnya, ada baiknya berpikir sejenak: setiap kepulan asap mungkin tak hanya membahayakan tubuhmu, tapi juga menghapus peluang hadirnya kehidupan baru yang kamu impikan.

Referensi

  • Fan, S., Zhang, Z., Wang, H., Luo, L., & Xu, B. (2024). Associations between tobacco inhalation and semen parameters in men with primary and secondary infertility: a cross-sectional study. Frontiers in Endocrinology, 15, 1396793.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, Pria, rokok

Asap Rokok yang Diam-diam Menghapus Harapan Dua Garis

November 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Ada satu aroma yang sering muncul di warung kopi, di ruang tunggu, bahkan di dalam rumah: asap rokok. Bagi sebagian orang, itu sudah jadi bagian dari keseharian samar, tipis, seolah tidak berbahaya. Tapi dibalik kepulan asap yang terlihat jinak itu, ada racun yang pelan-pelan mengubah tubuh, bahkan menghancurkan harapan seseorang untuk memiliki anak.

Ketika Asap Menjadi Tak Terlihat, Tapi Nyata Dampaknya

Asap rokok bukan sekadar bau yang mengganggu atau membuat batuk. Di dalamnya, terdapat lebih dari 7.000 zat kimia, termasuk karbon monoksida, nikotin, tar, dan logam berat seperti kadmium. Semua zat ini bekerja diam-diam, masuk ke aliran darah, dan menimbulkan stres oksidatif kondisi di mana tubuh kewalahan menetralkan racun.

Bagi perempuan, stres oksidatif ini bisa menjadi musuh besar bagi sistem reproduksi.
Sel telur menjadi lebih rentan rusak, keseimbangan hormon terganggu, dan cadangan ovarium bisa menurun lebih cepat dari seharusnya. Dalam jangka panjang, efek ini dapat menurunkan peluang kehamilan dan meningkatkan risiko keguguran.

Bukan Hanya Perokok yang Terkena Dampak

Yang sering tidak disadari adalah: tidak perlu menjadi perokok untuk mengalami akibatnya.
Asap dari rokok orang lain yang dikenal sebagai environmental tobacco smoke (ETS) atau asap rokok lingkungan juga membawa risiko serupa. Seseorang yang hanya “kebetulan” berada di dekat perokok bisa menyerap zat beracun yang sama setiap kali menghirup udara di sekitarnya.

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa perempuan usia reproduktif yang terpapar asap rokok di lingkungannya memiliki risiko infertilitas 64% lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak terpapar. Artinya, bahkan paparan ringan tapi rutin dapat menimbulkan efek serius pada kemampuan tubuh untuk hamil. Dengan kata lain, kamu bisa tidak merokok, tapi tetap menjadi korban rokok.

Luka yang Tidak Terlihat

Efek paparan asap rokok sering kali tidak langsung terasa. Tidak ada gejala mendadak, tidak ada batuk parah, tidak ada peringatan. Tapi perlahan, tubuh mulai memberi sinyal siklus menstruasi menjadi tidak teratur, hasil promil tidak kunjung positif, atau muncul diagnosis “infertilitas tanpa sebab yang jelas”.

Bagi banyak perempuan, ini menjadi perjalanan yang penuh pertanyaan.
Mereka sudah makan sehat, olahraga teratur, dan menjalani semua anjuran dokter. Tapi satu hal yang sering terlewat adalah lingkungan: udara yang mereka hirup setiap hari mungkin tidak lagi bersih.

Antara Cinta, Kebiasaan, dan Harapan

Banyak perempuan tidak bisa sepenuhnya menjauh dari asap rokok karena sumbernya justru datang dari orang terdekat. Suami, ayah, atau teman kerja yang merokok di ruang yang sama tanpa menyadari dampaknya bagi kesuburan pasangan mereka.

Padahal, rokok tidak hanya memengaruhi tubuh perempuan, tapi juga kualitas sperma pada laki-laki. Hubungan yang diwarnai kebiasaan merokok akhirnya menjadi lingkaran yang saling merugikan, di satu sisi ada rasa sayang, di sisi lain ada tubuh yang perlahan kehilangan kemampuannya untuk menciptakan kehidupan.

Menjauh dari asap rokok bukan sekadar soal gaya hidup sehat, tapi juga bentuk perlindungan terhadap masa depan. Langkah sederhana seperti memilih ruangan bebas rokok, menegur dengan sopan ketika seseorang menyalakan rokok di dekatmu, atau mengajak pasangan untuk berhenti merokok bersama, bisa membawa perubahan besar bagi kesehatan reproduksi.

Setiap napas tanpa asap adalah bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri. Tubuhmu bekerja keras setiap hari untuk menyiapkan kehidupan baru ia pantas mendapatkan udara yang bersih, tenang, dan bebas racun.

Infertilitas bukan hanya cerita tentang tubuh yang gagal, tapi juga tentang lingkungan yang lalai dijaga. Dan mungkin, langkah pertama menuju dua garis bukanlah obat atau terapi,
melainkan keberanian untuk berkata:  “Tolong, jangan merokok di dekatku.” Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Peng, L., Luo, X., Cao, B., & Wang, X. (2024). Unraveling the link: environmental tobacco smoke exposure and its impact on infertility among American women (18–50 years). Frontiers in public health, 12, 1358290.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: dua garis, harapan, infertilitas, rokok

Hereditary Thrombophilia dan Recurrent Pregnancy Loss

November 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Keguguran berulang (recurrent pregnancy loss atau RPL) adalah pengalaman emosional yang berat bagi banyak perempuan. Secara medis, salah satu penyebab yang sering ditemukan dalam berbagai penelitian adalah trombofilia herediter, yaitu kondisi genetik yang membuat darah lebih mudah membeku dari normalnya.

Masalahnya, ketika pembekuan darah mikro terjadi di area rahim atau plasenta, aliran darah ke embrio bisa terhambat. Akibatnya, proses implantasi embrio (menempelnya embrio di dinding rahim) bisa gagal, atau kehamilan terhenti pada usia sangat dini.

Beberapa jenis trombofilia herediter telah dikaitkan dengan risiko keguguran berulang. Dalam sebuah meta-analisis besar oleh Liu dan rekan-rekannya (2021), yang meninjau 89 studi dengan total sekitar 30 ribu perempuan, ditemukan bahwa:

  • Mutasi Factor V Leiden (G1691A) meningkatkan risiko RPL sekitar 2,4 kali lipat.
  • Mutasi Prothrombin G20210A meningkatkan risiko sekitar dua kali lipat.
  • Defisiensi Protein S bahkan memiliki risiko paling tinggi, sekitar 3,4 kali lipat.
    Sementara itu, kelainan pada Antitrombin (AT) dan Protein C (PC) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dalam keseluruhan analisis.

Hasil tersebut menegaskan bahwa ada hubungan yang cukup kuat antara beberapa varian genetik pembekuan darah dengan risiko keguguran berulang, meski hasil antar-studi masih beragam.

Mekanisme patofisiologis

  • Mikrotrombi: pembekuan kecil di pembuluh uterina mengurangi aliran darah ke jaringan plasenta/decidua.
  • Disfungsi vasodilatasi & inflamasi: trombosis lokal memicu respon inflamasi yang merusak lingkungan implantasi.
  • Interaksi gen-lingkungan: faktor tambahan (obesitas, merokok, infeksi, diabetes) bisa memperbesar risiko trombosis.

Dari sisi klinis, temuan mengenai trombofilia herediter memiliki implikasi penting, terutama bagi perempuan yang sedang merencanakan kehamilan secara alami (promil alami).

Tes trombofilia biasanya dipertimbangkan pada kondisi tertentu, seperti jika seorang perempuan pernah mengalami dua kali atau lebih keguguran berulang terutama di trimester pertama, memiliki riwayat pembekuan darah di pembuluh vena (trombosis), atau ada riwayat keluarga dengan trombosis atau keguguran berulang.

Pemeriksaan yang dilakukan umumnya meliputi:

  • Tes genetik untuk mendeteksi mutasi Factor V Leiden dan Prothrombin G20210A.
  • Pemeriksaan kadar atau aktivitas Protein S, Protein C, dan Antitrombin (AT), yang berperan dalam menjaga keseimbangan pembekuan darah.
  • Panel antiphospholipid, untuk menilai adanya trombofilia akuisita (bukan genetik) yang juga bisa mengganggu implantasi dan kehamilan.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya trombofilia, langkah selanjutnya biasanya dilakukan secara kolaboratif antara dokter kandungan dan dokter spesialis hematologi. Dalam beberapa kasus, dokter dapat memberikan terapi antikoagulan dosis rendah, seperti heparin dan aspirin, untuk membantu memperlancar aliran darah ke rahim dan mencegah pembekuan mikro yang bisa mengganggu proses implantasi.

Namun, penggunaan obat ini tidak diberikan secara rutin kepada semua perempuan, karena keputusan terapi harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kondisi individu masing-masing pasien.

Langkah alami/pendukung:

  1. Optimalkan berat badan dan aktivitas fisik.
  2. Hindari rokok & konsumsi alkohol berlebih.
  3. Kontrol kondisi kronis (diabetes, hipertensi).
  4. Nutrisi: cukup vitamin D, B12, folat; diskusikan suplemen dengan dokter.
  5. Manajemen stres, tidur cukup (karena stres mempengaruhi koagulasi indirek).

Trombofilia herediter adalah kandidat penting saat mengevaluasi RPL dan unexplained infertility. Deteksi dan penatalaksanaan yang tepat medis dan dukungan gaya hidup dapat memperbesar peluang kehamilan yang bertahan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi utama

Liu X., dkk. (2021). Hereditary thrombophilia and recurrent pregnancy loss: a systematic review and meta-analysis. Human Reproduction.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, keguguran berulang

Waspadai Zat Pengganggu Hormon di Sekitar Kita

November 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister, hormon mengatur banyak hal dalam tubuh: siklus haid, ovulasi, produksi sperma, dan persiapan rahim untuk implantasi. Zat pengganggu hormon (endocrine-disrupting chemicals, EDC) adalah kelompok senyawa yang bisa meniru, menghambat, atau mengubah kerja hormon alami dan paparan kronis terhadap EDC dapat mengganggu kesuburan baik pada perempuan maupun laki-laki. Karena EDC banyak ditemukan di barang sehari-hari, penting untuk tahu sumbernya, cara kerjanya, dan apa yang bisa kita lakukan dalam konteks promil alami.

Apa itu EDC definisi & contoh

EDC adalah bahan kimia yang mengubah fungsi sistem endokrin. Contoh utama yang sering disebut dalam literatur:

  • BPA (bisphenol A) plastik kemasan makanan/botol air.
  • Phthalates pelunak plastik dan bahan dalam kosmetik, parfum.
  • Parabens pengawet kosmetik.
  • PFAS (per-/polifluoroalkil substances) zat tahan panas/air pada beberapa kemasan makanan dan tekstil.
    EDC juga termasuk beberapa pestisida, komponen asap pembakaran, dan zat kimia industri.

Bukti biologis, bagaimana EDC ganggu reproduksi

  1. Mimetik hormon: beberapa EDC dapat menempel pada reseptor estrogen atau androgen sehingga memicu/menekan sinyal hormonal palsu.
  2. Gangguan aksis HPO (hipotalamus-pituitari-ovarium): EDC dapat mengubah pelepasan GnRH, FSH, LH sehingga mengganggu siklus dan ovulasi.
  3. Efek pada ovarium & sperma: paparan EDC dikaitkan dengan berkurangnya cadangan ovarian, kualitas oosit menurun, penurunan jumlah dan motilitas sperma, serta anomali struktural sperma.
  4. Efek prenatal & epigenetik: paparan ibu hamil terhadap EDC dapat memengaruhi perkembangan gonad janin dan predisposisi kesuburan di masa dewasa.

Studi epidemiologi dan review (termasuk tinjauan dekade studi epidemiologi) menunjukkan hubungan antara paparan EDC tertentu (mis. BPA, phthalates, PFAS) dan hasil-hasil fertilitas yang lebih buruk: menurunnya peluang konsepsi, peningkatan keguguran, penurunan keberhasilan ART, serta gangguan perkembangan seksual pada keturunan. Namun bukti bervariasi tergantung jenis EDC, ukuran studi, dan metode pengukuran paparan.

Rekomendasi praktis (promil alami)

  • Hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik; pilih kaca atau stainless steel.
  • Kurangi penggunaan plastik sekali pakai (botol, makanan takeaway).
  • Pilih kosmetik/parfum/lotion yang paraben-free dan phthalate-free.
  • Kurangi konsumsi makanan cepat saji dan makanan dari kemasan yang berminyak (lebih tinggi transmisi EDC).
  • Tingkatkan konsumsi sayur-buah organik bila memungkinkan (kurangi paparan pestisida).
  • Ventilasi rumah untuk kurangi paparan asap/polutan, jangan merokok di dalam rumah.

EDC adalah faktor lingkungan yang sering terlupakan tetapi berpotensi memengaruhi kesuburan pada banyak pasangan. Untuk promil alami, langkah pencegahan sederhana dan perubahan gaya hidup dapat membantu menurunkan paparan dan memberi kesempatan lebih baik bagi tubuh untuk “kembali normal”. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi utama

Czarnywojtek A., dkk. (2021). The effect of endocrine disruptors on the reproductive system–current knowledge. European Review for Medical & Pharmacological Sciences, 25(15).

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hormon, infertilitas, Zat

Endometriosis dan Infertilitas: Saat Sistem Imun Ikut Berperan

November 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Endometriosis selama ini dikenal sebagai kondisi di mana jaringan endometrium tumbuh di luar rahim. Tapi ternyata, masalahnya tidak berhenti di situ. Studi terbaru menunjukkan bahwa sistem imun juga punya andil besar dalam mengganggu kesuburan perempuan dengan endometriosis.

Sebuah tinjauan komprehensif yang dipublikasikan oleh Kamila Kolanska dkk. (2020) dalam American Journal of Reproductive Immunology mengupas lebih dalam peran deregulasinya sistem imun dan potensi terapi imunomodulasi pada infertilitas akibat endometriosis.

Ketika Sistem Imun Tidak Lagi Seimbang

Endometriosis bukan hanya masalah hormonal atau anatomi tetapi juga imunologis. Dalam tubuh perempuan dengan endometriosis, ditemukan kadar sitokin pro-inflamasi yang lebih tinggi, terutama TNF-α (Tumor Necrosis Factor-alpha). Sitokin ini adalah molekul kecil yang berperan dalam mengatur peradangan.

Kelebihan TNF-α dan mediator inflamasi lainnya dapat:

  • Mengganggu proses ovulasi dan pematangan sel telur,
  • Menghambat perlekatan embrio di rahim, dan
  • Meningkatkan risiko kegagalan implantasi pada program bayi tabung (IVF).

Selain itu, ditemukan pula berbagai autoantibodi seperti antinuclear antibody (ANA), anti-SSA, dan antiphospholipid antibody bahkan pada pasien yang tidak memiliki penyakit autoimun. Ini menunjukkan adanya reaksi autoimun tersembunyi yang dapat mengganggu fungsi reproduksi.

Terapi Imunomodulasi: Harapan Baru, Tapi Masih Butuh Bukti

Beberapa studi kecil menunjukkan hasil menjanjikan. Penggunaan steroid dan TNF-α antagonis seperti infliximab, adalimumab, atau etanercept sempat dilaporkan dapat meningkatkan angka kehamilan pada pasien endometriosis yang mengalami infertilitas.

Namun, sebagian besar penelitian tersebut masih bersifat uncontrolled dan melibatkan jumlah sampel yang terbatas. Artinya, belum cukup kuat untuk menjadi dasar rekomendasi klinis.

Selain itu, terapi lain seperti intralipid infusion, intravenous immunoglobulin (IVIG), dan G-CSF (Granulocyte-Colony Stimulating Factor) juga mulai diteliti, tapi hasilnya masih bervariasi.

Penelitian ini menegaskan bahwa infertilitas akibat endometriosis tidak bisa hanya dilihat dari sisi hormonal atau anatomi, melainkan juga dari sisi imunologis. Deregulasi sistem imun mulai dari peningkatan sitokin pro-inflamasi hingga munculnya autoantibodi berkontribusi besar terhadap gangguan kesuburan.

Meski terapi imunomodulasi menawarkan harapan baru, bukti ilmiah yang kuat masih sangat dibutuhkan. Studi berskala besar dan terkontrol akan menjadi langkah penting untuk menentukan sejauh mana terapi ini bisa benar-benar membantu perempuan dengan endometriosis meraih kehamilan. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi:
Kolanska, K., Alijotas-Reig, J., Cohen, J., Cheloufi, M., Selleret, L., d’Argent, E., Kayem, G., Valverde, E. E., Fain, O., Bornes, M., et al. (2020). Endometriosis with infertility: A comprehensive review on the role of immune deregulation and immunomodulation therapy. American Journal of Reproductive Immunology. https://doi.org/10.1111/aji.13384

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ciri ciri kista endometriosis, infertilitas, sistem imun

Hubungan Celiac Disease dan Kesuburan: Saat Gluten Turut Berperan dalam Fertilitas

October 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Celiac disease (CeD), atau penyakit celiac, dikenal sebagai gangguan autoimun yang dipicu oleh konsumsi gluten protein yang terdapat dalam gandum, barley, dan rye. Penyakit ini menyebabkan peradangan dan kerusakan pada usus halus, sehingga tubuh kesulitan menyerap nutrisi penting. Namun, tahukah kamu kalau dampak CeD ternyata bisa meluas hingga ke kesehatan reproduksi?

Artikel terbaru yang diterbitkan di jurnal Nutrients (2025) oleh Wieser dan koleganya, menyoroti kaitan antara celiac disease dan infertilitas, baik pada perempuan maupun laki-laki. Hasilnya? Menarik, tapi juga masih menyisakan banyak tanda tanya. Yuk pelajari lebih lanjut!

Celiac Disease dan Risiko Infertilitas

Pada penderita CeD terutama yang belum terdiagnosis atau tidak menjalani diet bebas gluten memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesuburan, seperti:

  • Sulit hamil (unexplained infertility)
  • Keguguran berulang
  • Kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah

CeD yang tidak tertangani dapat memicu peradangan kronis, gangguan hormonal, dan defisiensi nutrisi penting seperti zat besi, seng, dan asam folat  semuanya berperan penting dalam fungsi reproduksi yang sehat.

Namun, tak semua penelitian sepakat. Beberapa studi berskala besar menemukan bahwa prevalensi infertilitas pada penderita CeD tidak jauh berbeda dengan populasi umum. Perbedaan hasil ini dipengaruhi oleh variasi definisi infertilitas, ukuran sampel, dan metode diagnosis CeD yang digunakan (apakah berdasarkan antibodi atau biopsi usus).

Apa Kata Penelitian pada Perempuan?

Sejak 1970-an, para peneliti sudah mencurigai hubungan antara CeD dan infertilitas perempuan. Dalam beberapa studi terkini:

  • Perempuan dengan infertilitas tanpa sebab yang jelas menunjukkan prevalensi antibodi CeD lebih tinggi dibanding kelompok kontrol sehat.
  • Studi di India dan Brasil, misalnya, menemukan bahwa 5–10% perempuan infertil menunjukkan hasil positif terhadap antibodi anti-transglutaminase (TGA), indikator utama CeD.
  • Menariknya, banyak dari mereka tidak memiliki gejala pencernaan sama sekali artinya CeD bisa tersembunyi di balik masalah reproduksi tanpa disadari.

Bagaimana dengan Laki-Laki?

Meski lebih jarang dibahas, CeD ternyata juga bisa memengaruhi kualitas sperma dan fungsi hormonal pria. Defisiensi nutrisi, peradangan sistemik, dan gangguan penyerapan zinc atau folat dapat menurunkan motilitas sperma dan menimbulkan disfungsi ereksi.

Menariknya, beberapa studi menemukan perbaikan signifikan setelah menjalani diet bebas gluten (gluten-free diet / GFD). Artinya, respons tubuh terhadap gluten mungkin juga berperan dalam kesehatan reproduksi pria.

Hingga saat ini, satu-satunya terapi efektif untuk CeD adalah diet bebas gluten seumur hidup. Banyak laporan kasus menunjukkan bahwa perempuan dengan infertilitas tak terjelaskan berhasil hamil setelah menerapkan GFD secara konsisten.
Meski belum bisa disebut “obat mujarab”, hasil ini memberi harapan bahwa mengelola CeD dengan tepat dapat memperbaiki fungsi reproduksi.

Celiac disease memang tidak selalu menjadi penyebab utama infertilitas, tapi pada sebagian individu terutama dengan kasus infertilitas yang tidak dapat dijelaskan CeD bisa menjadi faktor tersembunyi yang patut dicurigai. Jadi sister dan paksu dapat menggunakan pola makan bebas gluten secara konsisten karena berpotensi memperbaiki fungsi reproduksi pada pasien yang memiliki CeD aktif. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris,id

Referensi

Wieser, H., Ciacci, C., Soldaini, C., Gizzi, C., Pellegrini, L., & Santonicola, A. (2025). Fertility in Celiac Disease: The Impact of Gluten on Male and Female Reproductive Health. Nutrients, 17(9), 1575.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Gluten, infertilitas, IVF, kesuburan

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 4
  • Page 5
  • Page 6
  • Page 7
  • Page 8
  • Interim pages omitted …
  • Page 27
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.