• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

laki-laki

Aspirasi Sperma Vasal: Prosedur Minim Invasif untuk Paksu dengan Ejakulasi Kering

June 7, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Buat paksu yang mengalami masalah ejakulasi kering baik karena ejakulasi retrograde bisa jadi pernah merasa frustrasi. Kedua kondisi ini bukan hanya mengganggu kehidupan seksual, tapi juga berdampak besar pada program kehamilan. Tapi apa sih perbedaan antara dua masalah itu? yuk MDG akan membahas lebih lanjut

Apa itu Ejakulasi Retrograde

Jadi Ejakulasi retrograde adalah kondisi di mana sperma yang seharusnya dikeluarkan melalui uretra saat ejakulasi, justru masuk ke dalam kandung kemih. Pada paksu yang menderita retrograde ejaculation tetap bisa merasakan klimaks saat berhubungan seksual, namun hanya mengeluarkan sperma dalam jumlah sedikit atau tidak ada sama sekali (orgasme kering).

Keadaan ini dimana seorang pria hanya mengeluarkan sperma dalam jumlah yang sangat sedikit, lebih lanjut akan berpengaruh terhadap kesuburan karena kemungkinan sperma untuk bisa membuahi sel telur berada dalam jumlah yang terlalu rendah.

Tapi tenang, ada kabar baik. Karena ada sebuah metode yang mulai banyak diperbincangkan karena keberhasilannya adalah aspirasi sperma vasal, sebuah teknik pengambilan sperma yang sederhana, efektif, dan minim risiko.

Apa Itu Aspirasi Sperma Vasal?

Aspirasi sperma vasal adalah prosedur medis di mana sperma diambil langsung dari vas deferens saluran yang membawa sperma dari testis menuju uretra. Prosedur ini dilakukan menggunakan kaca pembesar untuk akurasi, dan biasanya dilakukan oleh dokter urologi atau andrologi berpengalaman.

Metode ini sangat bermanfaat bagi pria yang tidak dapat mengeluarkan sperma secara normal akibat gangguan ejakulasi, seperti Anejakulasi tubuh tidak mampu memulai proses ejakulasi sama sekali dan ejakulasi retrograde dimana sperma justru mengalir ke kandung kemih, bukan keluar melalui penis.

Biasanya, aspirasi sperma vasal dipertimbangkan ketika metode non-invasif seperti Pengambilan sperma dari urin pasca-ejakulasi, Pijat prostat, Stimulasi getaran penis (penile vibratory stimulation) dan Elektroejakulasi tidak berhasil.

Selain itu, dibanding metode invasif lain seperti ekstraksi dari testis (TESE) atau epididimis (MESA), prosedur ini tergolong lebih ringan dan mempertahankan struktur reproduksi pria dengan lebih baik.

Masih banyak yang mengira infertilitas pria hanya soal “jumlah sperma.” Padahal, mekanisme keluarnya sperma pun sangat penting. Saat ini aspirasi sperma vasal menjadi opsi yang efisien, tidak terlalu rumit, dan bisa menjadi langkah awal sebelum tindakan yang lebih berat dilakukan.

Untuk paksu yang terkendala program hamil karena ejakulasi kering, jangan menyerah dulu. Ada metode seperti aspirasi vasal yang patut dipertimbangkan. Tentu, semuanya harus melalui pemeriksaan menyeluruh dan diskusi dengan dokter. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Fan, L. W., Shao, I. H., & Hsieh, M. L. (2020). The simple solution for infertile patients with aspermia in the modern era of assisted reproductive technique. Urological Science, 31(6), 277-281.
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-ejakulasi-retrograde

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ejakulasi, gangguan, infertilitas, laki-laki, perempuan, sperma

Apakah Aspermia pada Pria Muda Penderita Diabetes Berdampak pada Infertilitas?

June 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Aspermia sendiri merupakan kondisi ketika paksu mengalami orgasme tanpa mengeluarkan sperma. Kondisi ini disebut juga sebagai orgasme kering (dry orgasm). Aspermia dapat terjadi sesekali dan hilang dengan sendirinya, tetapi bisa juga terjadi dalam jangka panjang dan berdampak pada kesuburan pria.

Aspermia dapat terjadi ketika air mani atau sperma berkurang. Bisa juga akibat adanya sumbatan pada saluran sperma sehingga air mani dan sperma tidak dapat dikeluarkan saat ejakulasi.

Beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab aspermia adalah Operasi prostat (prostatektomi), Operasi kandung kemih, Vasektomi, Radioterapi pada organ reproduksi pria misalnya testis dan prostat, Kelainan genetik yang mengganggu fungsi organ reproduksi, Kadar hormon testosteron yang terlalu rendah, Ejakulasi terbalik Infeksi, misalnya orchitis dan epididimitis, Varikokel, Sumbatan di saluran sperma atau saluran kemih dan Multiple sclerosis dan Cedera tulang belakang. Sekarang bagaimana jika kondisi ini jika terjadi pada laki-laki dengan diabetes? Yuk ketahui lebih lanjut!

Aspermia dan Diabetes

Diabetes melitus bukan hanya soal gula darah, karena kondisi kronik ini juga bisa menyentuh aspek kehidupan yang lebih dalam dan personal, termasuk kesuburan. Salah satu komplikasi yang jarang dibicarakan tapi nyata terjadi adalah aspermia. Fakta bahwa kondisi saat pria tidak bisa mengeluarkan air mani saat ejakulasi. Sekitar 40% pria penderita diabetes bisa mengalami kondisi ini, dan dampaknya tidak main-main terhadap peluang mereka menjadi seorang ayah. Lalu bagaimana jika pada paksu yang memiliki kondisi ini ingin melakukan program hamil?

Penanganan Melalui Kombinasi Bedah dan Terapi Obat

Masalah ejakulasi seperti ejakulasi kering atau gagal emisi pada pria dengan diabetes bukan hal yang bisa dianggap sepele. Ini bisa menjadi bagian dari komplikasi diabetes jangka panjang, khususnya yang memengaruhi pembuluh darah dan sistem saraf otonom yang mengatur fungsi seksual dan reproduksi.

Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah kombinasi antara tindakan bedah dan terapi medis. Misalnya, bila ditemukan kondisi varikokel (pelebaran pembuluh darah di skrotum), prosedur varikokelektomi dapat dilakukan untuk memperbaiki aliran darah di sekitar testis. Dalam beberapa kasus, bisa juga dilakukan tindakan ekstraksi sperma dari testis (TESE) untuk mengetahui kondisi spermatogenesis secara langsung.

Selain itu, terapi obat juga bisa menjadi bagian penting dalam pemulihan fungsi ejakulasi. Salah satu pilihan yang digunakan adalah Imipramine, yaitu obat antidepresan trisiklik yang telah ditemukan memiliki efek positif terhadap ejakulasi, terutama pada pria dengan diabetes. Obat ini bekerja dengan memengaruhi saraf dan otot yang terlibat dalam proses ejakulasi.

Dengan pendekatan yang tepat dan dilakukan secara bertahap, kemungkinan pemulihan fungsi ejakulasi tetap terbuka. Jika kualitas sperma setelah terapi membaik, prosedur seperti inseminasi intrauterin (IUI) bisa menjadi langkah selanjutnya dalam program kehamilan.

Yang penting untuk diingat paksu, infertilitas bukan hanya soal jumlah sperma tetapi juga bagaimana tubuh bekerja untuk mengeluarkannya. Dan ya diabetes memang bisa memengaruhi proses ini. Tapi kabar baiknya, penanganan tetap bisa dilakukan dengan pendekatan menyeluruh, bukan hanya fokus pada satu aspek saja. Jangan lupa tetap melakukan pemeriksaan ke dokter kalian yaa! Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Aghajani, M. M. R., Golsorkhtabaramiri, M., & Mirabi, P. (2021). Treatment of aspermia (anejaculation) in a diabetic infertile man (a case report). Journal of Clinical and Translational Endocrinology: Case Reports, 20, 100083.
  • https://www.alodokter.com/aspermia

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: aspermia, diabetes, infertilitas, laki-laki, sperma

Terapi Testosteron: Solusi untuk Hipogonadisme, Tapi Bagaimana Dampaknya ke Kesuburan?

June 2, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Pada kasus infertiltas paksu, salah satu terapi penggantian testosteron (testosterone replacement therapy atau TRT) telah menjadi andalan dalam mengobati pria dengan kadar testosteron rendah dan gejala hipogonadisme, seperti kelelahan, penurunan libido, dan gangguan mood. Seiring berkembangnya ilmu medis, kini tersedia berbagai bentuk TRT: dari sediaan oral, bukal, injeksi intramuskular, hingga patch transdermal, implan subdermal, dan semprotan nasal.

MDG saat ini ingin membahas lebih lanjut bagaimana terapi ini bukan tanpa risiko. Karena TRT eksogen berpotensi menekan kesuburan pria. Kok bisa?

Bagaimana TRT Bisa Mengganggu Kesuburan?

Kesuburan berupa hipogonadisme sendiri merupakan kondisi medis dimana kelenjar seks (gonad) pria (testis) atau wanita (ovarium) memproduksi hormon seks dalam jumlah yang kurang atau bahkan tidak memproduksi sama sekali. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan reproduksi, perubahan karakteristik seksual, dan masalah metabolisme. 

Tubuh pria memiliki sistem pengatur hormonal yang disebut sumbu hipotalamus–hipofisis–gonad (HPG). Sistem ini menjaga keseimbangan hormon, termasuk memicu produksi testosteron oleh sel Leydig di testis melalui sinyal hormon LH (luteinizing hormone).

Nah, ketika tubuh menerima testosteron dari luar (TRT eksogen), sumbu HPG “mengira” kadar testosteron sudah cukup — akibatnya, produksi LH ditekan. Ini menyebabkan testis berhenti memproduksi testosteron alami, dan kadar testosteron di dalam testis pun ikut turun drastis. Padahal, testosteron intratestikular ini krusial untuk proses pembentukan sperma (spermatogenesis). Akibatnya? Risiko infertilitas meningkat. Lalu kira-kira ada tidak alternatif untuk menyelesaikan masalah ini?

Alternatif Terapi dalam Meningkatkan Testosteron Tanpa Merusak Kesuburan

Bagi pria yang ingin menaikkan kadar testosteron tanpa mengorbankan kesuburan, terapi alternatif sedang dikembangkan dan sebagian sudah digunakan. Pendekatan ini bertujuan untuk merangsang produksi testosteron alami, bukan menggantikannya dari luar.

Beberapa opsi yang sedang digunakan atau diteliti antara lain:

  • Modulator reseptor estrogen selektif (SERM) seperti clomiphene citrate

  • Gonadotropin, termasuk hCG dan FSH

  • Inhibitor aromatase, yang mengurangi konversi testosteron menjadi estrogen

Meski demikian TRT bisa jadi solusi yang sangat membantu bagi pria dengan defisiensi testosteron. Tapi untuk sister dan paksu yang yang ingin melakukan program hamil, penting untuk berpikir dua kali dan berdiskusi dengan dokter. Terutama berkaitan dengan terapi yang meningkatkan testosteron alami sambil menjaga fungsi testis yang menjadi jalan tengah yang ideal. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id.

Referensi

  • Khodamoradi, K., Khosravizadeh, Z., Parmar, M., Kuchakulla, M., Ramasamy, R., & Arora, H. (2021). Exogenous testosterone replacement therapy versus raising endogenous testosterone levels: current and future prospects. F&S Reviews, 2(1), 32-42.
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-hipogonadisme

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hipogonadisme, infertilitas, laki-laki, perempuan, testosteron

Fakta Merokok dan Dampaknya pada Infertilitas

May 29, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu harus tahu fakta bahwa dalam beberapa dekade terakhir, kualitas reproduksi pria mengalami penurunan di berbagai negara. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya kasus infertilitas pria, penurunan kualitas air mani, hingga gangguan hormon. Banyak faktor yang jadi penyebabnya, dan salah satu yang paling sering disorot adalah gaya hidup, terutama kebiasaan merokok.

Fenomena dampak Rokok dari Berbagai Dunia

Fenomena ini dapat kita lihat dari hasil sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari seribu pria muda usia rata-rata 23 tahun dari berbagai latar belakang etnis. Penelitian ini turut mengevaluasi dampak merokok terhadap kualitas air mani, termasuk fragmentasi DNA sperma, status hormon, kadar zink, dan kesehatan metabolik.

Hasilnya cukup jelas: pada kelompok perokok berat, ditemukan beberapa gangguan signifikan, yaitu:

  • Penurunan volume semen
  • Penurunan jumlah dan konsentrasi sperma
  • Penurunan motilitas sperma
  • Peningkatan fragmentasi DNA sperma
  • Lebih banyak sperma dengan bentuk tidak normal (teratozoospermia)
  • Penurunan kadar zink dalam darah dan semen
  • Gangguan pada kesehatan metabolik

Ternyata dampak Rokok Tidak hanya pada Laki-laki!

Sister kalian pasti sudah tahu bahwa merencanakan kehamilan itu dimulai dari menjaga kesehatan diri sendiri, baik bagi sister maupun paksu. Nah salah satu langkah terpenting adalah berhenti merokok. Karena bukan hanya perokok aktif, perokok pasif pun dapat terkena dampaknya. Merokok terbukti menurunkan kesuburan pada sister dan mengganggu kualitas sperma pada pria.

Pada paksu turut mengalami penurunan tajam pada kualitas semen, kadar zink, dan kerusakan DNA sperma. Selain itu, menjaga pola makan bergizi, konsumsi vitamin E dan C bagi pria, serta susu pra-kehamilan bagi wanita juga penting. Pola hidup sehat dengan olahraga hingga istirahat cukup. Jika perlu, konsultasi ke dokter kandungan bisa membantu mengetahui penyebab gangguan kesuburan dan menentukan langkah terbaik kedepannya.

Sister dan paksu, kalau sedang ikhtiar atau ingin menjaga kesehatan reproduksi, ini waktunya ngobrol serius soal rokok. Karena tentu banyak hal bisa berubah kalau kita lebih peduli sama tubuh sendiri, termasuk soal kebiasaan yang dianggap “biasa” tapi ternyata punya dampak besar. Jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id untuk menemuman informasi menarik lainnya. 

Referensi

  • Osadchuk, L., Kleshchev, M., & Osadchuk, A. (2023). Effects of cigarette smoking on semen quality, reproductive hormone levels, metabolic profile, zinc and sperm DNA fragmentation in men: results from a population-based study. Frontiers in Endocrinology, 14, 1255304.
  • https://www.alodokter.com/komunitas/topic/cara-cepat-hamil-tapi-seorang-perokok-aktiv

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, perokok

Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Ancaman Tersembunyi pada Pria yang Tampak Sehat

May 28, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu pasti sudah tahu bahwa masalah infertilitas tidak selalu tampak jelas dari luar. Bahkan pada paksu dengan kondisi fisik sehat dan tanpa penyebab infertilitas yang pasti, kualitas sperma bisa saja terganggu. Nah yuk ketahui salah satu faktor tersembunyi yang kini menjadi sorotan adalah stres oksidatif (oxidative stress/OS).

Hubungan Kualitas Sperma dan Stress Oksidatif

Ada sebuah studi yang melibatkan 41 pria yang memiliki pasangan infertil dan mengevaluasi parameter air mani seperti jumlah sperma, motilitas, fragmentasi DNA, serta penanda stres oksidatif seperti ORP (oxidation–reduction potential) dan d-ROM (derivatives of Reactive Oxygen Metabolites).

Dan menemukan fakta menarik yaitu meski para partisipan sebagian besar berusia di bawah 40 tahun, tidak mengalami obesitas, dan memiliki kondisi klinis yang dianggap normal mereka dengan 

  1. Kadar d-ROM dalam darah dan ORP dalam air mani terbukti berkaitan dengan penurunan jumlah sperma.
  2. Motilitas sperma juga dipengaruhi oleh kadar seng serum dan ORP air mani.
  3. Fragmentasi DNA sperma berkaitan erat dengan kadar kolesterol HDL dan seng.

Penanda stres oksidatif di sperma (ORP) dan di darah (d-ROM) ternyata nggak selalu sejalan. Ini menunjukkan bahwa kerusakan sperma bisa disebabkan oleh stres oksidatif lokal maupun sistemik, jadi kita nggak bisa menilai cuma dari salah satunya aja.

Stres oksidatif sendiri merupakan kondisi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh melebihi kapasitas antioksidan untuk menetralkannya. Radikal bebas ini dapat merusak sel, termasuk sel sperma, dengan menyebabkan kerusakan DNA, menurunnya motilitas, hingga kematian sel sperma itu sendiri. Stres oksidatif, terjadi secara sistemik (dalam tubuh) maupun lokal (langsung di sperma).

Bagaimana Perannya dalam Infertilitas Pria?

Pada pria dengan gaya hidup tidak sehat (merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur), stres oksidatif kerap ditemukan tinggi. Namun, bahkan pada pria yang terlihat sehat pun bisa mengalami stres oksidatif lokal di organ reproduksi yang berdampak negatif pada kualitas sperma.

Banyak sister dan paksu yang tidak kunjung hamil, meskipun tidak ditemukan “masalah” medis yang jelas. Sehingga fakta tersebut mendorong pentingnya evaluasi mendalam terhadap stres oksidatif terutama pemeriksaan kesuburan pria. Pendekatan ini juga membuka peluang pengobatan preventif berbasis antioksidan, manajemen stres, hingga perbaikan pola makan.

Infertilitas pria bisa terjadi tanpa gejala atau penyebab yang terlihat. Stres oksidatif adalah “musuh dalam selimut” yang dapat memengaruhi kualitas sperma, bahkan pada pria dengan hasil pemeriksaan dasar yang normal. Pemeriksaan stres oksidatif akghirnya dibutuhkan lebih menyeluruh agar tidak ada yang terlewatkan, dan juga dukungan gaya hidup sehat menjadi langkah penting yang seharusnya mulai diperhitungkan dalam manajemen kesuburan pasangan. 

Referensi

  • Chen, L., Mori, Y., Nishii, S., Sakamoto, M., Ohara, M., Yamagishi, S. I., & Sekizawa, A. (2024). Impact of Oxidative Stress on Sperm Quality in Oligozoospermia and Normozoospermia Males Without Obvious Causes of Infertility. Journal of Clinical Medicine, 13(23), 7158.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, MDG, oksidatif, PDG, perempuan, stress

Ternyata, Nggak Semua Tubuh Bisa Pakai Asam Folat Untuk Program Hamil

May 27, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Kalau bicara soal nutrisi penting untuk kesuburan pria, salah satu yang banyak digunakan untuk membantu keberhasilan program hamil adalah vitamin B9, atau yang lebih dikenal dengan folat. Tapi disisi lain yang harus kita pahami adalah bahwa kemampuan tubuh dalam memanfaatkan folat bisa dipengaruhi oleh faktor genetik, terutama oleh gen bernama MTHFR. Fakta menunjukkan bahwa mutasi pada gen ini bisa membuat tubuh sulit menggunakan folat secara optimal. Wah mengapa bisa begitu? pahami lebih lanjut yuk!

Pahami tentang hubungan Asam Folat dan Gen MTHFR 

Asam folat (yang dikenal juga sebagai vitamin B9) penting banget buat pembentukan DNA, perbaikan sel, dan menangkal stres oksidatif. Tapi, sebelum bisa dipakai tubuh, asam folat harus “diaktifkan” dulu lewat proses kimiawi yang diatur oleh gen bernama MTHFR.

Nah, beberapa orang punya variasi genetik MTHFR, khususnya versi yang dikenal dengan nama C677T dan A1298C yang bikin proses ini nggak berjalan lancar. Akibatnya, asam folat jadi nggak bisa diproses maksimal, dan ini bisa ganggu proses pembentukan sperma.

Sebuah temuan yang dilakukan di Tiongkok yang melibatkan lebih dari 800 pria menunjukkan bahwa pria dengan gangguan kualitas sperma seperti jumlah sperma rendah atau sperma dengan gangguan motilitas, lebih sering memiliki variasi genetik MTHFR C677T dibandingkan pria dengan kualitas sperma normal. Nah temuan tersebut memberi petunjuk bahwa mutasi gen MTHFR bisa jadi berperan dalam beberapa kasus infertilitas pria, meski bukan satu-satunya faktor penyebab. Yuk kita lihat bagaimana ini perpengaruh ke infertilitas pria.

Gen MTHFR dan Infertilitas Pria

Jadi variasi genetik pada gen methylenetetrahydrofolate reductase (MTHFR), khususnya A1298C, diketahui dapat menurunkan kadar folat dalam plasma dan meningkatkan kerentanan terhadap berbagai gangguan multifaktorial. 

Sebuah studi turut menganalisis 50 pria infertil dengan riwayat azoospermia nonobstruktif atau oligozoospermia berat, serta 50 pria fertil sebagai kelompok kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi A1298C pada gen MTHFR memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan infertilitas pria, sementara variasi C677T tidak menunjukkan asosiasi yang serupa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa polimorfisme A1298C berpotensi meningkatkan risiko infertilitas pria.

Karena folat nggak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh dan hanya bisa didapat dari makanan atau suplemen, maka mengetahui adanya mutasi pada gen MTHFR bisa membantu kalian untuk dapat mempertimbangkan intervensi nutrisi yang lebih tepat, seperti suplementasi folat aktif atau penguatan pola makan.

Selain itu, ini juga jadi pengingat bahwa gangguan kesuburan pria bisa dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik, dan bukan sekadar soal gaya hidup atau kesehatan umum.

Kalau sister dan paksu sedang menjalani program hamil dan merasa sudah mencoba banyak hal, pemeriksaan genetik bisa menjadi salah satu langkah lanjutan. Terutama kalau ada riwayat gangguan sperma atau hasil pemeriksaan semen yang kurang optimal. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Ren, F. J., Fang, G. Y., & Zhang, Z. Y. (2024). Association between methylenetetrahydrofolate reductase C677T polymorphisms and male oligozoospermia, asthenozoospermia or oligoasthenozoospermia: a case–control study. Scientific Reports, 14(1), 25219.
  • Balunathan, N., Venkatesen, V., Chauhan, J., Reddy, S. N., Perumal, V., & Paul, S. F. (2021). Role of MTHFR gene polymorphisms in male infertility. Int J Infertil Fetal Med, 12(1), 7-12.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: asam folat, infertilitas, kacang, laki-laki, program hamil

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 3
  • Page 4
  • Page 5
  • Page 6
  • Page 7
  • Interim pages omitted …
  • Page 11
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Stres, Hormon, dan Infertilitas: Ketika Pikiran dan Tubuh Saling Mempengaruhi Kesuburan
  • Faktor Sederhana yang Ternyata Bisa Mempengaruhi Kesuburan
  • Nyeri Saat Berhubungan pada Endometriosis: Kenapa Banyak yang Diam dan Tidak Tahu Harus Ke Mana
  • Antioksidan Tidak Selalu Aman: Ketika “Terlalu Sehat” Justru Mengganggu Kesuburan
  • Stres Oksidatif dan Kualitas Sperma: Peran Telomer yang Jarang Dibahas dalam Infertilitas

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.