• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

IVF

Ketika Dinding Rahim Terlalu Tipis: Tantangan Besar dalam Program IVF

December 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Dalam proses kehamilan baik alami maupun lewat IVF embrio membutuhkan “rumah” yang sehat untuk menempel. Rumah itu adalah endometrium, lapisan dalam rahim yang seharusnya menebal setiap bulan menjelang masa subur.

Endometrium yang terlalu tipis (umumnya <7 mm) terbukti berkaitan dengan menurunnya peluang implantasi, meningkatnya kegagalan IVF, hingga risiko keguguran yang lebih tinggi. Meski teknologi reproduksi terus berkembang, mengatasi endometrium tipis masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam promil.

Mengapa Endometrium Bisa Menjadi Tipis?

Bahwa kondisi ini bersifat multifaktorial. Beberapa penyebab tersering antara lain:

  • Kerusakan lapisan dasar endometrium akibat kuret berulang atau infeksi (misalnya TB genital).
  • Efek samping obat, terutama clomiphene citrate, yang bisa menghalangi pertumbuhan lapisan rahim.
  • Gangguan aliran darah ke rahim, menyebabkan endometrium kurang mendapat nutrisi dan oksigen.
  • Kelainan bawaan struktur rahim, sehingga endometrium memang sulit menebal.
  • Masalah angiogenesis, yaitu pembentukan pembuluh darah baru yang tidak optimal.
  • Fibrosis dan perlengketan, seperti pada Asherman Syndrome.

Karena penyebabnya sangat beragam, penanganannya pun tidak bisa disamaratakan.

Bagaimana Dokter Menangani Endometrium Tipis?

Banyak terapi telah dicoba, namun belum ada yang benar-benar menjadi “gold standard”. Berikut pendekatan yang diulas dalam literatur:

  1. Terapi Estradiol

Sebagai hormon yang mendukung pertumbuhan endometrium, estradiol diberikan secara oral, suntik, atau vaginal. Pada sebagian pasien, estradiol membantu menambah ketebalan hingga batas aman untuk transfer embrio. Namun pada sebagian lainnya, peningkatannya minimal.

  1. Human Chorionic Gonadotropin (hCG)

hCG bekerja sebagai sinyal lokal yang menstimulasi pertumbuhan endometrium. Beberapa studi menunjukkan peningkatan ketebalan sekitar 0.5–0.8 mm, terutama pada kasus yang peka terhadap hormon.

  1. GnRH Agonist

Diberikan pada fase luteal, terapi ini dapat memperbaiki reseptivitas dan meningkatkan peluang implantasi pada pasien dengan endometrium tipis.

  1. Tamoxifen

Meski dikenal sebagai obat kanker payudara, tamoxifen juga dapat menstimulasi pertumbuhan endometrium, dan sering digunakan pada pasien PCOS yang tidak cocok dengan clomiphene citrate.

  1. Agen Vasoaktif

Termasuk aspirin dosis rendah, sildenafil vaginal, vitamin E, atau pentoxifylline.
Obat-obatan ini bekerja memperbaiki aliran darah rahim. Hasilnya bervariasi: ada pasien yang responsif, namun banyak juga yang tidak menunjukkan perubahan signifikan.

  1. Terapi Intrauterine: G-CSF & PRP
  • G-CSF dapat meningkatkan ketebalan endometrium dalam 48–72 jam pada kasus refrakter.
  • PRP (Platelet-Rich Plasma) menjadi pendekatan terbaru yang menunjukkan hasil menjanjikan pada beberapa penelitian kecil—bahkan memicu kehamilan pada kasus sulit.
  1. Pemeriksaan Receptivity: ERA Test

Jika masalah bukan pada ketebalan tapi pada “ketepatan waktu” implantasi, ERA membantu menentukan kapan endometrium siap menerima embrio secara optimal.

Mengapa Kondisi Ini Sulit Diatasi?

Endometrium tipis bukan hanya soal ketebalan, tetapi juga soal kualitas jaringan, aliran darah, reseptivitas hormon, dan tingkat inflamasi. Itulah sebabnya sebagian besar terapi hanya memberikan perbaikan kecil dan hasilnya sangat individual.

Bahkan dalam IVF, banyak pasien dengan endometrium tipis membutuhkan protokol yang lebih panjang, transfer embrio beku, atau kombinasi terapi agar rahim benar-benar siap menerima embrio.

Apa Artinya untuk Pasangan yang Sedang Menjalani Promil?

Jika endometrium sulit menebal, langkah yang disarankan umumnya meliputi:

  • Menunda transfer hingga endometrium mencapai ketebalan yang aman.
  • Menggunakan protokol FET (Frozen Embryo Transfer) untuk memberi waktu lebih panjang bagi endometrium tumbuh.
  • Mempertimbangkan terapi tambahan seperti G-CSF, PRP, atau agen vasoaktif.
  • Melakukan ERA test bila gagal implantasi berulang.

Dengan pendekatan personal dan pemantauan ketat, peluang hamil tetap ada meski membutuhkan strategi berbeda dari pasien lainnya.

Endometrium tipis adalah tantangan yang kompleks dalam promil, terutama pada IVF. Meski banyak terapi telah dicoba, belum ada satu metode yang pasti efektif untuk semua pasien. Penanganan harus melihat penyebab, riwayat, dan respons tubuh masing-masing perempuan. Diagnosis yang tepat dan rencana promil yang personal adalah kunci untuk meningkatkan peluang dua garis, sister. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Eftekhar, M., Tabibnejad, N., & Tabatabaie, A. A. (2018). The thin endometrium in assisted reproductive technology: An ongoing challenge. Middle East Fertility Society Journal, 23(1), 1-7.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Dinding, IVF, rahim

Adenomiosis & IVF: Apa Pengaruhnya Terhadap Peluang Hamil?

December 1, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu  harus tahu jika adenomiosis terjadi ketika jaringan endometrium yang seharusnya ada di dalam rongga rahim malah masuk ke dalam otot rahim. Kondisi ini bisa membuat ukuran rahim membesar, menyebabkan perdarahan haid yang lebih berat, nyeri panggul, atau terkadang tidak menimbulkan gejala sama sekali. Meski sering tidak disadari, adenomiosis cukup sering ditemukan pada perempuan yang sedang menjalani pemeriksaan infertilitas, terutama mereka yang mengalami keguguran berulang atau kegagalan implantasi berulang saat menjalani program hamil.

Kenapa Adenomiosis Diduga Mengganggu Kesuburan?

Pada tingkat jaringan, adenomiosis mengubah struktur dan fungsi rahim. Kontraksi otot rahim bisa menjadi tidak teratur, sehingga mengganggu perjalanan sperma dan pergerakan embrio. Lingkungan endometrium pun bisa mengalami peradangan kronis, peningkatan radikal bebas, perubahan reseptor hormon, serta penurunan molekul penting seperti integrin, LIF, dan HOXA10 semuanya berperan kunci dalam proses implantasi. Ketika “jendela implantasi” tidak sinkron, embrio berkualitas baik sekalipun bisa kesulitan menempel di dinding rahim.

Bagaimana Dampaknya pada Program IVF?

Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Ada studi yang tidak menemukan penurunan peluang kehamilan pada pasien adenomiosis, tetapi banyak penelitian lain justru menunjukkan pola negatif: angka implantasi lebih rendah, risiko keguguran lebih tinggi, dan angka kelahiran hidup yang turun. Sebuah meta-analisis besar bahkan mencatat bahwa adenomiosis dapat menurunkan peluang hamil klinis hingga sekitar 28% serta menggandakan risiko keguguran. Penelitian yang hanya menggunakan embrio euploid pun tetap menunjukkan peningkatan risiko keguguran menegaskan bahwa masalahnya berasal dari lingkungan rahim itu sendiri.

Tingkat Keparahan Berhubungan dengan Risiko IVF

Hasil studi terkini menunjukkan bahwa semakin banyak ciri adenomiosis yang ditemukan pada USG atau MRI, semakin besar penurunan peluang keberhasilan IVF. Pada kasus dengan empat atau lebih karakteristik adenomiosis, peluang hamil dapat turun hingga separuhnya. Variasi kriteria diagnosis antar studi (USG 2D/3D vs MRI, jumlah kriteria yang digunakan, dan perbedaan interpretasi) menjadi salah satu penyebab hasil penelitian sebelumnya saling bertentangan.

Perlukah Terapi Sebelum IVF?

Untuk itu diperlukan penggunaan agonis GnRH selama beberapa bulan sebelum IVF untuk membantu mengecilkan lesi dan mengurangi peradangan. Pendekatan ini tampak bermanfaat terutama pada siklus transfer embrio beku. Namun, hasilnya belum konsisten di semua penelitian. Operasi untuk mengangkat adenomiosis pun memiliki risiko khusus, termasuk risiko robekan rahim di masa kehamilan, sehingga harus dipertimbangkan dengan matang sesuai kondisi pasien.

Hampir separuh perempuan dengan adenomiosis memiliki kondisi lain seperti endometriosis atau mioma. Karena endometriosis sendiri dapat menurunkan peluang hamil, penelitian sering kesulitan memisahkan dampak masing-masing penyakit. Ini membuat interpretasi hasil IVF pada pasien adenomiosis menjadi lebih kompleks.

Mengapa Diperlukan Standarisasi Diagnosis?

Perbedaan cara diagnosis antar penelitian membuat hasil studi sulit dibandingkan. Penggunaan USG transvaginal sering lebih praktis untuk skrining, sementara MRI lebih akurat untuk kasus tertentu. Namun hingga kini belum ada standar global mengenai berapa banyak ciri USG/MRI yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis adenomiosis. Tanpa standarisasi ini, sulit membuat panduan klinis yang benar-benar akurat untuk meningkatkan peluang IVF.

Berdasarkan bukti ilmiah saat ini, adenomiosis tampaknya dapat menurunkan peluang keberhasilan IVF, meningkatkan risiko keguguran, dan memengaruhi angka kelahiran hidup. Meski begitu, banyak faktor yang belum terstandarisasi mulai dari metode diagnosis, perbedaan derajat keparahan, hingga keberadaan penyakit lain yang menyertai. Karena itu, penanganan adenomiosis perlu sangat individual, mempertimbangkan usia, gejala, tingkat keparahan, dan rencana reproduksi jangka panjang pasien. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Squillace, A. L. A., Simonian, D. S., Allegro, M. C., Júnior, E. B., de Mello Bianchi, P. H., & Bibancos, M. (2021). Adenomyosis and in vitro fertilization impacts-a literature review. JBRA Assisted Reproduction, 25(2), 303.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: adenomiosis, IVF, Peluang Hamil

AMH Rendah di Usia 40 Tahun: Benarkah Mengurangi Peluang IVF?

November 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Bagi banyak perempuan, hasil AMH sering menjadi angka yang menegangkan. Apalagi ketika usianya sudah memasuki 40 tahun. AMH yang rendah sering dianggap sebagai tanda bahwa peluang kehamilan ikut menurun. Namun, apakah benar demikian? Tidak selalu.

Sebuah studi besar dari Taiwan justru menunjukkan bahwa AMH rendah tidak selalu berarti IVF akan gagal, dan temuan ini sangat melegakan bagi banyak perempuan.

AMH Menggambarkan Jumlah, Bukan Kualitas

AMH adalah indikator seberapa banyak cadangan sel telur yang masih dimiliki. Jika angkanya rendah, itu artinya jumlah telur memang sudah berkurang—hal yang sangat wajar seiring bertambahnya usia.

Tetapi, banyak yang salah paham dan mengira AMH rendah berarti kualitas telurnya juga buruk.
Padahal, penelitian ini menemukan bahwa:

Jumlah boleh sedikit, tapi kualitasnya belum tentu menurun.

Apa yang Ditemukan Penelitian Ini?

Dalam studi tersebut, para peneliti mengikuti ribuan perempuan usia 40 tahun yang menjalani IVF. Mereka dikelompokkan menjadi AMH rendah dan AMH normal untuk melihat perbedaannya.

Hasilnya cukup jelas: AMH rendah membuat jumlah telur yang didapat lebih sedikit.

Ini memang fungsi utama AMH: menilai kuantitas. Namun kualitas telurnya tetap sama antara kedua kelompok. Peluang embrio menempel, berkembang, hingga menjadi kehamilan tidak berbeda secara signifikan.

Hasil akhir IVF termasuk kelahiran hidup juga sama. Artinya, AMH bukan penentu keberhasilan IVF pada usia 40. Karena faktor Utama Tetap Usia, Bukan AMH

Pada usia 40, kualitas oosit memang secara alami menurun karena faktor biologis. Namun AMH tidak mengukur kualitas ini. Ia hanya mengukur berapa banyak sel telur yang bisa direkrut dalam satu siklus.

Temuan ini menegaskan bahwa: AMH rendah = jumlah telur sedikit, Tetapi peluang keberhasilan IVF tetap sama, selama kualitas telur masih memungkinkan

Apa Artinya untuk Perempuan yang Sedang Menjalani IVF?

Data ini membawa perspektif baru: AMH rendah bukan alasan untuk menyerah. Banyak perempuan tetap berhasil hamil lewat IVF meskipun angka AMH mereka sangat kecil.

Hal yang perlu dipahami adalah:

  • AMH membantu dokter menentukan strategi stimulasi hormon
  • Namun bukan patokan untuk menilai kualitas telur
  • Dan bukan juga penentu apakah IVF akan gagal atau berhasil

Akhirnya, yang paling penting adalah kualitas embrio yang terbentuk dan bagaimana tubuh merespons proses IVF.

Kesimpulan: AMH Rendah Bukan Akhir dari Peluang Kehamilan

AMH adalah angka yang memberi informasi penting, tetapi tidak menentukan segalanya. Meski jumlah sel telur menurun, kualitasnya masih bisa tetap baik. Itu sebabnya banyak perempuan dengan AMH rendah justru berhasil melalui IVF. Jadi, kalau sister melihat hasil AMH rendah tenang. Peluangmu tetap ada, dan tetap nyata. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Wang, M. J., Lin, M. H., Yang, J. H., Lee, R. K. K., & Lee, K. S. (2025). Low antimüllerian hormone (< 1.2 ng/ml) does not impact oocyte quality and IVF/ICSI outcomes in women≤ 40 years old. Taiwanese Journal of Obstetrics and Gynecology, 64(2), 248-252.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: IVF, Prluang, Usia 40 tahun

Ramuan Herbal Tiongkok dan IVF Kini Mulai Dilirik untuk Tingkatkan Peluang Kehamilan

October 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Program bayi tabung (IVF-ET) masih menjadi salah satu harapan utama bagi banyak pasangan yang berjuang melawan infertilitas. Namun, meski teknologi sudah semakin maju, tingkat keberhasilan IVF masih tergolong terbatas hanya sekitar 30–40%.
Faktor biaya yang tinggi, durasi pengobatan yang panjang, dan tekanan emosional selama proses membuat banyak perempuan mencari cara lain untuk membantu tubuhnya tetap seimbang dan siap hamil.

Salah satu pendekatan yang kini semakin menarik perhatian adalah penggunaan ramuan herbal Tiongkok (Chinese Herbal Medicine / CHM) sebagai terapi pelengkap selama program IVF.

Mengapa IVF Belum Selalu Berhasil?

Infertilitas memengaruhi sekitar 8–12% pasangan di seluruh dunia, dan angka ini terus meningkat setiap tahun. Banyak penyebab yang bisa memengaruhi kesuburan perempuan mulai dari gangguan ovulasi, endometriosis, masalah rahim atau saluran tuba, hingga faktor laki-laki.

Meskipun IVF menjadi solusi medis paling umum, hasilnya belum selalu memuaskan.
Sering kali, embrio yang sudah baik tetap gagal menempel, atau kehamilan tidak berlanjut. Selain itu, proses IVF juga dapat menimbulkan stres, ketegangan emosional, serta kelelahan fisik, yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap keberhasilan program.

Herbal Tiongkok Sebagai Terapi 

Ramuan herbal Tiongkok telah digunakan selama ribuan tahun untuk membantu perempuan menjaga kesuburan dan menyeimbangkan energi tubuh. Kini, semakin banyak penelitian modern yang mencoba melihat bagaimana herbal ini bisa bekerja berdampingan dengan pengobatan medis untuk mendukung keberhasilan IVF.

Menurut ulasan terbaru yang diterbitkan oleh Chang dan kolega (2023), herbal Tiongkok berpotensi membantu pada berbagai tahapan siklus IVF-ET, mulai dari persiapan sebelum stimulasi ovarium hingga fase implantasi embrio.

Bagaimana Herbal Ini Bekerja?

Peneliti menemukan beberapa mekanisme yang mungkin menjelaskan manfaat herbal Tiongkok selama IVF:

  1. Meningkatkan fungsi ovarium
    Beberapa ramuan membantu memperkuat respon ovarium terhadap stimulasi hormon, sehingga kualitas sel telur bisa lebih baik.
  2. Memperbaiki reseptivitas endometrium
    Herbal tertentu dapat memperbaiki sirkulasi darah ke rahim dan menebalkan lapisan endometrium, menjadikannya lebih siap menerima embrio.
  3. Menyeimbangkan sistem imun
    Sistem imun yang terlalu aktif kadang justru menghambat implantasi. Ramuan TCM berfungsi menenangkan reaksi imun agar tubuh lebih “ramah” terhadap embrio.
  4. Mengurangi stres dan ketegangan mental
    Proses IVF sering kali membuat pasien tegang dan cemas. Beberapa herbal memiliki efek menenangkan dan dapat membantu menjaga keseimbangan hormonal.
  5. Melindungi sel dari stres oksidatif
    Antioksidan alami dari tanaman herbal membantu melawan radikal bebas yang dapat mengganggu kualitas sel telur maupun embrio.

Kapan Herbal Tiongkok Dapat Digunakan?

Menurut penelitian tersebut, terapi herbal bisa disesuaikan dengan tahapan IVF:

  • Sebelum stimulasi ovarium: untuk memperkuat energi tubuh dan mempersiapkan ovarium.
  • Selama stimulasi: mendukung pertumbuhan folikel dan menjaga keseimbangan hormon.
  • Menjelang transfer embrio: memperbaiki kondisi rahim agar siap menerima embrio.
  • Setelah transfer: membantu menjaga kestabilan hormon dan menenangkan tubuh.

Namun, semua penggunaan herbal harus dilakukan dengan bimbingan dokter dan ahli TCM yang berpengalaman, agar tidak mengganggu terapi medis utama.

Program hamil dengan bantuan teknologi seperti IVF bukan hanya soal prosedur medis — tapi juga tentang bagaimana tubuh dan pikiran berada dalam kondisi terbaik untuk menerima kehidupan baru.

Penggunaan ramuan herbal Tiongkok sebagai terapi pelengkap memberi harapan baru bagi sister tapi jngat ini bukan untuk menggantikan pengobatan modern, tapi untuk mendukung tubuh agar lebih siap, tenang, dan seimbang selama menjalani proses yang penuh tantangan ini. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Chang, H., Yeung, T. C., Yang, X., Gao, J., Wu, X., & Wang, C. C. (2023). Chinese herbal medicines as complementary therapy to in vitro fertilization-embryo transfer in women with infertility: protocols and applications. Human Fertility, 26(4), 845-863.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: IVF, terapi

Hubungan Celiac Disease dan Kesuburan: Saat Gluten Turut Berperan dalam Fertilitas

October 14, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Celiac disease (CeD), atau penyakit celiac, dikenal sebagai gangguan autoimun yang dipicu oleh konsumsi gluten protein yang terdapat dalam gandum, barley, dan rye. Penyakit ini menyebabkan peradangan dan kerusakan pada usus halus, sehingga tubuh kesulitan menyerap nutrisi penting. Namun, tahukah kamu kalau dampak CeD ternyata bisa meluas hingga ke kesehatan reproduksi?

Artikel terbaru yang diterbitkan di jurnal Nutrients (2025) oleh Wieser dan koleganya, menyoroti kaitan antara celiac disease dan infertilitas, baik pada perempuan maupun laki-laki. Hasilnya? Menarik, tapi juga masih menyisakan banyak tanda tanya. Yuk pelajari lebih lanjut!

Celiac Disease dan Risiko Infertilitas

Pada penderita CeD terutama yang belum terdiagnosis atau tidak menjalani diet bebas gluten memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesuburan, seperti:

  • Sulit hamil (unexplained infertility)
  • Keguguran berulang
  • Kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah

CeD yang tidak tertangani dapat memicu peradangan kronis, gangguan hormonal, dan defisiensi nutrisi penting seperti zat besi, seng, dan asam folat  semuanya berperan penting dalam fungsi reproduksi yang sehat.

Namun, tak semua penelitian sepakat. Beberapa studi berskala besar menemukan bahwa prevalensi infertilitas pada penderita CeD tidak jauh berbeda dengan populasi umum. Perbedaan hasil ini dipengaruhi oleh variasi definisi infertilitas, ukuran sampel, dan metode diagnosis CeD yang digunakan (apakah berdasarkan antibodi atau biopsi usus).

Apa Kata Penelitian pada Perempuan?

Sejak 1970-an, para peneliti sudah mencurigai hubungan antara CeD dan infertilitas perempuan. Dalam beberapa studi terkini:

  • Perempuan dengan infertilitas tanpa sebab yang jelas menunjukkan prevalensi antibodi CeD lebih tinggi dibanding kelompok kontrol sehat.
  • Studi di India dan Brasil, misalnya, menemukan bahwa 5–10% perempuan infertil menunjukkan hasil positif terhadap antibodi anti-transglutaminase (TGA), indikator utama CeD.
  • Menariknya, banyak dari mereka tidak memiliki gejala pencernaan sama sekali artinya CeD bisa tersembunyi di balik masalah reproduksi tanpa disadari.

Bagaimana dengan Laki-Laki?

Meski lebih jarang dibahas, CeD ternyata juga bisa memengaruhi kualitas sperma dan fungsi hormonal pria. Defisiensi nutrisi, peradangan sistemik, dan gangguan penyerapan zinc atau folat dapat menurunkan motilitas sperma dan menimbulkan disfungsi ereksi.

Menariknya, beberapa studi menemukan perbaikan signifikan setelah menjalani diet bebas gluten (gluten-free diet / GFD). Artinya, respons tubuh terhadap gluten mungkin juga berperan dalam kesehatan reproduksi pria.

Hingga saat ini, satu-satunya terapi efektif untuk CeD adalah diet bebas gluten seumur hidup. Banyak laporan kasus menunjukkan bahwa perempuan dengan infertilitas tak terjelaskan berhasil hamil setelah menerapkan GFD secara konsisten.
Meski belum bisa disebut “obat mujarab”, hasil ini memberi harapan bahwa mengelola CeD dengan tepat dapat memperbaiki fungsi reproduksi.

Celiac disease memang tidak selalu menjadi penyebab utama infertilitas, tapi pada sebagian individu terutama dengan kasus infertilitas yang tidak dapat dijelaskan CeD bisa menjadi faktor tersembunyi yang patut dicurigai. Jadi sister dan paksu dapat menggunakan pola makan bebas gluten secara konsisten karena berpotensi memperbaiki fungsi reproduksi pada pasien yang memiliki CeD aktif. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris,id

Referensi

Wieser, H., Ciacci, C., Soldaini, C., Gizzi, C., Pellegrini, L., & Santonicola, A. (2025). Fertility in Celiac Disease: The Impact of Gluten on Male and Female Reproductive Health. Nutrients, 17(9), 1575.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Gluten, infertilitas, IVF, kesuburan

Terobosan Baru IVF dan Endometriosis: Pendekatan Tepat, Hasil Lebih Optimal

October 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Surabaya, 12 Oktober 2025 — Menuju Dua Garis bersama Thomson Fertility Centre menghadirkan talkshow edukatif bertajuk “Terobosan Baru IVF dan Endometriosis”, menghadirkan narasumber Prof. Dr. Prasanna Supramaniam, Fertility Specialist internasional yang juga terlibat dalam penyusunan Endometriosis Guideline ESHRE (European Society of Human Reproduction and Embryology) — standar perawatan endometriosis yang diakui di seluruh dunia.

Acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai hubungan antara endometriosis dan kesuburan, serta bagaimana penanganan yang tepat dapat meningkatkan peluang keberhasilan program bayi tabung (IVF).

Prof. Prasanna menjelaskan bahwa endometriosis tidak hanya menimbulkan nyeri, tetapi juga dapat menurunkan kualitas sel telur dan mempercepat penurunan cadangan ovarium, terutama pada perempuan usia reproduktif lanjut.

“Pendekatan pengobatan untuk pasien dengan endometriosis tidak bisa disamaratakan. Setiap pasien memiliki kondisi berbeda, sehingga protokol IVF dan dosis obat perlu disesuaikan secara individual,” ujar Prof. Prasanna.

Selain IVF, laparoskopi menjadi salah satu tindakan penting pada pasien dengan kista endometriosis berukuran besar (7–9 cm) atau yang mengganggu struktur reproduksi. Pada kasus tertentu, kista endometriosis juga dapat ditangani dengan metode skleroterapi etanol (pemberian cairan alkohol) untuk menghancurkan isi kista tanpa operasi besar—terutama jika kualitas sel telur perlu dipertahankan.

Dalam sesi diskusi, Prof. Prasanna juga menyoroti perbedaan mendasar antara endometriosis, mioma uteri, dan polip rahim. Perbedaan utama adalah lokasi dan dampaknya: endometriosis terjadi ketika jaringan mirip endometrium tumbuh di luar rahim (misalnya di ovarium), menyebabkan nyeri dan bisa memengaruhi kualitas sel telur; mioma uteri adalah pertumbuhan non-kanker di otot dinding rahim; dan polip rahim adalah pertumbuhan jaringan abnormal di lapisan dalam rahim (endometrium). .

Selain faktor medis, gaya hidup dan kesehatan umum juga menjadi penentu penting. Kondisi seperti berat badan berlebih, tekanan darah tinggi, stres kronis, hingga gangguan ereksi pada pria dapat memengaruhi keberhasilan program hamil.

“Pemahaman yang fasih tentang endometriosis sangat penting. Penanganan yang kurang tepat justru bisa membahayakan, baik bagi kesuburan maupun keselamatan pasien,” tambahnya.

Melalui talkshow ini, para peserta diharapkan lebih memahami bahwa penanganan endometriosis memerlukan kolaborasi antara keilmuan, ketelitian diagnosis, dan pendekatan personal.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi menujuduagaris.id atau Intagagram @menujuduagaris.id

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, IVF, Terobosan Baru

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Page 4
  • Interim pages omitted …
  • Page 9
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.