• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

IVF

Program Hamil dengan Endometriosis: Laparoskopi atau IVF Dulu?

October 8, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Bagi banyak perempuan, endometriosis bukan hanya sekadar “penyakit haid yang nyeri”. Kondisi ini jauh lebih kompleks dan sering kali baru benar-benar terasa dampaknya ketika mereka mencoba untuk hamil. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: haruskah dilakukan operasi laparoskopi terlebih dahulu untuk membersihkan endometriosis, atau langsung memulai program bayi tabung (IVF)?

Dilema ini sangat relevan, karena baik laparoskopi maupun IVF sama-sama memiliki peran penting, namun keputusan yang tepat sangat tergantung pada kondisi masing-masing pasien.

Endometriosis dan Hubungannya dengan Kesuburan

Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan mirip endometrium dimana lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium, tuba falopi, atau bahkan rongga panggul. Penyakit ini bersifat estrogen-dependent, artinya pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen.

Menariknya, penelitian terbaru menemukan adanya kondisi yang disebut local hypoestrogenism, yaitu kadar estrogen yang lebih rendah di jaringan endometriosis dibandingkan jaringan sehat di sekitarnya. Akibat ketidakseimbangan ini, muncul beberapa masalah:

  • Peradangan kronis: jaringan endometriosis memicu reaksi imun yang berlebihan, menimbulkan nyeri yang persisten.
  • Fibrosis (jaringan parut): proses penyembuhan yang berulang membuat organ menjadi kaku.
  • Adhesi: organ-organ di panggul dapat saling menempel, sehingga anatomi normal terganggu.
  • Gangguan kesuburan: tuba falopi bisa tersumbat, pelepasan sel telur terganggu, dan pertemuan sperma dengan sel telur jadi semakin sulit.

 

Selain itu, endometriosis juga berdampak langsung pada ovarium. Cairan dari kista endometriosis kaya akan zat besi yang dapat memicu stres oksidatif, yaitu ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh. Kondisi ini merusak sel-sel folikel, sehingga kualitas dan jumlah sel telur menurun. Pada akhirnya, cadangan ovarium (ovarian reserve) menjadi lebih cepat berkurang dibandingkan perempuan tanpa endometriosis. Jika sudah begitu penanganan apa yang dapat pilih?

Laparoskopi atau IVF?

Dalam konteks program hamil, ada dua jalur utama yang bisa dipilih: laparoskopi atau IVF.

Laparoskopi adalah prosedur bedah minimal invasif yang dilakukan dengan memasukkan kamera kecil melalui sayatan kecil di perut. Tujuannya antara lain Mengangkat jaringan endometriosis, Membersihkan kista endometriosis, Memperbaiki anatomi panggul dengan memutus adhesi dan Mengurangi nyeri yang mengganggu kualitas hidup.

laparoskopi, anatomi organ reproduksi bisa kembali lebih normal, sehingga peluang hamil secara alami bisa meningkat. Namun, laparoskopi juga membawa risiko: semakin sering ovarium dioperasi, cadangan sel telur justru bisa semakin berkurang.

Sedangkan In Vitro Fertilization (IVF) atau program bayi tabung bekerja dengan cara “melewati” hambatan yang ditimbulkan oleh endometriosis. Proses pembuahan dilakukan di laboratorium, sehingga masalah adhesi atau kerusakan tuba tidak lagi menjadi halangan utama.

IVF biasanya lebih disarankan untuk perempuan Berusia di atas 35 tahun. Karena kualitas dan cadangan sel telur menurun secara alami seiring usia. Memiliki cadangan ovarium rendah. IVF bisa membantu memaksimalkan sel telur yang tersisa. Dan Tidak mengalami nyeri hebat. Karena tujuan utama langsung difokuskan ke kehamilan, bukan perbaikan kualitas hidup.

Lalu, Mana yang Harus Dipilih Lebih Dulu?

Jawabannya: tidak ada satu pilihan yang berlaku untuk semua orang.

  • Jika nyeri akibat endometriosis sangat parah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, laparoskopi sering kali menjadi langkah awal yang bijak.
  • Jika usia sudah tidak lagi muda dan cadangan sel telur menurun, IVF bisa menjadi jalan yang lebih efisien.
  • Dalam beberapa kasus, kombinasi keduanya juga dilakukan—laparoskopi untuk memperbaiki anatomi, kemudian dilanjutkan IVF untuk memaksimalkan peluang kehamilan.

 

Memutuskan apakah harus melakukan laparoskopi dulu atau langsung IVF pada promil dengan endometriosis bukanlah keputusan yang sederhana. Faktor usia, tingkat nyeri, kondisi ovarium, dan derajat keparahan endometriosis semuanya perlu dipertimbangkan.

Yang pasti, setiap strategi harus disesuaikan secara personal, karena apa yang tepat untuk satu orang belum tentu sama untuk orang lain. Konsultasi mendalam dengan dokter kandungan yang berpengalaman dalam menangani endometriosis adalah kunci utama sebelum memutuskan langkah.

Nah, kalau sister sedang menghadapi kondisi ini, lebih condong ke mana: laparoskopi dulu atau langsung IVF? Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Colombi, I., Ginetti, A., Cannoni, A., Cimino, G., d’Abate, C., Schettini, G., … & Centini, G. (2024). Combine surgery and in vitro fertilization (IVF) in endometriosis-related infertility: when and why. Journal of Clinical Medicine, 13(23), 7349.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, hamil, IVF, laparoskopi, Program

Mindfulness Bisa Bantu Wanita yang Sedang Menjalani Program IVF

October 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Menghadapi infertilitas itu nggak cuma soal tubuh, tapi juga pikiran dan emosi. Proses perawatan seperti IVF bisa bikin stres, cemas, bahkan depresi, karena prosedurnya panjang, melelahkan, dan sering memicu rasa nggak berdaya. Banyak wanita merasa tekanan psikologis ini berat, sementara dukungan emosional kadang masih kurang.

Salah satu cara untuk membantu mengatasi tekanan ini adalah mindfulness, yaitu teknik yang membantu seseorang fokus pada saat ini dengan sikap menerima dan tidak menghakimi diri sendiri. Belakangan, mindfulness juga dikembangkan dalam bentuk aplikasi mobile, sehingga lebih mudah diterapkan kapan saja.

Dalam sebuah penelitian terbaru, 34 wanita yang akan menjalani IVF dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menggunakan aplikasi IVFmind, yang dirancang khusus untuk mendukung praktik mindfulness selama perawatan infertilitas. Kelompok lainnya tidak menggunakan aplikasi ini. Para peneliti kemudian mengukur berbagai aspek psikologis, seperti tingkat mindfulness, kepercayaan diri terkait infertilitas, kemampuan menyesuaikan diri, serta stres dan kecemasan.

Hasilnya Mengejutkan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah menggunakan aplikasi mindfulness:

  • Tingkat mindfulness meningkat secara signifikan.
  • Kepercayaan diri dalam menghadapi infertilitas naik.
  • Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi infertil meningkat.
  • Stres, kecemasan, dan depresi menurun dibanding kelompok yang tidak menggunakan aplikasi.

Dengan kata lain, aplikasi ini membantu wanita lebih tenang, lebih percaya diri, dan lebih mampu menghadapi perjalanan IVF mereka.

Kenapa Ini Penting?
Mindfulness bukan hanya soal relaksasi sesaat, tapi juga membantu wanita membangun ketahanan emosional di tengah ketidakpastian infertilitas. Dukungan semacam ini bisa diberikan lewat perawat atau konselor, atau melalui aplikasi digital yang mudah diakses. Dengan rutin berlatih, wanita bisa merasa lebih siap secara mental untuk menghadapi prosedur yang menantang dan tetap menjaga kualitas hidup mereka.

Tips Memulai Mindfulness Selama IVF

  • Sisihkan waktu 5–10 menit setiap hari untuk latihan mindfulness.
  • Gunakan aplikasi yang sudah terbukti mendukung mindfulness untuk infertilitas.
  • Fokus pada napas, tubuh, dan perasaan tanpa menilai diri sendiri.
  • Jika perlu, dikombinasikan dengan teknik relaksasi lain seperti yoga atau guided imagery.

Dengan latihan yang konsisten, sister bisa merasa lebih tenang, lebih percaya diri, dan lebih siap menghadapi perjalanan IVF. Ingat, kesehatan mental sama pentingnya dengan perawatan fisik dalam program hamil. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • İnam, Ö., & Satılmış, İ. G. (2025). The effect of mindfulness-based nursing support on the psychosocial status of women receiving infertility treatment: a randomized controlled trial. BMC women’s health, 25(1), 127.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: IVF, Mindfulness, Program

Hypnofertility Bantu Turunkan Stres dan Tingkatkan Peluang Keberhasilan IVF

September 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Bagi banyak pasangan yang ingin punya anak, in vitro fertilisation (IVF) atau bayi tabung menjadi salah satu harapan besar. Tapi, keberhasilan IVF tidak hanya bergantung pada faktor medis seperti kualitas embrio, jumlah sel telur, atau kondisi sperma. Ada faktor lain yang sering kali luput dari perhatian, yaitu stres psikologis.

Stres berlebihan bisa membuat proses lebih sulit dijalani, menurunkan efektivitas pengobatan, bahkan mendorong pasangan menghentikan program yang sebenarnya punya peluang berhasil. Karena itu, pendekatan yang memperhatikan kesehatan mental menjadi penting.

Apa Itu Hypnofertility?
Hypnofertility adalah metode yang berangkat dari konsep hypnobirthing. Tujuannya sederhana: membantu pasangan, terutama wanita, lebih rileks dan siap secara mental saat menjalani IVF.

Teknik yang digunakan meliputi:

  • Relaksasi dan visualisasi: menenangkan pikiran dengan gambar atau suasana alam.
  • Afirmasi positif: mengucapkan kata-kata yang memberi semangat, seperti “tubuh saya siap untuk hamil”.
  • Imajinasi: membayangkan proses kehamilan atau bayi yang diinginkan.

Metode ini menghubungkan pikiran dan tubuh agar bekerja lebih selaras, sehingga stres berkurang dan kesiapan mental meningkat.

Bagaimana sebenarnya hypnofertility bisa membantu?

Sebuah penelitian di Turki melibatkan lebih dari seratus perempuan yang sedang menjalani program IVF. Hasilnya menunjukkan hal menarik. Perempuan yang mengikuti sesi hypnofertility merasa lebih positif dan lebih siap secara emosional menghadapi proses IVF. Tingkat stres yang mereka alami juga berkurang cukup signifikan. Selain itu, mereka lebih mampu menghadapi tekanan dengan strategi coping yang sehat, bukan hanya dengan pasrah atau menghindar. Temuan ini memberi gambaran bahwa dukungan pada aspek pikiran dan emosi juga berperan penting dalam perjalanan promil.

Dalam budaya di banyak negara, termasuk Indonesia, memiliki anak sering dianggap bagian penting dari pernikahan. Tekanan sosial ini bisa menambah beban psikologis pasangan infertil. Dengan hypnofertility, pasangan tidak hanya fokus pada aspek medis, tetapi juga bisa lebih tenang, optimis, dan tangguh dalam perjalanan mereka.
Hypnofertility bukan pengganti pengobatan medis, tetapi bisa menjadi pendamping yang efektif. Dengan membantu sister merasa lebih rileks, siap, dan mampu menghadapi stres, peluang keberhasilan IVF dapat meningkat. Ke depan, metode ini berpotensi menjadi bagian dari layanan rutin di klinik fertilitas. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Erdemoğlu, Ç., & Aksoy Derya, Y. (2024). The effect of hypnofertility on fertility preparedness, stress, and coping with stress in women having in vitro fertilization: A randomized controlled trial. Journal of reproductive and infant psychology, 42(4), 569-580.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hypnofertility, IVF, stress

Recap Sesi 07 with dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG., Subsp F.E.R “Mengelola Endometriosis & AMH Rendah Harapan Tetap Ada”

September 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Banyak perempuan merasa putus asa ketika mendengar diagnosis endometriosis ditambah dengan angka AMH rendah. Dua kondisi ini sering dianggap sebagai “jalan buntu” dalam program hamil, sehingga IVF (bayi tabung) dipandang sebagai satu-satunya solusi.

Tapi benarkah begitu? Dalam sesi terakhir bersama dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG., Subsp F.E.R, dibahas tuntas bahwa masih ada harapan lain bagi pasangan dengan kondisi ini.

Salah satu peserta Menuju Dua Garis Bertanya,

“Dok, saya 29 tahun dengan endometriosis dan AMH 0,59. Suami saya 31 tahun, kualitas spermanya kurang tapi sedang diperbaiki. Apakah kami masih bisa promil alami atau inseminasi, atau harus langsung IVF?”

Pertanyaan ini sering muncul di ruang konsultasi, dan mewakili banyak pasangan yang merasa peluangnya kecil.

Menurut dr. Aerul, tidak semua kasus endometriosis harus langsung IVF. Ada beberapa hal penting yang perlu dilihat lebih dulu:

  • Derajat endometriosis – Diagnosis lengkap dengan ultrasonografi penting untuk menentukan tingkat keparahan.
  • Jenis endometriosis – Tidak selalu berupa kista. Bisa berupa superfisial, adenomiosis, atau bentuk lain yang tetap memungkinkan peluang hamil alami.
  • Kondisi tuba & sperma – Jika saluran tuba tidak tersumbat dan kualitas sperma memadai, peluang promil alami maupun inseminasi masih terbuka.

Bagaimana dengan AMH Rendah?

AMH (Anti-Müllerian Hormone) sering membuat pasien khawatir, terutama jika nilainya rendah seperti 0,59.

dr. Aerul menekankan bahwa:

  • AMH hanya berbicara tentang jumlah sel telur (quantity), bukan kualitas.
  • Banyak penelitian menunjukkan bahwa meski jumlah sel telur sedikit, kemampuan sel telur untuk menjadi embrio sehat tidak berkurang.
  • Faktor yang lebih menentukan adalah usia. Pada usia 29 tahun, peluang keberhasilan kehamilan masih cukup baik, meskipun AMH rendah.

Harapan Tetap Ada

Kesimpulannya, endometriosis dan AMH rendah memang menantang, tetapi bukan berarti menutup semua jalan. IVF memang bisa menjadi opsi, tapi bukan satu-satunya. Dengan diagnosis yang tepat, pemeriksaan menyeluruh, serta memperhatikan faktor usia, promil alami dan inseminasi tetap mungkin dilakukan.

Jadi, sister, jangan menyerah dulu. Setiap tubuh punya jalannya sendiri, dan selalu ada harapan di balik angka dan diagnosis medis. 

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: dr chakra, inseminasi, IVF, MDG, PDG, promil alami

IUI atau IVF untuk Infertilitas Tak Terjelaskan: Mana yang Sebaiknya Jadi Pilihan Pertama?

August 23, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Kadang, baik paksu maupun sister yang sudah mencoba berbagai cara untuk hamil, hasil pemeriksaannya normal, tapi kehamilan tetap belum terjadi. Kondisi ini dikenal dengan istilah infertilitas tak terjelaskan (unexplained infertility). Diperkirakan sekitar 1 dari 4 kasus infertilitas termasuk kategori ini.

Saat mendengar diagnosis ini, wajar jika pasangan langsung mencari tahu pilihan pengobatan yang bisa membantu, mulai dari inseminasi buatan (IUI) hingga bayi tabung (IVF). Namun, muncul satu pertanyaan penting: mana yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu, IUI atau IVF?

Di dunia medis, ternyata belum ada pandangan yang seragam. Misalnya, panduan dari National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris lebih cenderung merekomendasikan IVF sebagai langkah awal. Sebaliknya, panduan terbaru dari European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE, 2023) justru menempatkan IUI sebagai pilihan pertama sebelum beralih ke IVF.

Perbedaan pandangan ini bikin banyak pasangan bingung: sebaiknya mulai dari IUI atau langsung IVF?

Melihat Kelebihan dan Kekurangannya

IUI (Intrauterine Insemination)

  • Prosedurnya lebih sederhana dibanding IVF.
  • Biayanya lebih terjangkau.
  • Bisa meningkatkan peluang hamil dibanding hanya menunggu alami, terutama jika dikombinasikan dengan stimulasi ovarium.
  • Namun, tingkat keberhasilannya biasanya lebih rendah daripada IVF, terutama pada perempuan dengan usia di atas 38 tahun.

IVF (In Vitro Fertilisation)

  • Prosesnya lebih kompleks: sel telur diambil, dibuahi di laboratorium, lalu embrio ditanam kembali ke rahim.
  • Tingkat keberhasilannya lebih tinggi, khususnya pada perempuan yang usianya lebih matang.
  • Biayanya jauh lebih besar dan prosesnya lebih melelahkan secara fisik maupun emosional.

Jadi, Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Tidak ada jawaban tunggal, karena semua kembali pada kondisi tiap pasangan.

  • Usia <38 tahun dan kondisi baik: IUI bisa jadi langkah pertama yang masuk akal. Lebih ringan, lebih murah, dan tetap memberikan peluang.
  • Usia >38 tahun atau faktor risiko lain: IVF mungkin lebih bijak dipertimbangkan lebih awal agar peluang kehamilan lebih besar.

Yang paling penting, setiap pasangan perlu konseling menyeluruh dengan dokter, supaya paham kelebihan, kekurangan, serta peluang dari masing-masing metode sebelum mengambil keputusan.

Infertilitas tak terjelaskan memang sering membuat pasangan merasa “bingung tanpa jawaban pasti”. Tapi kabar baiknya, ada beberapa pilihan intervensi medis yang bisa membantu. Apakah memulai dengan IUI atau langsung ke IVF, semuanya harus disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, serta kesiapan mental dan finansial pasangan. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Man, J. K. Y., Parker, A. E., Broughton, S., Ikhlaq, H., & Das, M. (2023). Should IUI replace IVF as first-line treatment for unexplained infertility? A literature review. BMC Women’s Health, 23(1), 557.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, IUI, IVF, unexplain fertility

MDG Channel Take Over: Sperma Abnormal 99%, Harus IVF Sekarang atau Perbaiki Dulu? Ini Jawaban Dokter!

August 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Pertanyaan:

Halo dokter, saya mau tanya. Kalau suami saya spermanya 99% abnormal, apakah sebaiknya kami memperbaiki sperma dulu sebelum menjalani IVF, atau langsung IVF saja?

Jawaban dr. Uning Marlina, MHSM, Sp.OG:

Sebelum saya jawab, saya mau tanya balik dulu ya, sister
Tujuan programnya ini untuk punya anak, atau ingin memperbaiki kualitas sperma?

Karena, meskipun 99% sperma suami tidak normal dan hanya 1% yang normal, tetap ada kemungkinan untuk hamil, lho! Bahkan pasien yang azoospermia (tidak ditemukan sperma dalam pemeriksaan biasa) pun masih bisa punya anak.

Jadi kalau ada gangguan sperma, fokus utamanya adalah ingin program hamil, bukan sekadar menormalkan sperma.

Langkahnya nanti akan disesuaikan dengan kondisi sperma—mau lewat inseminasi (inseminasi intrauterin) atau IVF (bayi tabung). Tetap perlu kerja sama juga dengan dokter andrologi untuk mengoptimalkan sperma yang ada. Tapi tujuannya jelas: untuk mendukung program hamil, bukan sekadar mengejar hasil sperma yang “sempurna”.

Banyak pasangan yang terlalu fokus memperbaiki sperma hingga habis banyak biaya, tapi belum masuk ke program hamil sama sekali. Padahal, inseminasi atau IVF adalah langkah yang lebih tepat untuk menangani masalah sperma.

Jadi, saran saya: segera ke klinik IVF. Di sana, tim dokter akan membantu mengelola kondisi suami dan mempersiapkan IVF dengan optimalisasi sperma yang ada.

Semoga segera dipertemukan dengan dua garis birunya ya, sister dan paksu!

Kalau Embrio Gagal Menempel Setelah FET, Apa Penyebabnya?

Pertanyaan:

Bagaimana cara embrio bisa menempel setelah FET (frozen embryo transfer) pada pasien dengan unexplained infertility? Apakah banyak kasus seperti ini?

Jawaban dr. Uning Marlina, MHSM, Sp.OG:

Pertanyaan ini bagus sekali dan sering mewakili kegelisahan para pejuang dua garis yang sudah menjalani IVF, tapi belum berhasil juga.

Ibarat menanam biji mangga kadang tumbuh, kadang tidak. Kenapa bisa gagal menempel? Bisa dari bibit (embrio) atau dari tanahnya (rahim).

Kalau dari embrionya, kualitas menjadi faktor penting. Untuk pasien yang sudah berulang kali gagal IVF, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan PGTA untuk mengecek apakah embrionya benar-benar layak tanam atau tidak.

Kalau dari sisi rahim, banyak faktor juga:

  • Kondisi hormon
  • Aliran darah
  • Adanya penyakit atau gangguan imunologi
  • Status gizi
  • Dan faktor “kegemburan” rahim lainnya yang kadang tidak kasatmata

Biasanya, sebelum siklus IVF berikutnya, dokter akan lakukan evaluasi dulu:
“Kenapa ya kira-kira kemarin belum berhasil?”
Lalu, akan dicoba pendekatan atau metode lain pada siklus berikutnya.

Memang, unexplained infertility adalah salah satu tantangan terbesar, karena kita tidak tahu pasti penyebab kegagalannya. Tapi jangan putus harapan. Meski sudah usaha maksimal dan mencoba berbagai cara, ingat ada bagian yang tetap menjadi rahasia Tuhan.

Materi ini disadur dari sesi tanya jawab bersama dr. Uning Marlina, MHSM, Sp.OG. Untuk penilaian kondisi secara spesifik, silakan konsultasikan langsung ke klinik fertilitas terpercaya. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: IVF, MDG channel takeover, unexp;ain infertility

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Page 4
  • Page 5
  • Interim pages omitted …
  • Page 9
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.