• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

IVF

Mengenal Konsep “Dual Trigger” untuk Meningkatkan Peluang Kehamilan di Program IVF

April 28, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Kalau kita bicara soal program bayi tabung atau IVF (In Vitro Fertilization), salah satu langkah penting yang harus dilalui adalah proses pematangan sel telur (oosit). Sister dan paksu yang sedang menjalani program IVF pasti sudah familiar dimana dokter biasanya menggunakan suntikan hormon Human Chorionic Gonadotropin (hCG) untuk membantu sel telur matang sempurna dan siap dibuahi. hCG ini bekerja meniru lonjakan alami hormon LH (Luteinizing Hormone) dalam tubuh, yang normalnya terjadi saat masa subur.

Tapi, seiring berkembangnya ilmu kedokteran, ditemukan bahwa penggunaan hCG saja punya risiko, salah satunya adalah meningkatkan kemungkinan terjadinya OHSS (Ovarian Hyperstimulation Syndrome) dan ternyata kondisi berbahaya akibat ovarium yang terlalu bereaksi terhadap obat.

Wah lalu Langkah Selanjutnya Bagaimana? Baca Sampai Habis Yuk!

Sebagai alternatif, digunakanlah pemicu lain, yaitu agonis GnRH (GnRHa). Ini adalah hormon yang bisa mendorong pelepasan LH dan FSH secara alami dari tubuh, membuat prosesnya lebih mirip dengan mekanisme normal. Namun, penggunaan GnRHa tunggal ternyata punya kekurangan: korpus luteum (bagian ovarium yang penting untuk mempertahankan kehamilan awal) menjadi kurang optimal, sehingga peluang embrio menempel di rahim bisa menurun. Dari situ, muncullah ide baru yaitu melalui Dual Trigger.

Apa itu Dual Trigger?

Dual trigger adalah kombinasi antara suntikan GnRHa dan hCG dalam satu waktu. Tujuannya adalah mengambil manfaat terbaik dari keduanya: menjaga keamanan dengan mengurangi risiko OHSS (berkat efek GnRHa) sekaligus tetap menjaga kondisi rahim dan mendukung keberhasilan implantasi embrio (berkat bantuan hCG).

Bagaimana Cara Kerjanya?

Dalam tubuh normal, menjelang ovulasi, terjadi lonjakan besar hormon LH dan sedikit FSH. Kedua hormon ini berperan mematangkan sel telur dan mempersiapkan tubuh untuk kehamilan. Kalau hanya menggunakan hCG, tubuh tidak mendapatkan lonjakan FSH yang alami itu. Sementara dengan GnRHa, lonjakan FSH bisa terjadi, tapi karena efeknya cepat hilang, korpus luteum kurang stabil.

Dengan dual trigger, tubuh mendapatkan lonjakan LH dan FSH alami dari GnRHa, ditambah dukungan stabil dari hCG untuk mempertahankan kondisi ideal setelah ovulasi. Kombinasi ini membuat peluang keberhasilan IVF meningkat, apalagi untuk pasien yang sebelumnya sulit mendapatkan sel telur matang atau yang respons tubuhnya terhadap pemicu biasa kurang optimal.

Siapa yang Cocok Menggunakan Dual Trigger?

Metode ini terutama disarankan untuk pasien yang sebelumnya mengalami jumlah sel telur matang rendah. Pasien yang respons tubuhnya kurang bagus terhadap pemicu standar.
dan Pasien dengan risiko sedang hingga tinggi untuk mengalami OHSS, namun tetap ingin melakukan transfer embrio segar. Dengan dual trigger, pasien-pasien ini memiliki peluang lebih baik untuk mendapatkan jumlah sel telur matang yang cukup, kualitas embrio yang bagus, dan tentu saja meningkatkan kemungkinan kehamilan.

Teknik dual trigger menjadi salah satu inovasi penting dalam dunia IVF. Dengan memadukan kelebihan dua jenis hormon, metode ini menawarkan pendekatan yang lebih alami dan seimbang, sekaligus membantu mengurangi risiko komplikasi. Jadi, kalau sister dan paksu yang sedang mempertimbangkan program IVF, tidak ada salahnya berdiskusi dengan dokter tentang kemungkinan menggunakan dual trigger sebagai bagian dari strategi menuju kehamilan yang sukses. Untuk informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id. 

Referensi

  • Victoria Antoniou, E. M. J. (2024). Does Dual and/or Double Trigger Improve In Vitro Fertilisation Success?. Reproductive Health.
  • https://hellosehat.com/kehamilan/kesuburan/hormon-gnrh/

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: Dual Trigger, hormon, IVF, kehamilan

Apakah Dosis FSH yang Disesuaikan Secara Individual dapat Meningkatkan Peluang Kehamilan?

April 26, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu MDG pernah membahas bagaimana hormon yang diberikan saat IVF bisa berpengaruh ke kesehatan mental. Nah, dalam program bayi tabung (IVF/ICSI), perempuan diberikan hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) setiap hari untuk merangsang ovarium supaya menghasilkan lebih banyak sel telur. Targetnya, sekitar 5 sampai 15 oosit (sel telur) dalam satu siklus.

Tapi, tidak semua perempuan merespons obat ini dengan cara yang sama. Respons terlalu rendah bisa bikin jumlah dan kualitas sel telur tidak mencukupi. Sebaliknya, respons terlalu tinggi malah bisa memicu sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS), kondisi yang cukup berisiko. Kedua situasi ini sama-sama bisa menyebabkan siklus IVF dibatalkan, lho.

Cara Menyesuaikan Dosis FSH

Awalnya, dosis FSH diberikan berdasarkan usia saja. Tapi sekarang, pendekatan lebih personal mulai digunakan. Dosis bisa disesuaikan berdasarkan Hormon Anti-Müllerian (AMH), Jumlah Folikel Antral (AFC), Kadar FSH di hari ke-2 atau ke-3 haid (bFSH). Pendekatan ini dikenal sebagai strategi berbasis tes cadangan ovarium atau ovarian reserve test (ORT).

Sebuah tinjauan Cochrane terbaru di tahun 2023 yang mencakup 26 studi dengan lebih dari 8500 wanita membahas tentang ini. Studi-studi ini membandingkan berbagai strategi pemberian dosis FSH, baik yang disesuaikan secara individual maupun yang standar.

Hasilnya bagaimana? bahwa Mengatur dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium (ORT) mungkin tidak terlalu banyak meningkatkan peluang untuk mendapatkan kehamilan berkelanjutan atau kelahiran hidup dibandingkan dengan dosis standar. Namun, pendekatan berbasis ORT bisa membantu mengurangi risiko terjadinya sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) yang tingkatnya sedang atau berat. Untuk risiko OHSS berat saja, masih belum ada cukup bukti yang bisa memberikan kesimpulan pasti. Kalau biasanya peluang kehamilan dengan dosis standar ada di angka 25%, pendekatan berbasis ORT bisa sedikit menaikkan peluang itu menjadi 25%–31%. Sedangkan untuk risiko OHSS sedang atau berat, pendekatan ini bisa menurunkan angka kejadian dari 5% menjadi sekitar 2%–5%. 

Meskipun menjanjikan, penyesuaian dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium belum terbukti secara meyakinkan meningkatkan hasil kehamilan. Namun, strategi ini berpotensi menurunkan risiko komplikasi seperti OHSS. Penyesuaian dosis FSH berdasarkan tes cadangan ovarium (ORT) memang menawarkan pendekatan yang lebih personal dalam program IVF/ICSI. 

Namun, dari hasil tinjauan studi terbaru, strategi ini belum terbukti secara kuat mampu meningkatkan peluang kehamilan berkelanjutan atau kelahiran hidup dibandingkan dengan pemberian dosis standar. Meskipun begitu, penggunaan ORT tetap punya manfaat, yaitu berpotensi mengurangi risiko terjadinya sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) sedang hingga berat. 

Jadi sister dan paksu melalui penjabaran ini dapat dipahami secara keseluruhan bahwa pendekatan berbasis ORT mungkin lebih berguna untuk meningkatkan keamanan siklus IVF daripada secara langsung meningkatkan peluang kehamilan. Bagaimana menarik bukan? tapi tetap saja sister dan paksu harus berkonsultasi dengan dokter selama menjalankan program IVF. Informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Ngwenya, O., Lensen, S. F., Vail, A., Mol, B. W. J., Broekmans, F. J., & Wilkinson, J. (2024). Individualised gonadotropin dose selection using markers of ovarian reserve for women undergoing in vitro fertilisation plus intracytoplasmic sperm injection (IVF/ICSI). Cochrane Database of Systematic Reviews, (1).

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, hormon, ICSI, IVF

Tekanan Psikologis di Balik IVF: Dampak Emosional Terapi Hormon yang Perlu Dipahami

April 25, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Bagi sister dan paksu yang sedang berjuang, tentu kerap kali dihadapkan dengan tantangan. Bahwa pengalaman menghadapi infertilitas bukan hanya persoalan fisik, tapi juga menyentuh sisi emosional yang mendalam. Ketika pilihan pengobatan jatuh pada teknologi reproduksi berbantuan atau Assisted Reproductive Technology (ART), seperti IVF (In Vitro Fertilization), tantangan mental yang dihadapi pun bisa semakin kompleks. Wah kenapa begitu ya? yuk bahas lebih lanjut meski MDG sebelumnya sudah membahas tentang kesehatan mental, pada artikel kali ini akan melihat dari sisi terapi hormon. Baca sampai akhir ya!

Proses IVF dan Terapi Hormonal

IVF sendiri memiliki prosedur yang melibatkan beberapa tahap, mulai dari stimulasi ovarium, induksi ovulasi, pengambilan sel telur (oosit), pembuahan, hingga transfer embrio ke rahim. Setiap tahap memerlukan pemantauan ketat dan pemberian obat-obatan yang kompleks. Terapi hormonal merupakan bagian penting dari tahapan ini, seperti penggunaan klomifen sitrat, hormon FSH rekombinan, LH, hingga protokol GnRH untuk mengontrol siklus reproduksi.

Obat-obatan tersebut bisa diberikan secara oral maupun injeksi, tergantung pada kebutuhan pasien dan keputusan medis yang diambil berdasarkan usia, kondisi kesehatan, dan hasil pemeriksaan. Sayangnya, terapi ini tidak hanya mempengaruhi tubuh, tetapi juga berdampak besar terhadap keseimbangan emosional dan kesehatan mental pasien.

Tekanan Mental yang Kerap Terabaikan

Sister dan paksu harus tahu bahwa beberapa studi menunjukkan pasien IVF mengalami perubahan psikologis yang signifikan selama menjalani perawatan. Proses panjang, ketidakpastian hasil, efek samping obat, serta harapan yang tinggi sering kali menimbulkan stres, kecemasan, hingga depresi. 

Tentu fokus utama dunia medis selama ini lebih tertuju pada peningkatan efektivitas pengobatan dan keberhasilan pembuahan. Sementara itu, tekanan mental yang disebabkan oleh terapi hormonal sering kali dianggap sekadar efek samping, bukan sebagai masalah serius yang perlu intervensi tersendiri.

Pentingnya Dukungan Psikologis

Melihat bagaimana hal tersebut, dapat dilihat bahwa pengalaman emosional selama menjalani IVF bisa memengaruhi keputusan pasien untuk melanjutkan atau menghentikan pengobatan. Dalam banyak kasus, pasangan menghentikan program karena tidak sanggup menanggung beban mentalnya, bukan karena kendala medis. Beberapa rumah sakit juga akhirnya berupaya untuk aware dengan ini hingga menyediakan layanan psikologis.

Karena faktanya IVF bukan sekadar prosedur medis, ia adalah perjalanan penuh harapan, perjuangan, dan tantangan emosional. Terapi hormonal yang menyertai proses ini perlu dipahami tidak hanya dari sisi farmakologis, tetapi juga dari sisi dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis pasien. Karena pada akhirnya, keberhasilan menjadi orang tua bukan hanya tentang membawa bayi pulang ke rumah, tetapi juga memastikan orang tua tersebut tetap sehat baik secara fisik maupun emosional. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Vasudevan, S. R., & Bhuvaneswari, M. (2024). The Psychological Effects of Hormonal Treatment on Women Under IVF Treatment: A Comprehensive Review. National Journal of Community Medicine, 15(06), 487-495.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: emosional, IVF, mental health, terapi hormon

In Vitro Maturation (IVM) dan Peran FSH: Alternatif Menarik untuk Reproduksi Berbantu yang Lebih Aman dan Efisien

April 23, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

In vitro maturation (IVM) atau pematangan sel telur di luar tubuh telah menjadi salah satu pendekatan yang menjanjikan dalam dunia reproduksi berbantu. Metode ini berpotensi menyederhanakan prosedur bayi tabung (IVF), mengurangi komplikasi medis, serta menekan biaya perawatan. Bahas lebih lanjut yuk!

Kenapa IVM bisa Dipertimbangkan?

Banyak prosedur untuk IVM menawarkan keuntungan utama bagi perempuan dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS), kelompok yang sangat rentan mengalami sindrom hiperstimulasi ovarium akibat terapi stimulasi konvensional. Dengan IVM, sel telur bisa diambil dari folikel yang belum matang tanpa stimulasi berat, sehingga risiko komplikasi bisa ditekan.

Namun, tantangan utama dari IVM adalah hasil reproduksi yang masih belum sebanding dengan IVF konvensional. Sel telur yang matang di laboratorium dianggap memiliki kompetensi lebih rendah dibandingkan sel telur yang matang secara alami di dalam tubuh.

Bagaimana Proses IVM Dilakukan?

Dalam praktiknya, IVM biasanya melibatkan suntikan hormon hCG dan kadang ditambah hormon FSH untuk bantu pematangan sel telur. Sel telur diambil dari folikel ukuran 10–14 mm, lalu dimatangkan di lab dengan media khusus yang mengandung FSH.

Belakangan, IVM juga bisa dilakukan dengan mengambil sel telur dari folikel kecil banget (<3 mm), tanpa perlu suntik hormon dulu. Cara ini sering dipakai untuk pelestarian kesuburan, terutama pada pasien yang akan menjalani pengobatan serius seperti kanker. Keuntungannya, sel telur yang diambil lebih seragam karena belum dipengaruhi hormon dalam tubuh.

Peran FSH dalam IVM: Masih Jadi Tanda Tanya

FSH adalah hormon yang bantu sel telur matang dengan membuat sel-sel di sekitarnya (sel kumulus) berkembang. Ini penting banget supaya peluang pembuahan dan pembentukan embrio lebih besar. Tapi, sampai sekarang belum jelas berapa dosis FSH yang paling pas saat proses pematangan sel telur di luar tubuh. Ada yang pakai dosis rendah, ada yang tinggi, bahkan ada yang nggak pakai sama sekali. Salah satu tantangannya, banyak sel telur yang udah mulai matang sendiri sebelum diambil, jadi hasilnya nggak seragam. 

Nah, studi terbaru coba cari tahu lebih jelas dengan cara ambil sel telur dari folikel kecil (yang belum terpengaruh hormon) dari para penyintas kanker. Tujuannya buat lihat gimana efek FSH ke proses pematangan dan ke sel-sel di sekitarnya dengan kondisi yang lebih terkontrol.

Melalui penjelasan tersebut, kita jadi tahu bahwa prosedur IVM tidak untuk segala jenis kasus. In Vitro Maturation (IVM) menawarkan alternatif yang lebih aman dan terjangkau dibandingkan prosedur bayi tabung konvensional, terutama bagi perempuan dengan risiko tinggi seperti penderita PCOS atau pasien kanker. Dengan memungkinkan pematangan sel telur di luar tubuh, IVM dapat mengurangi kebutuhan stimulasi hormon yang berat.

Meskipun masih ada tantangan, seperti hasil keberhasilan yang belum setara dengan IVF biasa, IVM terus dikembangkan terutama melalui studi tentang peran hormon FSH. Sehingga bagi sister dan paksu dengan kasus tersebut bisa jadi alternatif ini bisa dilakukan, meski begitu tetap harus konsultasi kepada dokter ya!. Informasi menarik lainnya kalian dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • SE, C. J. N. D. P. (2021). A threshold concentration of FSH is needed during IVM of ex vivo collected human oocytes J. J Assist Reprod Genet, 38(6), 1341-1348.
  • https://www.morulaivf.co.id/id/blog/mengenal-in-vitro-maturation/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, IVF, IVM

Endometriosis, IVF & Beyond: Live Q&A with Prof. Dr. Prasanna Supramaniam

April 22, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Surabaya, 21 April 2025 – Komunitas Menuju Dua Garis (MDG) kembali menyapa sister dan paksu melalui sesi live Instagram yang digelar pada 21 April pukul 19.00 WIB. Kali ini, MDG menghadirkan sesi spesial bertajuk “Endometriosis, IVF & Beyond” bersama Prof. Dr. Prasanna Supramaniam, seorang tokoh penting dalam dunia fertilitas internasional.

Dipandu oleh Mizz Rosie, salah satu founder MDG, sesi ini menjadi momen berharga bagi para pejuang garis dua untuk mendapatkan pemahaman lebih dalam mengenai endometriosis dan isu-isu terkait fertilitas secara langsung dari ahlinya. Prof. Dr. Prasanna adalah konsultan obstetri dan ginekologi yang menempuh pendidikan dan pelatihan di Inggris, termasuk di Oxford University Hospitals NHS Trust. Ia menyandang gelar MB ChB, MSc, serta MRCOG dari Oxford, dan merupakan Minimally Invasive Gynaecological Surgeon bersertifikasi dari ESGE dengan CCT lanjutan dari Oxford.

Diskusi berlangsung sangat interaktif dan personal, dengan fokus utama pada endometriosis, apakah termasuk inflamasi, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesuburan. Prof. Prasanna menjelaskan bahwa endometriosis memang merupakan kondisi inflamasi yang terjadi di luar rahim dan dapat memengaruhi kemampuan reproduksi seseorang. Penanganan yang lebih dini menjadi kunci untuk menentukan langkah terbaik dalam menghadapi infertilitas.

Sesi live ini juga berkembang menjadi diskusi luas yang mencakup topik PCOS, hormon, serta pendekatan pengobatan seperti penggunaan probiotik. Prof. Prasanna menekankan bahwa setiap kasus bersifat unik dan membutuhkan pendekatan individual sesuai kondisi pasangan.

Beragam pertanyaan personal dari audiens turut mewarnai acara, seperti pertanyaan dari akun @frsny.za mengenai kemungkinan memiliki keturunan bagi penderita endometriosis dan adenomiosis dengan AMH 0,1, serta dari @elyysiia yang menanyakan keamanan konsumsi DHEA bagi penderita endometriosis. Antusiasme para peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan keterlibatan mereka sepanjang acara.

Bagi sister dan paksu yang belum sempat menyaksikan, rekaman live ini tersedia di akun Instagram resmi MDG: @menujuduagaris.id. Jangan lupa follow untuk mendapatkan informasi seputar fertilitas, edukasi medis, dan event menarik lainnya.

Sampai jumpa di forum-forum MDG berikutnya!

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: endometriosis, instagram, IVF, live

Kiat Optimalisasi Program IVF: Dari Protokol Stimulasi Hingga Embrio Transfer

April 20, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Surabaya, 19 April 2025 – Setelah sukses menggelar Fertility Bootcamp perdana bersama Sunfert Malaysia di penghujung tahun 2024, komunitas Menuju Dua Garis (MDG) kembali menghadirkan program edukasi lanjutan bertajuk “Kiat Optimalisasi Program IVF: Dari Protokol Stimulasi Hingga Embrio Transfer”. Acara ini kembali menggandeng Sunfert Malaysia dan menghadirkan pakar fertilitas terkemuka, Dr. Lim Lei Jun, serta dua Pejuang Dua Garis (PDG) inspiratif Indah dan Chandra yang menerima program IVF gratis dari Sunfert.

Dalam sesi ini, lebih dari 80 peserta yang terdiri dari sister dan paksu bergabung secara daring melalui Zoom untuk menyimak pemaparan mendalam seputar proses IVF. Acara dibuka dengan video apresiasi dari MDG, dilanjutkan sambutan hangat dari pendiri MDG, Mizz Rosie, yang menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota komunitas yang telah membersamai perjuangan panjang dalam mendapatkan buah hati.

Dr. Lim Lei Jun memaparkan secara detail tahapan IVF, mulai dari stimulasi ovarium, jenis-jenis hormon yang digunakan, hingga proses transfer embrio. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang personalized dalam pemberian obat, disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing pasien. Salah satu contoh nyata adalah pengalaman Indah yang mendapatkan tambahan suntikan Cetrotide untuk mencegah pematangan dini sel telur. Dalam kesempatan ini, Dr. Lim juga menjelaskan bahwa transfer embrio pada tahap blastokista yakni pada hari ke-5 hingga ke-6 pasca pembuahan, memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi dibanding transfer pada tahap sebelumnya.

Kisah sukses Indah dan Chandra yang berhasil memperoleh 10 blastokista pada siklus IVF pertama mereka menjadi sorotan inspiratif dalam acara ini. Kehadiran mereka memberikan semangat baru bagi para PDG lainnya untuk terus berjuang.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Pertanyaan yang diajukan pun sangat personal dan mendalam, seperti:

  • “Untuk kondisi very low AMH dan saat USG transv hanya terlihat dua sel telur, apakah prosedur IVF tetap bisa dilanjutkan atau menunggu hingga jumlah sel telur bertambah?”

  • “Apakah program IVF berisiko menyebabkan OHSS? Saya baru selesai IVF dan sebelum OPU, kadar estradiol saya mencapai 6000-an sehingga tidak bisa melakukan fresh transfer.”

MDG merasa terharu melihat semangat juang para PDG yang telah melalui berbagai tahap hingga ke proses IVF. Melalui acara ini, MDG berharap dapat menjadi sumber informasi yang dapat diandalkan, sekaligus ruang dukungan emosional bagi para pejuang dua garis di seluruh Indonesia.

Untuk informasi dan edukasi seputar fertilitas lainnya, jangan lupa untuk mengikuti akun Instagram @menujuduagaris.id agar tidak ketinggalan berbagai program dan acara menarik lainnya.

Sampai jumpa di forum selanjutnya!

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, infertilitas, IVF, MDG, menuju dua garis, PDG, pejuang dua garis, sunfert

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 3
  • Page 4
  • Page 5
  • Page 6
  • Page 7
  • Interim pages omitted …
  • Page 9
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.