• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

IVF

Ternyata ada hormon yang digadang-gadang Mendorong suksesi IVF

March 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, kalau lagi menjalani program bayi tabung atau ingin tahu info lebih banyak mengenai ada nggak sih faktor yang mempengaruhi keberhasilannya, yuk bahas soal Hormon Pelepas Kortisol (CRH)! Kenapa membahas ini, karena hormon CRH yang digadang-gadang menjadi suksesi IVF

CRH dan Hormon dalam Cairan Folikel

CRH adalah hormon yang ditemukan dalam cairan folikel, yaitu cairan yang mengelilingi sel telur di dalam ovarium. Folikel ovarium sendiri adalah kantong kecil berisi cairan yang berfungsi sebagai tempat perkembangan sel telur. Selain itu, folikel juga menghasilkan hormon seperti estrogen dan progesteron, yang berperan dalam mengatur siklus menstruasi.

Saat seorang wanita mencapai pubertas, ia memiliki sekitar 300.000 hingga 400.000 folikel, masing-masing berpotensi melepaskan sel telur yang siap dibuahi. Jumlah dan ukuran folikel menjadi faktor penting dalam penilaian serta pengobatan gangguan kesuburan.

Lalu, bagaimana proses perkembangan folikel ini?

Setiap siklus menstruasi, beberapa folikel mulai berkembang dari ukuran awal sekitar 0,025 mm. Biasanya, seorang wanita akan mengembangkan sekitar lima hingga enam folikel dalam satu siklus. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh berbagai hormon, terutama hormon perangsang folikel (FSH) yang diproduksi oleh kelenjar pituitari. FSH berperan dalam mematangkan folikel serta menghambat pertumbuhan folikel yang lebih kecil, sehingga hanya folikel yang lebih kuat yang dapat berkembang dengan baik.

Seiring pertumbuhannya, folikel mulai melepaskan lebih banyak estrogen. Peningkatan kadar estrogen ini kemudian memberi sinyal kepada kelenjar pituitari untuk mengurangi produksi FSH. Akibatnya, folikel yang lebih kecil berhenti tumbuh, sementara folikel yang lebih besar dan matang terus berkembang, hingga akhirnya siap untuk melepaskan sel telur dalam proses ovulasi.

Studi terbaru menunjukkan bahwa kadar CRH dalam cairan folikel bisa berhubungan dengan peluang keberhasilan siklus perawatan reproduksi berbantuan (ART), seperti fertilisasi in vitro (IVF) dan injeksi sperma intra-sitoplasma (ICSI).

Penelitian Menarik Tentang CRH dan ART oleh  Supramaniam, 2017 yang melalukan penelusuran prospektif terhadap 50 wanita yang menjalani IVF/ICSI, para peneliti menemukan bahwa kadar rata-rata CRH dalam cairan folikel adalah 173 ± 9 pg/mL. Nah, yang menarik adalah kadar CRH lebih dari 145 pg/mL ternyata berhubungan dengan keberhasilan ART yang lebih tinggi. Artinya, semakin tinggi kadar CRH dalam cairan folikel, peluang keberhasilannya juga lebih besar!

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Studi ini jadi pengingat kalau hormon dalam cairan folikel bisa berperan dalam menentukan keberhasilan ART. Meskipun masih butuh penelitian lebih lanjut, temuan ini bisa membuka wawasan baru tentang bagaimana kita bisa meningkatkan peluang keberhasilan bayi tabung di masa depan.

Kalau sister lagi menjalani program IVF atau ICSI, memahami faktor-faktor seperti kadar CRH dalam cairan folikel bisa membantu untuk lebih siap menghadapi prosesnya. Tapi jangan khawatir, faktor kesuksesan ART itu banyak banget, jadi tetap konsultasi dengan dokter dan jangan lupa jaga kesehatan fisik serta mental ya!  Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Lim, L. N., Supramaniam, P. R., Mittal, M., Linton, E. A., & McVeigh, E. (2017). Follicular Fluid Cortisol Releasing Hormone (CRH) Levels and Assisted Reproductive Treatment (ART) Outcomes. Open Journal of Obstetrics and Gynecology, 7(13), 1271.
  • https://bocahindonesia.com/folikel-pada-sistem-reproduksi-wanita/
  • https://www.ivi.uk/blog/what-are-ovarian-follicles/

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: folikel, hormon, IVF, perempuan

Melihat Infertilitas dan IVF dalam sudut pandang Komunitas Beragama

February 26, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Teknologi reproduksi berbantuan (TRB) telah menjadi topik yang sarat dengan dilema moral dan etika di berbagai komunitas agama. Para cendekiawan telah menunjukkan bagaimana keterbatasan moral dan peringatan yang diajukan banyak agama terhadap TRB menghambat pencarian bantuan medis bagi perempuan yang menghadapi infertilitas. 

Apakah sister dan paksu juga mengalami keadaan tersebut? ketika bersama dengan komunitas atau ruang beragama? mengapa seperti itu? yuk pahami lebih lanjut!

Terjadinya Kesunyian dalam Dialog Infertilitas dan IVF

Infertilitas adalah isu yang kompleks, tidak hanya secara medis tetapi juga sosial dan psikologis. Namun, dalam komunitas beragama, pembicaraan mengenai infertilitas sering kali dilakukan dalam bentuk yang sangat umum, tanpa menyentuh aspek spesifik seperti prosedur medis yang tersedia, termasuk IVF. Studi empiris kualitatif menunjukkan bahwa umat paroki lebih cenderung berbicara tentang infertilitas secara luas, seperti tantangan emosional dan sosial yang dihadapinya, tetapi jarang membahas solusi medis secara rinci.

Di sisi lain, anggota pendeta juga cenderung tidak menyinggung larangan gereja terhadap IVF kecuali mereka secara eksplisit ditanya mengenai hal tersebut. Sikap ini dapat dianggap sebagai bentuk pendekatan pastoral yang lebih inklusif dan menghindari konflik langsung dengan jemaat yang mungkin mengalami kesulitan dalam hal kesuburan. Namun, absennya dialog yang terbuka juga dapat mengakibatkan kebingungan di kalangan jemaat tentang sikap resmi Gereja serta pilihan yang tersedia bagi mereka.

Mengapa cenderung tidak Disuarakan?

Ada beberapa alasan mengapa dialog tentang IVF dan infertilitas dalam komunitas beragama seperti Katolik cenderung terbatas:

  1. Ketakutan Akan Stigma dan Penilaian Sosial
    Infertilitas masih dianggap sebagai isu yang sensitif, dan banyak pasangan merasa ragu untuk membicarakannya secara terbuka karena takut mendapatkan penilaian negatif dari lingkungan mereka.
  2. Pendekatan Pastoral yang Tidak Konfrontatif
    Para pendeta mungkin menghindari menyebutkan larangan IVF secara langsung agar tidak menambah beban emosional jemaat yang sedang menghadapi tantangan infertilitas.
  3. Kurangnya Pemahaman tentang IVF di Kalangan Jemaat
    Tanpa adanya dialog yang jelas, banyak umat Katolik mungkin tidak sepenuhnya memahami posisi Gereja terhadap IVF atau bahkan tidak menyadari bahwa ada larangan terkait prosedur tersebut.
  4. Nilai-Nilai Tradisional yang Masih Dominan
    Banyak pasangan Katolik masih memegang teguh ajaran bahwa anak adalah anugerah Tuhan yang harus diterima secara alami, bukan sebagai hasil intervensi medis.

Kesunyian dalam dialog mengenai IVF dan infertilitas di dalam komunitas Katolik mencerminkan dilema yang lebih luas antara ajaran agama dan kebutuhan medis. Di satu sisi, Gereja Katolik mempertahankan posisi moralnya terhadap teknologi reproduksi berbantuan. Namun, di sisi lain, banyak pasangan yang mengalami infertilitas merasa perlu mendapatkan informasi dan dukungan yang lebih terbuka.

Untuk mengatasi kesenjangan ini, diperlukan upaya dari kedua belah pihak: jemaat harus merasa lebih nyaman dalam mendiskusikan isu infertilitas, sementara para pemuka agama dapat mencari cara yang lebih empatik dalam menyampaikan ajaran Gereja mengenai IVF tanpa mengabaikan kebutuhan emosional dan medis jemaat. Tentu hal ini tidak hanya terjadi dalam katolik, tapi juga agama lainnya. MDG dalam kesempatan ini menarik mengangkat dari segi katolik karena menemukan sebuah penelitian yang membahas tentang ini. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduaagris.id

Referensi

Nicolas, P. (2021). In vitro fertilization: A pastoral taboo?. Journal of religion and health, 60(3), 1694-1712.

https://mirror.mui.or.id/produk/fatwa/41111/bagaimana-fatwa-mui-tentang-hukum-bayi-tabung/

https://katolisitas.org/tentang-bayi-tabung/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: agama, islam, IVF, katolik

Data Omics untuk Analisis Oosit, Sperma, dan Embrio

February 19, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, kamu tahu nggak sih kalau prediksi keberhasilan fertilisasi in vitro (IVF) sekarang bisa lebih akurat dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) dan data omics? Selama ini, penilaian untuk pasangan infertil lebih banyak bergantung pada riwayat medis, pemeriksaan saluran reproduksi, dan hasil siklus IVF sebelumnya. Tapi, tau ngga sister, sekarang kita bisa lihat perkembangan teknologi yang jauh lebih canggih yang bisa membantu meningkatkan tingkat keberhasilan IVF! 

Tentu saja Fertilisasi in vitro (IVF) telah menjadi salah satu solusi utama dalam reproduksi berbantuan bagi pasangan yang mengalami infertilitas. Keberhasilan IVF memiliki dampak besar, tidak hanya bagi pasangan yang menjalani prosedur ini, tetapi juga bagi sistem kesehatan dan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, prediksi hasil IVF yang lebih akurat menjadi pencapaian penting dalam upaya meningkatkan tingkat keberhasilan prosedur ini. Nah MDG akan menjelaskan lebih lanjut sebagai berikut

Pendekatan Tradisional dalam Penilaian Infertilitas

Hingga saat ini, penilaian pasangan infertil masih bergantung pada berbagai faktor, termasuk riwayat medis dan reproduksi, hasil indikasi biokimia, serta investigasi terhadap saluran reproduksi. Jika pasangan telah menjalani siklus IVF sebelumnya, data dari prosedur tersebut juga digunakan sebagai bahan evaluasi. Meskipun pendekatan ini telah membantu dalam pengambilan keputusan klinis, keterbatasan dalam akurasi dan objektivitas tetap menjadi tantangan yang perlu diatasi.

Integrasi Omik dan Kecerdasan Buatan dalam IVF

Proyek yang sedang dikembangkan bertujuan untuk menciptakan alat baru yang dapat meningkatkan keberhasilan IVF dengan mengintegrasikan data omic (seperti metabolomik, transkriptomik, dan mikroRNA) dan kecerdasan buatan. Pendekatan ini akan memungkinkan prediksi yang lebih akurat dan personalisasi perawatan bagi pasangan infertil. Untuk mencapai tujuan ini, langkah-langkah berikut akan diterapkan:

  1. Pengumpulan Data Pasien Data gaya hidup dan parameter demografi pasangan subfertil akan direkam dan dianalisis. Selain itu, karakteristik siklus IVF sebelumnya juga akan dikaji untuk memahami pola yang dapat mempengaruhi hasil IVF di masa mendatang.
  2. Evaluasi Omik dan Pembelajaran Mesin Pengukuran dan evaluasi parameter metabolomik, transkriptomik, dan biomarker akan dilakukan terhadap oosit, sperma, dan embrio. Data ini kemudian akan dianalisis menggunakan pembelajaran mesin mendalam untuk mengidentifikasi pola-pola yang berkontribusi terhadap keberhasilan atau kegagalan IVF.
  3. Pengembangan Model Jaringan Syaraf Buatan Model kecerdasan buatan berbasis jaringan syaraf buatan akan dikembangkan untuk meningkatkan objektivitas dan akurasi dalam prediksi hasil IVF. Dibandingkan dengan teknik tradisional, pendekatan ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang lebih optimal bagi pasangan infertil, terutama bagi mereka yang mengalami kegagalan IVF sebelumnya.

Manfaat Integrasi Omics dan Model Prediktif dalam IVF

Data omik memiliki potensi besar dalam meningkatkan seleksi embrio yang lebih optimal. Kombinasi data omik dengan model prediktif berbasis kecerdasan buatan akan membantu dalam personalisasi perawatan IVF, sehingga meningkatkan tingkat keberhasilan prosedur ini. Manfaat utama dari pendekatan ini antara lain:

  • Peningkatan Individualisasi Perawatan: Dengan memahami karakteristik unik dari setiap pasangan, model ini akan memungkinkan perawatan yang lebih spesifik dan efektif.
  • Keberhasilan bagi Pasangan dengan Infertilitas Tidak Terjelaskan: Pasangan yang mengalami infertilitas tanpa penyebab yang jelas atau kegagalan implantasi berulang akan mendapatkan opsi perawatan yang lebih tepat.
  • Pengurangan Tingkat Kehamilan Ganda: Dengan seleksi embrio yang lebih akurat, risiko kehamilan ganda yang sering menjadi komplikasi dalam prosedur IVF dapat diminimalkan.

Integrasi data omics dan kecerdasan buatan dalam prediksi hasil IVF merupakan langkah maju dalam bidang reproduksi berbantuan. Dengan pendekatan ini, pemilihan embrio dapat dilakukan secara lebih optimal, meningkatkan keberhasilan prosedur, serta memberikan harapan baru bagi pasangan yang berjuang melawan infertilitas. Pengembangan lebih lanjut dalam teknologi ini akan membawa dunia medis lebih dekat menuju era perawatan IVF yang lebih personal dan efektif. Sister juga mulai dapat mempertimbangkan dan tetap harus paham apa kasus infertilitas sister dan paksu ya! informasi lebih lanjut dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Siristatidis, C., Stavros, S., Drakeley, A., Bettocchi, S., Pouliakis, A., Drakakis, P., … & Vlahos, N. (2021). Omics and artificial intelligence to improve in vitro fertilization (IVF) success: a proposed protocol. Diagnostics, 11(5), 743.

Mashaah, T., Muziringa, M., Gomo, E., Chideme-Maradzika, J., Madziyire, M. G., & January, J. (2023). Traditional management of female infertility in Africa: a scoping review protocol. BMJ open, 13(11), e079201.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, IVF

Sindikat China yang Melakukan Jual beli Sel Telur, Apakah berdampak bagi tubuh Perempuan Di masa yang akan Datang?

February 17, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Baru-baru ini dunia dihebohkan dengan berita praktek jual beli sel telur. Apakah sister dan paksu juga sempat membaca? sebagai pejuang dua garis terutama dengan spesifik kasus low AMH seringkali dapat membayangkan bagaimana mendapatkan donor sel telur. Sayangnya di Indonesia praktek ini masih dalam kategori ilegal loh. 

Menurut undang-undang UU Kesehatan dan peraturan pelaksananya PP 28/2024 telah menegaskan inseminasi buatan/reproduksi buatan hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan disertai hasil pemeriksaan medis mengalami ketidaksuburan atau infertilitas untuk memperoleh keturunan.

Melihat undang-undang tersebut bahwasanya adanya larangan untuk menerima donor sperma dari orang lain selain dari suami sendiri, atau penggunaan ovum dari orang lain selain dari istri sendiri. MDG pada akan membahas lebih lanjut terutama menyoroti kesehatan perempuan di masa depan jika melakukan donor sel telur.

Bagaimana Dunia Memandang Program Sel Telur?

Ternyata menurut beberapa penelitian bahwasanya tidak ada transparansi yang diberikan terkait dampak jangka panjang, sebuah penelitian dengan judul “Tempting Luck: Temporalities and Risk Anticipation among Egg Donors in Spain” Berdasarkan penelitian etnografi di Barcelona dengan donor sel telur dan profesional IVF, terjadi fenomena yang disebut “temporal choreography” untuk menjelaskan bagaimana praktik klinis membatasi informasi yang diberikan kepada donor. Mereka ditempatkan dalam “temporal stasis“, di mana potensi risiko masa depan dari donasi diabaikan, dan pertimbangan terkait penggunaan sel telur di masa mendatang dihilangkan.

Padahal ada yang paling penting diantaranya adalah kondisi yang berkaitan dengan kehidupan donor, yang umumnya masih muda dan secara ekonomi tidak stabil. Koreografi ini berperan dalam kesuksesan industri donasi sel telur di Spanyol, yang terbesar di Eropa. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana tubuh tertentu diarahkan untuk mengantisipasi risiko dan melihat kesuburan sebagai perawatan diri, sementara yang lain justru didorong untuk mengabaikan risiko demi keuntungan finansial jangka pendek.

Efek Jangka Panjang Bagi Pendonor

Setelah melihat temuan diatas, dapat dibayangkan bagaimana masih belum banyak temuan medis yang dilakukan terkait dengan menyoroti dampak jangka panjang pada pendonor sel telur. Melihat bagaimana prosedur ini terlihat cukup mudah, prosedur ini tidak disarankan bagi wanita. Pasalnya, belum diketahui apa yang menjadi efek jangka panjang bagi wanita. Selama pelaksanaan prosedur ini, beberapa wanita mungkin akan mengalami pendarahan ketika dokter memasukkan jarum ke dalam ovarium mereka.

Prosedur ini juga bisa saja mengakibatkan kerusakan pada usus, kandung kemih, atau pembuluh darah, tetapi dalam kasus yang jarang terjadi. Infeksi bisa saja terjadi setelah pengangkatan sel telur. Dalam kasus yang parah dan membutuhkan rawat inap, gejala yang ditimbulkan meliputi sakit perut, muntah, kesulitan bernapas, dan pertambahan berat badan yang cepat. Bagaimana sister dan paksu apakah sudah tercerahkan? untuk informasi menarik lainnya dapat di akses di Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Molas, A., & Whittaker, A. (2024). Tempting luck: Temporalities and risk anticipation among egg donors in Spain. Science, Technology, & Human Values, 49(6), 1256-1280.
  • https://www.hukumonline.com/klinik/a/sahkah-donor-sperma-di-indonesia-lt62aad2cc18f9d/
  • https://www.halodoc.com/artikel/donor-sel-telur-bagaimana-efek-jangka-panjangnya-bagi-wanita?srsltid=AfmBOoqRVbeQXz8efzZwK8sk-UoAQPsr_cMHugvrjvUqLdH0ng1YLc1z

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: cina, donor, IVF, Sel telur

Ketahui Prosedur controlled ovarian stimulation (COS) pada Program IVF

February 11, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Dalam proses IVF akan ada banyak prosedur salah satunya adalah Controlled Ovarian Stimulation (COS) ia hadir sebagai prosedur medis yang digunakan untuk merangsang ovarium agar menghasilkan lebih dari satu sel telur dalam satu siklus menstruasi. Proses ini biasanya dilakukan dalam program bayi tabung (IVF – In Vitro Fertilization) atau inseminasi buatan (IUI – Intrauterine Insemination). MDG akan menjelaskan lebih lanjut tentang prosedur ini, baca sampai akhir ya!

Apa itu Prosedur controlled ovarian stimulation (COS)

Dalam stimulasi ovarium terkendali (COS) terdiri dari tiga elemen dasar diantaranya adalah Gonadotropin eksogen untuk merangsang perkembangan multi folikel. Pengobatan bersamaan dengan agonis atau antagonis hormon pelepas gonadotropin (GnRH) untuk menekan fungsi hipofisis dan mencegah ovulasi dini. Memicu pematangan oosit akhir 36 hingga 38 jam sebelum pengambilan oosit.

COS dalam IVF

Seiring berkembangnya teknologi IVF, pendekatan dalam stimulasi ovarium terkendali (COS) juga semakin berkembang. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang biologi reproduksi, muncul minat lebih besar terhadap bagaimana COS mempengaruhi keberhasilan IVF dan apakah setiap pasien memerlukan pendekatan yang dipersonalisasi. 

Sebuah penelitian dengan judul “Best practices for controlled ovarian stimulation in in vitro fertilization” menemukan bahwasanya Tujuan utama COS adalah mencapai kelahiran yang sehat dalam satu siklus IVF, tetapi strategi yang digunakan bisa berbeda-beda di tiap pusat medis. Banyak dokter mendasarkan keputusan mereka pada pengalaman dan studi observasional, bukan hanya uji coba terkontrol. Secara umum, COS tidak bisa diterapkan secara seragam pada semua pasien, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi individu berdasarkan bukti ilmiah yang ada. Bagian selanjutnya akan membahas praktik terbaik dalam COS yang berfokus pada pendekatan yang berpusat pada pasien.

Stimulasi ovarium terkontrol (COS) adalah bagian penting dari proses fertilisasi in vitro (IVF-ET). Salah satu tantangan utama dalam COS adalah menentukan dosis awal gonadotropin yang tepat. Meskipun sudah ada metode perhitungan untuk protokol agonis GnRH, belum ada yang sesuai untuk protokol antagonis GnRH. 

Dengan berkembangnya teknologi dan pemahaman tentang biologi reproduksi, stimulasi ovarium terkontrol (COS) terus mengalami penyempurnaan untuk meningkatkan keberhasilan program IVF. Prosedur ini memainkan peran penting dalam menghasilkan sel telur yang optimal, namun setiap pasien memerlukan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi tubuhnya. Oleh karena itu, pemilihan strategi COS yang tepat, berdasarkan bukti ilmiah dan faktor individu, menjadi kunci dalam mencapai hasil terbaik. Jika sister dan paksu sedang mempertimbangkan program IVF, berkonsultasilah dengan dokter spesialis untuk mendapatkan perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan sister. 

Daftar Isi 

  • Gallos, I. D., Eapen, A., Price, M. J., Sunkara, S. K., Macklon, N. S., Bhattacharya, S., … & Coomarasamy, A. (2017). Controlled ovarian stimulation protocols for assisted reproduction: a network meta‐analysis. The Cochrane Database of Systematic Reviews, 2017(3).
  • Jungheim, E. S., Meyer, M. F., & Broughton, D. E. (2015, March). Best practices for controlled ovarian stimulation in in vitro fertilization. In Seminars in reproductive medicine (Vol. 33, No. 02, pp. 077-082). Thieme Medical Publishers.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: COS, IVF, prosedur

Ultra-long protocol untuk IVF Benarkah Lebih Efektif?

February 9, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, dari kalian yang sedang berproses melawan infertilitas, pasti sering dengar soal berbagai protokol IVF, kan? Salah satunya adalah protokol ultra-panjang, yang katanya bisa meningkatkan peluang kehamilan lebih baik dibanding protokol panjang biasa. Tapi, bener nggak sih? MDG akan menjelaskan lebih lanjut dalam artikel kali ini.

Apa itu Ultra-long protocol IVF dan Bagaimana Prosedurnya?

Protokol IVF jangka panjang, yang juga dikenal sebagai protokol agonis, adalah protokol IVF tradisional yang telah digunakan sejak awal mula IVF. Seluruh proses biasanya memakan waktu sekitar 4-6 minggu, lebih lama dari protokol jangka pendek. 

Prosedur Protokol IVF jangka panjang meliputi konsultasi awal melibatkan proses konsultasi menyeluruh dan personal untuk merencanakan tindakan terbaik bagi perjalanan kesuburan unik Anda.

Langkah-langkahnya diantaranya adalah Down-Regulation, dalam protokol IVF jangka panjang, langkah pertama adalah down-regulation. Di sini, sister akan mengonsumsi obat untuk menekan siklus menstruasi alami, yang biasanya berlangsung sekitar dua minggu. Ini memberi spesialis kesuburan terkontrol lebih besar atas waktu pengambilan sel telur.

Tahap selanjutnya adalah stimulasi ovarium, setelah down-regulation, sister akan mulai mengonsumsi suntikan hormon selama sekitar 10-12 hari untuk merangsang ovarium agar menghasilkan lebih banyak sel telur. Perkembangan sel telur ini dipantau secara ketat dengan pemindaian ultrasonografi rutin.

Tahap berikutnya adalah Trigger Shot, “Trigger shot” diberikan untuk menginduksi pematangan sel telur akhir setelah folikel mencapai ukuran yang sesuai. Setelah proses tersebut selesai langkah selanjutnya adalah pengambilan sel telur, Sel telur kemudian diambil dengan sedasi ringan melalui prosedur bedah minor.

Dan di tahap sebelum akhir yaitu fertilisasi & kultur embrio, dimana setelah diambil, sel telur dibuahi dengan sperma di laboratorium, dan embrio yang dihasilkan dikulturkan hingga siap untuk dipindahkan. HIngga tahap akhir yaitu transfer embrio, satu atau lebih embrio dipindahkan ke rahim. Embrio berkualitas tinggi yang tidak dipindahkan dapat dibekukan untuk digunakan di masa mendatang.

Apa kata Studi Terbaru?

Sebuah meta-analisis dari Shuai Liu dkk. (2021) menemukan bahwa protokol ultra-panjang dengan down regulasi 3 bulan ternyata dapat meningkatkan angka kehamilan klinis pada wanita infertil. Dibandingkan protokol panjang biasa, hasilnya menunjukkan peningkatan 31% dalam peluang kehamilan! Wah, cukup menjanjikan ya?

Temuan tersebut dilakukan pada kasus endometriosis, meskipun protokol ini bisa meningkatkan peluang kehamilan, hasil akhirnya tetap bisa bervariasi tergantung kondisi masing-masing pasien. Jadi yang paling penting tentu disesuaikan dengan kasus infertilitas yang sister dan paksu miliki. Informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Liu, S., Xie, Y., Li, F., & Jin, L. (2021). Effectiveness of ultra‐long protocol on in vitro fertilization/intracytoplasmic sperm injection‐embryo transfer outcome in infertile women with endometriosis: A systematic review and meta‐analysis of randomized controlled trials. Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 47(4), 1232-1242.
  • https://www.indiaivf.in/blog/short-or-long-ivf-protocol-which-is-better/?srsltid=AfmBOoqmW85pi7pZQb2XTRO9irOChl0zyA-BXHkabXPqkREmVFBwE81u

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, IVF, prosedur, ultra-long protocol

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 5
  • Page 6
  • Page 7
  • Page 8
  • Page 9
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.