• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

IVF

Dampak Penurunan Berat Badan Sebelum IVF: Benarkah Berpengaruh pada Keberhasilan Kehamilan?

April 3, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Fertilisasi in vitro (IVF) sudah banyak dipilih oleh pasangan pejuang dua garis. Proses ini meski sudah menggunakan teknologi yang canggih pada prosesnya masih dihadapkan oleh banyak tantangan. MDG akan mencoba membahas bagaimana berat badan juga berpengaruh, baca sampai akhir ya!

Mengapa Penurunan Berat Badan Sebelum IVF Menjadi Perdebatan?

Banyak perempuan dengan obesitas atau kelebihan berat badan disarankan untuk menurunkan berat badan sebelum menjalani prosedur fertilisasi in vitro (IVF). Mengapa demikian? Berat badan berlebih sering dikaitkan dengan gangguan kesuburan. Namun, apakah benar penurunan berat badan sebelum IVF dapat meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan? 

Kebijakan dan Pandangan Medis

Banyak penyedia layanan kesuburan, termasuk NHS, menetapkan batas indeks massa tubuh (BMI) sebelum pasien dapat menjalani IVF. Biasanya, BMI yang disarankan berada di kisaran 19-30, meskipun beberapa penyedia memiliki batas lebih ketat, yaitu 19-25. Hal ini bergantung dengan perseorangan.

Walaupun penelitian tentang hubungan antara berat badan dan kesuburan masih berlangsung, dampak obesitas terhadap hasil IVF semakin banyak diakui. Misalnya, sebuah studi tahun 2021 terhadap lebih dari 7.300 wanita menemukan bahwa meskipun tingkat kehamilan tidak berbeda secara signifikan antar kategori BMI, wanita dengan BMI lebih tinggi memiliki angka kelahiran hidup lebih rendah dan risiko keguguran lebih tinggi. Studi tersebut juga mencatat bahwa wanita dengan obesitas cenderung memiliki lebih sedikit sel telur matang dan embrio yang berkembang ke tahap blastokista.

Jika BMI Saya Tidak Ideal untuk IVF, Apa yang Harus Dilakukan?

Jika BMI  terlalu tinggi untuk menjalani IVF, dokter mungkin menyarankan untuk menurunkan 5-10% dari berat badan. Namun, menurunkan berat badan bukan satu-satunya solusi. Konsultasi dengan dokter akan membantu menentukan langkah terbaik berdasarkan kondisi kesehatan dan riwayat medis Anda.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menguji kadar Hormon Anti-Mullerian (AMH) untuk mengetahui cadangan ovarium. Tes darah sederhana ini dapat membantu dokter menilai peluang kehamilan dan memahami apakah BMI mempengaruhi kesuburan Anda.

Berdasarkan artikel hari ini, ternyata menurunkan berat badan sebelum IVF memang dapat mengurangi berat badan secara signifikan, tetapi tidak selalu meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan. Oleh karena itu, keputusan untuk menurunkan berat badan sebelum IVF sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing dan didiskusikan dengan dokter yang menangani sister dan paksu. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Jeong, H. G., Cho, S., Ryu, K. J., Kim, T., & Park, H. (2024). Effect of weight loss before in vitro fertilization in women with obesity or overweight and infertility: a systematic review and meta-analysis. Scientific Reports, 14(1), 6153.
  • https://www.alodokter.com/ketahui-tingkat-keberhasilan-dan-kegagalan-ivf-atau-bayi-tabung-sebelum-melakukannya
  • https://www.ivi.uk/blog/why-your-bmi-matters-when-trying-to-get-pregnant/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: berat badan, BMI, IVF

Memahami Infertilitas Tuba secara Anatomis: Kenapa Bisa Jadi Penghambat Kehamilan?

March 18, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Apakah sister dan paksu tau bahwa fakta sekitar 30% wanita infertil di seluruh dunia mengalami masalah pada tuba fallopi. Sayangnya, aspek ini bisa jadi terabaikan karena adanya prosedur bayi tabung (IVF) yang dianggap bisa menjadi solusi ketika tuba mengalami penyumbatan atau kerusakan. Padahal, memahami lebih dalam tentang infertilitas tuba bisa membantu sister dan paksu dalam menemukan pendekatan yang lebih tepat untuk mengatasi masalah kesuburan. Salah satu pendekatan ini 

Pentingnya Memahami Infertilitas Tuba

Dengan memahami kondisi ini lebih dalam, sister dan paksu bisa lebih bijak dalam mencari solusi yang sesuai. Karena tuba fallopi memiliki anatomi yang kompleks. Dari proses perkembangannya sejak embrio hingga struktur mikroskopisnya yang memiliki silia (rambut kecil yang membantu pergerakan sel telur), semua ini berperan penting dalam proses transportasi sel telur menuju tempat pembuahan.

Tuba falopi adalah saluran yang menghubungkan ovarium dan rahim, berperan penting dalam proses pembuahan. Panjangnya sekitar 11-12 cm dan memiliki diameter lumen yang sangat kecil, kurang dari 1 mm. Tuba fallopi memiliki empat bagian utama:

  1. Bagian uterus (paling dekat dengan rahim).
  2. Isthmus (bagian sempit yang berdekatan dengan uterus).
  3. Ampula (tempat paling umum terjadinya pembuahan).
  4. Infundibulum (bagian ujung dengan fimbria yang menangkap sel telur dari ovarium)

Singkatnya, tuba fallopi adalah jalur penting bagi sel telur menuju rahim, tempat terjadinya pembuahan, dan memiliki suplai darah serta sistem limfatik yang kompleks untuk menjaga fungsinya.

Ada banyak faktor yang menyebabkan infertilitas tuba, di antaranya:

  • Infeksi: Chlamydia trachomatis, gonore, dan tuberkulosis genital
  • Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD)
  • Endometriosis
  • Komplikasi setelah operasi perut

Kerusakan pada tuba bisa menyebabkan penyumbatan atau gangguan pergerakan sel telur, sehingga menghambat proses pembuahan secara alami. Bayangkan anatomi yang kompleks itu kemudian berhadapan dengan gangguan yang juga beragam faktornya. 

Apakah Ada Cara Mengatasi Infertilitas Tuba?

Meskipun masih ada perdebatan mengenai penyebab utama infertilitas tuba, perkembangan teknologi dalam diagnosis molekuler telah mengungkap bahwa infeksi, endometriosis, dan gangguan pergerakan silia menjadi faktor utama yang memicu obstruksi tuba. Ini menunjukkan bahwa memahami kondisi kesehatan reproduksi sejak dini sangat penting bagi sister yang ingin merencanakan kehamilan.

Infertilitas tuba merupakan salah satu penyebab utama gangguan kesuburan yang seringkali terabaikan. Penting bagi sister dan paksu untuk memahami faktor-faktor penyebabnya hal ini juga tentu bisa dikaitkan dengan anatomi tubuh sister dan paksu, kemudian dapat mencari solusi terbaik, baik melalui pengobatan medis maupun tindakan pencegahan seperti menjaga kesehatan reproduksi sejak dini. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Briceag, I., Costache, A., Purcarea, V. L., Cergan, R., Dumitru, M., Sajin, M., & Ispas, A. T. (2015). Fallopian tubes–literature review of anatomy and etiology in female infertility. Journal of medicine and life, 8(2), 129.
  • Han, J., & Sadiq, N. M. (2019). Anatomy, abdomen and pelvis, fallopian tube.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: IVF, perempuan, rahim, tuba falopi

Ketahui Bagaimana Pejuang Dua Garis Merespons Diagnosis Infertilitas Berdasarkan Penyebab Anatomis dan Non-anatomis

March 7, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Infertilitas bukan hanya soal kondisi medis, tapi juga berdampak besar pada emosi dan kualitas hidup seseorang. Ketika pasangan didiagnosis mengalami masalah kesuburan, respons emosional mereka bisa sangat berbeda, tergantung pada gender maupun penyebab infertilitas itu sendiri. 

MDG ingin menjelaskan lebih lanjut ada sebuah temuan yang mencoba menjelaskan tentang bagaimana pria dan wanita menghadapi diagnosis ini serta faktor-faktor yang mempengaruhi cara mereka menghadapinya.

Reaksi Emosional Perempuan Lebih Terbebani?

Sebuah penelitian yang turut melibatkan 133 orang dewasa yang menjalani perawatan di Unit IVF dan Infertilitas di sebuah rumah sakit di Bologna. Dari jumlah tersebut, 107 pasien ikut serta dan dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan penyebab infertilitas: anatomis (kelainan pada organ reproduksi) dan non-anatomis (seperti gangguan hormon).

Dalam proses penelitian itu sister dan paksu harus tahu bahwasanya perempuan lebih rentan mengalami tekanan emosional dibanding pria. Mereka merasa kurang percaya diri dalam menghadapi infertilitas dan melaporkan kualitas hidup yang lebih rendah, terutama dalam aspek emosional dan keseimbangan pikiran-tubuh. Sementara itu, pria cenderung lebih percaya diri dan tidak terlalu terpengaruh secara emosional.

Penyebab Infertilitas Berpengaruh pada Cara Pasien Menghadapinya

Ternyata, jenis infertilitas juga berpengaruh pada bagaimana seseorang merespons kondisinya. Pasien dengan penyebab infertilitas non-anatomi lebih merasa tertekan dalam aspek hubungan sosial dan lebih cenderung menghindari permasalahan dibandingkan mereka yang mengalami infertilitas akibat faktor anatomis.

Lalu, apa yang bisa memprediksi kualitas hidup seseorang saat menghadapi infertilitas? Dalam hal ini ternyata bahwa orang yang memiliki tingkat efikasi diri lebih tinggi (alias lebih percaya diri dalam menghadapi masalah) dan tidak terlalu sering menghindari kenyataan cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Ini berarti cara seseorang menghadapi diagnosis sangat berpengaruh terhadap bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari meskipun menghadapi tantangan infertilitas.

Wah bagaimana sister dan paksu apakah kalian juga merasakan hal yang sama? bahwa ternyata pria dan wanita memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi infertilitas. Wanita lebih cenderung merasakan tekanan emosional yang lebih besar, sedangkan pria umumnya memiliki efikasi diri yang lebih tinggi. Selain itu, pasien dengan infertilitas non-anatomi lebih rentan terhadap dampak psikologis dibanding mereka yang memiliki masalah kesuburan karena faktor anatomis.

Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita menghadapi situasi ini. Kepercayaan diri dan strategi managemen yang baik dapat membantu meningkatkan kualitas hidup meskipun berada dalam kondisi sulit. Jadi, untuk sister dan paksu yang sedang berjuang dengan masalah kesuburan, cobalah untuk mencari dukungan emosional dan menjaga mindset positif bisa menjadi langkah penting untuk tetap kuat dalam perjalanan ini. Informasi menarik lainnya bisa follow akun Instagram @menujuduagaris.id ya!

Referensi

  • Andrei, F., Salvatori, P., Cipriani, L., Damiano, G., Dirodi, M., Trombini, E., … & Porcu, E. (2021). Self-efficacy, coping strategies and quality of life in women and men requiring assisted reproductive technology treatments for anatomical or non-anatomical infertility. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology, 264, 241-246.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertility, IVF, mental health

Memilih Embrio Berkualitas untuk Keberhasilan Program Bayi Tabung

March 6, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Saat menjalani program bayi tabung, memilih embrio yang berkualitas baik adalah kunci utama untuk meningkatkan peluang kehamilan. Tapi, bagaimana cara memilih embrio yang terbaik? Nah, sister dan paksu, dari banyaknya teknik yang ada, kali ini kenalan yuk sama teknik baru, dimana ada penelitian terbaru yang mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kehamilan dalam satu siklus transfer menggunakan teknik Single Vitrified-Warmed Blastocyst Transfer (VBT). Yuk, kita bahas lebih lanjut!

Apa Itu VBT dan Kenapa Penting?

Single Vitrified-Warmed Blastocyst Transfer (VBT) atau transfer blastokista vitrifikasi-hangat adalah proses di mana embrio yang telah dibekukan (vitrifikasi) dipanaskan kembali sebelum ditanamkan ke dalam rahim. Proses ini memungkinkan dokter untuk memilih embrio yang paling potensial untuk berkembang menjadi kehamilan yang sehat. Meski begitu tentu teknik ini ga akan berhasil jika tidak mempertimbangkan faktor-faktor tertentu. 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Kehamilan

Mengapa VBT dapat meningkatkan tingkat keberhasilan IVF? Tentu saja, ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan, di antaranya:

  1. Tingkat Ekspansi Blastocoel
    Semakin besar tingkat ekspansi blastocoel sebelum pembekuan, semakin tinggi peluang kehamilan.
  2. Kualitas Inner Cell Mass (ICM) Setelah Pemanasan
    Embrio dengan ICM berkualitas lebih baik setelah pemanasan memiliki peluang kehamilan yang lebih tinggi.
  3. Hari Ke-5 vs Hari Ke-6
    Embrio yang berkembang pada hari ke-5 lebih disarankan karena peluang keberhasilannya lebih tinggi dibandingkan hari ke-6.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan peluang kehamilan yang sukses, beberapa faktor yang harus diperhatikan saat memilih blastokista yang telah dibekukan adalah:

  • Pilih blastokista dengan tingkat ekspansi blastocoel yang lebih tinggi sebelum pembekuan.
  • Pastikan kualitas ICM tetap baik setelah proses pemanasan.
  • Jika memungkinkan, prioritaskan blastokista yang berkembang pada hari ke-5.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, harapannya program bayi tabung bisa memberikan hasil yang lebih optimal. Semoga bermanfaat, sister! informasi menarik lainnya dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Kim, H. J., Park, J. K., Eum, J. H., Song, H., Lee, W. S., & Lyu, S. W. (2021). Embryo selection based on morphological parameters in a single vitrified-warmed blastocyst transfer cycle. Reproductive Sciences, 28, 1060-1068.
  • https://www.volusonclub.net/empowered-womens-health/3-factors-that-may-affect-the-success-of-an-embryo-transfer/

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, IVF, Single Vitrified-Warmed Blastocyst Transfer

Multinukleasi pada Embrio: Pengaruhnya terhadap Keberhasilan IVF-ET dan Kehamilan Klinis

March 5, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, pernah dengar tentang embrio yang punya lebih dari satu inti sel alias multinukleasi? Nah, MDG dalam artikel kali ini mau ngulik lebih dalam apakah fenomena ini berpengaruh terhadap perkembangan embrio dan peluang keberhasilan kehamilan klinis. Yuk, kita bahas!

Kenapa Multinukleasi Itu Penting?

Sister pasti sudah tahu bahwa dalam dunia bayi tabung alias in vitro fertilization-embryo transfer (IVF-ET), kualitas embrio yang ditransfer itu punya peran besar dalam keberhasilan program. Semakin bagus kualitasnya, semakin tinggi peluang implantasi dan kehamilan klinis. Biasanya, dokter menilai embrio berdasarkan tahap perkembangan, tingkat fragmentasi, dan simetris atau tidaknya sel-selnya. Tapi nih, satu hal yang sering luput dari perhatian adalah kondisi inti selnya apakah normal (satu inti) atau malah ada lebih dari satu inti (multinukleasi)? Yuk pahami lebih lanjut! 

Apa Kata Penelitian?

Penelitian ini menemukan bahwa kalau lebih dari 50% embrio yang ditransfer punya blastomer multinukleasi, angka implantasi, kehamilan klinis, maka hal ini akan memperlihatkan prediksi kelahiran hidup jadi lebih rendah dibandingkan embrio dengan inti sel normal. Jadi, jelas ya, multinukleasi ini bukan hal sepele. Karena kehadirannya bisa jadi tanda embrio punya potensi perkembangan yang lebih rendah. Trus kapan bisa mengecek kalau embrio ini multinukleasi?

Nah embrio disebut multinukleus jika lebih dari satu nukleus dapat terlihat dalam setiap sel pada hari ke-2 atau ke-3. Setelah hari ke-3, sangat sulit untuk mengidentifikasi keberadaan multinukleus. Sebagian besar embrio multinukleus telah terbukti memiliki kelainan kromosom.

Namun, terkadang embrio berinti banyak tertanam dan menghasilkan kehamilan yang sehat serta kelahiran bayi yang normal. Embrio ini umumnya hanya ditransfer ke rahim jika hanya embrio tersebut yang tersedia.

Apa Kaitannya dengan Induksi Ovulasi?

Ternyata, multinukleasi ini sering muncul pada siklus yang punya respons lebih agresif terhadap terapi gonadotropin. Beberapa faktor yang ditemukan dalam siklus dengan embrio multinukleasi adalah:

  • Kadar estrogen (E2) lebih tinggi saat pemberian hCG.
  • Jumlah folikel lebih banyak pada hari pemberian hCG.
  • Jumlah oosit yang diambil lebih banyak.
  • Tingkat fertilisasi lebih tinggi.
  • Jumlah embrio yang ditransfer lebih banyak.

Artinya, respons ovarium yang terlalu agresif bisa meningkatkan risiko munculnya embrio multinukleasi. Ini jadi pertimbangan penting buat paksu dan sister yang lagi menjalani program bayi tabung!

Yang lebih menarik, kalau dalam satu siklus ada embrio multinukleasi (meskipun tidak ditransfer), saudara kembarnya alias sibling embryo ternyata juga cenderung punya potensi perkembangan yang lebih rendah. Ini makin menguatkan bahwa multinukleasi itu memang bukan tanda yang baik dalam perkembangan embrio.

Evaluasi status inti sel dengan mikroskop cahaya sederhana bisa jadi alat prediksi yang berguna untuk menilai kapasitas perkembangan embrio. Jadi, dalam pemilihan embrio untuk transfer, nggak cukup hanya lihat bentuk luar saja, tapi juga harus perhatiin ada atau nggaknya multinukleasi. Selain itu, perlu lebih berhati-hati dalam pemberian terapi gonadotropin agar respons ovarium tetap optimal dan nggak berlebihan.

So, sister dan paksu yang lagi berjuang dalam program bayi tabung, yuk lebih aware sama kualitas embrio! Jangan ragu diskusi sama dokter soal ini ya. Semoga programnya lancar dan segera dapat garis dua. Semangat! Untuk informasi menarik lainnya sister dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Jackson, K. V., Ginsburg, E. S., Hornstein, M. D., Rein, M. S., & Clarke, R. N. (1998). Multinucleation in normally fertilized embryos is associated with an accelerated ovulation induction response and lower implantation and pregnancy rates in in vitro fertilization-embryo transfer cycles. Fertility and sterility, 70(1), 60-66.
  • https://www.advancedfertility.com/fertility-gallery/embryo-quality
  • https://fertilitysolutions.com.au/multinucleated-embryos/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: berhasil, embrio, gagal karena apa?, IVF

Sister, Yuk Kenali Pengaruh Single-step dan Sequential Embryo Culture Systems pada Kehamilan!

March 4, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Sister, kalau sedang menjalani program bayi tabung atau tertarik dengan teknologi reproduksi berbantuan (TRB), pasti pernah dengar tentang media kultur embrio, kan? Nah, media kultur ini ternyata punya pengaruh, lho, terhadap hasil kehamilan dan kesehatan bayi! Yuk, kita bahas lebih dalam!

Media Kultur Langkah Single-step atau Tunggal vs. Sequential atau Berurutan

Dalam TRB, ada dua jenis media kultur yang biasa digunakan, yaitu langkah tunggal dan berurutan. Perbedaannya apa, sih?

  • Media Kultur Langkah Tunggal → Embrio dibiakkan dalam satu jenis media yang sama dari awal hingga siap untuk ditransfer.
  • Media Kultur Berurutan → Embrio dipindahkan ke media yang berbeda sesuai dengan tahap perkembangannya.

Tapi, apakah pilihan media ini berpengaruh pada hasil kehamilan? Let’s find out!

Apa Pengaruhnya terhadap Kehamilan dan Bayi?

Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang dikandung dengan embrio dari media kultur langkah tunggal memiliki kemungkinan lebih besar untuk lahir dengan ukuran lebih besar atau large-for-gestational-age (LGA) dibandingkan dengan media kultur berurutan.

Tapi, sister nggak perlu khawatir berlebihan! Soalnya, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam aspek lain seperti:  Kelainan plasenta, Hipertensi akibat kehamilan, Diabetes gestasional, Prematuritas, Berat badan lahir rendah

Kenapa Bisa Terjadi?

Karena ada banyak faktor yang bisa jadi menjadi salah satu faktor diantaranya adalah:

  • Komposisi nutrisi dalam media kultur
  • Pengaruh lingkungan kultur terhadap perkembangan embrio
  • Faktor metabolisme embrio yang berbeda dalam setiap media

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Sebenarnya, setiap metode punya kelebihan dan kekurangan. Media kultur langkah tunggal menjadi lebih praktis karena embrio tetap dalam satu lingkungan yang stabil. Sedangkan media kultur berurutan lebih menyerupai kondisi alami rahim.

Untuk sister yang sedang menjalani program bayi tabung, konsultasikan dulu dengan dokter spesialis agar bisa memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhan!

Setidaknya dengan memahami teknologi reproduksi berbantuan itu penting banget supaya sister dan paksu bisa mengambil keputusan yang tepat. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kesuburan agar mendapatkan hasil terbaik. Informasi menarik lainnya bisa sister dan paksu temukan di @menujuduagaris.id

Referensi

  • Sacha, C. R., Gopal, D., Liu, C. L., Cabral, H. R., Stern, J. E., Carusi, D. A., … & Bormann, C. L. (2022). The impact of single-step and sequential embryo culture systems on obstetric and perinatal outcomes in singleton pregnancies: the Massachusetts Outcomes Study of Assisted Reproductive Technology. Fertility and sterility, 117(6), 1246-1254.
  • https://txfertility.com/in-vitro-fertilization-ivf/embryo-culture/

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: embrio, IVF, reproduksi, single step

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 4
  • Page 5
  • Page 6
  • Page 7
  • Page 8
  • Page 9
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.