• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Archives for July 2025

Apakah PCOS Dapat Memilih Program Hamil Alami?

July 13, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) menjadi salah satu gangguan hormon yang sering dialami perempuan usia subur. PCOS ditandai dengan ketidakseimbangan hormon, resistensi insulin, dan masalah metabolisme. Gejalanya bisa sangat mengganggu, mulai dari menstruasi tidak teratur, sulit hamil, jerawat, tumbuhnya rambut berlebih, hingga kenaikan berat badan.

Selama ini, pengobatan PCOS biasanya menggunakan obat-obatan seperti pil KB atau insulin sensitizer. Sayangnya, obat-obatan ini kadang hanya mengatasi gejala, bukan akar masalahnya, dan bisa menimbulkan efek samping. Lalu bagaimana dengan program hamil alami? baca lebih lanjut yuk!

Program Hamil Alami Untuk PCOS

Banyak diantara sister  yang kini mulai melirik cara alami untuk mengelola PCOS. Selain minim efek samping, cara ini juga bisa membantu memperbaiki kesehatan secara menyeluruh. Berikut beberapa strategi alami yang terbukti efektif:

  1. Perubahan Pola Makan

Mengatur pola makan adalah kunci utama. Diet rendah gula dan tinggi serat, seperti pola makan Mediterania atau DASH, terbukti membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi peradangan. Pilih makanan utuh, perbanyak sayuran, buah, biji-bijian, dan kurangi makanan olahan.

  1. Aktif Bergerak

Olahraga rutin, baik kardio maupun latihan kekuatan, sangat baik untuk PCOS. Aktivitas fisik membantu menyeimbangkan hormon, menurunkan berat badan, dan memperbaiki siklus haid. Tidak perlu ekstrem, cukup jalan kaki cepat, yoga, atau bersepeda secara teratur.

  1. Herbal dan Suplemen

Beberapa herbal seperti inositol, teh spearmint, dan kayu manis mulai populer karena manfaatnya dalam membantu menyeimbangkan hormon dan metabolisme. Namun, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mengonsumsinya, ya!

  1. Perbaiki Gaya Hidup

Jangan remehkan pentingnya tidur cukup dan manajemen stres. Tidur berkualitas dan pikiran tenang turut membantu menstabilkan hormon. Cobalah teknik relaksasi seperti meditasi atau journaling untuk mengurangi stres sehari-hari.

Pendekatan alami cenderung lebih aman dan bisa memperbaiki kondisi tubuh secara menyeluruh. Namun, hasilnya mungkin tidak instan dan butuh komitmen jangka panjang. Sementara itu, obat-obatan bisa memberikan hasil lebih cepat, tetapi seringkali hanya mengatasi gejala.

Kombinasi antara pengobatan medis dan perubahan gaya hidup alami seringkali menjadi pilihan terbaik. Yang terpenting, konsultasikan dengan dokter untuk menentukan strategi yang paling sesuai dengan kondisi sister

PCOS memang kompleks dan bisa sangat memengaruhi kualitas hidup. Namun, dengan pengetahuan yang tepat dan perubahan gaya hidup sehat, sister bisa lebih berdaya dalam mengelola PCOS. Yuk, mulai langkah kecil hari ini untuk tubuh yang lebih sehat dan bahagia! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Soni, P., Jain, D., Bhatti, M., Bhatia, D., & Sharma, C. (2024). Exploring the Intricacies of Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS): A Comprehensive Review-from Prevalence to Natural Solutions. New Emirates Medical Journal, 5(1), e02506882339236.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hamil alami, PCOS, pola hidup sehat

MDG Channel Take Over: Memecah Kompleksitas Perjalanan Infertilitas

July 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Bersama dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG., Subsp F.E.R, MIGS

Dalam sesi spesial Channel Take Over kali ini, kita kedatangan tamu istimewa, yaitu dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG., Subsp F.E.R, MIGS dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang juga mendalami bidang fertilitas dan endoskopi ginekologi.

Salah satu pertanyaan yang cukup sering diajukan oleh pejuang dua garis adalah:

“Dok, saya ada kista kanan kiri dan juga adenomiosis. Kalau dibersihkan, apakah masih bisa hamil alami, sedangkan suami saya teratozoospermia?”

Jawaban dr. Aerul:

“Kasusnya cukup kompleks, tapi tetap semangat ya!”

Menurut dr. Aerul, kista endometriosis bilateral (di kedua ovarium) yang disertai dengan adenomiosis memang memerlukan pertimbangan yang matang sebelum dilakukan tindakan operasi. Ada beberapa faktor penting yang harus diperhitungkan, antara lain:

  • Usia pasien

  • Cadangan sel telur (ovarian reserve)

  • Lokasi dan luas lesi endometriosis

Terkait kemungkinan hamil alami setelah operasi, hal ini sangat bergantung pada derajat endometriosis.
Jika derajatnya ringan hingga sedang, peluang hamil pascaoperasi masih cukup baik.
Namun, jika derajatnya berat, maka peluang hamil alami biasanya menjadi lebih kecil.

Perlu diingat, tindakan pengangkatan kista juga memiliki risiko:

  • Penurunan cadangan sel telur

  • Kemungkinan kekambuhan yang tinggi

Jika ditemukan kista di kedua ovarium dan adenomiosis secara bersamaan, kondisi ini sangat mungkin mengarah pada endometriosis derajat berat.

Apa yang Harus Dilakukan?

Dr. Aerul menyarankan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terlebih dahulu, yang meliputi:

  • Pemeriksaan cadangan sel telur

  • Penilaian lengkap kondisi endometriosis

Dari hasil evaluasi ini, barulah bisa diputuskan apakah tindakan operasi menjadi pilihan terbaik atau justru lebih disarankan langsung ke program bayi tabung (IVF).

Semua penjelasan tersebut disampaikan langsung oleh:
dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG., Subsp F.E.R, MIGS

Ikuti terus MDG Channel Take Over untuk membahas lebih banyak pertanyaan seputar infertilitas dan kesehatan reproduksi bersama para ahli! Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, kompleksitas, MDG

Waspada Miom di Usia 30+: Apa Dampaknya pada Kesuburan dan Kehamilan?

July 11, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Bagi wanita usia 30-an ke atas yang sedang merencanakan kehamilan, penting untuk lebih mengenal kondisi rahim, termasuk kemungkinan adanya miom atau fibroid, yaitu tumor jinak yang tumbuh di otot rahim. Memahami keberadaan dan jenis miom sangat penting karena dapat memengaruhi peluang kehamilan. Pahami lebih lanjut yuk mulai dari jenis hingga penangannya!

Jenis-Jenis Mioma dan Dampaknya pada Kesuburan

Mioma dibedakan berdasarkan lokasinya di rahim, dan masing-masing memiliki dampak yang berbeda terhadap kesuburan:

  • Submukosa: Tumbuh ke arah rongga rahim. Jenis ini paling sering mengganggu kesuburan karena dapat menghambat implantasi embrio.

  • Intramural: Berada di tengah dinding rahim. Dampaknya terhadap kesuburan masih menjadi perdebatan, tergantung ukuran dan posisinya.

  • Subserosa: Tumbuh ke arah luar rahim. Umumnya tidak mengganggu program hamil karena tidak memengaruhi rongga rahim secara langsung.

Apakah Semua Mioma Perlu Dioperasi?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa fibroid kecil dan tanpa gejala yang tidak mengganggu rongga rahim, seperti intramural atau subserosa, umumnya tidak secara signifikan menurunkan peluang hamil. Artinya, jika kamu memiliki fibroid tipe ini, belum tentu perlu operasi dan masih bisa mencoba program hamil alami.

Sebaliknya, submukosa fibroid terbukti dapat menurunkan peluang kehamilan dan meningkatkan risiko keguguran. Namun, tindakan medis seperti histeroskopi (pengangkatan fibroid melalui rahim) telah terbukti dapat meningkatkan angka kehamilan pada kasus ini.

Hubungan Usia, Miom, dan Kesuburan

Seiring bertambahnya usia, terutama di atas 30–35 tahun, perubahan hormon estrogen dan penurunan aliran darah rahim dapat memicu pertumbuhan miom dan menurunkan kualitas endometrium

Penelitian di Indonesia juga menemukan bahwa mioma uteri paling banyak terjadi pada wanita usia di atas 30 tahun. Oleh karena itu, program hamil di usia 30+ memang memerlukan perhatian ekstra terhadap kondisi rahim.

Kabar Baik: Mioma Bukan Akhir dari Segalanya

Jika fibroid tidak mengganggu rongga rahim, dokter biasanya hanya akan melakukan observasi sambil membantu mengoptimalkan kesehatan rahim dan hormon. Bila diperlukan, terdapat banyak opsi medis yang aman dan telah terbukti meningkatkan peluang kehamilan, seperti histeroskopi atau tindakan lain yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Tips untuk Sister yang Sedang Promil dan Punya Fibroid

  • Jangan panik! Kenali dulu jenis dan lokasi fibroid.

  • Diskusikan dengan dokter mengenai opsi terbaik, baik observasi maupun tindakan medis.

  • Fokus pada optimasi kesehatan rahim dan hormon.

  • Ikuti edukasi atau webinar untuk menambah wawasan seputar kesehatan rahim dan peluang kehamilan.

Bagaimana sudah lebih paham bukan? yang terpenting disini adalah kalian harus mengetahui keadaan mioma agar dapat segera diketahui bagaimana penanganannya, informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  1. Freytag, D., Günther, V., Maass, N., & Alkatout, I. (2021). Uterine fibroids and infertility. Diagnostics, 11(8), 1455.

  2. Bonanni, V., Reschini, M., La Vecchia, I., Castiglioni, M., Muzii, L., Vercellini, P., & Somigliana, E. (2023). The impact of small and asymptomatic intramural and subserosal fibroids on female fertility: a case–control study. Human Reproduction Open, 2023(1), hoac056.

  3. Meilani, N. S., Mansoer, F. A. F., Nur, I. M., Argadireja, D. S., & Widjajanegara, H. (2017). Hubungan usia dan paritas dengan kejadian mioma uteri di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat tahun 2017. Jurnal Integrasi Kesehatan & Sains (JIKS), Universitas Islam Bandung.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: 30+, infertilitas, kehamilan, miom, wanita

Tebal Endometrium dan Peluang Kehamilan: Seberapa Besar Pengaruhnya?

July 11, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 Sister dan paksu yang sedang menjalani program hamil baik secara alami maupun berbantuan, jangan sampai terlewat ada faktor paling penting yaitu tentang endometrium atau dinding rahim.

MDG akan membahas salah satunya adalah pada program hamil berbantuan seperti program bayi tabung, baik dengan transfer embrio segar maupun embrio beku (FET), Lapisan dalam rahim ini ternyata punya peran penting dalam menentukan keberhasilan kehamilan hingga kelahiran hidup.

Ketebalan Endometrium dan Peluang Kehamilan

Ketebalan lapisan dalam rahim (endometrium) ternyata punya peran penting dalam keberhasilan program bayi tabung, terutama saat transfer embrio beku (FET). Berdasarkan data dari ribuan siklus FET, peluang kehamilan cenderung lebih tinggi jika ketebalan endometrium melebihi 8 mm. Selain itu, lapisan yang lebih tebal juga bisa mendukung pertumbuhan awal janin yang lebih baik.

Menariknya, efek ketebalan endometrium ini bisa berbeda tergantung pada jenis transfer embrio. Pada transfer embrio segar, angka keberhasilan meningkat hingga ketebalan sekitar 10–12 mm. Sementara itu, pada transfer embrio beku, peluang kehamilan optimal ditemukan saat ketebalan berada di kisaran 7–10 mm.

Namun, satu hal yang konsisten dari berbagai studi: jika endometrium terlalu tipis (kurang dari 6 mm), maka peluang kehamilan dan kelahiran hidup menurun drastis—baik untuk transfer embrio segar maupun beku.

Ketebalan Endometrium Ideal Untuk IVF

Ketebalan Endometrium Ideal untuk Keberhasilan IVF Embrio Segar 10–12 mm Peningkatan angka kehamilan dan kelahiran hidup, Embrio Beku (FET) 7–10 mm Angka kelahiran hidup cenderung stabil setelah 10 mm < 6 mm Tidak ideal Risiko penurunan drastis peluang hamil di kedua jenis siklus

Ketebalan endometrium sebelum transfer embrio adalah indikator penting dalam program bayi tabung. Baik jenis protokol yang digunakan maupun waktu transfer harus disesuaikan dengan kondisi endometrium pasien. Oleh karena itu, sangat penting untuk memantau ketebalan endometrium secara saksama sebelum prosedur dilakukan.

Kenalan Sama Endometrium, si Lapisan Penting di Rahim

Sister, kamu tahu nggak kalau dinding rahim kita tuh punya tiga lapisan? Nah, salah satunya yang paling penting buat program hamil adalah endometrium. Lapisan ini terdiri dari dua bagian, dan dia tuh peka banget sama hormon terutama estrogen.

Menjelang masa subur (ovulasi), hormon estrogen bakal naik, dan bikin endometrium menebal. Kenapa harus tebal? Karena disitulah nanti embrio bakal menempel dan tumbuh. Kalau terlalu tipis, si embrio bisa kesulitan nempel karena lapisannya kurang “subur”.

Endometrium yang tipis bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya hormon estrogen yang rendah, pernah operasi rahim, infeksi, atau efek samping dari alat kontrasepsi. Kalau kamu lagi promil atau khawatir soal ketebalan rahim, ada sebaiknya cek ke dokter kandungan. Biasanya di cek pakai USG transvaginal dan tes hormon biar ketahuan penyebabnya. Dari situ baru deh ditentukan terapinya.

Selain periksa ke dokter, sister juga bisa bantu tubuh lewat pola makan sehat: konsumsi daging merah, minyak zaitun, sayuran hijau tua, dan suplemen seperti zat besi, vitamin E, serta omega-3. Jangan lupa juga untuk aktif bergerak dan olahraga rutin yaa. Semangat selalu untuk kamu yang sedang berjuang, sister! informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id
 

Referensi:

  • Mahutte, N., Hartman, M., Meng, L., Lanes, A., Luo, Z. C., & Liu, K. E. (2022). Optimal endometrial thickness in fresh and frozen-thaw in vitro fertilization cycles: an analysis of live birth rates from 96,000 autologous embryo transfers. Fertility and sterility, 117(4), 792-800.
  • Shalom-Paz, E., Atia, N., Atzmon, Y., Hallak, M., & Shrim, A. (2021). The effect of endometrial thickness and pattern on the success of frozen embryo transfer cycles and gestational age accuracy. Gynecological Endocrinology, 37(5), 428-432.
  • https://www.alodokter.com/komunitas/topic/makanan-apa-yang-harus-dikonsumsi-untuk-mengatasi-rahim-tipis-

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, menebal, rahim, wanita

Deep Down dengan Masalah Sperma bersama dr. Maitra Djiang Wen, Sp.And-KFER

July 9, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Channel Take Over bareng dr. Maitra Djiang Wen, Sp.And-KFER

Masalah kesuburan pada pria sering kali masih jadi topik yang jarang dibahas secara terbuka. Lewat program Channel Take Over di Instagram Broadcast @menujuduagaris.id, dr. Maitra Djiang Wen, Sp.And-KFER hadir secara khusus untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar masalah sperma dari para pejuang dua garis.

Dalam sesi ini, dr. Maitra memberikan penjelasan yang lugas dan berbasis medis mengenai kondisi Pejuang Dua Garis (PDG) Simak beberapa pertanyaan yang dibahas bersama jawabannya berikut ini:

Masalah kesuburan pada pria sering kali masih jadi topik yang jarang dibahas secara terbuka. Tapi kali ini, lewat program Channel Take Over, kita mengulik lebih dalam beberapa pertanyaan dari para pejuang dua garis bersama dr. Maitra Djiang Wen, Sp.And-KFER, seorang androlog berpengalaman.

Pertanyaan 1

Apa penyebab dan penanganan yang tepat untuk kasus oligoteratozoospermia?
(Usia 28 tahun, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, tinggi badan 173 cm, berat badan 86 kg). Apakah masih bisa melakukan program hamil alami?

Jawaban dr. Maitra:
Oligoteratozoospermia (OAT) bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti gangguan produksi sperma, infeksi, faktor genetik, atau paparan obat-obatan yang bersifat toksik terhadap sperma. Untuk pengobatan, perlu diketahui terlebih dahulu penyebab pastinya. Namun, beberapa langkah pencegahan mandiri bisa dilakukan, seperti:

  • Menghindari pemakaian celana dalam yang terlalu ketat

  • Tidak menggunakan laptop langsung di paha

  • Menghindari berendam air panas dalam waktu lama

Langkah-langkah ini bisa membantu menjaga kualitas sperma, dan dalam beberapa kasus, program hamil alami masih memungkinkan, tergantung tingkat keparahan kondisi.

Pertanyaan 2

Suami saya didiagnosis dengan extreme OAT. Apakah pemeriksaan DFI diperlukan?

Jawaban dr. Maitra:
Pemeriksaan DNA Fragmentation Index (DFI) cukup penting pada kondisi OAT, terutama bila disertai faktor risiko lain seperti:

  • Usia pria di atas 40 tahun

  • Gaya hidup yang tidak sehat (merokok, konsumsi alkohol, dsb.)

  • Riwayat penyakit metabolik seperti hipertensi, kolesterol tinggi, asam urat, atau gangguan fungsi ginjal dan hati.

DFI membantu menilai kualitas DNA sperma yang bisa memengaruhi keberhasilan program hamil, termasuk IVF.

Pertanyaan 3

Dok, jika hormon LH dan testosteron dalam batas normal, tetapi FSH cukup tinggi (21,8 mIU/mL), apakah sebaiknya langsung tindakan PESA atau terapi hormon dulu?

Jawaban dr. Maitra:
Jika kasusnya adalah azoospermia dengan FSH tinggi (non-obstructive azoospermia) dan tidak sedang dalam pengaruh obat-obatan yang bisa meningkatkan FSH, maka kemungkinan besar tindakan pencarian sperma langsung dari testis perlu dilakukan. Teknik yang disarankan adalah micro-TESE (Microsurgical Testicular Sperm Extraction), bukan PESA, karena ini lebih tepat untuk kasus gangguan produksi. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Semua jawaban dijelaskan langsung oleh:
dr. Maitra Djiang Wen, Sp.And-KFER

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, perempuan, sperma

Egg Freezing untuk Alasan Sosial: Antara Harapan, Risiko

July 8, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perempuan yang memilih untuk menunda kehamilan karena alasan non-medis, seperti belum menemukan pasangan yang tepat atau tuntutan karier. Nah melalui kemajuan zaman salah satu opsi yang mulai banyak dilirik adalah egg freezing atau pembekuan sel telur, yang memungkinkan perempuan untuk menyimpan oosit (sel telur) mereka di usia lebih muda untuk digunakan di kemudian hari melalui prosedur fertilisasi in vitro (IVF). Yuk bahas lebih lanjut!

Apa Itu Social Egg Freezing?

Social egg freezing adalah pembekuan sel telur yang dilakukan bukan karena indikasi medis, melainkan untuk alasan pribadi atau sosial. Ini berbeda dengan pembekuan sel telur karena kondisi medis seperti kanker yang mengharuskan pengobatan yang bisa merusak kesuburan. Dalam konteks sosial, tujuan utamanya adalah menjaga peluang untuk memiliki anak biologis di usia yang lebih tua.

Berdasarkan tinjauan literatur dari berbagai sumber medis, termasuk PubMed dan UptoDate, alasan utama perempuan menunda kehamilan bukan karena gangguan kesuburan, melainkan karena faktor sosial, terutama belum adanya pasangan hidup yang dianggap tepat untuk membangun keluarga. Faktor lain termasuk stabilitas keuangan, pendidikan, dan pencapaian karir. Lalu bagaimana ini mempengaruhi kehidupan perempuan dan apakah ada risiko? yuk baca lebih lanjut!

Efektivitas dan Risiko

Yang perlu sister dan paksu ketahui jika keberhasilan program egg freezing sangat bergantung pada usia perempuan saat oosit dibekukan, jumlah sel telur yang berhasil dibekukan, dan kualitasnya. Makin muda usia perempuan saat proses dilakukan, makin tinggi tingkat keberhasilannya di masa depan.

Namun, seperti prosedur medis lainnya, metode ini tidak bebas risiko. Risiko bisa muncul dari proses IVF, usia ibu yang lebih tua saat kehamilan, hingga kemungkinan komplikasi pada embrio. Oleh karena itu, keputusan untuk menjalani egg freezing sebaiknya melalui proses konsultasi yang matang dengan tenaga medis yang kompeten.

Kebijakan tentang pembekuan sel telur untuk alasan sosial sangat bervariasi antar negara, dipengaruhi oleh norma budaya, agama, hingga kondisi ekonomi. Negara seperti Amerika Serikat dan Israel menjadi pionir dalam penerapan dan popularitas metode ini. Sayangnya, belum semua negara memiliki data resmi atau registri nasional yang mencatat angka dan efektivitas metode ini secara sistematis, termasuk Yunani yang menjadi fokus dalam artikel sumber.

Dilain sisi egg freezing untuk alasan sosial adalah fenomena yang semakin mendapat perhatian, seiring bertambahnya jumlah perempuan yang mempertimbangkan opsi ini untuk menjaga peluang menjadi ibu. Namun, agar metode ini benar-benar inklusif dan etis, dibutuhkan kerangka hukum yang universal dan sensitif terhadap konteks sosial-budaya tiap negara. Selain itu, masih diperlukan lebih banyak data dan kajian mengenai efektivitas serta dampaknya dari sudut pandang sosial dan moral. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

  • Lockwood, G. M. (2011). Social egg freezing: the prospect of reproductive ‘immortality or a dangerous delusion?. Reproductive biomedicine online, 23(3), 334-340.

 

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: alasan sosial, egg freezing, harapan, risiko

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Page 2
  • Page 3
  • Page 4
  • Page 5
  • Page 6
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Penanganan Klasik pada Infertilitas Pria dengan Antisperm Antibodies (ASA)
  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.