• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
Menuju Dua Garis
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us
×
  • Home
  • About Us
  • Our Story
  • Articles
  • Services
  • Kata Mereka
  • Join Us

Admin Menuju Dua Garis

Pahami Tindakan Kistektomi Ovarium dan Dampaknya pada Kesuburan

April 12, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Ovarian cystectomy atau kistektomi ovarium adalah tindakan pembedahan untuk mengangkat kista ovarium. Tahukah sister dan paksu bahwa kista ovarium sendiri merupakan kantong abnormal di ovarium yang berisi cairan atau nanah. Pada sebagian kasus, kista ini dapat menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. 

Namun, dalam beberapa kondisi, kista ovarium bisa menetap, menimbulkan rasa nyeri, berpotensi menjadi sel kanker, dan jika berukuran cukup besar akan menekan organ lainnya, sehingga dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani tindakan kistektomi. Prosedurnya sendiri ada banyak mulai dari laparoskopi, hingga laparotomi. Nah MDG akan membahas salah satu dampak dari prosedur terutama berdampak pada kesuburan jangka panjang. Baca sampai habis yuk!

Dampak Sistektomi Ovarium dengan Prosedur Laparoskopi pada Cadangan Ovarium

Sistektomi laparoskopi adalah prosedur yang dilakukan untuk mengangkat kista ovarium, namun ada dampak yang perlu diperhatikan terhadap cadangan ovarium, yaitu kemampuan ovarium untuk menghasilkan sel telur. Dalam sebuah studi, wanita yang menjalani prosedur ini menunjukkan penurunan kadar hormon antimüllerian (AMH) yang digunakan untuk mengukur cadangan ovarium. 

Penurunan AMH ini lebih signifikan bagi sister yang menjalani kauterisasi lebih banyak selama operasi dan yang memiliki kista dengan ukuran tertentu. Selain itu, perlu di lihat bagaimana lokasi kista karena kista yang ada di satu atau dua ovarium berpengaruh pada penurunan kadar AMH. Hal ini penting untuk diperhatikan karena menurunnya kadar AMH dapat mempengaruhi kesuburan perempuan di masa depan.

Apa Artinya Bagi Kesuburan?

Kista ovarium dan sistektomi dapat mempengaruhi cadangan ovarium dan kemampuan perempuan untuk memiliki anak di masa depan. Meski penurunan lebih signifikan setelah sistektomi, kedua kondisi ini tetap berpengaruh pada kesuburan.

Nah jika begitu, maka kita perlu untuk menjaga kesehatan ovarium dan Kesuburan. Dan bagi perempuan yang mengalami kista ovarium atau sudah menjalani sistektomi, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk menjaga kesehatan ovarium dan kesuburan:

  1. Melakukan Pemantauan Rutin, dengan melakukan pemeriksaan berkala oleh dokter untuk memantau kesehatan ovarium, kadar hormon AMH, dan jumlah folikel antral.

  2. Gaya Hidup Sehat, dengan menjaga berat badan yang sehat, makan dengan gizi seimbang, dan rutin berolahraga dapat mendukung kesehatan reproduksi secara keseluruhan.

  3. Hindari Stres Berlebih, hal seperti stres dapat mempengaruhi keseimbangan hormon, jadi penting untuk mencari cara untuk mengelola stres, seperti meditasi atau kegiatan yang menenangkan.

  4. Edukasi dan Konsultasi, yang tidak kalah penting tentu saja mencari informasi lebih lanjut dan berkonsultasi dengan dokter atau spesialis kesuburan untuk merencanakan masa depan reproduksi.

Jadi meski ada potensi yang beresiko pada kesuburan dimasa yang akan datang, bagi perempuan yang memiliki kista ovarium besar atau yang sudah menjalani sistektomi dapat mendapatkan perhatian medis lebih untuk menjaga kesehatan ovarium. Pemantauan terhadap kadar hormon dan jumlah folikel sangat penting untuk memastikan dapat merencanakan kehamilan di masa depan dengan lebih baik. Untuk informasi menarik lainnya sister dan paksu dapat follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi 

  • Bareghamyan, H., Chopikyan, A., Petrosyan, M., Shahverdyan, N., & Harutyunyan, A. (2024). Influence of ovarian cysts on ovarian reserve and fertility: A case–control study. International Journal of Gynecology & Obstetrics, 165(2), 424-430.
  • Mansouri, G., Safinataj, M., Shahesmaeili, A., Allahqoli, L., Salehiniya, H., & Alkatout, I. (2022). Effect of laparoscopic cystectomy on ovarian reserve in patients with ovarian cyst. Frontiers in Endocrinology, 13, 964229.
  • https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/macam-macam-pembedahan-kista-ovarium

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: apa itu ovarium, infertilitas, kesuburan, kista, perempuan

Yuk Pahami Bahaya Zat endocrine disruptors (EDC) bagi Kesehatan Reproduksi

April 11, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Zat kimia yang dikenal sebagai pengganggu endokrin atau Endocrine Disrupting Chemicals (EDC) adalah senyawa yang bisa mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh manusia. Hormon sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam mengatur berbagai fungsi tubuh, mulai dari metabolisme, pertumbuhan, sampai fungsi reproduksi. Sayangnya, EDC dapat hadir dalam menghambat kerja hormon alami, sehingga menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk infertilitas atau masalah kesuburan.

EDC Bisa Masuk ke Tubuh Tanpa Kita Sadari

EDC tidak hanya ditemukan di laboratorium atau lingkungan industri, tapi juga tersebar luas dalam kehidupan sehari-hari. Zat ini dapat masuk ke tubuh kita melalui makanan, minuman, udara, atau bahkan kontak kulit. Bahkan sebuah temuan menunjukkan bahwa EDC telah terdeteksi dalam darah, urin, cairan ketuban, hingga jaringan lemak manusia. Artinya, kita bisa terpapar zat ini tanpa sadar, bahkan sejak dalam kandungan.

Sumber-Sumber Paparan EDC di Sekitar Kita

Salah satu sumber utama EDC adalah plastik, khususnya jenis polivinil klorida (PVC) yang digunakan dalam kemasan makanan, botol minuman, dot bayi, dan berbagai produk rumah tangga lainnya. Plastik-plastik ini sering mengandung bisfenol A (BPA), senyawa yang dikenal mampu meniru hormon estrogen. Selain itu, bahan kimia seperti ftalat dan paraben yang sering ditemukan dalam kosmetik, parfum, lotion, dan sabun mandi juga termasuk dalam kategori EDC. Zat-zat ini dapat diserap melalui kulit dan mengganggu sistem hormonal tubuh.

EDC juga bisa berasal dari obat-obatan, lem, tinta cetak, kabel, dan bahan bangunan tertentu yang mengandung senyawa beracun seperti PCB (polychlorinated biphenyl). Bahkan, asap dari pembakaran kayu atau sampah dapat menghasilkan dioksin, yang juga tergolong EDC. Tanaman atau tanah yang terpapar pestisida pun bisa menjadi sumber paparan, sehingga makanan yang kita konsumsi seperti sayur, buah, bahkan teh hijau dan coklat ternyata juga bisa mengandung senyawa fitoestrogen, yaitu zat alami yang menyerupai hormon estrogen. Wah ternyata banyak juga ya!

Bagaimana EDC Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi 

Dampak EDC terhadap sistem reproduksi sangat serius. Pada perempuan, paparan EDC dapat menyebabkan gangguan ovulasi, yaitu proses pelepasan sel telur yang normal setiap siklus menstruasi. Zat ini juga dapat meningkatkan risiko terbentuknya kista ovarium, endometriosis, serta memicu pubertas dini. Dalam jangka panjang, paparan EDC dapat meningkatkan risiko kanker rahim dan ovarium, serta gangguan hormonal yang mengganggu kesuburan secara keseluruhan.

Sementara itu, pada laki-laki, EDC berdampak pada penurunan kadar hormon testosteron. Akibatnya, produksi sperma dapat menurun, baik dari segi jumlah, bentuk, maupun pergerakan sperma. Hal ini tentu berdampak langsung pada kemampuan untuk membuahi sel telur. Tak hanya itu, beberapa studi juga menunjukkan bahwa paparan EDC dapat menyebabkan perkembangan abnormal organ reproduksi sejak janin, serta meningkatkan risiko munculnya tumor jinak pada testis.

Kenapa Kita Perlu Peduli dan Berhati-Hati?

Dengan segala dampak buruk tersebut, penting bagi kita untuk lebih waspada terhadap paparan EDC dalam kehidupan sehari-hari. Memilih produk bebas paraben dan ftalat, mengurangi penggunaan plastik, dan memperhatikan sumber makanan yang kita konsumsi adalah langkah awal yang bisa dilakukan. Menghindari asap pembakaran, mengurangi pemakaian pengharum ruangan buatan, dan memilih produk rumah tangga yang lebih ramah lingkungan juga bisa membantu menurunkan risiko paparan. Jadi sister dan paksu setidaknya dapat mulai selektif lagi terutama dalam pemilihan apa yang akan kalian gunakan. 

Dari sini kita dianjurkan untuk peduli dan cermat dalam memilih produk yang digunakan, demi menjaga kesehatan hormon dan sistem reproduksi, baik bagi sister maupun paksu.

Referensi

Czarnywojtek, A., Jaz, K., Ochmaåƒska, A., Zgorzalewicz-Stachowiak, M., Czarnocka, B., Sawicka-Gutaj, N., … & Ruchała, M. (2021). The effect of endocrine disruptors on the reproductive system-current knowledge. European Review for Medical & Pharmacological Sciences, 25(15).

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: kesehatan reproduksi, plastik, zat endocrine

Infertilitas Laki-laki: Ketika Penyebabnya Masih Misterius, Tapi Bukan Berarti Tak Bisa Dicari

April 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

Infertilitas bukan hanya persoalan perempuan. Faktanya, sekitar 40% kasus infertilitas pada pasangan berasal dari faktor laki-laki. Namun, banyak dari kasus ini tidak memiliki penyebab yang jelas. Kondisi ini disebut sebagai infertilitas idiopatik, yaitu ketika laki-laki mengalami infertilitas tetapi hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya kelainan yang spesifik.

Apa Kata Sebuah Temuan dari Penelitian?

Sebuah studi besar dari Eropa mencoba memecahkan misteri ini. Studi tersebut melibatkan 1.174 laki-laki Eropa dengan infertilitas primer (belum pernah memiliki anak sebelumnya), dan menjalani pemeriksaan yang sangat menyeluruh bukan sekadar analisis sperma.

Hasilnya, 81% laki-laki dalam studi ini ternyata memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi. Artinya, hanya sekitar 19% yang benar-benar tergolong idiopatik. Temuannya diantaranya adalah : hipogonadisme (gangguan hormon) – 37%, varikokel (pelebaran pembuluh darah di testis) – 27% dan kelainan genetik – 5%

Menariknya, semakin berat gangguan kesuburan yang dialami, semakin besar kemungkinan penyebabnya bisa ditemukan. Misalnya, laki-laki dengan kondisi azoospermia (tidak ada sel sperma sama sekali) cenderung lebih mudah ditemukan penyebabnya dibandingkan laki-laki dengan gangguan yang lebih ringan.

Mengapa Penting Mendeteksi Infertilitas pada Laki-laki? 

Selama ini, banyak laki-laki yang langsung diberi label “idiopatik” karena hasil pemeriksaannya terlihat normal di permukaan. Padahal, dengan evaluasi yang lebih komprehensif, penyebab sebenarnya bisa terungkap. Hal ini penting karena:

  • Membuka peluang untuk terapi yang lebih tepat. Paksu jika sudah mengetahui kebenaran yang terjadi pada kalian, maka akan benar juga terapi yang dapat diambil karena sesuai dengan permasalahan

  • Membantu memahami kondisi kesehatan reproduksi secara menyeluruh. JIka pengukuran dilakukan maka akan memberi manfaat pada kondisi kesehatan secara keseluruhan

  • Mengurangi beban psikologis akibat ketidakjelasan. Yang paling penting terutama berkaitan dengan mental yang sudah banyak terombang-ambing, sehingga pengetahuan ini membantu paksu tidak hanya fisik tapi juga mental.

Meski begitu, laki-laki dengan gangguan ringan masih menjadi tantangan tersendiri dalam penentuan diagnosis. Tidak semua kasus bisa dijelaskan, bahkan dengan pemeriksaan lanjutan. Oleh karena itu, masih dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui subkelompok infertilitas paksu dikategorikan.

Meski begitu berkat pemeriksaan yang lebih menyeluruh, laki-laki dengan infertilitas dapat ditemukan penyebabnya. Ini menjadi harapan baru bagi banyak pasangan. Infertilitas idiopatik ternyata tidak selalu benar-benar tanpa sebab. Jika sister dan paksu sedang dalam proses mencari tahu penyebab infertilitas dan belum mendapat jawaban yang jelas, evaluasi lanjutan bisa menjadi langkah penting untuk mendapatkan kejelasan dan rencana terapi yang lebih tepat. Untuk informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram kami di @menujuduagaris.id

Referensi

Ventimiglia, E., Pozzi, E., Capogrosso, P., Boeri, L., Alfano, M., Cazzaniga, W., … & Salonia, A. (2021). Extensive assessment of underlying etiological factors in primary infertile men reduces the proportion of men with idiopathic infertility. Frontiers in endocrinology, 12, 801125.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: ideopatik, infertilitas, laki-laki

Belum Berhasil Hamil Tapi Hasil Tes Normal Semua? Mungkin Ini Jawabannya

April 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Sister dan paksu adakah diantara kalian yang sedang berjuang dua garis, dan sudah mencoba periksa tapi tetap saja belum ditemukan penyebabnya apa? hal ini pasti membuat kalian berpikir lebih kompleks dan juga bertanya-tanya, kira-kira apa penyebabnya. Yuk bahas lebih lanjut.

Kok Bisa Infertilitas Tapi Gak Ketahuan Penyebabnya?

Buat sebagian pasangan, usaha punya anak bisa jadi perjuangan yang panjang. Yang bikin bingung, kadang semua hasil tes menunjukkan kondisi normal, mulai dari ovulasi, sperma juga bagus, tuba tidak tersumbat. Tapi tetap saja, kehamilan belum terjadi. Nah, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah infertilitas yang tidak dapat dijelaskan (unexplained infertility).

Faktanya, sekitar 15–30% pasangan dengan infertilitas masuk dalam kategori ini. Artinya, nggak ada kelainan yang ditemukan dari pemeriksaan awal, padahal mereka sudah mencoba lebih dari 12 bulan. Tapi apakah benar tidak ada penyebab yang tersembunyi?

Endometriosis Diam-diam Sering Terjadi

Sebuah tinjauan sistematis terbaru mencoba menjawab pertanyaan ini dengan melihat data dari ribuan pasangan yang didiagnosis UI. Fokus utamanya? Pemeriksaan yang dilakukan melalui laparoskopi yaitu sebuah prosedur untuk melihat kondisi panggul secara langsung dan mendeteksi hal-hal yang tidak terlihat lewat USG atau pemeriksaan biasa.

Hasilnya cukup mencengangkan: dari 1.707 wanita yang menjalani laparoskopi, 44% ternyata memiliki endometriosis, meskipun sebelumnya tidak terdeteksi. Dan sebagian besar kasusnya tergolong ringan (minimal hingga stadium 2). Selain itu, ditemukan juga faktor tuba (20%) dan perlengketan (16%) yang sebelumnya tidak teridentifikasi melalui pencitraan.

Bahkan, tingkat deteksi masalah panggul ini lebih tinggi pada wanita yang pernah menjalani perawatan kesuburan sebelumnya (75%), dibandingkan yang belum (53%). Ini nunjukin bahwa teknologi saat ini belum tentu bisa mendeteksi semua hal secara akurat. Wah lalu bagaimana metode yang dapat dipilih? haruskah invasif apa tidak?

Jadi, Perlu Laparoskopi Nggak?

Pertanyaannya sekarang, apakah semua pasien dengan UI harus langsung menjalani laparoskopi?

Well, nggak selalu. Tapi mempertimbangkan laparoskopi jadi penting terutama bagi pasien yang juga mengalami gejala nyeri panggul atau menstruasi yang menyakitkan, karena bisa jadi itu tanda-tanda endometriosis tersembunyi. Karena dengan laparoskopi bisa membantu mendeteksi kondisi yang selama ini tersembunyi, dan membantu menentukan pengobatan yang lebih tepat.

Meskipun teknologi pencitraan dan program bayi tabung semakin canggih, laparoskopi tetap punya peran yang penting untuk mengungkap penyebab tersembunyi dari infertilitas. Jadi, buat sister dan paksu yang sedang mengalami UI dan punya gejala khas endometriosis, mungkin sudah waktunya ngobrol lebih lanjut sama dokter tentang opsi ini. Informasi menarik lainnya sister dan paksu jangan lupa buat follow Instagram kami di @menujuduagaris.id

Referensi

Van Gestel, H., Bafort, C., Meuleman, C., Tomassetti, C., & Vanhie, A. (2024). The prevalence of endometriosis in unexplained infertility: A systematic review. Reproductive biomedicine online, 49(3), 103848.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: hamil, infertility, pejuang dua garis

Penyebab Ketidaksuburan Nggak Jelas? Hati-Hati, Mungkin Kamu Alami Unexplained Infertility!

April 10, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

Kalau sister dan paksu sudah rutin berusaha punya anak tapi hasilnya masih belum juga positif, dan semua hasil tes menunjukkan kondisi reproduksi normal, kalian mungkin termasuk dalam kondisi yang disebut Unexplained Infertility (UI) alias infertilitas yang belum diketahui penyebab pastinya.

Nah, kabar baiknya, sekarang ada panduan baru dari ESHRE (European Society of Human Reproduction and Embryology) yang bantu kalian dalam menentukan langkah terbaik untuk pasangan dengan UI. Yuk bersama dengan MDG kita bahas lebih lanjut!

Apa Itu Unexplained Infertility?

Unexplained Infertility adalah kondisi di mana pasangan tidak kunjung hamil, padahal hasil pemeriksaan semuanya normal mulai dari ovulasi, saluran tuba, sampai kualitas sperma.

Masalahnya, belum ada standar global yang benar-benar seragam soal tes apa saja yang wajib dilakukan sebelum menyimpulkan diagnosis UI. Makanya, selama ini pendekatannya cenderung bersifat empiris, alias berdasarkan pengalaman, bukan pada bukti ilmiah yang kuat.

Karena UI adalah diagnosis “pengecualian”, penting banget untuk memastikan bahwa semua pemeriksaan dasar sudah dijalani sebelum benar-benar menyimpulkan “nggak ada penyebabnya”.

Rekomendasi ESHRE: Dari Diagnosis Sampai Pengobatan

Melihat banyaknya pasangan yang mengalami infertilitas tanpa sebab yang jelas, ESHRE akhirnya menyusun panduan khusus untuk menangani kasus unexplained infertility ini. Tujuannya jelas: memberikan arahan berbasis bukti terbaik agar dokter nggak lagi hanya mengandalkan intuisi atau “kebiasaan lama” dalam menangani UI.

Panduan ini disusun dengan proses yang ketat—mulai dari merumuskan pertanyaan kunci, menelusuri literatur ilmiah terbaru, sampai menyaring bukti-bukti yang ada. Hasilnya? Terbitlah total 52 rekomendasi yang mencakup dari definisi, diagnosis, hingga pengobatan.

Tapi menariknya, meskipun jumlah rekomendasinya banyak, sebagian besar masih belum ditopang oleh bukti yang benar-benar kuat. Dari semua itu, hanya satu yang didukung bukti kualitas sedang. Sisanya? Banyak yang berasal dari penelitian dengan kualitas rendah, bahkan sangat rendah. Ini menunjukkan kalau UI masih jadi “misteri” yang butuh lebih banyak riset di masa depan.

Lalu, kalau belum banyak bukti kuat, gimana dong pengobatannya?

ESHRE tetap menyusun panduan langkah-langkah yang bisa diambil dokter. Untuk perawatan tahap awal, pasangan dengan UI direkomendasikan menjalani inseminasi intrauterin (IUI) yang dikombinasikan dengan stimulasi ovarium. Pendekatan ini dinilai sebagai opsi paling masuk akal karena relatif sederhana, terjangkau, dan minim resiko dibandingkan prosedur yang lebih invasif seperti IVF.

Namun tentu, keputusan pengobatan harus dipersonalisasi. Nggak semua pasangan cocok dengan pendekatan yang sama. Karena itu, sister dan paksu diarahkan untuk tetap melakukan komunikasi terbuka terutama pada dokter. Panduan ini bukan “aturan kaku” atau menjadi satu-satunya yang sister dan paksu harus jalani, tapi lebih ke arah petunjuk yang bisa jadi bahan diskusi antara sister dan paksu dan dokter. Informasi menarik lainnya jangan lupa follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Guideline Group on Unexplained Infertility, Romualdi, D., Ata, B., Bhattacharya, S., Bosch, E., Costello, M., … & Le Clef, N. (2023). Evidence-based guideline: unexplained infertility. Human Reproduction, 38(10), 1881-1890.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: infertilitas, laki-laki, perempuan, unexplain fertility

FSH untuk Infertilitas Laki-laki: Harapan Baru untuk Pasangan Pejuang Dua Garis

April 7, 2025 by Admin Menuju Dua Garis Leave a Comment

 

 

Infertilitas pria masih menjadi tantangan besar dalam dunia reproduksi. Faktanya, sekitar 50% dari semua kasus infertilitas pada pasangan disebabkan oleh faktor pria. Namun, dalam sepertiga dari kasus ini, penyebab pastinya sulit diketahui, yang disebut sebagai infertilitas idiopatik pria. Dalam kondisi seperti ini, pilihan pengobatan yang jelas dan efektif pun sering kali tidak tersedia.

Nah, dalam situasi inilah hormon perangsang folikel atau FSH (Follicle Stimulating Hormone) mulai dilirik sebagai solusi. Wah bagaimana bisa? yuk bahas lebih lanjut!

Apa itu FSH dan Kenapa Penting?

Secara alami, FSH diproduksi oleh tubuh dan berperan penting dalam proses pembentukan sperma. Hormon ini bekerja langsung pada sel Sertoli di testis untuk mendukung perkembangan sperma dari awal hingga matang. Pada kondisi tertentu seperti hipogonadisme hipogonadotropik (ketika tubuh tidak menghasilkan cukup hormon), FSH sudah dikenal luas sebagai terapi standar.

Tapi bagaimana kalau FSH diberikan kepada pria dengan infertilitas idiopatik yang penyebabnya tidak jelas?

Sebuah Studi memberikan Harapan Nyata

Sebuah studi retrospektif dilakukan di Unit Andrologi Modena, Italia, yang meneliti pria infertil yang mendapat terapi FSH dari tahun 2015 hingga 2022. Dari 362 pria, sebanyak 194 memenuhi syarat untuk mendapatkan FSH berdasarkan ketentuan sistem kesehatan nasional. Rata-rata usia mereka 37,9 tahun.

Hasilnya? Sebanyak 43 kehamilan tercatat (27,6%) setelah terapi FSH 22 kehamilan terjadi secara alami. 21 lainnya melalui teknologi reproduksi berbantuan (ART). Tak hanya itu, ada peningkatan signifikan dalam konsentrasi sperma, dari rata-rata 9,9 juta/mL menjadi 18,9 juta/mL. Bahkan, jumlah pria dengan sperma normal (normozoospermia) juga meningkat, sementara yang mengalami azoospermia (tidak ada sperma) menurun. Kelompok pria yang berhasil mencapai kehamilan ternyata memiliki sperma dengan konsentrasi dan motilitas (pergerakan) yang lebih baik dibanding yang tidak.

Meskipun belum menjadi pengobatan utama dan masih dianggap sebagai terapi empiris (berdasarkan pengalaman klinis), studi ini menunjukkan bahwa FSH bisa membantu satu dari empat pria dengan infertilitas idiopatik untuk memiliki anak. Ini angka yang cukup menggembirakan, terutama bila dibandingkan dengan data sebelumnya yang menyebutkan bahwa paling tidak 10 pria harus diobati untuk menghasilkan satu kehamilan.

Kapan Penggunaan FSH Bisa Dipertimbangkan?

Terapi FSH bisa dipertimbangkan untuk pria dengan diagnosa infertilitas idiopatik, juga ketika parameter sperma yang rendah tanpa penyebab yang jelas, dan dilakukan untuk meningkatkan peluang kehamilan baik secara alami maupun melalui ART.

Bagaimana sister dan paksu, ternyata terapi FSH menawarkan harapan baru dalam dunia pengobatan infertilitas pria, terutama bagi mereka yang belum menemukan penyebab pasti dari masalah kesuburannya. Meski belum menjadi solusi untuk semua, FSH bisa jadi peluang yang layak dipertimbangkan dalam strategi perencanaan keluarga bagi pasangan yang sedang berjuang. Tapi penting untuk dicatat bahwa terapi ini hanya boleh dilakukan setelah konsultasi dan evaluasi menyeluruh oleh dokter spesialis andrologi atau reproduksi. Untuk informasi menarik lainnya follow Instagram @menujuduagaris.id

Referensi

Romeo, M., Spaggiari, G., Nuzzo, F., Granata, A. R., Simoni, M., & Santi, D. (2023). Follicle‐stimulating hormone effectiveness in male idiopathic infertility: What happens in daily practice?. Andrology, 11(3), 478-488.

Filed Under: Artikel Pejuang Dua Garis Tagged With: FSH, infertilitas, laki-laki

  • « Go to Previous Page
  • Page 1
  • Interim pages omitted …
  • Page 55
  • Page 56
  • Page 57
  • Page 58
  • Page 59
  • Interim pages omitted …
  • Page 97
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Recent Posts

  • Endometriosis dan Infeksi Panggul Ternyata Ada Hubungan Lho!
  • Yoga untuk PCOS: Tunggu Dulu yuk Cari Tau Bagaimana Bukti Ilmiah yang Lebih Dalam dari Sekadar Relaksasi
  • Diet dan Endometriosis: Apa yang Kita Makan Ternyata Ikut “Bicara” di Dalam Tubuh
  • Low-FODMAP Diet dan Endometriosis: Cara “Menjinakkan” Gejala Usus yang Sering Ikut Datang
  • Terlihat Sehat Tapi Peluang Hamil Bisa Menurun Ini Penjelasan Ilmiahnya

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • July 2023
  • June 2023

Categories

  • Artikel Pejuang Dua Garis
  • Uncategorized

Tentang MDG

Menuju Dua Garis merupakan komunitas yang dibentuk oleh Rosiana Alim, atau akrab disapa Mizz Rosie untuk berbagi kisah perjuangan hidupnya dalam menantikan buah hati serta mewadahi para wanita yang sedang berjuang menghadapi infertilitas dan menantikan kehadiran buah hati.

Join Komunitas MDG

Join Komunitas

Follow Social Media Kami

© 2026 Menuju Dua Garis. All Rights Reserved.